Thursday, August 27, 2020

Keterlibatan Kaum Milenial Dalam Pertanian Masa Kini Dengan Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence (AI)

 

Artifial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan (Sumber: Council of Europe)



Negara Indonesia dikenal sebagai negara agraris terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Sejarah pun mencatat bahwa negeri kita yang indah ini pernah merasakan sebagai negara berswasembada beras. Gemah Ripah Lohjinawi. Tata Tentrem Kerta Raharja memberi pesan tentang kondisi tanah Indonesia yang subur dan makmur.  Beberapa daerah pun menjadi lumbung padi Indonesia, seperti Karawang (Jawa Barat), Tabanan (Bali) dan lain-lain.

 

Pertanian yang Stagnan

 

Kini, kebanggaan negara Indonesia menjadi negara agraris memantik perhatian banyak pihak. Meskipun, sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar ketiga dalam struktur PDB (Product Domestic Bruto) Indonesia dengan porsi 12,84 persen per Q1 2020.

Padahal, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertanian nyaris tidak bertumbuh sama sekali di kuartal I (Q1) 2020. Dan, nilai PDB pertanian pada Q1 2020 hanya tumbuh 0,02 persen melambat dari Q1 2019 (yoy) yang masih tumbuh 1,82 persen.

Banyak faktor yang menyebabkan sektor pertanian tumbuh melambat. Bukan hanya luasan lahan pertanian yang semakin menyusut. Karena, pembanguan proyek infrastruktur, baik berupa jalan, perumahan, pabrik dan lain-lain. Tetapi, faktor penting yang harus menjadi perhatian bersama adalah berkurangnya jumlah petani (penggarap lahan pertanian), khususnya petani muda.

Menurut Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian menyatakan kuantitas petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang. Sekitar 8 persen dari total petani Indonesia yang berjumlah 33,4 juta orang. Lebih dari 90 persen, petani Indonesia didominasi oleh Petani Kolonial yang berusia di atas 40 tahun. (Tempo.co, 13/3/2020)  

Sedangkan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 menyatakan bahwa jumlah petani muda mengalami penurunan sejumlah 415.789 orang dari periode 2017 ke 2018. Hampir setengah juta, petani muda beralih profesi. Atau, meninggalkan desanya untuk kehidupan yang lebih baik. 

Oleh sebab itu, Urbanisasi menjadi salah satu pemicu berkurangnya petani muda. Generasi milenial di berbagai pedesaan lebih tertarik pergi ke kota. Dengan tujuan untuk mendapatkan banyak pengalaman menarik dan pekerjaan yang sesuai passion era digital. Bekerja di sawah yang berlumpur, makin ditinggalkan. Apalagi, jika penggarapan lahan pertanian masih mengandalkan teknologi konvensional (dikerjakan secara manual).

 

Tani Masa Kini

 

Lain dulu, lain sekarang. Pelan tapi pasti, sector pertanian mengalami transformasi.  Apalagi, untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Maka, Pemerintah Indonesia melakukan berbagai terobosan baru tentang teknologi pertanian. Salah satu tujuannya adalah untuk merangsang kembali minat generasi milenial untuk terjun di dunia pertanian.

Tentunya, pertanian yang dilakukan masa kini adalah pertanian yang berbasis teknologi digital. Kondisi inilah yang merangsang generasi milenial untuk gemar bertani. Mereka bisa mengembangkan kemampuannya untuk membuat wajah baru pertanian.  

Sejalan dengan keinginan generasi milenial terjun di dunia pertanian, bangsa Indonesia sedang giat untuk mencapai Revolusi Industri 4.0. Di mana, pencapaian tersebut harus ditopang dengan 5 (lima) teknologi utama, yaitu: Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Human-Machine Interface (HMI), Teknologi Robotic dan Sensor, dan Teknologi 3D Printing. Salah satu dari teknologi utama yang dikembangkan dalam sektor pertanian adalah pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Perlu diketahui bahwa beberapa negara maju di dunia telah menerapkan teknologi Artificial Intelligence (AI) tersebut. Sebuah startup asal Oakland, California, USA yang bernama Ceres Imaging telah berhasil menciptakan Aerial Spectral Imagery. Sebagai informasi, teknologi tersebut bertujuan  untuk mengoptimalkan tanaman. Artificial Intelligence (AI)  tersebut mampu mengidentifikasi masalah seperti, pertumbuhan jamur dan kekurangan air pada tanaman jagung dan kedelai.

Teknologi Artificial Intelligence (AI) juga dimanfaatkan petani di Jepang. Mereka memanfaatkan teknologi canggih untuk mengembangkan hasil panen mereka. Melalui perangkat khusus yang dikembangkan oleh perusahaan ternama Jepang Fujitsu.

Media Detik.com (16/5/2013) melansir berita bahwa petani Jepang menggunakan sensor yang berfungsi untuk mendeteksi tingkat kelembaban, prediksi hujan, dan lainnya. Selanjutnya, sensor tersebut bisa dipantau dalam satu sistem yang canggih melalui perangkat smartphone dan tablet PC. Selanjutnya, data tersebut disimpan dengan teknologi Komputasi Awan (Cloud Computing). Sehingga, siapapun bisa mengakses dari mana saja.

Bagaimana dengan pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) di Indonesia? Tentu, bangsa Indonesia tidak mau ketinggalan untuk mencapai Revolusi Industri 4.0. Negeri yang dikenal penyanyi legenda Koes Plus sebagai “Kolam Susu” juga  menggunakan teknologi pertanian untuk mencapai ketahanan pangan nasional.

Di tahun 2020, terobosan Kementerian Pertanian (Kementan) adalah membangun Agriculture War Room (AWR), Tempat tersebut nantinya menjadi  pusat pengendalian Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) di tingkat kecamatan. Dan, mengoptimalisasi tugas, fungsi, dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dengan memanfaatkan teknologi 4.0 dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. (Mediaindonesia.com, 8/1/2020)  

Kementerian Pertanian (Kemnetan) memberi perhatian khusus kepada pelaku sektor pertanian. Di mana, pemanfaatan teknologi  Artificial Intelligence (AI) sedang dikembangkan dengan baik. Cara bertani masa kini kian detil dengan berbagai hal. Agar, hasil pertanian lebih meningkat dan berkualitas. Dengan pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) maka proses pengaturan tanaman akan berjalan lebih baik, seperti cahaya, air dan hal yang memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Kementerian Pertanian juga mengembangkan Smart Irrigation System berbasis Artificial Intelligence (AI).  Teknologi Artificial Intelligence (AI) tersebut berguna untuk mengatur kelembaban tanah di irigasi bawah tanah, yang dimanfaatkan untuk tanah kering. Agar, tanah tidak gersang lagi dan dapat menjadi lembab sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi daya tarik yang luar biasa bagi generasi milenial. Agar, mereka ikut terlibat dalam meningkatkan sektor pertanian. Demi menjaga ketahanan pangan nasional.

Apalagi, generasi milenial identik dengan perkembangan dunia digital. Maka, penerapan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi sarana untuk berkompetisi. Tidak heran jika sektor pertanian menjadi lahan yang menarik untuk digarap generasi milenial. Terbukti, dengan munculnya banyak start up yang memanfaatkan kontribusi sektor pertanian. Seperti, RITX, Tanihub, Sayurbox dan lain-lain.

Mengembangkan teknologi  Artificial Intelligence (AI) bukan hanya menjadi model bisnis bertani masa kini. Tetapi, generasi milenial menjadi mandiri karena mendapatkan penghasilan sendiri. Bahkan, bisa menjadi kaya di sektor pertanian era digital.

Dengan sentuhan teknologi Artificial Intelligence (AI), sektor pertanian bukan lagi menjadi lahan ekonomi yang terpinggirkan. Tetapi, sektor pertanian telah “naik kelas”. Karena, perkembangan model bertani masa kini tersebut, banyak dilirik generasi milenial. Bahkan, sektor pertanian Indonesia diprediksi akan lebih modern di masa depan.

 


No comments:

Mengawal Pariwisata Bali Bangkit dengan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholders berfoto bersama (Sumber: Forkom Antar Media Bali Bangkit) Dampak Pandemi Covid-19 sungguh luar bia...