Showing posts with label Genderuwo. Show all posts
Showing posts with label Genderuwo. Show all posts

Wednesday, July 21, 2021

GENDERUWO DI POHON KELAPA

  

Ilustrasi penampakan Genderuwo pohon kelapa (Sumber liputan6.com/diolah)

 

 

          Tulisan saya sebelumnya membahas tentang tempat-tempat menarik di masa kecil. Dan, di antaranya Rumah Keluarga di kampung halaman Brebes Jawa Tengah. Di mana, di bagin depan rumah itu ada pohon kelapa dan pohon keluwih (semacam pohon Nangka).

          Bapak saya pernah cerita bahwa beliau pernah mengalami peristiwa misteri. Jujur, karena Bapak telah kenyang mengalami hal-hal mistis. Maka, pengalaman ketemu makhluk astral menjadi hal yang biasa. Namun, pengalaman kali ini menjadi pengalaman yang tidak diduga sebelumnya.

          Kejadiannya, ketika saya masih SD. Seperti biasanya, ketika malam Jumat Kliwon, maka bapak selalu membakar kemenyan di beberapa tempat di sekitar rumah. Konon, dengan tujuan untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia. Juga, sebagai tolak bala dari berbagai pengaruh gaib nan jahat.

          Makanya, setiap malam Jumat khususnya Jumat Kliwon, Bapak selalu membuat nasi Wuduk (semacam nasi uduk) yang di masak di dalam sebuah kendi. Sebagai rangkaian dalam menghaturkan doa-doa untuk keluarga yang telah mendahului kita. Alhamdulillah, ritual seperti itu sepertinya sudah berangsur hilang.

          Sudah menjadi kebiasaan, sekitar tahun 90-an, setiap malam Jumat Kliwon, Bapak selalu tidur di luar rumah. Dengan menggunakan alas tidur dari anyaman daun kelapa atau tikar pandan. Saya sendiri belum tahu betul, kenapa bapak suka tidur di luar rumah (teras rumah).

          Saya pernah bertanya alasannya. Katanya sih biar nyari hawa di luar yang lebih dingin, tidak sumuk atau gerah. Namun, telisik punya telisik, ternyata ada maksud yang di luar dugaaan. Bapak ingin melindungi kondisi keluarga dari pengaruh gaib nan jahat.   

          Nah, di suatu malam Jumat Kliwon, saat waktu menjelang pukul 12 malam. Bapak terbangun dengan adanya seekor kucing hitam yang mengganggu tidurnya. Bapak melihat kucing tersebut diam termangu di dekat pohon kelapa di halaman rumah.

          Sungguh, sebuah malam yang gelap minim penerangan lampu dan ditatap secara serius oleh kucing hitam di malam hari, bukanlah hal yang biasa. Terlebih di malam Jumat Kliwon menjadi sebuah pertanda yang berbau mistis.

          Oleh sebab itu, Bapak juga menaruh curiga sama kucing hitam yang berdiri termangu, di dekat pohon kelapa tersebut. Kucing tersebut justru tidak bergeming sama sekali ketika diusir. Sepertinya, kucing tersebut menantang Bapak yang hendak mengusirnya.

          Tanpa diduga, perlahan kucing hitam tersebut bertambah besar wujudnya sebesar harimau. Melihat hal-hal yang aneh dan gaib, Bapak pun merapalkan berbagai macam doa untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.

          Selanjutnya, hal terjadi di luar dugaan. Kucing hitam yang telah sebesar harimau, justru makin membesar dan berubah wujud. Mengerikan, perubahan wujud menjadi manusia hitam berambut panjang tersebut, hampir setinggi pohon kelapa (kekira 20 meter). Dan, bapak pun memahami bahwa perubahan wujud dan bentuk tersebut telah menjadi penampakan hantu yang menakutkan, GENDERUWO.

          Wajah yang mengerikan dengan bola mata yang hampir melotot. Dan, 2 taring di mulutnya makin menambah seram penampakannya. Bersyukur, Bapak bukannya takut, tetapi menantang adu kesaktian dengan tujuan untuk mengusirnya. Hingga, Genderuwo tersebut kalah dan menghilang di balik pohon kelapa. Ngerinya, Genderuwo tersebut sesekali menampakan di pohon keluwih.

          Dari cerita Bapak tersebut, maka keberadaan pohon kelapa dan keluwih yang sangat bermanfaat bagi keluarga. Terpaksa, ditebang agar tidak terlihat singkur (angker). Bahkan, saya sendiri pernah melihat penampakan Hantu Kuntilanak di pohon jambu. Pohon yang berada di kanan dan kiri pintu masuk halaman rumah. Ketika, pohon jambu tersebut belum ditebang.

          Kata, Bapak saya, memang pohon-pohon tinggi atau lebat seperti itu menjadi tempat nyaman berlindung makhluk halus. Apalagi, ketika kondisi gelap, akan menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam hantu.

          Maka, untuk mencegah berbagai macam gangguan, kita wajib rajin berdoa dan beribadah. Tidak perlu takut karena mereka mempunyai dunia sendiri. Hanya kepada Allah SWT, Kita berlindung dan memohon pertolongan.          

Sunday, April 12, 2020

Genderuwo di Kantor Biru Semarang

Angkernya membuat bulu kuduk merinding (ilustrasi/liputan6.com)





        "Cas, tolong cariin kantor di Semarang ya. Tetapi, budgetnya sekian" sambil menulis angka di sebuah kertas. Pada artikel kali ini, saya bekerja sama dengan teman saya yang lain. Masih dalam usaha distribusi. Saya meluncur dari Magelang ke Semarang bersama dengan anak buah teman saya. Sebenarnya , saya agak "wegah" (malas) mencarikan kantor di Semarang. Karena, saya sudah pernah membuka kantor di Semarang. Jadi, ingin suasana baru. Namun, karena keputusan teman saya, saya ikutin saja. Toh, nanti kantor Semarang akan saya kelola dengan baik. Meski, dihantui penampakan Genderuwo di Kantor Biru Semarang.

        Dari ujung Simpang Lima, saya selalu menghampiri rumah atau kantor yang terlihat kosong. Atau, yang tertulis "dikontrakan". Namun, tidak juga menemukannya. Sementara, hari mulai menjelang senja. Tidak jauh dari Terminal Mangkang, saya menemukan sebuah rumah atau gedung berwarna putih dan mempunyai 2 lantai. Saya bertanya dengan pemilik warung yang berada di seberang rumah tersebut. Dan, benar bahwa rumah itu sudah hampir tiga tahun kosong. Ibu tersebut terlihat heran, karena saya bertanya tentang rumah tersebut. "Hubungi saja rumah yang ada di timur mas, naik ke atas. dia yang dikasih tanggung jawab untuk rumah itu" saran dia.

Kantor Biru Semarang

         Tahun 2006 lalu, sebuah gedung lantai 2 dengan biaya sewa sekitar 7 juta per tahun benar-benar murah. Sungguh sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Cocok untuk kantor distribusi, bahkan bisa balik modal cepat. Sebenarnya, saya ingin mencari kontrakan baru lagi, tapi sepertinya tidak mungkin. Karena, hari sudah menjelang senja. Dan, harga sewa rumah tersebut sangat ramah di kantong. Di bawah budget yang disarankan teman saya. Tentu, kantoir tersebut akan disetujui teman saya. 

         Saya pun pulang ke Magelang senja hari. Saya harus berkendara sepeda motor diguyur hujan deras, sejak dari Semarang hingga Magelang. Teman saya pun setuju dengan pencarian rumah di Semarang. Gimana gak senang, wong harganya seperti lagi promo. Dia pun nyeletuk, "jangan-jangan rumahnya horor Cas" tanyanya sambil ngakak. "Halah, yang penting kan penjualan meningkat tajam. Lagian, sampeyan kasih budget kecil banget. Waktunya juga sudah gak ada lagi. Penginnya sih nyari lagi" jawab saya. Dia memang sudah percaya sama saya.

          Keesopkan harinya, saya bersama teman saya meluncur bareng ke Semarang untuk melihat kondisi rumah. Dan, membayar langsung biaya sewa. "Wah, kayaknya horor nih Cas. Kata ibu warung seberang, sudah hampir 2 tahun gak dipakai" katanya saat mengecek kondisi rumah hingga ke lantai kedua. "Masa sih?" jawab saya. "Loh, kamu malah gak tahu ya" tanya dia memastikan. "Ibu warungnya saja gak ngomong sama saya" jawab saya santai. "Gak papa, malah biasanya yang horor itu yang bisa membuat penjualan meningkat" katanya, serasa menuju mobil sedan berwarna hijau. 

          "Kita makan dulu. Habis itu, kita ke Magelang, dan besoknya kita bawa beberapa anak untuk mengecat tembok bagian depan kantor. Kita cat warna biru saja" kata teman saya, saat memasuki sebuah rumah makan sederhana. Yang letaknya tidak jauh dari rumah buat kantor nanti. Selama perjalanan ke Magelang, saya dan teman saya banyak berbicara tentang kondisi rumah untuk kantor tersebut. Bersyukur banget dapat harga segitu, kata teman saya. 

          Keesokan harinya, kantor tersebut, benar-benar dicat dengan warna biru. Terlihat aura ceria. Kesan angker yang terlihat saat pertama kali ketemu, kini hilang. Apalagi, kurang lebih 20 anak (karyawan) hadir setiap hari di kantor ini. Sebagian besar, tim tidur di beberapa kamar di lantai 2 yang begitu luas. Suasana kantor menjadi hidup.

          Namun, saat malam hari, suasana di sekitar kantor begitu mencekam. Karena, di sekeliling kantor tanpa penerangan lampu, terlihat sangat gelap. Perlu diketahui bahwa di sebelah kiri kantor terdapat lapangan kosong, bekas beberapa rumah yang dirobohkan. Sedangkan, bagian belakang kantor terdapat tanah kosong yang masih ditumbuhi semak-semak yang tinggi. Tidak jauh dari situ, terdapat pemukiman warga yang tanahnya agak tinggi.

          Semarak di dalam kantor sangat kontra dengan situasi di sekelilingnya, yang benar-benar sepi. Setelah beberapa kali mampir ngopi dan makan di warung seberang kantor, maka saya mengetahui kondisi kantor sebelumnya. "Kok njenenengan wani yo mas, ngontrak umah iku" (kok sampeyan berani ya mas mengontrak rumah itu) tanya ibu warung. "Wonten nopo toh bu" (ada apa sih bu) jawab saya yang membutuhkan jawaban secepatnya. 

          "Sedurunge sampeyan, mas-mas sing tinggal teng ngriku jarene kerep diganggu" (Sebelum anda, mas-mas yang pernah tinggal di situ seringkali diganggu) katanya, menatap saya dengan tajam. ''Nyuwun sewu bu, emange penunggune iku opo toh?"  (maaf bu, emangnya penunggunya itu apa sih) tanya saya dengan serius. "Nyuwun sewu mas. tapi sampun sanjang nggih sareng konco liyane. Mesakno konco sampeyan, mengko wedi kabeh. Jarene mas-mas mbiyen iku genderuwo"  (Minta maaf mas tapi, jangan bilang sama teman lainnya. Kasihan, nanti teman kamu takut semua. Kata mas-mas dulu itu Genderuwo) katanya sambil melayani pesanan saya. Semprul, kenapa dulu, ibu gak ngomong seperti itu. Sekarang, sudah terlanjur dijadikan kantor, mau bilang apa lagi. 

Genderuwo

            Satu bulan berlalu, suasana kantor berjalan normal. Namun, ada tim yang sempat ngomong saat istirahat di sore hari. "Asem, mbengi aku diganggu karo wong ireng duwur nang kamar pojok nduwur" (Asem, semalam saya diganggu sama orang hitam tinggi di kamar pojok atas (lantai 2)) katanya yang terlihat serius. Saya tidak meresponnya, tapi mendengarkan informasinya dengan seksama. "Kamar sebelah mana?" tanya saya penuh selidik. "Kamar paling belakang pak" jawabnya kembali. Dalam hati, saya hanya berkata, "masa sih ada penunggunya".

          Suatu hari, ketika hari minggu, anak-anak pulang kampung. Saya seorang diri di kantor itu. Meskipun, hati saya takut, tetapi rasa penasaran membuat saya "uji nyali". Saya teringat seorang tim yang guyon berkata, "pak, sekali-kali sampeyan mencoba tidur di kamar pojok atas. Percaya gak, ada cewek cantik yang nggangguin nanti". 

        Malam minggu itu, benar-benar saya sendiri. Saya berusaha untuk menghibur diri dengan menyetel lagu-lagu pop melalui DVD di lantai 2. Lampu lantai atas saya matikan. Dengan tujuan untuk menghemat pengeluaran listrik. Jadi, suasana lantai 2 terlihat temaram dengan pancaran sinar dari TV yang menampilkan lagu-lagu pop melalui DVD. Sepertinya, suara pop lagu tersebut membuat saya melupakan hal-hal misteri. Sebagai informasi, pintu kamar pojok dalam keadaan tertutup sedari tadi. 

           Tanpa terasa, saya tertidur dalam keadaan TV menyala. Kurang lebih pukul 3 malam, saya terbangun. Dan, kaget karena TV masih dalam keadaan menyala. Antara sadar dan tidak, saya pun berniat untuk mematikan TV tersebut melalui remote control. Tapi, belum kesampaian, saya merasa dingin karena efek keramik lantai. Saya berusaha untuk mencari alas tidur. Dan, saya teringat bahwa alas tidur yang enak dan empuk tersebut ada di kamar pojok. 

           Dengan langkah gontai, antara ngantuk dan tidak, saya berusaha membuka pintu kamar pojok untuk mengambil alas tidur. Betapa kagetnya saya, pemandangan di depan saya hampir membuat jantung saya copot. Saya melihat penampakan orang yang tinggi dan hitam bersandar di pojok tembok. Wajahnya yang tertutup rambut terlihat menakutkan, saat terkena cahaya yang samar-samar dari TV. Tanpa basa-basi, saya berteriak, "La haula wala kuwwata illa billah". Dan, berlari ke lantai bawah dengan nafas ngos-ngosan. Berharap untuk mengurangi rasa takut, maka pintu depan kantor saya buka. Agar, terganggu oleh suara kendaraan yang melintas tiada henti di jalan raya. Juga, bagian depan kantor terlihat terang karena lampu membuat rasa takut saya perlahan hilang.

          Saya berusaha duduk di luar kantor hingga subuh. Saya berpikir bahwa gangguan makhluk halus akan hilang seketika saat terdengar suara adzan. Kejadian tersebut tidak pernah saya sampaikan sama siapapun. Saya malu, jika orang lain mendengar apa yang saya alami. Namun, kejadian apa yang saya alami, justru beberapa kali dialami oleh anak-anak, baik cowok maupun cewek. Sejak pengalaman saya itu, saya tak berani keluyuran di kamar pojok saat malam hari. 

         Penampakan mengerikan bukan hanya di kamar lantai 2 tersebut. Tetapi, terjadi di samping kantor sebelah kiri (barat) yang terlihat gelap gulita setiap malam. Bahkan, penampakan cewek yang sedang duduk membelakangi sering terjadi di sini. Yang bikin geregetan, gangguan Genderuwo itu muncul saat kantor dalam keadaan sepi atau malam hari. Tetapi, saat banyak anak, maka gangguan tersebut seperti hilang sendiri. 

          Sejatinya, makhlus halus takut sama manusia. Tetapi, saat penampakannya mengerikan, maka sebagai manusia biasa, hanya punya satu kunci, langkah seribu. Dasar Genderuowo tak tahu diri. Bikin saya ketakutan!

Jalur Alas Mantingan Ngawi yang Terkenal Angker

  Salah satu jalur Alas Mantingan yang berada dekat dengan kawasan Sidowayah Ngawi (Sumber: Youtube Casmudi Vlog/screenshot)          ...