Thursday, December 26, 2019

SDM Unggul yang Produktif Sebagai Modal Lompatan Tinggi Hadapi Era Digital dan Bonus Demografi



Melompat lebih tinggi menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Bonus Demografi dengan SDM Unggul yang Produktif (Sumber: pixabay.com/diolah)



“Apa yang bisa anda pelajari dari sayembara desain Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru?”


Pertanyaan yang semestinya dijawab oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebuah ajang bergengsi yang mencari desain Ibukota RI terbaik di tanah Borneo. Dan, desain yang berjudul “Nagara Rimba Nusa” dinyatakan sebagai pemenang pertama. Hal menarik adalah desain yang menggabungkan konsep keharmonisan segala aspek antara keseimbangan alam, modernisasi dan keberlanjutan (sustainability) menjadi nilai penting.
Sayembara tersebut juga menunjukan kepada bangsa Indonesia bahwa SDM Unggul yang Produktif sungguh luar biasa. Para peserta (arsitek) sayembara telah berpikir jauh untuk masa depan bangsa di era digital. Dukungan mereka merupakan modal besar bangsa. Ya, kolaborasi Pemerintah dengan masyarakat atau stakeholder lain sangatlah penting.
Apalagi, dalam hal ekonomi, maka dukungan stakeholder macam Kadin (Kamar Dagang Indonesia) sangat dibutuhkan. Sebagai informasi, Kadin Indonesia telah menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) pada akhir November 2019 di Nusa Dua Bali. Kadin Indonesia sendiri telah memberikan kontribusi besar sebagai Mitra Pemerintah Membangun Indonesia. Khususnya, dalam rangka menciptakan iklim perdagangan dan industri agar berkembang secara signifikan.




Kompetensi SDM Era Digital

Era digital dengan teknologi internetnya tidak bisa dihindari, tapi harus dihadapi. Perkembangan era digital banyak memberikan perubahan. Hal terpenting, era digital menciptakan era Revolusi Industri 4.0. Di mana, kemajuan teknologi yang tidak terbendung menciptakan jaman baru, jaman yang menuju ke tahap era modern. Adapun, jaman baru yang tercipta dari kemajuan teknologi seperti:
1.    Internet of Things,
2.    Keamanan Cyber,
3.    Augmented Reality (AR/teknologi dimana seseorang mengalaminya melalui video dan audio 3D),
4.    Cloud Computing (Komputasi Awan),
5.    Integrasi Sistem,
6.    Simulasi,
7.    Additive Manufacturing (proses manufaktur dengan cara menambahkan ribuan lapisan kecil yang dikombinasikan untuk menghasilkan barang jadi atau finished products),
8.    Robot atau Autonomous, dan
9.    Big Data.

Teknologi internet menjadi sebuah kebutuhan wajib. Dunia terasa dekat dan tanpa sekat (borderless). Semua informasi dari belahan bumi manapun bisa diakses dengan sentuhan jari (touchscreen). Piranti robot mulai dilibatkan untuk menggantikan pekerjaan manusia. Bahkan, semua data apapun tidak lagi disimpan secara konvensional. Namun, disimpan dengan menggunakan teknologi awan (Cloud of Technology). Sebuah kemajuan teknologi yang merubah peradaban manusia.
Bisnis berbasis online pun menjadi tren. Bahkan, kehadiran era digital membuat segala urusan semakin mudah. Sama halnya, apa yang dikatakan oleh Menteri Perindustrian era Kabinet Bersatu Jilid I Airlangga Hartarto. Saat menjadi narasumber di acara Creative Industries Movement di Denpasar Bali awal tahun 2019 lalu. Beliau menyatakan bahwa perkembangan era Revolusi Industri 4.0 membuat serba mudah, seperti yang dilakukan para pebisnis online. Anda bisa melihat video selengkapnya berikut ini.  


MENTERI PERINDUSTRIAN AIRLANGGA HARTARTO & REVOLUSI INDUSTRI 4.0 BIKIN SERBA MUDAH (Sumber: dokumen pribadi/YouTube)


Yang menjadi perhatian dunia khususnya Indonesia adalah berkurangnya lapangan kerja manusia. Karena, tergantikan dengan teknologi robot. Apalagi, merujuk dari laporan McKinsey & Company yang dirilis bulan September 2019 lalu berjudul “Automation and the future of work in Indonesia” menyatakan bahwa setidaknya akan ada 23 juta pekerjaan di Indonesia yang tergantikan robot pada tahun 2030 mendatang. Namun, meskipun banyak pekerjaan yang tergantikan, akan ada sekitar 27-46 juta pekerjaan baru.
Menghadapi era digital maka Pemerintah harus melansir kebijakan yang mampu menciptakan iklim yang cocok. Dengan kata lain, kebijakan tersebut mampu melibatkan semua kalangan  agar mampu mengimbangi akselerasi era digital. Setidaknya, ada 10 kebijakan nasional yang bisa dilakukan Pemerintah untuk mengisi era digital, yaitu:
1.    Perbaikan alur material,
2.    Mendessain ulang zona induztri,
3.    Mengakomodasi standar sustainability,
4.    Membudayakan UMKM,
5.    Membangun infrastruktur digital,
6.    Menarik investasi asing,
7.    Meningkatkan kualitas SDM,
8.    Membentuk ekosistem inovasi,
9.    Menerapkan insentif investasi teknologi, dan
10. Mengoptimisasi aturan dan kebijakan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa era digital melahirkan era Revolusi Industri 4.0. Era Revolusi Industri 4.0 memberikan keniscayaan bahwa Indonesia harus menciptakan kemajuan di bidang industri. Khususnya, industri yang berhubungan dunia digital. Perlu diketahui bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri masih memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II tahun 2019 dengan capaian 19,52 persen year on year (yoy).
Perlu menjadi perhatian bersama adalah kompetensi SDM Indonesia yang belum customize (spesifik). Saya pribadi percaya bahwa SDM Indonesia bisa diandalkan. Bahkan, telah banyak menorehkan prestasi di tingkat internasional dalam berbagai bidang. Namun, prestasi mentereng tersebut “belum” sejalan dengan penguasaan era Revolusi Industri 4.0.
Itulah sebabnya, di berbagai kalangan seperti akademisi mulai digalakkan penciptaan robot agar bisa bertanding di tingkat global. Saya pribadi telah menyaksikan bagaimana anak bangsa seperti mahasiswa Universitas (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) dan lain-lain menciptakan teknolgi berbasis digital. Seperti, ajang Ritech 2019 di Lapangan Renon Denpasar Bali pada bulan November 2019 lalu. Benar-benar prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia.


GOKIL!! INI BUKTI ORANG INDONESIA PINTAR-PINTAR I FT. JELAJAH RITECH 2019 BALI (Sumber: dokumen pribadi/YouTube)


Tentu, kolaborasi Pemerintah dan stakeholder lain perlu ditingkatkan. Sosialiasi yang mengangkat tema teknologi digital mulai rajin digelar baik oleh Pemerintah maupun pihak swasta. Di acara DTIK Festival November 2019 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Denpasar menjadi ajang yang menarik perhatian banyak kalangan. Adanya stand yang menampilkan keterampilan membuat robot oleh anak-anak SD menjadi pemandangan yang berbeda. Pemahaman tentang teknologi robot sejak dini menjadi sebuah keniscayaan.


Salah satu Stand di DTIK Festival Denpasar awal November 2019 yang menampilkan ketangkasan membuat robot bagi anak-anak (Sumber: dokumen pribadi)


Bangsa Indonesia harus gerak cepat dalam mengembangkan teknologi digital. Hal ini bertujuan agar kompetensi SDM bisa bersaing di tingkat global. Tentu, SDM Unggul yang mampu menopang perkembangan era Revolusi Industri 4.0 harus diwujudkan. Lantas, kompetensi apa yang dibutuhkan untuk mengimbangi perkembangan Revolusi Industri 4.0.? SDM yang mampu menguasai beberapa hal seperti: 1) coding (pengkodean), 2) programming mekatronika atau otomasi, 2) data otomasi analysis dan statistics, 4) Artificial Intelligence (AI), serta 5) Soft Skill Flexibility.
Penguasaan ilmu yang berhubungan dengan teknologi digital menjadi tolok ukur kompetensi yang mampu menopang era Revolusi Industri 4.0. Tentu, hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM Unggul yang Produktif. Selanjutnya, untuk menciptakan SDM Unggul tentu harus melewati proses SDM yang berkualitas. Kita tahu bahwa pembangunan kualitas SDM menjadi prioritas utama era pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam pembangunan kualitas SDM antara lain: 1) sistem pendidikan yang baik dan bermutu (sistem pendidikan yang efektif dan efisien, berorientasikan pada penguasaan iptek, serta merata di seluruh pelosok tanah air); 2) penguatan peran agama dalam kehidupan sosial bermasyarakat dalam rangka memperkokoh jati diri dan kepribadian bangsa (character building); dan 3) pengadaan diklat, kompetensi, pembinaan dan lain-lain. SDM berkualitas sesuai tuntutan (kebutuhan) pasar merupakan faktor keunggulan suatu bangsa dalam menghadapi persaingan global.
Di sisi lain, untuk mengimbangi perkembangan SDM Unggul tersebut, Pemerintah tidak tinggal diam. Justru, Pemerintah berharap besar agar SDM Unggul yang Produktif cepat diciptakan menuju Indonesia Maju. Melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  telah menggulirkan berbagai program yang tepat, seperti: 1) pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri, 2) Diklat sistem 3in1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja), 3) pengembangan pendidikan dual system di unit pendidikan Kemenperin, 4) pembagunan politeknik atau akademi komunitas di kawasan industri, 5) mencetak SDM industri 4.0.

Antisipasi Bonus Demografi

"Bonus demografi, angkatan kerja kita besar sekali, ditambah lagi dengan angka harapan hidup, yang kalau mereka tidak difasilitasi mereka akan menganggur, muncullah demo, tidak percaya pemerintah. Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM sangat dibutuhkan dalam menghadapi peluang dan tantangan bonus demografi". (Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D)

Statement (pernyataan) dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D mengingatkan kembali pada kita bahwa bangsa Indonesia akan menghadapi momen emas dan bersejarah, yaitu Bonus Demografi pada rentang tahun 2030-2040. Bonus Demografi menunjukan bahwa  jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif. Dengan demikian, jumlah penduduk usia tidak produktif akan menjadi beban bagi jumlah penduduk usia produktif.   Pemerintah perlu memfasilitasi masyarakat yang berada pada rentang tahun tersebut.


Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D (Sumber: akuratnews.com)


Bonus Demografi memberikan peluang dan tantangan bagi bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, khususnya masyarakat usia produktif perlu difasilitasi dengan baik. Fasilitas berupa keahlian sesuai dengan perkembangan era digital. Dan, SDM Unggul yang Produktif menjadi “harga mati”. Sekali gagal menghadapi Bonus Demografi, maka masa depan bangsa Indonesia menjadi taruhannya. Oleh sebab itu, menciptakan SDM Unggul menjadi prioritas bangsa Indonesia agar bisa melewati Bonus Demografi tersebut. Serta, mampu bersaing di kancah global.   
Kita mesti bersyukur karena prioritas program kerja Presiden Joko Widodo Jilid II adalah mendorong pembangunan SDM. Seperti yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) di 2020. Apalagi, jika melihat lima (5) aspek penting prioritas, pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin benar-benar bertujuan menciptakan kesejahteraan rakyat. Adapun, 5 prioritas Program Kerja Jokowi-Ma;ruf Amin, yaitu: 1) Perioritas pada Pembangunan Sumber (SDM); 2) Pembangunan infrastuktur yang menjangkau sentra-sentra ekonomi dan distribusi untuk lapangan kerja baru; 3) Penyederhanaan kendala regulasi, diantaranya dengan membuat UU tentang Cipta Lapangan Kerja yang akan menjadi omnibus law; 4) Pemangkasan birokrasi dengan meningkatkan kompetensi kerja dan penguatan fungsi kerja dengan memangkas eselonering; dan 5)  Transformasi ekonomi dari ketergantungan sumber daya alam ke manufaktur dan industri.


Presiden Joko Widodo saat memberikan pidato pertamanya setelah resmi dilantik sebagai Presiden periode 2019 - 2024, di Gedung MPR DPR RI tanggal 20 Oktober 2019 (Sumber: Sekretariat Negara RI)


Menghadapi Bonus Demografi, Pemerintah sangat perhatian pada penciptaan lapangan kerja. Dampak dari berkurangnya lapangan kerja di era digital, maka penciptaan lapangan kerja padat karya sangat dibutuhkan masyarakat. Tanpa, mengurangi keterampilan SDM untuk lapangan pekerjaan di ranah digital. Presiden Jokowi di era Kabinet Kerja Jilid I mengklaim mampu menciptakan lebih dari 10 juta lapangan kerja baru. Tentu, peluang lapangan kerja tersebut akan bertambah di era Kabinet Kerja Jikid II seiring dengan meningkatnya SDM Unggul yang Produktif.
Pemerintah juga perlu memperhatikan masalah pengangguran dan usia kerja Indonesia. Tanggal 5 November 2019 lalu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memaparkan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2019 di Jakarta. BPS mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2019 berjumlah 7,05 juta orang, meningkat dari Agustus 2018 berjumlah 7 juta orang. Pada Agustus 2019 menyatakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 10,42 persen (menurun dibandingkan  Agustus 2018 sebesar 11,24 persen). Selanjutnya, SMA dengan persentase 7,92 persen, Diploma I/II/III 5,99 persen, Universitas 5,67 persen, SMP 4,75 persen, dan SD 2,41 persen.
Sedangkan, penduduk usia kerja di Indonesia sebesar 197,91 juta orang tahun 2019. Angka itu bertambah dibanding periode sebelumnya sebesar 194,78 juta orang. Sebagai informasi, bulan Agustus 2019, angkatan kerja didominasi laki-laki sebesar 83,13 persen, sedangkan perempuan sekitar 51,89 persen.
Kondisi pengangguran dan usia kerja Indonesia tersebut bisa menjadi perhatian Pemerintah menghadapi Bonus Demografi. Penciptaan SDM Unggul yang Produktif menjadi Pekerjaan Rumah (PR). Seiring dengan meningkatnya SDM Unggul yang Produktif, Pemerintah juga berusaha mengurangi pengangguran. Sedangkan, usia kerja Indonesia dibekali dengan keterampilan yang cocok dengan perkembangan teknologi digital.
Dengan adanya program vokasi sekolah maka lulusan sekolah mampu mencetak banyak wirausahawan. Karena, meningkatnya jiwa “pembuka lapangan kerja” akan lebih baik dari jiwa “pencari lapangan kerja”. Dan, Indonesia mempunyai peluang besar tersebut. Karena, hanya dengan lompatan yang tinggi maka derasnya teknologi digital dan Bonus Demografi mampu dilalui dengan baik. SDM Unggul yang Produktif adalah modal besar untuk menghadapinya. Layaknya sentilan jemari Thanos saat mengalahkan “The Avengers”. Mari, melompat lebih tinggi!


Sumber tulisan:

2 comments:

Dwi Ratnawati said...

Saya yakin bangsa Indonesia mampu menciptakan SDM Unggul yang Produktif. Karena, era digital makin maju dan Bonus Demografi banyak tantangan dan peluangnya.

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

Benar, SDM Unggul yang Produktif mesti diwujudkan untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dan Bonus Demografi.

MOBIL MORRIS VIRAL RAFFI AHMAD DAN PANDEMI VIRUS KORONA

Mobil Morris Mini Cooper MK1 yang dibeli Raffi Ahmad dari Andre Taulani seharga 700 juta rupiah (Sumber : pikiran-rakyat.com/diolah) ...