Skip to main content

Waspadai Bahaya Hepatitis, Kapan pun Mengancam Jiwa Anda

Temu Blogger Bali yang membahas tentang Hepatitis (Sumber: dokumen pribadi)




Ada pepatah, “harta paling berharga adalah kesehatan”. Banyak orang yang menghabiskan harta benda untuk menyembuhkan sebuah penyakit. Bahkan, penyakit-penyakit yang trend di kalangan masyarakat seperti kanker, jantung dan lain-lain telah menjadi mesin pembunuh manusia.

Dan, kini ada “penyakit lama rasa baru” yang telah menjadi mesin pembunuh dan jarang dipahami masyarakat. Apakah itu? Hepatitis. Ya, Hepatitis menjadi penyakit yang menakutkan manusia. Oleh sebab itu, anda perlu mengenal lebih jauh paham tentang seluk-beluk penyakit Hepatitis.

Betapa bahayanya penyakit Hepatitis, maka Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan RI sangat peduli tentang penyakit tersebut. Salah satu hal yang dilakukan adalah memperingati Hari Hepatitis Dunia di masyarakat. Hal ini untuk menyadarkan masyarakat agar waspada terhadap virus Hepatitis yang bisa datang tanpa disadari. Baru-baru ini, Kemenkes RI memperingati Hari Hepatitis Sedunia dengan mengusung tema “Eliminasi Hepatitis, Selamatkan Generasi Bangsa.”

DUTA KESEHATAN

Kemenkes RI memahami bahwa memberikan informasi tentang Hepatitis membutuhkan kolaborasi dengan pihak lain. Oleh karena itu, tanggal 31 Juli 2019 lalu, Kemenkes RI menyelenggarakan acara seru bertajuk “Temu Blogger Bali” dengan tema “Jangan Biarkan Hepatitis Merenggut kebahagiaanmu!”. Acara Temu Blogger Bali diadakan di Garden Palace Hotel Sanur jalan By Pass Ngurah Rai Denpasar Bali.

Acara Temu Blogger Bali menghadirkan moderator dan narasumber yang berkompten di bidangnya, seperti:  
1. dr. Widyawati, MKM yang menjabat sebagai Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat. Beliau bertindak sebagai moderator.
2. dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes yang menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI
3. dr. Ketut Suarjana, MPMM yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Yang bersangkutan tidak bisa datang karena urusan penting (diwakilkan).
4. Prof. DR. dr. Ir. I Dewa Nyoman Wibawa, Sp.PD-KGEH yang menjabat sebagai Anggota Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Anggota PPHI-PGI-PEGI dan Ketua Cabang Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)-PGI-PEGI Bali.  
Acara Temu Blogger Bali berlangsung hangat dengan dipandu MC oleh Bapak Indra Rizon, SKM, M.Kes. Pada acara tersebut juga diringi dengan live twitter yang menyentuh peringkat II trending topik Indonesia.


Beberapa blogger yang mendapatkan apresiasi dari Kemenkes RI (Sumber: dokumen pribadi)


Dalam paparan Temu Blogger Bali, Kemenkes RI bersemangat mengenalkan masalah Hepatitis terlebih dahulu kepada Blogger dan mahasiswa agar memahami  penyakit hepatitis. Tujuan dari acara keren tersebut untuk mengenal lebih dekat tentang hepatitis agar  pencegahan bisa dilakukan dengan baik.

Kurang lebih 100 peserta yang terdiri dari para blogger dan netizen mahasiswa Poltekkes di Bali menghadiri paparan para ahli kesehatan. Blogger dan netizen mahasiswa yang masih awam tentang hepatitis, menerima informasi bagus tentang  jenis-jenis virus hepatitis dan cara penularannya.

Hal yang menarik dari pembukaan acara oleh dr. Widyawati, MKM adalah kesadaran bahwa peran bloger dan netizen sangatlah besar. Apalagi, sebagai duta kesehatan Kemenkes RI, maka blogger dan netizen diharapkan menyebarkan informasi kebaikan. Menyebarkan tentang kesehatan khususnya Hepatitis ke masyarakat melalui ranah digital.

Duta kesehatan hendaknya tidak percaya dan menyebarkan informasi kesehatan yang masih diragukan kebenarannya. Diperlukan konsep 3S (Saring Sebelum Sharing). Karena, infrormasi hoax bisa membuat fatal bagi orang lain.

Hebatnya, penyebaran informasi tentang kesehatan di ranah digital ditunjang dengan adanya kurang lebih 143,26 juta pengguna internet di Indonesia. Bahkan, banyak penduduk Indonesia yang mempunyai lebih dari 1 gadget. Ini menjadi modal besar tentang akselerasi informasi mengenai Hepatitis.

Informasi kesehatan yang bisa menjadi rujukan untuk penyebaran informasi kesehatan, di antaranya  Dinas kesehatan, Media Sosial Official Kesehatan, Konten yang benar dan narasumber yang bisa dipercaya. Adapun web kesehatan Kemenkes RI yang bisa dipercaya, anda bisa klik di www.sehatnegeriku.kemkes.go.id 

MEMAHAMI HEPATITIS

Hal pertama yang perlu dipahami masyarakat adalah penyakit Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada hati. Hepatitis menjadi salah satu beban negara yang merugikan. Mengapa? Satu kasus sirosis atau kanker hati dapat menghabiskan biaya Rp. 1 miliar hingga Rp. 5 miliar.

Merawat kesehatan hati sama halnya menciptakan kebahagiaan. Karena, kondisi hati yang baik membuat hidup anda makin berkualitas. Oleh sebab itu, anda perlu menjaga agar hati tidak mengalami peradangan. Gambar berikut menunjukan kondisi hati yang sehat dan yang telah mengalami sirosis (kerusakan hati).


Kondisi hati sehat dan hati yang terkena sirosis (Sumber: Kemenkes RI)


Paparan menarik di acara temu Blogger Bali adalah pengenalan tentang virus Hepatitis dan cara penularannya oleh dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes. Beliau menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI. Paparannya membuka pemahaman bagi blogger dan mahasiswa tentang virus Hepatitis dan cara penularannya.

Virus Hepatitis menjadi pembunuh utama karena kurangnya perhatian global. Memahami Hepatitis berarti anda perlu memahami jenis-jenis virus hepatitis yang bisa menyerang kesehatan hati. Di kalangan kesehatan, ada 5 jenis virus hati yang kapan saja bisa menyerang kesehatan anda. Adapun, virus tersebut yaitu Virus A, B, C, D, dan E. Untuk memahami Family, Genom, Masa Inkubasi, Cara penularan dan Tingkat Penyakit, anda bisa memahami di grafik berikiut:


Jenis virus hepatitis dan cara penularan (Sumber: Kemenkes RI)

Dari grafik di atas, maka penyakit Hepatitis jangan dipandang sebelah mata. Karena, kapan pun bisa mengancam jiwa anda. Kasus yang menghebohkan negeri ini adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Kasus tersebut telah menelan korban mencapai seribu orang. Hepatitis menjadi ancaman bangsa Indonesia karena termasuk wilayah endemis.

Melihat cara penularannya, penularan virus hepatitis B, C, D hampir sama. Perlu diketahui bahwa virus Hepatitis B, C dan D, di mana penularan melalui kontak darah dan cairan tubuh dari ibu ke anak dengan persentase sebesar 90-95%, transfusi darah  dan organ yang tidak diskrining, penggunaan jarum yang tidak aman dan  hubungan seksual yang tidak aman.

Dari beberapa virus hepatitis, maka hepatitis C merupakan Hepatitis yang paling berisiko di antara jenis hepatitis lain. Mengapa? Sebagai informasi bahwa sekitar 2-3% (130-170 juta jiwa) populasi dunia terinfeksi Virus Hepatitis C (VHC). Bahkan, lebih dari 300.000 jiwa yang meninggal karena infeksi VHC. Sedangkan, prevalensi Hepatitis C di Indonesia sebesar 1,01% (Sumber: Riskesdas 2013).

Cara penularan Hepatitis C melalui darah dan cairan tubuh pasien Hepatitis C. Di mana, kelompok yang berisiko tinggi terkena Hepatitis C, yaitu: 1) Pengguna jarum suntik tidak steril/bergantian; 2) Pasien hemodialisis; 3) Pasien yang pernah transfuse; 4) Sering berganti-ganti pasangan seks; 5) Pengguna tato, tindik, pisau cukur, jarum, perawatan wajah, manicure/pedicure; dan 6) Petugas kesehatan yang tertusuk jarum bekas pasien. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko penularan.


Cara menurunkan risiko penularan Hepatitis C (Sumber: Kemenkes RI) 


Dengan cara penularan di atas, maka pengidap terbanyak Hepatitis C adalah pemakai narkoba suntik, pasien hemodialisis dan pasien yang pernah transfusi. Sebagian besar pasien (75-85%) berkembang menjadi kronis, sehingga potensi menjadi sirosis atau kanker hati tinggi. Oleh sebab itu, untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan anti-HCV dan HCV RNA.

Gejala Hepatitis C yang bisa anda pahami adalah 1) Gejala ringan berupa: Letih, lemah, lesu; Demam; Mual, Nyeri perut; Nafsu makan berkurang; dan 2) Sebagian besar orang tidak bergejala. Tetapi, pada saat kronis gejalanya, seperti Buang Air Kecil dan Buang Air Besar berwarna coklat gelap, warna kuning di kelopak mata dan kulit, jika sudah parah perut membuncit; Mata tampak kuning; buang Air bear dan kecil berwarna coklat gelap.    

DETEKSI DAN PENGOBATAN

Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Prof. Dr. dr. I Dewa Nyoman Wibawa, SpPD, KGEH mengatakan bahwa penderita hepatitis bisa dicegah dan diobati apabila ditangani secara cepat dan tepat. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu untuk deteksi dini Hepatitis di Fasyankes (fasilitas layanan kesehatan) terdekat.

Virus hepatitis A dengan masa inkubasi 30 hari bisa menjadi akut jika tidak dicegah dengan baik. Penderita hepatitis A dapat sembuh dengan beristirahat dan makan makanan bergizi seimbang. Selain itu juga menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti olah raga, cuci tangan sebelum makan, dan mencuci makanan sampai bersih.

Namun, jika sudah terjadi maka cara kuratif untuk penangan Hepatitis A adalah pengobatan sesuai dengan tata laksana. Pemberian vaksin juga perlu dilakukan. Sebagai informasi bahwa vaksin Hepatitis A adalah vaksin pertama yang bisa mencegah penyakit kanker.  Pemberian vaksin untuk Hepatitis A di antaranya VAQTA, HAVRIX, dan TWINRIX.

Selanjutnya, Hepatitis B menular secara vertikal dari ibu ke anak perlu ditangani secara serius. Untuk mendekteksi gejala hepatitis B pada ibu hamil menjadi program penting pemerintah. Karena, penularan dari ibu ke anak sangatlah rentan. Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) bagi ibu hamil telah dilakukan  Pemerintah di 34 Provinsi. Berikut gambaran Deteksi Dini Hepatitis B terhadap ibu hamil tahun 2018:


Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) terhadap ibu hamil tahun 2018 (Sumber: dokumen pribadi)

Pada gambar di atas menjelaskan bahwa tahun 2018 lalu, pemerintah mencanangkan pemeriksaan hepatitis B pada sekitar 1.643.204 ibu hamil. Hasilnya, 1.88 persen ibu hamil reaktif dengan 15 ribu lebih anak yang lahir dari ibu reaktif telah diberi imunisasi sebagai perlindungan spesifik.

Mencengangkan, akan ada  120 ribu anak yang menderita hepatitis B dengan 95 persen di antaranya akan mengalami hepatitis kronis 30 tahun ke depan. Padahal, 1 kasus sirosis membutuhkan biaya 1 milyar dan 1 kanker hati butuh 5 milyar. Oleh sebab itu, pemerintah peduli dengan memberikan antibodi untuk menyelamatkan bayi yang lahir.  Antibodi Hepatitis B berguna untuk menangkap virus pada bayi sebelum menyerang hati.
Deteksi penting juga penting terhadap virus Hepatitis C. Hal-hal yang bisa anda lakukan adalah: 1) Untuk mengetahui seseorang pernah tertular Hepatitis C diperlukan pemeriksaan skrinnng darah (Anti-HCV); dan 2)  Bagi pasien yang Anti-HCV positif dilanjutkan pemeriksaan jumlah virus (HCV RNA).

Anda perlu tahu bahwa hepatitis C menjadi mesin pembunuh manusia. Hepatitis C menular melalui hubungan seksual dan darah. Jika tidak ditangani dengan baik, maka kondisi akut atau kronis bisa terjadi pada siapapun. Pengendalian Virus Hepatitis C di Indonesia bukan hanya pada pengendalian faktor risiko penyakit. Hal penting yang harus dilakukan adalah pengobatan Hepatitis C dengan obat Direct Acting Antiviral (DAA).

Dengan DAA, tingkat kesembuhan tinggi sebesar 97% dengan waktu penyembuhan singkat 12-24 minggu. Layanan DAA sudah di 15 Provinsi dan 37 Rumah Sakit (RS) pada tahun 2019. Pengobatan DAA hingga bulan Mei 2019 populasi berisiko yang diperiksa Anti HCV sebanyak 152.489 orang dan reaktif sebanyak 6.763, melakukan pengobatan sebanyak 3.818 orang.

Pengobatan kombinasi minimal dua obat, DAA (Direct Acting Antiviral) dengan obat utama Sovosbufir plus obat lainnya, seperti: Daclatasvir, Simeprevir, Ribavirin, ataupun Interferon. Dengan lama pengobatan: 3-6 bulan tergantung kerusakan hati dan bisa disembuhkan. Dan, pemeriksaan kembali di minggu ke-12 setelah selesai pengobatan diperlukan untuk memastikan penyembuhan.

Untuk mencegah terjadinya gejala hepatitis maka Tes laboratorium mencakup penilaian fungsi hati  (SGOT dan SGPT). Bahkan, sebagian besar pengidap penyakit hepatitis kronis tanpa gejala. Oleh sebab itu, skrining tes laboratorium penting untuk dilakukan. Menurut Prof. DR. dr. Ir. I Dewa Nyoman Wibawa, Sp.PD-KGEH menyatakan bahwa Hepatitis A, B dan C masih  endemis di Indonesia.

Paparan yang tidak kalah menarik di acara Temu Blogger Bali adalah perwakilan dari Dinas kesehatan Provinsi Bali. Perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali tersebut menjelaskan tentang situasi hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan di Bali. Dengan adanya  Permenkes RI Nomor 52 tahun 2017 tentang Eliminasi penularan HIV, Sifilis dan penularan dari ibu ke anak memberikan pemahaman bahwa pengidap penyakit HIV berpotensi besar mengidap penyakit Hepatitis C.

Untuk menangani penyakit hepatitis membutuhkan kerjasama lintas program dari pelaku kesehatan. Karena, permasalahan dalam penanganan kesehatan sangatlah penting agar terjadi koordinasi dalam pelayanan kesehatan.
     
Nah, setelah memahami seluk-beluk Hepatitis di atas, kita bekerja sama untuk melakukan eliminasi Hepetitis yang bisa merenggut kebahagiaan anda. Hal terbaik adalah “mencegah lebih baik daripada pengobatan”. Oleh sebab itu, memahami gejala sejak dini merupakan langkah yang baik untuk dilakukan siapapun. Salam sehat, sehat untuk Indonesia!


Comments

3835 said…
Ayo pas banget ini infonya buat kamu pencinta kuliner dan Automotif di manapun berada, mari kita deteksi dini Penyakit Hepatitis
Benar banget. Hobi kuliner dan otomotif jangan sepelekan hepatitis yang bisa datang tanpa kita sadari.
Yuni Handono said…
Hepatitis termasuk jenis penyakit silent killer, tanpa gejala tahu-tahu sudah terjangkit....rasanya sangat menakutkan. Waspada terhadap penyakit ini harus kita mulai dari diri sendiri dengan car menjaga tubuh agar tetap sehat dan menghindari hal-hal yang memicu terjangkitnya Hepatitis.
Benar mbak. Ternyata, hepatitis malah menakutkan karena tanpa kita sadari. Yang penting, perilaku hidup sehat adalah yang utama. Preventif lebih baik daripada pengobatan.
Arina Mabruroh said…
Semoga dengan makin gencarnya sosialisasi dari pemerintah melalui Kemenkes, masyarakat makin waspada terhadap bahaya hepatitis
Harapan besar kita adalah mampu eliminasi hepatitis di lingkungan terkecil yaitu keluarga kita.
Sera Wicaksono said…
Mencegah memang selalu lebh baik daripada mengobati ya pak.
Sayangi diri hempaskan manja sakit hepatitis
Anonymous said…
@Sera Wicaksono : mencegah lebih murah dibandingkan kalau sudah tertular.
@Gung Sofie : Sayangi diri, keluarga dan teman dari bahaya hepatitis.
Ayu Pujastuti said…
Ngerii penyakit hepatitis ini, yoo pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit.
Gerai Toyota said…
kunjungan perdana salam kenal

Popular posts from this blog

Cara mencerahkan kulit dengan Kojie San

Foto Ala Jepang di FotoKimono