Friday, August 19, 2022

Setia Kawan: Perusahaan Pembuat Komponen Kapal & Aksesoris Klasik Dari Tegal yang Wajib Kalian Tahu

 

Desain jendela kapal produk dari Setia Kawan Tegal

Desain pintu kapal produk Setia Kawan Tegal yang menjadi hiasan unik pada rumah tinggal (Sumber: Setia Kawan)



Empat (4) hari yang lalu, saya menyempatkan diri untuk reuni atau bersilaturahmi dengan teman SMA. Saya mampir di rumahnya di kawasan Talang Kabupaten Tegal Jawa Tengah. Ada hal yang menarik dari desain rumah yang ditinggali tersebut. Ada hiasan jendela yang didesain seperti jendela kapal laut. 
Bagi orang awam, desain jendela kapal laut tersebut sungguh nyeleneh. Tetapi, bagi penggemar arsitektur, maka desain jendela ala jendela kapal tersebut sangatlah menarik. Bahkan, terkesan unik seperti gaya klasik atau retro. Bahkan, desain tersebut mampu menjadi perhatian banyak orang.


 
Model jendela kapal
Salah satu contoh desain klasik dan retro yang ada pada hunian, bukan hanya pada kapal laut (Sumber: Setia Kawan)


Perlu anda ketahui bahwa Tegal bukan hanya dikenal dengan Warung Tegal (Warteg) dan bahasa ngapaknya yang bikin ketawa banyak orang. Tetapi, Tegal telah menghasilkan produk-produk lokal berbahan metal yang mendunia. Jangan kaget, jika Tegal sering dikenal Tokyo-nya Indonesia. 
Salah satu perusahaan lokal yang mampu menghasilkan produk-produk bermutu tinggi adalah SETIA KAWAN. Saya sempat mampir ke workshop atau bengkel secara langsung. Dan, melihat beberapa produk yang dihasilkan perusahaan tersebut. 
Workshop yang didominasi warna biru dan tidak melebihi luasan lapangan futsal. Dan, bahkan workshop tersebut terletak tidak jauh dari dampar sepur atau jalur rel kereta api. Tetapi, dari tempat inilah, SETIA KAWAN mampu menghasilkan produk yang dibutuhkan banyak orang. Terutama, produk komponen kapal. 
Bukan itu saja, produk-produk tersebut justru menjadi magent banyak orang. Di mana, produk bisa diaplikasikan pada rumah tinggal atau tempat usaha, seperti cafĂ© atau restoran. Apalagi, desain unik sedang digandrungi banyak orang yang bisa menjadi viral di medsos.     

JENDELA KAPAL
Seperti yang telah saya bahas di atas, bahwa ikon produk dari SETIA KAWAN adalah Jendela Kapal. Mengapa? Karena, jenis produk ini sudah bisa diaplikasikan dalan berbagai tempat. Baik di kapal laut sebagai target utama maupun di hunian rumah tinggal dan tempat ussaha. Yang diyakinkan akan menjadi booming di masa depan. 
Produk Jendela Kapal yang pertama kali anda harus tahu adalah kelompok dari SHIP SIDE SCUTTLES. Kelompok produk ini terdiri dari:: 
1. Alumunium Fix & Hinge ukuran 8” - 12"
2. Kuningan Fix & Hinge ukuran 8” - 12" 
3. Alumunium & Kuningan Sky Light

 
Alumunium Fix & Hinge
Beberapa model Alumunium Fix & Hinge (Sumber: Setia Kawan)
 

 
Alumunium Fiv & Hinge
Beberapa model Alumunium Sky Light (Sumber: Setia Kawan)


Sebagai informasi bahwa produk Alumunium Sky Light bukan hanya diproduksi dari bahan alumunium. Tetapi, SETIA KAWAN memproduksinya dari bahan kuningan. 


 
Kuningan Sky Light
Model Kuningan Sky Light (Sumber: Setia Kawan)


Tentu, harga produk lebih mahal dari bahan alumunium. Menurut Owner SETIA KAWAN Bapak Imron Rosyadi, harga produk tersebut yang berbahan alumunium berkisar pada harga Rp800 ribu hingga 1 jutaan. Sedangkan, yang berbahan kuningan berkisar pada harga Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Saya yakin, jika anda memsan dalam jumlah besar maka sang owner berbaik hati memberikan harga yang spesial.  
Kelompok produk kedua SETIA KAWAN adalah SHIP WINDOWS (JENDELA KAPAL). Produk yang dihasilkan terdiri dari: 
1. Alumunium Fix & Hinge.
2. Kuningan Fix & Hinge.

 
Alumunium Fix & Hinge
Alumunium Fix & Hinge model tanpa bukaan (Sumber: Setia Kawan)



Alumunium Fix & Hinge
Alumunium Fix & Hinge (Sumber: Setia Kawan)


Bukan hanya berbahan alumunium, Alumunium Fix & Hinge juga diproduksi dengan berbahan kuningan. Tampil lebih luxury dan elegan. Yang menarik, jendela kapal model ini akan makin menjadi perhatian banyak orang, ketika diaplikasikan di hunian rumah tinggal atau tempat usaha dan bisnis. 

 
Kuningan Fix & Hinge
Kuningan Fix & Hinge (Sumber: Setia Kawan)


PINTU KAPAL
Selain produk jendela kapal, SETIA KAWAN juga memproduksi MARINE DOOR (PINTU KAPAL). Produk-produk yang dihasilkan dalam kelompok ini, seperti: 
1. Watertight Door.
2. Weathertight Door.
Berbeda dengan kelompok produk jendela kapal, maka material yang digunakan untuk pembuatan produk pintu kapal berupa alumunium dan plat besi.


 
Watertight Door
Watertight Door (Sumber: Setia Kawan)


Tidak hanya sampai di produk jendela dan pintu kapal, ternyata SETIA KAWAN juga memproduksi model lainnya. Produk-produk lain yang dihasilkan oleh SETIA KAWAN adalah Marine Hose Connection Fitting. Adapun, jenis-jenis produk yang dihasilkan dari kelompok produk tersebut adalah:
1. Coupling (Type: Nakajima diameter 1.5”-2.5” & Machino diameter 1.5”-2.5”). 
2. Adaptor (Type: Nakajima diameter 1.5”-2.5” & Machino diameter 1.5”-2.5”). 
3. Base Fitting (Type Nakajima dan Stroz).
4. Nozzle (Type: Nakajima diameter 1.5”-2.5” & Machino diameter 1.5”-2.5”). 
5. Hydrant Valve (Type: Screwed End diameter 1.5”-2.5”). 
6. Water Monitor (Type: Hand Operated size 40A-65A Nozzle).
Masih ada lagi produk lain? Wakwaw! Ternyata masih banyak produk lain yang dihasilkan. Selain produk-produk yang telah disebutkan di atas, ada beberapa produk lain yang mesti anda ketahui, yaitu:
1. Deck End Roller.
2. Fairlead.
3. Small Hatch.
4. Air Vent Head.
5. Sonding Pipe Head.
6. Close Chock.
7. Manhole.
8. Butterfly Nut.
9. Handel Pintu Kedap.
10. Dobble Bollar.

 
Produk Setia Kawan Tegal
Beberapa produk lain dari SETIA KAWAN Tegal (Sumber: Setia Kawan)


Sebagai bukti respon pasar yang memilih produk SETIA KAWAN. Maka, banyak perusahaan yang telah melakukan kerja sama di antaranya: 
1. PT. Banyu Bahari.
2. PT. JMI.
3. PT. Adiluhung Saranasegara. 
4. PT. DKB.
5. PT. DRU.
6. PT. YWTS.
7. PT. DBN.

Jika anda ingin melakukan kerjasama dan mendapatkan informasi lebih lengkap. Anda bisa komentar artikel ini atau hubungi langsung:

Workshop “SETIA KAWAN”
Alamat: Jl. Umar Asnawi RT 011/RW 03 Kebasen, Talang, Kabupaten Tegal – Jawa Tengah
CP. Imron Rosyadi 0815 4802 0619
Faridah K. 0815 4220 3620
Faqih M.R. 0857 6071 4336


Thursday, August 18, 2022

Memperkuat Sinergi Otoritas untuk Mengakselerasi Pemulihan Intermediasi Akibat Dampak Pandemi Covid-19

 

Pemulihan Intermediasi perbankan pasca Pandemi Covid-19
Intermediasi perbankan mulai pulih pasca Pandemi Covid-19 (Sumber: Sindonews.com/diolah)

Memperkuat Sinergi Otoritas untuk Mengakselerasi Pemulihan Intermediasi Akibat Dampak Pandemi Covid-19

Oleh Casmudi *)

 

 

PENDAHULUAN

Pandemi Covid-19 telah melanda dunia, khususnya bangsa Indonesia lebih dari 2 tahun lamanya. Laju perekonomian mengalami kelumpuhan. Kegiatan ekspor dan impor terhenti. Banyak perusahaan yang tutup atau melakukan efisiensi usaha, untuk mengurangi pengeluaran berkala. Namun, tidak sedikit perusahaan yang terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi karyawannya.

Sektor perbankan menjadi sektor yang tetap diminati masyarakat. Karena, kegiatan bank yang memberikan banyak manfaat. Apostolik et.al (2009) dalam Renniwaty Siringoringo (2012) membagi 3 kegiatan inti bank, yaitu: 1) deposit collection (proses penghimpunan dana dari masyarakat berupa giro, tabungan dan deposito berjangka); 2) payment services (memberikan jasa keuangan, seperti lalu lintas pembayaran dan proses transfer uang; 3) loan underwriting (menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk kredit).

Meskipun, laju perekonomian mengalami penurunan tajam, tetapi kebutuhan masyarakat akan dana segar tidak bisa dihindarkan. Bank menjadi tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan kredit atau pinjaman. Tetapi, perbankan sebagai lembaga perantara (intermediasi), penuh kehati-hatian dalam pemberian kredit. Tentu, dengan tujuan untuk menghindari kondisi gagal bayar para debitur.

Bank dalam melakukan tugas intermediasi, di mana sumber dana perbankan berasal dari masyarakat. Sehingga, secara moral bank harus menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit (Taswan, 2010:6) dalam (Renniwaty Siringoringo, 2017)

Apalagi, dalam kondisi pandemi Covid-19, maka bank menjadi institusi untuk intermediasi keuangan, di mana proses pembelian surplus dana dari sektor usaha, pemerintah maupun Rumah Tangga (RT), untuk disalurkan kepada unit ekonomi yang mengalami defisit karena terhentinya operasional usaha.

Bank juga membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Seperti, apa yang diungkap oleh Renniwaty Siringoringo (2017), fungsi bank sebagai lembaga intermediasi, terutama dalam penyaluran kredit mempunyai peranan yang sangat penting bagi pergerakan perekonomian secara keseluruhan dan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi.

Kita memahami bahwa pemberian kredit merupakan aktivitas bank yang paling utama dalam menghasilkan keuntungan. Tetapi, pemberian kredit yang tidak diiringi dengan sikap kehati-hatian akan berakibat meningkatkan risiko terbesar kepada bank. Salah satu kondisi yang dikhawatirkan banyak kalangan adalah terganggunya Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Jika, tidak diantisipasi dengan baik, maka bisa berakibat menciptakan Risiko Sistemik dalam sistem keuangan.

Sama halnya yang diungkapkan oleh Rasbin (2021), pandemi Covid-19 berdampak terhadap kinerja dan kapasitas debitur bank dalam memenuhi kewajiban pembayaran kredit atau pinjaman. Jika kondisi tersebut tidak diantisipasi akan meningkatkan risiko kredit, yang berpotensi mengganggu kinerja perbankan dan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Di mana, terganggunya SSK memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Beruntung, pemerintah dan otoritas terkait tidak tinggal diam. Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melakukan kebijakan makroprudensial agar Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) aman terjaga. Juga, Bank Indonesia melakukan sinergi bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya, yaitu: Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Kementerian Keuangan RI.

KSSK dan otoritas terkait secara extraordinary action bekerja tiada henti. Mereka melakukan sinergi secara bilateral maupun tripartit untuk melakukan pemulihan intermediasi karena dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian dan sistem keuangan. Sinergi otoritas yang dilakukan secara harmoni telah menghasilkan pemulihan intermediasi. Bukti nyata dari sinergi otoritas tersebut adalah realisasi pertumbuhan ekonomi domestik yang mencapai 7,07% (yoy) pada triwulan II 2021.

Bahkan, LPS dalam siaran persnya tertanggal 2 Januari 2022 menyatakan bahwa Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) triwulan IV 2021 dalam kondisi normal seiring penurunan kasus Covid-19 dalam negeri yang mendorong peningkatan aktivitas ekonomi. Sinergi otoritas tersebut dihelat dalam Rapat Berkala KSSK I tahun 2022 secara virtual tanggal 28 Januari 2022. Dihadiri oleh Menteri Keuangan RI, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Rapat membahas kesepakatan komitmen bersama untuk terus memperkuat sinergi guna menjaga SSK dan momentum pemulihan ekonomi.

PEMBAHASAN

A.   Kebijakan Makroprudensial

Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) selalu menjadi isu penting. Apalagi, ketika bangsa Indonesia menghadapi pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kondisi yang paling dikhawatirkan oleh bangsa Indonesia adalah terjadinya risiko sistemik. Di mana, peningkatan ketidakpastian dalam sistem keuangan dapat berakibat pada hilangnya kepercayaan publik, sehingga sistem keuangan tidak dapat berfungsi dengan baik dan mengganggu jalannya perekonomian.

Ketika elemen sistem keuangan seperti korporasi, UMKM dan Rumah Tangga (Household) kehilangan kepercayaan pada institusi keuangan. Maka, bisa menjadi sumber risiko sistemik karena kegagalan korporasi, permasalahan di sistem pembayaran. Bahkan, risiko sistemik bisa berasal dari gangguan di luar sistem keuangan.

Kesiapan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang bisa mengganggu Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) karena adanya paket kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya.

Paket kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia adalah Kebijakan Makroprudensial. Kebijakan Makroprudensial berorientasi pada sistem keuangan secara keseluruhan dan memitigasi risiko sistemik. Yaitu, potensi instabilitas sebagai akibat terjadinya gangguan yang menular.

Adapun, beberapa kebijakan makroprudensial yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia adalah: 1) Transparansi suku bunga; 2) Penurunan uang muka kredit/pembiayaan kendaraan; 3) Pelonggaran LTV/FTV (Loan to Value/Financing to Value) properti dan KPR Inden; 4) RIM (Rasio Intermediasi Makroprudensial); dan 5) RPIM (Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial).

Bukan hanya Bank Indonesia selaku anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang mengeluarkan paket kebijakan untuk pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19. Anggota lain KSSK juga mengeluarkan paket kebijakan dalam rangka pemulihan intermediasi untuk pembiayaan dunia usaha. Paket kebijakan yang dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah penjaminan simpanan, seperti: 1) Program penjaminan simpanan; 2) Kebijakan tingkat bunga penjaminan yang rendah; 3) Relaksasi denda keterlambatan pembayaran premi penjaminan; dan 4) Penanganan solvabilitas bank.

Sedangkan, paket kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah Kebijakan Mikroprudensial yang meliputi: 1) Relaksasi restrukturisasi; 2) Penurunan bobot risiko kredit (ATMR); 3) Mendorong penyaluran kredit/pembiayaan untuk sektor kesehatan; 4) Peningkatan akses keuangan UMKM; dan 5) Stabilisasi pasar modal.

Tidak kalah penting, paket kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan RI adalah program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021, terdiri dari:

1) Belanja kesehatan; 2) Perlindungan sosial; 3) Stimulus pajak; 4) Subsidi bunga; 5) Penjaminan kredit; dan 6) Penempatan Dana.

B.   Sinergi Otoritas

Bank Indonesia selaku bank sentral tiada henti menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) tetap aman terjaga. Sektor perbankan diawasi sangat ketat dalam melakukan aktivitas intermediasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Berbagai paket kebijakan dan sinergi dengan otoritas lainnya dilakukan untuk pemulihan intermediasi.

Sebagai informasi, sinergi Bank Indonesia tidak hanya terbatas pada lembaga anggota KSSK. Tetapi, menciptakan sinergi makin luas dengan kementerian/lembaga dan/atau otoritas lain jika diperlukan. Dengan adanya sinergi dengan lembaga di luar KSSK, maka bisa tercipta keselarasan kebijakan. Di mana, kebijakan tersebut mampu mendukung efektivitas implementasi dan tercapainya tujuan dari masing-masing kebijakan. Muaranya adalah menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK), karena adanya pemulihan intermediasi yang berakibat pada peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Aktivitas intermediasi perbankan penuh kehati-hatian atau sangat ketat dalam pemberian kredit atau pinjaman kepada pelaku usaha dan Rumah Tangga (RT). Baik, untuk suntikan dana usaha maupun untuk modal kerja dan konsumsi. Sehubungan dengan kondisi intermediasi tersebut, maka seluruh kebijakan Bank Indonesia diarahkan untuk meningkatkan intermediasi perbankan dan mendukung pemulihan ekonomi.

Demi menciptakan kondisi tersebut, maka sinergi otoritas antara Bank Indonesia dan OJK dilakukan melalui Forum Koordinasi Makroprudensial dan Mikroprudensial (FKMM). Bank Indonesia dan OJK telah menyusun Perjanjian Kerjasama (PKS) terkait Pemberian Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek dan Pembiayaan Likuiditas Jangka Pendek Syariah (PLJP dan PLJPS). Di mana, PKS tersebut merupakan ketentuan pelaksanaan dari Keputusan Bersama Bank Indonesia dan OJK pada Oktober 2020, untuk memperkuat pelaksanaan fungsi Lender of the Last Resort oleh Bank Indonesia dan pelaksanaan fungsi pengawasan perbankan oleh OJK.

Sinergi antara Bank Indonesia dan LPS telah dilakukan secara intensif dan berkelanjutan seperti pelaksanaan UU Nomor 2 Tahun 2020 dan PP No. 33/2020. UU Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-

19) dan/atau dalam rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan menjadi Undang Undang.

Implementasi lain dari sinergi Bank Indonesia dan LPS adalah pelaksanaan uji coba transaksi repo SBN LPS kepada Bank Indonesia. Uji coba tersebut dilakukan dengan mekanisme transaksi riil dalam rangka memastikan kehandalan prosedur operasional termasuk kesiapan infrastruktur di Bank Indonesia dan LPS.

Sinergi tersebut juga dilakukan dalam bentuk penyelarasan kebijakan pelaporan data Single Customer View (SCV) dengan relaksasi kebijakan Bank Indonesia untuk pelaporan perbankan. Tidak berhenti di sini, Bank Indonesia juga memberikan dukungan peningkatan kompetensi dan kapabilitas pegawai LPS di bidang makroprudensial dan moneter melalui program magang pegawai.

Menarik, sinergi otoritas tidak hanya dilakukan secara bilateral, tetapi dilakukan dengan sinergi tiga lembaga (tripartit), antara Bank Indonesia, OJK dan LPS untuk mendukung bauran kebijakan dan harmonisasi kebijakan ketiga lembaga. Demi memaksimalkan sinergi, maka sinergi tripartit tersebut dilakukan melalui FKMM dan Resolusi (FKMMR) di level pimpinan lembaga, sebagai forum pembahasan likuiditas bank-bank dalam pemantauan dan upaya harmonisasi kebijakan.

OJK dan LPS juga mendukung Bank Indonesia melakukan perpanjangan rencana implementasi Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) secara penuh. Dari semula Juli 2021 menjadi Januari 2022 untuk meningkatkan kesiapan dan kualitas LBUT yang terkendala akibat dampak pandemi COVID-19.

Harus diakui bahwa seiring melandainya kasus Covid-19 karena program vaksinasi nasional, maka aktivitas ekonomi mulai bangkit kembali. Menurut Bank Indonesia (2021), sejak program vaksinasi awal 2021 yang diikuti dengan penurunan kasus Covid-19 dan peningkatan mobilitas menopang pemulihan ekonomi Indonesia, Indeks Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK) terjaga dalam zona normal dan Indeks Kerentanan Sistem Keuangan (IKSK) membaik. Keberhasilan pencapaian tersebut tidak terlepas dari sinergi kebijakan dan koordinasi yang erat antar Pemerintah, Bank Indonesia dan otoritas keuangan lainnya.

C.   Pemulihan Intermediasi

Pandemi Covid-19 menggerus pertumbuhan ekonomi, khsususnya sektor perbankan dalam melakukan tugas intermediasi. Perlu adanya tindakan pemulihan intermediasi agar kualitas kredit tetap baik. Para debitur tetap lancar dalam melunasi kredit atau pinjaman. Dengan kata lain, tidak terjadi adanya risiko kredit, suatu risiko akibat kegagalan atau ketidakmampuan nasabah dalam mengembalikan jumlah pinjaman yang diterima dari bank berikut dengan bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan/disepakati bersama (Renniwaty Siringoringo, 2017).

Memperkuat sinergi otoritas untuk mengakselerasi pemulihan intermediasi agar tetap mendapatkan kepercayaan publik. Sektor perbankan tetap menjalankan fungsi dan peranan intermediasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena dampak pandemi Covid-19. (Saunders & Garnet, 2008) dalam (Renniwaty Siringoringo, 2017) mengemukakan bahwa fungsi dan peranan intermediasi keuangan, yaitu: (1) berfungsi sebagai perantara (broker), (2) mengubah asset (asset transformer) (3) berperan sebagai pengawas (monitoring) (4) berperan menghasilkan informasi (information producer).

Perlu dipahami bahwa penurunan intermediasi perbankan saat pandemi Covid- 19 dikarenakan sikap kehati-hatian perbankan dalam memberikan kredit. Oleh sebab itu, agar terjadi pemulihan intermediasi dibutuhkan kebijakan yang memberikan peluang dan keuntungan di kedua belah pihak.

Sugiarto, Agus (2022) menyatakan bahwa sebelum pandemi Covid-19 terjadi, kredit perbankan melaju cukup deras, yaitu mencapai angka Rp 5.712 triliun pada bulan Maret 2020. Tetapi, akibat dampak pandemi posisinya terus mengalami kontraksi hingga mencapai posisi terendah Rp 5.397 triliun pada bulan Januari 2021. Melalui intermediasi perbankan. Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS sesuai kewenangan masing-masing mengimplementasikan kebijakan untuk memberikan keyakinan perbankan dalam menyalurkan kredit/pembiayaan, mendukung likuiditas industri perbankan, menjaga kinerja perbankan, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan (LPS, 2022).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (POJK No. 11/POJK.03/2020) yang mengatur mengenai ketentuan restrukturisasi kredit sebagai dampak pandemi Covid-19 dengan tujuan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan perbankan dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Kurang lebih 100 bank melakukan restrukturisasi kredit yang melibatkan 7,53 juta debitur, dengan total outstanding senilai Rp932,6 triliun.

Dengan adanya Peraturan OJK tersebut, sektor perbankan dapat melakukan restrukturisasi kredit terhadap debitur yang kesulitan melunasi kredit atau pinjamannya. Restrukturisasi kredit dapat dilakukan melalui 1) penurunan suku bunga kredit; 2) perpanjangan jangka waktu kredit; 3) pengurangan tunggakan pokok dan bunga kredit; 4) penambahan fasilitas kredit; dan 5) konversi kredit melalui penyertaan modal sementara.

Kabar gembira, OJK memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit hingga 2023 untuk menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK). Restrukturisasi kredit memberikan ruang bagi perbankan untuk menata arus kas (cash flow). Perlu dipahami, pertumbuhan penyaluran kredit dipengaruhi oleh ukuran bank (asset) dan modal bank (leverage ratio) yaitu dengan penambahan ekuitas (modal sendiri) (Opiela, 2000). Di sisi lain, restrukturisasi kredit membuat debitur memiliki kesempatan untuk menata usahanya agar tetap melunasi kreditnya.

Restrukturisaasi kredit memberikan ruang pemulihan intermediasi ke arah positif. Sebagai informasi, pertumbuhan intermediasi didukung oleh kapasitas perbankan yang memadai dan membaiknya persepsi risiko perbankan. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebagai sumber dana utama perbankan yang tinggi dan

Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) yang masih rendah sebesar 79,49% mencerminkan masih adanya ruang bagi perbankan untuk melakukan aktivitas intermediasi melalui penyaluran kredit.

Debitur yang menjadi target untuk bangkit dengan adanya restrukturisasi kredit adalah UMKM. Penjaminan kredit UMKM yang dilaksanakan sejak tahun 2020 telah menjamin total Rp53,41 triliun bagi 2,45 juta debitur. Pada tahun 2021, KUR sebesar Rp284,9 triliun telah disalurkan kepada 7,51 juta debitur. Tambahan subsidi bunga KUR dinikmati oleh 8,45 juta pelaku UMKM. Sedangkan, subsidi bunga non-KUR dinikmati oleh 8,33 Juta pelaku UMKM.

Dengan adanya program restrukturisasi kredit, pertumbuhan penyaluran kredit mengalami peningkatan yang signifikan. Kondisi tersebut menunjukan bahwa akselerasi pemulihan intermediasi berjalan pada jalur yang tepat. Pertumbuhan kredit tahun 2021 terjadi di beberapa elemen sistem keuangan, seperti korporasi, UMKM dan Rumah Tangga (RT).

Menurut Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono Bank Indonesia (2021) menyatakan intermediasi perbankan menunjukkan perbaikan, seperti terlihat pada kontraksi yang menurun, tercatat sebesar -1,28% (yoy) pada Mei 2021. Selama Semester I 2021, kredit tumbuh perlahan hingga berhasil mencapai angka positif 0,59% (yoy) pada akhir semester 2021.

Posisi kredit perbankan pada akhir tahun 2021 tersebut mencapai angka Rp 5.755,7 triliun, lebih tinggi dibandingan akhir tahun 2020 yang hanya mencapai Rp 5.481,5 triliun. Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit modal kerja tumbuh sebesar 6,1% (yoy), kredit investasi 4,30% (yoy), dan kredit konsumsi 3,2% (yoy).

Bank Indonesia (2021) memberikan analisanya bahwa pertumbuhan penyaluran kredit ditopang oleh penyaluran kredit kepada sektor yang relatif tidak terdampak langsung dan memiliki prospek yang baik di tengah pandemi Covid-19. Serta, memiliki tingkat risiko kredit yang rendah, seperti: sektor pertanian, pengangkutan, jasa sosial, dan sektor Lain-lain.

Pemulihan intermediasi perbankan tersebut didukung oleh beberapa faktor. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per Desember 2021 mencapai 118,3, meningkat dibandingkan dengan Desember 2020 sebesar 96,5 yang masih berada di zona kontraksi. Kenaikan indeks IKK tersebut sekaligus memberikan indikasi bahwa keyakinan konsumen sudah memasuki zona optimisme terhadap membaiknya masa depan perekonomian nasional.

Jumlah pencairan kredit baru yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelunasan yang cenderung menurun, ditambah dengan penurunan kelonggaran tarik kredit (undisbursed loan), mengindikasikan adanya peningkatan permintaan pembiayaan. Bahkan, permintaan kredit Rumah Tangga (RT) meningkat, terutama Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Masyarakat mulai mengalihkan dana RT pada aset properti, menyusul rendahnya suku bunga deposito. Apalagi, adanya pelonggaran rasio Loan to Value (LTV) dan stimulus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk pembelian rumah.

Akselerasi pemulihan intermediasi mengakibatkan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Menurut siaran pers Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tertanggal 2 Pebruari 2022, laju inflasi tetap rendah dengan IHK 2021 di level 1,87% (yoy), di bawah kisaran sasaran 3,0%±1%. Surplus neraca perdagangan berlanjut di Desember 2021 dan secara akumulatif di tahun 2021 mencapai USD35,34 miliar. Cadangan devisa berada pada level USD144,9 miliar, setara 8 bulan impor barang dan jasa.

PENUTUP

Dari pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.             Kesiapan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang bisa mengganggu Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) adalah adanya paket kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya, yaitu Kebijakan Makroprudensial.

2.             Kebijakan Makroprudensial berorientasi pada sistem keuangan secara keseluruhan dan memitigasi risiko sistemik. Yaitu, potensi instabilitas sebagai akibat terjadinya gangguan yang menular.

3.             Bank Indonesia selaku bank sentral tiada henti menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) tetap aman terjaga. Sektor perbankan diawasi dengan ketat dalam melakukan aktivitas intermediasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

4.             Sinergi Bank Indonesia tidak hanya terbatas pada lembaga anggota KSSK. Tetapi, menciptakan sinergi makin luas dengan kementerian/lembaga dan/atau otoritas lain jika diperlukan.

5.             Bank Indonesia, BI, OJK, LPS dan Kemenkeu RI sesuai kewenangan masing- masing mengimplementasikan kebijakan untuk memberikan keyakinan


perbankan dalam menyalurkan kredit/pembiayaan, mendukung likuiditas industri perbankan, menjaga kinerja perbankan, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan (LPS, 2022).

6.             Memperkuat sinergi otoritas untuk mengakselerasi pemulihan intermediasi agar tetap mendapatkan kepercayaan publik. Sektor perbankan tetap menjalankan fungsi dan peranan intermediasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena dampak pandemi Covid-19.

7.             Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (POJK No. 11/POJK.03/2020) yang mengatur mengenai ketentuan restrukturisasi kredit sebagai dampak pandemi COVID-19 dengan tujuan untuk menjaga Stabilitas Sistem Keuangan perbankan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

8.             Akselerasi pemulihan intermediasi mengakibatkan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Menurut siaran pers Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tertanggal 2 Pebruari 2022, laju inflasi tetap rendah dengan IHK 2021 di level 1,87% (yoy), di bawah kisaran sasaran 3,0%±1%. Surplus neraca perdagangan berlanjut di Desember 2021 dan secara akumulatif di tahun 2021 mencapai USD35,34 miliar. Cadangan devisa berada pada level USD144,9 miliar, setara 8 bulan impor barang dan jasa.

DAFTAR PUSTAKA

Apostolik, Richard., Donohue C., Went, Peter (2009), Foundation of Banking Risk : An overview of Banking, Banking Risks, and Risk-based Banking Regulation, John Wiley & Sons, Inc

Bank Indonesia (2021). Bersinergi Mendorong Intermediasi, Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi. Jakarta: Departemen Kebijakan Makroprudensial, Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 37 September 2021.

Farhan, Alhmad, dkk. (2021). Kebijakan Retrukturisasi Kresit Sebagai Upaya Stimulus Ekonomi Dampak Pandemi Covid-19. Diakses dari                       https://blclawugm.com/ kebijakan-restrukturasi-kredit-sebagai-upaya-stimulus-ekonomi-dampak-pan demi-covid-19/

Kishan, Rudy P, Opiela, Timothy P. (2000). Bank Size, Bank Capital and the Bank Lending Channel. Journal of Money, Credit and Banking, 2000, Vol. 32 No. 1 pp.121-141

LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) (2022). Sinergi Memperkuat Pemulihan Ekonomi Dan Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan. Jakarta: Siaran Pers Nomor: 1/KSSK/Pers/2022 diakses dari https://lps.go.id/siaran-pers/-/asset_publisher/1T0a/content/sinergi-memperkuat-pemulihan-ekonomi-dan-menjaga-stabilitas-sistem-keuangan?inheritRedirect=false

Rasbin (2021). Restrukturisasi Kredit Untuk Mendorong Pemulihan Dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2021. Jakarta: Info singkat Bidang Ekonomi Dan Kebijakan Publik DPR RI Vol. XII, No.23/I/Puslit/Desember/2020.

Renniwaty Siringoringo (2017). Analisis Fungsi Intermediasi Perbankan Indonesia (Studi Kasus Bank Umum Konvensional yang Tercatat di BEI Periode 2012- 2016). Batam: Universitas Putera Batam, Jurnal Inspirasi Bisnis dan Manajemen, Vol 1.

Renniwaty Siringoringo (2012). Kakrakteristik dan Fungsi Intermediasi Perbankan di Indonesia. Batam: Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juli 2012.

Saunders, A., & Garnet, M. M. (2008). Financial Institutions Management: A Risk Management Approach (Sixth). New York: McGraw-Hill International Edition.

Taswan.  (2010).  Manajemen  Perbankan:  Konsep,  Teknik  dan  Aplikasi  (Edisi  II).

Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Sugiarto, Agus (2022). Intermediasi Perbankan Kembali Melaju. Diakses dari https://investor.id/opinion/281085/intermediasi-perbankan-kembali-melaju


*) Casmudi, S.AP. Penulis tinggal di Kota Denpasar Bali. Menulis di berbagai media online dan mengasuh blog pribadi di www.casmudiberbagi.com. Juga, telah mendapatkan berbagai penghargaan dalam lomba kepenulisan sejak SMA.


Wednesday, June 15, 2022

Inagurasi Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi di Jawa Tengah

 

Boiler Biomassa

Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi yang ada di PT. PT Sarihusada Generasi Mahardhika, Klaten, Jawa Tengah (Sumber: Danone Indonesia)

 

 

          Isu perubahan iklim selalu menarik dan menjadi tantangan berbagai pihak untuk dicarikan solusinya. Salah satu contoh nyata dengan adanya perubahan iklim adalah masyarakat awam mulai tidak bisa memprediksi kedatangan musim tanam.

          Dulu, masyarakat Jawa mampu memprediksi datangnya musim tanam melalui ilmu Pronotomongso. Tetapi, kini, ilmu legenda masyarakat Jawa itu sudah tidak manjur lagi dengan adanya fenomena peruabahan iklim tersebut.

          Hal menarik dari perubahan iklim disebabkan karena pemanfaatan energi yang tidak ramah lingkungan. Pemanfaatan energi fosil masih menjadi ketergantrungan masyakat. Dampaknya, kondisi lingkungan di sekitar kita mulai memberikan dampak negatif atau polusi. Efek pemanasan global (global warming) telah terlihat nyata akhir-akhir ini.

 

SEKAM PADI

          Percayalah, pemakaian energi yang ramah lingkungan menjadi tugas kita bersama. Apalagi, Danone Specialized Nutrition Indonesia (SN Indonesia) berkomitmen untuk memitigasi perubahan iklim dengan menyediakan produk bernutrisi untuk ibu, anak dan keluarga yang diproduksi secara ramah lingkungan.

          Itulah sebabnya, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia hari ini meresmikan pembangunan Boiler Biomassa berbahan bakar sekam padi, di kawasan pabrik PT Sarihusada Generasi Mahardhika, Prambanan Klaten, yang merupakan bagian dari Danone SN Indonesia.

          Sebagai Informasi, Klaten merupakan lumbung padi di Jawa Tengah. Kemudian, PT Sarihusada Generasi Mahardhika berada di lingkungan yang dikelilingi oleh kawasan pertanian. Maka dari itu, Danone SN Indonesia mengadakan kerjasama dengan BECIS (Berkeley Energy Commercial Industrial Solutions) yang berpengalaman dalam layanan energi terbarukan di Asia.

          Kerja sama untuk memanfaatkan energi terbarukan dari Boiler Biomass yang berbahan baku sekam padi, sehingga dapat mengurangi jejak karbon hingga 32%. Boiler Biomass tersebut diresmikan pada tanggal 15 Juni 2022 dan disiarkan secara offline dan online melalui akun Youtube Nutrisi Untuk Bangsa pukul 10.00 -11.30 WIB.

 

Inagurasi Boiler Biomassa

Inagurasi Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi di Jawa Tengah (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Peresmian Boiler Biomassa dihadiri oleh narasumber dan pejabat yang berkompeten, sepetti:

1.    Ibu Vera Galuh, selaku VP General Secretary Danone Indonesia.

2.    Mr. Hannu Ikavalko, selaku COO BECIS.

3.    Bapak Edi Wibowo, selaku Direktur Bioenergi.

4.    Bapak Sumarno, SE, MM, yang mewakili Gubernur Jawa Tengah, selaku Sekretaris Daerah Provini Jawa Tengah

   

Narasumber di Inagurasi Boiler Biomassa

Narasumber dan pejabat yang hadir dalam Inagurasi Boiler Biomassa di Klaten Jawa tengah (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Menurut Ibu Vera Galuh, selaku VP General Secretary Danone Indonesia, pemanfaatan energi terbarukan dari Boiler Biomass berkontribusi untuk menciptakan sirkularitas produk pertanian dan menyejahterahkan petani di sekitarnya.

          Danone Indonesia bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam mewujudkan efisiensi energi dan energi hijau yang ramah lingkungan. Seperti apa yang diungkapkan oleh Bapak Edi Wibowo, Direktur Bioenergi, Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM dalam sambutannya.

 

“Pemanfaatan terbesar bioenergi khususnya biomassa saat ini adalah sebagai pembangkit listrik biomassa yang mencapai 2.116 MW, sehingga peluang pengembangan bioenergi masih sangat terbuka, terlebih didukung isu lingkungan, perubahan Iklim, kesadaran masyarakat untuk mewujudkan transisi energi menuju energi bersih dan peningkatan konsumsi listrik per kapita. Kami sangat mengapresiasi upaya Danone Indonesia selaku pelaku usaha yang bersinergi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam mendukung upaya transisi energi melalui penyediaan energi yang berbasis energi terbarukan dengan menggunakan biomassa sekam padi. Ini merupakan langkah nyata dalam mewujudkan net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat serta mendukung upaya pemerintah dalam pencapaian target bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025. Semoga dapat menjadi contoh bagi badan usaha lain utk secara masif mewujudkan efisiensi energi dan energi hijau yang lebih baik bagi lingkungan dan kesehatan.”

 

          Senada dengan apa yang diungapkan oleh Ibu Vera Galuh dan Bapak Edi Wibowo, Mr. Hannu Ikavalko, selaku Chief Operating Officer (COO) BECIS menyatakan,

 

“Sebagai penyedia layanan solusi energi terbarukan, BECIS percaya bahwa dekarbonisasi, desentralisasi dan digitalisasi energi menjadi kunci bagi perusahaan-perusahaan untuk menjalankan operasionalnya secara berkelanjutan. Pada kesempatan ini, BECIS sangat antusias karena dapat mendukung Danone di Indonesia dalam mewujudkan visinya dalam pemanfaatan energi terbarukan melalui pembangunan dan operasional Boiler Biomassa ini. Adapun fasilitas ini juga telah didukung dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atap yang menjadikannya pengoperasiannya sangat ramah lingkungan. Selain dampak ke lingkungan, melalui kerjasama ini, kami juga berhasil menciptakan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui sumber bahan bakar yang diambil secara lokal, dan memberikan abu sekam yang dihasilkan, kembali kepada petani yang berguna sebagai pupuk organik.”

 

          Oleh sebab itu, keberadaan Boiler Biomassa menjadi energi baru yang terbarukan, serta terintegrasi dengan lingkungan pertanian di sekitarnya. Karena, sekam padi yang dihasilkan oleh para petani akan menjadi bahan bakar ramah lingkungan yang diolah oleh Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia melalui unit bisnisnya di kawasan PT Sarihusada Generasi Mahardhika Klaten Jawa Tengah. Ada 4 manfaat dari Boiler Biomassa, yaitu: 1) mengurangi emisi karbon ke atmosfer; 2) mengurangi limbah pertanian; 3) mengurangi biaya bahan bakar; dan 4) mewujudkan ekonomi sirkular.

  

Manfaat Boiler Biomassa

Manfaat dari Boiler Biomassa (Sumber: Danone Indoensia)

 

           

          Kita memahami bahwa masyarakat biasanya memanfaatkan sekam padi untuk mengawetkan es batu atau membakar batu bata. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Bapak Sumarno, SE, MM mengharapkan agar Danone Indonesia bisa menggandeng lebih banyak Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Tentu, agar kesadaran petani tentang pemanfaatan sekam padi lebih meluas.  

          Bahkan, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah tersebut menyinggung masalah penyerapan susu lokal, seperti dari Boyolali, Sukoharjo dan Banyumas. Agar, bisa digandeng oleh PT Sarihusada Generasi Mahardhika dalam menciptakan Nutrisi untuk Bangsa.  

          Dengan adanya pemanfaatan sekam padi, Danone Indonesia ikut berperan meningkatkan energi terbarukan dalam bauran energi nasional. Juga, turut mendukung pemerintah dalam meningkatkan bauran energi hingga 30% dan karbon netral di tahun 2060.

 

Kunjungan ke Boiler Biomassa

Narasumber dan pejabat menunjukan sekam padi sebagai bahan Boiler Biomassa (Sumber: Danone Indonesia)


 

Kawasan Boiler Biomassa

Kunjungan narasumber dan pejabat ke tempat Boiler Biomassa (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Beberapa proses atau tahapan dalam pengolahan sekam padi yang kaya kandungan silika di Boiler Biomassa adalah:

1.    Sekam padi diangkut menuju fasilitas boiler biomassa.

2.    Sekam padi dibawa menuju ruang pembakaran

3.    Proses pembakaran menghasilkan 2 material sisa, yaitu: 1) uap panas;  dan 2) abu sekam padi. Perlu diketahui bahwa asap hasil pembakaran yang keluar melalui cerobong rendah karbon.

4.    Uap panas digunakan sebagai bahan bakar untuk tenaga listrik untuk menggerakan fasilitas pabrik, dan abu sekam padi dimanfaatkan petani sebagai pupuk tanaman.  

 

          Sebagai informasi, abu sekam yang dihasilkan dari proses produksi Boiler Biomassa ini mengandung Silika yang tinggi, dan sangat bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas pertanian hingga 10 ton/Ha. Danone dan BECIS telah mendistribusikan abu sekam ini bagi kelompok tani dan mendampingi aplikasinya bersama pupuk ke lahan pertanian padi seluas 159 Ha. Tentu, petani berharap besar agar produktivitas pertanian meningkat di masa depan.


Boiler Biomassa di pabrik PT. Sarihusadda

Pabrik di kawasan PT. Sari Husada Klaten Jawa Tengah yang menggunakan Boiler Biomassa (Sumber: Danone Indonesia)

 

BAURAN ENERGI

          Setelah acara peresmian Boiler Biomassa, dilanjutkan dengan acara talkshow, yang menghadirkan 3 narasumber yaitu:

1.    Bapak Karyanto Wibowo, selaku Sustainable Development Director Danone Indonesia.

2.    Bapak DR. Ir. Sudjarwanto Dwiatmoko, selaku Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah.

3.    Marzuki Mohamad (Kill The DJ), selaku rapper dan pegiat pertanian.

 

 

Talkshow tentang Boiler Biomassa

Narasumber yang hadir dalam talkshow setelah inagurasi boiler biomassa di PT. Sari Husada Klaten, Jawa Tengah (Sumber: Danone Indonesia)

 

          Banyak informasi yang muncul dalam acara talkshow tersebut. Ada beberapa alasan penting, pabrik PT Sarihusada Generasi Mahardhika Klaten Jawa Tengah menggunakan bahan sekam padi. Pertama, tidak dipungkiri bahwa kawasan pabrik menggunakan energi listrik. Dan, keberadaan Boiler tersebut membunuhkan energi listrik yang lebih besar. Maka, alternatif bahan yang mampu menghasilkan energi tinggi adalah pemanfaatan sekam padi yang melimpah.

          Kedua, pabrik PT Sarihusada Generasi Mahardhika berada di kawasan pertanian. Di mana, setiap panen padi menghasilkan sekam padai yang melimpah. Oleh sebab itu, sesuai dengan visi Danone Indonesia One Planet One Health, maka sekam padi sangat cocok untuk bahan baku biomassa yang ramah lingkungan.

          Sebagai informasi, sekam padi yang dibutuhkan untuk biomassa tersebut menghasilkan 8.300 ton karbon. Jumlah tersebut setara dengan pemanafaatan 120 ribu pohon setiap tahunnya. Bahkan, dengan pemanfaatan sekam padi, pabrik milik Danone Indonesia tersebut bisa menurunkan emisi karbon sebesar  32% yang dihasilkan pabrik.

          Penurunan emisi karbon tersebut senada dengan target Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam penciptaan energi baru terbarukan. Target Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam hal bauran energi (energy mix). Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2018, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mencapai 13,32% dari rencana tahun 2025 sebesar 21,3% dalam bauran energi.

          Tidak dipungkiri, Jawa Tengah mempunyai sumber energi baru yang ramah lingkungan. Seperti, energi panas bumi (geothermal). Sebagai contoh, Panas bumi Dieng menghasilkan energi 60MW. Sedangkan, Gunung Slamet dan Gunung Telomoyo masih dalam tahap eksplorasi.

          Dari energi biomassa, Jawa Tengah menghasilkan rawa-rawa purba yang mampu menghasilkan gas. Seperti, Sumur Geni yang telah menyalurkan energi gas ke kurang lebih 300 rumah tangga di Karanganyar.

          Gubernur Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada semua pihak yang mampu menciptakan energi baru terbarukan. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah memberikan apresiasi kepada desa-desa yang mampu mandiri energi (seperti: penciptaan pompa pertanian dengan tenaga surya).

          Apalagi, dengan adanya penciptaan energi matahari yang ada di pabrik milik Danone Indonesia, maka berharap perusahaan lain bisa melakukan transisi energi. Sebuah energi baru yang ramah lingkungan dan mampu mengerem adanya perubahan iklim. 


Setia Kawan: Perusahaan Pembuat Komponen Kapal & Aksesoris Klasik Dari Tegal yang Wajib Kalian Tahu

  Desain pintu kapal produk Setia Kawan Tegal yang menjadi hiasan unik pada rumah tinggal (Sumber: Setia Kawan) Empat (4) hari yang lalu, ...