Tuesday, June 16, 2020

Jungkir Balik Nasib karena Covid-19


Ilustrasi: Jungkir Balik Nasib karena Covid-19 (Sumber: tirto.id)

 

 

“Boro-boro buat bayar kos mbak. Buat makan saja kembang kempis. Saya sudah nunggak bayar kos empat bulan sejak Maret 2020”

 

 

Kalimat yang meluncur dari Bu Jimi kepada istri saya. #GakSengaja kami bertemu di sebuah warung. Bu Jimi adalah tetangga kos saya yang dikenal “mampu”. Saat saya tinggal di kos-kosan, sebelum tempat kos yang saya tempati sekarang. Sungguh, Pandemi Virus Corona (Covid-19) telah membuat jungkir balik nasib orang. Yang kaya, mendadak miskin dan yang miskin, makin mengenaskan. 

Dalam artikel ini, saya tidak bermaksud untuk menceritakan kondisi tragis seseorang. Juga tidak bermaksud untuk memojokan Pandemi Virus Corona. Tetapi, saya akan menceritakan sesuai fakta dan apa adanya. Agar, kondisi yang ada bisa menjadi pelajaran berssama. Bahwa, dampak yang terjadi karena krisis Covid-19 “seringkali” tidak bisa dinalar secara logika. 

Sebelumnya, ada peribahasa bagi para pihak yang suka memamerkan kekayaannya. “Di atas langit masih ada langit”. Bahkan, menjadi plesetan “di atas langit masih ada Hotman Paris”. Kini, saat Pandemi Virus Corona bisa berlaku, “di bawah bumi masih ada kerak bumi”. 

Dengan kata lain, kondisi anda yang menurut anda “sungguh mengenaskan”. Ternyata, belum tentu mengalahkan kondisi orang di luar sana yang “lebih mengenaskan”. Kuncinya, kita tetap bersyukur. Dan, mau berusaha apa saja, tanpa memegang rasa gengsi.

 

Nasib Tetangga Kos

 

Sebelum Covid-19, kondisi Bu Jimi bak sedang naik daun. Percaya atau tidak, saya pernah meminta tolong padanya. Di saat saya sangat membutuhkan masalah keuangan. 

Ya, dia dikenal sebagai orang yang baik dan berlimpah rejeki. Simpanan perhiasannya sungguh menggoda. Suatu hari saya pernah dipinjami “perhiasan” dia untuk digadai. Dan hasil gadai perhiasan tersebut untuk modal usaha saya. Dan, dari usaha tersebut, saya mampu menebus perhiasan yang ada di pegadaian. 

Bu Jimi mempunyai usaha yang terbilang lancar. Yaitu, menyediakan nasi bungkus, yang dititipkan di beberapa sekolah dan warung. Suaminya pun mempunyai usaha “finishing” kaca untuk bangunan kantor, rumah pribadi dan hotel. Jika sekali proyek, maka keuntungan berlipat ganda. 

Tetapi, nasib siapa yang mampu menebaknya. Saat Pandemi Virus Corona terjadi, semua usaha yang dia jalani berhenti total. Pemasukan tak ada sama sekali. Kini, semua perhiasan yang tersimpan habis terjual untuk makan. 

Yang lebih mengerikan, saat dia bertemu saya dan istri. Ketika, saya habis belanja tempe mentah. Dia bercerita dan berkeluh kesah apa adanya. Dia tak mampu membayar sewa kamar kosnya selama 4 bulan. Jika ditotal kurang lebih menunggak 4 juta rupiah. Jangankan untuk membayar kos. Bahkan, dia tak punya uang untuk sekedar makan. Ibu kosnya pun sempat berkata padanya.

 

”Kalau gak ada uang buat bayar kos, tak perlu dipikirkan. Yang penting bisa beli nasi untuk makan. Nanti kalau gak bisa makan, bisa mati kan berabe”.   

 

Lebih dari 1 jam kami berbincang santai di pinggir jalan. Bu Jimi dengan semangatnya menceritakan kondisi para “koser” lainnya. Yang dulunya mampu masalah keuangan. Dan, menjadi tetangga kos yang baik buat saya. Kami saling bertukar informasi. 

Bu Jimi pun bersemangat menceritakan kondisi tetangga kos lainnya. Menurutnya, Mas Adi (tetangga kosnya) yang tampil mapan. Karena, dia rutin mengerjakan proyek, meskipun kecil-kecilan. Mas Adi juga pengusaha burung peliharaan dan burung kicau. 

Burung kicaunya pun sering menang dalam beberapa kontes dan ditawar mahal oleh orang lain. Juga, hadiah uang jutaan ada di tangannya, ketika memenangi kontes burung kicau. 

Makanya, Mas Adi berani menyewa dua kamar kos yang pengeluarannya kurang lebih 2 juta. Istrinya juga bekerja di perusahaan garmen. Pengeluaran segitu baginya tidak ada masalah. Enteng baginya. Padahal, saya sendiri terasa berat untuk membayar 1 kamar kos saja.   

Namun, apa yang terjadi setelah Pandemi Virus Corona melanda. Tidak ada pekerjaan buat Mas Adi. Dia berusaha seadanya, dengan mencari burung dan menjualnya kembali. Lumayan untung 10-20 ribu sekali menjual. Yang mengenaskan, istrinya sudah tidak bekerja. Karena, perusahaan garmennya telah tutup. 

Lagi, tetangga kos, sebut saja Mbak Komang. Dia penjahit pesanan pakaian banyak perusahaan. Sekali mendapat pesanan, dia bisa menangguk keuntungan jutaan rupisah. Dan, pesanan itu datang secara rutin. Keuangan tidak ada masalah baginya. 

Namun, sejak Pandemi Virus Corona melanda, pesanan jahit pakaian tidak ada satu pun. Dia menganggur, dan menghabiskan simpanan uangnya. Karena, tidak mampu membayar kos lagi. Maka, dia terpaksa pulang ke rumah mertuanya. Agar tidak usah membayar uang kos.   

Lain lagi dengan kondisi Bu Putu, yang pekerjaannya seperti Mbak Komang. Bahkan, suami Bu Putu bekerja di sebuah perusaan farmasi. Akhirnya, suaminya berhenti kerja dan memilih menjadi driver Ojek Online (Ojol). Bu Putu rajin mendapat pesanan jahit pakaian. Bahkan, mampu kredit sepeda motor lagi untuk keperluan antar jemput anaknya sekolah PAUD. 

Lantas, bagaimana nasib Bu Putu, ketika Pandemi Virus Corona melanda? Ternyata, ketidakmampuannya untuk membayar uang kos, Bu Putu rela “kabur” dari kosnya. Karena, beban berat yang dialami untuk membayar sewa kamar kos setiap bulannya. Bu Putu berani melakukan hal tersebut, karena kondisi yang sangat mendesaknya.

 

Jangan Bersedih

 

Empat sosok keluarga di atas adalah bukti nyata eks tetangga kos saya dulu. Yang dulu jaya dan berlimpah uang. Tetapi, Pandemi Virus Corona telah mempreteli harta benda mereka. Nasib mereka dijungkirbalikan tanpa ampun. Sungguh tragis yang namanya dampak Covid-19. 

Sebelum pertemuan dengan Bu Jimi, saya merasa bahwa “nasib saya memang belum beruntung”. Dan, Allah SWT sedang menguji kekuatan iman keluarga saya. Namun, setelah saya bertemu dengan Bu Jimi yang “lebih mengenaskan”. 

Saya dan anda perlu sadar bahwa “Ketika kita merasa nasibnya mengenaskan. Ternyata, di luar sana masih ada orang yang lebih mengenaskan dari kita”. Dalam hati, saya benar-benar menangis melihat kondisi dia. Saya ingin membantunya, tetapi kondisi saya pun “ngap-ngapan”.   

Sebagai informasi, di lingkungan kos saya dulu, Bu Jimi dikenal banyak orang sebagai sosok yang mampu. Tetapi, Allah SWT begitu sayang, dan menguji imannya melalui wabah Covid-19. Kini, harta benda berupa perhiasan yang ada padanya telah habis terjual. Yang ada padanya adalah “Kesehatan” yang lebih berharga. Dalam perjalanan pulang, saya sempat berkata pada istri.  

 

“Ternyata, di saat kita merasa paling sedih karena Corona. Bu Jimi lebih menyedihkan dari nasib kita. Kita mesti bersyukur. Karena, ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita. Bahwa, harta benda dan jabatan hanyalah milik Allah SWT. Dan, kapanpun dan di manapun Allah SWT bisa mengambilnya kembali dengan indah. Melalui jalan yang tidak bisa diprediksi oleh manusia”.

 

Saya berdoa semoga Pandemi Virus Corona segera berakhir. Dan, kondisi ekonomi eks tetangga kos saya. Dan, orang lain yang bernasib sama, bisa pulih sedia kala. 

Kita boleh bersedih karena dampak Covid-19. Tetapi, bertawakal kepada Allah SWT adalah jalan terbaik. Allah SWT yang memberikan Covid-19 dan Allah SWT lah yang akan mengambilnya Kembali. Insya Allah.


2 comments:

tantiamelia.com said...

sedih banget mas Cas bacanya, sementara di sekitar saya malah ada beberapa orang yang menangguk keuntungan dari pandemi

yang tadinya ngap ngapan,
entah mengapa malah jadi survive sekarang, malah bisa punya karyawan

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

Benar mbak. Masing-masing tergantung orangnya. Yang kreatif akan survive. Apalagi, dengan memanfaatkan ranah digital. Yang gak kreatif akan kalah dengan adanya Pandemi.Salam.

Mengawal Pariwisata Bali Bangkit dengan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholders berfoto bersama (Sumber: Forkom Antar Media Bali Bangkit) Dampak Pandemi Covid-19 sungguh luar bia...