Saturday, June 27, 2020

Cegah Dampak Buruk Alergi Pada Anak dengan ASI dan Nutrisi Lengkap & Seimbang


Mencegah dampak buruk alergi pada anak dengan ASI dan Nutris Lengkap & Seimbang (Sumber: Danone Indonesia/diolah) 

 

Tanggal 25 Januari  2020 lalu, saya menyempatkan diri untuk mengikuti seminar menarik yang diselengggarakan oleh Danone Indonesia. Di mana, dilakukan secara Virtual (Virtual Gathering). Seminar tersebut membahas tentang Bicara Gizi. Sedangkan, tema utama yang dibahas adalah  “Menekan Risiko Alergi si Kecil dengan Deteksi Alergi dan Asupan Nutrisi yang Tepat Sejak Dini”.

 

Virtual Gathering #BicaraGizi yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia tanggal 25 Juni 2020 lalu, di mana menghadirkan pembicara yang berkompeten (Sumber: Danone Indonesia)

 

Kita perlu memahami bahwa penyakit Alergi khsususnya kepada anak, tidak dianggap sepele. Pencegahan Alergi membutuhkan pemahaman dan penanganan yang serius. Bahkan, Pentingnya Cegah Alergi menjadi permasalahan serius dunia. Itulah sebabnya, tanggal 28 Juni – 4 Juli 2020 sebagai Pekan Alergi Dunia (World’s Allergy Week). 

Pekan Alergi Dunia ini memberikan pemahaman kepada bangsa Inodneisa tentang perkembangan kasus alergi. Perlu diketahui bahwa dalam dua dekade terakhir, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat adanya peningkatan angka kejadian Alergi Anak di Indonesia. 

Melihat dampak jangka panjang alergi yang harus dihadapi orang tua dan si kecil, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia berkomitmen untuk menawarkan inovasi terkait deteksi risiko alergi maupun manajemen nutrisi. 

Serta, menyambut Pekan Alergi Dunia (World Allergy Week) dengan memperkuat edukasi mengenai pentingnya screening risiko alergi dan manajemen Nutrisi Alergi yang tepat untuk pencegahan alergi pada anak. 

Maka, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia  meluncurkan aplikasi Allergy Risk Screener by Nutriclub sejak Maret 2020 ini telah diakses sebanyak lebih dari 20.000 kali oleh orang tua di Indonesia. Tools digital ini dapat membantu orang tua maupun tenaga ahli dalam mendeteksi risiko alergi si kecil. Ada dua Langkah mudah untuk mengetahui, apakah anak anda terkena alergi atau tidak.   

Hingga, membantu pemberian edukasi mengenai pencegahan alergi sejak dini. Serta,  membantu mempersingkat waktu konsultasi. Para orang tua diajak untuk mencobanya. Bisa mengakses Allergy Risk Screener by Nutriclub di: bit.ly/allergyriskscreener

 

“Kami berkomitmen untuk mendukung dan mendampingi orang tua dalam masa tumbuh kembang anak. Untuk membantu orang tua mengetahui risiko alergi sejak dini, kami menghadirkan Allergy Risk Screener by Nutriclub untuk mempermudah orang tua mengetahui besar risiko alergi anak berdasarkan riwayat alergi keluarga. Selain itu, kami juga menyediakan inovasi nutrisi dengan kandungan sinbotik yang sudah dipatenkan” (Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia).  


Allergy Risk Screener by Nutriclub (Sumber: Danone Indonesia/screenshot) 

 

Mengenal Alergi

 

Lantas, apa sih yang dimaksud dengan Alergi itu? Menurut Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes., Konsultan Alergi dan Imunologi Anak dalam Virtual Gathering  #BicaraGizi 25 Juni 2020 lalu mengakatakan, “Alergi adalah respon sistem imum yang tidak normal, mengenali bahan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain”.  

Menurut data dari WHO, menyebutkan bahwa 30-40% penduduk dunia mengalami alergi. Di mana, alergi tercetus dari bahan yang berupa makanan dan yang terhirup yang dinamakan ALERGEN.  Alergen berupa makanan seperti: susu sapi, ķacang kedelai, kacang tanah, makanan laut, gandum, telur, ikan, tree nuts. Sedangkan, alergen yang terhirup seperti : tungau atau kutu debu rumah, serbuk sari tanaman, kecoa, serpihan kulit atau bulu binatang, dan jamur. 

Sebenarnya, alergen tidak berbahaya. Tetapi, bagi yang punya resiko alergi akan timbul dampak seperti asma, dermatitis, dan lain-lain. Di luar allergen, kita juga harus memahami tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi pada anak yaitu: 1) adanya riwayat alergi pada keluarga; 2) kelahiran Caesar; dan 3) asap rokok dan polusi udara. 

Risiko alergi akan lebih tinggi jika disebabkan oleh factor genetik. Di mana, persentase risiko padda anak adalah sebagai berikut:  1) Ayah + dan Ibu + maka 40-60% risiko alergi; 2) Ayah + dan Ibu - maka 20-40% risiko alergi )atau sebalikny); 3) Saudara + maka 25-30% risiko alergi; dan 4) Ayah - dan Ibu – maka 5-15 risiko alergi.   

Sebagai informasi, 550jt penduduk di dunia menderita alergi karena makanan. Penyebab alergi adalah telur, sedangkan susu sapi menjadi penyebab terbesar kedua. Sama halnya, apa yang dikatakan oleh Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes. bahwa 550 juta penduduk dunia mengalami alergi makanan, dan sebanyak 7,5% alergi di Indonesia bersumber disebabkan oleh susu sapi. 

Salah satu alergi disebabkan karena konsumsi Susu Sapi, terdapat pada protein susu sapi yang menyebabkan reaksi alergi yang dinamakan Kasein & Whey. Menarik, alergi susu sapi pada dermatitis atopik ditemukan hingga 60%. Adapun, kesembuhan alergi karena konsumsi susu sapi adalah tahun ke 1 sekitar 45 - 55%; tahun ke 2 sekitar 60 - 75% dan tahun ke 3 ada 90%.

 

Dampak Buruk Alergi Pada Anak

 

Kita perlu mencegah terjadinya alergi pada anak. Terpenting, alergi  yang terjadi pada periode emas yaitu saat anak masih dalam kandungan hingga anak menginjak usia 2 tahun. Atau, yang dikenal dengan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK). 

Orang tua harus memahami tanda-tanda alergi. Bisa membedakan antara gejala alergi dan infeksi pada anak pada 3 hal. Yaitu, 1) Demam; 2) batuk pilek muncul pagi dan malam hari; dan 3) Ingus kental dan berwarna. Jika, anak “tidak” mengalami hal-hal tersebut, maka justru anak mengalami alergi. 

Mengapa, kita harus mencegah alergi sejak dini. Karena, kurangnya pemahaman dan penanganan masalah alergi pada anak akan  meningkatkan risiko alergi lain di masa depan (Allergic March). Juga, alergi bisa berdampak buruk pada anak. Dan, dampak langsung yang bisa terlihat pada anak adalah dampak Kesehatan dan dampak Psikologis.


Segi Kesehatan

Anak yang mempunyai alergi, akan mengalami disfungsi terhadap sistem kekebalan tubuh, baik dari faktor genetik maupun lingkungan, dapat menyebabkan reaksi alergi dan berbagai efek yang berpengaruh negatif jangka panjang, tidak hanya bagi anak tapi juga bagi orang tua.


 

Alergi sangat berdampak buruk pada Kesehatan anak (Sumber: Danone Indonesia)

 

Dampak Kesehatan alergi pada anak, jika tidak terdeteksi sejak dini, maka akan terjadi alergi makanan, eksim, asma, rinitis alergi yang biasa disebut sebagai ATOPIC MARCH. Juga, dampak alergi bisa meningkatkan risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung. Seperti apa yang dikatakan oleh Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes.

 

“Bagi si Kecil, alergi dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung. Selain itu, anak dengan alergi juga dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan apabila terlambat diagnosa dan penanganan kurang optimal. Sementara dampak ekonomi yang harus dihadapi keluarga adalah meningkatnya biaya pengobatan dan biaya tidak langsung,”

  

Segi Psikologi

Selain dampak kesehatan, qlergi juga berpengaruh besar pada psikologis anak. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa anak yang alergi dapat mengalami berbagai gangguan. Seperti, gangguan daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif dan lemas. Juga, anak yang mengalami alergi terlihat kurang energik atau miring dan mempunyai kurangnya daya tangkap. 


Alergi pada anak akan berdampak psikologis pada anak seperti kurang energik atau murung (Sumber: Danone Indonesia) 

 

Dampak psikologis pada anak bisa berimbas pada orang tuanya. Seperti timbul kecemasan yang berlebihan. Bahkan, timbul  perasaan depresi. Benar sekali, apa apa yang dikatakan oleh Putu Andani, M.Psi., Psikolog dari TigaGenerasi dalam Virtual Gathering #BicaraGizi.

 

“Secara sosial, anak dan orang tua bisa merasa rendah diri dan menyerah. Jika hal ini terjadi, pencegahan terhadap risiko alergi pada anak dapat terhambat. Untuk itu, orang tua harus menanamkan semangat positif dan optimis bahwa pencegahan alergi dapat dilakukan sejak dini. Jika reaksi alergi terjadi sebaiknya orang tua jangan panik, usahakan agar si Kecil tetap tenang, jangan berasumsi tentang penyebab alergi si Kecil, lakukan validasi langsung dengan ahlinya”.

 

Pemberian ASI Eksklusif dan Nutrisi Lengkap & Seimbang

 

Untuk mencegah terjadinya alergi sejak dini pada anak. Maka, orang tua perlu melakukan pencegahan dini. Ada 3 macam pencegahan yaitu : 1) Pencegahan primer; 2) Pencegahan sekunder; dan 3) Pencegahan tersier. Tentu, dari 3 pencegahan tersebut, yang paling diperhatikan adalah Pencegahan primer. 

Pencegahan Primer bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu 1) Masa kehamilan diusahakan tidak ada pantangan makanan; 2) Sesudah bayi lahir, perlu diberikan ASI eksklusif 6 bln, diberi makanan padat mulai 6 bln, dan tidak ada pantangan makanan. Dan 3) Memperhatikan lingkungan dengan menghindari paparan asap rokok aktif & pasif.   

Menurut Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes. menyatakan bahwa ASI Eksklusif merupakan nutrisi yang paling tepat untuk mencegah alergi pada si kecil. ASI Eksklusif tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh pada anak. 

Namun, jika ASI Eksklusif tidak memungkinkan, maka bisa memberikan Nutrisi Alergi berupa Formula Hidrolisat parsial atau ekstensif sampai usia 6 bulan. Dan, itu sesuai dengan rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Bahwa, pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisis parsial merupakan langkah praktis intervensi nutrisi bagi anak yang alergi protein susu sapi. 


Penanganan pencegahan alergi saat kehamilan dan sesudah lahir dengan pemberian ASI Ekskluif (Sumber: UKK Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2019)

 

Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes. juga menegaskan bahwa dampak alergi pada anak akan menjadi sebuah rangkaian, hingga anak tersebut bertambah usia. Yang selanjutnya akan diturunkan pada generasi berikutnya. 

Seperti apa yang dialami oleh sosok ibu yang mempunyai anak alergi yaitu Chacha Thaib. Dalam Virtual Gathering #BicaraGizi menyatakan bahwa maslah alergi harus menjadi perhatian penting. Khususnya, bagi orang tua yang memiliki risiko menurunkan kondisi alerginya pada anak. 

Chacha Thaib mempunyai riwayat alergi susu sapi dan debu, sehingga menurun ke anak saya yang alerginya beragam, salah satunya alergi susu sapi. Dampak yang dialaminya adalah dia dan anaknya menjadi cenderung penakut dalam memilih makanan. 

Oleh sebab itu, orang tua perlu mencegah dampak alergi sejak dini. Dan, hal terpenting adalah dengan pemberian ASI Eksklusif dan Nutrisi Lengkap & Seimbang baik saat kehamilan maupun sesudah kelahiran. Karena, kepedulian terhadap alergi pada anak sama halnya peduli kesehatan untuk generasi berikutnya. Benar sekali apa yang dikatakan oleh Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes.

 

“Anak dengan alergi cenderung memliki rangkaian penyakit alergi seiring bertambahnya usia. Bahkan diturunkan ke generasi berikutnya. Sehingga alergi penting untuk dideteksi dan dicegah sejak dini dengan menelusuri riwayat alergi keluarga dan pemberian nutrisi yang tepat untuk mendukung sistem imun yang lebih baik. ASI (Air Susu Ibu) dan nutrisi lengkap dan seimbang akan mendukung perkembangan system imun anak. Nutrisi kombinasi prebiotik dan probiotik (SINBIOTIK) merupakan salah satu nutrisi yang dapat mendukung sistem imun anak dalam menurunkan risiko alergi”

 

Alergi menjadi masalah kita bersama. Tanpa terdekteksi, maka alergi akan menurunkan ke generasi berikutnya. Saaatnya cegah alergi pada anak sejak dini. Penanganan khsusu saat anak kita mengalami Periode Emas. Karena, mencegah alergi sama halnya menciptakan generasi masa depan yang gemilang.


Wednesday, June 24, 2020

Modal Melamar Pekerjaan, Skill atau Gelar Akademik?


Melamar Pekerjaan (Sumber: qerja.com) 

 

 

Pandemi Virus Corona telah membuat banyak perusahaan tutup. Tidak sedikit karyawan yang dirumahkan. Ada yang dengan alasan menunggu kondisi reda akan direkrut kembali. Atau, secara terang-terangan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 

Apa yang akan dilakukan banyak orang setelah mengalami kondisi “dirumahkan”? Ada yang pasrah karena nasib. Mereka bisa berusaha seadanya, terpenting untuk menyambung hidup. Ada yang melakukan aktivitas untuk memulai wirausaha. Meskipun, dengan modal dan keahlian pas-pasan. Bahkan, ada yang bersemangat untuk mencari atau melamar pekerjaan baru.

 

Ditolak Saat Melamar Pekerjaan

 

Lantas, apa yang menjadi modal untuk melamar pekerjaan? Apakah harus skill atau gelar akademik. Tentu, setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda. Baik, sebelum melangkah lebih jauh, saya akan membagikan 2 ilustrasi nyata. Tentang pengalaman, ketika saya melamar pekerjaan, kekira tahun 2011 lalu. 

Ilustrasi Pertama. 

Sebelumnya, meski belum lulus sarjana, saya pernah bekerja sebagai kepala cabang dalam Retail Division perusahaan distribusi. Pekerjaan itu saya lakoni kurang lebih 10 tahun. 

Setelah mempunyai bekal keahlian dan materi yang cukup. Saya berusaha untuk memulai usaha sendiri. Namun, ternyata usaha saya mengalami masalah. Saya pernah menulis masalah usaha saya pada artikel-artikel sebelumnya. 

Kejatuhan usaha tersebut, memaksa saya untuk melamar pekerjaan. Dengan niat, untuk mencari atau mengumpulkan modal dulu. Beberapa perusahaan ternama pernah saya datangi. Dan, yang menarik adalah lowongan pekerjaan sebagai Kepala Cabang salah satu distributor sebuah provider terkenal yang ada di Bali. 

Wawancara berlangsung santai dan agak lama. Karena, posisi yang ditawarkan tentu mempunyai tanggung jawab yang besar. Saya diwawancarai seorang bapak, yang menurut saya masih berumur 40-an. Saya menjawab semua pertanyaan dia dengan tegas dan santai. Dan, saya pikir dia terpesona atas pengalaman kerja saya. 

Sebelum detik-detik saya diterima, yang biasanya diikuti dengan salaman. Sang pewawancara tersebut minta ijin keluar sebentar. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Sang Bapak tersebut, ternyata masuk ruang wawancara kembali, dengan didampingi seorang ibu cantik. 

Sungguh, saya tidak tahu siapa dia. Tapi, dari gaya komunikasi mereka seperti “suami-istri”. Kemudian, Sang Bapak mewawancarai saya kembali. Sang Ibu berdiri persis di samping sang bapak. Sepertinya, untuk meyakinkan sang ibu bahwa sayalah kandidat yang tepat. 

Saya terdiam kekira 10 menit. Sementara, mereka berdua mengobrol dalam bahasa Bali. Mereka pikir, pasti saya tidak memahami apa yang mereka katakan. Mereka berdiri saling berhadapan sambil bersandar di dinding. 

Sambil “nguping”, saya cermati percakapan mereka. Sebenarnya, Sang Bapak tersebut tertarik meluluskan, karena pengalaman saya. Tetapi, sepertinya sang Ibu meragukan saya. Dikarenakan, saya belum berijazah sarjana. Sebagai informasi, saat saya melamar pekerjaan ini, saya masih kuliah semester III di Universitas Terbuka (UT) Bali. 

Keputusan terakhir, mereka berdua memberikan informasi yang mengagetkan saya. Bahwa, saya belum bisa diterima. Tetapi, sang Bapak dengan nada agak kikuk meminta maaf. Bahwa, keputusan mereka belum bisa menerima saya. Saya pun menerima dengan lapang dada. Karena, itu adalah hak mereka. 

Ilustrasi Kedua 

Sebenarnya, ilustrasi kedua hampir sama dengan ilustrasi di atas. Kasus kedua adalah melamar pekerjaan sebagai kepala cabang sebuah perusahan ternama di Bali. Bahkan, saya harus 3 kali melewati wawancara yang melelahkan setelah menunggu kurang lebih setengah bulan. 

Wawancara terakhir dengan “Big Boss” yang mempunyai jaringan perusahaan besar di Bali. Seperti ilustrasi di atas, “Big Boss” ini terang-terangan meragukan pengalaman kerja saya. Mungkin, dengan maksud untuk membuat saya down. Sejauh mana nyali saya. Uniknya, semakin digedor nyali saya, semakin enjoy untuk menjawab pertanyaannya. 

Dia meyakinkan saya, apakah mampu untuk menghandle usaha rental ratusan mobil. Di akhir wawancara, keputusan terjadi “floating decision” atau keputusan mengambang.

 

“Nanti, kalau perusahaan ini benar-benar membutuhkan keahlian anda, maka saya akan menginformasi anda kembali. Terima kasih atas kedatangannya”

 

Itulah sekilas kalimat yang keluar, sebelum saya meninggalkan ruang wawancara. Saya pun tidak berharap besar tentang “angin Surga” tersebut. Anggap saja, saya ditolak. Dan, saya pun melamar kerja kembali sebagai Marketing Manager sebuah perusahaan kontraktor. Akhirnya, saya benar-benar diterima. 

Uniknya, setelah saya bekerja di perusahaan kontraktor tersebut, undangan kerja dari ilustrasi kedua justru datang tiba-tiba. Saya diterima dan disuruh untuk hadir ke kantornya. Ibarat “Nasi Sudah Menjadi Bubur”. Dengan tegas jabatan sebagai Kepala Cabang tersebut saya tolak.    

Dari dua ilustrasi di atas, jelas banget bahwa penolakan saya dalam melamar pekerjaan, karena gelar akademik yang tidak mendukung. Pewawancara menjadi ragu atas keahlian saya. Itu hak mereka, karena setiap perusahaan mempunyai Standar Operational Procedure (SOP) masing-masing dalam mencari kandidat yang cocok.

 

Skill Plus Gelar Akademik

 

Lantas, apakah orang yang mempunyai segudang pengalaman, tetapi gelar akademiknya kecil akan tersisih? Tidak juga. Sekali lagi saya katakan bahwa tergantung diri kita dan perusahaan yang membutuhkan. 

Memang, tidak dipungkiri, banyak lulusan sarjana yang melamar pekerjaan, berbeda dengan jurusan sewaktu kuliah. Tidak sedikit kok, yang kerja di bank tetapi lulusan insinyur. Atau, kerja di perusahan teknik tetapi lulusan sarjana ekonomi. 

Menurut saya Love What You Do, lakukan apa yang anda cintai atau sukai. Sebaiknya, jika anda ingin berkarir di Level Managerial hingga direksi, maka anda mesti memiliki minimal gelar sarjana. 

Bila perlu, anda bisa menambah pengetahuan berbagai keahlian lain. Seperti pintar berbahasa Inggris, Mandarin atau berbagai program computer. Juga, bisa menambah keahlian seiring dengan perkembangan dunia digital. 

Beberapa tahun belakangan, saya beberapa kali mengikuti meeting (pertemuan) tentang IT. Yang membahas tentang ilmu-ilmu terkini. Dan, saya yakin ilmu tersebut hanya bisa diperoleh saat kuliah atau pelatihan berbayar. Namun, saya bisa menghadiri berbagai ilmu IT dengan gratis. 

Apalagi, presentasinya dibawakan oleh orang asing dan lokal dalam Bahasa Inggris. Presentasi berjam-jam seperti Coding, Artifial Intelligence (AI), Hospitality Management System (HMS), Internet Of Thing (IOT), Big Data Analysis dan lain-lain pernah saya hadiri. 

Apalagi, profesi saya sebagai blogger adalah mengulas berbagai hal unik. Dari hotel, gadget hingga illegal loging. Maka, saya dituntut untuk rajin membaca dan mencermati berbagai kejadian atau berita yang sedang terjadi. 

Untungnya, dalam dunia blogger tidak dituntut untuk mempunyai standar gelar akademik. Namun, banyak blogger yang berprofesi sebagai dosen atau bekerja di perusahaan ternama. Yang mempunyai gelar akademik minimal sarjana. 

Dengan kata lain, pengalaman adalah sebuah kewajiban buat diri anda. Jika, ingin melamar pekerjaan sesuai dengan keinginan perusahaan. Tetapi, di sisi lain, gelar akademik juga sangat dibutuhkan. 

Apalagi, jika anda ingin berprofesi di ASN, menjadi dosen atau guru. Maka, gelar akademik adalah sebuah keharusan. Saya sendiri mempunyai keinginan untuk mengambil S2. Sebagai “pegangan” untuk menghadapi era globalisasi. 

Memang, gelar akademik tidaklah “pasti” dapat pekerjaan yang cocok dengan diri anda. Namun, dengan gelar akademik menjadi modal besar, agar bisa berkompetisi di dunia internasional. 

Saya tidak menyalahkan perusahaan yang menolak surat lamaran saya. Mungkin, mereka menginginkan mempunyai karyawan yang mempunyai gelar akademik minimal sarjana. Mereka mempunyai alasan yang kuat.

 

Jadi, jika ada orang yang mengatakan “modal apa untuk melamar pekerjaan. Apakah, skill atau gelar akademik?”. Jawabannya, ada pada diri anda dan perusahaan yang merekrutnya. Tergantung posisi jabatan yang ditawarkan. Kalau posisi atau jabatan yang ditawarkan kelas Managerial hingga direksi, maka skill dan gelar akademik sangatlah dibutuhkan.

 

Sejak dini, jangan pernah lupakan untuk mempunyai gelar minimal sarjana. Juga, diimbangi dengan berbagai keahlian yang signifikan dengan perkembangan era digital. Seperti keahlian menulis (Content Writer) yang saya lakukan. 

Keahlian menulis sebuah konten adalah pekerjaan yang terlihat gampang atau mudah. Tetapi, tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak orang yang gagal atau ragu saat memulainya. 

Menulis membutuhkan keyakinan dan keseriusan dalam belajar. Ibarat pepatah, keberhasilan itu adalah NEED TIME, NEED PROCESS AND NEED SACRIFICE (butuh waktu, butuh proses dan butuh pengorbanan). 

Perlu diketahui bahwa keahlian yang berhubungan dengan ranah digital dan IT, akan berharga mahal di masa depan. Saran buat saya dan anda, mari belajar tentang hal yang berhubungan dengan dunia tersebut. Percaya atau tidak, orang yang ahli dalam Content Writer, Content Creator, Animasi, Programmer, Coding, Cloud Computing, AI, Big Data Analysis, dan lain-lain akan survive di era digital. 

Jika anda tekun dalam memahami hal yang berhubungan dengan ranah digital. Percayalah, anda akan dilirik banyak perusahaan. Karena, perusahaan sangat membutuhkan. Saya adalah lulusan ILMU ADMINISTRASI NEGARA. 

Tetapi, ilmu tersebut terpendam. Saya akan menggunakannya sewaktu-waktu, jika dibutuhkan. Seperti membuat tulisan yang berbau politik, hukum, pemerintahan, kebijakan publik dan lain-lain.    

Kini, saya justru menggeluti dunia digital. Menjadi seorang Blogger, Content Writer, Content Creator. Dan, alhamdulillah, dengan dunia baru tersebut telah membuat banyak keuntungan. Baik menambah pertemanan dengan orang ternama, teman blogger lintas nusantara dan tentu uang. Bagaimana dengan anda?


Tuesday, June 23, 2020

Menelisik Budaya Bersepeda Saat Pandemi


Menelisik budaya bersepeda saat Pandemi (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

 

Harus diakui bahwa Pandemi Virus Corona telah memberikan ruang “kesakitan” banyak orang. Ruang, di mana banyak orang “jungkir balik” menghadapi wabah yang tak kasat mata ini. 

Namun, di balik “rasa sakit hidup yang mendera”, selalu saja ada sisi yang memberikan “rasa bangkit”. Pandemi Virus Corona telah memberikan ruang positif bagi banyak orang. Salah satu hal yang viral adalah Budaya Bersepeda Saat Pandemi. 

NEW NORMAL 

Bukan karena kasus sepeda Brompton yang viral di Semarang. Memaksa masuk sebuah café. Karena, harganya yang fantastis dan takut dicuri orang. Tetapi, Pandemi Virus Corona memberikan kesadaran banyak orang tentang artinya budaya bersepeda. 

Anda pasti paham bahwa sudah ribuan nyawa yang telah menghadap sang Pencipta Allah SWT, karena ganasnya wabah Covid-19. Kebijakan Pemerintah pun telah disosialisasikan kepada masyarakat luas. Tentang artinya hidup sehat sesuai Protokol Kesehatan Covid-19. 

Apalagi, sejak ada statement (pernyataan) dari Presiden RI Jokowi. Bahwa, antivirus (vaksin) Covid-19 belum juga ditemukan. Maka, Presiden RI memberikan pernyataan bahwa masyarakat harus bisa “hidup berdamai” dengan Covid-19. Kita semua mesti wasapda dan hati-hati dalam menghadapi wabah Covid-19. 

Sungguh, pernyataan yang membuat masyarakat meski cerdas menyikapinya. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan memperkuat imunitas dalam tubuh. Dan, olahraga adalah hal yang harus dilakukan. 

Dengan adanya kebijakan New Normal (Hidup Baru). Yang mengharuskan transportasi harus mengkuti protokol kesehatan. Maka, timbul inisiatif banyak orang. Yang merupakan budaya sejak dulu yaitu bersepeda. 

Dengan bersepeda, maka orang bisa melakukan Physical Distancing. Bisa menjaga jarak dengan orang lain. Juga, dengan bersepeda berpotensi proses penyebaran Covid-19 sangat kecil. Karena, sebisa mungkin menghindari kerumunan banyak orang, dalam jangka waktu yang lama. 

Setelah kasus positif penumpang Covid-19 di KRL Jakarta beberapa minggu lalu. Maka, penjagaan KRL sesuai dengan prosedur Protokol Kesehatan Covid-19 semakin diperketat. Pemerintah tidak mau “kecolongan” yang kedua kalinya. Kondisi tersebut yang memberikan ruang kesadaran banyak orang bahwa dengan bersepeda ke kantor (Bike to Work) menjadi solusi yang baik. 

DORONGAN BERSEPEDA 

Yang jelas, masyarakat mulai introspeksi ke jati diri masing-masing. Bahwa, dengan bersepeda, maka akan meningkatkan imunitas tubuh. Ketika, imunitas tubuh kuat, maka tidak mudah terserang oleh Virus Covid-19. Apalagi, jika diiringi dengan makan makanan yang sehat dan bergizi. 

Budaya bersepeda juga menjadi “pelampiasan” sementara atau selamanya di saat kondisi New Normal. Di mana, destinasi wisata belum dibuka secara resmi oleh Pemerintah. Sementara, masyarakat telah melakukan aktifitas yang dipandang “membosankan” saat Work From Home (WFH). Maka, dengan bersepeda, menjadi aktifitas untuk melampiaskan kebosanan dan ekspresi kebebasan. 

Saya sempat bertanya ke anak saya tentang aktifitas “dadakan” bersepeda  teman-temannya. Padahal, dulu ogah bersepeda sebelum Pandemi Virus Corona. Tetapi, mereka tiba-tiba bersepeda di saat New Normal ini. Mereka “memaksa” dirinya untuk bersepeda, karena untuk mengisi waktu luang, agar tidak membosankan. 

Budaya bersepeda di saat Pandemi Virus Corona juga memberikan ruang kepada masyarakat, untuk membangkitkan budaya hidup sehat. Mereka harus bangkit dari “duka” akibat Pandemi Virus Corona. Mereka rela membeli sepeda “mahal” untuk menyalurkan budaya hidup sehat tersebut. 

Mengapa saya bilang mahal. Karena, ketika banyak orang berkeluhkesah tentang kondisi yang “kekurangan”. Tetapi, mereka begitu mudahnya membeli sepeda baru atau bekas yang harganya hingga jutaan. Sangat kontra dengan kondisi banyak orang yang sedang berharap datangnya bantuan sosial (bansos). 

Meskipun, ada dari para pesepeda tersebut, membeli sepeda bekas atau sepeda lama. Namun, dari manapun sepeda diperoleh atau dibeli. Bagi saya, para pesepeda itu mempunyai alasan tersendiri.    

Mereka menyadari bahwa budaya hidup sehat adalah sebuah keharusan. Meskipun, tanpa adanya Pandemi Virus Corona. Saat hari libur atau Minggu, saya melihat ratusan pesepeda dari segala umur di sekitaran lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar Bali. 

Menarik, bahwa budaya bersepeda saat Pandemi Virus Corona didominasi oleh kalangan generasi millennial. Atau, sebuah komunitas dengan atribut pakaian yang sama. Mereka mulai menjalin silaturahmi setelah 3 bulan lebih tidak bisa tatap muka secara langsung. 

Jika, ajang silaturahmi langsung dengan cara duduk-duduk saja. Mereka tentu bingung mencari tempat yang tepat untuk berkumpul. Sementara, masih banyak café atau tempat hangout lainnya banyak yang tutup. Maka, cara bersepeda bareng menjadi jalan yang harus ditempuh. 

Mereka bisa mengobrol sambil bersepeda. Kemudian, di saat merasa capai, akan mencari tempat yang lapang. Mereka bisa bersenda gurau dan berbagi pengalaman selama Pandemi Virus Corona ini. 

Coba bandingkan, jika mereka berkumpul hanya duduk-duduk saja di rumah. Maka, hal tersebut tetap saja membosankan. Tidak ada hal baru, karena situasinya hampir sama seperti Work Form Home (WFH) dulu. Cuma, ini bedanya banyak orang yang hadir. 

Padahal, kerumunan banyak orang di sebuah tempat (baca: rumah) bisa berpotensi menyebarkan Covid-19. Karena, orang-orang tersebut berasal dari area (zona Covid-19) yang berbeda. Tambah lagi, main ke rumah teman dalam jumlah yang banyak, akan menjadi perhatian banyak orang. Bahkan, sangat dilarang untuk dilakukan. 

Apalagi, jika rumah tempat untuk berkumpul berada di zona kuning atau merah. Maka, jangan berharap bahwa acara kumpul-kumpul bisa terealisasi. Petugas satuan tugas (Gugus) Covid-19 desa setempat akan bergerak cepat untuk mencegahnya. 

APRESIASI POSITIF 

Dengan berbagai kondisi hambatan untuk berkumpul di atas, maka budaya bersepeda adalah cara aman yang bisa dilakukan. Para pesepeda bisa datang dari mana saja. Untuk berkumpul atau bersilaturahmi bersama. Kemudian, “janjian” untuk kumpul, sebagai contoh di sebuah pinggir jalan atau tempat yang aman.   

Dengan budaya bersepeda, maka timbul anggapan banyak orang untuk memberikan apresiasi postif. Karena, meskipun budaya bersepeda sangatlah menyehatkan. Tentu, harus diimbangi dengan penerapan Protokol Kesehatan Covid-19 dari diri pesepedanya. 

Tetapi, ketika tidak mengindahkan  Protokol Kesehatan Covid-19 seperti memakai masker, menjaga jarak (Physical Distancing) dan mencuci tangan sehabis bersepeda. Maka, kemungkinan penyebaran Covid-19 bisa terjadi. 

Jika, anda kuat dan tahan terhadap Covid-19, maka Covid-19 akan menyerang ke anggota keluarga atau tetangga lainnya. Yang melakukan kontak langsung dengan anda. Ingat, pergerakan Covid-19 tidak bisa terdeteksi. 

Jadi, manfaat dari budaya bersepeda bukan hanya untuk keamanan dan kenyamanan diri anda saja. Tetapi, budaya bersepeda sejatinya untuk kesehatan bersama.   

Anda boleh memiliki imunitas yang kuat setelah bersepeda. Tetapi, bagaimana dengan orang lain? Tetaplah menerapkan Protokol Kesehatan Covid-19. Meskipun, budaya bersepeda terjadi secara tiba-tiba saat Pandemi Virus Corona. Keep health in yourself and others during Covid-19 Pandemic. Cheers!      


Saturday, June 20, 2020

Inilah Spot Menarik di Trotoar Jalanan Yogyakarta


Salah satu sudut trotoar (pedestrian) jalan dari Perempatan Gedung BNI 1946 hingga  alun-alun Yogyakarta (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Dinda, di manakah kau berada.

Rindu aku ingin jumpa ..

 

 

Lagu yang hits tahun 1990-an ini terdengar sayup-sayup dari sebuah toko. Lagu yang dipopulerkan oleh KLA Project itu sepertinya memahami kerinduan saya akan Kota Gudeg Yogyakarta. Kota yang mempunyai banyak spot menarik. Trotor jalanan (pedestrian jalanan), dari perempatan jalan Malioboro-Gedung BN1 1946 yang fenomenal itu selalu membuat saya rindu. 

Sungguh, Yogyakarta selalu membuat saya rindu untuk mengunjunginya kembali. Kota Pelajar yang pernah saya tempati selama 2 tahun ini. Telah memberikan kenangan indah, yang selalu ingin dikunjungi kembali. Kearifan lokal kota Yoyakarta tetap terjaga hingga kini. Yogyakarta memang kota Istimewa. 

Di era digital, Kota Yogyakarta berbenah diri untuk memberikan kenangan dan rindu bagi para pelancong. Agar, mereka mau datang kembali mejenguknya. Salah satu spot menarik yang ada di Kota Yogyakarta adalah sepanjang jalan dari perempatan Gedung BNI 1946 hingga ke alun-alun Yogyakarta. 

Anda bisa menikmati karya seniman Yogyakarta yang memberikan decak kagum. Berbagai patung dan sign (penanda) informasi menghiasi sepanjang trotoar (pedestrian) kanan dan kiri jalan tersebut.   

Dekat Museum Sonobudoyo, anda bisa menemukan kursi santai  yang dilengkapi dengan patung ala seniman. Dan, patung tersebut terlihat mengangkat kaki kanannya di kursi. Kedua tangannya terlihat seperti menunjukan sebuah buku informasi kepada orang yang lewat. 

Saya pun tidak melewatkan momen tersebut. Seakan-akan saya sedang diberi informasi menarik. Saya terdiam dan memperhatikan informasi yang dia sampaikan. Terlihat seperti sungguhan, bukan?  

 

Patung orang yang sedang menunjukan buku untuk sebuah informasi (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Di trotoar jalan ini, anda juga bisa menikmati berbagai sign atau penanda informasi tentang posisi anda. Serta, jalan yang harus anda lewati, jika hendak menuju ke tempat wisata tertentu. Tampilan sign yang ciamik itu juga menjadi spot yang bagus buat ajang swafoto (selfie) anda. 

Dekat penanda informasi tersebut, saya melihat seperti tempat parkir sepeda. Di mana, beberapa celah bisa digunakan untuk memasang roda sepeda bagian depan. Saya melihat seperti tempat parkir sepeda di Kota Amsterdam Belanda. Yang sering saya lihat di berbagai media. Tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah aman saat memarkir sepeda di tempat tersebut. Tanyalah pada rumput yang bergoyang.

 

Bentuk sign (penanda) informasi yang menarik dan tempat parkir sepeda seperti di Belanda (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Jika anda tinggal atau pernah ke Yogyakarta, khususnya kawasan jalan Malioboro hingga alun-alun Yogyakarta. Maka, pedestrian menjadi spot instagrammable on the road (tempat di trotoar jalanan yang bagus untuk diposting di akun Instagram). Oleh sebab itu, Pemerintah Kota atau Pemprov DI Yogyakarta membangun beberapa kursi santai yang ada di sepanjang pedestrian tersebut. 

Yang menarik adalah tersedianya penghalang (pagar kecil) yang terbuat dari beton untuk menghalangi kursi. Penghalang ini terletak di bagian belakang kursi. Dengan demikian, saat anda santai, maka anda tidak merasa terganggu oleh orang lain yang lalu-lalang.

 

Duduk santai di salah satu kursi yang terhalang pagar beton di bagian belakangnya (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Spot selanjutnya yang menarik tentu alun-alun Yogyakarta. Bukan hanya kondisi alun-alun yang menarik saya. Tetapi, penunjuk arah yang bisa menarik perhatian banyak orang. Dengan mengabadikan kenangan di dekat penunjuk jalan tersebut. Maka, mampu memberi informasi kepada banyak orang tentang kondisi yang ada. Karena, visualisasi sudah memberikan informasi yang jelas. 

Dengan mengabadikan penunjuk jalan juga memberikan atau membangkitkan kenangan bagi siapapun yang melihatnya. Bahkan, bisa memberikan banyak persepsi orang, seperti:

 

“Oh, jalan itu yang mau ke Keraton Yogyakarta, ya”

“Wah, saya malah pernah muterin alun-alun Yogyakarta”

“Ke kanan itu yang langsung ke Gedung BNI 1946, kan?”

“Aduh, jadi kangen deh. Pengin ke Yogyakarta lagi”

“Kalau lihat foto ini jadi pengin ngerasain Gudeg Mbok Sum lagi”

“Jadi ingat mantan yang kuliah di UGM”

 

Dan, masih banyak ungkapan dan persepsi banyak orang ketika melihat sepenggal foto tentang Yogyakarta. Ada rindu dan kenangan indah yang mesti diwujudkan kembali. 

 

Pose di salah satu penunjuk jalan alun-alun Yogyakarta (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Itulah sebabnya setiap orang tidak mudah untuk melupakan mantannya. Karena, banyak kenangan indah yang telah tercipta. Kenangan yang memberikan kehidupan siapapun makin berwarna. 

Sama halnya, ketika anda rindu akan Yogyakarta.  Rindu ingin menyambanginya kembali. Atau, napak tilas tentang kenangan indah yang telah tertinggal. Anda seperti terbawa lirik lagu Kla Project di atas “Dinda, di manakah kau berada, rindu aku ingin jumpa”. 

Karena, obatnya rindu adalah KETEMU. Maka, sambangilah Yogyakarta kembali. Agar, kerinduan itu terpuaskan kembali. Apalagi, Yogyakarta mempunyai segudang tempat yang instagrammable. Sulit rasanya, jika anda melewatinya. Spot indah sepanjang pedestrian di perempatan Gedung BN1 1946 hingga alun-alun Yogyakarta bisa mengobati kerinduan anda. 

Saya pun tidak berbeda jauh dengan anda. Kerinduan untuk menyambang Yogyakarta kembali tidak terbantahkan. Kangen untuk menikmati spot-spot yang indah. Kangen logat Jawa halus yang keluar dari mulut masyarakat Yogyakarta yang ramah. Kapan? Insya Allah, jika Pandemi Virus Corona sudah berakhir. Atau, jika Kota Yogyakarta sudah pulih dan membuka aktifitas pariwisata secara normal.

 

“Nyuwun sewu mas, sumonggo nitih becak kemawon. Yen, panjenengan bade dateng alun-alun kaliyan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat”

(Mohon maaf mas, silahkan naik becak saja. Jika, anda ingin ke alun-alun dan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat).


Cegah Dampak Buruk Alergi Pada Anak dengan ASI dan Nutrisi Lengkap & Seimbang

Mencegah dampak buruk alergi pada anak dengan ASI dan Nutris Lengkap & Seimbang (Sumber: Danone Indonesia/diolah)     Tanggal 25 Jan...