Showing posts with label Trans Sarbagita. Show all posts
Showing posts with label Trans Sarbagita. Show all posts

Tuesday, October 1, 2019

Transportasi Publik Idaman dengan Trans Sarbagita Koridor Satu



Halte pertama di halaman parkir GOR Ngurah Rai, jalan Melati Denpasar



Postur tubuhnya kecil dan warna kulitnya kecoklatan. Rambut panjang diikat dan dibiarkan tergerai di atas salah satu pundaknya. Senyumnya manis saat saya menyapanya. Reta namanya, mahasiswa asli Medan yang sedang menimba ilmu Matematika di Universitas Udayana (Unud) Bali. Ia baru Mahasiswa Baru (Maba) alias baru menginjak semester satu.
Setiap pagi, sebelum pukul 07.00         WITA, Reta harus sudah standby di halte depan SMA 7 Denpasar jalan Kamboja. Bertarung dengan debu yang berterbangan saat mobil pribadi lewat di depannya. Ia harus sabar menunggu agar tidak telat merasakan asiknya transportasi publik idaman di Trans Sarbagita koridor satu.
Saya terkesima dengan Reta. Percayalah, ia begitu rajin menggunakan transportasi publi. Di mana, masyarakat lokal kian menjauhi dengan berbagai alasan. Ia harus berjuang menimba ilmu meski jauh dari kampung halamannya. Saya sempat menanyakan, “kenapa nggak kos saja dekat kampus bukit, dek?”. Jawabnya sungguh singkat, ia ingin menghemat ongkos.
Lagian, kalo kos tanpa makan di sekitar kawasan Kampus Unud bukit,  pertahun harus mengeluarkan biaya  kurang lebih 3,8 juta. Belum termasuk biaya makannya. Ia tidak mau memberatkan beban orang tuanya. Kebetulan,  ia tinggal bersama orang tuanya yang kerja serabutan.
Yang menarik, dengan memanfaatkan bus Trans Sarbagita maka ia tak mengeluarkan uang sepeserpun. Karena, kebijakan pemerintah Bali  “menggratiskan” biaya naik Sarbagita untuk pelajar dan mahasiswa. Mantap, bukan?   


Reta, mahasiswa semester I ilmu Matematika Universitas Udayana (Unud) Bali


Terasa “berat” berharap bahwa naik Trans Sarbagita seperti naik busway di Jakarta. Begitu sesak dan kedatangan bus sesuai jadwal. Trans Sarbagita bergerak dari halaman parkir GOR Ngurah Rai jalan Melati “kosong melompong”.  Ketika singgah di halte depan SMA 7 Denpasar tepat pukul 07.10 WITA, sesuai jadwal yang sering dialami Reta selama ini. Hanya saya, istri dan Reta yang naik dari halte tersebut.  Trans Sarbagita masih menggunakan bus kecil yang memuat penumpang kurang lebih 19 tempat duduk.
Ongkos untuk umum dikenakan Rp. 3.500,- Murah sekali bukan? Ongkos tersebut untuk koridor 1 (Kota Denpasar/GOR Ngurah Rai-Garuda Wisnu Kencana atau GWK) sepanjang 23 km.  Jalur yang dilewati oleh Koridor satu tersebut melewati jalan Kamboja-jalan Surapati-Jalan Kapten Agung-Jalan Letda Made Reta-Jalan Sudirman.


Ongkos naik bus Trans Sarbagita koridor 1 untuk umum sebesar Rp 3.500,-


Bus Trans Sarbagita koridor 1terasa nyaman. Pendingin udara (AC) yang cukup membuat kondisi ruangan menjadi adem (tiddak terlalu dingin). Bus Trans Sarbagita koridor 1 yang saya naiki telah dilengkapi tempat sampah dan alat pemadam kebakaran. Alat pemecah kaca jika kondisi darurat juga telah terpasang dekat kaca bus. Kursinya juga empuk, membuat nyaman saat diduduki. Sepanjang perjalanan menuju kawasan Unud jalan Sudirman “berasa” ingin mengantuk. Namun, niat untuk menikmati pemandangan hingga GWK, rasa ngantuk pun ditahan untuk sementara.


Tempat sampah dan alat pemadam kebakaran


Yang menarik di tempat perhentian bus (halte) jalan Sudirman (depan kampus Unud) adalah membludaknya penumpang yang mayoritas mahasiswa Unud yang hendak kuliah di Kampus Unud kawasan bukit Ungasan Badung. Uniknya, mahasiswa didominasi dari mahasiswa dari luar Bali. Hal ini terlihat dari bahasa yang mereka gunakan kepada sesama temannya.  




Mahasiswa Unud yang menggunakan fasilitas transportasi publik bus Trans Sarbagita


Setelah Trans Sarbagita bergerak ke pasar Sanglah dan jalan Sesetan, bus yang semestinya lurus hingga pangkalan TNI AL Pesanggaran, justru harus berbelok ke kiri melewati jalan Sidakarya. Hal ini dikarenakan dekat perempatan jalan Sidakarya-jalan Sesetan terdapat kebakaran. Beberapa mobil pemadam kebakaran  menghalangi jalan raya. Dan, untuk sementara akses jalan Sesetan dari arah pasar Sanglah ditutup.   



Kebakaran di pertigaan jalan Sidakarya-jalan Sesetan


Selanjutnya, Trans Sarbagita bergerak melewati jalan Pendidikan dan berbelok ke kanan dekat Pasar pertigaan jalan Pendidikan-jalan Mertasari. Selanjutnya, bus Trans Sarbagita bergerak melambat melewati jalan Suwung Batan Kendal. Setelah melewati pangkalan TNI AL, bus berjalan melambat hingga perempatan pesanggaran (jalan Sesetan-jalan By Pass Ngurah Rai).  
Menarik, dari perempatan pesanggaran hingga kampus Unud Bukit, saya merasakan transportasi publik yang sesungguhnya. Bus Trans Sarbagita bergerak lancar. “Mungkin, karena hari Sabtu ya?” pikir saya. Namun, kenyataannya, penumpang yang naik atau turun dari halte yang dilewati bisa “dihitung dengan jari”.
Penumpang bak “turun semua” setelah melewati halte di sekitar kampus Unud. Dan, setelah melewati halte depan Politeknik Unud, saya dan istri menjadi penumpang “couple” di transportasi idaman ini. Jujur, sangat berbeda dengan kondisi Trans Sarbagita koridor 2. Bahkan, saya sudah menulis  Trans Sarbagita koridor 2. Dan, anda bisa lihat di Menikmati Fasilitas Transportasi Publik Trans Sarbagita. 
Kurang lebih pukul 08.00 WITA, bus Trans Sarbagita sampai di kawasan Garuda Wisnu Kencana atau GWK. Dan, bus menempuh waktu perjalanan kurang lebih selama satu jam. Perlu diketahui, waktu yang ditempuh saat saya mencoba Trans Sarbagita koridor 2 dengan lintasan sepanjang 30 km membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam.
Karena, pengalaman naik bus Trans Sarbagita koridor 1, saya membisikan ke telinga istri saya, “bus Trans Sarbagita koridor 1 bisa andalkan. Besok-besok kalau ke kawasan GWK, mendingan naik Sarbagita. Kita bisa tidur, nyaman dan tidak perlu capai-capai tegang sepanjang perjalanan”. Ya, saya berharap bahwa bus Trans Sarbagita koridor 1 bisa lebih ditingkatnya size-nya. Semoga masyarakat Bali makin memahami bahwa naik bus Trans Sarbagita koridor 1 sangatlah menyenangkan. Satu kata, “mantepbet”.



GWK, pemberhentian terakhir bus Trans Sarbagita


           Bus Trans Sarbagita banyak dimanfaatkan dari berbagai profesi. Baik pedagang, orang kantoran dan penghobi jalan-jalan. Jika anda mengalami capai dan lelah dengan berkendara pribadi, maka naik Bus Trans Sarbagita koridor satu bisa menjadi pilihan terbaik. Yuk, naik Trans Sarbagita



Catatan:
Semua ilustrasi milik pribadi.
Artikel ini, bisa anda baca juga di Kompasiana.

Thursday, July 4, 2019

Menikmati Fasilitas Transportasi Publik Trans Sarbagita

Trans Sarbagita masih menjadi angkutan publik yang bisa diandalkan (Sumber: dokumen pribadi)


Kemacetan lalu lintas masih menjadi masalah besar negeri ini, khususnya kota-kota besar di Indonesia. Berbagai program kebijakan Pemerintah Daerah pun diimplementasikan untuk meminimalisir atau mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas.

Banyak cara untuk mengurangi tingkat kemacetan. Salah satunya dengan mengembangkan transportasi publik. Bahkan, ibukota DKI Jakarta, bukan hanya mengembangkan angkutan perkotaan yang ramah. Juga, keberadaan MRT (Mass Rapid Transit) telah menjadi transportasi publik andalan masyarakat ibukota. Tidak berbeda dengan angkutan publik yang ada di negara-negara maju.

Lantas, bagaimana perkembangan transportasi publik yang ada di daerah? Salah satu, transportasi publik yang menarik dibahas adalah transportasi publik yang ada di Pulau Seribu Pura Bali. Moda transportasi yang familiar di Bali adalah Trans Sarbagita. Transportasi publik yang diberlakukan di beberapa kota di Bali seperti Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan. 

 
Para penumpang berjejal masuk dan turun di halte (Sumber: dokumen pribadi)


Tarif Murah
Saya gembira setiap menikmati fasilitas Trans Sarbagita. Yang menarik adalah adanya angkutan feeder (trayek pengumpan) yang gratis. Hal ini untuk memanjakan masyarakat Bali. Sayang, beberapa bulan ini keberadaan feeder tidak saya temukan untuk memanfaatkan transportasi publik tersebut.

Lanjut, kesan pertama yang bisa anda rasakan saat naik Trans Sarbagita  adalah biaya yang murah alias bersahabat. Untuk umum, hanya dikenakan biaya Rp 3.500,-. Sedangkan, untuk mahasiswa atau pelajar yang memakai baju seragam atau bisa menunjukan kartu identitasnya tidak dikenakan biaya. 


Tarif Trans Sarbagita untuk umum  (Sumber: dokumen pribadi)

Perlu diketahui bahwa Trans  Sarbagita yang telah diberlakukan adalah jalur Batubulan-Nusa Dua, Kota-GWK dan Kota-Pesiapan Kediri (Tabanan). Kondektur Trans Sarbagita akan memberi tiket penumpang yang dicetak melalui perangkat  seperti mesin kasir. 
  

Mesin pencetak tiket penumpang (Sumber: dokumen pribadi)

Kenyamanan
Menikmati fasilitas Trans Sarbagita koridor II Batubulan-Nusa Dua memberikan banyak pengalaman menarik. Bersama teman-teman, saya merasakan sensasi perjalanan Trans Sarbagita koridor II Pulang-Pergi (PP). Bagai anak kecil yang dikasih permen, kegembiraan saya dan teman-teman bisa menikmati transportasi publik layaknya mencoba Busway Jakarta.    

Kegembiraan berlibur dengan menikmati fasilitas Trans Sarbagita (Sumber: dokumen pribadi)


Jujur, saya merasa nyaman saat menikmati Trans Sarbagita. Perjalanan begitu mulus di koridor yang saya jelajahi. Bus berjalan perlahan saat melewati tempat-tempat yang dikenal macet sejak dulu. Seperti, jalan menuju dan ke fly over Dewa Ruci dan Bandara Ngurah Rai. Namun, kondisi tersebut terjadi saat jam sibuk. Di luar itu, seperti saat hari Minggu atau Libur, Trans Sarbagita berjalan “lancar jaya”.

Lagi, fasilitas standar yang ada di Trans Sarbagita juga terbilang nyaman. Tempat duduk yang enak, tabung pemadam kebakaran, tempat sampah. Serta, alat pemecah kaca dan pintu darurat telah tersedia. Apalagi, kondisi pendingin ruangan (AC) yang stabil membuat perjalanan makin nyaman.


Tabung pemadam kebakaran, tempat sampah, alat pemecah kaca dan pintu darurat telah tersedia. (Sumber: dokumen pribadi)

Perbaikan Waktu Tunggu
Anda bisa melihat jadwal perjalanan Trans Sarbagita yang terpasang di dinding kaca bus. Ibarat pepatah, “tak ada gading yang tak retak”. Maka, operasional Trans Sarbagita perlu perhatian serius di satu sisi. Salah satu hal yang perlu diperbaiki adalah masalah “waktu tunggu” penumpang.

Saya memahami bahwa Trans Sarbagita “belum menyentuh lebih dalam” kesadaran masyarakat dalam penggunaan transportasi publik. Dan, saya beranggapan bahwa Trans Sarbagita mengalami “sedikit” perubahan. Seperti, bus ukuran besar mulai jarang terlihat.  Waktu tunggu juga terasa “agak” lama.  Hal ini perlu menjadi perhatian pihak terkait karena sangat penting bagi masyarakat yang menyadari pentingnya transportasi publik.


Jadwal perjalanan Trans  Sarbagita (Sumber: dokumen pribadi)


Berbicara masalah waktu tunggu “sangat penting” karena masyarakat membutuhkan mobilitas yang cepat. Apalagi, bagi pekerja atau karyawan yang membutuhkan ketepatan waktu. Oleh sebab itu, perbaikan waktu tunggu menjadi sebuah keniscayaan.

Namun, di sisi lain masyarakat juga perlu memahami pentingnya Trans Sarbagita. Yaitu, untuk mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas. Saat animo masyarakat yang begitu massal terhadap moda transportasi. Maka, tingkat kemacetan lalu lintas mengalami penurunan. Juga, kontinuitas operasional Trans Sarbagita akan tetap berjalan dengan baik.

Dengan kata lain, kehadiran Trans Sarbagita membutuhkan partisipasi masyarakat. Serta, masyarakat juga membutuhkan kehadiran Trans Sarbagita sebagai moda transportasi publik yang bisa diandalkan. Ini bagai hukum sebab-akibat, di mana kedua pihak saling membutuhkan dan melengkapi. 

Menjaga Fasilitas Publik
Hal yang paling penting lainnya dalam meningkatkan operasional Trans Sarbagita adalah perlunya menjaga fasilitas publik. Masyarakat perlu menjaga kondisi halte-halte yang berada di sepanjang koridor. Mencorat-coret alias vandalism adalah tindakan yang perlu anda hindari. Masyarakat perlu menggunakan fasilitas publik sebijak mungkin.


Halte Trans Sarbagita di kawasan Sanur Denpasar Bali (Sumber: dokumen pribadi)


Di pihak lain, Pemerintah atau pihak terkait juga perlu melakukan rehabilitasi atau fasilitas publik yang mengalami penurunan kualitas baik karena human error atau alami. Seperti, papan “running text” yang tidak beroperasi atau mati. 


Perlunya menjaga fasilitas publik Trans Sarbagita (Sumber: dokumen pribadi)


Perlu diketahui  bawa menjaga fasilitas publik menjadi tugas bersama. Dalam artian, kepedulian Pemerintah atau pihak terkait dalam menyediakan fasilitas transportasi publik hendaknya disambut dan dijaga dengan baik. Perlu dipahami bahwa kemacetan lalu lintas bukanlah masalah sepele. Banyak akibat negatif yang timbul dari kondisi tersebut.

Oleh sebab itu, keuntungan dari kehadiran Trans  Sarbagita hendaknya diipahami oleh masyarakat. Ya, Trans Sarbagita menjadi oase moda transportasi yang bisa diandalkan. Dengan catatan, masyarakat menginginkan tingkat kemacetan lalu lintas mengalami penurunan. 

Itulah sebabnya, butuh sinergitas yang baik antara Pemerintah, stakeholder dan masyarakat. Untuk mencipatakan manfaat Trans Sarbagita secara maksimal.

Yuk, naik Trans Sarbagita! 

Artikel ini juga tayang di Kompasiana
   

LGBT, Perilaku Manusia Melawan Hukum Alam

  Warna-Warni yang melambangkan kaum LGBT (Sumber: shutterstock)         "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil ber...