Tuesday, February 23, 2021

Mampir ke Sentra Garam Amed Bali

 

Kantor Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Sentra Garam Amed Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Bagaikan sayur tanpa garam.

 

Pepatah yang selalu menarik banyak orang. Di mana, garam sangat dibutuhkan dalam memasak. Dan, garamlah menjadi sayuran terasa sedap. Banyak daerah di Indonesia yang menghasilkan garam terkenal. Salah satunya Pulau Bali. Ada 2 sentra penghasil garam di Pulau Dewata ini, yaitu Kawasan Kusamba Kabupaten Klungkung dan Amed Kabupaten Karangasem.

Seminggu lalu, saya sempat jalan-jalan ke kawasan Amed Kabupaten Karangasem. Kondis jalanan yang dipenuhi dengan bisnis perhotelan dan usaha diving (selam) itu masih terlihat sepi. Hanya beberapa warga asing yang hilir mudik.  Saya melihat banyak hotel yang tampak seperti museum. Tanpa lalu lalang, keluar masuk tamu hotel.

Bisnis selam (diving) juga terlihat sepi. Sepi dari aktifitas wisatawan yang mengenakan atau mencoba pakaian ala renang. Sudah lumrah, bahwa kondisi yang sepi tersebut, terjadi sejak Pandemi Covid-19 menerjang bangsa ini setahun lalu. Dan, kondisi sepi menjadi pemandangan yang sudah biasa. Meskipun, sekarang mulai menggeliat, dibandingkan saat Pandemi Covid-19 mulai merebak.  

Saya berusaha menyusuri jalan, yang berada di sepanjang pantai Amed. Tanpa sengaja, saya melewati Sentra Garam Amed Bali. Lokasinya ada di jalan I Ketut Natih, Banjar Dinas Lebah Desa Purwa Kerthi Kecamatan Amed Kabupaten Karangsem.

 

“Apakah ini pusat pembuatan garam Amed yang terkenal itu” pikir saya.

 

Saya pun menghentikan laju sepeda motor. Dan, memarkir kendaraan di kawasan parkir Wisata Air Jemeluk. Di bagian depan, saya melihat kantor dari Sentra Garam Amed Bali tersebut. Dan, di bagian depannya terdapat sebuah prasasti yang menunjukan tentang peresmian Sentra Garam Amed Bali.

Prasasti tersebut diresmikan pada tanggal 19 Oktober 2019 oleh anggota Senator dari Provinsi Bali DR. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendratta Wedasteraputra Suyasa III, S,E., (M.Tru) M.Si. Berdiri kokoh menempel pada sebuah tiang dan pagar dari batang kelapa.

 

 

Prasasti peresmian Sentra Garam Amed oleh Senator dari Provinsi Bali DR. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendratta Wedasteraputra Suyasa III, S,E., (M.Tru) M.Si. (Sumber: dokumen pribadi)

 

Berhenti Pembuatan Garam

 

Saya mencoba masuk ke dalam kawasan proses pembuatan garam Amed. Namun, yang terlihat hanyalah beberapa tumpukan pelepah atau batang kelapa, yang digunakan untuk sarana pembuatan garam. Luasan tanah sekitar 500m2 ini terlihat kosong, tanpa aktifitas para petani garam dalam proses pembuatan kristal putih.

Perlu diketahui bahwa garam Amed merupakan produk lokal Bali yang sangat bernilai tinggi, setelah garam Kusamba. Yang unik dari garam Amed ini berwarna putih, dan kristalnya terlihat kecil dan lembut. Jangan kaget, garam Amed ini sangat digemari oleh para chef hotel berbintang di Bali.

Bahkan, garam Amed ini banyak dipesan oleh orang dari luar Bali. Namun, masa Pandemi Covid-19 telah memutus aktifitas para petani garam Amed. Oleh sebab itu, aktifitas pembuatan garam terpaksa berhenti, untuk batas waktu yang tidak ditentukan. Hal ini disebabkan karena terhentinya pesanan garam Amed.

 

 

Kondisi tempat proses pembuatan garam Amed (Sumber: dokumen pribadi)

 

Beralih Profesi

 

Terhentinya proses pembuatan garam menyebabkan petani garam berhenti operasi. Dan, berpindah pekerjaan, seperti menjadi pelaut mencari ikan. Anda bisa melihat jejeran perahu tradisional yang ada di Pantai Amed. Ada juga yang beralih profesi menjadi peternak agar bisa menyambung hidup dan dapur tetap ngebul.


 

Jejeran perahu tradisional di Pantai Amed (Amed Beach) (Sumber: dokumen pribadi)

 

Menarik, garam Amed ini sudah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis dari Dirjen Hak dan Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI. Hal ini memberikan pemahaman bahwa produk lokal garam Amed sudah terjamin kualitasnya.

Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Karangasem, para petani garam Amed yang berjumlah kurang lebih 35 orang telah tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).

Namun, lesunya bisnis perhotelan karena Pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap kinerja petani garam Amed. Mereka tidak mau ambil resiko. Jika, proses pembuatan garam tetap dilanjutkan, maka stok garam akan menumpuk. Karena, permintaan garam mengalami mati suri.

Kita berharap jangan sampai produk lokal garam Amed menjadi hilang, karena dampak Pandemi Covid-19. Dan, para petani garam Amed  enggan untuk berproses kembali. Oleh sebab itu, harapan besar pandemi Covid-19 mereda. Agar, proses pembuatan garam Amed bisa berjalan kembali.

Perjalanan saya untuk mampir di Sentra Garam Amed memberikan pelajaran penting, Bahwa, dampak Pandemi Covid-19 mampu merontokan produk lokal. Yang digarap oleh banyak petani garam. Ketika, garam Amed menjadi langganan kalangan hotel. Dan, bisnis hotel mengalami kelesuan. Maka, perjalanan bisnis garam Amed pun ikut terkena imbasnya.

Kini, saya telah mengunjungi 2 kawasan sentra pembuatan garam terkenal di Bali. Di kawasan Kusamba Kabupaten Klungkung, saya malah ikut bekerja dengan petani garam setempat. Membantu salah satu petani setempat dalam mencetak kristal putih. Berbeda dengan di kawasan Amed. Saya malah menyaksikan tiadanya proses pembuatan garam. Bagai museum tanpa pengunjung. Miris sekali.

Kita semua kangen, ketika para petani garam memikul air laut ke tempat pembuatan garam. Kita semua kangen, saat pelepah kelapa itu diisi dengan air laut, yang kemudian air laut mengeras menjadi kristal putih. Kita semua kangen, para petani garam melakukan proses pembuatan garam, untuk kebutuhan penyedap sayuran di dapur kita.

Kapan semua itu akan terjadi lagi? Hanya Tuhan yang tahu. Mari berdoa agar Pandemi Covid-19 cepat mereda. Dan, denyut perekonomian para petani garam Amed bisa mulai lagi. Karena, senyum mereka adalah kebahagiaan kita. Senyum mereka adalah bukti bahwa bisnis pariwisata mulai bergerak. Dan, Bali kem(BALI) bangkit. 

Inilah 5 Spot Berenang di Kolam Renang Alami Air Sanih yang Anti Mainstream

 

Kolam Renang Alami Air Sanih di Kecamatan Kubu Tambahan, Kabupaten Buleleng – Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Debur ombak air laut itu menerjang jejeran batu pemecah ombak. Namun, air laut di pantai Utara Bali itu masih kalah tinggi dengan kolam renang yang ada persis di hadapannya. Maka, air laut yang asin tidak bisa mencampuri rasa air alami kolam renang. Padahal, hanya berbatasan dengan lubang pembuangan air kolam renang.

 

Keberadaan Kolam Renang Alami Air Sanih memang sungguh unik. Dengan kata lain, Kolam Renang Alami Air Sanih ini Anti Mainstream. Kolam renang yang menampilkan air kolam alami yang jernih ala pegunungan. Padahal, lokasi kolam renang tersebut persis berbatasan dengan laut.

Setiap saat, ombak laut yang besar pantai Utara Bali ini bisa menyusup masuk melewati lubang besar di bagian paling utara kolam renang. Di mana, lubang besar tersebut berfungsi sebagai tempat pembuangan air yang telah dipakai oleh pengunjung.

Kolam Renang Alami Air Sanih berada di Kecamatan Kubu Tambahan, Kabupaten Buleleng Bali. Lokasinya ada di pinggir jalan raya jalur Singaraja-Karangasem. Jadi, akses ke Kolam Renang Alami Air Sanih sangatlah mudah. Jarak dari Kota Singaraja ke Kolam Renang Alami Air Sanih kurang lebih 25 km. Sedangkan, jarak ke Kota Amlapura (Ibukota Kabupaten Karangasem) kurang lebih 80 km.

Jika anda ingin menikmati pemandangan pantai jalur timur Bali, maka anda bisa melewati jalur timur. Dari Kota Denpasar ke Amlapura kurang lebih 70 km. Sedangkan, jarak dari Bandara Internasional Ngurah Rai ke Amlapura kurang lebih 85 km. Anda bisa menggunakan kendaraan rental atau tour travel. Anda akan menempuh perjalanan kurang lebih 150-165 km melalui jalur timur Bali.

Tiket masuk Kolam Renang Alami Air Sanih sangat merakyat. Untuk dewasa dikenakan Rp10 ribu, sedangkan untuk anak-anak dikenakan Rp5 ribu. Tempat parkir kendaraan, baik roda dua maupun roda empat ada di pinggir jalan, di sekitar depan pintu masuk yang berbatasan dengan jalan raya. Ada petugas parkir yang akan mengaturnya. Biaya parkir untuk roda dua sebesar Rp2 ribu dan untuk roda empat sebesar Rp5 ribu.  

   

 

Besaran tiket masuk Kolam Renang Alami Air Sanih untuk dewasa dan anak-anak (Sumber: dokumen pribadi)

 

Kolam Renang Alami Air Sanih dibuka secara resmi untuk umum pada tahun 2009. Semula, kolam renang ini masih kecil, yang berawal dari kolam yang berada di bawah jembatan dekat pintu masuk. Setelah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah, maka kolam renang tersebut diperbesar. Dan, menjadi destinasi wisata populer di Kabupaten Buleleng.

Kolam Renang Alami Air Sanih menyediakan toilet, ruang ganti (change room), tempat bilas dan loker (tempat penyimpanan barang). Tempat ini berada di bagian depan (dekat pintu masuk) sebelah kiri. Untuk jasa ruang ganti atau toilet dikenakan biaya jasa sebesar Rp2 ribu per orang.

Di destinasi wisata Kolam Renang Alami Air Sanih akan memanjakan pengunjung dengan 5 jenis spot kolam renang alami. Anda bisa menggunakannya sesuai dengan selera, usia dan pemanfaatannya. Berikut, 5 jenis spot berenang, yang bikin anda ingin buru-buru nyebur.

 

Pertama, kolam renang alami utama. Kolam renang ini berada di bagian paling kanan. Memanjang dari ujung utara hingga selatan. Kedalaman kolam renang sekitar 140 cm. Oleh sebab itu, kolam renang ini diperuntukan untuk dewasa.

Tetapi, bagi anak-anak yang hendak menggunakan kolam renang ini wajib dengan pendampingan orang tua. Untuk menambah suasana gembira, pengelola menyediakan ban dalam, untuk mencegah tenggelamnya pengunjung. Tentu, penggunaan ban dalam dikenakan biaya sewa.


 

Kolam renang utama di bagian timur Kolam Renang Alami Air Sanih (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Saya merasakan bahwa air kolam renang ini benar-benar jernih. Padahal, lapisan dasar kolam hanya berupa pasir yang bercampur bebatuan kecil. Uniknya, pasir kolam tersebut tak merusak jernihnya air. Saya menyelam beberapa kali dan mencoba mengaduk-aduk pasir di bagian tengah ketinggian air. Namun, pasir tersebut benar-benar bersahabat dengan air alami. Dengan kata lain, pasir tak berdampak air untuk menjadi keruh.

Jika anda capai berenang di kolam renang utama ini, di bagian sisi timur kolam renang utama terdapat beberapa bale bengong untuk beristirahat. Apalagi, di sekitar kolam renang terdapat beberapa penjual minuman dan cemilan.

Suasana makin asri dan adem, karena di bagian timur kolam renang utama ini banyak tumbuh tanaman. Lumayan, bisa mengusir hawa panas saat cuaca panas terik.  


 

Saya kerasan banget berenang di kolam renang utama Kolam Renang Alami Air Sanih (Sumber: dokumen pribadi)

 

Kedua, kolam renang yang berbentuk lengkungan. Kolam renang ini hampir membentuk sebuah lingkaran. Dengan panjang lintasan kurang lebih 100 meter. Lebar kolam renang ini kekira 3 meter. Dengan kedalaman air setinggi betis orang dewasa. Sepertinya, kolam renang ini diperuntukan hanya untuk balita dengan pendampingan orang tua.

 

 

Kolam renang di Kolam Renang Alami Air Sanih yang berbentuk lengkungan (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Kolam renang ini terdapat 2 buah jembatan. Saya merasakan sendiri bahwa air kolam renang ini sama jernihnya. Kolam renang kedua terlihat seperti saluran irigasi sawah. Dan, saya menyempatkan untuk menyusuri kolam renang ini hingga tuntas. Saya melihat banyak orang tua, khususnya ibu-ibu yang mendampingi anak balitanya bermain air.  

 

 


Saya menikmati kolam renang berbentuk lengkungan di Kolam Renang Alami Air Sanih (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ketiga, kolam renang waterboom. Mengapa saya katakan sebagai kolam renang waterboom. Karena, di kolam renang ini, pengelola menyediakan fasilitas seluncuran ala waterboom. Ada 2 jenis seluncuran di kolam renang ini. Yaitu, seluncuran yang mempunyai lebar kurang lebih 2 meter dan seluncuran yang mempunyai lebar kurang lebih 75 cm.

Kolam renang ini diperuntukan untuk anak-anak. Dan, kolam renang ketiga ini merupakan ujung dari kolam renang kedua, yang berbentuk lengkungan. Menarik, saya mencoba di kolam renang lengkungan dan kolam renang waterboom,  dengan air kolam yang terasa hangat.

Berbeda dengan kolam renang utama yang terasa dingin. Tinggi air di kolam renang ketiga ini sangat bersahabat, kekira 60 cm. Jadi, anak-anak bisa bermain seluncuran dengan bebas. Tanpa takut tenggelam di kolam renang, setelah meluncur dengan bebas.   

 

 

Kolam renang ketiga yang diperuntukan untuk anak-anak, sambal bermain seluncuran (Sumber: dokumen pribadi)

 

Keempat, kolam renang pembuangan. Kolam renang ini banyak digunakan oleh orang dewasa dan remaja. Kolam renang jenis ini seperti kolam renang pembuangan. Tetapi, kolam renang ini mempunyai luasan hampir separo kolam renang utama. Di bagian utara kolam renang ini terdapat lubang yang berguna untuk membuang air Kolam Renang Alami Air Sanih, yang telah digunakan pengunjung mengalir ke laut lepas.

Di sisi bagian timur kolam keempat ini, terdapat dua pintu untuk mengatur debit air ala irigasi. Pintu ini sangat bermanfaat untuk mengatur ketinggian air kolam keempat agar tetap lebih rendah dengan kolam renang lainnya. Sehingga, air kolam mudah untuk dibuang ke laut.

Meskipun, kolam keempat sebagai kolam pamungkas. Tetapi, saya merasakan bahwa air kolam renang ini terasa dingin. Dan, air kolam tetap terlihat jernih, seperti tidak terpengaruh dengan kondisi pasir pantai dan bebatuan kecil di landasan kolam renang.

 

 

Kolam renang keempat sebagai kolam renang pembuangan (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Kelima, kolam renang tambahan. Kolam renang kecil yang berada di antara kolam renang utama dan kolam renang keempat. Luasan kolam renang ini seperti satu lompatan orang dewasa. Dibatasi dengan pintu irigasi yang berbatasan dengan kolam renang utama. Dan, dibatasi pintu irigasi juga yang berbatasan dengan kolam renang keempat.

Saya tidak sempat berenang di kolam renang tambahan ini. Karena, saat itu ada seorang bapak yang sedang serius sekali mandi di kolam renang ini. Sepertinya, ia sedang melakukan meditasi atau merenungkan diri. Saya takut mengganggu konsentrasinya. Karena, ia terlihat sedang memejamkan mata dan berdiam diri.

Jadi, Kolam Renang Alami Air Sanih ini mempunyai 5 jenis kolam renang. Yang masing-masing mempunyai fungsinya masing-masing. Juga, diperuntukan untuk masing-masing kriteria pengunjung. Meskipun, pembagian tersebut tidaklah baku. Dengan kata lain, pengunjunglah yang akan memilih sendiri jenis kolam renang yang cocok dengan usia dan pemanfaatannya.

Itulah sebabnya, Kolam Renang Alami Air Sanih menampilkan bentuk kolam yang anti mainstream. Kolam renang boleh pinggir laut, tetapi air kolam rasa pegunungan. Anda mau coba? Yuk, nikmati petualangan anda di Bali Utara.   

Monday, February 22, 2021

Maha Gangga Valley, Pesona Keindahan Alam di Lembah Bali Timur

 

Maha Gangga Valley, perpaduan keindahan alam dan kreatifitas seni di Bali Timur  (Sumber: dokumen pribadi) 

 

 

Banyak kalangan menyatakan bahwa Bali itu terbagi menjadi empat secara geografis, yaitu Bali Barat, Bali Utara, Bali Selatan dan Bali Timur. Juga terbagi menjadi dua wilayah besar karena faktor gugusan perbukitan atau gunung, yaitu Bali Utara dan Bali Selatan.

Seringkali, pembagian dua wilayah besar ini menunjukan ketimpangan sosial dan derasnya aktifitas pariwisata. Bali Selatan dianggap dengan kawasan yang banyak mendulang pundi-pundi, karena pembangunan pariwista yang berkembang cepat.

Karena, berbagai fasilitas pariwisata seperti perhotelah hingga bandara. Sedangkan, Bali Utara dianggap sebagai kawasan yang kekurangan fasilitas pariwisata, karena bandara domestik yang belum ada. Juga, akses lokasi yang terbilang susah dieksplorasi.

Bahkan, seringkali kekayaan berupa pendapatan karena pariwisata di Bali Selatan mampu menandingi pendapatan pariwisata dari Bali Barat, Bali Utara dan Bali Timur. Namun, apapun kondisi geografis yang ada tidak menyurutkan Pemerintah Daerah di Bali untuk berbenah dan membangun daerahnya.

Salah satu cara mendulang pendapatan pariwisata adalah membangun destinasi wisata baru yang menarik banyak pengunjung. Oleh sebab itu, salah satu kawasan di Bali Timur, Pemerintah Kabupaten Karangasem membangun destinasi wisata baru yang menakjubkan. Destinasi wisata itu bernama MAHA GANGGA VALLEY.  

 

KEINDAHAN ALAM LEMBAH

 

Pemerintah Kabupaten Karangasem meski bersyukur, karena mempunyai kondisi geografis yaitu perpaduan antara perbukitan, gunung dan pantai. Kondisi persawahan model terasering masih terjaga dengan baik. Bahkan, saya katakan bahwa bentangan alam persawahan yang berada di lembah gunung sangat alami dan asri.

Itulah sebabnya, MAHA GANGGA VALLEY dibangun di kawasan lembah Kecamatan Abang. Kawasan yang sangat alami dan hijau, di mana mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani. Saya melihat destinasi wissata tersebut seperti kawasan kampung kecil yang ada di sebuah lembah.

 

  

Maha Gangga Valley tampak dari kejauhan (Sumber: dokumen pribadi)

 

Akses jalan ke Maha Gangga Valley sangat baik, kurang lebih 70km dari pusat Kota Denpasar. Atau, kurang lebih 85km dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Sedangkan, jarak lokasi Maha Gangga Valley dari pusat Kota Karangasem kurang lebih 7km.

Tiket masuk Maha Gangga Valley sebesar Rp20 ribu. Anda akan disambut dengan suasana alami dan klasik sejak di bagian tiket. Masalah parkir yang begitu luas membuat pengunjung merasa nyaman.

Maha Gangga Valley ini mempunyai ikon wisata yang berupa patung angsa yang menggunakan mahkota. Tinggi patung tersebut kurang lebih 7 meter. Bahkan, patung tersebut terlihat jelas ketika anda melihatnya dari luar lokasi (dari jalan raya).

Yang unik, bagian bawah patung angsa tersebut terlihat cetakan banyak “pis bolong” (uang berlubang khas Bali). Uang ini sebagi tanda tentang kekayaan dan kemakmuran. Saya mempunyai persepsi baik bahwa destinasi wisata Maha Gangga Valley dirancang untuk mendatangkan kemakmuran. Bukan hanya bagi investor, Pemerintah Daerah, tetapi juga bagi masyarakat sekitarnya.  

 

 

Ikon Maha Gangga Valley yang berupa patung angsa setinggi kurang lebih 7 meter (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Maha Gangga Valley menawarkan perpaduan keindahan alam lembah Bali Timur dan karya klasik manusia. Anda bisa menyusuri jalan setapak, yang di kanan dan kirinya terdapat bentangan tanaman padi atau bunga gumitir (marigold). Anda juga bisa melihat beberapa karya trampil manusia, seperti berbagai patung yang terpasang di pinggir jalan setapak.     

 

 

Jalan setapak yang menampilkan keindahan alam dan kreatifitas seni (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Menarik, ada beberapa spot jalan setapak yang bagus untuk mengabadikan kenangan. Seperti, jalan yang ditutupi dengan untaian kayu. Menjadi sebuah lorong (gang) unik untuk berfoto ria. Terlihat sepele, tetapi ketika ditata dengan baik, maka akan menjadi sebuah seni yang indah.


 

Spot Lorong kayu yang ikonik di Maha Gangga Valley (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Anda juga bisa menikmati beberapa jalan setapak yang berhiaskan bunga dan patung unggas berwarna putih. Bahkan, suasana makin alami dan mengesankan. Ketika, bentangan padi yang mau dipanen menjadikan suasana semakin indah. Inilah salah satu contoh perpaduan alami dan kreatifitas klasik manusia.  

 


Pemandangan padi, bunga dan patung angsa (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Anda juga akan terpesona saat melewati jalan lorong yang panjangnya sekitar 50 meter. Di mana, jalan tersebut dihiasi dengan bambu sebagai atapnya. Penutup untaian kayu bambu tersebut didesain melengkung.  Anda bisa mengabadikan kenangan di spot ini. Bisa sambil terbang (levitasi) ala saya. Atau, sambil duduk di kursi kayu. Semua terserah anda!



Adegan levitasi di lorong bambu (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Sepertinya, destinasi wisata Maha Gangga Valley mengadopsi kearifan lokal khas Waerebo Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini terlihat dari bangunan di sini menggunakan atap bangunan berbentuk kerucut. Dan, bahan bangunan tersebut terbuat dari bahan serba kayu atau alam. Di mana, atapnya terbuat dari atap rumbia.


 

Bangunan khas Maha Gangga Valley yang berupa bangunan khas Waerebo NTT (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Jika, anda beruntung akan menemukan tumpukan batang padi. Sebagai bukti, bahwa masyarakat sekitar habis merayakan masa panen. Cara merontokan batang padi pun masih terlihat alami atau tradisional. Hal ini terlihat dari alat perontok padi yang berupa papan kayu. Digunakan sebagai tempat landasan merontokan padi.  



Beruntung, bisa mengabadikan kegiatan ala petani dalam merontokan padi (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Maha Gangga Valley juga menampilkan spot wisata kekinian. Terlihat dari adanya dua tempat ayunan (swing). Pertama, ayunan tinggi yang berada persis di pinggir jurang dekat dengan air terjun. Saya belum paham, apakah ayunan ini gratis atau berbayar.

Tetapi, dari cara penanganannya, saya memprediksi bahwa ayunan tinggi tersebut berbayar. Terlihat dari adanya petugas khusus yang menangani spot ini. Juga, ayunan terlihat terkunci, saat tidak digunakan pengunjung.

Kedua, ayunan yang berada tidak jauh dari patung angsa. Ayunan tersebut terbilang kecil dan gratis. Pengunjung bebas menggunakannya, tanpa pantauan petugas. Tetapi, yang menarik dari ayunan ini adalah tempat duduknya seperti kursi sofa. Dan, berhiaskan bunga-bunga imitasi di kanan dan kiri ayunan.   

 

 

Ayunan (swing) kecil menjadi destinasi para pengunjung (Sumber: dokumen pribadi)

 

Selain ayunan, Maha Gangga Valley menampilkan berbagai spot foto yang menarik. Seperti, tempat selfie ala sarang burung buat bertelur. Spot foto yang lagi hits beberapa tahun belakangan ini. Spot foto tersebut terletak tidak jauh dari ayunan kedua yang telah dijelaskan di atas.

Jika, pengunjung merasa capai, maka anda tidak perlu bingung. Karena, Maha Gangga Valley telah menyediakan beberapa bale bengong untuk istirahat. Bahkan, ada dua restoran yang siap melayani pengunjung. Restoran ini berada di tengah-tengah lokasi wisata.

   

 

Spot foto berupa sarang burung (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Dari beberapa spot wisata, saya sangat tertarik dengan spot jembatan kayu yang panjangnya kurang lebih 30 meter. Jembatan tersebut didesain dengan atap dan pembatas kayu di kanan dan kirinya. Sepanjang kanan dan kiri jembatan tersebut digantung beberapa hiasan ukiran dari buah kelapa. Ukiran tersebut menampilkan beberapa emosi atau karakter manusia.

Saya menyempatkan diri untuk mengabadikan kenangan di spot ini. Dengan gaya ala levitasi (terbang), maka kenangan makin indah. Dari jembatan kayu ini, anda bisa melihat di sekelilingnya berupa lembah dan bentangan persawahan yang terlihat hijau dan alami. Juga, anda bisa melihat gugusan bukit dan Gunung Agung yang terkenal di Bali.   



Spot foto berupa jembatan kayu. Saya menyempatkan diri untuk adegan levitasi (Sumber: dokumen pribadi) 

 

AIR TERJUN DAN CAMPING

 

Jujur, hal paling menarik bagi saya dari destinasi wisata Maha Gangga Valley adalah keberadaan dua air terjun. Air terjun terjun tersebut berada d sisi utara (bawah pohon besar) dan sisi timur (paling belakang) Maha Gangga Valley.

Saya tidak sempat mencoba atau eksplorasi keduanya. Tetapi, saya gembira bisa eksplorasi air terjun yang berada di sisi utara yang bernama AIR TERJUN TENGGKORAK (TENGKORAK WATERFALL).

Anda meski menuruni puluhan anak tangga dari tanah. Tidak terlalu jauh ke bawah, sehingga tidak membuat capai dan pegal-pegal kaki. Ada ruang ganti (change room) dan toilet duduk. Tetapi, pembatas (dinding) toilet ini terbuat dari kayu yang masih terlihat sela-selanya. Jadi, jika ada orang yang usil atau jahat, maka orang dari luar bisa melihat ke dalam ruangan dalam toilet. Tahu kan maksud saya?

Namun, saya merasakan bahwa kondisi toilet sangat bersih. Bahkan, aliran airnya sangat deras. Hal ini sering dialami beberapa destinasi wisata, ketika aliran air macet, maka sangat mengganggu kenyamanan pengunjung.   

Perlu diketahui bahwa air terjun ini menawarkan air yang jernih alami. Unik, ada 3 air terjun yang letaknya tidak berjauhan. Tinggi air terjun tersebut kurang lebih 3 meter. Tetapi, anda tidak perlu khawatir karena debit air terjun tersebut sangat deras.

Di tempat jatuhnya air (sungai), pihak pengelola telah menyediakan ban dalam untuk berenang. Cocok sekali untuk pelesiran keluarga. Anda juga bisa menjelajah track (lintasan) sungai yang berbatu. Saya yakin adrenalin anda kian terpacu.  


 

Air Terjun Tengkorak (Tengkorak Waterfall) yang mempunyai 3 air terjun (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Maha Gangga Valley juga menawarkan tempat camping bagi para pengunjung. Kawasan camping ini berada dekat dengan ayunan pertama, yang telah saya jelaskan di atas. Bangunan tempat tinggal yang mempunyai atap ala bangunan Waerebo NTT ini benar-benar sangat klasik dan mengadopsi kearifan lokal.

Di sekeliling kawasan camping, terdapat kebuh bunga marigold (gumitir). Pengunjung tinggal merogoh isi kocek sebesar Rp550 ribu per malam untuk 2 orang dewasa dan 1 anak-anak. Pengguna jasa camping akan mendapatkan sensasi alam. Jika, pengunjung ingin hemat dan bersahabat dengan alam, pihak pengelola telah menyiapkan tempat untuk memasak.


 

Taman bunga Gumitir yang berada di sekeliling tempat camping (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Bangunan untuk camping yang berbentuk rumah khas Waerebo NTT (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Saya tidak sempat mengeksplorasi air terjun kedua yang berada paling belakang dari Maha Gangga Valley. Sebagai gantinya, pengunjung bisa menikmati spot pandang yang unik, yang berada di tengah-tengah sawah. Spot ini berupa bangunan kayu yang tingginya kurang lebih 7 meter. Anda mesti menaiki beberapa tangga dulu. Dan, anda bisa menikmati pemandangan bebas dari spot ini.

Sayang, pemandangan di sekelilingnya berupa bentangan padi yang telah dipanen. Bisa dibayangkan, jika bentangan tanaman padinya masih menghijau. Benar-benar amazing!



Spot pandang dari kayu yang tingginya kurang lebih 7 meter (Sumber: dokumen pribadi)

 

Asik, kan? Menjelajah keindahan Maha Gangga Valley bagi saya ibarat “pay 1 get 3”. Bayar satu, tetapi dapat 3 spot menarik yaitu 1 bentangan alam di lembah Bali Timur dan 2 air terjun yang membuat dinginnya badan saat cuaca panas.

Jadi, bagi anda yang kebingungan mencari destinasi wisata keren alami, maka Maha Gangga Valley bisa menjadi alternatif bagus liburan anda. Jangan lupa ya, tetaplah menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes). Agar, liburan anda makin menyenangkan. Yuk, lihat video menarik perjalanan saya di Maha Gangga Valley.

 

   

Maha Gangga Valley (Sumber: dokumen pribadi/Youtube)


Menikmati Jernihnya Air Taman Mumbul Sangeh

 

Taman Mumbul Sangeh menjadi destinasi wisata favorit pengunjung yang murah meriah (Sumber: dokumen pribadi)

 

Bagaimana rasanya, jika anda bisa menikmati keindahan dari perpaduan Pura Ulun Danu, Taman Ayun dan Taman Air Tirta Gangga jadi satu?

 

Wow, asik dong kalau kita bisa menikmati suasana keindahan 3 destinasi wisata di Bali dalam satu tempat. Benar banget! Suasana keindahan tersebut bisa anda nikmati di Taman Mumbul Sangeh. Destinasi wisata ini berada di Kecamatan Petang Kabupaten Badung Bali.

Jarak lokasi dengan destinasi wisata kondang Monkey Forest Sangeh yang fenomenal kekira 2 km. Jika, anda meluncur dari arah Kota Denpasar, maka tepat di perempatan jalan arah ke Destinasi Wisata Monkey Forest. Anda meski belok ke arah kanan.  

Secara resmi, Taman Mumbul Sangeh belum lama dibuka untuk umum. Namun, destinasi wisata ini menjadi tujuan para pelancong. Destinasi wisata ini menjadi tempat yang asik buat nongkrong. Ngumpul bareng keluarga untuk mengisi liburan. Atau, tempat nongkrong bareng teman dan komunitas.

Tiket masuk Taman Mumbul Sangeh masih digratiskan. Anda hanya dikenakan biaya parkir saja. Untuk sepeda motor sebesar Rp2.000. Sedangkan, untuk kendaraan roda empat (kalau tidak salah, maklum nggak bawa mobil) dikenakan biaya parkir sebesar Rp5.000.

 

Apa yang menarik di Taman Mumbul Sangeh?

 

Sejatinya, luasan Taman Mumbul Sangeh ini hampir seperti luasan lapangan bola. Namun, destinasi wisata ini menawarkan keindahan perpaduan destinasi wisata Bali lainnya, seperti  Pura Ulun Danu, Taman Ayun dan Taman Air Tirta Gangga.

Destinasi wissata ini sungguh populer. Berbentuk seperti danau mini ala Danau Beratan. Di mana, di tengah  danau ada pura seperti Pura Ulun Danu Beratan Tabanan Bali.

Air danaunya sungguh jernih. Pihak pengelola memanfaatkan danau ini untuk memelihara ikan koi atau emas. Sebenarnya, keberadaan ikan peliharaan tersebut juga untuk memberikan kepuasaan pengunjung. Sembari berwisata, pengunjung bisa memanjakan mata dengan memberi makanan ikan.

Sebagai informasi, pakan ikan bisa dibeli pengunjung di dekat pintu masuk Taman Mumbul Sangeh. Keberadaan ikan ini persis seperti pemandangan di destinasi wisata Taman Tirta Gangga Karangasem.

 Karena, jernihnya air maka pengunjung bisa melihat dengan jelas keberadaan ikan yang hilir mudik di air danau. Ketika, pengunjung memberi makan, ikan-ikan tersebut akan bergerombol saling berebutan makanan. Hal ini menjadi pemandangan yang menarik pengunjung.

Keberadaan Pura yang berada di tengah danau, mengingatkan saya dan anda akan destinasi wisata Taman Ayun Bali. Yaitu, keberadaan pura yang berada di tengah danau, seakan-akan diayun-ayunkan riaknya air danau. Jika anda melihat keberadaan pura dari sisi barat laut, maka tampak pura seperti di tengah danau. Karena, jalan setapak ke arah pura tidak terlihat.

 

Keberadaan pura yang berada di tengah danau (Sumber: dokumen pribadi)

 

Sebenarnya, selain pura yang unik di tengah danau, anda bisa melihat pura kecil yang berada di pinggir danau. Lokasinya berada di sisi utara danau. Di bawah permukaan tanah yang agak tinggi.

 

Keberadaan pura kecil yang berada di sisi utara danau (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Sampan Bambu

 

Selain keindahan ala 3 destinasi wisata Bali tersebut, anda juga bisa menikmati keberadaan sampan bambu. Yang dibentuik seperti perahu dari bambu. Di mana, bagian ujungnya berbentuk kerucut. Dan, tempat ini menjadi spot menarik buat anda.

Saya sarankan, jika anda berfoto di sini perlu hati-hati. Karena, sampan bamboo ini hanya tertambat rantai dengan pinggir danau. Bisa-bisa, anda hilang keseimbangan dan jatuh ke danau.

 

Sampan bambu menjadi spot menarik untuk menjadi objek jepretan foto (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Namun, asiknya, dari sampan bambu ini, anda bisa menikmati ikan peliharaan dengan jelas di bawah bambu. Sepetinya, kehadiran pengunjung disambut dengan sekumpulan ikan. Yang menunggu kehadiran pengunjung dengan memberi makanan ikan.

 

Kehadiran pengunjung yang memberi makan ikan sangat dinantikan para penghuni danau (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Jika, anda kelaparan setelah berkeliling danau. Maka, anda tidak perlu bingung. Karena, di sisi timur danau, banyak warung yang menjual berbagai macam kuliner dan minuman. Harganya pun bersahabat, sesuai dengan isi kantong anda. Apalagi, pengunjung bisa menikmati ayunan (swing) dan peliharaan ikan lele. Yang berada di bagian utara warung.

Berhubung masa Pandemi, maka Taman Mumbul Sangeh ini banyak dikunjungi oleh wisatawan local. Baik warga Bali, maupun warga luar Bali. Tetapi, saya juga sempat melihat wisatawan asing yang berkunjung ke desti8nasi wisata Taman Mumbul Sangeh ini.

Uniknya, Taman Mumbul Sangeh ini menjadi tempat nongkrok yang mengasikan saat sore hari hingga matahari Kembali ke peraduannya. Saat hari Minggu atau libur, maka pengunjung akan dusuk santai di pinggir danau sisi selatan. Karena, berdekatan dengan tempat parkir yang lumayan luas.

Nah, bagi kalian yang ingin mencari suasana nongkrong yang alami dan murah meriah. Maka, acara hangout di Taman Mumbul Sangeh menjadi pilihan yang menarik. Sambil memberi makan ikan, anda bisa ngobrol asik keluarga, teman atau pasangan anda. Jangan lupa terapkan protokol kesehatan (prokes) ya. Tetap sehat agar liburan anda menyenangkan.


Mampir ke Sentra Garam Amed Bali

  Kantor Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Sentra Garam Amed Bali (Sumber: dokumen pribadi)     Bagaikan sayur tanpa garam. ...