Monday, October 5, 2020

Cara Ibu Terapkan Gizi Seimbang untuk Tumbuh kembang Si Buah Hati Saat Pandemi

 

Nutrisi Gizi seimbang anak saat Pandemi di rumah saja (Sumber: shutterstock)

 

 

“You have to love your children unselfishly. That is hard. But it is the only way.” (Kamu harus mencintai anakmu tanpa pamrih. Itu memang sulit. Tapi itu adalah satu-satunya cara) - Barbara Bush. 

 

Anak adalah masa depan bangsa dan masa depan setiap orang tuanya. Tanpa pamrih dari sang anak, orang tua denga tulus dan ikhlas membesarkannya hingga dewasa. Namun, pada prosesnya, membesarkan anak membutuhkan kesabaran dan kecerdasan tinggi. Hal ini dilakukan agar tumbuh kembang anak bisa maksimal. Seperti apa yang selalu dikampanyekan oleh Danone Indonesia Specialized Nutrition. Agar, tumbuh kembang anak bangsa bisa berjalan baik.

 

Tantangan Pandemi

 

Saat pandemi, orang tua khususnya ibu harus melewati ujian kehidupan dalam membesarkan si buah hati. Pandemi Covid-19 yang telah berjalan kurang lebih 9 bulan menjadi tantangan terberat. Kenapa? Sebuah kondisi yang tidak pernah diharapkan manusia sebelumnya. Sangat berdampak bukan hanya bagi orang dewasa, tetapi menjadi kondisi yang riskan bagi anak-anak.     

 

Tantangan terberat saat Pandemi (Sumber : Putu Andani, 2020/diolah)

 

Pada gambar di atas menunjukan berbagai tantangan terberat selama Pandemi khususnya buat anak-anak. Jika, ibu tidak bisa mengantisipasinya maka bisa menjadi pemicu kondisi stress yang berkepanjangan. Bahkan, jika ibu tidak bisa mengolah kondisi anak karena pandemik, maka akan terjadi hal-hal yang berbahaya bagi tumbuh kembang anak.

Salah satu dampak dari Pandemi adalah timbulnya rasa bosan dan mudah marah pada anak-anak. Tentu, kondisi tersebut bisa berdampak pada asupan nutrisi. Oleh sebab itu, meskipun di rumah saja, ibu harus melakukan kerja ekstra. Ibu wajib memperhatikan status gizi yang dikonsumsi anak. Karena, status gizi anak dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi.

 

Nutrisi Gizi Seimbang

 

Perlu diketahui bahwa kebutuhan nutrisi anak relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa karena ada aspek tumbuh kembang. Ketika anak berada di rumah saja, maka kecenderungan rasa bosan akan terjadi. Maka, ibu dituntut kreatif untuk mengolah berbagai variasi makanan. Ibu bisa membuat berbagai macam olahan rumah yang berpedoman selalu pada gaya hidup sehat.

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa makanan yang diolah di rumah lebih sehat dan bernutrisi untuk pertumbuhan anak-anak, dibandingkan dengan makanan olahan dari luar rumah. Hal ini dikarenakan ibu memahami dan mempraktekan langsung cara mengolah makanan. Agar, nutrisi gizi seimbang bagi anak bisa terpenuhi.   

Oleh sebab itu, ibu perlu tahu tentang Pedoman Gizi Seimbang. Dilansir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tahun 2014 menyatakan bahwa ada 4 hal prinsip gizi seimbang. Agar, susunan pangan mengandung Zat Gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh yaitu:

1.    Keanekaragaman pangan.

2.    Aktifitas fisik.

3.    Mencapai Berat Badan (BB) ideal untuk mencegah masalah gizi.

4.    Perilaku hidup bersih.

1. 

 

4 Hal prinsip gizi seimbang (Sumber: shutterstock/diolah)

 

Setelah ibu memahami prinsip gizi seimbang,  perlu memahami kandungan gizi yang berasal dari berbagai sumber makanan. Terbagi atas 5 golongan zat gizi sumber makanan yaitu : Vitamin & Mineral, Karbohidrat, Protein, Lemak dan serat.

 

Nutrisi Gizi seimbang dari berbagai jenis makanan (Sumber: hellosehat.com/diolah)

 

Meskipun Pandemi menjadi tantangan terberat, tetapi momen di rumah saja merupakan saat yang tepat untuk memperkenalkan anak mengenai gaya hidup sehat. Salah satu hal menarik yang perlu diperkenalkan kepada anak adalah cara mengkonsumsi makanan bergizi seimbang yang sesuai dengan panduan “Isi Piringku”. Di mana, sebanyak 12 hingga 15 persen dari porsi makanan harian merupakan sumber protein. Protein sangat berguna untuk membantu pertumbuhan, pemeliharaan dan perbaikan tubuh anak.

Perlu diketahui bahwa kandungan protein bisa diperoleh dari lauk-pauk. Dan, lauk-pauk menjadi sumber protein nabati dan hewani. Mengapa? Karena lauk-pauk mengandung 1) asam amino lebih lengkap; 2) kandungan Protein, vitamin dan mineral mudah diserap oleh tubuh; 3) mengandung lemak baik; 4) mengandung Isoflavon (antioksidan dan antikolesterol); 5) Serat; dan 6) alternatif pengganti protein pada intoleransi laktosa.

Bahkan, manfaat protein nabati sangat dibutuhkan bagi anak. Dikarenakan, manfaat bahan makanan sumber protein nabati adalah 1) melengkapi kebutuhan protein tubuh; 2) membantu mencukupi kebutuhan serat; 3) mengandung mikronutrien: folat, niasin, tiamin, kalium, magnesium, besi, zinc.

Pengalaman pemberian protein nabati kepada anak telah dilakukan oleh artis dan penyuka gaya hidup sehat, Soraya Larasati. Saat khawatir si buah hati akan bosan dengan menu makanan sehat di rumah. Maka, Soraya Larasati kreatif dalam menyajikan makanan maupun menyiapkan berbagai kegiatan agar anak tidak bosan di rumah saja. Bahkan, mengajak anak terlibat dalam proses menyiapkan makanan.

Dan, mengenalkan anak dengan sumber nutrisi yang belum pernah ia coba. Membuat menu makanan nabati yang sangat bervariasi dari jenis kacang-kacangan dan sayuran. Dilengkapi dengan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan anak. Yaitu, nutrisi untuk anak berbasis soya yang terfortifikasi dengan serat, vitamin, dan mineral lainnya.  

Hal yang tidak kalah penting agar tumbuh kembang anak maksimal adalah ibu wajib membuat jadwal makan anak secara teratur. Seperti apa yang dinyatakan oleh  Dokter Spesialis Gizi Klinis, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK.

“Selain porsi, variasi dan jadwal makan juga perlu diperhatikan untuk mengoptimalkan manfaat nutrisi yang dikonsumsi sesuai kebutuhan anak. Sebagai contoh, olahan protein nabati dari kacang-kacangan seperti olahan soya bisa dijadikan alternatif variasi dalam menu gizi seimbang. Terutama nutrisi untuk anak berbasis soya yang difortifikasi, dapat menjadi pilihan ibu karena dapat dikonsumsi oleh siapa saja, tidak hanya terbatas pada anak dengan kondisi medis tertentu”.  

 

 

 

Jadwal makan secara teratur untuk anak (Sumber : Juwalita Surapsari, 2020/diolah)

 

Selanjutnya, seperti dalam pedoman ISI PIRINGKU, maka porsi sekali makan yang terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayuran dan buah-buahan harus diperhatikan. Berikut, contoh gambar tentang pedoman gizi seimbang untuk anak usia 1-3 tahun:

 

Pedoman gizi seimbang untuk anak usia 1-3 tahun (Sumber : Kemenkes, 2014/diolah)

 

Adapun, khusus porsi makanan pokok, ibu bisa memilih 1 porsi makanan pokok, seperti:


1.    Nasi ¾ gelas (100 gram).

2.    Kentang 2 buah (210 gram).

3.    Jadung segar 3 buah (125 gram).

4.    Havermut 5 1/2 sdm (45 gram).

5.    Roti putih 3 potong (70 gram). 

6.    Biskuit 4 buah (40 gram)

 

Dipertegas oleh pendapat dari dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, bahwa gizi seimbang dapat dicapai apabila makanan yang dikonsumsi dalam jumlah cukup, berkualitas baik dan beragam jenisnya untuk memenuhi berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.

 

“Agar anak mendapatkan gizi seimbang, kebutuhan akan nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) harus dipenuhi. Namun, membuat anak mau mengonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisinya juga bukan perkara mudah. Saat di rumah saja, anak cenderung cepat bosan dan memilih makanan yang mereka sukai saja. Hal ini bisa berdampak pada kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang optimal.”

 

Berdasarkan kebutuhan Gizi Anak sesuai dengan AKG (Angka Kecukupan Gizi) Indonesia tahun 2013. Maka, kebutuhan gizi anak terbagi dalam berbagai gologan usia. Untuk lebih jelasnya, anda bisa melihat gambar berikut. Yang meliputi zat gizi makro dan zat gizi mikro yang dibutuhkan bagi 8 kelompok usia anak.    


1.    Usia 0-6 bulan.

2.    Usia 7-11 bulan.

3.    Usia 1-3 tahun.

4.    Usia 4-6 tahun.

5.    Usia 7-9 tahun.

6.    Usia 10-12 tahun.

7.    Usia 13-15 tahun.

8.    Usia 16-18 tahun.

1. 

 

Kebutuhan gizi anak sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia tahun 2013 (Sumber: hellosehat.com/diolah)

 

Interaksi Lebih Dekat

 

Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa salah satu dampak dari Pandemi adalah timbulnya rasa bosan pada anak. Itulah sebabnya, ibu harus kreatif dalam memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang untuk anak. Apalagi, menurut penelitian yang menyebutkan bahwa 95% hormon serotonin diproduksi di usus. Oleh sebab itu, makanan yang dikonsumsi mampu memengaruhi kesehatan psikis.

Dengan kata lain, ketika anak tidak menerima asupan gizi seimbang, akan berpotensi mengalami kecemasan. Oleh sebab itu, kondisi psikis ibu dan anak harus didukung anggota keluarga lainnya seperti ayah atau saudara. Menurut Psikolog Tiga Generasi Ibu Putu Andani, M.Psi, Psikolog Anak menyatakan :

 

“Tanpa disadari, kondisi psikis orang tua dan anak saling berkaitan. Stres berkepanjangan yang tidak diolah dengan baik dapat memengaruhi perilaku makan anak di rumah. Padahal asupan nutrisi adalah sumber pertahanan imun untuk saat ini. Untuk itu, orang tua perlu memantau mood anak dengan baik di samping mengelola stresnya sendiri. Salah satu cara mengatasi rasa bosan anak adalah dengan mencoba keterampilan atau pengalaman baru dengan interaksi yang menyenangkan bersama anggota keluarga. Melibatkan anak dalam menyiapkan menu gizi seimbang sesuai dengan usia dan kemampuan anak bisa menjadi alternatif kegiatan menyenangkan yang juga edukatif”

 

Dari pernyataan di atas menunjukan bahwa untuk meredam gejolak psikis karena Pandemi. Baik bagi ibu maupun anak, maka hal yang terbaik adalah menjalin interaksi mendalam antara ibu dan anak. Bagi anak usia yang lebih kecil, bisa diajarkan mencuci buah dan sayur, memilah jenis makanan, menghitung jumlah makanan atau alat makan serta mengeksplorasi nama, warna dan aroma dari berbagai jenis makanan.

Sedangkan, bagi anak yang lebih besar, bisa dilibatkan untuk memotong, mencampur adonan, mengenalkan dan mencampur bahan, menentukan porsi makan dan menata peralatan makan di meja. Kebersamaan ibu dan anak mampu mengasah perkembangan kemampuan kognitif, fisik, sosial dan emosional anak serta meningkatkan bonding.

 

Perlunya nutrisi gizi seimbang dan psikis yang baik demi terjaganya tumbuh kembang anak (Sumber: hellosehat.com/diolah)

 

Perlu diketahui bahwa sepanjang kehidupannya, anak memiliki berbagai kebutuhan psikologis. Perlu dipenuhi seperti kebutuhan mereka bisa mandiri, kebutuhan berinisiatif dan kebutuhan memproduksi atau menghasilkan karya. Oleh sebab itu, ibu wajib melibatkan anak pada proses dan memberikan anak keleluasaan. Juga, untuk menentukan pilihan akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, sehingga mental anak terjaga. 

 

Cara mengatasi kebosanan saat Pandemi (Sumber : Putu Andani, 2020.diolah) 

 

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada 2 faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Dari faktor asupan gizi, ibu perlu kreatif dalam memenuhi faktor nutrisi gizi seimbang untuk anak. Sedangkan, dari faktor psikis, ibu dan anak perlu menjaga kondisi mentalnya agar tetap sehat. Karena, terjaganya kondisi psikis orang tua akan berpengaruh besar terhadap kondisi psikis anaknya. Ketika kondisi psikis ibu terjaga, maka tumbuh kembang anak tetap terjaga.

Oleh sebab itu, Pandemi bukanlah halangan untuk menerapkan asupan nutrisi gizi seimbang. Juga, menjaga kondisi psikis ibu dan anak. Mengapa? Karena, menjaga tumbuh kembang anak adalah sebuah keniscayaan. Buat generasi mendatang yang lebih baik.  

 

Dua faktor utama agar tetap terjaga tumbuh kembang anak saat Pandemi di rumah saja (Sumber: Danone Indonesia & gooddoctor.co.id/diolah)

7 Rahasia Kecantikan Wanita Bali yang Membuat Hati Para Pria Meleleh

  Rahasia cantik wanita Bali                 Apa sih daya tarik Bali selain destinasi wisata?   Sebuah pertanyaan sederhana yang m...