Thursday, September 30, 2021

Yuk, Sadari Sejak Dini Tentang Penyakit Kanker Payudara, Penyebab Kematian Tinggi di Indonesia

 

Perlunya kesadaran tentang Kanker Payudara sejak dini (Sumber: shutterstock)

 

 

Saya mempunyai keluarga besar, dua orang di Solo dan satu orang di Ngawi yang mengidap kanker payudara dan berakhir dengan kematian. Sedangkan, satu orang di Klaten yang mampu bertahan hidup hingga sekarang, karena menyadarinya lebih awal. Tidak lupa melakukan pemeriksaan ke dokter secara intensif.

 

          Dari fakta di atas memberikan pemahaman bahwa tiga dari empat orang yang mengidap penyakit kanker payudara berakhir dengan kematian. Karena rasa malu, tiga orang keluarga besar saya tersebut, rerata menutup rapat kondisi kesehatannya kepada keluarga. Tetapi, mau melakukan pengobatan setelah kanker payudara mengganas dalam tubuhnya. Sebuah keputusan yang dianggap terlambat untuk bisa hidup sehat kembali.

          Harus diakui bahwa masyarakat Indonesia belum menyadari lebih dalam tentang penyakit mematikan bernama Kanker Payudara. Mungkin, banyak dari keluarga kita yang belum tahu tentang penanganan sejak dini Kanker Payudara. Mereka berpikir bahwa Kanker Payudara bisa diatasi dengan mudah setelah berada pada situasi yang parah. Yuk, kita pahami lebih dalam tentang Kanker Payudara.  

 

KANKER PAYUDARA

          Sebelum melangkah lebih jauh, hal pertama yang harus anda pahami adalah anatomi dari payudara. Fakta menyebutkan bahwa payudara merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting. Organ tersebut menjadi daya tarik dari wanita. Bahkan, dari payudara, seorang wanita akan menjadi seorang ibu yang mempunyai kodrat harus menyusui anaknya.

          Perlu diketahui bahwa payudara terdiri dari lobus dan duktus. Setiap payudara memiliki 15 hingga 20 bagian yang disebut lobus. Lobus sendiri memiliki banyak bagian yang lebih kecil yang disebut lobulus. Lobulus berakhir dengan lusinan umbi kecil yang dapat membuat susu. Lobus, lobulus, dan bulbus dihubungkan oleh tabung tipis yang disebut duktus.

 

Anatomi payudara wanita (Sumber: www.cancer.gov)

 

          Jika anda melihat anatomi payudara wanita bagian luar, maka akan terlihat Puting dan Areola. Payudara memiliki pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Pembuluh getah bening membawa cairan encer yang hampir tidak berwarna yang disebut getah bening. Kelompok kelenjar getah bening ditemukan di dekat payudara di aksila (di bawah lengan), di atas tulang selangka, dan di dada. Kelenjar getah bening berfungsi untuk menyaring getah bening dan menyimpan sel darah putih, yang membantu melawan infeksi dan penyakit.

          Lantas, apa yang dimaksud dengan Kanker Payudara? Kanker Payudara merupakan penyakit di mana sel-sel ganas (kanker) yang terdeteksi dalam jaringan payudara. Sel-sel ini biasanya timbul dari duktus atau lobulus di payudara. Selanjutnya, sel kanker tersebut menyebar ke dalam jaringan atau organ dan ke bagian tubuh lainnya.

 

Kanker Payudara (Sumber: shutterstock)

 

TINGKAT KEMATIAN TINGGI

          Perlu dipahami bahwa Kanker Payudara adalah penyebab utama kematian kedua pada wanita saat ini. Kasus tertinggi terjadi pada kelompok usia 55-59 tahun. Menarik, risiko Kanker Payudara akan meningkat seiring bertambahnya usia.

          Berdasarkan data dari International Agency for Research on Cancer (salah satu agensi dari WHO) yang diperoleh dari The Global Cancer Observatory bulan Maret 2021. Kasus baru penyakit kanker yang menjangkiti masyarakat dunia untuk semua jenis kelamin dan semua umur pada tahun 2020 sebanyak 396.914.

          Adapun, persentase dari jumlah tersebut adalah Kanker lain 51,4% (204.059), Kanker Payudara 16,6% (65.858), Kanker Serviks 9,2% (36.633), Kanker Paru-Paru 8,8% (34.783), Kanker Kolorektum 8,6% (34.189) dan Kanker Hati 5,4% (21.392).

          Jika, melihat data penyakit kanker khusus untuk wanita. Maka, akan diperoleh data penyakit kanker baru sebanyak 213.456 kasus baru. Dengan persentase sebagai berikut: Kanker lain 35% (74.681), Kanker Payudara 30,8% (65.858), Kanker Serviks 17,2% (36.633), Kanker Ovarium 7% (14.896), Kanker Kolorektum 5,8% (12.452) dan Kanker Tiroid 4,2% (9.053).   

          Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan data Globocan 2020, maka anda bisa melihat tabel berikut.


Statistik kanker di Indonesia tahun 2020 (Sumber: Globocan 2020)

 

          Dari tabel di atas, menunjukan bahwa bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 273.523.621 jiwa. Timbul kasus kanker baru untuk semua jenis kelamin sebanyak 396.914 kasus. Dengan angka kematian sebesar 234.511 jiwa, dengan prevalensi selama 5 tahun sebesar 946.088 jiwa.

          Menarik, persentase risiko meninggal akibat kanker sebelum usia 75 tahun  sebesar 9,4% (laki-laki 10,5% dan perempuan 8,3%). Kanker Payudara masih menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang sering terjadi di masyarakat Indonesia. Dibandingkan dengan penyakit kanker-kanker lainnya seperti: Paru-Paru, Serviks uteri, Indung telur, Tiroid dan Hati.

 

TINDAKAN YANG DILAKUKAN

A. Tindakan Pencegahan (Preventif) dan Deteksi Dini

          Tentu, hal yang harus dilakukan masyarakat terhadap Kanker Payudara adalah tindakan pencegahan (preventif). Pencegahan Kanker Payudara merupakan tindakan yang dilakukan untuk menurunkan kemungkinan terkena Kanker Payudara.

          Dengan tindakan pencegahan, maka jumlah kasus baru kanker dalam suatu kelompok atau populasi bisa diturunkan. Bahkan, harapan besar masyarakat Indonesia, tindakan pencegahan akan mengurangi beban kanker dan menurunkan jumlah kematian akibat kanker.

          Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah Kanker Payudara, di antaranya: 1) Deteksi Dini secara teratur; 2) Konsumsi makanan yang bergizi seimbang; 3) Menghindari minum alkohol; 4) Olahraga secara rutin; 5) Menghentikan kebiasaan merokok; 6) Menyusui setelah melahirkan; 7) Membatasi dosis dan durasi terapi hormon (tidak boleh lebih dari 3 tahun), seperti pada terapi hormon menopause; 8) Menghindari pil KB pada kondisi tertentu (tidak boleh lebih dari umur 35 tahun); 9) Menjaga berat badan ideal; 10) Istirahat yang cukup (tidur 7-8 jam sehari); dan 11) Menghindari stres.

          Bersyukur, dengan tindakan pencegahan, banyak wanita yang berhasil mengatasi penyakit Kanker Payudara dengan melakukan tindakan Deteksi Dini dan peningkatan dalam pengobatan. Dengan demikian, tindakan Deteksi Dini merupakan langkah terbaik, sebelum Kanker Payudara menjemput kematian.   

1.     Kenali Keluhan Payudara Wanita

     Wanita perlu memahami tentang keluhan yang terjadi pada organ payudaranya. Perlu diperhatikan bahwa keluhan-keluhan yang bisa terjadi, seperti 1) benjolan atau penebalan di payudara tanpa disertai nyeri; 2) keluar darah atau cairan dari puting susu; 3) perubahan bentuk dan kontur payudara; 4) perubahan warna dan bentuk putting susu; dan 5) warna kemerahan dan pembengkakan kulit seperti kulit jeruk.    

 

Keluhan yang bisa terjadi pada payudara wanita (Sumber: Kementerian Kesehatan RI)

 

     Dari keluhan di atas, yang paling sering terjadi adalah timbulnya benjolan atau penebalan di payudara. Kondisi tersebut bisa dideteksi sebagai: 1) tumor; atau 2) bukan tumor. Jika dideteksi sebagai tumor maka bisa disebut sebagai: 1) tumor ganas; atau 2) tumor jinak. Sedangkan, jika dideteksi sebagai bukan tumor, maka bisa sebagai: 1) infeksi; atau 2) hormonal. Dari hormonal ini, bisa dideteksi sebagai: 1) padat; atau 2) kista. Sebagai informasi bahwa nyeri pada payudara terjadi: 1) menetap pada satu posisi; dan 2) tidak terpengaruh oleh siklus menstruasi.  

     Wanita perlu memahami tanda dan gejala sebagai tanda peringatan Kanker Payudara, seperti: 1) Benjolan tanpa rasa sakit di payudara; 2) Gatal-gatal terus menerus di sekitar putting; 3) Pendarahan atau lendir yang tidak biasa dari putting; 4) Kulit di atas payudara membengkak dan menebal; dan 5) Puting masuk atau tertarik kembali. Dengan memahami tanda dan gejala tersebut, maka wanita akan melakukan deteksi sejak dini. 

2.     Faktor Risiko Kanker Payudara

     Siapa pun wanita yang dengan usia 40 tahun ke atas bisa berisiko mengidap Kanker Payudara. Ada 2 faktor yang bisa menyebabkan risiko Kanker Payudara, seperti: 1) faktor Risiko yang tidak dapat dikontrol; dan 2) faktor risiko yang dapat dikontrol.

               Faktor Risiko yang tidak dapat dikontrol, di antaranya: 1) Umur; 2) Riwayat Keluarga; 3) Ras; 4) Radiasi; 5) Faktor Genetik; 6) Riwayat Haid; dan 7) Riwayat Reproduksi. Sedangkan, untuk faktor risiko yang dapat dikontrol, di antaranya: 1) Obesitasi; 2) Olahraga; 3) Menyusui; 4) Alkohol; 5) Hormone Replacement Therapy; 6) KB (Keluarga Berencana); dan 7) Mempunyai anak.  

3.     Deteksi Dini

     Deteksi Dini merupakan langkah tepat untuk mengetahui lebih awal timbulnya tanda dan gejala Kanker Payudara. Skrining Kanker Payudara bertujuan untuk mencari tanda-tanda penyakit, sebelum seseorang memiliki gejala. Juga, untuk menemukan Kanker Payudara pada tahap awal, ketika dapat diobati dan disembuhkan.

     Tindakan pertama yang bisa anda lakukan, adalah: 1) SADARI (Periksa Payudara Sendiri); 2) Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) ke Dokter; dan 3) Mammografi untuk wanita yang berusia di atas 40 tahun.

     Bagaimana cara melakukan SADARI? Wanita harus melakukan Inspeksi payudara dan Palpasi Payudara. Inspeksi Payudara dengan cara: pakaian di atas pusat dibuka dan berdiri di muka cermin. Perhatikan, apakah ada kelainan pada payudara dan ketiak. Juga, bentuk, besar, simetri, warna kulit dan gerakan payudara pada saat lengan diangkat ke atas.

     Kemudian, Palpasi Payudara dilakukan dengan cara: meraba payudara sendiri dalam posisi berbaring. Tangan kanan meraba payudara kiri dengan punggung kiri diganjal bantal. Sebaliknya, tangan kiri meraba payudara kanan dengan punggung kanan diganjal bantal. Pehatikan kepadatan payudara, apakah ada benjolan dan rasa nyeri.

 

Tindakan Deteksi Dini dengan SADARI (Sumber: Kementerian Kesehatan RI)

 

     Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) ke dokter bisa dilakukan,  jika ada keanehan pada payudara. SADANIS digunakan untuk mendeteksi Kanker Payudara. Adapun pemeriksaan klinis oleh dokter dengan panduan adalah: 1) Untuk umur di bawah 40 tahun, tiap 2-3 tahun sekali; dan 2) Untuk umur di atas 40 tahun, tiap 1-2 tahun sekali.

     Deteksi Dini lainnya yang bisa dilakukan adalah Mammografi, yang bisa digabung dengan Ultrasonografi (USG). Mammografi adalah pemeriksaan yang dilakukan, untuk melihat apakah ada masalah pada payudara, meski gejalanya belum muncul.

     Untuk wanita umur 40 sampai 49 tahun, maka selain pemeriksaan payudara secara bulanan, diperlukan adanya Skrining tahunan mammografi 1 kali dalam 1-2 tahun. Sedangkan, untuk wanita umur 50 tahun keatas, maka selain pemeriksaan payudara secara bulanan, diperlukan satu kali mammografi skrining per tahun.

 

Tindakan deteksi dini dengan melakukan mammografi (Sumber: Kementerian Kesehatan RI)

 

     Setelah melakukan berbagai tindakan Deteksi Dini. Bagaimana Kanker Payudara bisa dinilai? Ada 5 tahap yang bisa menilai kondisi Kanker Payudara, yaitu:

1)    Tahap 0, luas penyebaran kanker tidak invasif. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 99%.

2)    Tahap 1, luas penyebaran kanker invasif kecil (kurang dari 2cm tanpa menyebar ke kelenjar getah bening aksila). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 90%.

3)    Tahap 2, luas penyebaran kanker invasif (antara 2-5cm atau dengan invasi kelenjar getah bening). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 70%.

4)    Tahap 3, luas penyebaran kanker invasif besar (lebih dari 5cm dengan invasi kulit atau menyebar ke beberapa kelenjar getah bening). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 40%.

5)    Tahap 4, luas penyebaran kanker metastatik atau menyebar. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rerata 20%.

B. Penanganan Kanker Payudara

          Jika, wanita mengidap Kanker Payudara, maka hal yang bisa dilakukan adalah penanganan secara intensif ke Pusat Penanganan Kanker. Perlu adanya dorongan dan dukungan yang kuat dari pihak keluarga, keluarga dekat atau teman. Agar, wanita yang mengidap Kanker Payudara tetap mempunyai semangat untuk sembuh dan hidup normal.    

          Pengobatan Kanker Payudara melalui operasi, radiasi, kemoterapi, terapi hormon, dan terapi target. Perlu diketahui bahwa berdasarkan respon terhadap jenis pengobatan, Kanker Payudara dibagi menjadi tiga (3), yaitu:

1.     Reseptor Hormon Positif. Kanker yang mengandung Estrogen Reseptor (ER) atau Reseptor Estrogen dan/atau Progesteron Reseptor (PR) atau Reseptor Progesteron. Kanker yang tumbuh sebagai respon terhadap hormon-hormon tersebut dan dapat diobati dengan terapi hormon.

2.     Human Epidermal Reseptor 2 (HER2) atau Reseptor Epidermal Manusia 2. Kanker Payudara HER2-positif adalah mereka yang memiliki jumlah protein HER2 yang tinggi. Mereka bisa menjadi Reseptor Hormon Positif atau Reseptor Hormon Positif negatif. Kanker tersebut bisa diobati dengan terapi yang menargetkan HER2.

3.     Kanker Payudara triple-negatif. Kanker tersebut tidak mengandung Reseptor Estrogen, Reseptor Progesteron atau Reseptor Epidermal Manusia 2.

          Mayoritas penanganan Kanker Payudara dengan melakukan operasi untuk mengangkat kanker. Adapun, bentuk operasi yang bisa dilakukan untuk penanganan Kanker Payudara adalah:

1.     Lumpectomy atau Wide Local Excision, yaitu: pengangkatan kanker dan sejumlah kecil jaringan di sekitarnya.

2.     Quadrantectomy, yaitu: pengangkatan jaringan di sekitarnya lebih banyak daripada lumpektomi. Untuk operasi jenis ini, seperempat dari payudara dikeluarkan.

3.     Mastektomi, yaitu: pengangkatan seluruh payudara.

          Setelah melakukan tindakan penanganan Kanker Payudara melalui operasi, maka akan dilakukan tindakan rehabilitasi. Di mana, akan dilakukan rehabilitasi fisik dan rehabilitasi mental.

          Adapun, rehabilitasi fisik meliputi: 1) Latihan bahu setelah operasi; 2) Pelindung lengan untuk menghindari lymphoedema (pembengkakan lengan); 3) Nutrisi Seimbang dan adaptasi gaya hidup untuk meningkatkan pemulihan. Sedangkan, rehabilitasi mental adalah 1) keyakinan akan peluang untuk bertahan hidup; 2) menghadiri ulasan dokter secara teratur; dan 3) perlunya dukungan yang baik dari pasangan, keluarga, teman & kelompok pendukung lainnya.

          Selain penanganan Kanker Payudara melalui operasi, juga dilakukan dengan Radioterapi. Di mana, Radioterapi Kanker Payudara menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menargetkan dan membunuh sel kanker. Penanganan ini bertujuan untuk membunuh kanker yang mungkin tertinggal di dalam atau sekitar payudara. Sebagai informasi bahwa mayoritas wanita yang memiliki mastektomi tidak memerlukan Radioterapi Kanker Payudara.

          Percayalah, Allah SWT memberikan penyakit, tentu ada obatnya. Cut Memey, Andiens Aisyah, Rima Melati, Pevita Pearce dan Kesha Ratuliu adalah deretan artis yang menderita Kanker Payudara. Namun, setelah melakukan pengobatan atau operasi pengangkatan tumor yang ada di payudara. Artis-artis tersebut bisa hidup sehat kembali.

          Namun, hal yang paling penting adalah PAHAMI LEBIH AWAL TENTANG KANKER PAYUDARA. Karena, kalau tidak kenal lebih dekat, maka anda tidak akan tahu bahwa Kanker Payudara adalah penyakit yang mematikan. Yuk, kenali sejak dini, sebelum Kanker Payudara merenggut kehidupan anda.


Referensi Tulisan:

Kementerian Kesehatan RI.

https://ahcc.co.id/cancer/kanker-payudara

https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf

https://www.cancer.gov/types/breast


No comments:

Pemahaman Orang Tua untuk Membedakan Antara Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional Demi Tumbuh Kembang Anak

  Webinar Bicara Gizi tentang perbedaan Gejala Alergi Saluran Cerna dan Gangguan Saluran Cerna Fungsional (Sumber: Shutterstock )       ...