Showing posts with label Puncak Tangis Kala Pandemi Covid-19. Show all posts
Showing posts with label Puncak Tangis Kala Pandemi Covid-19. Show all posts

Wednesday, July 21, 2021

PUNCAK TANGIS KALA PANDEMI (BAGIAN 2)

 

Puncak tangis kala Pandemi (Sumber: shutterstock) 

 

 

          Tulisan sebelumnya membahas perjalanan saya bekerja di perusahaan orang lain. Hingga, kondisi sekolah anak saya yang menunggak SPP SMA 2 tahun lamanya. Pada tulisan kali ini, saya membahas masalah drop mental anak saya. Karena, gagalnya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

          Berbagai ujian hidup pun masih mendera saya. Meskipun, satu persatu hal-hal yang membuat puncak tangis saya mampu saya hadapi. Namun, dengan datangnya badai Pandemi Covid-19 membuat saya “hampir putus asa”. Seperti apa sih? Yuk, baca tulisan ini hingga tuntas.

 

GAGAL SNMPTN DAN SBMPTN

          Menjelang pengumuman kelulusan, anak saya mendapatkan banyak undangan beasiswa. Sayangnya, beasiswa tersebut dari PT Swasta yang biaya kuliahnya tidak full ditanggung PT yang bersangkutan. Di antaranya, President University yang memberikan beasiswa Teknik Industri dengan jangkauan beasiswa hanya 75 persen. Saya tidak mampu untuk meresponnya, karena biaya lainnya bikin kalkulator saya jebol.

          Sejak awal, melihat kondisi keuangan yang terseok-seok. Maka, saya memberikan saran kepada anak untuk ikut beasiswa atau undangan pendidikan. Maka, anak saya ikut SNMPTN mengambil jurusan Teknik Metalurgi di Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, SNMPTN tersebut memberikan informasi kegagalan.

          Selanjutnya, saya memberikan saran untuk ikut beasiswa luar negeri. Kalau tidak salah ingat, di Beasiswa Busan, dengan mengambil jurusan Teknik. Yang menarik, proses keikutsertaan ke beasiswa tersebut tidak jelas rimbanya. Seandainya, tidak lolos administrasi, maka pihak penyelenggara akan memberikan kabar melalui email atau pesan WA. Namun, kenyataannya tidak ada berita sama sekali.

          Bahkan, saya berpikir bahwa apakah berkas-berkas sampai ke pihak penyelenggara? Hanya Allah SWT Yang Maha Tahu. Keikutsertaan di beasiswa tersebut membuahkan gigit jari. Kini, masa depan anak saya tinggal menunggu SBMPTN tahun 2019, 2020 dan 2021. Tentu, saya dan anak saya berharap bisa diterima di PTN tahun 2019 tersebut.

          Namun, MASALAH BESAR masih mengganjal, yaitu IJAZAH BELUM BISA DIAMBIL. Karena, saya belum bisa melunasi SPP Sekolah. Bahkan, untuk sekedar mendapatkan fotokopi ijazah ke pihak sekolah, sebagai persyaratan mengikuti SBMPTN pun tidak bisa.

          Saya sampai mengemis-ngemis ke pihak BK Sekolah dan Kepala Sekolah. Agar, memberikan keringanan atau kesempatan untuk mendapatkan fotokopi ijazahnya saja. TETAP TIDAK BISA! Saya berpikir saat itu “Sekolah tidak peduli dengan kelanjutan Pendidikan anak didiknya”. Namun, saya berpikir positif saja, ambil hikmahnya.

          Sungguh, saat itu KITA NANGIS BERTIGA di kost. Bukan kaleng-kaleng. Melihat, menyaksikan kondisi anak saya yang menangis tidak bisa ikut ujian PTN. Saya dan istri ikut menangis meratapi kondisi yang ada. Untuk meredakan ketegangan, saya dan istri memberikan masukan. Untuk mengikuti ujian program mandiri PTN. Yang “mungkin” bisa memberikan keringanan, untuk meminta fotokopi ijazah.

          Maka, untuk meratapi kegagalan, anak saya nekad ikut ujian di UIN Malang Jawa Timur. Dengan mengambil jurusan asal-asalan, yaitu Farmasi. Kenyataannya, tidak lolos ujian di universitas tersebut. Lagian, kalau lolos pun tetap diminta ijazahnya. Lah, ijazahnya saja belum ada. Bagaimana?

          Terpaksa, di tahun pertama sehabis lulus, anak saya gagal total untuk masuk ke PTN. Ijazah pun belum sempat diambil. Maka, sehari-harinya, ia menghabiskan waktunya dengan merenungi nasib. Melihat teman-temannya, yang senasib pada ikut BIMBEL PREMIUM. Agar, tahun depan bisa diterima di PTN yang lebih bonafide.

          Sedangkan, anak saya hanya diam di rumah. Sungguh, saya melihat sangat kasihan. Teman-teman baiknya sudah pada kuliah. Bahkan, ada yang kuliah di luar negeri. Untungnya, teman-teman yang kuliah di Bali dan Surabaya, masih sempat mampir ke kost. Untuk memberikan semangat dan tetap menyambung persahabatan.

          Di tahun 2020 ini, Alhamdulillah, saya bisa melunasi SPP SMA anak saya. Di sini, saya baru tahu bahwa NILAI AKHIR ANAK SAYA RERATA 9. Saya kaget sekali dengan kondisi tersebut. Bukan ANAK BIMBEL, tapi mampu menyaingi nilai temannya yang semuanya ANAK BIMBEL.

          Uang BAYAR SPP SMA tersebut diperoleh dari pinjam uang kredit harian dan hasil berjualan. Padahal, uang tersebut untuk membayar kost yang masih nunggak. Tetapi, demi anak saya yang masih semangat untuk ikut SBMPTN. Maka, uang tersebut saya pindahkan untuk mengambil ijazah.

          Maka, tahun 2020 ini, anak saya mencoba  mengadu nasib. Dia ikut SBMPTN kembali. Kali ini, dia memilih pilihan I dan pilihan II jurusan teknik di Institut Teknologi 10 November 1945 Surabaya (ITS) Surabaya Jawa Timur. Dengan bekal belajar seadanya, sekali lagi tanpa BIMBEL. Meskipun, kenyataannya anak saya gagal kembali, dengan poin yang terpaut sedikit saja untuk melenggang ke ITS.

          Kali ini, kegagalan yang anak saya lakukan tidak membuatnya gelisah. Dia mulai pasrah dan menerima takdir Allah SWT. Namun, saya merasa kasihan, jika anak saya tidak kuliah. Akhirnya, saya memberikan masukan untuk kuliah di Universitas Terbuka (UT) dan mengambil Fakultas Ekonomi jurusan MANAJEMEN.

          Setelah dia bergelut dengan kuliah online tersebut. Saya melihat raut wajah anak saya mulai ceria. Dia mulai hepi dengan kuliah online-nya. Dan, semester pertama, dia mendapatkan IPK dengan predikat Cum Lude. Dia mulai disibukan dengan 8 mata kuliah setiap semesternya. Jika, tidak ada rintangan, maka 3 tahun bisa lulus sarjana, seperti program akselerasi.

          Namun, di balik kegembiraan anak saya, ada rasa was-was pada diri saya. Kenapa, uang yang seharusnya buat muter usaha dan bayar kost, terpaksa untuk membayar uang kuliah. Maka, uang kost pun sering menunggak. Untungnya, di tahun 2020 ini, utang cicilan kredit harian bisa lunas, Setelah memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Subhanallah.      

 

DITERIMA TEKNIK METALURGI

          Saya merasa bahwa Pandemi Covid-19 memberikan dampak kepada kondisi keuangan saya. Kenapa? Pertama, job review produk sebagai blogger mulai sepi. Kedua, usaha penjualan saya mulai mengalami penurunan yang tajam. Ditambah lagi, musibah datang silih berganti.

          Musibah pertama adalah saya tertipu hampir 2 juta dalam proses rekrutmen kerja. Pengalaman penipuan tersebut telah saya tulis di bulan Juli 2020 di blog kesayangan ini. Musibah kedua, sepeda motor yang saya pakai untuk berjualan mengalami turun mesin di kawasan Blahbatuh Gianyar Bali.

          Saya harus mendorong motor yang dalam kondisi mati tersebut kurang lebih 20 km, hingga ke tempat tinggal saya. Sebuah pengalaman tragis yang akan saya ingat seumur hidup.

          Belum ada uang untuk perbaikan sepeda motor tersebut. Maka, saya harus sewa sepeda motor teman saya. Bersyukur, saya diberikan kesempatan untuk memakainya terlebih dahulu, bayar kemudian. Hingga kini, saya hampir menggunakannya selama sebulan.   

          Namun, di saat saya mengalami kondisi pahit yang hampir membuatnya menangis. Ada saja berita yang menyejukan. Yaitu, anak saya diterima di jurusan idaman di TEKNIK METALURGI Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Serang Banten. Setelah melewati ujian SBMPTN saat bulan puasa tahun 2021 lalu. Ya, tahun 2021 adalah kesempatan terakhir anak saya untuk dapat ikut ujian SBMPTN.

          Namun, datangnya anugerah tersebut justru menyimpan tangis. Kenapa? Saat kondisi keuangan morat-marit. Saya justru bingung dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya hidup di Serang Banten nanti. Jika, anak saya kuliah offline. Oleh sebab itu, kegembiraan diterima di Teknik Metalurgi tersebut justru membuat saya semakin sedih.

          Karena, kami bertiga sudah berdiskusi bahwa anak saya tidak akan melanjutkan kuliah anak saya di UNTIRTA. Namun, berencana untuk belajar mandiri dan bekerja di Surabaya. Saya pun mengiyakan, agar anak saya belajar tentang kehidupan.

          Biarlah, cukup kuliah online di UT saja. Jika, nilainya bagus, maka saya memberikan saran untuk lanjut di S2. Kegelisahan saya tentang ketidakmampuan saya untuk melanjutkan kuliah anak di Teknik Metalurgi, sempat saya iseng-iseng posting di media sosial Facebook.

          Bersyukur, postingan tersebut mendapatkan banyak respon dari teman-teman. Yang intinya, memberikan masukan untuk tetap lanjut mengambil jurusan Teknik Metalurgi tersebut. Bahkan, banyak yang memberikan saran dengan berbagai solusi, agar saya tetap mendorong anak untuk kuliah di jurusan Teknik Metalurgi.

          Namun, masukan-masukan dari teman saya tersebut, justru makin membuat hati saya bingung dan bimbang. Apa pasal? Melihat kondisi keuangan saya, yang hanya untuk makan sehari-hari.

          Tanpa pikir panjang, akhirnya saya paksakan untuk daftar ulang dan bayar UKT. Sekali lagi, uang tersebut, hasil dari pinjam sama orang lain. Juga, dari hasil berjualan barang FMCG. Mestinya, hasil berjualan tersebut untuk mencicil tunggakan kost.

          Saya berharap agar semester pertama kuliah anak saya di jurusan Teknik Metalurgi bisa berjalan secara online dahulu. Karena, belum ada pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya kost di Serang Banten nanti. Dari sini, masalah awal anak saya untuk kuliah di TEKNIK METALURGI TELAH SELESAI. Saya harap begitu.

 

NUNGGAK KONTRAKAN 4 BULAN

          Setelah masalah kuliah anak saya di Teknik Metalurgi UNTIRTA kelar, kini justru ada masalah besar yang sedang saya hadapi. Pertama, uang yang sedianya untuk mencicil tunggakan kost telah habis. Kini, saya harus menghadapi teguran berkali-kali dari yang punya kost. Tunggakan kost selama 4 bulan siap menghadang saya. Kedua, saya harus mencicil uang pinjaman dari orang lain.

          Masalah tunggakan uang kost, kemarin, saya sudah diwanti-wanti untuk melunasinya. Kalau tidak bisa, maka kemungkinan terburuk akan saya alami, seperti di film atau sinetron. Yaitu, diusir atau disuruh mencari kost baru. Saya pun berdoa yang terbaik semoga tidak terjadi apa-apa. Deadline akhir Juli 2021 agar bisa melunasi tunggakan kost saya yang jumlahnya hampir Rp4 juta.

          Sementara, kondisi PPKM membuat saya semakin sulit dan terjepit. Saya tidak bisa ke mana-mana dengan bebas, untuk berjualan. Hasil dari penjualan hanya untuk makan sehari-hari dan membeli kuota internet. Untuk kerja saya, update tulisan dan kuliah online anak saya.  

          Sungguh, saat Pandemi kali ini menjadi PUNCAK TANGIS SAYA. Sehabis mendapatkan teguran dari “yang punya kost”, saya berusaha untuk bebasin pikiran saya. Kini, kegundahan saya berpindah ke istri saya. Semalam, istri saya tidak bisa tidur. Bukan karena banyak nyamuk, tetapi pikiran negatif selalu terbayang. Jika, dengan terpaksa kami dikeluarkan dari kost.

          Jawabannya cuma satu? Mau pindah ke mana? Uang pun hanya untuk makan. Mau bayar kost baru pakai apa? PERTANYAAN BESAR YANG SELALU BERKECAMUK HINGGA TULISAN INI SAYA BUAT.

          Saya memahami bahwa ALLAH SWT tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuannya. Dan, jawaban saya hanya satu, SHOLAT DAN BERDOA. Semoga ujian ini cepat berakhir. Kapan? Hanya ALLAH SWT Yang Maha Tahu.


PUNCAK TANGIS KALA PANDEMI (BAGIAN 1)

 

Puncak tangis kala Pandemi (Sumber: shutterstock)

 

 

          Jujur, tulisan kali ini sungguh spesial buat anda. Karena, saya akan berbicara secara blak-blakan perjalanan merantau saya di Pulau Dewata. Peristiwa dari saya bekerja di perusahaan orang pada tahun 2015 hingga sekarang. Sebenarnya, saya merantau di Bali secara permanen sejak awal tahun 2009. Meskipun, proses merantau tersebut tidaklah untuk menentap di Bali.

          Karena, kartu identitas saya masih Kabupaten Ngawi Jawa Timur. Dengan alasan, bahwa Bali  hanyalah tempat untuk menyambung hidup dan mencari rejeki. Dan, saya sudah komitmen, jika Allah SWT mengijinkan, maka akan menghabiskan masa tuanya di pulau Jawa.

          Sejatinya, merantau di Bali bukanlah rencana yang disusun secara matang. Namun, orang Jawa bilang keblasuk atau terperosok. Ya, saya merantau di Bali  karena saran terbaik dari istri. Sesungguhnya, saya merencanakan dengan matang untuk merantau ke Kalimantan.

          Dengan alasan, usaha saya dalam bidang distribusi yang mengalami kebangkrutan. Maka, merantau di Kalimantan “mungkin” menjadi cara terbaik untuk mengembalikan rejeki yang hilang. Tentu, rejeki yang mengatur adalah Gusti Allah SWT. Namun, saya yakin bahwa dengan merantau ke Kalimantan bisa “BALIK MODAL”.

          Keinginan saya untuk merantau ke Kalimantan ditentang oleh istri. Mantan pacar saya tersebut, justru menyarankan untuk mengadu nasib ke Bali. Dengan alasan, jika terjadi hal-hal yang tidak terduga di kampung halaman. Maka, waktu dan biaya unruk pulang kampung halaman lebih murah dan cepat sampai.

          Alasan lain adalah untuk mencari sekolah anak yang lebih baik dan mandiri. Oleh karena itu, sejak kelas 3 SD, anak saya mengenyam pendidikan di pulau Dewata. Di sisi lain, saya melanjutkan tradisi usaha distribusi alat-alat kesehatan saat di pulau Jawa.

          Ibarat peribahasa, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Usaha saya di Bali pun mengalami kebangkrutan juga. Mungkin, Allah SWT mentakdirkan agar saya belajar dari berbagai kegagalan. Saya yakin bahwa Allah SWT sayang sama saya, agar saya belajar banyak dari pengalaman hidup tersebut.

          Dari seorang pekerja mandiri, akhirnya saya terpesona untuk bekerja di perusahaan orang lain. Beberapa kali saya menjabat posisi sebagai Branch Manager dan Marketing Manager di berbagai jenis perusahaan. Dari perusahaan advertising (periklanan) hingga perusahaan distributor bahan bangunan (Building Material).      

 

KELUAR DARI JABATAN BERGENGSI

          Posisi mentereng di perusahaan terakhir tidak membuat saya betah. Meskipun, saya menajdi orang kantor dan gajian. Tetapi, pikiran saya lebih stress dibandingkan pekerjaan mandiri saya sebelumnya. Berbagai macam target dan intrik di perusahaan membuat saya dan istri berdiskusi lama.

          Ya, saya dengan berat hati mengundurkan diri dari jabatan bergengsi, jabatan sebagai Branch Manager. Sebuah kursi panas yang menjadi lirikan banyak orang, yang kepanasan untuk merebutnya. Namun, prinsip saya bahwa harta, tahta dan jabatan hanya Allah SWT yang mengaturnya. Jika, Allah SWT ingin mengambilnya kembali, saya dengan ikhlas untuk menyerahkannya kembali.

          Istri saya sangat berat hati agar saya tidak meninggalkan pekerjaan tersebut. Apapun yang terjadi. Namun, setelah saya memberikan pemahaman berhari-hari, maka dia akhirnya memahami kegundahan saya.

                    Padahal, percaya atau tidak, kebutuhan keluarga saat itu sedang mencapai puncak-puncaknya. Karena, anak saya mulai sekolah di SMA bergengsi di Kota Denpasar, yaitu SMA 4 Denpasar. Sekolah yang melahirkan banyak anak pintar. Maka, banyak orang tua dari berbagai kalangan dan kasta yang berebut untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

          Namun, dengan mengucapkan BISMILLAH saya kuat diri untuk menjadi pekerja mandiri kembali. Dan, siap menerima konsekuensinya, di mana  penghasilannya tidak jelas. Saya menjadi seorang Full Time Blogger, di mana penghasilannya jika ada jasa review produk. Juga, jika ada undangan acara perusahaan.   

 

FULL TIME BLOGGER

          Penghasilan sebagai Full Time Blogger memang mengasikan di tahun pertama. Ada saja job yang datang berkesinambungan, meskipun bayarannya tidak harus berupa uang, tetapi berupa barang atau produk. Namun, lambat laun job-job di daerah khususnya Bali semakin sepi.

          Bahkan, antar sesama blogger pun “seperti” membuat semacam blok-blok tersendiri. Dengan kata lain, mencari teman untuk menggarap sebuah job berdasarkan like and dislike.

          Saya akui, menjadi Full Time Blogger memang menyenangkan. Namun, bayaran berupa produk tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan saya. Karena, produk-produk yang menjadi giveaway atau goodiebag tersebut bukanlah produk yang mudah untuk dijual. Dengan kata lain, produk-produk yang mengandung label penyelenggara menjadi kenang-kenangan bagi blogger yang diundang dalam acara.  

          Meskipun, kenyataannya, saya pernah menjual beberapa giveaway berupa perangkat gadget. Namun, harganya turun drastis dari harga yang diharapkan. Dan, hasil penjualan tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.   

          Penghasilan dari menjadi Blogger tersebut hanya mampu untuk membayar uang kost setiap bulannya. Juga, kebutuhan makan sehari-hari. Maka, untuk menutupi biaya kebutuhan sekolah yang “lumayan”, saya pun harus putar otak. Yaitu, dengan menjual Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Atau, yang familiar dikenal sebagai barang Palen-Palen (kebutuhan sehari-hari).  

 

KESULITAN BIAYA SEKOLAH ANAK

          Alhamdulillah, modal yang diperoleh dari jasa review produk sebagai blogger digunakan untuk belanja barang. Tanpa diduga, hasil penjualan FMCG tersebut bisa menopang kebutuhan sehari-hari dan sekolah. Yang akhirnya, saya justru semakin konsentrasi usaha distribusi barang tersebut.

          Dalam dunia bisnis, ada prinsip bahwa modal usaha jangan sampai dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan lain. Tetapi, untung dari penjualan FMCG tersebut yang bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya. Dengan kata lain, uang ussaha harus berputar terus, untuk belanja agar barang lebih banyak. Dan, makin menguntungkan.

          Saat saya menggeluti dunia FMCG tersebut, maka aktivitas sebagai blogger menjadi kerja sampingan. Padahal, dulunya menjadi blogger sebagai prioritas. Karena, aktivitas usaha distribusi barang tersebut bisa menutupi kebutuhan makan, sekolah dan kebutuhan insidentil lainnya.

          Sungguh, ketika Allah SWT memberikan anugerah usaha saya yang lancar. Saat itu juga, Allah SWT memberikan ujian yang SUNGGUH DI LUAR DUGAAN. Kakak ipar saya tinggal di kost saya, karena tugas proyek hotel di Bali. Tanpa diduga, proyek tersebut mengalami musibah atau kesalahan fatal tanpa disengaja. Dampaknya, pekerjaan proyeknya tidak dibayar oleh pihak hotel, karena harus memperbaiki kesalahan tersebut.

          Alhasil, kakak ipar saya sebagai pengawas proyek harus menanggung semua buruh proyek yang ada. Sementara, kondisi keuangan kakak ipar saya sedang defisit. Dari kondisi inilah, menjadi awal mula rentetan keuangan saya, mulai mengalami kekacauan.

          Modal usaha saya, uang anak saya yang hendak dipakai biaya pembuatan SIM A dan C, serta saya harus meminjam kredit harian yang jumlahnya sungguh berat bagi saya. Semua uang tersebut dipinjam kakak ipar saya. Saya pun tidak tega melihat dia kelabakan seperti orang kebingungan.

          Sebagai informasi, kakak ipar saya, tidur di kost-kostan saya lebih dari sebulan lamanya. Siapa yang tega melihat orang yang kebingungan? Sungguh, setelah semua uang diserahkan ke kakak ipar saya, saya mau nangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, modal usaha saya amblas. Dan, saya harus membayar cicilan utang kredit harian. Sementara, saya hanya mempunyai uang untuk makan selama 3 hari. Pedih!

          Entah, Allah SWT memberikan keringanan musibah saya. Tanpa disangka, saya mendapatkan transferan dana hasil me-review produk. Dan, uang itu untuk modal membeli barang kembali. Namun, tugas saya untuk mencicil utang kredit harian masih berlanjut.

          Saya harus pintar-pintar mengatur keuangan. Saya puasa untuk membeli keinginan saya, seperti membeli Smartphone baru. Hingga kini, saya mempunyai hape keluaran sekitar tahun 2017. Hape sebagai bayaran dari review produk sebuah provider besar. Kondisnya pun mengenaskan, layer menghitam dan tombolnya “hidup segan mati tak mau”. Pokoknya, kalah jauh dengan smartphone ABG sekarang.

          Ketika, sedang asik-asiknya untuk mencicil utang kredit harian. Kakak ipar saya kembali datang ke Bali untuk tugas proyek, dan tinggal di kost saya. Saya pikir tidak masalah kalau sekedar memberi makan. Namun, kejadian yang dulu terulang kembali. Yaitu, kakak ipar saya mengalami kesulitan keuangan kembali. Karena, bosnya yang di Jawa menunda mentransfer uang, untuk pembelian tiket pesawat dan biaya buruh proyek.

          Saya sendiri geram melihat kondisi tersebut. Saya tidak marah sama kakak ipar saya. Namun, saya geregetan karena bosnya tidak memahami kondisi kakak ipar saya, Di mana, buruh proyek harus mendapatkan bayaran kerja.

          Mau menangis kembali rasanya, ketika kakak ipar saya memberikan saran ke saya. Agar, saya mau pinjam uang dengan utang kredit harian lagi. Saat itu, saya mau teriak-teriak “tidak mau”. Kenapa? Utang kredit harian yang dulu saja belum lunas. Kini, saya harus meminjam uang kembali dengan jumlah yang sama. Saya merasa seperti tinggal menunggu ajal dengan menjerat tali di leher sendiri. Namun, saya mencoba kuat untuk menghadapi ujian tersebut.

          Namun, setega-teganya saya, saya pun tak tega jadinya. Uang modal usaha dan uang hasil utang kredit harian pun berpindah tangan kembali ke kakak ipar saya. Jujur, saya merasa bersyukur bisa membantu saudara yang dalam kesusahan. Insya Allah, kebaikan akan mendapatkan balasannya.

          Namun, dalam hati kecil saya akhirnya menangis. Memikirkan, bagaimana mencicil utang kredit harian yang jumlahnya dobel. Serta, memikirkan uang dari mana untuk membeli barang buat usaha.

          Sungguh, setelah kakak ipar saya pulang, jiwa saya pun runtuh. Saya tidak kuat untuk menangis sendirian di kamar mandi. Saya pun berpikir, tidak akan mengharapkan uang tersebut untuk kembali kepada saya. Biarlah Allah SWT yang akan membalasnya dengan balasan terbaik.  

 

“Ya Allah, inikah cobaan yang Engkau berikan ke saya. Sungguh nikmat dan permudah hamba untuk menerimanya. Semoga, saya sabar dan tabah untuk menghadapinya”.

 

          Akhirnya, istri saya merayu-rayu saudara yang di SOLO, untuk pinjam uang Rp400 ribu  buat modal usaha. Dan, uang tersebut saya putar kembali, agar bisa membayar kost bulanan dan kebutuhan sehari-hari.     

 

NUNGGAK SPP SMA 2 TAHUN

          Tidak dapat dipungkiri, sejak awal tahun 2017, saya mengalami kesulitan keuangan. Uang hasil berjualan habis untuk membayar kost yang sering nunggak. Sementara, biaya SPP sekolah dan biaya lainnya anak saya tidak pernah diperhatikan. Juga, harus mencicil utang kredit harian yang belum lunas.

          Maka, keputusan yang penuh risiko saya ambil. Yaitu, pinjam uang di tetangga saya di Ngawi Jawa Timur. Yang jumlahnya hanya untuk membayar tunggakan kost. Dan, selebihnya untuk membayar sedikit tunggakan SPP SMA anak saya. Maka, tunggakan SPP anak saya, kini hampir 2 tahun. Silahkan hitung atau kira-kira sendiri, bagi yang punya anak sekolah SMA. Berapa jumlah tunggakan saya.

          Saya beberapa kali diundang pihak BK sekolah anak saya. Bahkan, 3 kali saya harus berhadapan dengan kepala sekolahnya. Tujuannya, kapan saya bisa melunasi uang SPP. Karena, sebentar lagi anak saya mau ujian nasional. Saya pun menjawabnya ringan-ringan saja. Insya Allah, kalau ada uang, nanti saya lunasi.

          Mau bayar SPP pakai apa, wong saya lagi konsentrasi bayar kost yang nunggak, cicilan kredit utang harian dan kebutuhan makan keluarga. Sebenarnya, saya takut bahwa kondisi “tidak bisa melunasi SPP” tersebut, akan menjadi beban anak saya yang hendak ujian nasional SMA.

          Saya katakan pada anak saya, tidak perlu risau dan ikut memikirkan masalah tersebut. Konsentrasi belajar saja, untuk menghadapi ujian sekolah. Sejatinya, saya sendiri khawatir akan kelulusan anak saya. Sebab, 100 persen teman-teman sekolah anak saya adalah ANAK BIMBEL.

          Mereka orang berada yang mau membayar mahal demi belajar anaknya. Agar bisa mendapatkan nilai bagus saat ujian sekolah. Dan, bisa diterima di perguruan tinggi negeri idamannya.

          Sementara, anak saya hanya bermodalkan buku yang dipinjam di sekolah. Ketika, teman-teman kursus BIMBEL, dia hanya asik bolak-balik buku sekolah. Tentu, teman-temannya sebagai ANAK BIMBEL lebih cepat berpikir dalam mengerjakan berbagai macam soal di sekolah.

          Namun, saya memberikan pemahaman bahwa untuk mengimbangi teman-temannya, maka anak saya harus rajin membaca buku setiap hari. Dan, mendapatkan informasi pelajaran dari internet. Alhasil, prestasi anak saya tidak terpaut jauh dengan teman-temannya. Di mana, teman-temannya ikut BIMBEL dan pernah ikut Olimpiade.


BERSAMBUNG KE .....BAGIAN II >>>>


Jalur Alas Mantingan Ngawi yang Terkenal Angker

  Salah satu jalur Alas Mantingan yang berada dekat dengan kawasan Sidowayah Ngawi (Sumber: Youtube Casmudi Vlog/screenshot)          ...