Thursday, June 6, 2019

Sekda Bali : Menjaga dan Merawat Relasi, dengan Pupuk Kedekatan

Sekdaprov. Bali _exofficio_ Kepala Badan (BPBD) berkunjung ke Posko Induk Pasebaya Agung di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem. 


Pasebaya (Pasemetonan Jaga Baya) Relawan Kebencanaan yang memang dibentuk dan diinisiasi oleh Dewa Made Indra yang saat itu masih Kalaksa BPBD Provinsi Bali (2017).

Diterima oleh Ketua Pasebaya Gede Pawana, ngobrol santai tentang kondisi terkini Gunung Agung,  dan berpesan agar terus jalin komunikasi dan melakukan edukasi kepada masyarakat.

Kunjungan Sekda didampingi oleh Kalaksa BPBD Provinsi Bali (Made Rentin), dan beberapa Pejabag/Staf BPBD Bali, disambut gembira oleh beberapa orang Korps Relawan Baju Orange. 

"Kunjungan dan pertemuan berlangsung singkat tetapi maknanya sangat mendalam terutama sebagai suntikan motivasi bagi kami para relawan," tutur Gede Pawana.

Saat kunjungan, kondisi dan aktivitas Gunung Agung terpantau landai dan tenang, masih pada level III (Siaga), aktivitas masyarakat tetap normal lancar, tetapi dihimbau tetap tingkatkan kesiap-siagaan, lengkapi diri dengan APD (Alat Pelindung Diri) minimal masker saat beraktivitas di luar rumah. 

Kalaksa BPBD Bali (Made Rentin) menjelaskan bahwa kunjungan ini sudah lama direncanakan, namun baru bisa terealisasi hari ini, mengingat kesibukan Pak Sekda pada beberapa agenda penting Pemprov. Bali,  terakhir kemarin (4/6) Pencanangan Pelaksanaan Perda Desa Adat di Wantilan Pura Samuhan Tiga - Gianyar. 

Lebih lanjut Rentin menjelaskan, bahwa Pak Sekda (Dewa Made Indra) yang mantan Kalaksa BPBD Bali, memang sangat mencintai tugas kemanusiaan di Bidang Penanggulangan Bencana. "Kendatipun sudah sebagai Sekda, beberapa kegiatan BPBD beliau selalu hadir, "saya pinjam istilahnya Pak Sekda, kembali ke habitat jika berada di tengah-tengah sahabat tangguh," tutur Rentin. Hal ini menunjukan bahwa seorang pemimpin selalu dekat dengan masyarakat, tidak hanya kedekatan secara fisik tetapi juga kedekatan emosional, bahwa sang pemimpin diterima bahkan sangat dirindukan kehadirannya di tengah masyarakat. 

Dalam diskusi singkat itu, Kalaksa BPBD Bali sempat melaporkan bahwa sinergi pemerintah (BPBD) dengan Relawan (Pasebaya) terus terjalin, saat ini sedang merampungkan Penyusunan Rencana Evakuasi Berbasis Banjar/Dusun di 28 Desa Lingkar Gunung Agung. Hal ini bertujuan untuk memetakan dan melakukan pendataan penduduk secara riil yang berada pada daerah (desa) terdampak, dan untuk mengetahui kemana rencana evakuasi yang akan dilakukan jika erupsi Gunung Agung terjadi, "ini adalah bagian penting dalam menyusun kesiapsiagaan bagi masyarakat terdampak, krama Karangasem khususnya," tegas Rentin.

Pertemuan keakraban itu diakhiri "protes" dari Guru Gede panggilan akrab Gede Pawana sang Perbekel sejuta prestasi, dengan aplikasi smart desanya bahkan mendapat rekor MURI.  Pawana belum puas bernostalgia dan berkeluh kesah, tapi pertemuan harus ditutup karena Sekda bersama rombongan harus melanjutkan perjalanan untuk agenda berikutnya. "Matur suksema Jik Sekda dan juga Pak Kalaksa, pertemuan singkat tapi penuh makna," ucap singkat sang Ketua Forum Perbekel sambil mengantar rombongan menuju mobil. 

Demikian, dilaporkan dari Lereng Gunung Agung, Posko Induk Pasebaya Agung, Desa Duda Timur,  Selat - Karangasem (kalaksa/rtn).


Sunday, June 2, 2019

Program Bela Negara 3 Kementrian ini Patut Jadi Contoh


Mendagri Cahyo Kumolo (Sumber: Puspen Kemendagri)


Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebut Program Bela Negara Kementerian Pertahanan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi patut menjadi contoh. Pasalnya, Kementerian-Kementerian tersebut mampu menghadirkan program penguatan nilai Pancasila sesuai dengan dinamika yang dialami bangsa Indonesia.

"Program Kemenhan, Kemendikbud dan Kemenristek Dikti perlu kita jadikan contoh dalam hal program Bela Negara dan Penguatan nilai Pancasila," kata Tjahjo di Jakarta, Jumat (31/05/2019).

Program Bela Negara merupakan bentuk revolusi mental sekaligus untuk membangun daya tangkal bangsa dalam menghadapi kompleksitas dinamika ancaman sekaligus untuk mewujudkan ketahanan nasional. Bela Negara diaktualisasikan dalam peran dan profesi setiap warga negara.

Selain itu, pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang diajarkan di tingkat Sekolah maupun pendidikan penerapan nilai-nilai Pancasila lainnya di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga patut diapresiasi.

Sementara, Program Penguatan Pendidikan Pancasila yang diprakarsai oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) adalah dalam rangka memperkuat pemahaman berbangsa dan bernegara di kalangan mahasiswa dan dosen. Pendidikan memiliki peran strategis dan solusi untuk mengatasi permasalahan bangsa, yakni menghasilkan lulusan yang Pancasilais yang tidak saja pandai secara kognitif tapi juga memahami permasalahan bangsa sehingga bisa berkontribusi membangun bangsanya.

"Jangan sampai karakter ke-Indonesiaan kita hilang karena masuknya ideologi lain yang bertolak belakang dengan nilai-nilai Pancasila," tegas Tjahjo.

Diketahui sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri juga Kementerian juga telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman/MOU (Memorandum of Understanding) dengan Badan Pengelola Ideologi Pancasila (BPIP) tentang Pelaksanaan Pembinaan Ideologi Pancasila. Dengan ditandatanganinya MOU tersebut, BPIP dan Kemendagri sepakat untuk bekerjasama diantaranya fasilitasi penguatan dan penyusunan rancangan serta mengidentifikasi peraturan daerah yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, pemberdayaan komponen masyarakat dalam menggali mutiara Pancasila dan pengamalan nilai-nilai Pancasila, pelatihan dan pembinaan nilai-nilai Pancasila kepada para pihak dan Pemerintah Daerah serta Pemerintah Desa, serta pembinaan Civitas Akademika dan Praja Institut Pemerintah Dalam Negeri menjadi salah satu pelopor aktualisasi Pancasila.

Mendagri: 1 Juni sebagai Momentum Refleksi Lahirnya Pancasila


Mendagri Cahyo Kumolo (Sumber: Kemendagri)


Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebut tanggal 1 Juni harus dijadikan momentum refleksi lahirnya Pancasila. Pasalnya, sebagai bagian panjang dari sejarah bangsa dalam merumuskan dasar negara, Pancasila memiliki nilai-nilai yang dapat diteladani dan dijadikan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pertama, dalam pidato di depan sidang BPUPKI, konsep dan rumusan awal "Pancasila" pertama kali dikemukakan oleh Ir. Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

"Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Ir. Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapatkan sebutan "Lahirnya Pancasila" oleh Mantan Ketua BPUPKI," kata Tjahjo di Jakarta, Jumat (31/05/2019).

Kedua, sebagai bagian dari sejarah bangsa, banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperingati Hari Lahir Pancasila.

"Berbagai ucapan, menuliskan status di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya merupakan salah satu bentuk Peringatan Hari Lahir Pancasila," ungkap Tjahjo.

Ketiga, Pancasila bersifat universal, logis, dan dapat dipakai untuk mewujudkan cita-cita yang tertuang dalam Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga program-program yang dijalankan Pemerintah, seperti oleh Kemenristek Dikti, Kemenhan, dan Kemendikbud dianggap efektif untuk mencegah paham selain Pancasila.

"Sebagai contoh program Bela Negara oleh Menteri Pertahanan, kemudian Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dalam menjalankan program membumikan Pancasila dengan pendekatan yang tegas, akomodatif, selektif di kalangan Kampus dan berhasil meredam paham-paham selain Pancasila. Termasuk program yang dijalankan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam membumikan Pancasila di kalangan Pelajar," papar Tjahjo.

Program Bela Negara di bawah Kementerian Pertahanan merupakan bentuk revolusi mental sekaligus untuk membangun daya tangkal bangsa dalam menghadapi kompleksitas dinamika ancaman sekaligus untuk mewujudkan ketahanan nasional. Bela Negara diaktualisasikan dalam peran dan profesi setiap warga negara. Sementara itu, Program Penguatan Pendidikan Pancasila yang diprakarsai oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi adalah dalam rangka memperkuat pemahaman berbangsa dan bernegara di kalangan mahasiswa dan dosen.

Diakhir, Tjahjo mengucapkan selamat Hari Lahir Pancasila dengan mengutip pernyataan  Proklamator yang juga Presiden Pertama Republik Indonesia.

"Selamat Hari Lahir Pancasila. Kuat karena Bersatu, Bersatu karena Kuat," tutupnya.


Di Samuan Tiga, Koster Akan Tandatangani Perda Desa Adat

Gubernur Bali Wayan Koster (Sumber: balitravelnews.com)


Keberadaan Desa Adat dianggap begitu vital bagi kelangsungan aspek religius, sosial dan budaya di Bali. Untuk itu pemerintah provinsi Bali di bawah kepemimpinan Wayan Koster-Cok Ace memandang eksistensi dan penguatan Desa Adat sebagai prioritas utama lewat diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) no 4 tahun 2019.

Pemberlakuan Perda ini ditandai dengan penandatanganan prasasti di Wantilan Pura Samuhan Tiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar pada  anggara Kliwon, Kulantir Selasa (4/6) mendatang. Momentum bersejarah tersebut akan dihadiri pula oleh segenap Bupati/Walikota se-Bali, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, Pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Bali/Kabupaten/Kota se-Bali, Majelis Utama, Madya dan Alit Desa Pekraman serta tokoh-tokoh dan perwakilan masyarakat.

Menurut Gubernur Koster, Perda ini secara garis besar mengatur secara fundamental dan komprehensif mengenai berbagai aspek berkenaan dengan Desa Adat di Bali yang menguatkan kedudukan, kewenangan,  dan peran Desa Adat. "Ini merupakan implementasi nyata dari Visi 'Nangun Sat Kerthi Loka Bali'melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju BALI ERA BARU," Tandasnya.

Sebagai contoh, pria yang juga ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini menjelaskan bahwa dengan perda ini Desa Adat mempunyai otonomi yang  berwenang mengatur dan mengurus Daerahnya sesuai aspirasi dan kepentingan masyarakatnya sepanjang tidak bertentangan dengan tatanan hukum nasional dan kepentingan umum. "Tentu saja dengan catatan, lembaga, majelis dan tiap prangkatnya harus punya pemahaman yang menyeluruh akan kewenangannya," Tambah Koster.

Lalu, Perda ini juga menegaskanDesa Adat sebagai pelembagaan dalam pelaksanaan tatanan kehidupan masyarakat Bali sesuai dengan kearifan lokal Sad Kerthi. "Desa adat ini sebagai cerminan, sebagai karakter orang Bali itu sendiri yang diperkuat makna dan fungsinya dengan Perda ini," Imbuhnya lagi.

Begitupun dengan pengelolaan anggaran, lembaga-lembaga yang dinaungi, aset desa, hingga penggolongan krama, semuanya lebih dipertegas dan ditajamkan kembali. "Sehingga lebih jelas pengelolaannya," Ujar Gubernur Kelahiran Sembiran, Buleleng ini.

Untuk mengoptimalkan berjalannya regulasi ini, Koster juga menyatakan akan ada kerjasama dan sinergi antara pemprov, majelis utama hingga alit bersama perguruan tinggi untuk memastikan segenap pihak yang terlibat punya satu persepsi dan pemahaman. " Ditunjang juga dengan sosialisasi intens sehingga saya optimis penerapan Perda ini akan memberikan dampak besar dan menyeluruh bagi kehidupan adat, sosial,  budaya dan keagamaan di Bali, dan yang paling penting, menegaskan keberadaan Desa Adat di Bali baik secara fakta maupun secara hukum,"   Pungkasnya.



Run To Care #TogetherForChildren, Berlari dan Wujudkan Masa Depan Anak-anak SOS Children’s Villages

Media Gathering Run To Care Bali 150 km (Sumber: dokumen pribadi)


     SOS Children’s Villages, lembaga non pemerintah yang fokus kepada pengasuhan anak berbasis keluarga, kembali menyelenggarakan gelaran Run To Care 2019. Mengusung konsep Ultra Marathon, Run To Care Bali memberikan atmosfer Baru dalam olahraga yang melibatkan para pelari dalam penggalangan donasi bagi masa depan ribuan anak.


Run To Care Bali 150 km yang akan diadakan pada tanggal 26-28 Juli mendatang (Sumber: dokumen pribadi) 


     Run To Care adalah ajang charity yang digagas oleh SOS Children’s Villages Indonesia sejak tahun 2016. Menggandeng komunittas lain dan pelari tunggal, ajang lari ini mengambil jarak 150 km. Melalui halaman donasi mereka, para pelari melakukan penggalangan dana yang akan dipergunakan bagi peningkatan kualitas pengasuhan, pendidikan dan kesehatan anak-anak yang berada di bawah pengasuhan  SOS Children’s Villages Indonesia. 
      Mengusung tema #TogetherForChildren, SOS Children’s Villages  mengajak masyarakat Indonesia mengambil bagian dalam kerja SOS bagi 6.500 anak yang berada di Banda Aceh, Meulaboh, Medan, Jakarta, Bogor, Lembang, Semarang, Yogyakarta, Bali dan Flores. 
“Saat ini terdapat lebih dari 6.500 anak yang berada di bawah naungan  SOS Children’s Villages yang berada di 10 kota di Indonesia. Berkomitmen memberikan pengasuhan, pendidikan dan kesehatan berkualitas yang menjadi hak dasar bagi seorang anak,   SOS Children’s Villages mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang peduli akan masa depan anak-anak Indonesia. Menjadi pelari Run To Care berarti membangun ikatan keluarga yang saling mendukung untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada anak-anak untuk memiliki kapasitas lebih sebagai bekal masa depan mereka,” kata Gregor Hadi Nitihardjo, National Director  SOS Children’s Villages Indonesia, di acara Media Gathering Run To Care yang bertempat di Hard Rock Bali.


Gregor Hadi Nitihardjo, National Director  SOS Children’s Villages Indonesia 9Sumber: dokumen pribadi)

     Diselenggarakan pada tanggal 26-28 Juli 2019, Run To Care mengambil start di Kota Denpasar dan melintasi Baturiti, Singaraja, Lovina, Pupuan dan akan finish di  SOS Children’s Villages yang terletak di Desa Bantas, Selemadeg Tabanan.  Lebih dari 300 pelari yang berasal dari dalam dan luar negeri akan dilepas dari Lapangan Lumintang Denpasar pada pukul 22.00 WITA, dengan cut-off time (COT) atau waktu maksimal selama 38 jam dari Denpasar menuju Tabanan via Singaraja.  
     Seperti penyelenggaraan Run To Care sebelumnya, tahun ini dibuka 3 kategori yaitu: Individu 150 km, relay dua orang masing-masing 75 km dan 75 km, dan team 4 orang masing-masing 35-40-35-40 km. Pendaftaran telah dibuka pada bulan Pebruari – Maret 2019. Berbeda dengan ajang berlari lainnya, pelari Run To Care selain berlari juga melakukan periode penggalangan dana (crowfunding) melalui kitabisa.com/runtocare yang telah dimulai sejak April hingga Agustus 2019. 


Teuku Aditya Nugraha (Project Manager Run To Care) dan Lexi Rohi (Race Director Run To Care Bali 150 km) 

     Berbeda dengan kegiatan lari pada umumnya, di sini para peserta lari Run To Care sudah menjadi bagian dari keluarga besar SOS Children’s Villages Indonesia. Berkolaborasi bersama komunitas lari RIOT Indonesia, Singarun, dan 90 Komunitas yang bergabung sebagai peserta, bulan juli tahun ini para pelari akan membantu kehidupan ribuan anak Indonesia.
      Didukung oleh Aqua, Mizone, Trijee, FWD Life, Run To Care 2019 Bali 150 km diharapakn dapat terlaksana dengan baik. Dan, melalui pemberitaan yang didukung oleh Hard Rock FM Bali, Kompaas.com, Bolasport.com, KBR, Ayolari,in, dan para Blogger kota Bali dapat menyebarluaskan semangat sportifitas sebagai dukungan kepada para pelari dan anak-anak  SOS Children’s Villages. 
     Chef Marketing Officer FWD Life, Maika Randini mengatakan, “kami sangat senang dapat berpartisipasi dalam Run To Care 2019 yang mendukung passion masyarakat Indonesia di olahraga ekstreem dan pada saat yang sama mendukung hidup mereka. Sebagai mitra asuransi resmi acara ini, kami ingin mendorong dan mendukung masyarakat untuk menjalankan passion merekadam merayakan kehidupan tanpa khawatir akan resiko keuangan. Kami berharap melalui partisipasi acara ini, kami dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap asuransi sekaligus mengumpulkan dana untuk pengasuhan anak, pendidikan dan kesehatan anak-anak Indonesia”. 


SEKILAS TENTANG SOS CHILDREN’S VILLLAGES INDONESIA
SOS Children’s Villages adalah organisasi non profit yang menyediakan pengasuhan alternatiF bagi anak-anak yang telah atau berisiko kehilangan pengasuhan orang tua. Berdiri sejak 1949 di Wina, Austria, SOS Children’s Villages kini ada di 134 negara termasuk Indonesia. Saat ini, SOS Children’s Villages Indonesia mengasuh menaungi lebih dari 5.000 anak yang tersebar di 10 kota di Indonesia, yaitu:  Banda Aceh, Meulaboh, Medan, Jakarta, Bogor, Lembang, Semarang, Yogyakarta, Bali dan Flores. 

Untuk informasi lebih detil, anda bisa kunjungi laman  SOS Children’s Villages Indoneia di www.sos.or.id
Facebook, Instagram, Twitter, Youtube : @desaanaksos

Kontak Media:
Lusiana Udjaja
PR and Communication Manager
Lusiana.udjaja@sos.or.id
Phone: +62 823-1008-8779

Floriberta Apsari 
Media Coordinator Run To Care
Floriberta.apsari@sos.or.id
Phone: +62 812 1065-7217
   

Lima (5) Pose Foto Keren di Pantai yang Bikin Baper

Saatnya membuat pose foto keren kalian di pantai (Sumber: dokumen pribadi) Traveling atau jalan-jalan selalu memberi k...