Wednesday, March 3, 2021

Bijak Kelola Sampah Karena Sampahmu adalah Tanggung Jawabmu

 

Aktifitas di depo pengumpulan sampah di jalan Merpati Kota Denpasar Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Hingga kini, sampah masih menjadi masalah besar bangsa Indonesia. Waste Management Indonesia atau Manajemen Sampah Indonesia membutuhkan daya kelola yang baik dan  bertanggung jawab. Seperti, yang dilakukan oleh perusahaan layanan pengelola sampah Waste4Change. Perusahan tersebut memiliki 198 Klien, 175 Proyek dan mengelola sampah hingga 5.404.041 kg.

Layanan utama perusahaan tersebut adalah pertama, Konsultasi, Menyediakan riset berbasis data, serta masukan dari ahli-ahli persampahan di tingkat lokal. Agar, solusi pengelolaan sampah optimal, contoh program Solid Waste Management Research;  kedua, Campaign, Memfasilitasi program sosialisasi dan edukasi antar pemangku kepentingan untuk menciptakan perubahan ekosistem dalam rangka mewujudkan Ekonomi Sirkular, contoh program AKABIS (Waste Management Academy).

Ketiga, Collect, Memfasilitasi klien dengan pengangkutan sampah terpilah, tempat sampah terpilah, serta laporan mengenai alur sampah, contoh program Residential Area Waste Management, Personal Waste Management, Event Waste Management, Commercial Area Waste Management; dan keempat, Create, Memproses sampah secara bertanggung jawab menjadi material daur ulang, contoh program Extended Producer Responsibility dan In-Store Recycling. 

 

 

Kinerja dan layanan utama Waste4Change (Sumber: dokumen pribadi) 

 

KOLABORASI 

Setiap tanggal 21 Februari, bangsa Indonesia memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Harapan dari peringatan tersebut adalah terciptanya kesadaran masyarakat dalam Bijak Kelola Sampah menuju Indonesia yang Bersih, Maju dan Sejahtera.

Menarik, pembangun kota di Indonesia memberikan dampak negatif yang tidak bisa dihindari seperti 1) Meningkatnya volume sampah; 2)  Meningkatnya kebutuhan lahan pemukiman; dan 3) Terjadinya pencemaran lingkungan. Bahkan, volume sampah khususnya sampah plastik terus bertambah seiring laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,25 persen (2010-2020). Dan, penduduk Indonesia sesuai Sensus Penduduk 2020 sebesar 271,35 Juta.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam laman resmi Kementerian LHK (22/02/2020) tentang tantangan besarnya persoalan sampah Indonesia. Jumlah timbulan sampah setiap tahun sekitar 67,8 juta ton. Kurang lebih 15% atau sekitar 10,17 juta berupa sampah plastik. Dari Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) dan Indonesian Plastic Recyclers (IPR) menyatakan total konsumsi plastik diprediksi sebanyak 5,66 MMT (Millions of Metric Tons atau juta metrik ton).


 

Dampak pembangunan kota dan pertumbuhan sampah khususnya sampah plastik (Sumber dokumen pribadi)

 

 

Jika, sampah plastik tidak dikelola baik, sangat berbahaya bagi lingkungan. Plastik tidak terurai hingga ratusan tahun dan merusak lingkungan. Di laut, sampah plastik merusak pertumbuhan biota laut. Saat sampah plastik dimakan fauna laut, seperti ikan. Maka, ikan berbahaya bagi tubuh, ketika dikonsumsi manusia. Sebuah lingkaran setan (devil’s circle) yang berbahaya bagi manusia.

Pemerintah Indonesia berpacu untuk mengurangi 70 persen sampah plastik yang mengalir ke lautan pada tahun 2025. Maka, pengelolaan sampah plastik harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder). Seperti, Pemerintah, dunia usaha atau industri, akademisi dan masyarakat.

Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Menjadi acuan untuk melakukan penekanan pada pengurangan sampah plastik dari awal, sebelum plastik tersebut menjadi sampah.

Dunia usaha atau industri manufaktur, perusahaan retail, serta perusahaan makanan & minuman wajib mengurangi sampah. Dijelaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (JAKSTRANAS) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Kalangan akademisi memberikan hasil laporan dari riset yang dilakukan secara seksama. Riset memberikan pemetaan tentang kondisi sampah di Indonesia. Dan, hal penting yang perlu dilakukan untuk pengelolaan sampah. Riset berkelanjutan memberikan gambaran penting pertumbuhan sampah di setiap kota Indonesia.

Masyarakat menjadi faktor penentu pengelolaan sampah plastik. Mengapa? Peran pemerintah, dunia usaha atau industri dan akademisi tidak akan berhasil tanpa adanya Bijak Kelola Sampah dari masyarakat. Prinsip “Sampahku adalah Tanggung Jawabku” sangat penting. Demi mengurangi kuantitas sampah di Tempat Pembuangan Sementara Sampah (TPS) atau Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA). 

 

RAMAH LINGKUNGAN 

Pengelolaan sampah dengan daur ulang bertujuan agar sampah bisa menghasilkan nilai ekonomi dan ramah lingkungan. Bahkan, pengelolaan sampah terpadu dengan circular economy (ekonomi melingkar) yang menggunakan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) bertujuan agar sampah plastik mempunyai nilai keberlanjutan.

Daur ulang sampah plastik menjadi tugas bersama. Baik kalangan dunia usaha atau industri maupun rumah tangga. Keberadaan perusahaan layanan pengelolaan sampah Waste4Change mampu mendorong terciptanya sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien. Perusahaan telah melakukan tindakan Pengelolaan Sampah.

Bahkan, sistem layanan perusahaan bernama Responsible Waste Management (RWM) memberikan keuntungan. Adapun, layanan tersebut adalah 1) Pendekatan manajemen sampah yang 100% terpilah; 2) Meningkatkan citra perusahaan; 3) Mengurangi timbulan sampah yang dibuang ke TPA; 4) Menaati Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, serta mendukung Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017; dan 5) Meningkatkan kepedulian pegawai tentang isu sampah. Perusahaan yang telah menggunakan layanan tersebut seperti Pasar Alam Vida Bekasi Jawa Barat dan  Barito Pasific di Wisma Barito Jakarta Barat.

Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2012 disebut Extended Producer Responsibility Indonesia. Dimana, perusahaan sebagai produsen bertanggung jawab atas kemasan yang dihasilkan dari produknya. Perusahaan wajib membatasi, mengolah dan mendaur ulang sampahnya.

Sampah timbul dari proses produksi yang  menghasilkan produk gagal, cacat, atau sampah sisa proses produksi. Proses produksi berpotensi menghasilkan sampah khususnya sampah plastik. Seperti, sampah dari proses distribusi (produk cacat atau kadaluwarsa), sampah gudang perusahaan (barang retur, bekas atau rusak), sampah konsumen (kemasan kosong atau produk habis pakai) menambah jumlah timbulan sampah.  

 

DAMPAK EKONOMI 

Proses daur ulang sampah plastik di perusahaan dan rumah tangga bertujuan untuk mewujudkan Personal Waste Management. Agar, bisa mengurangi kuantitas sampah di TPS atau TPA dan dampak negatif lingkungan. Pengelolaan sampah secara Circular Economy sendiri mampu memberikan dampak ekonomi.

Pertumbuhan dunia usaha atau industri meningkatkan pendapatan perusahaan dan masyarakat. Perusahaan daur ulang sampah mampu menyerap tenaga kerja. Banyak pemulung yang mendapatkan penghasilan dari daur ulang barang bekas atau sampah plastik.

 Keberadaan sampah plastik, justru menghasilkan pundi-pundi. Bukan hanya bagi perusahaan, tetapi bagi pekerja dan masyarakat di sekitarnya. Usaha transportasi, kos-kosan, kuliner dan lain-lain tumbuh subur. Geliat perekonomian di sekitar perusahaan daur ulang menjadi hidup. Sebuah lingkaran ekonomi, yang setiap elemennya saling berperan untuk memberikan keuntungan.

 

Kolaborasi antara Pemerintah, dunia usaha atau industri, akademisi dan masyarakat  dalam mewujudkan circular economy daur ulang sampah plastik (Sumber: dokumen pribadi)


 

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021. Nama penulis: Casmudi”

Saturday, February 27, 2021

Berawal dari Isi Piringku, Mencetak Anak Menjadi Generasi Sehat dan Pintar

 

Isi Piringku untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar (Sumber: shutterstock/diolah)

 

 

 

Ada 2 hal besar yang akan dihadapi bangsa Indonesia di masa mendatang. Yaitu, pertama, kesiapan menghadapi Bonus Demografi yang akan terjadi pada sekitar tahun 2030. Dan, kedua, mampukah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar saat menghadapi Bonus Demografi dan Generasi Emas 2045, sesuai harapan besar bangsa Indonesia.

 

 

Kedua hal penting membutuhkan persiapan matang. Oleh sebab itu, persiapan sejak dini merupakan faktor keberhasilan bangsa Indonesia menghadapi 2 hal tersebut. Salah satu hal yang perlu diperhatikan bangsa Indonesia adalah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar.

Bukan hal sepele untuk menciptakan Generasi Sehat dan Pintar. Proses penciptaan Generasi Sehat dan Pintar membutuhkan kolaborasi semua pihak, baik dari Pemerintah, masyarakat dan sektor swasta. Keterlibatan sektor swasta sungguh berperan besar untuk menciptakan Generasi Sehat dan Pintar.

Danone Indonesia, salah satu perusahaan besar dari sektor swasta merasa terpanggil dan bertanggung jawab. Dalam menciptakan Generasi Sehat dan Pintar. Oleh sebab itu, pada tanggal 26 Pebruari 2021 lalu, Danone Indonesia bekerja sama dengan kalangan akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan dan masyarakat menyelenggarakan webinar keren.

Webinar tersebut membahas isu keren tentang “Festival Isi Piringku Anak Usai 4-6 Tahun: Membangun Generasi Sehat Melalui Edukasi Gizi Seimbang Sejak Dini”. Adapun, narasumber yang hadir adalah:

1.   Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA – Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI

2.   Ir. Harris Iskandar, Ph.D - Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

3.   Prof Sri Anna Marliyati - FEMA IPB, Ketua Tim Penyusun Buku Isi Piringku, Dosen Fakultas Ekologi Manusia, IPB

4.   Lisnawati, S.Pd - Guru PAUD

5.   Vera Galuh Sugijanto – VP General Secretary Danone Indonesia.

6.   Karyanto Wibowo – Direktur Sustainable Development, Danone Indonesia.

 

WASPADA STUNTING 

Proses mencetak Generasi Sehat dan Pintar menjadi pembahasan menarik. Bagaimana tidak, bangsa Indonesia harus siap dan matang saat menghadapi Bonus Demografi. Juga, bangsa Indonesia harus serius dan siap sejak dini untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar demi estafet kepemimpinan bangsa di masa depan.

Khusus masalah gizi, bangsa Indonesia sedang menghadapi masalah krusial Triple Burden of Malnutrition, yaitu: 1) Gizi Lebih; 2) Gizi Kurang atau Gizi Buruk; dan 3) Defisiensi Zat Gizi Mikro. Namun, masalah gizi yang selalu menjadi pembicaraan penting adalah gizi kurang atau gizi buruk. Di mana, 1 dari 3 balita negeri ini menderita gizi buruk, yang berakibat menjadi penderita Stunting. Stunting (pendek) merupakan gagal tumbuh yang berkembang selama jangka waktu yang panjang.

Adapun, penyebab stunting adalah 1) Faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil atau anak balita; 2) Pengetahuan yang kurang mengenai kesehatan dan gizi, sebelum dan selama kehamilan, serta ibu melahirkan; 3) Terbatasnya layanan kesehatan; 4) Kurang akses untuk makanan bergizi; dan 5) Kurang akses air bersih dan sanitasi.

Menurut Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA selaku Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Dalam presentasi di webinar menyatakan bahwa terjadinya stunting di Indonesia, karena masih banyaknya masalah gizi yang terjadi pada balita. Yaitu, 1) Keluarga yang tidak bisa akses sanitasi yang layak (20%); 2) Diare pada anak (11%); 3) Daerah dengan kerawanan pangan (17,1%); dan 4) Penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (9,78%). Faktor penyebab stunting dan masalah gizi pada balita, selengkapnya anda bisa lihat gambar berikut.

 

 

Faktor penyebab stunting dan masalah gizi balita (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

Sebagai informasi bahwa jumlah stunting balita bangsa Indonesia sekitar 6,6 juta. Adapun, prevalensi stunting balita bangsa Indonesia sedikit mengalami penurunan. Menurut data Riskedas dari tahun 2007 (36.8%), tahun 2010 (35,6%), tahun 2013 (37,2%), tahun 2018 (30,8%) dan tahun 2019 (27,7%). Sayang, angka tersebut masih di atas data prevalensi stunting Asia Tenggara tahun 2018 sebesar 25,8%.

Bagai lingkaran setan (devil’s circle), penyakit stunting yang terjadi pada balita pun akan memberikan dampak terhadap masalah gizi. Di mana, balita akan mempunyai imunitas rendah. Balita juga akan mengalami peningkatan risiko penyakit infeksi dan penyakit kronik. Pertumbuhan dan perkembangan balita juga akan berjalan tidak optimal. Akibatnya, ketika balita yang menderita stunting menjadi dewasa, mempunyai daya saing rendah. Serta, menghasilkan produktivitas yang rendah.

Itulah sebabnya, stunting harus ditangani sebaik mungkin. Karena, memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek yang terjadi, seperti 1) Terganggunya perkembangan otak dan kecerdasan; 2) Terganggunya pertumbuhan fisik; dan 3) Terganggunya metabolisme tubuh.

Sedangkan, untuk dampak jangak panjang yang terjadi, seperti 1)  Menurunnya kemampuan kognitif, perkembangan fisik dan prestasi belajar; 2) Menurunnya kekebalan tubuh (mudah sakit); dan 3) Berisiko mengalami penyakit degeneratif (diabetes, kegemukan, penyakit jantung, stroke, dan disabilitas pada usia tua). 

Maka, perlu memahami faktor penyebab stunting, agar menjadi pemahaman mendalam buat masyarakat. Yaitu, 1) Anemia pada anak dan remaja (26,7%); 2) Pemantauan pertumbuhan balita tidak rutin (54,6%); 3) Imunisasi tidak lengkap (42,1%); 4) Asupan makanan balita (6-23 bulan) tidak terpenuhi terutama protein (53,4%); 5) Tidak ASI Eksklusif (33,9%); 6)  Ibu hamil konsumsi TTD (Tablet Tambah Darah) (38,1%); 7) Anemia pada ibu hamil (48,9%); dan 8)  ANC (Ante Natal Care) atau perawatan masa kehamilan kurang dari 4 kali (25,9%)

Pemerintah telah dan masih berupaya keras untuk menurunkan prevalensi stunting nasonal. Bahkan, sesuai arahan Presiden RI tentang percepatan penurunan stunting pada rapat terbatas di Istana Merdeka tanggal 5 Agustus 2020 lalu. Memberikan pemetaan provinsi yang mempunyai prevalensi stunting dari yang rendah hingga tertinggi. Untuk selengkapnya, anda bisa melihat gambar berikut.


 

Prevalensi stunting di seluruh Provinsi Indonesia (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

ISI PIRINGKU, PANDUAN GIZI SEIMBANG 

Harus diakui bahwa pola konsumsi makanan masyarakat Indonesia masih buruk. Menarik, apa yang dilaporkan Riskedas 2018 dan BPS tahun 2019 menyatakan tentang pola konsumsi masyarakat Indonesia. Di mana, sebesar 95,5% populasi berusia lebih dari 5 tahun tidak memenuhi konsumsi buah dan sayur yang dianjurkan (kurang dari 400 gram/hari). Hanya 4,5% masyarakat Indonesia yang telah melakukan konsumsi makanan dengan baik.

Pola konsumsi masyarakat mengalami tren perubahan khususnya di masa Pandemi Covid-19. Di mana, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi (processed food) lebih tinggi. Yaitu, 3x lipat dari pada daging, telur dan susu; 3x lipat dari pada ikan; dan 3x lipat dari pada buah dan sayuran. Maka dari itu, di masa Pandemi Covid-19 terjadi masalah gizi, seperti 1) masalah gizi yang sama sebagai masalah gizi nasional; dan 2) kelompok yang rentan, seperti balita, ibu hamil yang semakin berisiko. Karena, keterbatasan pangan dalam keluarga dan daya beli menurun.  

Kondisi masalah gizi anak, khususnya balita di beberapa negara di masa Pandemi Covid-19 menjadi sorotan badan dunia PBB, UNICEF. Badan dunia tersebut menyatakan jika tidak ada tindakan yang baik, maka diperkirakan jumlah anak yang mengalami kekurangan gizi akut di bawah 5 tahun bisa meningkat 15% secara global pada tahun 2020.

Pemerintah Indonesia pun sudah dan masih menangani masalah gizi seimbang. Agar, anak Indonesia mempunyai nuitrisi gizi yang cukup. Hal yang perlu dilakukan (menurut Ir. Harris Iskandar, Ph.D selaku Widya Prada Ahli Utama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI) yaitu perlunya edukasi tentang gizi seimbang sejak dini. Baik bagi orang tua maupun bagi guru PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia.  Pedoman penting untuk mendapatkan pendidikan tentang gizi seimbang berpatokan pada Tumpeng Gizi Seimbang.

 

 

Tumpeng Gizi Seimbang (Sumber: Kemenkes RI)

 

Merujuk pada pedoman Tumpeng Gizi Seimbang, maka masyarakat hendaknya menerapkan 4 Pilar Gizi Seimbang, yaitu: 1) Mengonsumsi pangan beraneka ragam (mengandung protein, lemak, vitamin dan mineral); 2) Membiasakan Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS); 3) Mempertahankan dan memantau Berat Badan Normal; dan 4) Melakukan aktifitas fisik.

 

 

4 Pilar untuk penerapan gizi seimbang (Sumber: Kemenkes RI/diolah)

 

Berdasarkan pedoman Tumpeng Gizi Seimbang dan 4 Pilar Gizi Seimbang, maka Kementerian Kesehatan RI telah melansir panduan gizi seimbang masyarakat, khususnya anak. Panduan lengkap untuk gizi seimbang tersebut bernama ISI PIRINGKU.

Berbagai buku panduan tentang ISI PIRINGKU telah disosialisasikan ke masyarakat. Salah satunya adalah buku panduan untuk para guru PAUD. Di mana, guru PAUD mempunyai peran besar, selain Pemerintah dan orang tua untuk memberikan pemahaman kepada balita. Ibu Lisnawati, S.Pd selaku guru PAUD berbagi pengalaman dalam mengajar siswa PAUD di acara webinar. Menggunakan buku panduan ISI PIRINGKU untuk memberikan pemahaman tentang gizi seimbang kepada siswa PAUD.

 

  

Isi Piringku (Sumber: Kemenkes RI)

 

ISI PIRINGKU sangat penting untuk memberikan panduan ibu dan guru PAUD. Saat memberikan edukasi gizi seimbang kepada anak dan muridnya. ISI PIRINGKU mengandung menu lengkap, seperti 1) Karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh; 2) Protein sebagai zat pembangun untuk pertumbuhan & regenerasi jaringan tubuh, serta membantu sistem kekebalan tubuh; dan 3) Vitamin dan mineral sebagai zat pengatur berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Berperan juga dalam sistem kekebalan tubuh.

Bahkan, ISI PIRINGKU bisa menjadi imun tubuh balita. Karena, sayur dan buah memiliki antioksidan (non-vitamin mineral) yang tinggi. Dan, sayur dan buah mengandung serat tidak larut yang merupakan prebiotik. Sehingga, dapat membantu peningkatan probiotik (mikroba baik) yang bermuara peningkatan imun tubuh.

ISI PIRINGKU memberikan pedoman lengkap tentang nutrisi gizi seimbang untuk sekali makan. Di mana, sepertiga piring adalah makanan pokok, sepertiga piring adalah sayuran dan sepertiga lainnya adalah lauk-pauk dan buah-buahan. Porsi balita dalam ISI PIRINGKU ada 2 kriteria, yaitu balita untuk umur 6-23 bulan dan balita untuk umur 2-5 tahun. Berikut, contoh porsi ISI PIRINGKU untuk 2 kriteria tersebut.  

 

Porsi Isi Piringku untuk balita usia 6-23 bulan (Sumber: Kemenkes RI)

 

Porsi Isi Piringku untuk balita usia 2-5 tahun (Sumber: Kemenkes RI) 

 

Harus diakui bahwa menerapkan ISI PIRINGKU tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Perlu perjuangan agar anak bisa makan menyenangkan seperti orang dewasa. Adapun, masalah makan yang terjadi pada anak (contoh, pada usia 4-6 tahun) yang dikatakan oleh  Prof. Sri Anna Marliyati  dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB selaku Ketua Tim Penyusun Buku Isi Piringku, sebagai berikut:

1.   Pilih-pilih makanan (picky eater) dikarenakan 1) selera makan anak berkembang, anak mulai menyukai makanan; 2) bosan pada hidangan yang diberikan kurang variasi; dan 3) anak mengikuti kebiasaan pilih-pilih makan orang tua;

2.   Susah makan, hanya mau makan sedikit, disebabkan 1) masalah psikologi, misalnya orang tua selalu memaksa untuk makan; 2) memberi susu atau makanan selingan dekat dengan waktu makan; dan 3) anak meniru orang tua yang biasa makan sedikit;

3.   Menolak makan, dikarenakan 1) rasa makanan yang asing; 2) bosan dengan makanan; 3) suasana makan tidak menyenangkan, anak belum lapar; 4) iseng atau mencari perhatian orang tua; 5) kesal kepada orang yang memberi makan; dan 6) anak sedang sakit. 

4.   Tidak suka makan sayur, disebabkan 1) rasa sayur yang kurang enak apabila dibandingkan dengan lauk hewani atau buah; 2) penyajian sayur kurang menarik.

Namun, orang tua dan guru PAUD harus memiliki kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Dalam memberikan pemahaman balita, agar bisa makan sesuai nutrisi gizi seimbang. Karena, ada pesan Gizi Seimbang yang baik untuk balita, khususnya untuk usia 2-5 tahun dari ISI PIRINGKU, yaitu:

1.   Biasakan makan 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) bersama keluarga.

2.   Perbanyak mengkonsumsi makanan kaya protein seperti ikan, telur, susu, tempe dan tahu.

3.   Perbanyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

4.   Batasi mengkonsumsi makanan selingan yang terlalu asin, manis dan berlemak.

5.   Minum air putih sesuai kebutuhan.

6.   Biasakan bermain bersama dan melakukan aktifitas fisik setiap hari.

ISI PIRINGKU telah menjadi pedoman orang tua dan guru PAUD agar anak mendapatkan nutrisi gizi seimbang. Bahkan, ISI PIRINGKU memudahkan guru PAUD dalam mengajar materi gizi ke siswa PAUD. Apalagi, dengan berbagai materi pembelajaran dan media permainan, siswa PAUD mudah memahami dan mengingat materi ISI PIRINGKU.

Selain orang tua, guru PAUD berperan besar dalam memberikan pemahaman tentang ISI PIRINGKU sejak balita. Beberapa dampak baik yang terjadi dengan panduan ISI PIRINGKU, adalah:

1.   Memperbaiki pola konsumsi pangan anak menjadi status gizi anak yang baik.

2.   Mampu memperbaiki lifestyle (gaya hidup) anak ke depannya.

3.   Siswa PAUD status gizinya menjadi baik dan sehat.

4.   Akan menjadi siswa SD dan remaja yang sehat dan status gizinya baik.

5.   Akan menjadi calon pengantin yang sehat dan status gizinya baik.

6.   Akan menjadi calon ibu yang sehat dan status gizinya baik.

7.   Melahirkan anak-anak yang sehat dan status gizinya baik.

 

KOLABORASI LINTAS SEKTOR 

Ketika masa Pandemi Covid-19 masih ada di negeri ini. Tentu, pelayanan penanganan gizi seimbang akan dimodifikasi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Keberhasilan penanganan gizi seimbang anak, khususnya untuk balita membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Perlunya sinergi dan harmonisasi untuk menimbulkan nilai sosial bersama komunitas antara 1) Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota; 2) Sektor swasta dan dunia usaha; dan 3) Akademisi dan masyarakat madani.

 

 

Beberapa pemangku kepentingan lintas sektor yang harmonis dalam penanganan gizi seimbang (Sumber: Danone Indonesia)

 

Dalam kolaborasi lintas sektor, setiap pemangku kepentingan (stakeholder)  harus berperan baik, sesuai tugas dan tanggung jawabnya. Adapun, peran pemangku kepentingan (stakeholder) dalam penanganan percepatan perbaikan gizi seimbang adalah:

1.   Pemerintah pusat dan daerah sebagai inisiator, fasilitator dn motivator.

2.   Organisasi profesi dan akademisi sebagai Think Tank.

3.   Mitra pembangunan untuk memperkuat inisiasi, kolaborasi dan money (uang).

4.   Media massa untuk mempublikasikan informasi yang mendukung pembangunan kesehatan secara terus-menerus.

5.   Lembaga sosial kemasyarakatan (CSOs) sebagai advokasi untuk penyempurnaan inisiasai, kajian strategis dan pelaporan situasi pelaksanaan di lapangan / masyarakat, pemberdayaan masyarakat.

6.   Dunia usaha untuk pengembangan produk dan program yang mendukung (berbagi informasi distribusi sumber daya, penerapan CSR sesuai dasar hukum)

7.   Parlemen untuk menjalankan fungsi legislatif.

8.   Badan-badan PBB untuk memperluas dan mengembangkan kegiatan serta fasilitasi pemerintah untuk keberhasilan program.

Meskipun, kondisi masih Pandemi Covi-19, tetapi pelayanan masyarakat untuk menurunkan stunting akan terus digalakan, sesuai keadaan wilayah dan menerapkan protokol kesehatan. Peran guru PAUD dan masyarakat dalam perbaikan gizi seimbang akan terus dilakukan secara konsisten. Dan, terpenting, sektor swasta sangat diharapkan dalam mendukung program Pemerintah. Agar, informasi pesan gizi dan masyarakat tetap berjalan baik.   

Kolaborasi lintas sektor dalam penanganan gizi seimbang masyarakat khususnya balita harus tetap dibina. Karena, penangananan masalah Gizi Seimbang yang baik akan berdampak pada perekonomian dan pertumbuhan generasi mendatang. Dan, harapan besar bangsa Indonesia adalah terciptanya Generasi Sehat dan Pintar. Agar, siap dan matang menghadapi Bonus Demografi dan terciptanya GENERASI EMAS 2045.

 

 

Kolaborasi lintas sektor untuk mencetak Generasi Sehat dan Pintar  (Sumber: shutterstock/diolah)

Thursday, February 25, 2021

Kapal Terdampar di Pantai Yeh Malet yang Instagrammable

 

Shooting dadakan untuk membuat konten di media sosial dekat Kapal Terdampar di Pantai Yeh Malet Karangasem Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Seminggu lalu. Matahari masih malu-malu untuk menampakan wajahnya. Cuaca saat itu begitu cerah. Gembira rasanya, karena beberapa hari sebelumnya hujan deras, mengguyur hampir di seluruh wilayah Pulau Bali. Saya dan teman perjalanan (istri dan sepasang suami istri, mbak Faneshia dan mas Billy) meluncur sejak pagi di lintasan timur Pulau Bali. Dengan menggunakan 3 sepeda motor untuk dipakai 5 orang.

 

 

Kami menyusuri jalanan pulau Dewata bagian timur menuju Kota Amlapura (Kabupaten Karangasem). Tentu, akan melewati Pantai Yeh Malet yang telah dimodifikasi bagus oleh Pemerintah Daerah setempat. Beruntung, jalanan jalur timur terkenal lebar dan nyaman untuk dilalui. Meskipun, para monster jalanan (bus dan truk besar) siap melibas perjalanan kami. Tetapi, dengan kehati-hatian dalam perjalanan, akan membuat perjalanan liburan kami menyenangkan.

Beruntung, udara pagi masih terasa segar. Karena, jalanan yang kami lalui belum banyak kendaraan yang hilir mudik. Sayang, dalam perjalanan, kami mengalami hambatan sedikit. Rantai sepeda motor yang saya pakai sering lepas karena kendor.

Kami harus mencari bengkel yang buka di pagi hari. Dan, bengkel buka di pagi hari, saat matahari masih berselimut langit adalah sebuah keajaiban. Kenyataannya, kami beruntung menemukan “persis” sebuah bengkel yang baru buka. Tuhan Maha Tahu apa yang kami alami.

 

“Nanti, dalam perjalanan bisa berhenti. Jika, ada spot menarik. Kita santai saja karena cuaca cerah dan masih pagi” kata saya pada teman perjalanan. Mbah Faneshia Hwang dan mas Charles Billy.

 

Setelah, perbaikan sepeda motor kami yang jajan sebentar di bengkel selesai. Kami pun melanjutkan perjalanan di pagi yang indah mewangi tralal trilili. Setelah, kurang lebih setengah jam perjalanan. Ketika, melewati Pantai Yeh Malet, saya sempat menanyakan kepada pasutri teman perjalanan. Apakah, mau berhenti dan mengambil foto di lokasi tersebut. Gayung pun bersambut. Mereka mau berhenti sebentar dan mengambil foto-foto kenangan.

Sebenarnya, saya sendiri sudah puluhan kali melewati Pantai Yeh Malet. Bahkan, sudah mengabadikan kenangan dan nge-vlog di tempat tersebut. Namun, tidak disangka, tampilan sekitar Pantai Yeh Malet mengalami perubahan. Semakin cantik, seiring dengan perkembangan media sosial.

Sebagai informasi bahwa Pantai Yeh Malet berada di perbatasan Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Klungkung. Namun, Pantai Yeh Malet masuk dalam wilayah Kabupaten Karangasem. Pasir pantainya berwarna hitam. Dan, gelombang lautnya lumayan bagus bagi para peselancar (surfer).  

Saya yang berniat, hanya untuk menemani pasutri mengambil foto. Justru, ikut larut di dalamnya. Asik mengambil jepretan foto, dengan latar belakang sinar Mentari, yang mulai berani menampakan batang hidungnya. Yang membuat saya kaget dan baru “ngeh” adalah keberadaan kapal nelayan ukuran besar yang terdampar di pinggir pantai.

 

“Kok, saya gak tahu ya. Padahal sudah berkali-kali ke sini” pikir saya.

 

Lucunya, menurut bli-bli (mas-mas) yang lagi sibuk mancing di pantai Yeh Malet mengatakan, bahwa kapal terdampar tersebut sudah bertahun-tahun nginap di pantai. Entah apa sebabnya? Katanya gak tahu. 

Sungguh malu dalam hati. Lah, udah berkali-kali ke Pantai Yeh Malet, kok tidak tahu keberadaan kapal terdampar yang instagrammable. Ya udah, tanpa basa dan basi, saya langsung melakukan acara shooting dadakan. Untuk membuat konten menarik agar bisa dinikmati pengguna media sosial. Bahwa, di Pantai Yeh Malet ada kapal nelayan terdampar bertahun-tahun. Bagus banget buat foto-foto, selfie atau wefie.

Sekilas, melihat penampakan kapal tersebut seperti kapal yang digunakan untuk penyeberangan penumpang, dari Klungkung ke Nusa Penida dan sebaliknya. Namun, jika dilihat dari bagian depan kapal tersebut, sepertinya kapal digunakan untuk mengirim muatan berat. Yang jelas bukan hati kamu loh!

 

Kapal terdampar tampak dari arah daratan (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Kapal terdampar tampak dari arah pantai (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Yang jadi pertanyaan saya dalam hati atau mungkin anda adalah kok tidak dievakuasi ke daratan? Agar, tidak mengganggu kondisi pantai. Atau, mungkin, sengaja ditinggal di pinggir pantai agar bisa jadi spot menarik dan menjadi tujuan wisata masyarakat. Jawabannya, ada pada rumput yang bergoyang. 

Jadi, buat teman-teman yang sedang jalan-jalan. Dan, melewati Pantai Yeh Malet, bisa mampir untuk membuat kenangan baru di sini. Tempatnya, instagrammbale banget loh. Bahkan, tidak jauh dari kapal terdampar tersebut, terdapat tempat khusus berfoto. Seperti, ruang pandang di destinasi wisata pegunungan.

 

 

Ruang pandang yang tidak jauh dari kapal terdampar dengan latar belakang sunrise (matahari terbit) dan pulau Nusa Penida (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Tidak usah khawatir, pengunjung tidaki dikenakan biaya alias gratis kok. Tapi, kalau mau menikmati kuliner di beberapa warung dadakan dekat lokasi, ya mesti bayar. Kalau tidak, nanti pas mau pulang dapat tagihan dari sang empunya warung. Malu, kan?

Saya sarankan buat anda, kalau datang ke sini meski pas sunrise (matahari terbit). Waduh, view-nya keren banget. Latar belakang lautan luas (Selat Nusa Penida) dan semburat sinar mentarinya, bikin hasil jepretan makin mangagumkan. 

Jangan lupa jaga kesehatan ya. Tetap mengedapankan aturan Protokol Kesehatan (Prokes). Karena, kesehatan anda adalah segalanya. Biar, bisa terus jalan-jalan menjelajah Bali. Happy Traveling, dan tunggu tulisan saya selanjutnya. Bye-beye.  

Tuesday, February 23, 2021

Mampir ke Sentra Garam Amed Bali

 

Kantor Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Sentra Garam Amed Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Bagaikan sayur tanpa garam.

 

Pepatah yang selalu menarik banyak orang. Di mana, garam sangat dibutuhkan dalam memasak. Dan, garamlah menjadi sayuran terasa sedap. Banyak daerah di Indonesia yang menghasilkan garam terkenal. Salah satunya Pulau Bali. Ada 2 sentra penghasil garam di Pulau Dewata ini, yaitu Kawasan Kusamba Kabupaten Klungkung dan Amed Kabupaten Karangasem.

Seminggu lalu, saya sempat jalan-jalan ke kawasan Amed Kabupaten Karangasem. Kondis jalanan yang dipenuhi dengan bisnis perhotelan dan usaha diving (selam) itu masih terlihat sepi. Hanya beberapa warga asing yang hilir mudik.  Saya melihat banyak hotel yang tampak seperti museum. Tanpa lalu lalang, keluar masuk tamu hotel.

Bisnis selam (diving) juga terlihat sepi. Sepi dari aktifitas wisatawan yang mengenakan atau mencoba pakaian ala renang. Sudah lumrah, bahwa kondisi yang sepi tersebut, terjadi sejak Pandemi Covid-19 menerjang bangsa ini setahun lalu. Dan, kondisi sepi menjadi pemandangan yang sudah biasa. Meskipun, sekarang mulai menggeliat, dibandingkan saat Pandemi Covid-19 mulai merebak.  

Saya berusaha menyusuri jalan, yang berada di sepanjang pantai Amed. Tanpa sengaja, saya melewati Sentra Garam Amed Bali. Lokasinya ada di jalan I Ketut Natih, Banjar Dinas Lebah Desa Purwa Kerthi Kecamatan Amed Kabupaten Karangsem.

 

“Apakah ini pusat pembuatan garam Amed yang terkenal itu” pikir saya.

 

Saya pun menghentikan laju sepeda motor. Dan, memarkir kendaraan di kawasan parkir Wisata Air Jemeluk. Di bagian depan, saya melihat kantor dari Sentra Garam Amed Bali tersebut. Dan, di bagian depannya terdapat sebuah prasasti yang menunjukan tentang peresmian Sentra Garam Amed Bali.

Prasasti tersebut diresmikan pada tanggal 19 Oktober 2019 oleh anggota Senator dari Provinsi Bali DR. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendratta Wedasteraputra Suyasa III, S,E., (M.Tru) M.Si. Berdiri kokoh menempel pada sebuah tiang dan pagar dari batang kelapa.

 

 

Prasasti peresmian Sentra Garam Amed oleh Senator dari Provinsi Bali DR. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendratta Wedasteraputra Suyasa III, S,E., (M.Tru) M.Si. (Sumber: dokumen pribadi)

 

Berhenti Pembuatan Garam

 

Saya mencoba masuk ke dalam kawasan proses pembuatan garam Amed. Namun, yang terlihat hanyalah beberapa tumpukan pelepah atau batang kelapa, yang digunakan untuk sarana pembuatan garam. Luasan tanah sekitar 500m2 ini terlihat kosong, tanpa aktifitas para petani garam dalam proses pembuatan kristal putih.

Perlu diketahui bahwa garam Amed merupakan produk lokal Bali yang sangat bernilai tinggi, setelah garam Kusamba. Yang unik dari garam Amed ini berwarna putih, dan kristalnya terlihat kecil dan lembut. Jangan kaget, garam Amed ini sangat digemari oleh para chef hotel berbintang di Bali.

Bahkan, garam Amed ini banyak dipesan oleh orang dari luar Bali. Namun, masa Pandemi Covid-19 telah memutus aktifitas para petani garam Amed. Oleh sebab itu, aktifitas pembuatan garam terpaksa berhenti, untuk batas waktu yang tidak ditentukan. Hal ini disebabkan karena terhentinya pesanan garam Amed.

 

 

Kondisi tempat proses pembuatan garam Amed (Sumber: dokumen pribadi)

 

Beralih Profesi

 

Terhentinya proses pembuatan garam menyebabkan petani garam berhenti operasi. Dan, berpindah pekerjaan, seperti menjadi pelaut mencari ikan. Anda bisa melihat jejeran perahu tradisional yang ada di Pantai Amed. Ada juga yang beralih profesi menjadi peternak agar bisa menyambung hidup dan dapur tetap ngebul.


 

Jejeran perahu tradisional di Pantai Amed (Amed Beach) (Sumber: dokumen pribadi)

 

Menarik, garam Amed ini sudah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis dari Dirjen Hak dan Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI. Hal ini memberikan pemahaman bahwa produk lokal garam Amed sudah terjamin kualitasnya.

Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Karangasem, para petani garam Amed yang berjumlah kurang lebih 35 orang telah tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).

Namun, lesunya bisnis perhotelan karena Pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap kinerja petani garam Amed. Mereka tidak mau ambil resiko. Jika, proses pembuatan garam tetap dilanjutkan, maka stok garam akan menumpuk. Karena, permintaan garam mengalami mati suri.

Kita berharap jangan sampai produk lokal garam Amed menjadi hilang, karena dampak Pandemi Covid-19. Dan, para petani garam Amed  enggan untuk berproses kembali. Oleh sebab itu, harapan besar pandemi Covid-19 mereda. Agar, proses pembuatan garam Amed bisa berjalan kembali.

Perjalanan saya untuk mampir di Sentra Garam Amed memberikan pelajaran penting, Bahwa, dampak Pandemi Covid-19 mampu merontokan produk lokal. Yang digarap oleh banyak petani garam. Ketika, garam Amed menjadi langganan kalangan hotel. Dan, bisnis hotel mengalami kelesuan. Maka, perjalanan bisnis garam Amed pun ikut terkena imbasnya.

Kini, saya telah mengunjungi 2 kawasan sentra pembuatan garam terkenal di Bali. Di kawasan Kusamba Kabupaten Klungkung, saya malah ikut bekerja dengan petani garam setempat. Membantu salah satu petani setempat dalam mencetak kristal putih. Berbeda dengan di kawasan Amed. Saya malah menyaksikan tiadanya proses pembuatan garam. Bagai museum tanpa pengunjung. Miris sekali.

Kita semua kangen, ketika para petani garam memikul air laut ke tempat pembuatan garam. Kita semua kangen, saat pelepah kelapa itu diisi dengan air laut, yang kemudian air laut mengeras menjadi kristal putih. Kita semua kangen, para petani garam melakukan proses pembuatan garam, untuk kebutuhan penyedap sayuran di dapur kita.

Kapan semua itu akan terjadi lagi? Hanya Tuhan yang tahu. Mari berdoa agar Pandemi Covid-19 cepat mereda. Dan, denyut perekonomian para petani garam Amed bisa mulai lagi. Karena, senyum mereka adalah kebahagiaan kita. Senyum mereka adalah bukti bahwa bisnis pariwisata mulai bergerak. Dan, Bali kem(BALI) bangkit. 

Bijak Kelola Sampah Karena Sampahmu adalah Tanggung Jawabmu

  Aktifitas di depo pengumpulan sampah di jalan Merpati Kota Denpasar Bali (Sumber: dokumen pribadi)     Hingga kini, sampah masih men...