Saturday, June 27, 2020

Cegah Dampak Buruk Alergi Pada Anak dengan ASI dan Nutrisi Lengkap & Seimbang


Mencegah dampak buruk alergi pada anak dengan ASI dan Nutris Lengkap & Seimbang (Sumber: Danone Indonesia/diolah) 

 

Tanggal 25 Januari  2020 lalu, saya menyempatkan diri untuk mengikuti seminar menarik yang diselengggarakan oleh Danone Indonesia. Di mana, dilakukan secara Virtual (Virtual Gathering). Seminar tersebut membahas tentang Bicara Gizi. Sedangkan, tema utama yang dibahas adalah  “Menekan Risiko Alergi si Kecil dengan Deteksi Alergi dan Asupan Nutrisi yang Tepat Sejak Dini”.

 

Virtual Gathering #BicaraGizi yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia tanggal 25 Juni 2020 lalu, di mana menghadirkan pembicara yang berkompeten (Sumber: Danone Indonesia)

 

Kita perlu memahami bahwa penyakit Alergi khsususnya kepada anak, tidak dianggap sepele. Pencegahan Alergi membutuhkan pemahaman dan penanganan yang serius. Bahkan, Pentingnya Cegah Alergi menjadi permasalahan serius dunia. Itulah sebabnya, tanggal 28 Juni – 4 Juli 2020 sebagai Pekan Alergi Dunia (World’s Allergy Week). 

Pekan Alergi Dunia ini memberikan pemahaman kepada bangsa Inodneisa tentang perkembangan kasus alergi. Perlu diketahui bahwa dalam dua dekade terakhir, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat adanya peningkatan angka kejadian Alergi Anak di Indonesia. 

Melihat dampak jangka panjang alergi yang harus dihadapi orang tua dan si kecil, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia berkomitmen untuk menawarkan inovasi terkait deteksi risiko alergi maupun manajemen nutrisi. 

Serta, menyambut Pekan Alergi Dunia (World Allergy Week) dengan memperkuat edukasi mengenai pentingnya screening risiko alergi dan manajemen Nutrisi Alergi yang tepat untuk pencegahan alergi pada anak. 

Maka, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia  meluncurkan aplikasi Allergy Risk Screener by Nutriclub sejak Maret 2020 ini telah diakses sebanyak lebih dari 20.000 kali oleh orang tua di Indonesia. Tools digital ini dapat membantu orang tua maupun tenaga ahli dalam mendeteksi risiko alergi si kecil. Ada dua Langkah mudah untuk mengetahui, apakah anak anda terkena alergi atau tidak.   

Hingga, membantu pemberian edukasi mengenai pencegahan alergi sejak dini. Serta,  membantu mempersingkat waktu konsultasi. Para orang tua diajak untuk mencobanya. Bisa mengakses Allergy Risk Screener by Nutriclub di: bit.ly/allergyriskscreener

 

“Kami berkomitmen untuk mendukung dan mendampingi orang tua dalam masa tumbuh kembang anak. Untuk membantu orang tua mengetahui risiko alergi sejak dini, kami menghadirkan Allergy Risk Screener by Nutriclub untuk mempermudah orang tua mengetahui besar risiko alergi anak berdasarkan riwayat alergi keluarga. Selain itu, kami juga menyediakan inovasi nutrisi dengan kandungan sinbotik yang sudah dipatenkan” (Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia).  


Allergy Risk Screener by Nutriclub (Sumber: Danone Indonesia/screenshot) 

 

Mengenal Alergi

 

Lantas, apa sih yang dimaksud dengan Alergi itu? Menurut Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes., Konsultan Alergi dan Imunologi Anak dalam Virtual Gathering  #BicaraGizi 25 Juni 2020 lalu mengakatakan, “Alergi adalah respon sistem imum yang tidak normal, mengenali bahan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain”.  

Menurut data dari WHO, menyebutkan bahwa 30-40% penduduk dunia mengalami alergi. Di mana, alergi tercetus dari bahan yang berupa makanan dan yang terhirup yang dinamakan ALERGEN.  Alergen berupa makanan seperti: susu sapi, Ä·acang kedelai, kacang tanah, makanan laut, gandum, telur, ikan, tree nuts. Sedangkan, alergen yang terhirup seperti : tungau atau kutu debu rumah, serbuk sari tanaman, kecoa, serpihan kulit atau bulu binatang, dan jamur. 

Sebenarnya, alergen tidak berbahaya. Tetapi, bagi yang punya resiko alergi akan timbul dampak seperti asma, dermatitis, dan lain-lain. Di luar allergen, kita juga harus memahami tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi pada anak yaitu: 1) adanya riwayat alergi pada keluarga; 2) kelahiran Caesar; dan 3) asap rokok dan polusi udara. 

Risiko alergi akan lebih tinggi jika disebabkan oleh factor genetik. Di mana, persentase risiko padda anak adalah sebagai berikut:  1) Ayah + dan Ibu + maka 40-60% risiko alergi; 2) Ayah + dan Ibu - maka 20-40% risiko alergi )atau sebalikny); 3) Saudara + maka 25-30% risiko alergi; dan 4) Ayah - dan Ibu – maka 5-15 risiko alergi.   

Sebagai informasi, 550jt penduduk di dunia menderita alergi karena makanan. Penyebab alergi adalah telur, sedangkan susu sapi menjadi penyebab terbesar kedua. Sama halnya, apa yang dikatakan oleh Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes. bahwa 550 juta penduduk dunia mengalami alergi makanan, dan sebanyak 7,5% alergi di Indonesia bersumber disebabkan oleh susu sapi. 

Salah satu alergi disebabkan karena konsumsi Susu Sapi, terdapat pada protein susu sapi yang menyebabkan reaksi alergi yang dinamakan Kasein & Whey. Menarik, alergi susu sapi pada dermatitis atopik ditemukan hingga 60%. Adapun, kesembuhan alergi karena konsumsi susu sapi adalah tahun ke 1 sekitar 45 - 55%; tahun ke 2 sekitar 60 - 75% dan tahun ke 3 ada 90%.

 

Dampak Buruk Alergi Pada Anak

 

Kita perlu mencegah terjadinya alergi pada anak. Terpenting, alergi  yang terjadi pada periode emas yaitu saat anak masih dalam kandungan hingga anak menginjak usia 2 tahun. Atau, yang dikenal dengan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK). 

Orang tua harus memahami tanda-tanda alergi. Bisa membedakan antara gejala alergi dan infeksi pada anak pada 3 hal. Yaitu, 1) Demam; 2) batuk pilek muncul pagi dan malam hari; dan 3) Ingus kental dan berwarna. Jika, anak “tidak” mengalami hal-hal tersebut, maka justru anak mengalami alergi. 

Mengapa, kita harus mencegah alergi sejak dini. Karena, kurangnya pemahaman dan penanganan masalah alergi pada anak akan  meningkatkan risiko alergi lain di masa depan (Allergic March). Juga, alergi bisa berdampak buruk pada anak. Dan, dampak langsung yang bisa terlihat pada anak adalah dampak Kesehatan dan dampak Psikologis.


Segi Kesehatan

Anak yang mempunyai alergi, akan mengalami disfungsi terhadap sistem kekebalan tubuh, baik dari faktor genetik maupun lingkungan, dapat menyebabkan reaksi alergi dan berbagai efek yang berpengaruh negatif jangka panjang, tidak hanya bagi anak tapi juga bagi orang tua.


 

Alergi sangat berdampak buruk pada Kesehatan anak (Sumber: Danone Indonesia)

 

Dampak Kesehatan alergi pada anak, jika tidak terdeteksi sejak dini, maka akan terjadi alergi makanan, eksim, asma, rinitis alergi yang biasa disebut sebagai ATOPIC MARCH. Juga, dampak alergi bisa meningkatkan risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung. Seperti apa yang dikatakan oleh Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes.

 

“Bagi si Kecil, alergi dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung. Selain itu, anak dengan alergi juga dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan apabila terlambat diagnosa dan penanganan kurang optimal. Sementara dampak ekonomi yang harus dihadapi keluarga adalah meningkatnya biaya pengobatan dan biaya tidak langsung,”

  

Segi Psikologi

Selain dampak kesehatan, qlergi juga berpengaruh besar pada psikologis anak. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa anak yang alergi dapat mengalami berbagai gangguan. Seperti, gangguan daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif dan lemas. Juga, anak yang mengalami alergi terlihat kurang energik atau miring dan mempunyai kurangnya daya tangkap. 


Alergi pada anak akan berdampak psikologis pada anak seperti kurang energik atau murung (Sumber: Danone Indonesia) 

 

Dampak psikologis pada anak bisa berimbas pada orang tuanya. Seperti timbul kecemasan yang berlebihan. Bahkan, timbul  perasaan depresi. Benar sekali, apa apa yang dikatakan oleh Putu Andani, M.Psi., Psikolog dari TigaGenerasi dalam Virtual Gathering #BicaraGizi.

 

“Secara sosial, anak dan orang tua bisa merasa rendah diri dan menyerah. Jika hal ini terjadi, pencegahan terhadap risiko alergi pada anak dapat terhambat. Untuk itu, orang tua harus menanamkan semangat positif dan optimis bahwa pencegahan alergi dapat dilakukan sejak dini. Jika reaksi alergi terjadi sebaiknya orang tua jangan panik, usahakan agar si Kecil tetap tenang, jangan berasumsi tentang penyebab alergi si Kecil, lakukan validasi langsung dengan ahlinya”.

 

Pemberian ASI Eksklusif dan Nutrisi Lengkap & Seimbang

 

Untuk mencegah terjadinya alergi sejak dini pada anak. Maka, orang tua perlu melakukan pencegahan dini. Ada 3 macam pencegahan yaitu : 1) Pencegahan primer; 2) Pencegahan sekunder; dan 3) Pencegahan tersier. Tentu, dari 3 pencegahan tersebut, yang paling diperhatikan adalah Pencegahan primer. 

Pencegahan Primer bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu 1) Masa kehamilan diusahakan tidak ada pantangan makanan; 2) Sesudah bayi lahir, perlu diberikan ASI eksklusif 6 bln, diberi makanan padat mulai 6 bln, dan tidak ada pantangan makanan. Dan 3) Memperhatikan lingkungan dengan menghindari paparan asap rokok aktif & pasif.   

Menurut Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes. menyatakan bahwa ASI Eksklusif merupakan nutrisi yang paling tepat untuk mencegah alergi pada si kecil. ASI Eksklusif tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh pada anak. 

Namun, jika ASI Eksklusif tidak memungkinkan, maka bisa memberikan Nutrisi Alergi berupa Formula Hidrolisat parsial atau ekstensif sampai usia 6 bulan. Dan, itu sesuai dengan rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Bahwa, pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisis parsial merupakan langkah praktis intervensi nutrisi bagi anak yang alergi protein susu sapi. 


Penanganan pencegahan alergi saat kehamilan dan sesudah lahir dengan pemberian ASI Ekskluif (Sumber: UKK Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2019)

 

Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes. juga menegaskan bahwa dampak alergi pada anak akan menjadi sebuah rangkaian, hingga anak tersebut bertambah usia. Yang selanjutnya akan diturunkan pada generasi berikutnya. 

Seperti apa yang dialami oleh sosok ibu yang mempunyai anak alergi yaitu Chacha Thaib. Dalam Virtual Gathering #BicaraGizi menyatakan bahwa maslah alergi harus menjadi perhatian penting. Khususnya, bagi orang tua yang memiliki risiko menurunkan kondisi alerginya pada anak. 

Chacha Thaib mempunyai riwayat alergi susu sapi dan debu, sehingga menurun ke anak saya yang alerginya beragam, salah satunya alergi susu sapi. Dampak yang dialaminya adalah dia dan anaknya menjadi cenderung penakut dalam memilih makanan. 

Oleh sebab itu, orang tua perlu mencegah dampak alergi sejak dini. Dan, hal terpenting adalah dengan pemberian ASI Eksklusif dan Nutrisi Lengkap & Seimbang baik saat kehamilan maupun sesudah kelahiran. Karena, kepedulian terhadap alergi pada anak sama halnya peduli kesehatan untuk generasi berikutnya. Benar sekali apa yang dikatakan oleh Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes.

 

“Anak dengan alergi cenderung memliki rangkaian penyakit alergi seiring bertambahnya usia. Bahkan diturunkan ke generasi berikutnya. Sehingga alergi penting untuk dideteksi dan dicegah sejak dini dengan menelusuri riwayat alergi keluarga dan pemberian nutrisi yang tepat untuk mendukung sistem imun yang lebih baik. ASI (Air Susu Ibu) dan nutrisi lengkap dan seimbang akan mendukung perkembangan system imun anak. Nutrisi kombinasi prebiotik dan probiotik (SINBIOTIK) merupakan salah satu nutrisi yang dapat mendukung sistem imun anak dalam menurunkan risiko alergi”

 

Alergi menjadi masalah kita bersama. Tanpa terdekteksi, maka alergi akan menurunkan ke generasi berikutnya. Saaatnya cegah alergi pada anak sejak dini. Penanganan khsusu saat anak kita mengalami Periode Emas. Karena, mencegah alergi sama halnya menciptakan generasi masa depan yang gemilang.


No comments:

5 Hal Penting dari Tabrakan Viral CBR 1000RR SP Versus Daihatsu Ayla

  Kasus viral Daihatsu Ayla menyeruduk CBR 1000RR SP (Sumber: detik.com)       Mobil LCGC atau Low Cost Green Car (mobil murah rama...