Monday, December 30, 2019

Ekowisata Subak Sembung, Menjaga Budaya dan Alam Melalui Tri Hita Karana



Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung yang terletak di Kelurahan Peguyangan Kecamatan Denpasar Utara Kota Denpasar - Bali (Sumber: dokumen pribadi)




Langit Kota Denpasar berubah drastis dari terang ke temaram. Mendung mencoba menggelayut setia mengikuti di atas kepala saya. Untungnya, kondisi tersebut membuat adem perjalanan dengan roda dua sejauh 8 km. Saya pun telah mempersiapkan diri jas hujan. Jika, sewaktu-waktu air terjun turun dari langit. Faktanya, saya sungguh beruntung. Hingga di lokasi yang dituju yaitu Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung, hujan masih berbaik hati. Sepertinya, Tuhan meridhoi apa yang akan saya lakukan di sore hari itu.

Budaya dan Alam

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kedatangan saya di Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung disambut dengan ritual ngaben (kremasi adat Bali). Ratusan pelayat dengan memakai pakaian adat Bali memenuhi hampir kawasan setra (makam) tempat jenazah akan dikremasi. Sebagai informasi, setra tersebut berada persis di depan pintu masuk kawasan Ekowisata Subak Sembung. Ekowisata Subak Sembung sendiri berada di Kelurahan Peguyangan Kecamatan Denpasar Utara Kota Denpasar - Bali.  


Pintu masuk Ekowisata Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Menyusuri jalan setapak yang sudah dipaving serasa memberikan pengalaman baru. Berjalan dengan ditemani aliran air sungai yang konsiten di sebelah kirinya. Serta, pemandangan alam berupa lansekap lahan pertanian di kiri dan kanan merupakan pengalaman pertama di Kota Denpasar.
Kesan pertama yang dapat saya peroleh adalah sehat. Kenyamanan kondisi Ekowisata Subak Sembung untuk melakukan aktifitas olahraga. Apalagi, bertahannya lahan terbuka hijau yang berada di Subak Sembung membuat udara tetap bersih. Kondisi inilah yang membuat masyarakat memanfaatkan Subak Sembung menjadi Jogging Track (jalur untuk lari) baik pagi maupun sore.
Bukan hanya sehat yang diperoleh, tetapi pemandangan alam membuat banyak inspirasi. Banyak pengunjung yang melakukan aksi selfie atau wefie di lokasi tersebut. Jujur, suasana di sekitarnya benar-benar  mendukung dan instagrammable. Bukan hanya itu, keberadaan Ekowisata Subak Sembung bisa menjadi pendidikan (edukasi) bagi pengunjung. Bahwa, kelestarian budaya dan alam sesuai dengan konsep Tri Hita Karana harus terjaga kelestariannya.


Ekowisata Subak Sembung menjadi tempat yang asik untuk Jogging Track dan aksi selfie atau wefie (Sumber: dokumen pribadi)


Menikmati pesona Ekowisata Subak Sembung terasa ada yang kurang. Ya, tanpa informasi mendalam dari pihak yang berkompeten. Bapak Wayan Suwirya Dinata selaku pengelola Ekowisata Subak Sembung dan Bapak Made Darayasa selaku Pekaseh (pengelola) Subak Sembung. Jujur, tidak mudah untuk mendapatkan informasi mendalam dari kedua narasumber tersebut.


Menikmati aliran sungai yang tetap deras dan pemandangan alam yang  memberikan banyak inspirasi (Sumber: dokumen pribadi)

 
Duet Inspirasi

Selama menapaki jalan setapak dan menikmati pesona alam di sekitar Ekowisata Subak Sembung, saya bertanya dengan orang-orang yang saya temui. Beberapa orang memberi saran agar saya menemuinya di rumah. Timbul dalam pikiran saya bahwa kedua sosok tersebut tidak mungkin bergelut dengan lahan pertanian.
Namun, kenyataan merubah 360 derajat. Setelah bertanya dengan 4 orang laki-laki yang sedang menikmati kudapan di pinggir jalan setapak, saya harus disarankan untuk menemui Bapak Made Darayasa yang sedang asik mengurus tanaman cabenya. Sebelumnya, saya harus menuruni jalan setapak menurun, berbelok ke kanan, kemudian berbelok kiri. Jarak yang saya tempuh kurang lebih 300 meter.      
Saya menyapa Bapak Made Darayasa ketika sedang asik “bermain cantik” dengan tanaman cabenya. Kedatangan saya menggangu waktu bermainnya. Namun, maksud baik saya mendapatkan penerimaan yang sangat ramah. Bahkan, membuat kami berdua bak teman yang lama baru bertemu. Bapak Made Darayasa memberikan rekomendasi untuk mendapatkan informasi tentang Ekowisata Subak Sembung kepada pengelola, Bapak Wayan Suwirya Dinata. Yang lebih mengagetkan lagi bahwa yang bersangkutan sedang berada di kebunnya yang jaraknya kurang lebih 75 meter. Dan, orang yang kami tuju sedang asik memanen bayam di kebun miliknya.
Kami bertiga duduk santai di sebuah gubuk sawah. Gubuk sederhana yang di belakangnya berdiri tegak kincir angin. Yang setiap saat berbunyi bak suara traktor saat membajak sawah, begitu konsisten dan indah. Tidak sungkan-sungkan, kami bertiga duduk berjejer di gubuk itu yang terbuat dari kayu. Sambil menikmati indahnya bentangan sawah dengan aneka rupa tanaman.


Saya duduk diapit oleh 2 narasumber, sebelah kiri (pakai kaos berwarna biru dan kuning) Bapak Wayan Suwirya Dinata selaku pengelola Ekowisata Subak Sembung. Dan, sebelah kanan adalah Pekaseh (pengelola) Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Dari gubuk sederhana itu, banyak hal menarik tentang keberadaan Ekowisata Subak Sembung.  Ternyata, Ekowisata Subak Sembung dirangkul oleh Astra sekitar tahun 2014 atau sejak berdirinya ekowisata tersebut. Berdasarkan konsep pengembangan yang mengintegrasikan 4 pilar program yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan & Kewirausahaan, maka Astra tertarik untuk menggandeng Ekowisata Subak Sembung tersebut.
Namun, hal terpenting yang harus dipahami adalah filosofi Tri Hita Karana. Sesuai dengan ajaran agama Hindu bahwa Tri Hita Karana mengharuskan adanya keseimbangan hubungan, yaitu 1) Manusia dengan Manusia; 2) Manusia dengan Alam; dan 3) Manusia dengan Tuhan (Sanghyang Widi Wasa), Tuhan Yang Maha Esa. Ekowisata Subak Sembung diharapkan bisa menjaga budaya dan alam sesuai dengan filosofi Tri Hita Karana tersebut.
Perlu diketahui bahwa setiap subak di Bali terdapat Balai Subak. Tempat yang berfungsi untuk bermusyawarah dan mengambil kebijakan untuk eksistensi subak. Hubungan Manusia dan Manusia menjadi modal besar untuk menjaga budaya dan alam. Dan, di samping balai Subak Sembung terdapat pura. Hal ini memberikan bukti bahwa salah satu dari filosofi Tri Hita Karana, yaitu hubungan Manusia dan Tuhan tetap terjaga. Bahkan, di beberapa titik jalan setapak yang saya lalui, saya melihat beberapa pelinggih (tempat persembahyangan) agama Hindu.


Balai subak dan pelinggih di Ekowisata Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Dalam hal Pendidikan, Bapak Suwirya Dinata berharap besar agar anak-anak dari petani yang berada di kawasan Subak Sembung bisa mendapatkan beasiswa Pendidikan dari Astra. Usulan tersebut pernah diutarakan dari pengurus Subak Sembung sekitar bulan November 2019 lalu. Yang menarik, dari pihak Astra  merespon bahwa usulan tersebut merupakan usulan yang bagus dan akan ditindaklanjuti.
Juga, Ekowisata Subak Sembung memberikan kesadaran kita untuk hidup bersih. Perintah untuk membuang sampah pada tempatnya demi lingkungan yang bersih dan asri terus digelorakan. Di sepanjang jalan setapak telah disediakan tong sampah.


Menjaga kebersihan adalah mutlak (Sumber: dokumen pribadi)


Itulah sebabnya, ada beberapa larangan agar terjaga keseimbangan alam yang ada di Kawasan Ekowisata Subak Sembung, seperti: 
1.    Membawa sepeda motor ke areal Subak Sembung, kecuali petani Subak Sembung.
2.    Membawa binatang piaraan ke areal Subak Sembung.
3.    Berburu/menembak satwa di areal Subak Sembung.
4.    Meracuni/menyetrum ikan sepanjang aliran sungai Subak Sembung.
5.    Membuang sampah di areal Subak Sembung.


Larangan yang ada di Ekowisata Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Menurut pak Suwirya Dinata, keberadaan Ekowisata Subak Sembung mempunyai nilai penting seperti 1) pusat resapan air terbesar di Kota Denpasar; 2) sebagai penghijauan; dan 3) belajar mengenal lingkungan dari TK sampai Mahasiswa. Lingkungan tetap hijau merupakan harapan bersama.
Begitu pentingnya Ekowisata Subak Sembung, Pemerintah Kota Denpasar sangat antusias merespon keberadaan Subak Sembung. Banyak bantuan yang telah diberikan untuk membuat Subak Sembung. Agar tetap menjadi ekowisata yang menjaga budaya dan alam melalui filosofi Tri Hita Karana. Bantuan yang diberikan untuk memberdayakan Subak Sembung seperti: pembuatan jalan atau paving, pemberian bibit gratis, pupuk gratis, dan lain-lain.



Jalan setapak yang telah dipaving (Sumber: dokumen pribadi)


Bapak Wayan Suwirya Dinata berharap besar kepada Pemerintah Kota Denpasar agar keberadaan Ekowisata Subak Sembung tetap dilestarikan dengan baik. Kondisi jalan Subak Sembung yang mengalami kerusakan karena usia dan alam diharapkan bisa diperbaiki kembali. Juga, hal yang penting lain yang mendapatkan perhatian serius adalah masalah sampah kiriman yang berasal dari kawasan hulu.
Sampah kiriman tersebut bisa merusak kondisi Ekowisata Subak Sembung yang selalu konsisten menjaga budaya dan alam. Pihak Ekowisata Subak Sembung sendiri sudah beberapa kali mensosialisasikan masalah sampah kiriman. Tentu, hal ini perlu sosialisasi berkelanjutan yang melibatkan semua pihak. Di antaranya, pihak Pemerintah Kota Denpasar, Pemerintah Daerah lain, pihak banjar baik di Kawasan Subak Sembung maupun kawasan hulu, pekraman (warga) baik di Kawasan Subak Sembung dan Kawasan hulu dan pihak lain yang terkait. Salah satu jalan yang bisa dilakukan adalah pihak kelurahan memberdayakan swakelola sampah.
Bapak Made Darayasa selaku Pekaseh (pengurus) Subak Sembung sejak bulan Mei 2019. Pekaseh menyatakan bahwa keberadaan Subak Sembung mampu mempertahankan jiwa gotong royong. Petani sebagai anggota dari Subak Sembung bersama-sama menjaga kuantitas air demi keseimbangan alam. Dengan tujuan agar bisa memberdayakan lahan pertanian. Dengan kata lain, tanaman bisa tumbuh subur tanpa kekurangan air. Serta, hasil panen yang melimpah ruah.
Dengan luasan Subak Sembung 102 hektar dan anggota Subak lebih dari 200 petani mampu menciptakan jiwa wirausaha. Tentu, hal yang utama adalah menjaga kondisi lahan pertanian. Mayoritas, petani di kawasan Subak Sembung mengolah lahan pertanian dengan berbagai tanaman atau sayuran seperti bawang merah, cabe, kangkung, nanas, bayam dan lain-lain.
Tentu, dengan hasil panen yang melimpah dan menguntungkan, mereka akan terus memberdayakan lahan pertanian. Lagi, membuat beberapa terpal untuk beternak lele dan pelihara bebek menjadi pilihan yang terbaik. Di sisi lain, banyak petani yang membuka warung untuk keperluan masyarakat atau pengunjung Ekowisata Subak Sembung.

Harapan Baik

Perlu diketahui bahwa Kota Denpasar mempunyai 41 subak, 9 di antaranya berada di Denpasar Utara. Luasan subak 652 hektar pada tahun 2018, tetapi pada tahun 2019 menyusut sebesar 74,29 hektar menjadi 577,71 hektar. Info menarik ini saya peroleh juga dari Pekaseh yang prihatin dengan kondisi Ekowisata Subak Sembung.
Subak Sembung sendiri merupakan subak terluas di Denpasar Utara. Menurut Pekaseh, luasan Subak Sembung mengalami penyusutan, dari 115 hektar akhir tahun 2014 menjadi 102 hektar pada akhir tahun 2019. Dengan demikian, selama 5 tahun Subak Sembung berkurang 13 hektar. Jika dirata-ratakan, maka per tahun berkurang 2,6 hektar. Andaikata, digunakan untuk membangun rumah ukuran tipe 60, maka telah terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi kurang lebih 433 rumah per tahunnya. Atau, setiap bulan muncul kekira 22 rumah yang telah merubah alih fungsi lahan. 
Menurut Pekaseh, berubahnya alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi kawasan perumahan berpotensi besar mengecilnya luasan Subak Sembung. Benar apa yang dikatakan oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar Bapak I Gede Ambara Putra. Seperti yang dilansir oleh salah satu media online Bali.

"Hasil digitasi dan survei lapangan lahan pertanian (sawah) yang akurat dilakukan oleh tim di empat wilayah kecamatan Kota Denpasar mencapai 1.939,4 hektar. Menyusutnya lahan pertanian dari tahun 2018 luasnya 2.170 hektar menjadi 1.939,4 hektar disebabkan alih fungsi lahan pertanian di Kota Denpasar tak terbendung” (Kepala Distan Kota Denpasar, I Gede Ambara Putra)

Bapak Wayan Suwirya Dinata dan Bapak Made Darayasa berharap besar ada Peraturan Daerah (Perda) yang benar-benar jelas dan tegas terhadap eksistensi subak. Dengan kata lain, peraturan tersebut secara transparan menjelaskan tentang lahan-lahan yang termasuk kawasan hijau dan kawasan yang bisa dibangun menjadi kawasan perumahan.
Bahkan, menurut Pak Wayan Suwirya Dinata, untuk menjaga eksistensi Subak Sembung, maka bagi penduduk asli bisa membuat bangunan di kawasan Subak Sembung tanpa mengubah alih fungsi lahan. Tetapi, larangan membuat bangunan ditujukan bagi pendatang atau pembeli lahan yang hendak membangun di kawasan Subak Sembung.
Selama menyusuri jalanan setapak Ekowisata Subak Sembung, maka faktor air adalah penting untuk menjaga budaya dan alam. Kuantitas air yang berkecukupan menjadi berkah bagi Ekowisata Subak Sembung. Sumber mata air yang berasal dari Blumbungan, Tanah Putih, Mambal Badung mampu memberdayakan petani melalui manfaat lahan pertanian khususnya bagi masyarakat Kelurahan Peguyangan.
Sesuai dengan harapan Astra bahwa perlunya kolaborasi masyarakat dan perusahaan untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra. Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung mampu mewujudkan harapan besar tersebut.


Harapan besar Astra yang mampu diwujudkan Ekowisata Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Kebersamaan dengan dua narasumber yang masih merasa orang baru dalam mengelola Ekowisata Subak Sembung harus berakhir. Sosok  Pak Wayan Suwirya Dinata dan Bapak Made Darayasa sungguh menjadi pelajaran berharga. Menjelang saya pamit, mereka berharap besar agar pihak Astra bisa membantu apa yang dibutuhkan untuk ketahanan Ekowisata Subak Sembung. 
        Juga, perlunya koordinasi yang baik jika ingin melakukan program apapun untuk Ekowisata Subak Sembung. Dukungan material jika dibutuhkan untuk perbaikan fasilitas Subak Sembung sangatlah diharapkan. Karena, kerjasama itu meski terjalin terus baik sekarang dan nanti.

2 comments:

MENJADI HAMBA TUHAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN said...

Kampung Berseri Ekowisata Subak Sembung menjadi contoh bahwa keseimbangan alam perlu dijaga.

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

Benar banget. Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung harus dijaga kelestariannya.

5 Hal Penting dari Tabrakan Viral CBR 1000RR SP Versus Daihatsu Ayla

  Kasus viral Daihatsu Ayla menyeruduk CBR 1000RR SP (Sumber: detik.com)       Mobil LCGC atau Low Cost Green Car (mobil murah rama...