Friday, March 30, 2018

Merenda Batik Sido Mukti, Merangkai Jati Diri Negeri




Batik khas Solo Jawa Tengah, salah satu warisan budaya
bangsa Indonesia (Sumber: dokumen pribadi)




Bangsa Indonesia terdiri lebih dari 17 ribu pulau dan 400 suku bangsa yang tersebar dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur Nusantara. Tentunya, bangsa Indonesia mempunyai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Salah satu mahakarya bangsa Indonesia adalah Batik. Batik merupakan kain bergambar yang khas dari bangsa Indonesia. Ada berbagai macam motif batik dari barbagai daerah di Indonesia. Bahkan, di satu daerah pun masih banyak jenis batik yang tetap bertahan hingga kini.
Batik menjadi sebuah identitas dan jatidiri bangsa Indonesia yang enak dipandang dan fashionable.  Dan, keindahan batik membuat iri bangsa lain. Itulah sebabnya, keberadaan batik pernah mengalami klaim dari bangsa lain. Tetapi, karena dunia memahami bahwa batik merupakan warisan budaya resmi bangsa Indonesia maka badan PBB yaitu UNESCO secara resmi mengakui batik sebagai warisan budaya dunia pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu. Anda bisa lihat video berikut.


Indonesian Batik (Sumber: UNESCO)

Batik Sido Mukti
Salah satu batik Nusantara yang tersohor adalah Batik dari Kota Solo Jawa Tengah. Apalagi, Kota Solo dikenal mempunyai peninggalan Keraton yang masih eksis hingga kini, Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran. Dan, dari ranah keraton, budaya membatik menjadi kebiasaan yang tetap dipertahankan hingga kini. Banyak motif batik khas Solo yang dikenal masyarakat Indonesia hingga mancanegara. Ada beberapa motif batik khas Solo yang sudah popular, seperti: motif  Sido Asih, motif  Ratu Ratih, motif  Parang Kusuma, motif Bokor Kencana, motif Sekar Jagad dan motif  Sido Mukti. Anda bisa lihat video di bawah ini.


Yuk, Mengenal Berbagai Motif Batik Solo (Sumber: detikcom)


Setiap batik Nusantara mempunyai ciri khas yang bisa dikenali asal batik itu sendiri. Sedangkan, ciri khas batik dari Kota Solo disebut Sogan. Sogan merupakan motif batik yang mempunyai warna kecoklatan. Dalam filosofi orang Jawa, Sogan  mempunyai makna sebagai kerendahan hati atau kebahagiaan hidup. Bukan itu saja, bahan-bahan membatik  khas Solo mayoritas  menggunakan bahan pewarna  lokal seperti Soga jawa dan bahan lainnya. Sentra pembuatan batik di Kota Solo yang terkenal adalah di kawasan Laweyan. Namun, jika anda ingin memiliki batik khas Solo bisa mendapatkannya dengan mudah di beberapa tempat wisata atau pasar-pasar tradisional dan modern seperti Pasar Klewer yang melegenda.  
Jika anda berkunjung ke Kota Solo, maka batik khas Solo banyak dipakai di acara perkawinan atau resepsi ( pahargyan). Salah satu motif batik khas Kota Solo yang menarik adalah Motif Batik Sido Mukti.  Perlu diketahui bahwa pola dasar yang terdapat di motif batik Sido Mukti yaitu: Gurda. Makna atau filosofi dari motif batik tersebut adalah harapan untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin. Bukan itu saja, pembuatan batik khususnya motif Sido Mukti membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Yuk, lihat video berikut ini.


Batik Sido Mukti (Sumber: Infinity)


Jika menelaah dari asal kata maka kata Sido Mukti”  berasal dari kata “Sido” yang berarti terus-menerus atau berkelanjutan . Dan kata  “Mukti” yang berarti  berkecukupan. Jadi,  kata “Sido Mukti”  mengandung makna sebagai  representasi sebuah harapan kepada semua orang yang mengenakannya agar memiliki suatu kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan serta berkesinambungan selaras dengan rejeki yang cukup dan tidak putus.


Saya pun berharap agar mendapatkan rejeki dan kebahagian yang 
berlimpah secara terus menerus (Sumber: dokumen pribadi)


Itulah sebabnya, para pengantin Jawa khususnya Kota Solo mengenakan kain batik motif Sido Mukti  agar harapan besar pada pernikahannya mempunyai kehidupan berumah tangga yang selalu berkecukupan, bahagia, dan sejahtera. Sedangkan, jika dipakai oleh orang yang sudah menikah dengan tujuan agar hubungan suami istri tetap langgeng dan dianugerahi hidup yang bahagia dan sejahtera tanpa ada gangguan apapun. Tentunya, harapan si pemakai batik tidak lantas melupakan campur tangan Tuhan yang telah memberinya kehidupan.


Penganten putra sulung Presiden Ri Jokowi Gibran dan Selvi memakai 
motif batik khas Kota Solo Sido Mukti saat akad nikah 
(Sumber: CNN Indonesia)


Di era digital sekarang ini, Bangsa Indonesia berusaha agar generasi milenial tanpa merasa canggung dan malu untuk memakai batik. Karena, batik memang masih dianggap sebagai “budaya Jaman Old”. Oleh sebab itu, setiap kalangan masyarakat berusaha agar batik menjadi tren mode yang fashionable dan modis. Oleh sebab itu, banyak motif batik yang digunakan dalam berbagai jenis tren busana masa kini. Lagi, batik juga mengalami modifikasi agar tidak terkesan “jadul” dan generasi milenial pun asik untuk memakainya. Kini, batik khususnya motif Sido Mukti bisa anda temukan pada berbagai jenis busana seperti baju kantor, baju santai dan lain-lain. Bahkan, di era sosial media (sosmed), banyak anak muda yang percaya diri tampil mengenakan batik di berbagai acara baik formal maupun informal untuk diposting dalam status akun sosmed masing-masing. Menarik, bukan?   

Motif batik Sido Mukti pada berbagai jenis busana masa kini
(Sumber: Batik Keris/diolah)


Saya sendiri bangga menggunakan batik dan berusaha ikut serta dalam menjaga kelestarian batik. Saya seringkali menggunakan batik motif Sidomukti ini pada acara-acara resmi (pemerintahan) seperti saat menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) di Yogyakarta. Atau, saat menghadiri acara pernikahan dan arisan keluarga besar di Kota Solo. Apalagi, pada saat halal bihalal keluarga besar yang diadakan setahun sekali sehabis Hari Raya Idul Fitri (Lebaran), menggunakan batik Motif Sidomukti menjadi tampil percaya diri dan elegan.   


Memakai baju batik khas Sido Mukti pada acara Diskusi Publik Cakap 
Bermedia Sosial di Yogyakarta, 27 Mei 2016 
(Sumber: dokumen pribadi)


Teladan dari RI 1
Kini, tren memakai batik khas Solo khususnya Sido Mukti bukan hanya dalam acara perkawinan saja tetapi telah melakukan ekspansi ke berbagai acara formal kenegaraan. Presiden Jokowi dan para menterinya kini rajin mengenakan batik untuk menjaga kelestariannya. Serta, merangsang masyarakat Indonesia untuk gemar mengenakan batik nusantara. Bahkan, tren batik makin menggila ketika para menteri era Presiden Jokowi mengenakan batik waktu menghadiri acara pernikahan Gibran Rakabuming Raka dan Kahiyang Ayu yang notabene putra dan putri dari orang nomor satu negeri ini. Bahkan, setiap orang yang hadir pada acara tersebut dengan senang hati mengenakan batik.  Sebuah tradisi yang menggembirakan masyarakat Indonesia. Batik benar-benar bukan hanya menjadi pakaian adat istiadat (tradisional) tetapi merambah ke baju pada acara formal (modern).


Presiden Jokowi memakai jarit batik khas Solo Sido Mukti saat perkawinan Gibran 
Rakabuming Raka dan Selvi Ananda (Sumber: kompas.id)




Presiden Jokowi mengenakan jarit batik, saat RI 1 ngunduh mantu putrinya, Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution (Sumber: merdeka.com)


Nah, kalau Presiden RI saja sudah memberikan contoh betapa batik menjadi gaya berbusana yang elegan dan modern, maka masyarakat Indonesia juga perlu mencontoh hal tersebut. Melestarikan budaya dan bangga mengenakan batik merupakan tugas bersama bukan hanya Presiden dan para menterinya. Para pelaku batik juga hendaknya merespon cepat mode batik yang kekinian agar generasi bangsa khususnya generasi milenial sangat bangga mengenakan batik. Oleh sebab itu, perlunya kolaborasi yang bagus antar elemen masyarakat untuk mempertahankan batik yang kini diakui dunia sebagai warisan budaya yang “adiluhung”.
Semakin berkembangnya teknologi, maka keberadaan batik justru semakin dicintai masyarakat Indonesia. Kemajuan era digital tidak serta merta menjadikan batik menjadi produk “Jaman Old” tetapi batik yang telah melewati berbagai lapisan generasi menjadi produk “Jaman Now” dan “Jaman Future”. Oleh  sebab itu, kini batik menjadi tren yang tiada ternilai harganya dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan dunia.

Jika RI 1 telah bangga memakainya, kini giliran anda semua untuk berlomba-lomba nmengenakannya. Siapa lagi yang bangga dan menjaga kelestarian warisan budaya bangsa, kalau bukan “kita”. Ya, kini kita wajib #BanggaMemakaiBatik dan tunjukan kepada dunia bahwa batik adalah tren dunia. Dan, dunia pun kini bangga mengenakan batik. Karena, batik bukan hanya milik bangsa Indonesia tetapi batik telah menjadi milik dunia. 

   

No comments:

8 Hal Menarik yang bisa Anda Temukan di Pantai Melasti

Pulau Bali yang ditetapkan oleh Trip Advisor sebagai peringkat pertama tujuan wisata dunia menjadi kebanggan bangsa Indonesia. Pres...