Friday, February 26, 2021

Kapal Terdampar di Pantai Yeh Malet yang Instagrammable

 

Shooting dadakan untuk membuat konten di media sosial dekat Kapal Terdampar di Pantai Yeh Malet Karangasem Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Seminggu lalu. Matahari masih malu-malu untuk menampakan wajahnya. Cuaca saat itu begitu cerah. Gembira rasanya, karena beberapa hari sebelumnya hujan deras, mengguyur hampir di seluruh wilayah Pulau Bali. Saya dan teman perjalanan (istri dan sepasang suami istri, mbak Faneshia dan mas Billy) meluncur sejak pagi di lintasan timur Pulau Bali. Dengan menggunakan 3 sepeda motor untuk dipakai 5 orang.

 

 

Kami menyusuri jalanan pulau Dewata bagian timur menuju Kota Amlapura (Kabupaten Karangasem). Tentu, akan melewati Pantai Yeh Malet yang telah dimodifikasi bagus oleh Pemerintah Daerah setempat. Beruntung, jalanan jalur timur terkenal lebar dan nyaman untuk dilalui. Meskipun, para monster jalanan (bus dan truk besar) siap melibas perjalanan kami. Tetapi, dengan kehati-hatian dalam perjalanan, akan membuat perjalanan liburan kami menyenangkan.

Beruntung, udara pagi masih terasa segar. Karena, jalanan yang kami lalui belum banyak kendaraan yang hilir mudik. Sayang, dalam perjalanan, kami mengalami hambatan sedikit. Rantai sepeda motor yang saya pakai sering lepas karena kendor.

Kami harus mencari bengkel yang buka di pagi hari. Dan, bengkel buka di pagi hari, saat matahari masih berselimut langit adalah sebuah keajaiban. Kenyataannya, kami beruntung menemukan “persis” sebuah bengkel yang baru buka. Tuhan Maha Tahu apa yang kami alami.

 

“Nanti, dalam perjalanan bisa berhenti. Jika, ada spot menarik. Kita santai saja karena cuaca cerah dan masih pagi” kata saya pada teman perjalanan. Mbah Faneshia Hwang dan mas Charles Billy.

 

Setelah, perbaikan sepeda motor kami yang jajan sebentar di bengkel selesai. Kami pun melanjutkan perjalanan di pagi yang indah mewangi tralal trilili. Setelah, kurang lebih setengah jam perjalanan. Ketika, melewati Pantai Yeh Malet, saya sempat menanyakan kepada pasutri teman perjalanan. Apakah, mau berhenti dan mengambil foto di lokasi tersebut. Gayung pun bersambut. Mereka mau berhenti sebentar dan mengambil foto-foto kenangan.

Sebenarnya, saya sendiri sudah puluhan kali melewati Pantai Yeh Malet. Bahkan, sudah mengabadikan kenangan dan nge-vlog di tempat tersebut. Namun, tidak disangka, tampilan sekitar Pantai Yeh Malet mengalami perubahan. Semakin cantik, seiring dengan perkembangan media sosial.

Sebagai informasi bahwa Pantai Yeh Malet berada di perbatasan Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Klungkung. Namun, Pantai Yeh Malet masuk dalam wilayah Kabupaten Karangasem. Pasir pantainya berwarna hitam. Dan, gelombang lautnya lumayan bagus bagi para peselancar (surfer).  

Saya yang berniat, hanya untuk menemani pasutri mengambil foto. Justru, ikut larut di dalamnya. Asik mengambil jepretan foto, dengan latar belakang sinar Mentari, yang mulai berani menampakan batang hidungnya. Yang membuat saya kaget dan baru “ngeh” adalah keberadaan kapal nelayan ukuran besar yang terdampar di pinggir pantai.

 

“Kok, saya gak tahu ya. Padahal sudah berkali-kali ke sini” pikir saya.

 

Lucunya, menurut bli-bli (mas-mas) yang lagi sibuk mancing di pantai Yeh Malet mengatakan, bahwa kapal terdampar tersebut sudah bertahun-tahun nginap di pantai. Entah apa sebabnya? Katanya gak tahu. 

Sungguh malu dalam hati. Lah, udah berkali-kali ke Pantai Yeh Malet, kok tidak tahu keberadaan kapal terdampar yang instagrammable. Ya udah, tanpa basa dan basi, saya langsung melakukan acara shooting dadakan. Untuk membuat konten menarik agar bisa dinikmati pengguna media sosial. Bahwa, di Pantai Yeh Malet ada kapal nelayan terdampar bertahun-tahun. Bagus banget buat foto-foto, selfie atau wefie.

Sekilas, melihat penampakan kapal tersebut seperti kapal yang digunakan untuk penyeberangan penumpang, dari Klungkung ke Nusa Penida dan sebaliknya. Namun, jika dilihat dari bagian depan kapal tersebut, sepertinya kapal digunakan untuk mengirim muatan berat. Yang jelas bukan hati kamu loh!

 

Kapal terdampar tampak dari arah daratan (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Kapal terdampar tampak dari arah pantai (Sumber: dokumen pribadi) 

 

Yang jadi pertanyaan saya dalam hati atau mungkin anda adalah kok tidak dievakuasi ke daratan? Agar, tidak mengganggu kondisi pantai. Atau, mungkin, sengaja ditinggal di pinggir pantai agar bisa jadi spot menarik dan menjadi tujuan wisata masyarakat. Jawabannya, ada pada rumput yang bergoyang. 

Jadi, buat teman-teman yang sedang jalan-jalan. Dan, melewati Pantai Yeh Malet, bisa mampir untuk membuat kenangan baru di sini. Tempatnya, instagrammbale banget loh. Bahkan, tidak jauh dari kapal terdampar tersebut, terdapat tempat khusus berfoto. Seperti, ruang pandang di destinasi wisata pegunungan.

 

 

Ruang pandang yang tidak jauh dari kapal terdampar dengan latar belakang sunrise (matahari terbit) dan pulau Nusa Penida (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Tidak usah khawatir, pengunjung tidaki dikenakan biaya alias gratis kok. Tapi, kalau mau menikmati kuliner di beberapa warung dadakan dekat lokasi, ya mesti bayar. Kalau tidak, nanti pas mau pulang dapat tagihan dari sang empunya warung. Malu, kan?

Saya sarankan buat anda, kalau datang ke sini meski pas sunrise (matahari terbit). Waduh, view-nya keren banget. Latar belakang lautan luas (Selat Nusa Penida) dan semburat sinar mentarinya, bikin hasil jepretan makin mangagumkan. 

Jangan lupa jaga kesehatan ya. Tetap mengedapankan aturan Protokol Kesehatan (Prokes). Karena, kesehatan anda adalah segalanya. Biar, bisa terus jalan-jalan menjelajah Bali. Happy Traveling, dan tunggu tulisan saya selanjutnya. Bye-beye.  

No comments:

PLTS ATAP MEKARSARI SEBAGAI BUKTI KEPEDULIAN DANONE-AQUA DALAM PENCIPTAAN ENERGI BARU TERBARUKAN

    PLTS Atap Mekarsari Sukabumi Jawa Barat (Sumber: Danone AQUA)               Kebutuhan akan Energi Baru Terbarukan (EBT) menjadi ...