Tuesday, December 23, 2014

Menjaga Kejujuran








Menjaga Kejujuran



Hampir 7 tahun Aku tidak bertemu dengan kakakku. Pertemuan terakhir adalah ketika Aku mengantarnya menyerahkan surat-surat rekomendasi atas penerimaan beasiswa S2 Double Degree di Universitas Diponegoro, Semarang.
Aku menjemputnya di stasiun Kereta Api Poncol. Wajahnya agak menghitam karena debu-debu yang mengenainya selama perjalanan memakai kereta api ekonomi.
Kok, gak naik kereta bisnis biar cepat, mas!” saranku pada kakakku.
“Memang disuruh pak Kepala Sekolah suruh naik pesawat biar cepat. Mendingan naik kereta ekonomi bisa beli jajan sama asongan” jawabnya.
Aku baru tahu kalau beasiswa yang diterimanya adalah kerja sama antara Pemerintah Perancis dan Universitas Diponegoro dan kakakku menyelesaikannya dalam waktu 10 bulan. Dan selanjutnya diundang untuk kuliah lanjutan di Perancis.
Sungguh, gayanya masih sederhana seperti dulu. Padahal jabatannya sudah menjadi PNS (Wakil Kepala Sekolah Pelayaran Negeri).  Aku masih ingat pesannya, “Hidup harus jujur. Jangan sekali-kali makan uang sedikitpun yang bukan hak kita. Itu semua akan dihitung di akhirat nanti. Biar hidup kita jadi barokah”.
Oleh sebab itu, untuk menaikkan taraf hidupnya. Beliau tidak mengandalkan gajinya. Tetapi, di saat waktu senggangnya kakakku menerima konsultasi pembuatan skripsi dan Tesis. Selain itu, kakakku berbisnis dengan cara mengontrak rumah yang selanjutnya dibuat kamar-kamar untuk disewakan kepada para pegawai atau mehasiswa/pelajar.  Serta, mengajar di beberapa sekolah lainnya. Bahkan, menurutnya berencana ingin membeli kapal tangkap ikan.
Bulan Oktober 2013 lalu, Aku berkesempatan untuk bertandang ke rumahnya dengan maksud mengundang untuk menghadiri wisudaku di Jakarta. Pertemuan kami diadakan di warung nasi sambil makan karena belum makan selama perjalanan dari Jakarta-Palabuhan Ratu. Selanjutnya, Aku pun diajak bertandang ke rumahnya. Aku kaget, karena bentuk rumahnya tidak seperti apa yang Aku bayangkan. Besar dan mewah.
“Ini hasil kalau kita menjaga kejujuran dan ingat orang tua. Rejekinya pun barokah. Rumah yang satu lagi ada di jalan Gumilar disewakan buat tambah penghasilan” katanya memberi tahu. Dalam hatiku hanya berucap syukur Alhamdulillah.    




2 Karung Gabah



2 Karung Gabah


Suatu hari di bulan Mei 1993 di Kota Brebes, Jawa Tengah. Peristiwa yang selalu membekas alam ingatanku untuk selalu bersyukur dan tegar menghadapi hidup.  
Bapakku dengan semangat mengangkat 2 karung gabah yang dipanennya 1 bulan lalu. 2 karung gabah ditimbangnya di halaman rumahku untuk ditukar dengan beberapa lembar uang.
“Berapa kilo semuanya pak?” tanya bapakku pada seorang tengkulak.
“Semuanya 95 kilo. jadi cuma dapat  76 ribu!” jawab sang tengkulak.
“Ditambahin sedikit dong pak!” rayu bapakku.
“Tidak bisa pak! sudah pas, saya untungnya tipis!” sanggah sang tengkulak.
Akhirnya Bapakku merelakan 2 karung gabah untuk dijual. Uang hasil penjualan gabah tersebut untuk membayar pendaftaran ulang sekolahku di SMA Negeri 1 Tegal. Sebenarnya Aku pun tidak tega melihat Bapak menjual gabah tersebut. Mengapa? karena gabah tersebut merupakan hasil panen sawah kami yang terkena banjir. Padahal, dari 1 bau (0,9 hektar) yang biasanya menghasilkan hingga 15 karung. 2 karung gabah tersebut sebagai bekal selama masa kemarau.
“Ini uang hasil penjualan gabah. Bapak hanya bisa membantu seadanya. Selanjutnya, kamu cari sendiri untuk membiayai sekolahmu. Bapak sudah tidak punya apa-apa. Yang penting kamu bisa sekolah!” kata Bapakku sambil mengulurkan uangnya. 
Air mataku pun tidak terasa menetes. Bapak, Ibu, Kakakku perempuan, Adik-adiku yang masih SD pun ikut menangis. 
Aku menyadari harta keluarga sudah habis karena dijual satu persatu untuk biaya Kakakku sekolah pendidikan tinggi di Jakarta. Semua material bangunan untuk membangun rumah baru yang lebih layak pun telah habis. Dari batu kali, batu bata, kusen, pasir, kapur yang telah dikumpulkan bertahun-tahun telah berpindah tangan ke orang lain. Begitu besar pengorbanan, harapan dan do’a orang tuaku.     
 
Berbekal  76 ribu akhirnya Aku mampu menuntaskan sekolahku. Aku harus berpindah-pindah tempat tinggal selama sekolah. dari menumpang di tempat saudara sampai tinggal di asrama SMA Aku jalani. Puasa Senin Kamis sudah terbiasa Aku jalani.


JNE Deklarasikan Hari Bahagia Bersama Sejak Tanggal 7 September 2021

  Talkshow tentang Hari Bahagia Bersama (Sumber: JNE)                     “Berbagi, Memberi dan Menyantuni”               Tiga kata muja...