Skip to main content

Membantu Saudara dengan Berhutang



Berbagi kepada orang lain yang membutuhkan (Sumber: dokumen pribadi)




Sharing atau berbagi adalah karakter manusia yang mampu meringankan beban hidup orang lain. Dalam Alqur’an mengajarkan bahwa sebagian dari harta kita adalah milik orang lain, kaum dhuafa, fakir miskin dan orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Saat anda berlimpah rejeki maka berbagi adalah hal yang bisa menambah  rejeki anda.
Banyak hal yang bisa anda lakukan untuk berbagi dengan orang lain. Salah satunya dengan melakukan DonasiTentu, donasi anda bisa disalurkan melalui lembaga yang kredibel dan terpercaya. Hal ini bertujuan agar donasi anda bisa tepat sasaran. Serta, disalurkan sesuai dengan yang berhak menerima.  Dompet Dhuafa menjadi lembaga terpercaya dan sudah berpengalaman dalam mengelola dana masyarakat. Di mana, kaum dhuafa dan fakir miskin menjadi sasaran utama Serta, masyarakat lain yang sangat membutuhkan seperti korban bencana.


Dompet Dhuafa (Sumber : www.dompetdhuafa.org/screenshot)


Berbagi tidak akan mengurangi, tetapi dengan berbagi semakin menambah banyak rejeki. Itulah sebabnya Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk bersadaqah atau beramal jariyah kepada orang lain. Bisa dengan harta atau dengan tenaga yang anda punya. Bagaimana, jika anda tidak mempunyai apa-apa? Maka, berbagi atau bersadaqah dengan senyuman bisa meringankan beban hidup orang lain. “Tabassumuka fi wajhika ‘ala sadaqatin” (senyum kepada saudaramu adalah sadaqah).


Senyum adalah sadaqah (Sumber: dokumen pribadi)


Memang, teori berbagi begitu mudah dipelajari. Tetapi, pada prakteknya menyatakan bahwa berbagi membutuhkan niat yang tulus dari pelakunya. Berbagi bukan karena ingin disanjung (riya’) atau biar orang lain memperhatikan kita seperti meningkatkan elektabilitas Caleg menjelang Pemilu. Tetapi, berbagi membutuhkan keyakinan diri. Bahwa, kepedulian terhadap kondisi orang lain yang tidak “seberuntung” dengan kondisi anda.
Saya pun menyadari bahwa berbagi “bukanlah” perkara gampang. Karena, berbagi sejatinya mmbutuhkan rasa ikhlas. Keikhlasan itulah yang mendasari dalam praktek berbagi. Namun, dengan niat lillahi ta’ala maka proses berbagi bisa berjalan dengan baik.

Ujian Hati
Sebenarnya, saya tidak percaya diri untuk menceritakan kejadian ini. Tetapi, demi memberikan inspirasi bagi orang lain, maka  saya pun memberanikan diri. Saya berharap pembaca tidak salah persepsi dalam menilai apa yang saya alami. Sekarang ini, saya tinggal di Kota Denpasar Bali. Sudah satu dasawarsa saya mencari sesuap nasi di ibukota Pulau Dewata tersebut. Saya menyadari bahwa harga kebutuhan hidup lebih besar dibandingkan saat tinggal di Ibu Kota Jakarta.
Saya tinggal untuk sementara saja hingga anak saya lulus SMU. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, saya sudah beberapa kali menjadi karyawan perusahaan orang lain. Tetapi, kebebasan untuk berkarya yang membuat saya keluar dari zona nyaman tersebut. Saya tinggalkan posisi yang menggiurkan, gaji lumayan besar dan berbagai fasilitas. Hal ini membuat istri saya “sedikit” ngambek. Saya membutuhkan pertimbangan yang matang untuk menjadi pekerja mandiri dan “full blogger”.
Pada perjalanannya, tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Usaha sendiri berarti harus berjiwa nekad dan bergerak terus agar “dapur tetap ngebul”. Kadang berada di posisi puncak dan kadang berada di posisi bawah. Bagaikan roda yang berputar. Sholat dhuha menjadi rutinitas dan penambah semangat. Ya rabbi, apapun yang terjadi, Engkaulah dzat Yang Maha Berkehendak. Hamba pasrah apa yang Engkau bentuk pada hamba, keluarga, dan orang tua hamba.   Selipan doa yang selalu saya panjatkan dalam khusu’nya sholat.
Hempasan badai rumah tangga selalu datang silih berganti. Tetapi, saya menguatkan diri dalam sujud. Hal yang menarik dan menjadi ingatan dalam seumur hidup adalah kejadian tiga (3) bulan lalu. Undangan sekolah tentang tagihan tunggakan satu (1) tahun SPP SMU anak. Dan, tagihan uang kontrakan yang datang “persis” berbarengan. Sementara, kondisi keuangan sedang “down” karena berbagai hal. Hanya untuk membeli beras demi menyambung hidup beberapa hari kedepan.
Saat kondisi berada di titik terendah, Allah SWT begitu sayang. Allah SWT mengirim “malaikat” untuk menguji kesabaran dan keikhlasan saya. Saya kedatangan kakak ipar. Kebetulan beliau bekerja di proyek sebagai pengawas lapangan.
Sebenarnya, beliau sedang mengerjakan proyek di Solo Jawa Tengah. Tetapi, proyek sebuah hotel di Kuta Bali yang pernah dikerjakan 2 tahun lalu membutuhkan “maintenance” karena atap hotel bocor. Dan, sesuai target bisa dikerjakan dalam tempo satu minggu. Menambal atap hotel tersebut dengan lapisan aspal agar bertahan lama. Biaya pengerjaan tersebut akan dibayar pihak hotel setelah pekerjaan selesai.
Lucunya, pihak perusahaan kakak ipar tidak memberikan uang pembelian bahan proyek dan perlengkapan lainnya. Perusahaan hanya membelikan tiket keberangkatan Solo-Bali. Kebetulan sekali, kakak ipar juga dalam kondisi tragis keuangan. Banyak tagihan yang harus dibayar. Jadi, datang ke Bali dengan uang saku yang pas-pasan hanya untuk makan seminggu.
Untuk menghemat pengeluaran, maka saya sarankan kakak ipar untuk tinggal di kontrakan saya. Sayang, jika uang keluar untuk membayar kos. Sementara, hanya ditinggali seminggu saja. Beliau pun berkata pada saya bahwa nanti kalau proyek sudah selesai, anak saya bisa mendapatkan angpau. Anak saya gembira, termasuk saya dan istri. 
Ternyata, bayangan indah berangsur sirna. Pihak perusahaan tidak mau memberikan uang sepeser pun kepada kakak ipar.  Jadi, biaya untuk membeli aspal, kantong plastik,  upah dan biaya kos pekerja sebanyak lima (5) orang dibebankan pada kakak ipar. Sementara, uang kakak ipar saya hanya mampu untuk membeli sebungkus rokok. Benar-benar kondisi yang tragis.
Cobaan saya yang pertama adalah kakak ipar meminta tolong meminjamkan uang untuk membeli 2 drum aspal. “Uang dari mana mas?”, jawab saya dan istri ikut prihatin. Saat itulah, anak saya memberikan solusi, “pakde, kebetulan ada uang bazar sekolah bisa pinjam dulu 600 ribu”.
Anak saya berani meminjamkan uang milik sekolah dengan alasan satu minggu lagi bisa dibayar kembali. Saya pun lega karena anak mau meminjamkan uang tersebut. Ternyata, 2 hari kemudian uang bazar tersebut harus dikumpulkan. Anak saya pun kelimpungan karena belum ada penggantinya.
Saya dan istri ikut sedih setiap kakak ipar pulang dari proyek. Ia selalu duduk di teras dengan wajah bingung. Menatap ke luar dengan pandangan yang kosong. Tanpa berkata sedikit pun. Hanya mengotak-atik smartphone yang kuotanya hampir habis. Tidak ada lagi bungkus rokok seperti biasanya. Istri saya pun berbisik, “Pa, mas Teguh nggak duwe rokok. Duit beras nggo tuku rokok sik. Mesakno, de’e wis nggak rokok sedino” (Pak, mas Teguh tidak mempunyai rokok. Uang untuk membeli beras dipakai saja dulu. Kasihan, dia sudah tidak merokok 1 hari).
Saya trenyuh, tanpa banyak pikir pergi ke warung terdekat untuk membelikannya rokok. Dan, senyum Dia pun mengembang. Saya ingat bagaimana kisahnya begitu “berada” setelah hampir 8 tahun lalu menjadi TKI di Korea Selatan. Semuanya serba ada. Tapi, karena “manajemen keuangan” yang tidak baik akhirya mengalami kondisi seperti ini.

Angsuran Harian
Cobaan kedua datang lagi. Menjelang seminggu proyek berjalan, kakak ipar tiba di kontrakan saya dengan muka lebih bingung dari biasanya. Dia hanya tertunduk lesu di teras, terdiam, pandangan kosong. Kami pun bertanya tentang apa yang telah terjadi. Ternyata, proyek yang dikerjakannya mengalami musibah. Tanpa sengaja, aspal yang masih mencair meleleh melewati lubang air dari lantai 3 ke lantai 1 hotel.
Aspal cair hitam menutupi semua kanopi. Mengenai bagian depan hotel dari atas ke bawah. Warna hitam aspal merusak pemandangan hotel. Kejadian tersebut persis diketahui oleh bagian teknik hotel. Sementara, kakak ipar saya sedang menghitung uang di bagian keuangan hotel sebagai biaya pengerjaan. Saat itu juga, pembayaran pengerjaan hotel dibatalkan.
Bagai disambar petir, pembayaran pun gagal total.  “Maaf pa Teguh, pembayaran ditunda dulu sambil menunggu aspal hilang”. Dan, menurut kakak ipar, aspal tersebut membutuhkan waktu berhari-hari untuk kelihatan bersih. Kini, kondisinya makin terjepit. Perlu dana dobel untuk bayar pekerja dan biaya pembersihan aspal yang mengotori bagian depan hotel. Padahal, sepeser pun tidak mempunyai uang.  
Mendengar kabar tersebut, saya dan istri ikutan lemas lunglai. Bingung tiada kepalang. Saat kondisi saya sedang terjepit, terpampang pemandangan kakak ipar yang lebih terjepit. “Cas, tolong bantu saya gimana caranya dapat uang buat bayar kuli sama pulang ke Solo. Nanti seminggu lagi diganti oleh perusahaan”.  
Saya bingung dan tidak bisa berbuat apapun. Namun, di saat genting, istri nyeletuk, “pa, coba pinjam sama kredit harian, siapa tahu bisa”. Saya tidak bergeming karena pinjaman harian perlu jaminan dan bunganya tinggi.
Tetapi, dengan berat hati dan “gambling”, saya mencoba pinjam dengan angsuran harian selama 2 bulan. Dengan sedikit rayuan kepada petugas kredit, maka pinjaman itu pun di-ACC. Kalau ditotal tagihan, bunga dan uang anak, maka saya harus membayar hutang tersebut kurang lebih 5 jutaan.
Saya hampir menangis dalam hati saat uang pinjaman berpindah ke kakak ipar. Hanya ada sisa buat saya untuk belanja beberapa hari. Saya membayangkan beratnya membayar angsuran tersebut. Dan, hingga detik ini, utang tersebut masih saya angsur. Perpanjang 2 kali karena setiap 2 bulan tidak lunas angsuran. Tentu, angsuran semakin berbunga dan memberatkan. Dan, istri saya selalu menguatkan hati, “Insya Allah kita dapat balasannya pa”.


Berusaha kuat apa yang saya alami (Sumber: dokumen pribadi)


Jangan Takut Berbagi
Meskipun, kondisi saya tragis, tidak kuat rasanya melihat saudara mengalami hal yang lebih menyakitkan. Jujur, menjadi ikhlas dalam kondisi tersebut membutuhkan kekuatan batin berhari-hari. Saya hanya pasrah kepada Allah SWT saat sujud malam hari. “Ya rabbi, jika ini jalan terbaik buat hamba, hamba bersyukur pada-MU”.
Dan, Allah SWT mengabulkan doa saya. Ketika, hati sudah putus asa dan rasanya tidak mampu membayar utang, rejeki datang silih berganti. Banyak tawaran menulis yang bisa mengurangi angsuran utang. Semula hati tertekan memikirkan cara melunasi utang. Kini, hati lebih tenang dan menghadapinya dengan doa.
Semoga cerita saya menginspirasi banyak orang. Hanya dengan berbagi, anda mampu membantu orang lain. Dan. Jangan Takut Berbagi, karena dengan berbagi mampu menambah rejeki. Serta, membuat hdup anda bahagia. Jazakumullah khairan katsiraan.    


Jangan takut berbagi (Sumber: dokumen pribadi)


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggrakan oleh Dompet Duafa”




Comments

Semoga selalu dilapangkan rejekinya oleh Allah SWT. Amin.

Popular posts from this blog

Cara mencerahkan kulit dengan Kojie San

Wisata Sejarah Benteng Pendem (Van Den Bosch), Surga Tersembunyi di Kota Ngawi

Benteng Pendem (Van De Bosch), wisata sejarah unggulan Pemerintah  Kabupaten Ngawi Jawa Timur (Sumber: dokumen pribadi)


Hari Raya Lebaran sebagai Hari Kemenangan umat Islam telah berlalu. Hari yang menjadi titik balik sebagai insan yang kembali kepada fitrah (kesucian). Kini, di hari ibur Lebaran, banyak tempat-tempat wisata atau spot untuk hangout para orang tua atau generasi milenial yang diserbu pengunjung khususnya para pemudik. Oleh sebab itu, tempat wisata yang ada di daerah menjadi incaran para pemudik untuk menghabiskan masa liburnya sebelum kembali ke kota dan melakukan rutinitas kerja seperti sedia kala. Kini, di jaman digital memberikan kemajuan setiap daerah untuk berbenah mengelola potensi wisata yang ada sebaik mungkin. Dari tempat wisata pantai hingga wisata dataran tinggi yang mengandalkan keindahan alam pegunungan. Dan, mayoritas pengunjung paling happy saat berkunjung ke tempat wisata pantai atau gunung tersebut. Lonjakan pengunjung tersebut secara langsung akan mening…