Saturday, February 27, 2021

Berawal dari Isi Piringku, Mencetak Anak Menjadi Generasi Sehat dan Pintar

 

Isi Piringku untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar (Sumber: shutterstock/diolah)

 

 

 

Ada 2 hal besar yang akan dihadapi bangsa Indonesia di masa mendatang. Yaitu, pertama, kesiapan menghadapi Bonus Demografi yang akan terjadi pada sekitar tahun 2030. Dan, kedua, mampukah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar saat menghadapi Bonus Demografi dan Generasi Emas 2045, sesuai harapan besar bangsa Indonesia.

 

 

Kedua hal penting membutuhkan persiapan matang. Oleh sebab itu, persiapan sejak dini merupakan faktor keberhasilan bangsa Indonesia menghadapi 2 hal tersebut. Salah satu hal yang perlu diperhatikan bangsa Indonesia adalah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar.

Bukan hal sepele untuk menciptakan Generasi Sehat dan Pintar. Proses penciptaan Generasi Sehat dan Pintar membutuhkan kolaborasi semua pihak, baik dari Pemerintah, masyarakat dan sektor swasta. Keterlibatan sektor swasta sungguh berperan besar untuk menciptakan Generasi Sehat dan Pintar.

Danone Indonesia, salah satu perusahaan besar dari sektor swasta merasa terpanggil dan bertanggung jawab. Dalam menciptakan Generasi Sehat dan Pintar. Oleh sebab itu, pada tanggal 26 Pebruari 2021 lalu, Danone Indonesia bekerja sama dengan kalangan akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan dan masyarakat menyelenggarakan webinar keren.

Webinar tersebut membahas isu keren tentang “Festival Isi Piringku Anak Usai 4-6 Tahun: Membangun Generasi Sehat Melalui Edukasi Gizi Seimbang Sejak Dini”. Adapun, narasumber yang hadir adalah:

1.   Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA – Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI

2.   Ir. Harris Iskandar, Ph.D - Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

3.   Prof Sri Anna Marliyati - FEMA IPB, Ketua Tim Penyusun Buku Isi Piringku, Dosen Fakultas Ekologi Manusia, IPB

4.   Lisnawati, S.Pd - Guru PAUD

5.   Vera Galuh Sugijanto – VP General Secretary Danone Indonesia.

6.   Karyanto Wibowo – Direktur Sustainable Development, Danone Indonesia.

 

WASPADA STUNTING 

Proses mencetak Generasi Sehat dan Pintar menjadi pembahasan menarik. Bagaimana tidak, bangsa Indonesia harus siap dan matang saat menghadapi Bonus Demografi. Juga, bangsa Indonesia harus serius dan siap sejak dini untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar demi estafet kepemimpinan bangsa di masa depan.

Khusus masalah gizi, bangsa Indonesia sedang menghadapi masalah krusial Triple Burden of Malnutrition, yaitu: 1) Gizi Lebih; 2) Gizi Kurang atau Gizi Buruk; dan 3) Defisiensi Zat Gizi Mikro. Namun, masalah gizi yang selalu menjadi pembicaraan penting adalah gizi kurang atau gizi buruk. Di mana, 1 dari 3 balita negeri ini menderita gizi buruk, yang berakibat menjadi penderita Stunting. Stunting (pendek) merupakan gagal tumbuh yang berkembang selama jangka waktu yang panjang.

Adapun, penyebab stunting adalah 1) Faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil atau anak balita; 2) Pengetahuan yang kurang mengenai kesehatan dan gizi, sebelum dan selama kehamilan, serta ibu melahirkan; 3) Terbatasnya layanan kesehatan; 4) Kurang akses untuk makanan bergizi; dan 5) Kurang akses air bersih dan sanitasi.

Menurut Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA selaku Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Dalam presentasi di webinar menyatakan bahwa terjadinya stunting di Indonesia, karena masih banyaknya masalah gizi yang terjadi pada balita. Yaitu, 1) Keluarga yang tidak bisa akses sanitasi yang layak (20%); 2) Diare pada anak (11%); 3) Daerah dengan kerawanan pangan (17,1%); dan 4) Penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (9,78%). Faktor penyebab stunting dan masalah gizi pada balita, selengkapnya anda bisa lihat gambar berikut.

 

 

Faktor penyebab stunting dan masalah gizi balita (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

Sebagai informasi bahwa jumlah stunting balita bangsa Indonesia sekitar 6,6 juta. Adapun, prevalensi stunting balita bangsa Indonesia sedikit mengalami penurunan. Menurut data Riskedas dari tahun 2007 (36.8%), tahun 2010 (35,6%), tahun 2013 (37,2%), tahun 2018 (30,8%) dan tahun 2019 (27,7%). Sayang, angka tersebut masih di atas data prevalensi stunting Asia Tenggara tahun 2018 sebesar 25,8%.

Bagai lingkaran setan (devil’s circle), penyakit stunting yang terjadi pada balita pun akan memberikan dampak terhadap masalah gizi. Di mana, balita akan mempunyai imunitas rendah. Balita juga akan mengalami peningkatan risiko penyakit infeksi dan penyakit kronik. Pertumbuhan dan perkembangan balita juga akan berjalan tidak optimal. Akibatnya, ketika balita yang menderita stunting menjadi dewasa, mempunyai daya saing rendah. Serta, menghasilkan produktivitas yang rendah.

Itulah sebabnya, stunting harus ditangani sebaik mungkin. Karena, memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek yang terjadi, seperti 1) Terganggunya perkembangan otak dan kecerdasan; 2) Terganggunya pertumbuhan fisik; dan 3) Terganggunya metabolisme tubuh.

Sedangkan, untuk dampak jangak panjang yang terjadi, seperti 1)  Menurunnya kemampuan kognitif, perkembangan fisik dan prestasi belajar; 2) Menurunnya kekebalan tubuh (mudah sakit); dan 3) Berisiko mengalami penyakit degeneratif (diabetes, kegemukan, penyakit jantung, stroke, dan disabilitas pada usia tua). 

Maka, perlu memahami faktor penyebab stunting, agar menjadi pemahaman mendalam buat masyarakat. Yaitu, 1) Anemia pada anak dan remaja (26,7%); 2) Pemantauan pertumbuhan balita tidak rutin (54,6%); 3) Imunisasi tidak lengkap (42,1%); 4) Asupan makanan balita (6-23 bulan) tidak terpenuhi terutama protein (53,4%); 5) Tidak ASI Eksklusif (33,9%); 6)  Ibu hamil konsumsi TTD (Tablet Tambah Darah) (38,1%); 7) Anemia pada ibu hamil (48,9%); dan 8)  ANC (Ante Natal Care) atau perawatan masa kehamilan kurang dari 4 kali (25,9%)

Pemerintah telah dan masih berupaya keras untuk menurunkan prevalensi stunting nasonal. Bahkan, sesuai arahan Presiden RI tentang percepatan penurunan stunting pada rapat terbatas di Istana Merdeka tanggal 5 Agustus 2020 lalu. Memberikan pemetaan provinsi yang mempunyai prevalensi stunting dari yang rendah hingga tertinggi. Untuk selengkapnya, anda bisa melihat gambar berikut.


 

Prevalensi stunting di seluruh Provinsi Indonesia (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

ISI PIRINGKU, PANDUAN GIZI SEIMBANG 

Harus diakui bahwa pola konsumsi makanan masyarakat Indonesia masih buruk. Menarik, apa yang dilaporkan Riskedas 2018 dan BPS tahun 2019 menyatakan tentang pola konsumsi masyarakat Indonesia. Di mana, sebesar 95,5% populasi berusia lebih dari 5 tahun tidak memenuhi konsumsi buah dan sayur yang dianjurkan (kurang dari 400 gram/hari). Hanya 4,5% masyarakat Indonesia yang telah melakukan konsumsi makanan dengan baik.

Pola konsumsi masyarakat mengalami tren perubahan khususnya di masa Pandemi Covid-19. Di mana, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi (processed food) lebih tinggi. Yaitu, 3x lipat dari pada daging, telur dan susu; 3x lipat dari pada ikan; dan 3x lipat dari pada buah dan sayuran. Maka dari itu, di masa Pandemi Covid-19 terjadi masalah gizi, seperti 1) masalah gizi yang sama sebagai masalah gizi nasional; dan 2) kelompok yang rentan, seperti balita, ibu hamil yang semakin berisiko. Karena, keterbatasan pangan dalam keluarga dan daya beli menurun.  

Kondisi masalah gizi anak, khususnya balita di beberapa negara di masa Pandemi Covid-19 menjadi sorotan badan dunia PBB, UNICEF. Badan dunia tersebut menyatakan jika tidak ada tindakan yang baik, maka diperkirakan jumlah anak yang mengalami kekurangan gizi akut di bawah 5 tahun bisa meningkat 15% secara global pada tahun 2020.

Pemerintah Indonesia pun sudah dan masih menangani masalah gizi seimbang. Agar, anak Indonesia mempunyai nuitrisi gizi yang cukup. Hal yang perlu dilakukan (menurut Ir. Harris Iskandar, Ph.D selaku Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI) yaitu perlunya edukasi tentang gizi seimbang sejak dini. Baik bagi orang tua maupun bagi guru PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia.  Pedoman penting untuk mendapatkan pendidikan tentang gizi seimbang berpatokan pada Tumpeng Gizi Seimbang.

 

 

Tumpeng Gizi Seimbang (Sumber: Kemenkes RI)

 

Merujuk pada pedoman Tumpeng Gizi Seimbang, maka masyarakat hendaknya menerapkan 4 Pilar Gizi Seimbang, yaitu: 1) Mengonsumsi pangan beraneka ragam (mengandung protein, lemak, vitamin dan mineral); 2) Membiasakan Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS); 3) Mempertahankan dan memantau Berat Badan Normal; dan 4) Melakukan aktifitas fisik.

 

 

4 Pilar untuk penerapan gizi seimbang (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

Berdasarkan pedoman Tumpeng Gizi Seimbang dan 4 Pilar Gizi Seimbang, maka Kementerian Kesehatan RI telah melansir panduan gizi seimbang masyarakat, khususnya anak. Panduan lengkap untuk gizi seimbang tersebut bernama ISI PIRINGKU.

Berbagai buku panduan tentang ISI PIRINGKU telah disosialisasikan ke masyarakat. Salah satunya adalah buku panduan untuk para guru PAUD. Di mana, guru PAUD mempunyai peran besar, selain Pemerintah dan orang tua untuk memberikan pemahaman kepada balita. Ibu Lisnawati, S.Pd selaku guru PAUD berbagi pengalaman dalam mengajar siswa PAUD di acara webinar. Menggunakan buku panduan ISI PIRINGKU untuk memberikan pemahaman tentang gizi seimbang kepada siswa PAUD.

 

  

Isi Piringku (Sumber: Kemenkes RI)

 

ISI PIRINGKU sangat penting untuk memberikan panduan ibu dan guru PAUD. Saat memberikan edukasi gizi seimbang kepada anak dan muridnya. ISI PIRINGKU mengandung menu lengkap, seperti 1) Karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh; 2) Protein sebagai zat pembangun untuk pertumbuhan & regenerasi jaringan tubuh, serta membantu sistem kekebalan tubuh; dan 3) Vitamin dan mineral sebagai zat pengatur berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Berperan juga dalam sistem kekebalan tubuh.

Bahkan, ISI PIRINGKU bisa menjadi imun tubuh balita. Karena, sayur dan buah memiliki antioksidan (non-vitamin mineral) yang tinggi. Dan, sayur dan buah mengandung serat tidak larut yang merupakan prebiotik. Sehingga, dapat membantu peningkatan probiotik (mikroba baik) yang bermuara peningkatan imun tubuh.

ISI PIRINGKU memberikan pedoman lengkap tentang nutrisi gizi seimbang untuk sekali makan. Di mana, sepertiga piring adalah makanan pokok, sepertiga piring adalah sayuran dan sepertiga lainnya adalah lauk-pauk dan buah-buahan. Porsi balita dalam ISI PIRINGKU ada 2 kriteria, yaitu balita untuk umur 6-23 bulan dan balita untuk umur 2-5 tahun. Berikut, contoh porsi ISI PIRINGKU untuk 2 kriteria tersebut.  

 

Porsi Isi Piringku untuk balita usia 6-23 bulan (Sumber: Kemenkes RI)

 

Porsi Isi Piringku untuk balita usia 2-5 tahun (Sumber: Kemenkes RI) 

 

Harus diakui bahwa menerapkan ISI PIRINGKU tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Perlu perjuangan agar anak bisa makan menyenangkan seperti orang dewasa. Adapun, masalah makan yang terjadi pada anak (contoh, pada usia 4-6 tahun) yang dikatakan oleh  Prof. Sri Anna Marliyati  dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB selaku Ketua Tim Penyusun Buku Isi Piringku, sebagai berikut:

1.   Pilih-pilih makanan (picky eater) dikarenakan 1) selera makan anak berkembang, anak mulai menyukai makanan; 2) bosan pada hidangan yang diberikan kurang variasi; dan 3) anak mengikuti kebiasaan pilih-pilih makan orang tua;

2.   Susah makan, hanya mau makan sedikit, disebabkan 1) masalah psikologi, misalnya orang tua selalu memaksa untuk makan; 2) memberi susu atau makanan selingan dekat dengan waktu makan; dan 3) anak meniru orang tua yang biasa makan sedikit;

3.   Menolak makan, dikarenakan 1) rasa makanan yang asing; 2) bosan dengan makanan; 3) suasana makan tidak menyenangkan, anak belum lapar; 4) iseng atau mencari perhatian orang tua; 5) kesal kepada orang yang memberi makan; dan 6) anak sedang sakit. 

4.   Tidak suka makan sayur, disebabkan 1) rasa sayur yang kurang enak apabila dibandingkan dengan lauk hewani atau buah; 2) penyajian sayur kurang menarik.

Namun, orang tua dan guru PAUD harus memiliki kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Dalam memberikan pemahaman balita, agar bisa makan sesuai nutrisi gizi seimbang. Karena, ada pesan Gizi Seimbang yang baik untuk balita, khususnya untuk usia 2-5 tahun dari ISI PIRINGKU, yaitu:

1.   Biasakan makan 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) bersama keluarga.

2.   Perbanyak mengkonsumsi makanan kaya protein seperti ikan, telur, susu, tempe dan tahu.

3.   Perbanyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

4.   Batasi mengkonsumsi makanan selingan yang terlalu asin, manis dan berlemak.

5.   Minum air putih sesuai kebutuhan.

6.   Biasakan bermain bersama dan melakukan aktifitas fisik setiap hari.

ISI PIRINGKU telah menjadi pedoman orang tua dan guru PAUD agar anak mendapatkan nutrisi gizi seimbang. Bahkan, ISI PIRINGKU memudahkan guru PAUD dalam mengajar materi gizi ke siswa PAUD. Apalagi, dengan berbagai materi pembelajaran dan media permainan, siswa PAUD mudah memahami dan mengingat materi ISI PIRINGKU.

Selain orang tua, guru PAUD berperan besar dalam memberikan pemahaman tentang ISI PIRINGKU sejak balita. Beberapa dampak baik yang terjadi dengan panduan ISI PIRINGKU, adalah:

1.   Memperbaiki pola konsumsi pangan anak menjadi status gizi anak yang baik.

2.   Mampu memperbaiki lifestyle (gaya hidup) anak ke depannya.

3.   Siswa PAUD status gizinya menjadi baik dan sehat.

4.   Akan menjadi siswa SD dan remaja yang sehat dan status gizinya baik.

5.   Akan menjadi calon pengantin yang sehat dan status gizinya baik.

6.   Akan menjadi calon ibu yang sehat dan status gizinya baik.

7.   Melahirkan anak-anak yang sehat dan status gizinya baik.

 

KOLABORASI LINTAS SEKTOR 

Ketika masa Pandemi Covid-19 masih ada di negeri ini. Tentu, pelayanan penanganan gizi seimbang akan dimodifikasi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Keberhasilan penanganan gizi seimbang anak, khususnya untuk balita membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Perlunya sinergi dan harmonisasi untuk menimbulkan nilai sosial bersama komunitas antara 1) Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota; 2) Sektor swasta dan dunia usaha; dan 3) Akademisi dan masyarakat madani.

 

 

Beberapa pemangku kepentingan lintas sektor yang harmonis dalam penanganan gizi seimbang (Sumber: Danone Indonesia)

 

Dalam kolaborasi lintas sektor, setiap pemangku kepentingan (stakeholder)  harus berperan baik, sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Adapun, peran pemangku kepentingan (stakeholder) dalam penanganan percepatan perbaikan gizi seimbang adalah:

1.   Pemerintah pusat dan daerah sebagai inisiator, fasilitator dn motivator.

2.   Organisasi profesi dan akademisi sebagai Think Tank.

3.   Mitra pembangunan untuk memperkuat inisiasi, kolaborasi dan money (uang).

4.   Media massa untuk mempublikasikan informasi yang mendukung pembangunan kesehatan secara terus-menerus.

5.   Lembaga sosial kemasyarakatan (CSOs) sebagai advokasi untuk penyempurnaan inisiasai, kajian strategis dan pelaporan situasi pelaksanaan di lapangan / masyarakat, pemberdayaan masyarakat.

6.   Dunia usaha untuk pengembangan produk dan program yang mendukung (berbagi informasi distribusi sumber daya, penerapan CSR sesuai dasar hukum)

7.   Parlemen untuk menjalankan fungsi legislatif.

8.   Badan-badan PBB untuk memperluas dan mengembangkan kegiatan serta fasilitasi pemerintah untuk keberhasilan program.

Meskipun, kondisi masih Pandemi Covi-19, tetapi pelayanan masyarakat untuk menurunkan stunting akan terus digalakan, sesuai keadaan wilayah dan menerapkan protokol kesehatan. Peran guru PAUD dan masyarakat dalam perbaikan gizi seimbang akan terus dilakukan secara konsisten. Dan, terpenting, sektor swasta sangat diharapkan dalam mendukung program Pemerintah. Agar, informasi pesan gizi dan masyarakat tetap berjalan baik.   

Kolaborasi lintas sektor dalam penanganan gizi seimbang masyarakat khususnya balita harus tetap dibina. Karena, penangananan masalah Gizi Seimbang yang baik akan berdampak pada perekonomian dan pertumbuhan generasi mendatang. Dan, harapan besar bangsa Indonesia adalah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar. Agar, siap dan matang menghadapi Bonus Demografi dan terciptanya GENERASI EMAS 2045.

 

 

Kolaborasi lintas sektor untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar  (Sumber: shutterstock/diolah)

No comments:

Anak Indigo, Anugerah atau Musibah?

  Anak Indigo (Sumber: shutterstock)       “Mama, itu banyak anak kecil plontos lagi lari-lari kayak tuyul”   Kalimat yang diuca...