Financial Leteracy Demi Kesejahteraan di Masa Pensiun




Financial Literacy Demi Kesejahteraan di Masa Pensiun
Oleh Casmudi, S.AP



    Bekerja, investasi dan pensiun…
            Tiga (3) hal yang menuntut kita melakukannya dengan sepenuh hati untuk orang-orang kita cintai. Ada tiga (3) jenis pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, bekerja di sektor swasta, pegawai negeri (PNS) dan berwiraswasta. Selama aktif bekerja, kita akan bekerja semaksimal mungkin mengumpulkan dana demi pemenuhan kebutuhan keluarga. Seandainya ada kelebihan penghasilan, kita bisa menabungnya untuk bekal masa pensiun. Bagi yang bekerja di sektor swasta atau berwiraswasta, mengumpulkan dana untuk bekal  masa pensiun bisa dilakukan di saat masih aktif bekerja. Setelah tidak bekerja lagi, kebutuhan untuk masa pensiun diperoleh dari hasil pesangon sebagai ganti balas jasa perusahaan terhadap karyawannya. Bagi yang berwiraswasta, bekal masa pensiun merupakan keharusan saat usaha kita masih berjalan lancer dengan menyisihkan penghasilan.
Khusus bagi PNS dan TNI/POLRI, bekal pensiun diperoleh dari uang pensiun jabatan setelah tidak bekerja lagi sebagai abdi negara dan perlu dilakukan dengan perencanaan matang dan positif. Pertanyaan yang selalu terlintas dari benak kita adalah apakah uang pensiun tersebut mampu mencukupi semua kebutuhan kita selama pensiun? Perlu diketahui, bahwa jumlah pensiunan PNS dan TNI/POLRI yang bejumlah 2,5 juta jiwa pada tahun anggaran 2012 saja membutuhkan anggaran sebesar 68 triliun rupiah (kurang lebih 5-6 persen dari APBN tahun 2012). Angka ini akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya (Pandji Harsanto, 2012). Kita memahami fakta di lapangan, bahwa uang pensiun PNS dan TNI/POLRI tidak mampu mencukupi kebutuhan kita selama pensiun. Lalu berapa  target dana yang cocok untuk masa pensiun kita? Target yang paling ideal pendapatan kita saat pensiun adalah sebesar 70 persen dari income kita ketika masa pensiun tiba. Tetapi, kenyataannya masyarakat hanya bisa mengumpulkan rata-rata hanya 35 persen dari income kita.
Siklus Kehidupan Manusia
            Sebelum memasuki masa pensiun, kita akan menghadapi berbagai fakta tentang perjalanan hidup manusia. Dari masa anak-anak hingga masa pensiun, kita akan melewati beberapa fase kehidupan kita, seperti: 1) anak-anak; 2) masa lajang; 3) masa awal pernikahan; 4) masa orang tua; 5) masa tua awal; 6) pensiun awal; dan 7) pensiun. Selama kita menghadapi beberapa fase tersebut, kita akan menghadapi berbagai macam resiko kehidupan. Manajemen resiko dalam menghadapi fase kehidupan menjelang masa pensiun  harus bisa kita antisipasi, agar kita tidak keteteran di masa pensiun. Manajemen resiko yang akan kita hadapi seperti: meninggal dunia, cacat, sakit kritis dan hidup terlalu lama secara mutlak harus kita hadapi dengan persiapan yang matang dan positif. 




            Untuk menghadapi masa pensiun, kita perlu mempersiapkan perencanaan keuangan yang matang dan positif. Perencanaan keuangan yang matang dan positif akan menentukan seberapa maksimal kita dalam menjalani masa pensiun nanti. Siklus keuangan kita untuk menuju pensiun harus kita perhatikan sebaik mungkin, agar di masa pensiun nanti tidak  membebani orang lain. Sedangkan, menuju masa pensiun, kita akan menghadapi berbagai fase kehidupan keuangan kita. Dengan kata lain, sejak masa muda kita harus memahami, bahwa siklus keuangan kita akan mengalami perubahan yang signifikan. Menurut www.sam.co.id  memberikan ilustrasi tentang siklus keuangan dalam hidup kita terbagi dalam 3 masa (periode), yaitu: 1) Masa pendidikan (selama rentang waktu 22 tahun). Periode ini adalah masa untuk mencari ilmu (pendidikan); 2) Masa berkarir dan berkeluarga (selama rentang waktu 38 tahun). Periode ini adalah masa bekerja, membina keluarga dan masa tenggang mendekati masa pensiun; dan 3) Masa pensiun (biasanya menurut usia standar selama rentang waktu 10-25 tahun). Periode ini adalah  masa pensiun, masa kita tidak produktif lagi. Yang mengejutkan, agar kita dapat menikmati masa pensiun yang benar-benar berkualitas adalah dengan mempersiapkan dana pensiun sebesar Rp 11 milyar. Jika dibagi selama 25 tahun, maka keperluan dana pensiun per tahun sebesar Rp 440 juta. (Marwan, 2014).




            Setelah melihat siklus keuangan tersebut, mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, sudah siapkah kita menghadapi masa pensiun? Mengapa perlu persiapan? Kita harus memahami bahwa masa pensiun adalah masa kritis yang tidak bisa kita tolak lagi dan pasti datang. Seperti apakah masa pensiun yang akankita lakukan nanti? Apakah kita harus menikmati masa pensiun dengan istirahat total, menikmati masa pensiun dengan suka cita untuk bercengkerama dengan cucu dan keuangan kita tersedia, dan tidak ada perasaan khawatir sama sekali. Atau masa pensiun akan kita lakukan dengan bekerja lebih keras lagi, sementara tenaga kita mulai berkurang, kesehatan kita tidak seperti masa muda dulu, membebani anak-anak kita dan keadaan keuangan kita tidak bisa kita andalkan.  Perlu adanya dana cukup dalam menghadapi masa pensiun.
Jangan kaget, ketika kita menanyakan pada masyarakat tentang kesiapan mereka menghadapi masa pensiun. Sebagian masyarakat menyatakan siap, sedangkan yang lain menyatakan terserah bagaimana nanti. Padahal menurut perhitungan, danabekal masa pensiun akan habis hanya dalam waktu 9 tahun setelah masa pensiun. Di situlah biasanya sebagian besar dari kita terpaksa harus bekerja lagi. Hampir 75 persen masyarakat masih bekerja hingga usia 68 tahun, karena kekurangan dana. (Akuinginsukses.com, 2013). Ada beberapa alasan, mengapa masyarakat kita tidak tergugah hatinya untuk mempersiapkan bekal dana yang cukup menghadapi masa pensiun nanti, seperti: 1)Masih muda; 2) Masih banyak tanggungan keluarga; 3) Belum bisa menabung; 4) Banyak anak, pasti akan ada yang menampung bila pensiun (Pandji Harsanto, 2012). Padahal, untuk menghadapi masa pensiun, kita harus mempersiapkannya dengan perencanaan matang dan positif. Jika kita tidak mampu mengelola keuangan semasa muda, seperti: tunjangan hari tua atau pesangon yang kita terima dari perusahaan semasa bekerja, maka uang tersebut akan menguap semua dalam waktu yang pendek.  Perjalanan selanjutnya, masa pensiun yang seharusnya bisa kita nikmati dengan suka cita, justru sering berubah tragis. Bahkan, tidak tahu harus melakukan apa (post power syndrome), kehilangan kepercayaan diri, emosional, sakit, stroke dan akhirnya mninggal dunia (Manajemen.bisnis.com, 2013).
            Dapat dikatakan bahwa untuk menghadapi masa pensiun, kita akan bermula dari masa muda dan sendirian (young & single), menikah (married), menjadi orang tua yang membanggakan (proud parents) dan perencanaan untuk pensiun (planning retirement). Oleh sebab itu, perlunya perencanaan yang matang dan positif dalam mengelola keuangan kita untuk menghadapi masa pensiun. Berikut tips yang dapat dilakukan untuk perencanaan pensiun:
1.      Tentukan usia pensiun kita, misalnya usia kita saat ini 30 tahun dan akan pensiun di usia 55. Berarti 25 tahun lagi kita akan pensiun.
2.      Tentukan berapa lama kitaakan menggunakan dana pensiun tersebut.
3.      Tentukan biaya perbulan untuk pensiun anda nanti yang diharapkan sama dengan jumlah uang saat ini dengan memperhitungkan nilai inflasi. Sebagai contoh, saat ini anda butuh 5 juta per bulan atau 60 juta pertahun. Selanjutnya, biaya tersebut dihitung dengan future value inflasi 10 persen. Maka  25 tahun mendatang sama dengan 54,17  juta perbulan atau 650 juta pertahun
4.      Jika kita bertujuan bahwa keuangan kita sebagai Dana Pensiun investasi jangka panjang diatas 5 tahun, maka kita dapat menggunakan investasi yang agresif seperti reksadana saham dengan kisaran return rata-rata 20-25 persen per tahun.
5.      Jika kita bekerja kurang dari 10 tahun, sebaiknya mempersiapkan untuk membeli asuransi jiwa berjangka (dengan premi murah dan manfaat besar). Menurut ketentuan bagi kita yang bekerja sebagai PNS, seandainya kematian datang menjemput kita dengan masa kerja kurang dari 10 tahun, maka janda kita tidak akan mendapatkan uang pensiun.
6.      Jika kita memiliki asset tidak lancar tidak produktif lebih besar dibandingkan asset lancar (kas/setara kas), sebaiknya kita mengurangi asset tidak lancar yang membutuhkan biaya maintenance dan pajak yang biayanya cukup besar, seperti rumah, kendaraan atau tanah kita yang tidak disewakan.
7.      Menjelang masa pensiun, kita bisa merintis second career, seperti pengajar, konsultan, atau menulis buku/artikel bisa mendapat penghasilan tambahan. Bahkan, ilmu yang dipunyai bisa bermanfaat bagi orang lain (Pandji Harsanto, 2012).




            Persiapan dalam menghadapi masa pensiun memang perlu bekal yang cukup. Makanya dana pensiun yang dipersiapkan sebaiknya dimulai dari sekarang. Betapa pentingnya dana pensiun akan membuat masa pensiun kita lebih menyenangkan. Sayangnya, masyarakat Indonesia secara mayoritas belum mengenal tentang dana pensiun yang harus dipersiapkan sejak awal. Fakta tersebut dapat dilihat dari hasil Survei Nasional Literasi Keuangan Indonesia yang menunjukan bahwa 81 orang atau 81,03 persen dari setiap 100 penduduk tidak mengenal dana pensiun. Hanya sebagian kecil, yaitu 7,13 persen dari masyarakat Indonesia yang mengenal dana pensiun dengan baik (well literate). Apalagi, jika melihat dari Indeks Utilitas Produk dan Jasa Dana Pensiun, hasil survey tersebut masih menunjukan angka yang rendah, yaitu 1,53 persen. Hal ini berarti sekitar 2 orang dari setiap 100 penduduk yang menggunakan produk dan jasa dana pensiun (Marwan, 2014). Sungguh, angka kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang persiapan untuk menghadapi masa  pensiun.
            Mungkin dalam benak kita bertanya, mengapa masa pensiun begitu mendapat perhatian bagi setiap orang. Hal ini dilihat karena kerentanan dari aspek keuangan yang sangat berpengaruh sekali, yaitu: Pertama, masa pensiun sering indentik dengan menurunnnya penghasilan, hanya mengandalkan pesangon yang habis dalam waktu singkat. Bahkan pada beberapa kasus, penghasilan berhenti sama sekali. Bagi PNS dan TNI/POLRI  mengandalkan uang pensiun yang sering tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup; dan Kedua, masa pensiun seringkali tidak indentik dengan berkurangnya  pengeluaran. Pengeluaran justru semakin bertambah.Seperti anak-anak yang belum menyelesaikan pendidikan, biaya berobat kesehatan, biaya menikah anak-anak dan lain-lain. Beban pengeluaran semakin berat. Sementara kondisi fisik kita tidak sesehat waktu muda dulu (Manajemen.bisnis.com, 2013).
Pemahaman Financial Literacy menghadapi Masa Pensiun
Memasuki masa pensiun berarti memasuki fase terakhir dalam kehidupan kita. Fase di mana kita dituntut untuk beristirahat menikmati hari-hari tua yang indah. Masa yang dimanfaatkan untuk melihat anak-anak kita tumbuh besar, berkeluarga, menimang cucu dan melakukan hobi kita dengan sebaik-baiknya. Jangan kaget, bagi sebagian besar karyawan di negara-negara maju, memasuki masa pensiun adalah berita yang sangat menggembirakan dan perlu dirayakan. Mengapa bisa terjadi? Karena mereka mempunyai cukup uang untuk menutupi kebutuhan hidup di masa pensiun, tabungan dan investasi cukup besar, serta bebas dari tanggungan. Oleh karena itu, kita sering melihat para pensiunan yang mengabdikan dirinya untuk pekerjaan sosial tanpa pamrih dan beramal di yayasan sosial.
Keadaan menghadapi masa pensiun dengan suka cita di negara-negara maju sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada di masyarakat Indonesia. Di Indonesia, memasuki masa pensiun justru selalu berkonotasi buruk. Banyak dari mereka yang tidak mempunyai  tabungan atau investasi, tunjangan pensiun pun terlalu kecil untuk biaya hidup, tanggungan keluarga yang masih banyak. Bahkan, di antara mereka yang tidak mempunyai gagasan untuk mempersempit jarak finansial antara biaya hidup dan penghasilan yang menurun tajam tiba tiba (Manajemen.bisnis.com, 2013). Sungguh, kenyataan yang harus kita hindari memasuki masa pensiun. Di masa pensiun nanti, kita pun tidak mau merepotkan kehidupan anak-anak kita. Apalagi anak-anak kita juga mempunyai permasalahan keluarga tersendiri. Kita pun ingin melihat anak-anak kita merajut kehidupan mereka dengan sebaik-baiknya, agar generasi kita bisa tumbuh dengan kualitas yang baik. Mereka yang baru saja melangkah untuk berkeluarga, sebagai orang tua yang bijak tentunya kita tidak ingin merepotkan anak-anak kita dengan urusan masa pensiun kita.
Banyak hal yang harus kita lakukan untuk persiapan menghadapi masa pensiun. Secara garis besar, untuk menghadapi masa pensiun kita bisa melakukan dengan istilah 3I, yaitu: 1) Insyaf. Insyaf bahwa harga-harga kebutuhan hidup semakin naik dan inflasi pun terus naik. Kesadaran kita agar tidak mengandalkan pihak lain untuk menopang kehidupan kita di masa pensiun nanti; 2)Irit. Membiasakan hidup irit atau hemat dengan mengurangi pengeluaran kebutuhan yang tidak penting; dan 3) Investasi. Kita mulai belajar untuk berinvestasi dalam berbagai instrumen, seperti: membeli emas, properti, reksadana, pasar modal, dan lain-lain. Kita juga memahami jika investasi yang berpotensi memberi tingkat pengembalian tinggi, pasti resikonya tinggi. Dengan kata lain, High risk high return. Pilihlah  investasi sesuai dengan kepandaian kita. Jangan lupa, kita menyisihkan buat kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan jika ada (Akuinginsukses.com, 2013).



Dengan memahami financial literacy atau melek finansial (kecerdasan keuangan), kita bisa memulai untuk mengalokasikan dana sebesar 20 persen dari penghasilan kita untuk investasi. Ada proporsi investasi untuk jangka panjang yang bisa menjadi panduan, sebagai contoh: 1) Jika usia kurang dari 40 tahun, untuk saham 80 persen dan obligasi 20 persen; 2) Jika usia 40-45 tahun, untuk saham 65 persen dan obligasi 35 persen; 3) Jika usia 45-50 tahun, untuk saham 50 persen dan obligasi 50 persen; 4) Jika usia lebih dari 50 tahun, untuk saham 30 persen dan obligasi 70 persen. Kita juga bisa menanamkan investasi di properti dengan alasan: 1) Nilainya cenderung naik dari waktu ke waktu; dan 2) Bisa ditinggali jika berbentuk rumah atau apartemen. Jika kita investasi di reksadana, kita akan mendapatkan kelebihan, seperti: 1) Bisa dimulai dengan setoran yang kecil; 2) Aman karena biasanya terdiri dari saham-saham pilihan; 3) Mudah dijual; dan 4) Cocok untuk persiapan pensiun. Sedangkan, investasi dengan membeli emas juga mempunyai kelebihan, seperti: 1) Nilainya naik dari tahun ke tahun; dan 2) Mudah likuid (cair). Selanjutnya, apa kelebihan jika kita investasi di obligasi? Kelebihannya adalah: 1) aman; dan 2) Pilih obligasi pemerintah yang tidak berisiko gagal bayar (Akuinginsukses.com, 2013).
Memakai Produk dan Jasa Keuangan
Menurut Sun Life Financial (2014) menyatakan bahwa dengan berinvestasi berarti kita melakukan hal, seperti: menyiapkan masa pensiun, mengakumulasi kekayaan atau asset, menyiapkan dana pendidikan putra-putri, menyiapkan dana kesehatan, dan menunaikan ibadah keagamaan (contoh: ibadah haji atau umrah). Kita pun berharap agar investasi kita sebagai bekal masa pensiun berdaya guna. Perlu pemahaman yang baik terhadap instrumen  investasi tersebut. Seperti apa yang ada di laman www.akuinginsukses.com (2013) menegaskan bahwa dengan investasi berarti kita mempersiapkan secara matang dan positif menghadapi masa pensiun. Ada beberpa hal yang perlu kita perhatikan, agar investasi untuk masa pensiun tidak sia-sia, yaitu: 1) Pelajari produknya; 2) Pelajari siapa penjual produk tersebut; 3) Kenali profil risiko anda sebagai investor; 4) Berapa macam instrument investasi yang ideal anda miliki, sangat tergantung pada selera dan kondisi finansial anda; 5) Jangan berinvestasi pada instrumen yang tidak anda pahami; 6) Jika anda tidak punya waktu untuk mempelajari dan memonitor investasi anda, percayakan pada manajer investasi yang anda percayai; dan 7) Disiplin untuk menyisihkan sebagian dana anda investasi.
Memang rumit untuk melakukan investasi yang memberikan keuntungan maksimal. Kita perlu pengetahuan cukup, agar kita tahu sebagian besar jenis investasi tersebut. Namun, investasi yang bisa kita lakukan secepatnya dan tidak perlu mengetahui secara detail adalah dengan mengikuti program jaminan atau perlindungan hari tua di perusahaan asuransi. Kita juga perlu memahami perusahaan asuransi yang mempunyai kinerja baik. Dengan mengikuti asuransi, kita bisa mengalihkan berbagai risiko pada masa pensiun nantinya. Sekarang ini, ada beberapa hal yang bisa dialihkan resikonya kepada perusahaan asuransi untuk menanggungnya, yaitu: 1) asuransi jiwa, 2) asuransi kesehatan, 3) asuransi kecacatan, dan 4) asuransi perawatan jangka panjang.
Mengapa kita perlu investasi di asuransi? Pertama, asuransi jiwa akan memberikan proteksi kebutuhan keuangan bagi keluarga setelah kita meninggal dunia. Kita bisa memastikan bahwa pasangan hidup dan anak-anak tercinta tetap mempunyai uang dan arus kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan di sepanjang hidup setelah kita tutup usia; Kedua, asuransi kesehatan bermanfaat dalam menanggung beban keuangan bila kita menderita sakit dan mengidap penyakit di kemudian hari. Kita bisa mendapatkan fasilitas perawatan yang tepat guna pemulihan kondisi kesehatan dari penyakit tertentu; Ketiga, asuransi kecacatan bermanfaat bila suatu saat kita mengalami kecelakaan atau musibah sehingga kita mengalami cacat permanen, karena cacat permanen di usia pensiun amat memberatkan buat keluarga kita; Keempat, asuransi perawatan jangka panjang bermanfaat manakala kita mengalami sakit yang berkepanjangan di masa pensiun yang menyebabkan kita tidak sanggup melakukan aktivitas sehari-hari secara fisik tanpa bantuan orang lain. (Eddy Ka Berutu, 2011). 
            Banyak pilihan asuransi yang bisa menjadi tempat untuk investasi jaminan atau perlindungan kita di masa pensiun. Tinggal pilih jenis asuransi konvensional atau syariah. Sebagai contoh kita bisa mengikuti program asuransi di PT Sun Life Financial Indonesia. Banyak ragam produk yang ditawarkan sebagai investasi masa depan.  Dengan mengikuti program asuransi tersebut, jaminan atau perlindungan masa  pensiun akan ditanggung sesuai dengan jumlah premi yang dibayarkan. Kita akan merasa nyaman untuk menghadapi masa pensiun kita.
Dengan mengikuti program investasi di asuransi tersebut, kita akan merasa merdeka secara finansial menghadapi masa pensiun. Di saat menghadapi masa pensiun nanti, kita akan menghadapi periode yang membahagiakan. Makanya, bagi orang yang pensiunakan mengalami kemerdekaan finansial bila terpenuhi kondisi-kondisi sebagai berikut: 1) tercukupinya kebutuhan konsumsi, 2) kemampuan memenuhi kewajiban pembayaran hutang, 3) tersedia dana untuk memenuhi kebutuhan mendadak (emergency), dan 4) bisa melakukan hobi dan menabung. Kondisi tersebut tidak mustahil untuk kita raih. Dengan mengikuti program asuransi sebagai bagian dari perencanaan keuangan membuat peluang masa pensiun yang membahagiakan semakin besar (Manajemen.bisnis.com, 2013).



            Dengan demikian, kita jangan sampai terlambat untuk berinvestasi buat masa pensiun kita. Seandainya kita terlambat untuk memulainya, hal yang paling rentan adalah membuat beban cicilan semakin besar untuk mengumpulkan bekal buat masa pensiun. Dengan kata lain, semakin dini kita mulai, semakin ringan cicilannya dan bisa memilih instrumen yang less risiko. Tetapi, semakin dekat masa pensiun semakin berat cicilannya. Secara teori, resiko harus turun atau
 


diturunkan ketika jarak waktu kita sekarang dengan waktu penggunaan dana sudah dekat (Akuinginsukses.com, 2013). Kita tidak ingin masa pensiun nanti begitu menderita, bekerja keras tanpa mengenal lelah. Sementara usia kita sudah tidak muda lagi, tenaga berkurang, kulit keriput di sana sini. Sungguh kondisi yang tidak kita inginkan.
Di masa pensiun nanti, kita benar-benar ingin mengalami masa pensiun yang memenuhi enam (6) unsur, yaitu: 1) segar secara pisikal, 2)  cerdas secara intelektual, 3) stabil secara emosional, 4) damai secara spiritual, 5) luhur secara sosial, dan 6) merdeka secara finansial (financial freedom). Kita ingin menjalani masa pensiun yang direncanakan dengan baik, sangat bermakna, menjalani hidup dengan bahagia, tetap aktif dan produktif, memiliki waktu luang untuk melakukan hobi yang positif, mengembangkan jaringan serta meningkatkan aktivitas sosial, melakukan stimulasi intelektual dan mencapai kedamaian spiritual. Masa pensiun akan disambut dengan perasaan suka cita (Manajemen.bisnis.com, 2013). Mari kita persiapkan bekal masa pensiun dengan perencanaan keuangan yang matang dan positif. Memahami financial literacy atau melek finansial (kecerdasan sosial) adalah mutlak yang harus dilakukan mendekati fase akhir (final) dalam kehidupan kita. Kita ingin gembira di masa pensiun nanti. Happy retirement!








Referensi:
Akuinginsukses.com.(2013).Pentingnya Program Dana Pensiun. Diambil dari http://www.akuinginsukses.com/pentingnya-program-dana-pensiun/
Harsanto, Pandji. (2012). Mempersiapkan Pensiun untuk PNS.Diambil dari http://pandjiharsanto.com/2012/02/03/mempersiapkan-pensiun-untuk-pns/
Ka Berutu, Eddy. (2011).  Ragam Polis Asuransi di Masa Pensiun. Diambil dari http://economy.okezone.com/read/2011/04/26/315/449929/ragam-polis-asuransi-di-masa-pensiun
Manajemen.bisnis.com. (2013).Financial planning penting bagi para pensiunan agar nggak  miskin.Diambil dari http://manajemen.bisnis.com/read/20130101/55/291/financial-planning-penting-bagi-para-pensiunan-agar-nggak-miskin
Marwan. (2014). Potret Nasional Melek Finansial
Td-informasi.blogspot.com. (2013).Pentingnya Dana Pensiun (Asuransi).Diambil dari http://td-informasi.blogspot.com/2013/05/pentingnya-dana-pensiun-asuransi.html/

Tag:     SUN LIFE
PERLINDUNGAN KELUARGA
MELEK FINANSIAL
KESEJAHTERAAN

Comments

terima kasih pa artikelnya, sangat inspiratif
www.mampuberhaji.com
Terima kasih pak telah mampir. Salam hangat.