Sunday, March 14, 2021

Membangun Kewirausahaan Perempuan Dalam Women Entrepreneurship Academy

  

Program Women Entrepreneurship Academy (Sumber: stellarw.com/diolah)

 

 

“Wanodya punika sejatinipun kanca wingking”

 

 

Kalimat menarik di atas berarti wanita atau perempuan sejatinya adalah teman belakang. Yang berarti perempuan itu tempatnya di dapur, sumur dan kasur.  Dan, pepatah tersebut tetap bertahan hingga sekarang. Namun, dengan adanya emansipasi perempuan, maka keberadaan perempuan tidak dipandang sebelah mata.

 

Gap Gender

Jujur, hingga kini, masih ada gap gender antara perempuan dan laki-laki. Dengan kata lain, masih ada perbedaan kelas atau perlakuan antara perempuan dan laki-laki. Kesenjangan gender masih terasa.

Apalagi, adanya tiga (3) persepsi peran gender yang terbentuk dalam masyarakat seperti 1) Laki-laki sebagai pencari nafkah; perempuan sebagai pencari nafkah tambahan dan pekerja tak berbayar; 2) Laki-laki mengurus rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak; perempuan mengurus rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak bukan tugas laki-laki); dan 3) Laki-laki sebagai pemimpin; perempuan sebagai yang dipimpin.

 

 

Persepsi peran gender yang terbentuk dalam masyarakat (Sumber: dokumen pribadi)

 

Waktu rata-rata yang dihabiskan perempuan untuk pekerjaan rumah tangga adalah 13,5 jam per hari. Lebih besar dari pada rata-rata perempuan di wilayah Asia Pasifik  yang hanya 7,7 jam per hari. Masih terasa adanya Gap Gender dalam Pemberdayaan Perempuan, seperti dalam hal ketenagakerjaan. Upah pekerja perempuan hanya sekitar 79% dari upah pekerja laki-laki. Tahun 2017, sebesar Rp2.070.274 untuk perempuan dan Rp2.624.319 untuk laki-laki.

Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan sebesar 51% dibandingkan laki-laki sebesar 83%. Rasio upah antara perempuan dan laki-laki sebesar 77,39%. Jika, melihat dari sisi managerial di perusahaan, maka perempuan di posisi managerial sebesar 30,63% dibandingkan laki-laki sebesar 69,37%.

Sesuai sensus penduduk tahun 2020 sebanyak 270,2 juta. Pada tahun 2017 saja, persentase penduduk perempuan umur 15 tahun ke atas yang bekerja adalah 48,12% (45 juta) dan laki-laki 77,95% (74,3 juta). Sedangkan, perempuan yang mengurus rumah tangga sebesar 37,86% (36,2 juta) dan laki-laki sebesar 3,65% (3,47 juta).

Secara umum, tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) untuk perempuan sebesar 53,13% dan laki-laki sebesar 82,41%. Tahun 2020, TPAK perempuan naik sebesar 1,32%. Sedangkan, TPAK laki-laki mengalami penurunan sebesar 0,84% dibandingkan tahun 2018.

Adapun, faktor kesenjangan gender dilihat dari 1) Akses (peluang bagi laki-laki dan perempuan untuk menjangkau memperoleh sumber daya pembangunan); 2) Partisipasi (keikutsertaan bagi laki-laki dan perempuan dalam proses kegiatan pembangunan; 3) Kontrol (Kemampuan dan kewenangan laki-laki dan perempuan untuk mengambil keputusan); dan 4) Manfaat (hasil guna yang dirasakan dan dinikmati laki-laki dan perempuan dari proses pembangunan).

 

Peran Perempuan

 

Sejatinya, peran perempuan memberikan hal yang menggembirakan. Mengapa? Karena, perempuan sudah mampu melakukan perubahan. Ada 3 hal yang bisa dilakukan perempuan dalam membuat perubahan, yaitu: 1) Kekuatan dalam keluarga (sebagai sosok ibu yang memegang peranan penting untuk keberlangsungan dan kesehatan keluarga); 2)  Kekuatan dalam lingkup pekerjaan (sebagai pemimpin yang menempati posisi strategis di pemerintahan, perusahaan dan organisasi); dan 3) Kekuatan dalam sektor industri (sebagai penggerak perekonomian melalui kontribusinya dalam sektor usaha kecil dan menengah). 

Menurut McKinsey Global Institute Analysis menyatakan bahwa Indonesia dapat meningkatkan GDP dalam setahun sebesar $135 miliar di tahun 2025 atau 9% di angka biasanya. Di dalam skenario terbaik, jika terpenuhi kondisi ketiga dorongan yaitu: 1)  partisipasi perempuan dalam angktan kerja lebih tinggi; 2) lebih banyak perempuan yang bekerja full time dibandingkan bekerja part time; dan 3) lebih banyak perempuan bekerja di sektor dengan produktivitas tinggi, seperti manufaktur dibandingkan sektor pertanian. 

Fakta menarik hasil riset dari kerja sama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), UN Women dan Indonesian Global Compact Network (IGCN) tahun 2018 menyatakan bahwa dari 50 perusahaan top Indonesia, sebesar 28 persen perusahaan top tersebut mempunyai perempuan di posisi direksi.

Bahkan, menurut Catalist, “Women CEOs of the S&P 500” tahun 2020 menyatakan bahwa hanya 5,8% perempuan CEO dari 500 perusahaan terbesar yang masuk Standard & Poor’s di AS. Persentase tertinggi (36,9%) ada di manajer tingkat madya atau manager.

Bagaimanapun juga, kontribusi peran perempuan telah diakui berbagai perusahaan. Bahkan, dengan adanya perempuan dalam perusahaan menjadikan perusahaan tersebut ramah perempuan. Seperti, apa yang dilakukan oleh Danone Indonesia. 50% pemimpin di Danone Indonesia adalah perempuan. 54 dari mereka menduduki posisi top management.

Danone Indonesia juga memberikan cuti melahirkan 6 bulan dan paid maternity leave untuk karyawan perempuan dan 10 hari cuti ayah untuk karyawan laki-laki. Gaji yang sama untuk karyawan laki-laki dan perempuan. Danone Indonesia juga menyediakan fasilitas biaya penggantian untuk konsultasi medis. Menyediakan dukungan penuh untuk kesehatan keluarga, termasuk pengeluaran biaya kesehatan suami, khsusunya di masa pandemi. Serta, menyediakan ruangan menyusui dan arena bermain bagi anak-anak.      

 

Women Enterpreneurship Academy

 

Harus diakui, peran perempuan mulai diperhitungkan dalam bidang kewirausahaan. Banyak pengusaha wanita yang telah memberikan inspirasi. Meskipun, masih ada kesenjangan dan isu gender di bidang kewirausahaan. Perempuan mendominasi UMKM di level mikro. Secara keseluruhan hanya 43% usaha mikro kecil yang dimiliki perempuan.

Sayang, usaha perempuan pada umumnya berorientasi pada kebutuhan. Berdasarkan estimasi dari 20-30 juta wirausaha milik perempuan, hanya 15% yang berorientasi pertumbuhan. Usaha yang dilakukan perempuan pada umumnya berada di sektor dengan pertumbuhan dan produktivitas yang rendah, Apalagi, adanya kesenjangan di masa pandemi seperti 1) Akses pembiayaan 2) Kerentanan usaha berbasis pada kebutuhan; 3) Perlindungan sosial; dan 4) Literasi digital.

 

Kesenjangan di masa Pandemi (Sumber: dokumen pribadi)

 

Sesuai arahan Presiden RI, maka Pemerintah berupaya untuk meningkatkan Pemberdayaan Perempuan dalam kewirausahaan tahun 2021. Di mana, Perempuan Wirausaha adalah seorang perempuan yang berani berusaha secara mandiri dengan mengerahkan segala sumber daya dan upaya, meliputi kepandaian mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk menciptakan sebuah peluang usaha, pengadaan produk baru, memasarkannya. Serta, mengatur permodalan operasinya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi, dengan risiko yang akan dihadapinya.  

Banyak perusahaan atau lembaga yang peduli dengan keberadaan perempuan. Di mana, tujuan mulianya untuk Pemberdayaan perempuan agar bisa terjadi kesetaraan gender. Salah satu lembaga yang konsentrasi dalam pemberdayaan perempuan adalah Stellar Women

Pendiri Stellar Women adalah Samira Shihab. Stellar Women merupakan komunitas yang fokus pada pemberdayaan perempuan, baik wanita karier atau wirausahawan, pencipta atau pekerja lepas. Stellar Women memberi panduan kepada wanita dalam mencapai tujuannya. Dengan meningkatkan kepercayaan diri dan dorongan dalam mengembangkan keterampilan. Bahkan, Stellar Women berkontribusi dalam menghubungkan antar wanita yang berpikiran sama dan bersemangat dalam meraih mimpinya.  

Seminggu lalu, kita memperingati Hari Perempuan Sedunia. Yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Sejalan dengan peringatan tersebut, Danone Indonesia membuat program pendidikan menuju kewirausahaan yang diberi nama “Women Entrepreneurship Academy”. Bekerja sama dengan komunitas perempuan Stellar Women dan Indonesia Business Coalition for Women (IBCWE). Program  tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perempuan dalam menjalankan bisnis UMKM dan menjalankan Bisnis Berkelanjutan  yang sejalan dengan misi One Planet One Health.

Women Entrepreneurship Academy akan berlangsung pada bulan Maret 2021. Membuka sesi pendampingan kelompok dan sesi One on One Mentoring untuk 50 peserta pelaku UKM terpilih. Program ini bertujuan untuk melahirkan kaum perempuan dengan kepemimpinan yang mumpuni. Serta, mampu menjadi agen perubahan (agent of change) di lingkungan sosialnya.

 

Stellar Women (Sumber: dokumen pribadi)

 

Menurut Samira Shihab, program Women Entrepreneurship Academy menawarkan beragam sesi kelas online. Berisi materi tentang product development, sales, branding, marketing, leadership, dan self-confidence. Menarik, dalam sesi kelas online akan menyajikan beragam contoh kasus yang meliputi permasalahan, solusi, impact, dan takeaways.

Perlu diketahui bahwa pendaftaran program Women Entrepreneurship Academy akan berlangsung selama 4 minggu. Dimulai dari tanggal 23 Maret - 16 April 2021.  Berikut, rencana materi yang akan diajarkan dalam 4 minggu dalam Women Entrepreneurship Academy.

 

Weekly Plan yang ada dalam program Women Entrepreneurship Academy (Sumber: dokumen pribadi)

 

Dengan kata lain, perempuan mempunyai kesempatan untuk berbagi tujuan dan pengalamannya. Dan, Stellar Women merupakan tempat yang aman bagi perempuan untuk meraih impian sukses dalam kondisi yang penuh tantangan ini. Stellar Women sangat cocok bagi perempuan, karena bertujuan untuk memberdayakan wanita menjadi pemberani, mengembangkan harga diri dan keterampilan.

Juga, di Stellar Women akan membekali perempuan dengan perangkat pintar dalam membangun kerajaan bisnis. Itulah sebabnya, Stellar Women mampu menciptakan jiwa entrepreneurship (kewirausahaan) perempuan.  Apalagi, anda yang bergabung dalam program Women Entrepreneurship Academy akan bertemu dengan banyak wanita inspiratif.

Sebagai informasi bahwa program tersebut terdiri dari 6 sesi webinar tentang bisnis, kepemimpinan dan keberlanjutan dari pembicara terkemuka. Seperti, pendiri Narasi TV Najwa Shihab, CEO Burgreens Helga Angelina, Founder& CEO Sayurbox Amanda Cole, Co-founder Wecare.id Mesty Ariotedjo, CEO Sintesa Group Shinta Kamdani, VP Marketing Danone SN Indonesia Sri Widowati. Dan, masih banyak sosok-sosok perempuan sukses di bidangnya masing-masing yang akan berlaku sebagai pembicara.

 

Pembicara terkemuka yang akan mengisi program Women Entrepreneurship Academy (Sumber: stellarw.id/IG)

 

 

Nah, bagi anda wanita tangguh yang  ingin atau baru memulai bisnis, dan ingin menerapkan aspek sustainability dan social impact ke dalam bisnismu. Maka, mendaftar dalam program Women Entrepreneurship Academy sangatlah cocok. Anda akan mempelajari berbagai topik bisnis, mulai dari starting up, branding, marketing, case studies dan leadership.

Tak perlu khawatir, akan ada mentoring sessions dengan mentor-mentor yang ahli dibidangnya untuk 50 orang terpilih. Daftarkan diri anda sebelum tanggal 19 Maret 2021 di link pendaftaran di laman Stellar Women

 

Laman pendaftaran Women Entrepreneurship Academy (Sumber: stellarw.id/IG)

 

Untuk lebih jelasnya, berikut tahap pendaftaran Women Entrepreneurship Academy. Yuk, bergabuing sekarang juga.

 

Langkan pendaftaran Women Entrepreneurship Academy (Sumber: stellarwomen.id)

 

Thursday, March 4, 2021

Belanja Pakaian Bekas Impor Murah Ala Pasar Kodok

 

Salah satu sudut Pasar Kodok Kota Tabanan Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

“Pengin belanja pakaian murah? Ke Pasar Kodok aja”

 

Kalimat yang sering diungkapkan orang sebagai sindiran atau buat guyonan. Pertama kali, saya mendengarnya agak lucu juga. Karena, dari namanya terdengar aneh. Seakan-akan, pasar tersebut menjual daging kodok atau katak. Padahal, aslinya pasar tersebut adalah pasar pakaian bekas, Yang lokasinya terletak di kota Tabanan Bali.

Lantas, mengapa dinamakan Pasar Kodok? Jujur, saya belum memahami alasannya. Namun, saya mempunyai persepsi sendiri. Dinamakan Pasar Kodok karena para pengunjung sambil berjongkok. Saat memilih pakaian bekas yang diinginkan sesuai selera.

Dikarenakan, barang dagangan rerata digelar ala lapak dagangan di pasar. Akhirnya, penyebutan Pasar Kodok melekat di masyarakat hingga sekarang. Kenyataannya, pakaian bekas yang dijual justru mengalami pergeseran. Bukan lagi digelar, tetapi digantung dengan menggunakan hanger.

Apakah, penyebutannya menjadi Pasar Berdiri? Tentu, tidak. Karena, nama Pasar Kodok sudah melekat kuat di masyarakat Kota Tabanan Bali dan sekitarnya. Bahkan, image Pasar Kodok dikenal sebagai pasar pakaian bekas terbesar di Kota Tabanan.

Sejatinya, Pasar Kodok ini tidak berbeda dengan Pasar Senggol. Yang rame buka pada sore hingga malam hari di tempat lain. Namun, Pasar Kodok ini buka sejak pagi hari. Uniknya, Pasar Kodok bisa menjadi destinasi wisata fashion. Karena, banyak desain pakaian yang terlihat di sini.  

Saya beberapa kali menyambangi Pasar Kodok. Bermaksud ingin melihat situasi yang ada. Pasar Kodok itu terlihat luas, kira-kira 5 hektar luasnya. Berada di antara perkampungan penduduk. Menarik, dari gaya logat bahasa yang muncul, pedagangnya rerata pendatang dari Jawa Timur. Dan, logat Bahasa Madura sangat mendominasi di kawasan ini.

Banyak jenis pakaian bekas yang ada di Pasar Kodok. Dari kemeja hingga jaket tebal. Semuanya menarik perhatian pembeli, dengan harga yang terjangkau. Sangat pas bagi pengunjung yang ingin tampil menawan, tetapi kondisi kantong ngepres. Saya sendiri melihat kemeja warna putih banyak digantung di beberapa lapak. Terlihat bersih, tetapi warnanya agak sedikit buram. Namanya juga pakaian bekas.

Pasar Kodok menjadi oase bagi masyarakat yang membutuhkan pakaian dengan budget yang minim. Tetapi, jika anda beruntung, ada saja jenis pakaian yang bagus, seperti tampilan pakaian bermerek. Maka, pengunjung mesti pintar-pintar memilih dan memilah. Karena, kualitas pakaian bekas tidak sama dengan pakaian baru jebolan langsung dari pabrik.

 

Tips buat anda saat membeli pakaian bekas adalah merendam pakaian di air panas atau mendidih terlebih dahulu. Buat apa? Perlu anda ketahui bahwa pakaian bekas impor sangat riskan terhadap kesehatan tubuh. Pakaian impor mengandung banyak bakteri atau virus berbahaya.

 

Menurut Direktur Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan, Widodo di laman investor.id (05/02/2015) menyatakan, "Jika dilihat dari kasat mata, sesungguhnya pakaian impor bekas tersebut sudah tidak layak pakai. Kandungan mikroba tertinggi dari satu sampel memiliki nilai total sebesar 216.000 koloni per gram dan kapang sebesar 36.000 koloni per gram".

Meskipun, pakaian bekas impor sangat berbahaya bagi tubuh, tetapi masyarakat sering mengabaikan realitas yang ada. Hal ini dikarenakan “mungkin” kurangnya sosialisasi bahaya pakaian bekas impor. Atau, kebutuhan mendesak akan pakaian dan harganya ramah di kantong.

Masyarakat masih tidak peduli, dengan masalah dampak kesehatan dari pakaian bekas impor. Apalagi, kasus kesehatan karena dampak dari pakaian bekas impor, belum pernah diekspos media secara kontinuitas. Maka, masyarakat beranggapan “ketika kasus kesehatan karena pakaian bekas impor belum muncul di permukaan, maka pakaian bekas impor aman-aman saja dipakai”.

Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat. Karena, sosialisasi tentang bahaya pakaian bekas impor belum dilakukan secara massal, di berbagai media. Ada anggapan yang beredar di masyarakat Indonesia, jika gak viral maka gak diurus.

Apalagi, keberadaan pasar pakaian bekas impor juga aman-aman saja. Di beberapa tempat, justru muncul kawasan pasar pakaian bekas baru. Seperti yang terlihat di kawasan jalan Malioboro Kota Denpasar Bali. Dari satu penjual pakaian bekas impor, kini kawasan tersebut mulai banyak lapak yang menjual pakaian bekas impor.

Bahkan, saat malam hari, lampu lapak dagangan terlihat terang benderang. Banyak pembeli yang berdatangan. Untuk memilih pakaian bekas impor, sesuai selera dan anggaran di kantong.

Hal ini menunjukan bahwa masalah harga masih menjadi alasan kuat masyarakat. Apalagi, kondisi Pandemi Covid-19 membuat masyarakat mesti berhemat. Mencari alternatif lain yang bisa menekan pengeluaran. Tanpa peduli tentang dampak kesehatan tubuh yang ada.

 

“Halah, selama ini aman-aman saja kok. Kalau ada yang murah, ngapain pilih yang mahal”

 

Mungkin, kalimat yang ingin diungkapkan bagi pembeli. Saat, ditanya alasan membeli pakaian bekas impor. Jadi, di artikel ini, saya pribadi memberikan pandangan bahwa dampak kesehatan dari pakaian bekas impor sungguh luar biasa. Memang, dampaknya gak langsung terjadi kayak karma spontan.

Namun, saya juga tidak bisa melarang, bagi anda yang mau membeli pakaian bekas impor. Karena, saya bukanlah ahli kesehatan atau pejabat pemegang kebijakan. Yang berani mengatur-ngatur masyarakat.

Saya hanyalah orang biasa yang ingin berbagi pandangan. Bahwa, ada Pasar Kodok di kota Tabanan yang ramai dikunjungi, dan bisa menjadi destinasi wisata. Itu saja kok! Terima kasih atas kunjungannya di blog saya ya. 





Wednesday, March 3, 2021

Bijak Kelola Sampah Karena Sampahmu adalah Tanggung Jawabmu

 

Aktifitas di depo pengumpulan sampah di jalan Merpati Kota Denpasar Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Hingga kini, sampah masih menjadi masalah besar bangsa Indonesia. Waste Management Indonesia atau Manajemen Sampah Indonesia membutuhkan daya kelola yang baik dan  bertanggung jawab. Seperti, yang dilakukan oleh perusahaan layanan pengelola sampah Waste4Change. Perusahan tersebut memiliki 198 Klien, 175 Proyek dan mengelola sampah hingga 5.404.041 kg.

Layanan utama perusahaan tersebut adalah pertama, Konsultasi, Menyediakan riset berbasis data, serta masukan dari ahli-ahli persampahan di tingkat lokal. Agar, solusi pengelolaan sampah optimal, contoh program Solid Waste Management Research;  kedua, Campaign, Memfasilitasi program sosialisasi dan edukasi antar pemangku kepentingan untuk menciptakan perubahan ekosistem dalam rangka mewujudkan Ekonomi Sirkular, contoh program AKABIS (Waste Management Academy).

Ketiga, Collect, Memfasilitasi klien dengan pengangkutan sampah terpilah, tempat sampah terpilah, serta laporan mengenai alur sampah, contoh program Residential Area Waste Management, Personal Waste Management, Event Waste Management, Commercial Area Waste Management; dan keempat, Create, Memproses sampah secara bertanggung jawab menjadi material daur ulang, contoh program Extended Producer Responsibility dan In-Store Recycling. 

 

 

Kinerja dan layanan utama Waste4Change (Sumber: dokumen pribadi) 

 

KOLABORASI 

Setiap tanggal 21 Februari, bangsa Indonesia memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Harapan dari peringatan tersebut adalah terciptanya kesadaran masyarakat dalam Bijak Kelola Sampah menuju Indonesia yang Bersih, Maju dan Sejahtera.

Menarik, pembangun kota di Indonesia memberikan dampak negatif yang tidak bisa dihindari seperti 1) Meningkatnya volume sampah; 2)  Meningkatnya kebutuhan lahan pemukiman; dan 3) Terjadinya pencemaran lingkungan. Bahkan, volume sampah khususnya sampah plastik terus bertambah seiring laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,25 persen (2010-2020). Dan, penduduk Indonesia sesuai Sensus Penduduk 2020 sebesar 271,35 Juta.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam laman resmi Kementerian LHK (22/02/2020) tentang tantangan besarnya persoalan sampah Indonesia. Jumlah timbulan sampah setiap tahun sekitar 67,8 juta ton. Kurang lebih 15% atau sekitar 10,17 juta berupa sampah plastik. Dari Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) dan Indonesian Plastic Recyclers (IPR) menyatakan total konsumsi plastik diprediksi sebanyak 5,66 MMT (Millions of Metric Tons atau juta metrik ton).


 

Dampak pembangunan kota dan pertumbuhan sampah khususnya sampah plastik (Sumber dokumen pribadi)

 

 

Jika, sampah plastik tidak dikelola baik, sangat berbahaya bagi lingkungan. Plastik tidak terurai hingga ratusan tahun dan merusak lingkungan. Di laut, sampah plastik merusak pertumbuhan biota laut. Saat sampah plastik dimakan fauna laut, seperti ikan. Maka, ikan berbahaya bagi tubuh, ketika dikonsumsi manusia. Sebuah lingkaran setan (devil’s circle) yang berbahaya bagi manusia.

Pemerintah Indonesia berpacu untuk mengurangi 70 persen sampah plastik yang mengalir ke lautan pada tahun 2025. Maka, pengelolaan sampah plastik harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder). Seperti, Pemerintah, dunia usaha atau industri, akademisi dan masyarakat.

Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Menjadi acuan untuk melakukan penekanan pada pengurangan sampah plastik dari awal, sebelum plastik tersebut menjadi sampah.

Dunia usaha atau industri manufaktur, perusahaan retail, serta perusahaan makanan & minuman wajib mengurangi sampah. Dijelaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (JAKSTRANAS) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Kalangan akademisi memberikan hasil laporan dari riset yang dilakukan secara seksama. Riset memberikan pemetaan tentang kondisi sampah di Indonesia. Dan, hal penting yang perlu dilakukan untuk pengelolaan sampah. Riset berkelanjutan memberikan gambaran penting pertumbuhan sampah di setiap kota Indonesia.

Masyarakat menjadi faktor penentu pengelolaan sampah plastik. Mengapa? Peran pemerintah, dunia usaha atau industri dan akademisi tidak akan berhasil tanpa adanya Bijak Kelola Sampah dari masyarakat. Prinsip “Sampahku adalah Tanggung Jawabku” sangat penting. Demi mengurangi kuantitas sampah di Tempat Pembuangan Sementara Sampah (TPS) atau Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA). 

 

RAMAH LINGKUNGAN 

Pengelolaan sampah dengan daur ulang bertujuan agar sampah bisa menghasilkan nilai ekonomi dan ramah lingkungan. Bahkan, pengelolaan sampah terpadu dengan circular economy (ekonomi melingkar) yang menggunakan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) bertujuan agar sampah plastik mempunyai nilai keberlanjutan.

Daur ulang sampah plastik menjadi tugas bersama. Baik kalangan dunia usaha atau industri maupun rumah tangga. Keberadaan perusahaan layanan pengelolaan sampah Waste4Change mampu mendorong terciptanya sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien. Perusahaan telah melakukan tindakan Pengelolaan Sampah.

Bahkan, sistem layanan perusahaan bernama Responsible Waste Management (RWM) memberikan keuntungan. Adapun, layanan tersebut adalah 1) Pendekatan manajemen sampah yang 100% terpilah; 2) Meningkatkan citra perusahaan; 3) Mengurangi timbulan sampah yang dibuang ke TPA; 4) Menaati Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, serta mendukung Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017; dan 5) Meningkatkan kepedulian pegawai tentang isu sampah. Perusahaan yang telah menggunakan layanan tersebut seperti Pasar Alam Vida Bekasi Jawa Barat dan  Barito Pasific di Wisma Barito Jakarta Barat.

Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2012 disebut Extended Producer Responsibility Indonesia. Dimana, perusahaan sebagai produsen bertanggung jawab atas kemasan yang dihasilkan dari produknya. Perusahaan wajib membatasi, mengolah dan mendaur ulang sampahnya.

Sampah timbul dari proses produksi yang  menghasilkan produk gagal, cacat, atau sampah sisa proses produksi. Proses produksi berpotensi menghasilkan sampah khususnya sampah plastik. Seperti, sampah dari proses distribusi (produk cacat atau kadaluwarsa), sampah gudang perusahaan (barang retur, bekas atau rusak), sampah konsumen (kemasan kosong atau produk habis pakai) menambah jumlah timbulan sampah.  

 

DAMPAK EKONOMI 

Proses daur ulang sampah plastik di perusahaan dan rumah tangga bertujuan untuk mewujudkan Personal Waste Management. Agar, bisa mengurangi kuantitas sampah di TPS atau TPA dan dampak negatif lingkungan. Pengelolaan sampah secara Circular Economy sendiri mampu memberikan dampak ekonomi.

Pertumbuhan dunia usaha atau industri meningkatkan pendapatan perusahaan dan masyarakat. Perusahaan daur ulang sampah mampu menyerap tenaga kerja. Banyak pemulung yang mendapatkan penghasilan dari daur ulang barang bekas atau sampah plastik.

 Keberadaan sampah plastik, justru menghasilkan pundi-pundi. Bukan hanya bagi perusahaan, tetapi bagi pekerja dan masyarakat di sekitarnya. Usaha transportasi, kos-kosan, kuliner dan lain-lain tumbuh subur. Geliat perekonomian di sekitar perusahaan daur ulang menjadi hidup. Sebuah lingkaran ekonomi, yang setiap elemennya saling berperan untuk memberikan keuntungan.

 

Kolaborasi antara Pemerintah, dunia usaha atau industri, akademisi dan masyarakat  dalam mewujudkan circular economy daur ulang sampah plastik (Sumber: dokumen pribadi)


 

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021. Nama penulis: Casmudi”

Jalur Alas Mantingan Ngawi yang Terkenal Angker

  Salah satu jalur Alas Mantingan yang berada dekat dengan kawasan Sidowayah Ngawi (Sumber: Youtube Casmudi Vlog/screenshot)          ...