Monday, June 18, 2018

5 Hal Ini Bisa Anda Lakukan Menjelang Hari Raya Lebaran




5 Hal yang bisa dlakukan menjelang Hari Raya Idul Fitri 
(Sumber: http://prcomm.com.sg/diolah)



Hari Raya Idul Fitri atau Hari Lebaran adalah hari kemenangan yang menarik banyak orang. Pernahkah anda tahu bahwa Hari Raya Lebaran  merupakan cara ampuh untuk pemerataan pembangunan? Hampir sebelas bulan para pemudik menghabiskan penghasilannya (baca: uang) dipusat-pusat perekonomian di perkotaan.
Dengan adanya Hari Raya Lebaran, maka pusat perbelanjaan atau  pasar-pasar tradisional di kampung halaman kini menangguk keuntungan. Berbagai  sentra perekonomian di kampung-kampung diburu pemudik untuk keperluan hari raya. Pusat perekonomian telah bergeser untuk sementara waktu ke kampung-kampung.
Menjelang hari raya Lebaran, setiap orang mulai sibuk mengurusi berbagai keperluan untuk hari raya. Dari kalangan kelas bawah  hingga kelas atas bersuka cita menyambut Hari Raya Lebaran. Gelak tawa dan senyum sumringah menyelimuti setiap wajah pemudik dan sanak saudara. Mereka bergembira bisa berkumpul bersama-sama untuk merayakan hari kemenangan umat Islam.
Nah, banyak hal yang bisa anda lakukan menjelang Hari Raya Lebaran. Meskipun,  setiap orang berbeda kepentingan dan pandangan tentang hal-hal yang bisa dilakukan menghadapi hari raya. Berikut, hal-hal yang bisa anda lakukan menjelang hari raya:       

1.    Jalan-jalan
Saat anda berada di kota maka anda tidak tahu tentang perkembangan kampung halaman anda. Maka, saat anda mudik ke kampung halaman, anda juga bisa melakukan aktivitas jalan-jalan di tempat-tempat menarik di sekitar tempat tinggal kampung halaman anda.
Bahkan, tempat wisata yang ada mungkin lebih bagus dan alami dari pada spot wisata saat anda tinggal di perkotaan. Tentunya, spot wisata yang ada di kampung halaman biasanya lebih alami. Rugi besar jika anda tidak menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke tempat wisata menarik sekitar tempat tinggal di kampung halaman anda.
Jangan sampai anda pulang kampung tetapi bagai katak dalam tempurung. Tahunya hanya tempat tinggal orang tua dan saudara saja. Jika anda suka atau berjiwa traveling maka jalan-jalan akan membuat anda semakin mencintai alam Indonesia, menambah wawasan, selalu kangen kampung halaman dan tinggal di kampung halaman tidak membosankan.  


Jalan-jalan menjelang hari raya membuat lebih bahagia 
menjelang hari raya Lebaran di kampung halaman 
(Sumber: dokumen pribadi)


2.    Beres-Beres Rumah
Sepertinya, aktivitas bere-beres rumah menjadi aktifitas wajib menjelang hari raya. Membersihkan kondisi rumah dan mengatur kondisi perabotan agar tampil menarik di hari raya merupakan dambaan setiap orang. Tentunya, aktifitas beres-beres rumah tidak terlau menguras kantong anda seperti membeli perelngkapan rumah yang baru dan mengecat kembali cat rumah lama yang belum terlihat kusam.
Mendesain rumah agar terlihat cantik dan  elegan menjadi keinginan di hari raya Lebaran. Apalagi, jika sang empunya rumah adalah orang berada atau public figure di daerah yang sering melakukan open house.  Maka, beres-beres rumah hingga mendesain ulang kondisi rumah menjadi hal yang sering dilakukan.
Tetapi, bagi anda yang mempunyai kondisi keuangan yang pas-pasan maka beres-beres rumah sebatas mengatur kondisi perlatan rumah tangga agar tampil lebih rapi menjadi alternatif yang bisa anda lakukan menjelang hari raya. Beres-beres rumah tidak harus mewah karena harus disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada.


Beres-beres rumah menjadi aktifitas wajib menjelang 
Hari Raya Lebaran (Sumber: 99.co)


3.    Membayar Zakat Fitrah
Membayar zakat fitrah adalah kewajiban yang harus dibayarkan oleh umat Islam khususnya yang melakukan ibadah puasa agar ibadah puasanya menjadi lebih sempurna. Zakat yang dibayarkan sebesar 2,5 % menjadi pelengkap kesempurnaan ibadah puasa di bulan ramadhan.
Untuk menjaga hal-hal yang berhubungan dengan zakat fitrah yaitu  kurangnya takaran atau timbangan seperti beras atau gandum yang takarannya kurang dari 2,5 kg maka disarankan untuk membayar zakat fitrah lebih dari 2,5 kg. Atau, jika membayar dengan uang maka sebesar 30 ribu rupiah yang bisa dibayarkan untuk zakat fitrah. 
Zakat Fitrah akan berguna untuk meringankan kaum dhuafa atau fakir miskin yang belum bernasib baik seperti anda dan tidak bisa menikmati indahnya hari kemenangan atau Hari Lebaran. Membayar zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum sholat Idul Fitri. Sebab, jika melewatinya maka zakat yang dibayarkan tidak termasuk zakat fitrah tetapi menjadi sedekah. Dan, hal terpenting adalah zakat fitrah akan mensucikan harta dan ibdah puasa anda.    


Zakat Fitrah menjadi kewajiban bagi umat Islam khususnya 
yang berpuasa (Sumber: tribunnews.com)


4.    Persiapan Takbir Keliling
Aktifitas takbir keliling memang membuat pro dan kontra seperti yang ada di kota-kota. Tetapi, aktifitas takbir keliling di kampung-kampung halaman anda menjadi hal yang menarik untuk dilakukan. Bahkan, saya sendiri selalu melakukan takbir keliling setiap hari raya baik idul Fitri maupun Idul Adha. Tentunya takbir keliling dilakukan sebatas keliling kampung sebagai rasa suka cita menjelang hari raya.
Anda bisa terlibat dalam persiapan takbir keliling dari persiapan audio hingga menghiasi alat transportasinya seperti mobil sebaik mungkin. Keterlibatan anda dalam persiapan takbir keliling akan memawa kenangan indah di hari raya. Apalagi, bagi anda yang mudik ke kampung halaman maka menyibukkan diri dalam persiapan takbir keliling ala kampung halaman akan menjadi kenangan indah saat pulang kembali ke kota di mana anda tinggal. 
Takbir keliling bukan hanya ikut menyemarakkan suasana malam Hari Raya Idul Fitri tetapi sebagai ladang pahala karena mengagungkan nama Allah SWT. Takbir keliling juga sebagai  pembangkit semangat untuk tampil terbaik saat dilombakan dari tingkat desa hingga kabupaten/kota. Muaranya hanya satu, bersuka cita menyambut Hari Lebaran.    


Takbir keliling, aktifitas yang menyemarakan malam 
Hari Raya Lebaran (Sumber: faktualNews.co)


5.    Antara “Munjung” dan Gula, Teh & Rokok
Aktifitas menjelang hari raya yang bisa anda lakukan selanjutnya adalah mengirim hantaran kuliner ke keluarga, saudara atau orang yang “dituakan” seperti Ketua RT/RW atau Kadus (Kepala Dusun). Aktifitas tersebut sungguh unik dan masih lestari hingga kini meskipun tidak seramai dahulu.
“Munjung” menjadi nama yang menarik sebagai aktifitas menghantarkan kuliner yang dikemas dalam rantang di Kota Ngawi Jawa Timur. Banyak orang mulai “munjung” ke sanak keluarga atau orang yang dianggap tua. Aktifitas “munjung”  menjadi sarana untuk merekatkan komunikasi, silaturahmi dan rasa penghormatan kepada orang yang mengemban jabatan di sebuah kampung.
Aktifitas “munjung” sangat berbeda dengan kebiasaan yang ada di kampung halaman kecil saya Brebes Jawa Tengah. “Munjung” justru dilakukan dengan mengirimkan hantaran “gula, teh & rokok” ke sanak keluarga. Ini merupakan bentuk perhormatan yang tidak dinilai dengan uang. Saat anda berkirim “gula, teh & rokok” maka ada beberapa hal menarik yang bisa anda petik seperti mempererat hubungan persaudaraan dan menanggap saudara tua bagi yang dikirim gula, teh dan rokok. 


Bagi kebanyakan orang, menikmati hari raya Lebaran 
dengan gula dan teh menjadi kenikmatan luar biasa.
 Apalagi, kehadiran rokok menjadi makin 
nikmat (Sumber: wiipedia)


Bahkan, bagi anda yang baru melakukan proses lamaran atau sedang melakukan proses pendekatan diri dengan anak ceweknya maka mengirim gula, teh & rokok adalah cara ampuh agar orang tuanya merestui hubungan anda dengan anaknya. Gula, teh & rokok di Brebes Jawa Tengah menjadi simbol kebahagiaan dan kenikmatan berhari raya. Jadi, siapapun anda yang berkirim gula, teh & rokok maka sejatinya anda telah memberikan kebahagiaan dan kenikmatan bagi si penerima. Siapa mau menolak? 

Mudah-mudahan beberapa aktifitas di atas bisa menjadi panduan anda menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Hari Lebaran. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain anda bisa berbahagia dengan orang tua dan keluarga di kampung halaman. Saya senang dan bahagia jika anda pun bisa berbahagia menjelang Hari Raya Lebaran dalam kondisi apapun. 






Artikel ini juga tayang di Kompasiana 

Ya Allah, Hamba Rindu Lailatul Qadar-MU di Setiap Ramadhan



Berburu Malam Lailatul Qadar (Sumber: tribunnews/diolah)



Bagi saya bulan Ramadhan bagai wanita yang salihah dengan segala kelebihannya baik kecantikan fisiknya maupun tingkat hatinya selalu dekat dengan Allah SWT. Sebuah ilustrasi menarik tentang sosok wanita yang dirindukan oleh setiap pria manapun.  Anda akan mengejar cewek tersebut hingga menjadi kekasihnya. Bila perlu bisa menjadi istrinya yang akan membawanya anda ke surga.
Dan, tidak ada bedanya dengan bulan Ramadhan, bulan yang agung dan penuh berkah. Banyak pahala yang bisa anda dapatkan selain ibadah puasa. Lantas, jika ada pertanyaan menarik seperti, “apa yang anda rindukan dari bulan Ramadhan?”. Sebuah pertanyaan yang mampu membuka kesadaran dan kejujuran anda. Karena, dengan kejujuran tersebut maka bulan Ramadhan akan selalu membuat anda bagai menanti gadis cantik dengan ciri-ciri seperti di atas.   


Ramadhan Kariim (Sumber: sentramasjid.com)


Malam Lailatul Qadar merupakan malam di bulan Ramadhan yang paling istimewa. Hal ini dikarenakan pada malam Lailatul Qodar merupakan  malam diturunkannya Al-Quran. Seperti ada dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1)

Setiap bulan Ramadhan datang, saya selalu merindukan akan datangnya malam Lailatul Qadar.  Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Malam yang penuh agung dan barokah. Perlu diketahui bahwa mendapatkan malam Lailatul Qadar menjadi impian bagi umat Islam khususnya yang berpuasa atas dasar keimanan. Tidak mudah mendapatkan malam Lailatul Qadar tetapi dengan perjuangan yang kuat mampu diperolehnya. Seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang terjaga untuk mendapatkan malam lailatul qadar, kemudian benar-benar mendapatkannya, maka dia telah diampuni dosa sebelum dan sesudahnya,” (HR. Ahmad)

Puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Pahala yang diperoleh setiap insan yang berpuasa hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. Sama halnya dengan malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan tersebut juga menjadi sangat rahasia.


Malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan
(Sumber:  thebloodpoets.com)


Dengan kata lain, tak ada makhluk di dunia pun yang tahu betul kedatangan malam Lailatul Qadar. Tetapi, meskipun sangat rahasia, Rasulullah SAW memberika gambaran bahwa datangnya  malam Lailatul Qadar pada malam ganjil di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. 


“Carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Secara garis besar, tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar bisa dijabarkan sebagai berikut:

1.      Udara atau angin pada malam itu terasa tenang. Tidak telalu dingin dan tidak pula terasa panas. Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



Artinya:
“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin,..” (HR. Ibnu Huzaimah)

2.      Matahari di pagi harinya tidak begitu panas dan berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru. Disebutkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:



Artinya:
“.. Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762)

3.      Malam tersebut tampak cerah dan terang. Sebuah riwayat dari Ubadah bin Shamit, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



Artinya:
“…Sesungguhnya tanda Lailatul Qadar adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadar adalah, matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu.” (HR. Ahmad)

4.      Ibadah pada malam tersebut akan terasa lebih tenang dibandingkan di malam-malam yang lain. Sebab, malaikat-malaikat dan malaikat Jbril turun pada malam tersebut. Allah Ta’ala berfirman:



Artinya:
 “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya berkah yang ada pada malam tersebut. Dan Malaikat akan turun bersamaan dengan turunnya berkah dan rahmat sebagaimana turunnya mereka di tengah-tengah orang yang membaca al-Qur’an serta mengelilingi majlis-majlis zikir.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/445)

5.      Terkadang tanda-tanda malam tersebut diperlihatkan oleh Allah dalam mimpi orang mukmin. Hal ini sebagaimana yang pernah dialami oleh sebagian para sahabat.

Dengan tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar, maka anda akan semakin meningkatkan amalan di bulan Ramadhan.  Maka, kerinduan akan bulan Ramadhan bisa terobati ketika bisa bertemu dengan malam Lailatul Qadar. Meskipun, berburu malam Lailatul Qadar seperti berburu hilal untuk menentulan awal bulan Ramadhan. Dengan keimanan yang tinggi maka Insya Allah malam Lailatul Qadar bisa diperoleh.
Bertemu dengan bulan Ramadhan adalah anugerah Allah SWT yang luar biasa. Dan, bertemu dengan malam Lailatul Qadar adalah  mimpi indah setiap umat Islam. Saya merindukan bulan Ramadhan, dan saya “sangat” merindukan bisa bertemu dengan malam Lailatul Qadar.
Doa saya dalam setiap sholat, “Ya Allah, hamba pasrah atas iradat-MU. Dengan ijin-MU maka pertemukan hamba dengan malam Lailalatul Qadar di bulan Ramadhan yang agung ini”. Tidak terasa air mata pun menetes pelan membasahi pipi. Karena, saya selalu rindu Ramadhan dan rindu akan malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan itu.       


Referensi:








Artikel ini juga tayang di Kompasiana

Pro dan Kontra “Pecingan”, Salam Tempel Khas Brebes dalam Tradisi Lebaran



Salam tempel Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran diBrebes 
dikenal dengan nama Pecingan (Sumber: dagelan.co)



Hari Raya Idul Firi adalah hari raya kemenangan yang di dalamnya berbagi kebahagiaan. Berkumpul dengan keluarga saat hari raya adalah dambaan setiap orang meskipun ladang mencari rejeki jauh di kutub bumi sekalipun. Pulang kampung atau biasa disebut mudik merupakan fenomena menjelang hari raya Lebaran. Setiap orang mempunyai tujuan yang sama, bertemu orang tua atau sanak keluarga.
Dan, Hari Raya idul  Fitri menjadi ajang yang tepat untuk berbagai rejeki bagi keluarga dan saudara. Salah satu cara berbagi rejeki buat keluarga adalah dengan memberikan sejumlah uang yang lebih dikenal dengan nama “salam tempel”. Sedangkan, salam tempel khas Brebes, kampung halaman saya lebih familiar dengan sebutan Pecingan.   
Pecingan bisa menjadi sarana untuk menunjukkan kesuksesan seseorang mencari rejeki di tanah seberang. Dengan pecingan, maka seseorang bisa dihargai di lingkungan keluarganya. Besaran pecingan ditentukan seberapa besar kesuksesan yang diraih oleh seseorang. Bahkan, pecingan juga dipengaruhi oleh kebiasaan yang beredar dalam suatu keluarga.

Pro Pecingan
Meskipun Pecingan sebagai aplikasi diri untuk saling berbagi, tetapi pada faktanya Pecingan juga menimbulkan pro dan kontra di masyarakat khususnya di Brebes Jawa Tengah. Masyarakat yang pro terhadap tradisi pecingan biasanya beranggapan bahwa memberi pecingan kepada orang lain khususnya saudara sebagai bukti untuk berbagai rejeki di hari raya layaknya etnis Tionghoa berbagi angpao kepada keluarga dan saudaranya.
Mereka beranggapan bahwa pecingan tidak dilakukan setiap hari.  Toh, hanya dilakukan setahun sekali di hari raya. Bahkan, dengan pecingan bisa merekatkan hubungan persaudaraan. Pecingan menjadi ajang untuk saling mengenal antar anggota keluarga. Bahkan, bagi anggota keluarga yang baru dalam lingkup keluarga besar.
Saat pecingan diberikan kepada orang lain maka biasanya akan muncul doa-doa atau harapan dari orang yang diberi. Ini menjadi pemantik semangat bagi anda yang hidup merantau dan jauh dari keluarga. Bahkan, pecingan bisa menjadi lahan untuk berbagi rejeki bagi orang lain atau anggota keluarga yang hidup dalam kondisi belum beruntung seperti anda.


Pecingan, melengkapi kegembiraan di Hari 
Raya Idul Fitri (Sumber: okezone)


Pecingan dalam tradisi masyarakat Brebes menjadi prioritas saat pulang ke kampung halaman. Apalagi, jika anda mendulang kesuksesan yang luar biasa di perantauan maka besaran pecingan membuat keluarga atau saudara tersenyum lebar. Ada anggapan masyarakat bahwa memberi lebih baik dari pada menerima. Itulah sebabnya, pecingan menjadi tradisi para perantau saat pulang kampung.      
Memberikan Pecingan menjadi sebuah kebanggaan para perantau saat hari raya. Mereka bisa menyisihkan sebagian hartanya layaknya menyisihkan kewajiban zakat. Itulah sebabnya, dana untuk pecingan sudah diatur sedemikian rupa dari besaran dan jumlah orang yang akan diberi. Jangan, kaget jika tempat penukaran uang seperti di Bank Indonesia atau jasa penukar uang di pinggir-pinggir jalan menjelang hari raya banyak diburu orang.
Para perantau menukar sejumlah uang hingga ratusan juta dengan tujuan untuk dijadikan sebagai pecingan. Senyum mereka selalu merekah tatkala bisa menukarkan uangnya dengan uang pecahan kecil. Di sisi lain, Bak cendawan di musim hujan, jasa penukar uang menjadi lahan yang subur untuk mendulang rejeki.
Konsumen yang menukarkan uang ke pecahan kecil pun beragam, dari orang biasa hingga orang yang bermobil mewah. Tujuan mereka hanya satu, bisa memberikan pecingan ke keluarga, saudara dan kerabatnya. Jika, uangnya berlebih dan yang pemberi pecingan adalah seorang pejabat daerah maka acara open house menjadi lahan untuk mengenalkan ke masyarakat. 
Masyarakat bisa mengenal pejabat tertentu dan masyarakat pun bisa merasa dekat dengan pejabatnya sambil mendapatkan pecingan dengan jumlah tertentu. Kondisi ini menjadi hubungan saling menguntungkan, bukan? 

Kontra pecingan
Meskipun Pecingan bisa memberikan hal yang baik buat orang lain, tetapi pada kenyataannya pecingan juga menimbulkan kontra di kalangan masyarakat. Tradisi pecingan seperti menjadi sebuah “keharusan” bagi para perantau. Namun, perlu anda ketahui bahwa tidak semuanya perantau mendulang keberhasilan di daerah atau negeri orang.
Banyak perantau yang gagal mendapatkan rupiah. Kehidupan mereka di perantauan justru bagai puasa senin - kamis. Dan, untuk bisa pulang kampung saja, mereka rela melakukan apa saja demi bertemu orang tua dan keluarganya. Bahkan, tidak jarang para perantau yang berhutang pada tetangga atau para  rentenir untuk mendapatkan sejumlah uang. Mereka bela-belain berhutang demi menjaga nama baik dan gengsi di kampung halaman nanti.
Sudah beredar dalam sebuah tradisi khususnya di kampung saya bahwa tidak memberikan Pecingan seperti hilang nama baiknya. Bahkan, beredar anggapan masyarakat di kampung saya, “kerjane adoh-adoh, ndein pecingan nggo sedulure bae ora bisa. Kayong melasna temen ya” (kerjanya jauh-jauh, memberikan pecingan buat saudara saja tidak bisa. Kok, kasihan banget ya).
Rasa sakit dan malu tidak bisa hilang begitu saja. Dan, saya pernah mengalaminya. Saat usaha saya mengalami kebangkrutan, saya menyempatkan pulang ke kampung halaman dan tidak bisa memberikan pecingan buat keluarga. Maka, yang timbul adalah suara sumbang alias nyinyir yang nyasar hingga telinga saya. Rasanya seperti ingin balik lagi ke perantauan, tidak tahan rasa malu di hadapan keluarga dan saudara.
Keluarga dan saudara tidak tahu bagaimana kondisi anda selama setahun, bukan? Untung besarkah? Banyak kebutuhankah? Atau, jangan-jangan pepatah perantau yang sering kita dengar, “pulang malu, nggak pulang rindu” hinggap pada diri anda menjelang hari raya.
Keluarga dan saudara di kampung kan tahunya bahwa anda merantau pasti mendulang keberhasilan dan membawa segepok uang untuk pecingan. Kenyataannya, kehidupan anda sendiri dalam kondisi minus. Ibarat kata, bisa mudik saja syukur. Naiknya saja bis atau kereta ekonomi. Selama perjalanan berhemat sekali untuk tidak membeli makanan. Hanya menjadi penonton saat penumpang lainnya menikmati makanan enak.
Sebagai informasi, para perantau memberikan pecingan kepada keluarga yang dekat dengan orang tua sudah menjadi tradisi di kampung saya.  Sementara, keluarga atau saudara yang hidup di kampung dan dekat dengan orang tua anda justru hidup berkecukupan. Saat anda hidup merantau dan pulang ke kampung halaman kemudian harus memberikan pecingan ke keluarga di kampung halaman terasa tidak adil.
            Maka, saat tidak mempunyai dana yang cukup untuk memberikan pecingan,  saya mengurungkan niatnya untuk pulang kampung halaman. Meskipun, rasa kangen kepada orang tua tidak tertahankan. Sedih, bukan? Tetapi, itulah kenyataan bahwa sebuah tradisi mampu merenggangkan hubungan keluarga. Dan, saya pernah merasakannya, bagaimana rasanya pecingan kadangkala menghalangi untuk berhari raya di kampung halaman.
Kontra pecingan lainnya karena tradisi pecingan juga sering melibatkan jasa penukar uang yang ada di pinggir-pinggir jalan. Mereka menukarkan uangnya dengan mengambil untuk atau jasa penukaran yang bervariasi. Biasanya untuk setiap penukaran uang 100 ribu, diambil jasa penukaran uang sebesar 5 ribu.
Sekarang, berapa keuntungan jasa penukaran uang yang setiap harinya  bisa melepaskan uang nominal kecil hingga ratusan juta rupiah? Kondisi inilah yang banyak mengundang apresiasi dari berbagai kalangan bahwa jasa penukaran uang bisa masuk dalam kategori “riba”. Wallahu a’lam bissawab.     
Lanjut, di kalangan pejabat daerah, pecingan juga kadangkala menjadi ajang politik saat menjelang Pilkada. Acara open house yang dilakukan oleh incumbent atau bakal calon Kepala Daerah bisa menjadi lahan untuk mendulang suara atau simpati masyarakat. Jika tidak jeli, maka pecingan bisa menjadi ajang Money Politic.  


Salah satu acara open house yang dilakukan  
pejabat daerah (Sumber: Tribun Batam)

Jadi, tradisi pecingan menjadi hal yang mengundang kontra saat dilakukan untuk hal-hal yang berujung merugikan baik sang pemberi maupun yang menerima. Seperti, tradisi pecingan di kampung saya yang pada dasarnya tidak menjadi sebuah keharusan  bagi sang perantau. Tetapi, saat pecingan tidak bisa diberikan maka “nama baik” dan rasa malu tidak bisa tertahankan.
Sunguh berbeda dengan lingkungan keluarga saya di Ngawi Jawa Timur dan Solo Jawa Tengah , justru pecingan berlaku bagi anggota keluarga “yang dituakan” atau “merasa tua” dalam silsilah keluarga. Maka, anggota keluarga yang dianggap masih muda meskipun mereka sukses dalam karir atau berhasil dalam pekerjaan tertentu tidak diharuskan untuk memberikan pecingan. Bahkan, anak-anak mereka mendapatkan pecingan dari keluarga yang dianggap tua.
Sejatinya, memberikan pecingan merupakan proses atas  kesadaran diri sendiri. Setiap anggota keluarga saling memahami bahwa tidak selamanya keberhasilan menghinggapi para perantau. Ya, pecingan seharusnya tidak membebani bagi jiwa-jiwa yang ingin merayakan hari kemenangan di kampung halaman.

Pecingan juga hendaknya tidak menghalangi  para perantau untuk sungkem di depan orang tuanya. Karena, sejatinya bukanlah pecingan yang bisa kita harapkan saat hari Lebaran. Tetapi, kehadiran dan kekuatan hubungan silaturahmi adalah yang utama. Hubungan keluarga tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi pecingan bisa hilang kapan pun saja. 





Artikel ini juga tayang di Kompasiana

Tadarus Al-Qur’an dan Ngeblog di Malam Bulan Ramadhan




Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah (Sumber: dokumen pribadi)



Bulan Ramadhan merupakan bulan yang didalamnya penuh ampunan dan barokah menjadi harapan setiap umat Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda yang isinya menyatakan bahwa andaikata umat manusia memahami betapa hebatnya bulan Ramadhan maka manusia akan mengharapkan sepanjang tahun dengan bulan Ramadhan.
Berlomba-lomba dalam kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar menjadi kebiasaan saat bulan Ramadhan. Itulah sebabnya, sepanjang hari di bulan Ramadhan dipenuhi dengan amalan yang mengagumkan. Ada anggapan bahwa bulan Ramadhan adalah saat di mana setan-setan dibelenggu. Hal ini menunjukan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan terbaik untuk meninggalkan atau terhindar dari segala dosa. 
Saking bertaburnya pahala di bulan Ramadhan maka tidurnya orang berpuasa saja merupakan ibadah. Begitu hebat dan istimewanya bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Bahkan, Allah SWT sendiri yang akan memberikan ganjaran atau pahala kepada umat Islam yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan yang tinggi.
Dan, di bulan Ramadhan yang istimewa, setiap malam bertabur amalan para pencari pahala dan kebaikan. Sungguh, malam bulan Ramadhan berbeda dengan malam pada bulan-bulan yang lain. Setiap orang juga berkompetisi dalam mendulang pahala pada malam bulan Ramadhan. Banyak ragam yang bisa dilakukan pada malam bulan Ramadhan.

Tadarus Al-Qur’an
Seperti bulan Ramadhan pada tahun-tahun sebelumnya, bulan Ramadhan kali ini, saya  juga berkeinginan untuk mendulang pahala. Salah satunya adalah membaca atau tadarus Al-Qur’an setiap malam di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan kali ini, saya berkomitmen untuk tadarus Al-Qur’an agar bisa mengkhatamkan sesuai waktu yang ditentukan. 
Tadarus Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang mendulang banyak pahala. Tentunya, dilakukan dengan keikhlasan dan berharap ridho Allah SWT. Ada yang tadarus Al-Qur’an secara mandiri atau tadarus Al-Qur’an secara bareng-bareng (berkelompok).
Jika tadarus Al-Qur’an secara bersama-sama maka sebulan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali. Tadarus Al-Qur’an bisa menjadi ajang untuk membenarkan cara pembacaan Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan cara membaca Al-Qur’an yang baik.
Di malam bulan Ramadhan, melakukan tadarus Al-Qur’an menjadi sebuah kewajiban. Saya sendiri mengisi malam bulan Ramadhan dengan tadarus Al-Qur’an secara mandiri. Benar-benar merasakan kesejukan yang luar biasa saat tadarus Al-Qur’an. Apalagi, jika bisa memahami tafsir Al-Qur’an maka anda seperti sedang membaca peristiwa sejarah alam jagat raya dan seisinya.  



Tadarus Al-Qur’an menjadi aktifitas wajib di malam 
bulan Ramadhan (Sumber: dokumen pribadi)


Tadarus Al-Qur’an juga membuat anda semakin hafal tentang kemudahan membaca Al-Qur’an dan memahami isi yang terkandung di dalamnya. Saat anda memahami  arti dari ayat Al-Qu’an maka  anda tanpa terasa akan luluh hati dan mampu melehkan air mata. Anda benar-benar sedang memahami dunia yang ditampilkan kepada manusia oleh Allah SWT. Iqra bismirabbika ladzi halaq.
           
Ngeblog
Setiap malam bulan ramadhan tahun ini begitu istimewa buat saya. Saya berusaha untuk menjaga konsistensi untuk membuat satu artikel setiap harinya selama sebulan penuh. Benar-benar kegiatan yang bermanfaat bagi setiap orang karena bisa berbagi informasi melalui ranah digital.



Ngeblog, pekerjaan wajib di malam bulan Ramadhan 
2018 (Sumber: dokumen pribadi)


Saya berani menerima tantangan dari kompasiana.com untuk membuat artikel selama bulan Ramadhan dengan tema yang berbeda setiap harinya. Jujur, membuat artikel setiap harinya dengan tema yang ditentukan akan membuat kesan berat bagi orang-orang yang tak siap menerimanya.
Setiap malam di bulan Ramadhan ini, saya harus membuat satu artikel sebagai bekal untuk diupload keesokan harinya. Menulis satu artikel setiap hari memberikan keyakinan yang kuat bahwa  apapun tantangannya bisa dilewati dengan baik. 
One Day One Article (ODOA) lambat laun menjadi kebiasaan yang patut digalakkan. Karena, bisa mencetak blogger professional yang konsisten untuk menulis. Itulah sebabnya, berkah dari malam Ramadhan adalah membuang rasa malas untuk menulis.
Nah, itulah kegiatan yang saya lakukan di malam bulan Ramadhan. Memahami firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an dan memaksimalkan  aktfitas ngeblog dengan membuat blog setiap hari dengan tema yang berbeda-beda.

Jika saya melakukan tadarus Al-Qur’an dan ngeblog dengan mengharap ridho Allah SWT, sekarang giliran anda.  





Artikel ini juga tayang di Kompasiana

LGBT, Perilaku Manusia Melawan Hukum Alam

  Warna-Warni yang melambangkan kaum LGBT (Sumber: shutterstock)         "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil ber...