Thursday, March 26, 2020

Ingin Sukses, Hadapi Pandemi Virus Korona dengan Senyuman

Tetaplah naik tangga selagi engkau bisa (Sumber : dokumen pribadi)



       Kesuksesan setiap orang tidak bisa ditebak. Tergantung, bagaimana mereka menaiki tangga menuju kesuksesan menurut versi mereka. Ketika terperosok, jatuh atau lelah saat menaiki tangga, maka kunci terpenting menggapai kesuksesan adalah tetaplah menaiki anak tangga selagi engkau bisa. Tetaplah tersenyum dalam menghadapi pandemi Virus Korona. Di balik kesempitan, akan ada kesempatan yang luar biasa. 

Pelajaran Berharga

        Kesuksesan sebuah usaha tidak akan berjalan secara garis lurus. Tentu, akan mengalami pasang dan surut. Jika, mereka menyikapinya dengan bijak maka mereka akan tetap bangkit. Namun, bagi mereka yang berjiwa the looser (pecundang), maka mereka akan berhenti di tengah jalan alias Gatot (Gagal Total). 

        Dalam dunia usaha, ada pepatah bijak yang menyatakan bahwa orang sukses bukanlah seberapa banyak mereka menghadapi kegagalan. Namun, seberapa hebat mereka mau bangkit dari kegagalan. Saya pribadi sudah beberapa kali mengalami kegagalan dalam bisnis. Bahkan, hampir putus asa (hampir gila) karena rugi ratusan juta. Ditambah lagi desakan keluarga yang tidak siap menghadapi kebangkrutan usaha saya. 

      Waktu itu, pikiran saya hanya satu, "melarikan diri: ke Kalimantan". Dengan alasan untuk menghindari rasa malu terhadap keluarga. Namun, kekuatan iman, pikiran untuk masa depan keluarga dan saran dari istri membuat saya kuat. Saya siap menghadapi kenyataan hidup yang tak pernah saya harapkan. 

       Akhirnya istri saya pun menyarankan agar saya pergi dari Ngawi Jawa Timur ke Bali. Saya pun bermodalkan nekad alias bonek untuk merangkai kehidupan baru di pulau Dewata. Dan, ternyata perjalanan usaha di Bali tak seindah yang diharapkan. Justru saya mengalami kebangkrutan usaha kembali, di saat saya sedang jaya-jayanya. 

        Karena, saya sudah terbiasa jatuh bangun, hal tersebut tak mengagetkan saya. Meski saya merintih kesakitan dalam hati. Putus asa? Jelas. Sekali lagi, iman yang menguatkan saya untuk bangkit lagi. Saya pun beberapa kali bekerja pada perusahaan orang lain di level managerial. Kejujuran dan prestasi saya tidak membuat saya gembira. Tiga kali saya berpindah kerja dengan jabatan dan fasilitas yang lumayan. 

      Sedih? Jelas. Namun, mengambil tindakan untuk resign (mengundurkan diri) dari jabatan lumayan sangatlah berat. Terbiasa dengan gaji bulanan yang menggiurkan membuat saya harus berpikir ulang. Istri mencegahnya agar saya tidak buru-buru mengundurkan diri. Namun, saya berpikir bahwa saya harus merangkai usaha mandiri kembali. Ya, akhirnya saya nekad menjadi Full Blogger yang "belum" mempunyai penghasilan tetap. Dan, nyambi dengan usaha dengan modal yang kecil. 

        Sungguh, sebuah kenyataan yang berat. Di saat sepi job sebagai blogger, saya harus lakukan "gali lobang dan tutup lobang". Kadang saya tergiur untuk bekerja kantoran lagi dengan gaji yang menggiurkan di luar Bali. Banyak tawaran menarik yang menghampiri saya. Namun, bertahan sementara di Bali untuk melihat "kemanakah anak saya diterima di Perguruan Tinggi", membuat banyak penawaran kerja menarik tak membuat saya bergeming. 

       Lagian, saya sedang konsentrasi untuk membangun start up. Sambil menunggu pihak yang tertarik untuk mengembangkan ide start up saya, Blogger Pro. Oleh sebab itu, saya harus tetap bertahan untuk menjadi Full Blogger dan menjalankan usaha kecil saya, yang modalnya kadangkala digunakan untuk hal-hal yang tak terduga. 

Tetap Bangkit     

      Saat pandemi Virus Korona merebak, kondisi pariwisata Bali sedang mengalami gejolak. Tentu, berdampak terhadap ekonomi. Dan, saya sangat merasakan dampak tersebut. Namun, kondisi yang berat tersebut justru menjadi ujian yang menyenangkan bagi saya. Mampukan saya bangkit untuk menaiki tangga kembali. Atau, saya harus menangisi keadaan yang ada. 

     Saya teringat kembali buku dari penulis Frank Bettger yang berjudul "Meretas Belenggu Kegagalan". Di mana, kegagalan bukanlah untuk dipikirkan terlalu dalam. Tetapi, kegagalan harus diretas (dihancurkan). Juga teringat kalimat indah dari Anton Chekov yang menyatakan, "Anda adalah apa yang anda pikirkan". Jika anda berpikir negatif, maka semua organ tubuh bergerak secara simultan untuk membangun hal-hal negatif. Juga sebaliknya. 

        Saya juga berkaca kepada diri sendiri jika saya tidak boleh putus asa. Karena, puluhan tahun saya mencitrakan diri dengan memberikan motivasi diri yang indah kepada orang lain. Agar selalu bangkit dari kegagalan. Kini, giliran saya yang mengalaminya. Apakah saya mampu bangkit dari kegagalan. Di mana, bukan hanya saya yang mengalami kondisi berat karena pandemi Virus Korona. Tetapi, masih banyak orang lain yang mengalami hal yang seperti saya lakukan.

      Saya tetap gembira menghadapi kondisi pandemi Virus Korona. Saya yakin, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terbaik untuk masyarakatnya. Sabar dalam menghadapi musibah adalah kunci utama. "Man shabaro dhofaro" (barang siapa bersabar maka pasti beruntung). Tetaplah gembira menghadapi ujian ini. Tetaplah tersenyum agar ujian ini cepat berlalu. Dan, tetaplah menaiki tangga kesuksesan selagi anda bisa. Karena, mengeluh adalah tindakan bagi mereka yang bersifat pecundang.  

Yuk, Bangkit Bersama!  


1 comment:

MENJADI HAMBA TUHAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN said...

setiap orang mau sukses perlu semsngatnuntuk terus bangkit. apalagi saat pandemi virus korona ini.

Mengawal Pariwisata Bali Bangkit dengan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholders berfoto bersama (Sumber: Forkom Antar Media Bali Bangkit) Dampak Pandemi Covid-19 sungguh luar bia...