Showing posts with label Virus Korona. Show all posts
Showing posts with label Virus Korona. Show all posts

Sunday, March 29, 2020

MOBIL MORRIS VIRAL RAFFI AHMAD DAN PANDEMI VIRUS KORONA


Mobil Morris Mini Cooper MK1 yang dibeli Raffi Ahmad dari Andre Taulani seharga 700 juta rupiah (Sumber : pikiran-rakyat.com/diolah)





      Habis Ular Kobra Garaga Terbitlah Morris Cooper. Ya, ular peliharaan Panji sang Petualang  menjadi trending topik di berbagai media. Banyak orang yang mencoba gaya Panji saat menaklukan ular Kobra, meski Panji sendiri sudah mengingatkan keras agar masyarakat jangan sekali-kali mencobanya di manapun dan kapanpun. Kini, saat pandemi Virus Korona, mobil Morris Cooper MK 1 menjadi booming alias viral di berbagai media, khususnya dunia Youtube. 

Morris Sang Penghibur 

       Cerita berawal saat artis tenar dan sekaligus Youtuber tanah air Raffi Ahmad telah menyelesaikan ritual jalan-jalan keliling dunia. Raffi Ahmad memahami benar bahwa anak kesayangannya Rafathar sangat menyukai untuk menonton film Mr. Bean. Bahkan, sang anak sangat menggemari mobil yang selalu menemani Mr. Bean dalam setiap aktifitasnya. 

      Berniat mau kolaborasi bareng acara Podcast dengan menyambangi rumah artis tenar lainnya, Andre Taulani. Saat melewati koleksi mobil-mobil milik Andre Taulani, Raffi Ahmad kepincut dengan tampilan mobil antik Morris Cooper MK1 buatan Inggris tahun 1961. Raffi Ahmad berniat untuk memberi kejutan kepada anaknya tanpa kehadiran sang istri Nagita Slavina dan anaknya Rafathar. 

       Namun, sepertinya Andre Taulani enggan untuk menjualnya karena mobil kesayangan anaknya Kenzy. Apalagi, menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk membuat tampilan mobil unik ini tak sedikit, sekitar 500 juta rupiah. Raffi Ahmad keukeuh untuk membelinya. Karena, mereka menganggap bahwa sang anak dan istrinya akan senang sekali. Yaitu, untuk mengantar sekolah sang anaknya Rafathar. Setelah melalui nego yang sangat alot antara Raffi Ahmad dan Andre taulani yang melibatkan anaknya Kenzy, akhirnya terjadi deal kedua belah pihak, dengan harga 700 juta rupiah.

      Kegembiraan Raffi Ahmad dengan membawa mobil antik Morris Copper MK1 ke rumahnya, ternyata berbuntut panjang. Ternyata, sang anak dan istri tidak merasa gembira dengan tampilan mobil yang telah dibelinya. Seperti, pintu mobil yang sulit ditiutup. Atau, kaca mobil yang agak susah ditutup. Bahkan, sang istri mengomentari kepada sang suami bahwa Raffi Ahmad tidak bisa berbisnis. 

        Raffi Ahmad pun menelepon Andre Taulani atas komplen yang diutarakan istrinya. Selanjutnya, berbalas dengan kedatangan Andre Taulani ke rumah Raffi Ahmad. Dengan membawa anaknya Kenzy, Andre Taulani berniat untuk mengambil lagi mobilnya. Tentu, dengan mengembalikan kembali uang pembelian sang mobil. Namun, kenyataanya, Raffi Ahmad justru tidak ingin mengembalikan Morris Cooper MK1 tersebut. Dengan nego yang alot, mobil antik tersebut bisa diambil lagi dengan syarat harga yang ditawarkan sebesar 1 miliar rupiah. Tentu, Andre Taulani tak mau dengan membayar sebesar uang yang ditawarkan oleh Raffi Ahmad. 

         Babak baru, harga yang dipatok oleh Raffi Ahmad sebesar 1 miliar menjadi rebutan dua (2) artis ternama, yaitu Baim Wong dan Denny Cagur. Kedua artis dan sekaligus Youtuber top tersebut bersaing untuk memiliki Morris Cooper MK1 tersebut. Mobil klasik nan antik tersebut menghipnotis dua artis tersebut agar bisa dipinang. Banyak netizen yang berkomentar bahwa drama rebutan mobil antik tersebut hanyalah setingan. Hanya untuk menciptakan trending dan berujung pada penghasilan yang tinggi.  

        Tanpa dipungkiri, video artis-artis top tersebut yang melibatkan mobil antik Morris Cooper MK1 selalu menjadi trending Youtube dengan penonton jutaan. Bagi seorang Youtuber maka ia bak kipas-kipas uang ratusan jutaan rupiah. Benar-benar menggiurkan bahwa mobil antik mampu menghasilkan uang ratusan juta rupiah. 

        Drama perebutan mobil antik berakhir di tangan artis Denny Cagur. Dan, perlu diketahui bahwa akun Youtube Denny Cagur dibanjiri dengan penonton jutaan orang. Ia berhak membawa Morris Cooper MK1 buatan Inggris setelah mengelarkan kocek 1 miliar rupiah. Bukan hanya mendapatkan mobil antik, tetapi akun Youtube Denny Cagur kini bisa bertengger di Trending. 


Donasi untuk COVID-19 

      Netizen yang nyinyir akan berkata bahwa buat apa mengeluarkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah di tengah pandemi Virus Korona demi mobil antik. Mendingan uangnya buat menyumbang para pasien virus Korona. Dengan kata lain, artis-artis tersebut tidak menunjukan rasa empati di tengah wabah Virus Korona. Di mana, masyarakat sedang berdiam diri di rumah tanpa ada pekerjaan dan penghasilan. 

       Namun, harus jujur bahwa Morris Cooper MK1 telah menjadi hiburan jutaan rakyat di tengah maraknya Virus Korona. Mobil antik tersebut menjadi tontonan yang mengasikan saat Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH) dan beribadah di rumah. Tontonan tersebut justru memberikan pelajaran berharga bahwa setiap individu hendaknya mempunyai sikap kreatif untuk menghasilkan konten di ranah digital. Tentu, bermuara pada penghasilan.

       Dan, perlu diketahui bahwa akhir cerita dari perebutan Morris Cooper MK1 ditangan Denny Cagur memberikan pelajaran berharga. Raffi Ahmad berniat untuk menyumbang dari keuntungan penjualan mobilnya demi para pasien Virus Korona. Keuntungan sebesar 300 juta dari penjualan tentu bukanlah uang yang sedikit. Terlepas dari sensasi atau menaikan rating dan trending, maka niat tulus Raffi Ahmad bisa menjadi inspirasi buat orang lain. Kapan giliran anda yang suka nyinyir?

      Benar apa yang dikatakan dokter viral di medsos yaitu dr. Tirta yang pernah menjadi narasumber di salah sastu acara talk show di stasiun TV swasta. Dia menyatakan bahwa untuk mengerem penyebaran Virus Korona, maka dibutuhkan sinergi yang kuat. Di antaranya, orang kaya perlu memberikan bantuan. Bahkan, tanpa sungkan, dr. Tirta menyatakan bahwa orang kaya perlu memberikan sumbangan dengan menjual 1 mobilnya untuk membantu penanganan Virus Korona.

       Apa yang pernah dikatakan oleh dr. Tirta, ternyata Raffi Ahmad telah melakukan tantangannya. Dengan menjual mobil antik Morris Cooper MK1, di mana keuntungan dari penjualan mobilnya akan disumbangkan untuk penanganan pasien Virus Korona. Ternyata ada korelasi antara Morris Cooper MK1  dan pandemi Virus Korona. Di balik hiburan dan sensasi yang membuat banyak nyinyir, ternyata ada inspirasi yang bisa anda ambil. 

       Kini, Ular Kobra Garaga telah kembali ke alamnya. Sekarang, Morris Cooper MK1 akan menjadi legenda hiburan tanah air ketika pandemi Virus Korona. Semoga Morris Cooper MK1 akan betah dengan sang tuan barunya, Denny Cagur. 

Saturday, March 28, 2020

Puasa Mudik Karena COVID-19

Puasa Mudik karena pandemi COVID-19 (Sumber : dokumen pribadi)





          Siapa yang tidak mau mudik, khususnya mudik Lebaran? Setiap orang punya hak untuk mudik. Mampu merangkai kenangan indah di kampung halaman. Bertemu dan mempererat silaturahmi dengan keluarga besar. Memohon doa terbaik dari orang tua yang telah membesarkan kita semenjak kecil. Namun, saat pandemi Virus Korona atau COVID-19, maka mudik menjadi sebuah anjuran yang dihindari. Bahkan, dilarang untuk dilakukan alias puasa mudik. Bukan, karena melarang setiap orang untuk pulang ke kampung halamannya. Namun, demi kebaikan bersama, yaitu menghindari penyebaran dan perkembangan virus yang mematikan, Virus Korona. 


Mudik Lebih Awal

         Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi di Bali tanggal 25 Maret 2020 lalu, keluarga besar saya di Ngawi Jawa Timur menelepon istri saya. Mereka menanyakan kabar kami, karena kondisi di Bali. Pembicaraan yang semula santai mulai makin serius, setelah melebar ke masalah pandemi Viirus Korona. Saya berniat bahwa tahun 2020 tidak mungkin (bahkan tidak bisa) mudik dengan alasan mencegah penyebaran Virus Korona. 

     Saya memahami bahwa penyebaran Virus Korona yang tak kasat mata sangat berpotensi menyebar. Ada dua kemungkinan, saya yang terpapar dari keluarga besar saya di Ngawi atau saya yang menularkan ke keluarga besar saya tersebut. Untuk berjaga-jaga, maka kami memutuskan untuk tidak mudik Lebaran sebelum masalah Virus Korona ini mereda. Apalagi, saya masih mencari tempat perguruan tinggi yang cocok untuk anak saya tahun ini.

       Sebelum kami mengutarakan untuk tidak pulang kampung halaman, keluarga besar saya justru lebih awal menyarankan agar kami tidak usah pulang kampung. Karena, sangat riskan terjadi virus Korona. "Wis, rasah mulih neh. Pokok'e tahun iki gak ono mudik-mudikan. Sing penting bareng-bareng sehat. Rasah dipikir mulih!" (Sudah, tidak usah pulang lagi. Pokoknya tahun ini tidak ada acara mudik. Yang penting sama-sama sehat. Tidak usah berpikir untuk pulang), kalimat yang melegakan dari keluarga saya. 

       Karena, mereka rela tidak bertemu Lebaran nanti demi kesehatan bersama. Padahal, awal tahun 2020, saya sudah mantap untuk pulang kampung ke Ngawi Jawa Timur. Sekalian pulang kampung ke orang tua saya di Brebes Jawa Tengah. Manusia memang pintar membuat rencana, namun Allah SWT Yang Maha Perencana.

       Apa yang saya alami ternyata berbeda jauh dengan apa yang dialami para perantau di Jakarta. Ketika pandemi Virus Korona makin meningkat. Dan, berbagai usaha Pemerintah menganjurkan agar masyarakat melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Bahkan, beberapa daerah melakukan Lockdown secara pribadi. Dengan kata lain, untuk mencegah penyebaran Virus Korona, beberapa daerah melakukan Karantina Wilayah. Penyemprotan Disinfektan di berbagai tempat digencarkan. Masyarakat dilarang mendekati kerumunan massal. Bahkan, pemerintah melarang untuk melakukan perpindahan atau migrasi seperti mudik. Hal ini bertujuan demi kebaikan bersama, yaitu mencegah penyebaran virus Korona lebih massif. Kenyataannya, para perantau justru nekad untuk pulang kampung. 

        Kondisi perkantoran dan pusat perdagangan di Ibukota Jakarta sepi. Apalagi, saya yang berada di Bali. Terbiasa menikmati ratusan bus pariwisata besar hilir mudik di jalanan.  Kini, bagai menjelang Hari Raya Nyepi. Semua destinasi wisata bagai museum yang tak terjamah pengunjung. Kita semua paham bahwa kondisi tersebut berdampak besar terhadap kemerosotan ekonomi.  

       Masyarakat dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH), Belajar di rumah dan beribadah di rumah. Hal ini bertujuan agar pasien yang positif terpapar Virus Korona tidak bertambah lagi. Namun, laporan dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 yang selalu update, sepertinya tidak diindahkan oleh para perantau, khsusunya perantau di Jakarta. 

     Larangan Pemerintah untuk melakukan perpindahan atau migrasi melalui aktifitas mudik ke kampung halaman ternyata dilanggar. Ribuan perantau dari Jakarta melakukan Ritual Mudik Dini ke kampung halamannya di Wonogiri Jawa Tengah. Mereka "mungkin" berpikir bahwa daripada tidak bisa bekerja di ibukota selama darurat Virus Korona, lebih baik pulang ke kampung halaman. Kebutuhan hidup dirasa lebih murah, bisa bertemu dengan keluiarga besar lebih awal dan lama. Serta, biaya mudik yang lebih murah (tidak kena tuslah). 

       Tetapi, gelombang mudik lebih awal tersebut sangatlah berisiko. Bahwa, kedatangan mereka yang berkerumun selama puluhan jam di dalam bus sangat rentan terpapar virus Korona antar penumpang. Belum lagi, kondisi mereka yang lelah justru akan semakin rentan tertular virus  Korona saat di kampung halamannya. Itulah sebabnya, kedatangan ribuan pemudik yang tidak mampu melakukan Puasa Mudik harus melewati rangkaian screening dari Pemerintah Daerah setempat. Dari cek suhu, semprotan disinfektan hingga isolasi mandiri selama 14 hari. 

      Dari berbagai rangkaian screening Pemerintah Daerah Wonogiri, maka mendapatkan satu orang yang positif Virus Korona. Yaitu, seorang supir bus yang pernah mengantarkan penumpang ke Bogor Jawa Barat. Dengan demikian, tentu semua penumnpang yang pernah dibawa dia akan dilakukan penanganann secara ketat. Bahkan, dilakukan rangkaian pelacakan, siapa saja yang pernah berinteraksi dengan dia. 

Puasa Mudik

      Kejadian positifnya Virus Korona pada rangkaian mudik menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. Bahwa, aktifitas perpindahan antar kota, antar provinsi, serta antar negara mempunyai potensi menyebarnya virus Korona. Itulah sebabnya, Pemerintah menganjurkan bahwa masyarakat dianjurkan untuk melakukan PHBS. Dari berita di media TV, konferensi pers gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 yang diutarakan oleh Juru Bicaranya Achmad Yurianto memberikan informasi baru. Beliau menyatakan bahwa kebiasaan cuci tangan dengan sabun sangat baik untuk mencegah menyebarnya Virus Korona. Karena, dari tangan membuat setiap orang akan menyentuh mulut, hidung dan mata. Namun, dengan mencuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun akan mencegah terpaparnya Virus Korona.

       Silahkan anda bayangkan? Dengan naik bus yang berkapasitas kurang lebih 50 orang. Daya tahan tubuh setiap penumpang yang berasal dari kawasan zona merah seperti Jakarta berbeda-beda. Perjalanan berjam-jam yang melelahkan tersebut sangat berpotensi Virus Korona akan saling terpapar satu dengan yang lainnya. Anda tidak akan tahu, penumpang mana yang telah terpapar Virus Korona. Apalagi, banyak artis yang positif Virus Korona, tetapi tidak menunjukan gejala-gejala. Sebuah fakta yang sangat mengejutkan agar masyarakat jangan sekali-kali merasa "kebal" atau "menyepelekan" Virus Korona. 

        Saya sendiri merasakan apa yang dirasakan para perantau yang pulang ke Wonogiri. Tidak ada pekerjaan, sementara persediaan materi yang ada "mungkin" makin menipis. Dari pada susah di perantauan, lebih baik pulang ke kampung halaman. Namun, mereka sungguh "tidak" tahu dampak besar apa yang akan terjadi. Bahwa, penyebaran Virus Korona sungguh luar biasa. Perpindahan tempat akan semakin memperluas penyebaran Virus Korona. Dengan demikian, akan semakin bertambahnya ODP, PDP dan pasien positif Virus Korona. 

       Sungguh, seandainya para perantau tersebut mematuhi anjuran Pemerintah untuk tidak mudik lebih awal. Maka, setidaknya tidak akan bertambah orang yang terpapar Virus Korona. Namun, mereka lebih mementingkan mudik daripada dampak Virus Korona. Mereka tidak kuat untuk Puasa Mudik. 

       Tentu, dari sisi ekonomi, kita tidak boleh menyalahkan mereka. 'Mungkin" mereka tidak merasakan jaminan hidup atau tidak betah untuk berdiam diri selama mereka tinggal di rumah. Hal inilah yang membutuhkan kerjasama semua kalangan masyarakat. Jadi, selama mereka tinggal di rumah, mereka tetap enjoy karena kebutuhan tetap ada. 


Jalur Alas Mantingan Ngawi yang Terkenal Angker

  Salah satu jalur Alas Mantingan yang berada dekat dengan kawasan Sidowayah Ngawi (Sumber: Youtube Casmudi Vlog/screenshot)          ...