Sunday, April 5, 2020

Horor di Rumah Besar Banyuwangi

Rumah Angker dengan aura mistis selalu bikin kuduk merinding (Sumber : ilustrasi/hitekno.com)





       Mendengar penjualan mingguan yang bagus dalam bisnis distribusi, saya bergabung dengan kantor teman saya di Banyuwangi. Saya rela meluncur dari kantor Yogyakarta menuju kantor awal di Jember Jawa Timur pada tahun tahun 2002. Kurang lebih 10 bulan saya menjadi tenant (Managarr Cabang) di kantor teman saya di Jember. Sementara, teman saya mempunyai status sebagai Landlord (Manager Utama). Kemudian, saya mengikuti kantor barunya di Banyuwangi (dekat dengan Kantor Bupati Banyuwangi). 

Rumah Angker 

          Setahun kemudian. karena habis masa sewa, maka teman saya berniat untuk mencari kantor baru yang lebih besar. Bayangan saya, kantor tersebut akan terlihat mewah karena mendulang omset besar setiap minggunya. Ternyata, rumah besar itu adalah bekas kantor sebuah perusahaan pengolahan ikan yang berada di jalan Pabrik Kertas Basuki Rahmat Banyuwangi. Pada pandangan pertama, saya benar-benar melihat kesan horor yang kental di Rumah Besar Banyuwangi itu.

      Sungguh, dengan harga sewa tahunan yang murah, tentu menggoda teman saya untuk menyewanya. Terlihat dari luar, rumah itu sungguh mewah dengan warna tembok batu bata. Beberapa pohon mangga besar hampir menutup halamannya yang luasnya seperti lapangan futsal. Bahkan, tampilan depan rumah tersebut hampir tidak terlihat dengan daun-daun pohon mangga yang sangat rindang. Bunga-bunga lainnya juga tumbuh di sekeliling halaman tersebut.

         Setelah saya tanya dengan orang-orang yang ada di sekitar rumah besar itu, hampir 3 tahun tidak terpakai. Bagian utama rumah itu mempunyai ruang tamu yang luas dan beberapa kamar. Yang menarik, bagian belakang rumah besar itu terdapat kurang lebih 10 kamar tidur  yang digunakan sebagai mess karyawan. 

         Samping kiri rumah besar tersebut terdapat jalan masuk yang lebarnya kurang lebih 4 meter. Dan, tumbuh beberapa pohon mangga seperti bagian halamannya. Yang menarik adalah bagian belakang terdapat lapangan tenis yang datarannya lebih rendah, kurang lebih 2 meter. Di sebelah kiri lapangan tenis tersebut terdapat mess karyawan juga yang jumlahnya tidak sebanyak di bagian belakang rumah besar. 

          Saya sempat bertanya kepada teman saya, kenapa mau menyewa rumah tersebut? Jawabannya pun singkat, "golek sing murah ben batine okeh. Arek-arek kan iso turu nang kene mas. Mesakno yen mbayar kos" (cari yang murah biar untungnya besar. Anak-anak kan bisa tidur di sini mas. Kasihan kalau bayar kos). Saya paham dengan ide dia, karena menggunakan prinsip ekonomi.  

        Jujur, bagi saya rumah tersebut tidak layak lagi untuk kantor. Tetapi, karena saya ngikut, sehingga ke manapun mereka membuka kantor, ssaya manut saja. Namun, tampilan kantor memang perlu dipugar terlebih dahulu. Beberapa plafon rusak dan berlubang di beberapa tempat, dibiarkan begitu saja. 

          Sedangkan, kondisi kamar mess seperti kapal pecah. Tidak layak untuk ditempati. Banyak pintu yang rusak dan susah untuk ditutup. Bahkan, plafonnya juga "hampir" rusak semua. Bau lembab pun terasa pekat, sangat menusuk hidung. Untungnya, anak buah saya tidak ada yang tidur di mess dengan kondisi seadanya. Anak buah saya mending tidur di kos agar bissa tidur dengan nyaman. 

         Jujur, bulu kuduk saya merinding setiap menjelang malam. Ya, setiap hari harus membuat laporan penjualan agar pagi hari tidak gelagapan. Beberapa minggu kantor berjalan, saya mendapatkan informasi dari anak buah teman saya yang mengelami kejadian mistis. Beberapa wanita mengalami kesurupan saat malam hari. Bahkan, ada yang diganggu penghuni tempat tersebut, berupa sosok Genderuwo. Bagi yang kebal, maka akan tetap tinggal di mess dengan alasan untuk menghemat pengeluaran. Tetapi, bagi yang penakut maka pindah kos adalah jalan terbaik. 

          Sebenarnya, dari pengalaman anak buah teman saya, dapat disimpulkan bahwa aura mistis rumah besar tersebut sangat kental. Apalagi, teman saya tidak mau memasang lampu bagian depan (halaman). Anda bisa bayangkan bahwa setiap malam bagian halaman selalu terlihat gelap seperti hutan. Bahkan, ruang tamu depan saja dipasang bohlam seadanya. Benar-benar seadanya alias irit. "Sing penting dodolane arek-arek laris" (yang penting jualannya anak-anak laris) kelakar teman saya di suatu kesempatan. 

Penampakan Horor 

        Keangkeran rumah besar itu akhirnya saya alami sendiri. Setiap malam minggu, kami harus membuat laporan untuk dikirim ke kantor pusat Jakarta. Saya pulang ke kontrakan menjelang isya. Bulu kuduk merinding saat melihat kuntilanak cekikikan dan duduk santai di sebuah batang pohon mangga di halaman rumah. Dalam hitungan detik, saya mengucapakan "Subahanallah" dan lari sekencang-kencangnya ke jalan raya yang jaraknya kurang lebih 100 meter. 

          Saya sempat bertanya dengan orang-orang sekitarnya, bahwa keangkeran rumah besar tersebut tidaklah diragukan. Bahkan, banyak orang yang menyatakan bahwa kita terlalu berani menyewa rumah besar tersebut. Sejak pengalaman mistis tersebut, saya sempat bercerita dengan teman saya. "Halah, pantesan nongol. Lah, sampeyan durung adus mas. Bedakan sik kono" (Halah, pasntas muncul. Kan, anda belum mandi. Berhias dulu sana) jawabnya sambil cekeikikan. 

         Sepertinya, keangkeran tersebut sudah tidak bisa ditolerir lagi. Belum habis masa sewanya, teman saya pun berpindah kantor lagi ke Mataram Lombok. Penampakan di rumah besar itu sungguh luar biasa. Karena, banyak anak buah teman saya yang mengalami hal ganjil. Dari penampakan kuntilanak dan wewe gombel di pohon mangga samping lapangan tenis. Sosok genderuwo yang kerapkali nongol di sekitar mess karyawan. Serta, keramaian penampakan makhluk astral di lapangan tenis. 

           Tahun 2017 lalu, saya sempat pulang kampung dari Kota Denpasar Bali ke Ngawi Jawa Timur dengan bersepeda motor. Sehabis penyeberangan Ketapang Banyuwangi, saya berniat membeli oleh-oleh khas Banyuwangi untuk saudara di Ngawi. Tanpa sadar, saya teringat akan rumah besar itu. 

           Menjelang pukul 09 malam, saya mnyempatkan diri untuk melihat penampakan rumah besar itu. Percaya atau tidak, rumah besar itu semakin mengerikan, Tampak gelap gulita di malam hari. Bahkan, ketika saya beristirahat di sebuah warung, sang pemilik warung menyatakan bahwa setiap malam, orang-orang sekitar tidak ada yang berani lewat depan rumah besar itu. Banyak penampakan atau penghuni rumah angker itu yang mengganggu masyarakat yang sedang melintas. Kondisi makin angker karena jalan Basuki Rahmat minim penerangan jalan.

           Konon, rumah itu mau dijual, tetapi tidak ada yang mau membelinya. Kesan angker yang kental membuat rumah besar itu susah untuk dijual. Namun, tahun 2020 ini, saya tidak tahu lagi kondisi rumah besar itu. Apakah laku dijual atau makin menyeramkan. Mungkin, ada teman-teman yang bisa berbagi kondisi rumah besar tersebut. Silahkan mampir di kolom komentar.

         Kita tahu bahwa sejatinya manusia adalah lebih mulia dibandingkan setan. Namun, di saat melihat penampakan makhlus halus yang menyeramkan, maka naluri langkah seribu pun terjadi seketika. Tentu, jangan lupa berdoa di manapun agar gidaan setan tidak menghantui diri kita. Semoga kisah mistis saya ini menjadi pelajaran bagi semua. Salam.

Saturday, April 4, 2020

Rumah Angker Ubung

Rumah Angker (Ilustrasi/propertyinside.id)






        Setelah mengalami kebangkrutan usaha distribusi di Jawa Timur, akhirnya saya nekad merantau ke Bali. Saya masih ingat, akhir Pebruari 2009 sebagai langkah awal membuat usaha. Dengan modal nekad, saya mencari sebuah rumah yang bisa disewa secara bulanan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mungkin sudah menjadi jodoh dan rejeki, setelah berkeliling mencari rumah yang cocok. Akhirnya, saya menemukan tipe rumah yang pantas untuk kantor distribusi. Rumah berpagar hijau model sliding (geser) yang di bagian depan kiri terdapat sebuah pura. Rumah dekat dengan terminal Ubung Kota Denpasar. Harga murah dan bisa dibayar bulanan menjadi anugerah. Namun, tiada sangka bahwa rumah tersebut mengundang banyak kejadian aneh, benar-benar rumah angker.


Mendulang Rejeki

      Saya jadi teringat teman saya yang mengatakan bahwa jika ingin mendapatkan keuntungan penjualan yang baik, carilah rumah yang biaya sewanya rumah. Meski rumah tersebut angker. Nanti, kalau banyak orang juga minggir sendiri. Kalimat itu ada benarnya, karena biaya sewa sangat murah. Rumah dengan ruang tamu yang luas, 2 kamar tidur yang besar. 
        
        Di bagian belakang terdapat halaman yang berukuran kurang lebih seperempat dari lapangan futsal. Di bagian atasnya tanpa penutup atau genting. Di sebelahnya terdapat dapur dan satu kamar mandi yang luasnya tidak mengecewakan. Depan kamar mandi terdapat tempat untuk mencuci. Yang terletak persis di bawah tangga naik yang terbuat dari beton. Tangga tersebut menuju lantai dua yang digunakan sebagai tempat santai dan menjemur pakaian. Sama halnya dengan halaman belakang, tentu tempat menjemur pakaian tersebut juga tanpa atap.

        Benar, apa yang dikatakan oleh teman saya bahwa rumah yang digunakan untuk kantor penjualan ini benar-benar membawa rejeki. Beberapa anak buah atau tim penjualan tinggal di kamar yang disulap seperti asrama. Dan, yang lainnya tinggal di kost masing-masing. Kondisi kantor baik-baik saja tanpa gangguan atau gosip hal-hal yang di luar logika. 

         Namun, setelah 2 bulan berjalan, sepertinya anak buah yang tinggal di kantor mengalami hal-hal ganjil. Tetapi, mereka takut mengatakannya kepada saya. Persis, di sebuah malam Jumat, saya menyempatkan untuk bertanya kepada anak buah laki-laki yang tubuhnya agak gemuk. "Loh, kamu mau tidur di mana? Gak tidur di kantor?" tanya saya. "Gak beh, saya mau tidur di kos-kosan aja" jawab dia agak takut dan malu-malu. "Kan, tidur di kantor bisa menghemat uang kamu" tanya saya kembali. "Anu eh beh, saya takut, merinding atas kejadian malam kemarin" jawabnya agak gugup. "Kejadian apa? tanya saya penasaran. "Kalau malam pas jam 12 ke atas ada kejadian aneh, banyak anak kecil berlarian di halaman belakang. Dan, saya lihat cewek duduk" jawabnya dengan mantap. "Masa sih. Saya gak lihat apa-apa kok" jawab saya dengan penuh percaya diri. 

      Satu hari setelah kejadian angker diutarakan ke saya, semua anak buah yang tinggal di kantor memilih untuk kos sendiri. Akhirnya, saya tinggal di kantor sendirian. Karena waktu itu, istri dan anak saya belum pindah atau ngikut saya ke Bali. Jujur, saya tidak percaya, tetapi karena hampir semua anak buah mengalaminya. Maka, saya dengan terpaksa mempercayainya. Tanpa sepengetahuan anak buah saya, setiap malam Jumat, saya mencari penginapan sekitar kantor buat tidur. Sedang, hari-hari biasa, saya berusaha untuk main ke luar kantor, setelah ngantuk berat baru pulang ke kantor agar bissa langsung tidur dan tidak banyak berpikir yang tidak-tidak.

     Di suatu sore, ketika waktu pembayaran sewa rumah, saya berkesempatan untuk menggali informasi tentang kondisi rumah tersebut. Sungguh mengagetkan bahwa dengan santainya sang pemilik rumah mengiyakan bahwa rumah itu memang angker karena lama tidak dihuni. "Depan kamar mandi tuh penghuninya anak-anak kecil mas. Cucu saya pernah kencing sembarangan di situ, akhirnya gak bisa kencing beberapa hari. Saya carikan orang pintar untuk disembahyangi dan dikasih banten agar cucu saya sembuh" jawab bapak tuan rumah. 

       Dalam hati saya agak takut, namun hanya rumah itulah yang bisa disewa bulanan dan murah. Beberapa hari kemudian, salah satu dari anak buah memberikan informasi lebih menakutkan pada saya. "Beh, semalam ketika saya ketiduran di sini, malam-malam saya diintip lewat kaca oleh seorang cewek dari halaman belakang". Saya berusaha untuk tetap cool, pura-pura tidak takut apa yang dia alami. Meskipun, dalam hati saya berkata, "wah, apa rumah ini benar-benar angker?". 

Lukisan Ganesha

         Beberapa bulan kemudian, usaha saya mengalami kebangkrutan. Anak buah saya mulai tidak hadir dan penjualan pun nihil. Sementara, barang-barang yang ada masih menumpuk di gudang. Untuk menghabiskan barang di gudang, akhirnya saya bertahan di kantor dan menjualnya sendiri. Sebuah perjuangan yang tidak pernah disangka sebelumnya.

      Tahun ajaran baru, istri dan anak saya pindah ke Bali. Karena, anak saya hendak melanjutkan SD di Bali. Masalah angkernya rumah itu, saya tidak mau mengatakannya ke istri saya. Agar tidak menjadi pikiran atau hal yang menakutkan. Namun, angkernya rumah tersebut pun terungkap. Ketika kakak ipar dan istrinya ikut tinggal di rumah angker ini. Kakak ipar bekerja di sebuah proyek hotel. Dengan alasan untuk menghemat pengeluaran dan dekat dengan saudara, maka mau tinggal bersama saya. 

         Saya merasa senang karena kondisi rumah banyak penghuni. Rasa horor yang pernah saya alami berangsur hilang. Namun, ternyata ketakutan akan rumah angker tersebut justru timbul kembali. Ketika saya bermain laptop di tempat jemuran pada malam hari, saya melihat sosok kuntilanak terbang peris di atas tembok pembatas rumah. Semula saya tidak percaya, namun setelah saya amati dengan jelas membuat bulu kuduk merinding. Dengan langkah cepat, saya pun turun tangga dan masuk kamar. 

       Ketika siang hari, saya mencoba untuk mengecek kondisi sebelah tembok tersebut. Ternyata, masih berupa tanah kosong yang banyak semak-semak. Dan, persis berbatasan dengan tembok belakang rumah yang saya sewa adalah berupa rumpun bambu yang lebat. Orang bilang bahwa rumpun bambu memang menjadi hunian yang cocok makhlus halus, khsususnya kuntilanak dan wewe gombel. 

       Bukan itu saja, suatu hari, istri dari kakak ipar saya sempat memberikan informasi menarik kepada suaminya dan istri saya. Setelah pukul 12 malam, ia melihat wanita berambut panjang yang berjalan hilir mudik di halaman belakang. Dan, mengintipnya lewat kaca. Bahkan, saya sendiri pernah melihat gerombolan anak kecil di tempat pencucian depan kamar mandiri. Kenapa saya tetap bertahan di rumah angker ini? Alasannya, karena biaya sewa yang murah dan bisa bulanan. Jujur, mencari rumah dengan biaya sewa murah dan bulanan di Kota Denpasar, bagai mencari jarum dalam jerami. 

         Setahun, setelah anak saya sekolah di Kota Denpasar, saya sempat diberi sebuah lukisan Ganesha dari Art Shop di kawasan Pantai Kuta. Lukisan yang berukuran kurang lebih 1m x 60cm itu menarik perhatian bapak tuan rumah. "Mas, lukisannya dijual nggak?" rayunya. "Nggak kok Kak (Bali: kakek), buat hiasan dinding saja" jawab saya dengan mantap. "Kalau mau dijual, saya mau beli, karena lukisan Ganesha menurut keprcayaan orang di sini mengandung kekuatan (baca: mistis)" katanya menambahkan. "Masa sih Kak" jawab saya sedikit tidak percaya.

        Perlu diketahui bahwa lukisan Ganesha tersebut dipasang persis di tembok yang menghadap ke pintu tempat kami tidur. Jadi, saat pintu kamar terbuka maka lukisan Ganesha tersebut terlihat jelas. Beberapa bulan kemudian, anak saya terserang demam tinggi. Suhu badan di atas 38 derajat. Saya dan istri berusaha untuk membuat kompres dan memberi minuman penurun suhu badan. Nah, saat anak saya mengalami demam tinggi, hal yang menakutkan terjadi. Dia mendadak menangis keras sambil menunjuk-nunjuk lukisan Ganesha. "Pa, pa, itu ada orang besar berdiri, itu orangnya, itu orangnya" katanya menakutkan. Antara percaya dan tidak, saya menuju lukisan tersebut, melepasnya dan membalikannya agar tidak terlihat. Seketika itu juga, tangis anak saya mereda. 

          Keesokan harinya, saya mendatangi bapak tuan rumah. Bermaksud untuk memberikan lukisan yang pernah mau dibelinya. Saya tidak mengharapkan dia membeli lukisan tersebut, tetapi memberikannya secara gratis. Dan, bercerita tentang apa yang anak saya alami. "Ya, memang di kamar tamu itu ada penunggunya" jawabnya yang membuat saya makin kaget. Tetapi, sekali lagi saya tidak mau beranjak dari rumah tersebut. Alasannya, seperti yang saya katakan di atas.

         Akhirnya, saya pun terpaksa pindah dari rumah angker itu. Bukan karena takut hal-hal yang di luar nalar. Tetapi, karena rumah itu mau diperbaiki kembali oleh sang pemiliknya. Selamat tinggal rumah angker. Bagaimanapun juga, dari rumah inilah banyak merenda kenangan indah. 

        Setelah saya pindah ke tempat lain, ternyata rumah ini sudah beberapa kali dihuni atau disewa oleh orang yang berbeda. Namun, tidak ada yang bertahan lama, seperti apa yang saya alami. Saya jadi ingat dengan perkataan seorang ibu yang tinggal tidak jauh dari rumah angker itu, "Masnya kok kuat ya tinggal di rumah itu" tanyanya. Jawab saya singkat dengan kelakar, "Dipaksain aja bu, mungkin setannya udah takut sama saya he he he".  

Menyambut Bulan Ramadhan 2020 di Tengah Wabah Virus Corona

Menyambut Bulan Ramadhan 2020 di Tengah Wabah Virus Corona (Sumber : NU Online/diolah)





        Kurang lebih 20 hari lagi, umat Islam akan menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan, yaitu bulan Ramadhan. Sungguh, Ramadhan 2020 nanti akan sangat jauh berbeda. Karena, dipastikan, bulan Ramadhan akan dirayakan oleh umat Islam di tengah wabah Virus Corona. Apalagi, melihat tren pasien yang positif Corona sesuai laporan resmi dari pemerintah yang terus bertambah. Per tanggal 4 April 2020 saja, jumlah pasien positif Corona sebanyak 1.986 orang, Pasien sembuh sebanyak 134 orang dan pasien yang meninggal sebanyak 181 orang. Sedangkan, persentase kematian sebesar 9,1%.

Ramadhan yang Prihatin

      Melihat kondisi tersebut, semua kalangan memprediksi bahwa Bulan Ramadhan 2020 bisa dikatakan sebagai bulan Ramadhan yang diselimuti keprihatinan. Tentu, sebagai umat Islam, kedatangan bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Bulan yang di dalamnya penuh dengan pahala dan ampunan, merupakan mimpi setiap umat Islam untuk menyambutnya dengan suka cita.

       Namun, beberapa minggu ini, penyebaran Virus Corona yang kian masif membuat kerumunan orang sangatlah dilarang. Termasuk, kerumunan pada saat sholat berjamaah. Oleh sebab itu, sesuai dengan anjuran Pemerintah, maka sholat berjamaah ditiadakan. Masyarakat dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH) dan beribadah di rumah saja. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Bahkan, berbagai tempat di Indonesia disemprot oleh cairan Disinfektan agar steril.

        Masjid-masjid di seluruh Indonesia, bahkan di dunia kini tampak sepi. Tiada aktifitas sama sekali. Tiada lagi suara orang mengaji dan adzan yang berkumandang dari menara masjid. Masyarakat mulai memanfaakan jam atau "mbah google" untuk melihat waktu sholat. Benar-benar suasana yang sungguh berbeda 360 derajat dari biasanya.

        Bagaimana dengan bulan Ramadhan? Tentu, bulan Ramadhan kali ini sepi dari orang mengaji atau tadarus Al Qur'an. Sholat Tarawih yang menjadi ciri khas dari malam bulan Ramadhan pun dipastikan tidak akan terlihat di Ramadhan 2020 ini. Dan, umat islam dianjurkan dengan memperbanyak amalan kebaikan di bulan Ramadhan dari rumah saja. 

      Apakah dengan tiadanya sholat tarawih di masjid-masjid akan mengurangi keutamaan bulan Ramadhan? Jawabannya TIDAK. Bulan Ramadhan akan tetap menjadi bulan yang istimewa, meski umat Islam sholat tarawih dan fardhu dari rumah. Karena, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

         Kegiatan-kegiatan yang menyemarakan bulan Ramadhan pun akan sangat ketat dipantau. Seperti, pembagian atau penjualan takjil Ramadhan. Anda pasti tahu bahwa kegiatan tersebut berpotensi besar mendatangkan kerumunan massa. Yang mampu menyebarkan Virus Corona semakin luas. Sekarang saja, warung atau minimarket  mendapatkan pembatasan jam buka. Tidak boleh buka hingga malam hari. Bahkan, warung makan atau restoran siap saji "dilarang" memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk makan di tempat. Namun, pelanggan "wajib" membawanya pulang (take away).  Jika warung atau restoran melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, maka hukumannya bisa pidana. 

        Kini, pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Oleh sebab itu, kegiatan apapun yang berpotensi mendatangkan kerumunan massa akan ditindak tegas. Hal ini dilakukan demi kebaikan bersama. Karena, kesehatan masyarakat adalah yang utama. Oleh sebab itu, kegiatan bulan Ramadhan yang berpotensi mendatangkan banyak orang, tentu akan ditiadakan. Dampaknya, bulan suci Ramadhan 2020 akan lengang. Namun, umat Islam bisa menciptakan kegembiraan di rumah, baik buka puasa maupun santap sahur. 

      Percayalah, meskipun bulan Ramadhan akan sepi dari berbagai macam kegiatan keagamaan di Masjid. Aktifitas memakmurkan masjid akan ditiadakan. Tetapi, keindahan, keberkahan, rahmat dan ampunan akan selalu datang dari Allah Yang Maha Rahmat. Kesucian akan tetap ada di hati masing-masing orang. Inilah saatnya manusia akan berusaha introspeksi diri, dari segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Allah yang memberikan wabah Virus Corona, dan Allah Yang Maha Kuasa yang akan mencabutnya.

Tunda Mudik

         Hal lain yang menarik saat bulan Ramadhan adalah ritual Mudik atau pulang kampung. Ritual yang sangat didambakan setiap umat Islam untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, handai tolan dan tetangga yang dicintainya. Mudik menjadi kegiatan akhir dari perjalanan panjang para perantau di berbagai kota, baik di Indonesia maupun di dunia. Mudik menjadi ritual untuk melepas kangen dan memohon maaf kepada orang tua. Karena, sejatinya manusia ingin kembali fitri (suci). Oleh sebab itu, apapun dilakukan demi bisa mudik ke kampung halaman.

     Tetapi, saat pandemi COVID-19 menjangkit seluruh dunia. Maka, Pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan. Keppres dan PP telah dikeluarkan, yang mengatur tentang Darurat Kesehatan Masyarakat dan Pembatasn Sosial Skala Besar. Physical Distancing atau Jaga Jarak benar-benar diatur ketat. Masyarakat perlu menjaga jarak satu dengan yang lainnya. Termasuk, saat-saat genting di mana kerumunan massa akan terjadi ketika mudik.

      Mudik yang merupakan aktifitas migrasi (perpindahan) orang dari satu kota ke kota lain berpotensi besar menyebarkan Virus Corona lebih luas. Bahkan, aktifitas mudik berpotensi menciptakan pasien-pasien yang posistif terpapar Virus Corona. Itulah sebabnya, mudik tahun 2020 ini sangat dilarang. Apalagi, banyak masyarakat yang telah melakukan mudik dini dikarenakan di kota tidak bisa bekerja lagi.

        Setiap orang berhak untuk mudik. Namun, larangan untuk mudik justru bertujuan sangat baik. Yaitu, untuk mencegah penyebaran Virus Corona yang lebih luas. Juga, bertujuan agar pandemi COVID-19 cepat berakhir. Tentu, agar masyarakat bisa bekerja, seperti sedia kala. Namun, kepatuhan masyarakat akan anjuran pemerintah sangatlah diharapkan.

        Dengan adanya larangan mudik, maka bulan Ramadhan kali ini sungguh sepi, jika masyarakat mematuhinya. Kita tidak akan lagi mendengar kemacetan di Pantura (Pantai Utara Jawa) atau pelabuhan penyeberangan. Tidak ada lagi kecelakaan lalu lintas, karena kelalaian sopir, ngebut atau mengantuk. Bahkan, siaran langsung (live) dari berbagai media elektronik atau televisi dari jalur mudik tidak ada atau berkurang drastis. Dipastikan, bulan Ramadhan 2020 akan sepi dan lengang. 

         Meskipun, bulan Ramadhan 2020 akan terasa sepi, tetapi semaraknya akan tetap terlihat. Di balik keprihatinan yang luar biasa, karena pandemi COVID-19, umat Islam akan tetap tersenyum, semangat dan ikhlas dalam melakukan puasa bulan Ramadhan. Serta, menatap keindahan Idul Fitri. 

        Umat Islam boleh menangis atau meneteskan air mata karena semarak bulan Ramadhan 2020 akan tiada sementara. Umat Islam yang baik akan terus tersenyum dan ikhlas bahwa wabah Virus Corona akan tetap menjadi rahmat. Karena, Allah yang memberikan musibah, niscaya Allah jugalah yang akan mencabutnya. Hilangkan rasa duka cita, karena beberapa minggu lagi bulan suci Ramadhan akan datang. Mari sambut dengan suka cita. 



 Ramadhan 2020 yang diselimuti dengan keprihatian karena pandemi Virus Corona (Sumber : dokumen pribadi/YouTube)   



Marhaban Yaa Ramadhan .


Thursday, April 2, 2020

Pengalaman Mistis di Hutan Baluran


Jalan Hutan Baluran yang mempunyai aura mistis saat malam hari (Sumber : dokumen pribadi)




      Anda pernah bertemu pengalaman mistis saat melakukan perjalanan dengan sepeda motor? Ada yang menyenangkan, ada juga yang menakutkan. Tetapi, pengalaman mistis mayoritas berbau hal yang menakutkan. Saya pernah mengalami kejadian mistis di Jalan Hutan Baluran, perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Situbondo Jawa Timur. Sebenarnya, kejadian ini terjadi di bulan Agustus 2018 lalu. Namun, kejadian mistis yang membuat bulu kuduk merinding akan tetap terkenang seumur hidup saya.


Malam Jumat Kliwon

      Tidak semua orang hepi melakukan perjalanan malam hari melalui jalar darat. Apalagi, dengan menggunakan sepeda motor. Bukan hanya dampak ngantuk yang akan terjadi. Tetapi, rasa lelah yang bisa datang tiba-tiba. Hal ini  bisa berakibat fatal jika tetap mengendarai sepeda motor yaitu kecelakaan lalu lintas.

        Lebih dari 10 kali, saya pernah melakukan perjalanan darat dengan sepeda motor bebek kapasitas 125CC. Jarak tempuh pun tidak tanggung-tanggung. Yaitu, Denpasar Bali menuju Ngawi Jawa Timur. Bahkan, sekali melakukan perjalanan nonstop Denpassar Bali menuju Brebes Jawa Tengah. Jujur, setiap perjalanan panjang tersebut, pengalaman mistis sudah biasa. Namun, pengalaman mistis yang membuat terkenang seumur hidup adalah perjalanan Denpasar Bali menuju Ngawi Jawa Timur di bulan Agustus 2018 lalu.

     Bermaksud untuk menghadiri pernikahan keponakan, saya mempunyai tekad melakukan perjalanan agar sampai di Ngawi saat menjelang dhuhur. Oleh sebab itu, saya berangkat dari Denpasar Bali menjelang sehabis sholat dhuhur. Bahkan, saya menyempatkan istirahat sebentar di Masjid Kota Tabanan Bali. Sungguh, saya tidak merasa bahwa perjalanan saya akan melewati malam Jumat Kliwon. Yang menurut banyak orang adalah saat-saat malam yang penuh mistis.

       Sampai di penyeberangan pelabuhan Gilimanuk - Ketapang Banyuwangi menjelang maghrib. Saya menyempatkan diri untuk sholat Isya di Masjid langganan istirahat yang dekat dengan terminal Ketapang Banyuwangi. Setelah sholat, meskipun semua roda sepeda motor telah diisi angin yang cukup. Tetapi, baru kali ini saya seperti tidak percaya diri dengan kondisi angin yang terkandung di ban sepeda motor. Saya beberapa kali mengecek sambil memencet dengan tangan. Dan, kondisi angin ban normal-normal saja. Saya berpikir bahwa kondisi ban harus tetap stabil ketika melewati Hutan Baluran.

     Bagi anda yang suka motoran, maka melewati hutan Baluran bukanlah hal yang menarik. Mengapa? Jalan raya sepanjang kurang lebih 24 km tersebut mempunyai kontur jalan yang berkelok-kelok. Bukan itu saja, jalan raya sering mempunyai lubang yang besar, setiap saat bisa mencelakai pengguna jalan. Apalagi, suasana yang gelap gulita dan hujan deras, maka pengalaman melewati hutan Baluran akan menjadi kenangan indah dalam hidup anda.

        Hutan Baluran yang di samping kanan dan kirinya tumbuh pohon jati akan semakin menggenjot adrenalin anda. Ketika anda melewatinya malam hari, sendirian, tanpa ada mobil lain yang lewat dari depan atau belakang. Apalagi, saat hujan turun dengan deras dan jalan banyak yang berlubang. Modalnya hanya satu, waspada dan banyak berdoa. 

     Saya memasuki hujan Baluran pukul 11 malam. Jalan penuh lubang karena sering dilewati kendaraan monster ala truk gandeng, tronton atau bus malam. Ritual yang selalu saya lakukan menjelang memasuki hutan baluran adalan mengecek kondisi BBM. Setelah dirasa cukup, maka saya akan melihat speedometer, di angka berapakah saya mulai memasuki kawasan yang membuat bulu  kuduk merinding. Karena, dengan melihat angka di speedometer, maka saya tahu berapa kilometer lagi yang akan saya tempuh di depan.    

      Perjalanan benar benar sepi karena belum ada kendaraan yang lewat dari depan atau dari belakang. Menjelang 10 km lagi melewati track yang membuat degup jantung berdetak ini, saya melihat dua truk tronton yang dikuntit oleh 2 bus malam. Setelahnya, 2 bus malam tersebut menyalip kencang. Setelah itu, saya pun berusaha menyalip dua kendaraan tersebut. Kurang lebih 2 km dari jarak dua truk yang jaraknya semakin menjauh. Dan, suasana semakin gelap, pandangan saya sungguh dikagetkan dengan keberadaan seorang nenek yang menyeberang jalan di kegelapan malam. 

        Saya benar-benar kaget, saya pikir positif saja. Meskipun, nenek itu langsung hilang ditelan angin malam. Anda pasti tahu apa yang saya maksud, bukan? Tanpa terasa, saya melewati sebuah lubang  yang membuat ban depan sepeda motor saya meledak tiba-tiba. Ya, saya mengalami pecah ban. Antara sadar dan tidak, saya kehilangan keseimbangan. Saya seketika mengucapkan "Allahu Akbar" beberapa kali. Sudah pasrah apa yang terjadi. Namun, saya berusaha untuk mengerem sebisanya. Istri saya yang ada di belakang teriak beberapa kali. 

        Saat sepeda motor mulai oleng ke kiri menuju jurang batu, pikiran saya cuma satu, "Ya Allah, mohon hentikan sepeda motor saya". Dan, persis menjelang tepi jurang batu, sepeda motor itu berhenti. Kami sujud syukur karena terlepas dari marabahaya. Meskipun, tugas berat lagi ada di depan mata. Kami, harus mendorong motor kurang lebih 9 km untuk sampai di pemukiman warga.     

Perkampungan Gaib

         Kini, tugas berat harus dilakukan. Mendorong motor di kegelapan malam. Jika, pecah ban bagian belakang, mungkin tugas tidak begitu berat. Tetapi, pecah ban depan sungguh menguras energi. Melewati jalan berkelok dan turun naik, kami harus beradu dengan dinginnya angin di kegelapan malam. 

       Di saat saya sedang mendorong motor, saya pun dikagetkan suara orang yang mengendarai sepeda motor tanpa lampu. "Nyapo mas? bane bocaor ya. Wis, mesakno bojomu mlaku keselen. Melu aku ae, mengko awakmu ndorong motor tekan tukang tambal ban" (Kenapa mas? bannya bocor ya. Sudah, kasihan istrimu jalan kecapaian. Ikut saya saja, nanti kamu jalan dorong motor sampai ada tukang tambal ban). Sungguh, saya kaget sekali, karena orang tersebut misterius, entah datang dari mana. Saya pun menolak halus, "matur suwun pak. Kulo mlampah mawon" (terima kasih pak, saya jalan saja).

         Sehabis saya tolak ajakan tersebut, suara sepeda motor yang tak berlampu itu mendadak hilang di kegelapan malam, Bulu kuduk saya makin merinding. Tettapi, demi membawa motor hingga tukang tambal ban, rasa takut saya hilangkan jauh-jauh. Menjelang 2 km di perbatasan jalan hutan Baluran, saya sudah kecapaian. Badan seperti mau pingsan. Otot-otot kaki menegang. Bahkan, sekujur tubuh serasa habis sauna. Meski, jaket pelindung rangkap dua, tetapi basahnya keringat mampu menembus jaket bagian luar.  

         Bukan hanya itu, karena rasa ingin buang air kecil yang tak tertahankan, maka saya pun berusaha untuk istirahat kembali. Di dekat pohon jati yang besar saya buru-buru untuk buang air besar. Sebanarnya, istri sudah mengingatkan agar saya tidak sembarangan untuk buang air. Tetapi, rasa sakit menahan air kencing, maka larangan istri saya tak digubris.

        Perlu diketahui bahwa saya selalu meminta ijin ketika saya mau buang air kencing di perjalanan. "Mbah, nyuwun sewu mbah, Putumu bade ganggu panjenengan. Numpang kencing sekedap nggih". (Mbah, minta maaf mbah. Cucumu mau ganggu anda sebentar. Numpang buang air kecil ya). Di lanjut dengan ucapan basmallah dalam hati agar tidak ada kejadian yang tak di luar dugaan.

        Jarak saya buang air kecil dengan istri saya kurang lebih 20 meter. Pengalaman mistis lagi yang saya alami adalah saya melihat seperti ada perkampungan yang banyak orang. Padahal, di sekitarnya benar-benar gelap. Mustahil, jika di dalam hutan banyak orang lalu-lalang di kegelapan malam. Sambil menyebut Subahanallah dan La khaula wal quwwata illa billah berkali-kali, saya bergegas menuju istri saya yang sedang menunggu.    

        Saya pun bertanya sama istri saya. "Ma, sekarang jam berapa?". Istri saya pun menjawab setelah melihat jam di smartphonenya. "Pa, tahu nggak. Sekarang tepat jam 12 malam. Dan, ini malam Jumat Kliwon". Saya pun langsung merinding, dan mendorong sepeda motor kembali. "Nanti, saya ceritain kalau sudah istirahat ketemu tukang tambal ban".

        Istri saya penasaran, "emangnya ada apa pak". Ketika bertemu tukang tambal ban menjelang pukul 2 malam hari. Basahnya tubuh sudah tiada terkira. Mencari tukang tambal ban sebuah kejadian yang langka. Semua tutup, bahkan saya disuruh ke rumahnya untuk ketok pintu. Namun, hal itu tidak mungkin saya lakukan. Tiga kali pangkalan tukang tambal ban saya datangi, semuanya tutup. Sebuah keajaiban pun muncul. Ketika, kaki lemas hendak pingsan. Saya melihat tukang tambal ban yang sudah tutup. Tetapi, sang pemilik tertidur di bengekelnya.

     Saya memaksa untuk membangunkannya. Bak, malaikat penolong, beliau langsung sigap membongkar roda depan saya. Ternyata, ban bocor sepanjang 20 cm. Sebagai manusia biasa, saya berkata dalam hati, "semoga tidak diketok harga". Doa saya pun terkabulkan. Seharusnya, saya disuruh beli ban dalam lagi, tetapi beliau ternyata membantu dengan mengganti ban dalam bekas. Takjub, saya hanya ditarik bayaran 5 ribu rupiah. Tak henti-hentinya saya bersyukur dalam hati. Saya salami bapak tukang tambal ban. Lucunya, sehabis membantu saya, sang tukang tambal ban mendadak tidur lagi. Saya pun pamit pergi.

       Setelah berjalan beberapa kilometer, saya berusaha berhenti kembali. Karena, istri saya penasaran apa yang saya janjikan. Di sebuah warung kosong pinggir jalan, saya berkata pada istri saya, "Ma, tahu gak waktu saya kencing di hutan Baluran. Saya melihat perkampungan ramai". Mendadak istri saya terucap, "Ya Allah pa. Untung, tidak terbawa ke alam mereka". 

        Dalam perjalanan menuju Ngawi Jawa Timur tersebut, benar-benar membuat saya mendadak cepat lelah. Saya pun memaksa untuk beristirahat dan sholat subuh di sebuah masjid tempat langganan saya. Masjid yang terletak di dekat Kota Situbondo, hingga pukul 8 pagi. Benar-benar lelah. Bukan hanya karena semalam mendorong sepeda motor. Tetapi, pengalaman mistis yang menakutkan. Semoga menjadi pelajaran berharga. 

Salam Satu Aspal! 

Burung Kokokan, Teman Petani yang Hanya Ada di Bali


Sekumpulan Burung Kokokan saat menemani petani Bali membajak sawah (Sumber : dokumen pribadi)




Saya anak petani, berteman lumpur sawah sudah menjadi makanan sehari-hari. Ritual membajak sawah menjadi hal yang menyenangkan. Apalagi, jika membajak sawah dengan mesin traktor dan berteman Burung Kokokan. Tentu, rasa lelah anda selama membajak sawah akan hilang seketika. Ya, membajak sawah dengan berteman Burung Kokokan (Jawa : Burung Blekok atau Kuntul) menjadi pemandangan yang biasa bagi petani Bali.. 

Teman Sejati 

Membajak sawah menjadi ritual tahunan para petani. Bahkan, bisa menjadi ritual 4 bulanan (kuartal) jika kebutuhan air pengairan tidaklah menjadi masalah. Membajak sawah bisa menggunakan sistem tradisional. Dengan menggunakan hewan peliharaan (kerbau atau sapi). Bahkan, bisa menggunakan tenaga manusia. Namun, untuk mempercepat proses pengolahan sawah, maka membajak sawah dengan menggunakan alat modern seperti mesin traktor menjadi sebuah keniscayaan. 

Anda tentu terpesona ketika berjalan-jalan di pedesaan Bali. Berhentilah sementara, ketika ada petani yang sedang membajak sawah. Pemandangan yang jarang, mungkin tidak pernah terlihat di pulau Jawa. Apa yang menarik? Jujur, saya kagum saat petani Bali sedang membajak sawah. Puluhan atau ratusan Burung Kokokan akan menjadi teman sejati selama bekerja. Mereka benar-benar jinak dan tidak takut keberadaan manusia. Justru, mereka akan mengikuti kemana sang petani bergerak membajak sewah.

Yang menarik, petani Bali tidak akan pernah mengusik keberadaan ratusan Burung Kokokan tersebut. Sepertinya, hubungan manusia dengan burung putih berleher panjang benar-benar terjalin baik. Saya juga tidak pernah melihat tangan usil yang berusaha menangkap burung Kokokan tersebut. Di Bali, keberlangsungan hidup Burung Kokokan benar-benar terjamin dengan baik. 

Anda ingin bukti? Sekali-kali datanglah ke kawasan wisata Burung Kokokan di Desa Petulu Ubud Gianyar Bali. Sungguh, anda akan kagum melihat pohon-pohon yang tumbuih di sepanjang jalan dipenuhi dengan ratusan burung Kokokan. Bahkan, tidak perlu kaget jika anda terkena kotorannya ketika sedang melintas. Burung Kokokan dibiarkan hidup baik berteman dengan manusia.

Konon, Ibu Negara Ani Yudoyono (Alm,) era Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) sangat kesengsem dengan pesona burung Kokokan ini. Seringkali, beliau menyambangi tempat ini saat melakukan kunjungan kenegaraan di Bali. Beliau senang sekali untuk mengambil momen indah lewat bidikan kamera miliknya. Anda pasti tahu bukan, bahwa Ibu Ani SBY mempunyai hobi fotografi.

Saya sendiri sudah tidak terhitung jumlahnya datang ke kawasan Petulu Ubud, di mana pemandangan Burung Kokokan bebas berlarian di pinggir jalan raya. Ubud yang dikenal dengan kawasan persawahan yang indah. Serta, pepohonan tinggi nan rindang menjadi tempat yang cocok untuk kehidupan Burung Kokokan. Bahkan, beberapa warga mempunyai tempat pandang untuk melihat komunitas Burung Kokokan.  

Tri Hita Karana

Burung Kokokan menjadi bukti bahwa masyarakat Bali benar-benar memegang teguh konsep Tri Hita Karana. Yaitu, menjalin hubungan yang baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Di Bali, burung Kokokan menjadi teman sejati petani. Mungkin, bisa menjadi hiburan selama bekerja. Burung Kokokan di Bali sangat dekat dengan petani. Mereka mempunyai naluri bahwa petani tidak akan mengganggunya. Makanya, mereka seperti menjadi pengawal para petani saat membajak sawah.

Saya telah membuktikan dengan mengamati kedekatan burung Kokokan bersama para petani di beberapa tempat di Bali . Dari bagian barat Bali hingga bagian timur Bali. Keberadaan Burung Kokokan masih ada. Dan, mereka sangat dekat dengan para petani ketika lahan sawah mulai dibuka. Kedatangan Burung Kokokan tidak perlu diundang. Ketika petani mulai menjalankan mesin traktornya, maka seketika juga Burung Kokokan mengerumuni tanah sawah yang telah dibajak. Mereka mulai mematuk-matuk tanah untuk mencari makanan yang ada. Inilah pemandangan unik dari pertanian di Bali.      

Sedangkan, untuk melihat pemandangan keakraban Burung Kokokan dengan petani saat membajak sawah sangatlah sulit di luar Bali. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Seperti, keakraban manusia dan alam khususnya burung Kokokan yang tidak terjalin dengan baik. Juga, banyak oknum tangan jahil yang mencoba menangkap burung Kokokan, baik untuk dipelihara, dijual atau dikonsumsi. Itulah yang menjadi kedekatan burung Kokokan dengan manusia belum berjalan  dengan baik. Akibatnya, jumlah burung Kokokan semakin berkurang. Oleh sebab itu, pemandangan ratusan burung Kokokan yang mengawal petani saat membajak sawah bisa dihitung dengan jari.

Nah, jika anda jalan-jalan ke Bali. Jangan hanya menyambangi keindahan pantai atau sejuknya udara pegunungan. Anda juga perlu ngebolang ke persawahan. Siapa tahu anda beruntung melihat petani yang sedang membajak sawah. Amatilah kondisi sekelilingnya. Anda akan melihat ratussan Burung Kokokan yang akrab dengan petani. Karena, mereka telah menjadi teman sejati untuk menghibur selama petani membajak sawak. Selamat berlibur ya! Tentu, menunggu wabah Virus Corona mereda. 

Saturday, March 28, 2020

MOBIL MORRIS VIRAL RAFFI AHMAD DAN PANDEMI VIRUS KORONA


Mobil Morris Mini Cooper MK1 yang dibeli Raffi Ahmad dari Andre Taulani seharga 700 juta rupiah (Sumber : pikiran-rakyat.com/diolah)





      Habis Ular Kobra Garaga Terbitlah Morris Cooper. Ya, ular peliharaan Panji sang Petualang  menjadi trending topik di berbagai media. Banyak orang yang mencoba gaya Panji saat menaklukan ular Kobra, meski Panji sendiri sudah mengingatkan keras agar masyarakat jangan sekali-kali mencobanya di manapun dan kapanpun. Kini, saat pandemi Virus Korona, mobil Morris Cooper MK 1 menjadi booming alias viral di berbagai media, khususnya dunia Youtube. 

Morris Sang Penghibur 

       Cerita berawal saat artis tenar dan sekaligus Youtuber tanah air Raffi Ahmad telah menyelesaikan ritual jalan-jalan keliling dunia. Raffi Ahmad memahami benar bahwa anak kesayangannya Rafathar sangat menyukai untuk menonton film Mr. Bean. Bahkan, sang anak sangat menggemari mobil yang selalu menemani Mr. Bean dalam setiap aktifitasnya. 

      Berniat mau kolaborasi bareng acara Podcast dengan menyambangi rumah artis tenar lainnya, Andre Taulani. Saat melewati koleksi mobil-mobil milik Andre Taulani, Raffi Ahmad kepincut dengan tampilan mobil antik Morris Cooper MK1 buatan Inggris tahun 1961. Raffi Ahmad berniat untuk memberi kejutan kepada anaknya tanpa kehadiran sang istri Nagita Slavina dan anaknya Rafathar. 

       Namun, sepertinya Andre Taulani enggan untuk menjualnya karena mobil kesayangan anaknya Kenzy. Apalagi, menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk membuat tampilan mobil unik ini tak sedikit, sekitar 500 juta rupiah. Raffi Ahmad keukeuh untuk membelinya. Karena, mereka menganggap bahwa sang anak dan istrinya akan senang sekali. Yaitu, untuk mengantar sekolah sang anaknya Rafathar. Setelah melalui nego yang sangat alot antara Raffi Ahmad dan Andre taulani yang melibatkan anaknya Kenzy, akhirnya terjadi deal kedua belah pihak, dengan harga 700 juta rupiah.

      Kegembiraan Raffi Ahmad dengan membawa mobil antik Morris Copper MK1 ke rumahnya, ternyata berbuntut panjang. Ternyata, sang anak dan istri tidak merasa gembira dengan tampilan mobil yang telah dibelinya. Seperti, pintu mobil yang sulit ditiutup. Atau, kaca mobil yang agak susah ditutup. Bahkan, sang istri mengomentari kepada sang suami bahwa Raffi Ahmad tidak bisa berbisnis. 

        Raffi Ahmad pun menelepon Andre Taulani atas komplen yang diutarakan istrinya. Selanjutnya, berbalas dengan kedatangan Andre Taulani ke rumah Raffi Ahmad. Dengan membawa anaknya Kenzy, Andre Taulani berniat untuk mengambil lagi mobilnya. Tentu, dengan mengembalikan kembali uang pembelian sang mobil. Namun, kenyataanya, Raffi Ahmad justru tidak ingin mengembalikan Morris Cooper MK1 tersebut. Dengan nego yang alot, mobil antik tersebut bisa diambil lagi dengan syarat harga yang ditawarkan sebesar 1 miliar rupiah. Tentu, Andre Taulani tak mau dengan membayar sebesar uang yang ditawarkan oleh Raffi Ahmad. 

         Babak baru, harga yang dipatok oleh Raffi Ahmad sebesar 1 miliar menjadi rebutan dua (2) artis ternama, yaitu Baim Wong dan Denny Cagur. Kedua artis dan sekaligus Youtuber top tersebut bersaing untuk memiliki Morris Cooper MK1 tersebut. Mobil klasik nan antik tersebut menghipnotis dua artis tersebut agar bisa dipinang. Banyak netizen yang berkomentar bahwa drama rebutan mobil antik tersebut hanyalah setingan. Hanya untuk menciptakan trending dan berujung pada penghasilan yang tinggi.  

        Tanpa dipungkiri, video artis-artis top tersebut yang melibatkan mobil antik Morris Cooper MK1 selalu menjadi trending Youtube dengan penonton jutaan. Bagi seorang Youtuber maka ia bak kipas-kipas uang ratusan jutaan rupiah. Benar-benar menggiurkan bahwa mobil antik mampu menghasilkan uang ratusan juta rupiah. 

        Drama perebutan mobil antik berakhir di tangan artis Denny Cagur. Dan, perlu diketahui bahwa akun Youtube Denny Cagur dibanjiri dengan penonton jutaan orang. Ia berhak membawa Morris Cooper MK1 buatan Inggris setelah mengelarkan kocek 1 miliar rupiah. Bukan hanya mendapatkan mobil antik, tetapi akun Youtube Denny Cagur kini bisa bertengger di Trending. 


Donasi untuk COVID-19 

      Netizen yang nyinyir akan berkata bahwa buat apa mengeluarkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah di tengah pandemi Virus Korona demi mobil antik. Mendingan uangnya buat menyumbang para pasien virus Korona. Dengan kata lain, artis-artis tersebut tidak menunjukan rasa empati di tengah wabah Virus Korona. Di mana, masyarakat sedang berdiam diri di rumah tanpa ada pekerjaan dan penghasilan. 

       Namun, harus jujur bahwa Morris Cooper MK1 telah menjadi hiburan jutaan rakyat di tengah maraknya Virus Korona. Mobil antik tersebut menjadi tontonan yang mengasikan saat Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH) dan beribadah di rumah. Tontonan tersebut justru memberikan pelajaran berharga bahwa setiap individu hendaknya mempunyai sikap kreatif untuk menghasilkan konten di ranah digital. Tentu, bermuara pada penghasilan.

       Dan, perlu diketahui bahwa akhir cerita dari perebutan Morris Cooper MK1 ditangan Denny Cagur memberikan pelajaran berharga. Raffi Ahmad berniat untuk menyumbang dari keuntungan penjualan mobilnya demi para pasien Virus Korona. Keuntungan sebesar 300 juta dari penjualan tentu bukanlah uang yang sedikit. Terlepas dari sensasi atau menaikan rating dan trending, maka niat tulus Raffi Ahmad bisa menjadi inspirasi buat orang lain. Kapan giliran anda yang suka nyinyir?

      Benar apa yang dikatakan dokter viral di medsos yaitu dr. Tirta yang pernah menjadi narasumber di salah sastu acara talk show di stasiun TV swasta. Dia menyatakan bahwa untuk mengerem penyebaran Virus Korona, maka dibutuhkan sinergi yang kuat. Di antaranya, orang kaya perlu memberikan bantuan. Bahkan, tanpa sungkan, dr. Tirta menyatakan bahwa orang kaya perlu memberikan sumbangan dengan menjual 1 mobilnya untuk membantu penanganan Virus Korona.

       Apa yang pernah dikatakan oleh dr. Tirta, ternyata Raffi Ahmad telah melakukan tantangannya. Dengan menjual mobil antik Morris Cooper MK1, di mana keuntungan dari penjualan mobilnya akan disumbangkan untuk penanganan pasien Virus Korona. Ternyata ada korelasi antara Morris Cooper MK1  dan pandemi Virus Korona. Di balik hiburan dan sensasi yang membuat banyak nyinyir, ternyata ada inspirasi yang bisa anda ambil. 

       Kini, Ular Kobra Garaga telah kembali ke alamnya. Sekarang, Morris Cooper MK1 akan menjadi legenda hiburan tanah air ketika pandemi Virus Korona. Semoga Morris Cooper MK1 akan betah dengan sang tuan barunya, Denny Cagur. 

Puasa Mudik Karena COVID-19

Puasa Mudik karena pandemi COVID-19 (Sumber : dokumen pribadi)





          Siapa yang tidak mau mudik, khususnya mudik Lebaran? Setiap orang punya hak untuk mudik. Mampu merangkai kenangan indah di kampung halaman. Bertemu dan mempererat silaturahmi dengan keluarga besar. Memohon doa terbaik dari orang tua yang telah membesarkan kita semenjak kecil. Namun, saat pandemi Virus Korona atau COVID-19, maka mudik menjadi sebuah anjuran yang dihindari. Bahkan, dilarang untuk dilakukan alias puasa mudik. Bukan, karena melarang setiap orang untuk pulang ke kampung halamannya. Namun, demi kebaikan bersama, yaitu menghindari penyebaran dan perkembangan virus yang mematikan, Virus Korona. 


Mudik Lebih Awal

         Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi di Bali tanggal 25 Maret 2020 lalu, keluarga besar saya di Ngawi Jawa Timur menelepon istri saya. Mereka menanyakan kabar kami, karena kondisi di Bali. Pembicaraan yang semula santai mulai makin serius, setelah melebar ke masalah pandemi Viirus Korona. Saya berniat bahwa tahun 2020 tidak mungkin (bahkan tidak bisa) mudik dengan alasan mencegah penyebaran Virus Korona. 

     Saya memahami bahwa penyebaran Virus Korona yang tak kasat mata sangat berpotensi menyebar. Ada dua kemungkinan, saya yang terpapar dari keluarga besar saya di Ngawi atau saya yang menularkan ke keluarga besar saya tersebut. Untuk berjaga-jaga, maka kami memutuskan untuk tidak mudik Lebaran sebelum masalah Virus Korona ini mereda. Apalagi, saya masih mencari tempat perguruan tinggi yang cocok untuk anak saya tahun ini.

       Sebelum kami mengutarakan untuk tidak pulang kampung halaman, keluarga besar saya justru lebih awal menyarankan agar kami tidak usah pulang kampung. Karena, sangat riskan terjadi virus Korona. "Wis, rasah mulih neh. Pokok'e tahun iki gak ono mudik-mudikan. Sing penting bareng-bareng sehat. Rasah dipikir mulih!" (Sudah, tidak usah pulang lagi. Pokoknya tahun ini tidak ada acara mudik. Yang penting sama-sama sehat. Tidak usah berpikir untuk pulang), kalimat yang melegakan dari keluarga saya. 

       Karena, mereka rela tidak bertemu Lebaran nanti demi kesehatan bersama. Padahal, awal tahun 2020, saya sudah mantap untuk pulang kampung ke Ngawi Jawa Timur. Sekalian pulang kampung ke orang tua saya di Brebes Jawa Tengah. Manusia memang pintar membuat rencana, namun Allah SWT Yang Maha Perencana.

       Apa yang saya alami ternyata berbeda jauh dengan apa yang dialami para perantau di Jakarta. Ketika pandemi Virus Korona makin meningkat. Dan, berbagai usaha Pemerintah menganjurkan agar masyarakat melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Bahkan, beberapa daerah melakukan Lockdown secara pribadi. Dengan kata lain, untuk mencegah penyebaran Virus Korona, beberapa daerah melakukan Karantina Wilayah. Penyemprotan Disinfektan di berbagai tempat digencarkan. Masyarakat dilarang mendekati kerumunan massal. Bahkan, pemerintah melarang untuk melakukan perpindahan atau migrasi seperti mudik. Hal ini bertujuan demi kebaikan bersama, yaitu mencegah penyebaran virus Korona lebih massif. Kenyataannya, para perantau justru nekad untuk pulang kampung. 

        Kondisi perkantoran dan pusat perdagangan di Ibukota Jakarta sepi. Apalagi, saya yang berada di Bali. Terbiasa menikmati ratusan bus pariwisata besar hilir mudik di jalanan.  Kini, bagai menjelang Hari Raya Nyepi. Semua destinasi wisata bagai museum yang tak terjamah pengunjung. Kita semua paham bahwa kondisi tersebut berdampak besar terhadap kemerosotan ekonomi.  

       Masyarakat dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH), Belajar di rumah dan beribadah di rumah. Hal ini bertujuan agar pasien yang positif terpapar Virus Korona tidak bertambah lagi. Namun, laporan dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 yang selalu update, sepertinya tidak diindahkan oleh para perantau, khsusunya perantau di Jakarta. 

     Larangan Pemerintah untuk melakukan perpindahan atau migrasi melalui aktifitas mudik ke kampung halaman ternyata dilanggar. Ribuan perantau dari Jakarta melakukan Ritual Mudik Dini ke kampung halamannya di Wonogiri Jawa Tengah. Mereka "mungkin" berpikir bahwa daripada tidak bisa bekerja di ibukota selama darurat Virus Korona, lebih baik pulang ke kampung halaman. Kebutuhan hidup dirasa lebih murah, bisa bertemu dengan keluiarga besar lebih awal dan lama. Serta, biaya mudik yang lebih murah (tidak kena tuslah). 

       Tetapi, gelombang mudik lebih awal tersebut sangatlah berisiko. Bahwa, kedatangan mereka yang berkerumun selama puluhan jam di dalam bus sangat rentan terpapar virus Korona antar penumpang. Belum lagi, kondisi mereka yang lelah justru akan semakin rentan tertular virus  Korona saat di kampung halamannya. Itulah sebabnya, kedatangan ribuan pemudik yang tidak mampu melakukan Puasa Mudik harus melewati rangkaian screening dari Pemerintah Daerah setempat. Dari cek suhu, semprotan disinfektan hingga isolasi mandiri selama 14 hari. 

      Dari berbagai rangkaian screening Pemerintah Daerah Wonogiri, maka mendapatkan satu orang yang positif Virus Korona. Yaitu, seorang supir bus yang pernah mengantarkan penumpang ke Bogor Jawa Barat. Dengan demikian, tentu semua penumnpang yang pernah dibawa dia akan dilakukan penanganann secara ketat. Bahkan, dilakukan rangkaian pelacakan, siapa saja yang pernah berinteraksi dengan dia. 

Puasa Mudik

      Kejadian positifnya Virus Korona pada rangkaian mudik menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. Bahwa, aktifitas perpindahan antar kota, antar provinsi, serta antar negara mempunyai potensi menyebarnya virus Korona. Itulah sebabnya, Pemerintah menganjurkan bahwa masyarakat dianjurkan untuk melakukan PHBS. Dari berita di media TV, konferensi pers gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 yang diutarakan oleh Juru Bicaranya Achmad Yurianto memberikan informasi baru. Beliau menyatakan bahwa kebiasaan cuci tangan dengan sabun sangat baik untuk mencegah menyebarnya Virus Korona. Karena, dari tangan membuat setiap orang akan menyentuh mulut, hidung dan mata. Namun, dengan mencuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun akan mencegah terpaparnya Virus Korona.

       Silahkan anda bayangkan? Dengan naik bus yang berkapasitas kurang lebih 50 orang. Daya tahan tubuh setiap penumpang yang berasal dari kawasan zona merah seperti Jakarta berbeda-beda. Perjalanan berjam-jam yang melelahkan tersebut sangat berpotensi Virus Korona akan saling terpapar satu dengan yang lainnya. Anda tidak akan tahu, penumpang mana yang telah terpapar Virus Korona. Apalagi, banyak artis yang positif Virus Korona, tetapi tidak menunjukan gejala-gejala. Sebuah fakta yang sangat mengejutkan agar masyarakat jangan sekali-kali merasa "kebal" atau "menyepelekan" Virus Korona. 

        Saya sendiri merasakan apa yang dirasakan para perantau yang pulang ke Wonogiri. Tidak ada pekerjaan, sementara persediaan materi yang ada "mungkin" makin menipis. Dari pada susah di perantauan, lebih baik pulang ke kampung halaman. Namun, mereka sungguh "tidak" tahu dampak besar apa yang akan terjadi. Bahwa, penyebaran Virus Korona sungguh luar biasa. Perpindahan tempat akan semakin memperluas penyebaran Virus Korona. Dengan demikian, akan semakin bertambahnya ODP, PDP dan pasien positif Virus Korona. 

       Sungguh, seandainya para perantau tersebut mematuhi anjuran Pemerintah untuk tidak mudik lebih awal. Maka, setidaknya tidak akan bertambah orang yang terpapar Virus Korona. Namun, mereka lebih mementingkan mudik daripada dampak Virus Korona. Mereka tidak kuat untuk Puasa Mudik. 

       Tentu, dari sisi ekonomi, kita tidak boleh menyalahkan mereka. 'Mungkin" mereka tidak merasakan jaminan hidup atau tidak betah untuk berdiam diri selama mereka tinggal di rumah. Hal inilah yang membutuhkan kerjasama semua kalangan masyarakat. Jadi, selama mereka tinggal di rumah, mereka tetap enjoy karena kebutuhan tetap ada. 


Horor di Rumah Besar Banyuwangi

Rumah Angker dengan aura mistis selalu bikin kuduk merinding (Sumber : ilustrasi/hitekno.com)        Mendengar penjualan min...