Saturday, June 20, 2020

Inilah Spot Menarik di Trotoar Jalanan Yogyakarta


Salah satu sudut trotoar (pedestrian) jalan dari Perempatan Gedung BNI 1946 hingga  alun-alun Yogyakarta (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Dinda, di manakah kau berada.

Rindu aku ingin jumpa ..

 

 

Lagu yang hits tahun 1990-an ini terdengar sayup-sayup dari sebuah toko. Lagu yang dipopulerkan oleh KLA Project itu sepertinya memahami kerinduan saya akan Kota Gudeg Yogyakarta. Kota yang mempunyai banyak spot menarik. Trotor jalanan (pedestrian jalanan), dari perempatan jalan Malioboro-Gedung BN1 1946 yang fenomenal itu selalu membuat saya rindu. 

Sungguh, Yogyakarta selalu membuat saya rindu untuk mengunjunginya kembali. Kota Pelajar yang pernah saya tempati selama 2 tahun ini. Telah memberikan kenangan indah, yang selalu ingin dikunjungi kembali. Kearifan lokal kota Yoyakarta tetap terjaga hingga kini. Yogyakarta memang kota Istimewa. 

Di era digital, Kota Yogyakarta berbenah diri untuk memberikan kenangan dan rindu bagi para pelancong. Agar, mereka mau datang kembali mejenguknya. Salah satu spot menarik yang ada di Kota Yogyakarta adalah sepanjang jalan dari perempatan Gedung BNI 1946 hingga ke alun-alun Yogyakarta. 

Anda bisa menikmati karya seniman Yogyakarta yang memberikan decak kagum. Berbagai patung dan sign (penanda) informasi menghiasi sepanjang trotoar (pedestrian) kanan dan kiri jalan tersebut.   

Dekat Museum Sonobudoyo, anda bisa menemukan kursi santai  yang dilengkapi dengan patung ala seniman. Dan, patung tersebut terlihat mengangkat kaki kanannya di kursi. Kedua tangannya terlihat seperti menunjukan sebuah buku informasi kepada orang yang lewat. 

Saya pun tidak melewatkan momen tersebut. Seakan-akan saya sedang diberi informasi menarik. Saya terdiam dan memperhatikan informasi yang dia sampaikan. Terlihat seperti sungguhan, bukan?  

 

Patung orang yang sedang menunjukan buku untuk sebuah informasi (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Di trotoar jalan ini, anda juga bisa menikmati berbagai sign atau penanda informasi tentang posisi anda. Serta, jalan yang harus anda lewati, jika hendak menuju ke tempat wisata tertentu. Tampilan sign yang ciamik itu juga menjadi spot yang bagus buat ajang swafoto (selfie) anda. 

Dekat penanda informasi tersebut, saya melihat seperti tempat parkir sepeda. Di mana, beberapa celah bisa digunakan untuk memasang roda sepeda bagian depan. Saya melihat seperti tempat parkir sepeda di Kota Amsterdam Belanda. Yang sering saya lihat di berbagai media. Tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah aman saat memarkir sepeda di tempat tersebut. Tanyalah pada rumput yang bergoyang.

 

Bentuk sign (penanda) informasi yang menarik dan tempat parkir sepeda seperti di Belanda (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Jika anda tinggal atau pernah ke Yogyakarta, khususnya kawasan jalan Malioboro hingga alun-alun Yogyakarta. Maka, pedestrian menjadi spot instagrammable on the road (tempat di trotoar jalanan yang bagus untuk diposting di akun Instagram). Oleh sebab itu, Pemerintah Kota atau Pemprov DI Yogyakarta membangun beberapa kursi santai yang ada di sepanjang pedestrian tersebut. 

Yang menarik adalah tersedianya penghalang (pagar kecil) yang terbuat dari beton untuk menghalangi kursi. Penghalang ini terletak di bagian belakang kursi. Dengan demikian, saat anda santai, maka anda tidak merasa terganggu oleh orang lain yang lalu-lalang.

 

Duduk santai di salah satu kursi yang terhalang pagar beton di bagian belakangnya (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Spot selanjutnya yang menarik tentu alun-alun Yogyakarta. Bukan hanya kondisi alun-alun yang menarik saya. Tetapi, penunjuk arah yang bisa menarik perhatian banyak orang. Dengan mengabadikan kenangan di dekat penunjuk jalan tersebut. Maka, mampu memberi informasi kepada banyak orang tentang kondisi yang ada. Karena, visualisasi sudah memberikan informasi yang jelas. 

Dengan mengabadikan penunjuk jalan juga memberikan atau membangkitkan kenangan bagi siapapun yang melihatnya. Bahkan, bisa memberikan banyak persepsi orang, seperti:

 

“Oh, jalan itu yang mau ke Keraton Yogyakarta, ya”

“Wah, saya malah pernah muterin alun-alun Yogyakarta”

“Ke kanan itu yang langsung ke Gedung BNI 1946, kan?”

“Aduh, jadi kangen deh. Pengin ke Yogyakarta lagi”

“Kalau lihat foto ini jadi pengin ngerasain Gudeg Mbok Sum lagi”

“Jadi ingat mantan yang kuliah di UGM”

 

Dan, masih banyak ungkapan dan persepsi banyak orang ketika melihat sepenggal foto tentang Yogyakarta. Ada rindu dan kenangan indah yang mesti diwujudkan kembali. 

 

Pose di salah satu penunjuk jalan alun-alun Yogyakarta (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Itulah sebabnya setiap orang tidak mudah untuk melupakan mantannya. Karena, banyak kenangan indah yang telah tercipta. Kenangan yang memberikan kehidupan siapapun makin berwarna. 

Sama halnya, ketika anda rindu akan Yogyakarta.  Rindu ingin menyambanginya kembali. Atau, napak tilas tentang kenangan indah yang telah tertinggal. Anda seperti terbawa lirik lagu Kla Project di atas “Dinda, di manakah kau berada, rindu aku ingin jumpa”. 

Karena, obatnya rindu adalah KETEMU. Maka, sambangilah Yogyakarta kembali. Agar, kerinduan itu terpuaskan kembali. Apalagi, Yogyakarta mempunyai segudang tempat yang instagrammable. Sulit rasanya, jika anda melewatinya. Spot indah sepanjang pedestrian di perempatan Gedung BN1 1946 hingga alun-alun Yogyakarta bisa mengobati kerinduan anda. 

Saya pun tidak berbeda jauh dengan anda. Kerinduan untuk menyambang Yogyakarta kembali tidak terbantahkan. Kangen untuk menikmati spot-spot yang indah. Kangen logat Jawa halus yang keluar dari mulut masyarakat Yogyakarta yang ramah. Kapan? Insya Allah, jika Pandemi Virus Corona sudah berakhir. Atau, jika Kota Yogyakarta sudah pulih dan membuka aktifitas pariwisata secara normal.

 

“Nyuwun sewu mas, sumonggo nitih becak kemawon. Yen, panjenengan bade dateng alun-alun kaliyan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat”

(Mohon maaf mas, silahkan naik becak saja. Jika, anda ingin ke alun-alun dan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat).


Mengawal Pariwisata Bali Bangkit dengan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholders berfoto bersama (Sumber: Forkom Antar Media Bali Bangkit) Dampak Pandemi Covid-19 sungguh luar bia...