Thursday, January 2, 2014

JADI PEJABAT BUKAN UNTUK MENCARI UNTUNG ATAU MEMENTINGKAN KEPENTINGAN PARTAI (GOLONGAN)



JADI PEJABAT BUKAN UNTUK MENCARI UNTUNG ATAU MEMENTINGKAN KEPENTINGAN PARTAI (GOLONGAN)
Oleh Casmudi, S.AP


       Menjadi orang yang sukses dalam lingkaran kekuasaan, baik menjadi kepala daerah atau anggota legislatif baik tingkat pusat (DPR) atau tingkat daerah (DPRD) merupakan idaman setiap orang. Segala usaha dan materi dikerahkan untuk memenangkan pertandingan dalam sebuah acara besar bernama Pemilu. Perlu diketahui, bahwa untuk menjadi kepala daerah atau anggota legislatif secara mayoritas melalui partai yang mengusungnya. Meskipun melalui jalur independen juga ada yang memenangkan pemilu. Tetapi gaungnya tidak sehebat yang melalui partai politik.
              Bukan hal yang mustahil, untuk menjadi pejabat tersebut tidaklah mudah. Melalui kampanye yang menguras tenaga, materi yang tidak sedikit, koordinasi tim sukses yang solid dan hal-hal lain yang mampu memenangkan pertandingan politik. Yang menarik adalah kampanye yang dilakukan sebelum menjabat. Berbagai slogan dikerahkan, yang jelas mampu menarik rakyat. Mereka pun berprinsip bahwa mereka mampu merubah keadaan bangsa. Mereka juga berjanji akan menjadi bagian dari bangsa yang bertujuan untuk mementingkan kepentingan bangsa, bukanlah untuk kepentingan golongan atau partai semata. Sungguh indah nian propaganda yang dikeluarkan. Rakyat pun seolah-olah percaya dengan apa yang mereka kampanyekan. Mari kita lihat track record setelah menjadi pejabat atau anggota legislatif.    
               Mencermati pejabat publik atau anggota legislatif yang sudah menjabat sungguh berbeda dengan apa yang mereka kampanyekan sebelum menjabat. Mereka pun tahu sebenarnya apa yang harus mereka lakukan. Tetapi, kenyataannya apa yang mereka lakukan secara mayoritas "hanyalah" untuk kepentingan golongan atau partai mereka semata. Meskipun masih ada pejabat atau anggota legislatif yang jujur memegang amanah. Yang mampu membawa aspirasi rakyat. Terapi prosentasenya sangat kecil sekali. Yang ada adalah kita dipertontonkan para pejabat atau anggota legislatif yang merupakan kader partai, justru lebih mementingkan kepentingan partainya. Kepentingan rakyat dinomorduakan? Tidak usah kaget, jika ada kader partai tertentu yang sudah jelas-jelas menjadi tersangka dalam kasus korupsi atau yang lainnya begitu melenggang santai. Meskipun dengan bukti-bukti yang nyata, kader lain dalam satu partai "mati-matian" membela, menyembunyikan, bahkan menyangkal tuduhan tersebut. Sayangnya rakyat Indonesia bukanlah elemen yang mampu "diapusi (dibodohi)". Rakyat sudah semakin pintar. Makanya kasus-kasus besar atau korupsi yang merugikan rakyat akan melayang di udara. Entah kemana rimbanya? Rakyat merasa didholimi. Rakyat butuh ketegasan, Rakyat butuh kejujuran. Kalau kader partai saling menutupi koleganya/temannya yang tersangkut yang sudah jelas-jelas "busuk", inikah yang namanya kader partai pembawa aspirasi rakyat. Itukah yang namanya pejabat atau anggota legislatif mementingkan kepentingan rakyat atau cuma cari untung atau laba dalam menjalankan misi partainya. Sungguh nista negeri ini, kepentingan rakyat selalu "digadaikan". Rakyat yang memilih, namun akhirnya nasib rakyatlah yang diklaim menjadi alasan untuk memenangkan kepentingan, baik dirinya atau pun partainya. Kepentingan bangsa nanti dulu, yang penting urusan pribadi lancar duluan.
              Kasus korupsi yang menjerat para pejabat atau para anggota legislatif baik di tingkat DPR atau DPRD memberikan contoh nyata, bahwa mereka menjadi birokrat hanya mencari untung. Jika ketahuan misinya, kader partai yang lain akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Mereka akan menutup rapat dan membuat benteng yang kuat. Oleh sebab itu, KPK perlu bernyali besar dan siap mati jika kasus tersebut menjerat para petinggi partai. Beranikah? Sungguh kita sebagai rakyat dibohongi. Mereka yang duduk di jajaran birokrasi, baik kepala daerah atau anggota legislatif berjanji akan mengentaskan kemiskinan bangsa, mencerdaskan bangsa, membuat negara tata tentrem karta raharja. Rakyat terhipnotis, terkesima, terpukau, terpesona atau entah namanya. Yang jelas rakyat seperti terbawa arus gaya bertutur para calon birokrat. Mereka ingin menguasai panggung politik. Mereka ingin menguasai dengan power-nya. Dan yang jelas mereka ingin memanfaatkan kelengahan rakyat untuk merampok hartanya. Semata-mata untuk kantong pribadi atau golongannya. Kalau kenyataannya begini, jangan berharap kepentingan rakyat dinomorsatukan. Saya pribadi pernah membayangkan, seandainya hukuman mati secara tegas seperti negara China diterpakan di Indonesia, berapa ribu koruptor mati bergelimpangan. Rakyat sudah bosan dengan keadaan tersebut. Rakyat ingin perubahan yang lebih baik. Birokrat, anggota legislatif ... jujurlah pada rakyat, penuhi keinginan rakyat, buat rakyat senang. Janganlah mengambil keuntungan di atas penderitaan rakyat.

*) Salam damai dari rakyat Indonesia dan tegas nyatakan antikorupsi.

KAPAN PARTAI MAMPU MEWAKILI ASPIRASI RAKYAT?



KAPAN PARTAI MAMPU MEWAKILI
ASPIRASI RAKYAT?

Oleh Casmudi, S.AP

          Sejak awal kemerdekaan, Indonesia mengalami pasang surut dalam membangun bangsa. Kegiatan berpolitik pun menjadi barometer dalam mengisi kemerdekaan demi mensejahterakan rakyat. Partai-partai pun bermunculan demi mendulang suara rakyat. Dengan dalih sebagai perpanjangan suara rakyat yang mampu melaksanakan aspirasinya. Rakyat berharap besar pada track record partai.
           Dalam kegiatan berpolitik, partai sejatinya harus mampu memberikan rasa aman dan damai bagi rakyat. Dengan partai pun, mampu menyetir keadaan bangsa. Karena partai yang mendulang suara terbanyak menunjukan tingkat kepercayaan rakyat. Rakyat memberikan kepercayaan yang besar terhadap partai. Partai yang amanah akan memberikan kepercayaan rakyat untuk memilihnya kembali. Sayangnya…partai-partai yang ada sejak masa reformasi bergulir yang notabene mengedepankan sistem demokrasi justru masih jauh panggang dari api. Satu per satu mengantri dalam barisan perangkap korupsi. Bahkan, banyak kader partai besar tersandung kasus-kasus besar, (baca: korupsi) dari Kasus Century, Kasus Hambalang, Pemilihan Deputy Gubernur Bank Indonesia sampai Kasus impor daging sapi. Terbaru adalah kasus pipanisasi yang disinyalir akan menyeret kader dari partai besar. Yang paling memalukan adalah tersandungnya partai-partai yang dianggap dipercaya masyarakat, berbalik membawa rasa ketidakpercayaan yang mendalam. Dan mayoritas partai-partai yang berkoalisi dengan lingkaran pemerintahan yang membawa rasa tidak aman bagi rakyat. Lantas kemanakah rakyat harus memberikan apirasinya? Kemanakah rakyat harus menaruh kepercayaan? Dan … kemanakah rakyat harus mengadu keluh-kesahnya?
          Pantaslah, jika rakyat Indonesia di tahun politik 2014 menginginkan calon pemimpin negeri yang mampu menggebrak kebobrokan lingkaran birokrasi. Gurita korupsi yang merajalela telah merontokkan kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan partai. Jangan salahkan rakyat jika elektabilitas rakyat terhadap calon pemimpin tidak serta merta mendongkrak elektabilitas partainya. Bahkan, rakyat membutuhkan calon pemimpin yang benar-benar belum pernah berkoalisi dengan lingkaran pemerintahan sebelumnya. Fenomena munculnya sosok Jokowi yang diklaim mampu mendongkrak keterpurukan rakyat dari berbagai masalah bangsa. Keinginan rakyat atas calon pemimpin bangsa dari partai-partai yang belum tersandung dari kasus korupsi juga menyeruak ke permukaan. Munculnya calon pemimpin bangsa seperti Prabowo yang berasal dari partai Gerindra, Yusril Ihza Mahendra dari Partai PBB, Wiranto dari Partai Hanura, H. Rhoma Irama dan Mahfud MD dari Partai PKB layak diapresiasi. Tokoh-tokoh tersebut berasal dari partai-partai yang belum atau minim dari hingar-bingar korupsi. Namun selanjutnya adalah suara rakyat yang menentukan. “Vox Populi vox dei”, suara rakyat adalah suara Tuhan. Suara rakyat adalah kejujuran yang hakiki, asal tidak dipermainkan dengan “politik uang (money politic)”.
          Semua partai hampir sudah melansir atau mendeklarasikan calon pemimpin bangsanya. Dan semua partai sudah mengkampanyekan calonnya yang diklaim mampu membawa perubahan bangsa dan meningkatkan elektabilitas partai di berbagai media. Bahkan ada partai yang menjaring calon pemimpin negeri ini dengan sistem konvensi dan pemilu internal partai. Semuanya demi mencari calon pemimpin bangsa yang mempunyai kapabilitas tinggi dan mampu menggoyang habis kasus korupsi. Namun yang paling menarik adalah di saat Jokowi yang diklaim lembaga survey mempunyai elektabilitas tertinggi, internal partai tidak melakukan akselerasi pencapresannya. Internal partai tidak tergoda dengan elektabilitas tersebut. Segalanya tergantung dari keputusan internal partai dan segalanya tergantung dari “ketok palu” sang Ketua Umum, Megawati. Internal partai pun tidak mau gegabah mendeklarasikan Calon Presidennya untuk 2014. Bagaimana kepercayaan rakyat? Semua tinggal menunggu waktu di tahun politik 2014.
           Di saat rakyat sudah tidak percaya dengan keberadaan partai, tetapi rakyat pun ingin adanya perubahan. Rakyat pun ingin muncul kader calon pemimpin bangsa yang muncul dari partai yang tidak tersandung korupsi. Stigma negatif terhadap partai pun ingin dibuangnya jauh-jauh. Sebab sangat kecil sekali peluangnya, rakyat membutuhkan calon pemimpin yang berasal dari “independen”. Mau tidak mau harus ada partai yang mengusungnya. Itulah sebabnya di tahun politik 2014, semua partai yang ada berlomba-lomba menasbihkan dirinya untuk mendeklarasikan Calon Presidennya yang jauh dari kasus atau kemelut bangsa (baca: korupsi). Semua demi kepercayaan masyarakat terhadap partai. Demi masa depan bangsa melalui aspirasi rakyat. Jadi kapan rakyat Indonesia bisa percaya kepada partai? Show time. Saatnya pertunjukan di mulai. Saatnya “tunjukan nyalimu”, bahwa andalah partai yang bersih dari korupsi. Dan kader andalah yang mampu menjadi pemimpin bangsa dalam membawa kemajuan bangsa. Tinggal pilih rakyatku …. Prabowo, Wiranto, Aburizal Bakrie (Ical), Yusril Ihza Mahendra, H. Rhoma Irama, Mahfud MD, pemenang Pemilu Raya PKS, Pemenang Konvensi Partai Demokrat atau Jokowi? Internal partailah yang menentukan layak atau tidak seseorang menjadi calon pemimpin negeri ini. Karena sehebat apapun elektabilitas yang dilansir lembaga survey, tapi suka atau tidak suka rakyat pun harus tunduk pada keputusan internal partai. Oleh sebab itu, mampukah partai membawa aspirasi rakyat? Tunggu sampai Pemilu 2014. Segalanya akan terjadi di luar dugaan. Yang jelas partai-partai yang telah membuat coreng-moreng negeri ini dengan darah korupsi akan ditinggal kontituennya. 



BERSEPEDA MOTOR DENPASAR-BREBES DEMI MENDAPATKAN DO’A RESTU ORANG TUA





BERSEPEDA MOTOR DENPASAR-BREBES DEMI
MENDAPATKAN DO’A RESTU ORANG TUA

           “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”.

            Peribahasa yang masih aku pegang hingga saat ini. Berapa pun balasan anak kepada orang tua tidak akan mampu menandingi pengorbanan orang tua yang telah membesarkannya hingga dewasa. Peribahasa itu  mengingatkanku, agar  aku selalu berbakti kepada orang tua  semampuku meski nyawa taruhannya.  Sudah lima tahun, aku tidak pulang ke kampung halamanku di kota Brebes, Jawa Tengah. Meskipun Hari Raya Idul Fitri yang notabene merupakan hari raya yang ditunggu umat Islam untuk ajang silaturahmi sekeluarga. Saat-saat indah tersebut  belum dapat aku lakukan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sekarang ini aku mengadu nasib di Bali. Aku merasa bahwa merantau ke Bali bukanlah pilihan yang dirancang sebelumnya. Entah harus mengatakan dari mana, tetapi yang jelas ke Bali adalah pilihan yang datang tiba-tiba. Hanya dengan tekad yang bulat, karena efek “kejatuhan”  dari usaha atau bisnis di Jawa.  Akhirnya, Bali  menjadi pilihan terakhir dan menjadi tempat merantau yang tidak terduga. Aku membawa anak dan istriku untuk menggapai  harapan baru. Aku sekeluarga, bahkan anakku harus beradaptasi secara total dengan kondisi pendidikan dan bahasa pergaulannya di sekolah.  
           Aku merasa kaget, karena kondisi pendidikan di Bali berbeda dengan di Jawa. Masa liburan sekolah di Bali yang selalu berbeda dengan masa liburan sekolah di Jawa. Hal ini membuatku tidak  leluasa memanfaatkan masa liburan sekolah  anakku untuk  menjenguk keluarga di kampung halaman. Perlu diketahui, bahwa masa liburan sekolah di Bali adalah libur Hari Raya Galungan dan Kuningan dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang tidak bersamaan dengan liburan sekolah di Jawa. Apalagi, saat liburan Hari Raya Idul Fitri, bagi siswa yang beragama Islam bukanlah waktu bebas seperti layaknya siswa yang beragama Islam di Jawa. Di Bali justru merupakan waktu yang aktif mendapatkan mata pelajaran. Liburan sekolah hanya jatuh pada tanggal kalender yang berwarna merah (2 hari saja). Serba susah, tetapi setiap daerah punya hak otonomi khusus. Apalagi di Bali secara mayoritas penduduknya bergama Hindu harus menerapkan liburan sekolah sesuai dengan agamanya. Kita sebagai perantau harus menyesuaikannya. Ibarat kata “di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjung”. Sebagai pendatang yang beragama minoritas (Islam) menerima dengan “legowo” semua aturan yang berlaku di Bali apapun konsekuensinya.
           Saat Hari Raya Idul Fitri, memaksakan diri pulang kampung halaman sangat beresiko. Anak menjadi tertinggal mata pelajaran. Dan yang terpenting adalah cost (biaya) perjalanan yang tinggi.  Biaya perjalanan Denpasar - Brebes lewat jalur darat mengalami lonjakan luar biasa saat Hari Raya Idul Fitri. Memang  lucu sekali, saat orang berlomba-lomba ingin pulang kampung halaman untuk bertemu sanak saudara dan meminta ampunan dari orang tua. Aku justru berhitung  masalah keuangan. Rasanya malu sekali. Mungkin orang lain tidak sekerdil pikirannya seperti aku. Mungkin mereka akan lakukan apapun yang penting sampai ke tujuan (kampung halaman).  Tetapi, aku bukanlah tipe yang demikian. Aku berpikir, bahwa aku tidak mau merepotkan orang tua sekembalinya  pulang ke Bali. Aku merasa, keadaan tersebut berbeda bagi saat aku berjaya dalam membangun bisnis 5 tahun yang lalu. Aku harus berhemat dan bijak dalam menggunakan keuangan. Saat-saat Hari Raya Idul Fitri, biaya perjalanan Denpasar-Brebes yang jaraknya hampir 1500 km  mencapai Rp. 600 ribu/orang. Jika 3  orang (termasuk anakku) akan mengeluarkan biaya Rp. 3,6 juta PP. Jika ditambah pengeluaran tak terduga  bisa mencapai Rp. 5 juta. Nilai yang besar bagiku saat ini. Maafkan aku, jika aku berhitung terlalu mendalam demi bertemu orang tua. 
           Memang, mengharapkan ucapan maaf dan do’a restu  dari orang tua merupakan harapanku dalam mengarungi hidup. Tetapi, dengan sangat terpaksa harapan tersebut aku tahan sementara. Aku hanya mengirim uang ke orang tua sebagai pengganti kedatanganku di hari yang indah (Hari Raya Idul Fitri). Dan berharap bisa menjadi obat untuk menghilangkan rasa kangen terhadap orang tua. Serta bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk keperluan pengobatan orang tua.  Harapan yang lain adalah semoga dosa-dosaku bisa dima’aafkan kedua orang tua. Di saat menelepon orang tua di Hari Raya Idul Fitri, hal yang paling memalukan sebagai laki-laki adalah  meluapkan air mata dan rasa cengeng. Meskipun aku tahan agar jangan sampai terjadi. Aku memohon dimaafkan segala dosa-dosaku dan belum bisa datang menjenguknya. Aku selalu teringat kejadian saat Bapak mengalami penyakit dengan  memuntahkan darah merah bercampur hitam yang ditampung ke dalam ember yang telah terisi pasir. Aku juga teringat sakit tangan Bapak seperti kanker yang telah mengeluarkan banyak biaya pengobatan. Bahkan, penyakit sesak nafas atau asma masih menjangkitinya hingga kini. Mungkin akibat masa mudanya yang gemar merokok, akhirnya kesehatan paru-parunya terganggu. Aku terenyuh akan ketegaran Bapakku menghadapi berbagai penyakit yang dideritanya. Di luar itu,yang paling mengesankan adalah kecekatan ibuku. Ibuku melakukan pekerjaan apa saja sebagai pengganti Bapakku untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tanpa merasa lelah dan mengeluh.  Luar biasa, senyumnya masih mengembang. Aku kangen momen-momen tersebut. Aku ingin balas senyumannya dengan senyumanku di hadapan kedua orang tuaku. Aku ingin memberikan motivasi gairah hidup, agar mampu bertahan sampai aku berhasil kelak.  Sungguh, harapan yang kuidam-idamkan dalam hidup.   
          Keinginan bertemu orang tua dan saudara-saudara di kampung halaman Kota Brebes kupendam hingga 5 tahun lamanya.  Ada kekhawatiran di benakku, orang tua meninggalkanku saat aku tidak berada di sampingnya. Meskipun, pikiran tersebut aku buang jauh-jauh dan merupakan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena hampir keluarga dekatku yang sudah meninggal adalah saat aku tidak ada di rumah (merantau), baik bibi, keponakan, nenek dan kakekku.  Akhirnya, saat untuk menjenguk kedua orang tuaku pun terjadi.   Seminggu yang lalu, aku mendapat kabar bahwa sakit Bapakku kambuh lagi. Suara telepon ibu  dan agak menangis menggugah keinginanku untuk segera pulang ke kampung halaman.  Aku harus lakukan apapun demi orang tuaku.  Keinginan untuk memeluk kedua orang tuaku sudah tidak terbantahkan lagi. Aku harus pulang … dan pulang. Takut terjadi yang tidak aku inginkan pada kedua orang tua, khususnya Bapakku.
         Untuk menghemat biaya, dengan tekad bulat bersepeda motor yang akan menempuh perjalanan kurang lebih 3000 km PP. Masalah perasaan capai yang akan terjadi tidak pernah aku pikirkan. Tujuannya cuma satu, memeluk dan memberikan senyuman yang terbaik  buat kedua orang tuaku. Aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 2 hari 1 malam menempuh perjalanan panjang dari Denpasar, Bali menuju Brebes, Jawa Tengah. Jas hujan yang aku pakai tidak mampu melindungi dinginnya perjalanan yang selalu diliputi hujan. Sepanjang perjalanan diguyur hujan. Bis malam yang berjalan kasar dan seenaknya hampir menabrakku sudah menjadi hal yang biasa. Terperosok ke bahu jalan dan lobang jalan yang membuatku jatuh membuat nyali semakin kuat. Yang membuatku kuat adalah bertemu Bapak dan ibuku.  Untuk menghilangkan rasa ngantuk, minum Kratingdaeng menjadi pilihan. Dan membuat mataku jadi melek kembali.
          Sesampainya di rumah orang tuaku, hari masih gelap gulita. Aku lihat Bapakku tertidur tak berdaya. Aku bangunkan dan melihat wajahnya yang mulai berkeriput. Senyumnya masih merekah meskipun penyakit masih ada pada dirinya. Aku peluk erat-erat Bapak dan berganti ibuku. “Maafkan aku, jika aku baru pulang sekarang”, kataku padanya. Kini giliran aku seperti memeluk anakku.  Erat sekali. Aku ciumi mereka berdua. “Maafkan dosa-dosaku selama ini” kataku lagi. Aku berikan semangat dan garirah hidup padanya. Dan tidak usah mengkhawatirkan keadaanku. Mereka mengangguk dan memakluminya. Aku memohon do’a restunya dalam mengarungi hidup. Tugasku bertemu orang tua sudah tercapai. Perjalanan panjang yang melelahkan terbayarkan dengan sujud syukur di hadapan orang tuaku. Itulah modal dalam menghadapi cobaan hidup. Doa ibu sepanjang jalan, doa ayah sepanjang hayat. Aku berkeluh kesah kepada Tuhan dalam do’aku, “Terima kasih Tuhan, Engkau masih memberikan kepercayaan kepadaku untuk menemani hari-hari yang indah bersama orang tuaku. Berikan kekuatan untuk menempuh perjalanan panjang  dalam hidupku”.  Masih setengah perjalanan menuju Denpasar, Bali.  Revolusi besar-besaran menjelang tahun baru 2014.  Nyali besar buat mendapatkan do’a restu orang tua. Terngiang akan peribahasa yang tidak pernah padam, “Sejauh-jauh tupai melompat, akhirnya jatuh juga”. Kemana pun jauh kita melangkah, kita akan kembali bertemu dengan orang tua yang kita sayangi. 


LGBT, Perilaku Manusia Melawan Hukum Alam

  Warna-Warni yang melambangkan kaum LGBT (Sumber: shutterstock)         "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil ber...