Tuesday, December 22, 2020

Pasar Rakyat yang Humanis, Modern dan Digitalisasi

 

Suasana sebuah Pasar Rakyat (Sumber: dokumen pribadi) 

 

           “Andai saja kondisi Pasar Rakyat seperti mall” 

 

Saya berharap pikiran anda sama dengan saya. Harapan terbaik memiliki Pasar Rakyat yang nyaman layaknya mall. Bau wangi, udara adem dan harga bersahabat. Dengan kata lain, Pasar Rakyat yang membuat rasa aman, nyaman dan betah. Bahkan, menjadi pengalaman menarik, karena keberagaman penjual dan pembeli. 

Festival Pasar Rakyat 

Memang, Pasar Rakyat harus berbenah menjadi pasar yang humanis. Mengapa? Saya sering belanja ke Pasar Rakyat. Namun, kondisi penjual yang belum menunjukan sikap humanis seringkali terjadi. Seperti, keramahan dan senyum manis layaknya pramuniaga di mall.

Penjual menunjukan muka kecut, ketika saya menawar. “Boleh harga sekian ibu”. Jawabannya tidak enak di hati. Dengan muka kecut sambil berkata “tidak bisa mas. harganya pas. kalau pengin murah, ya kulakan sendiri”.

Itulah sebabnya, pelayanan yang menyenangkan menjadi prioritas. Ketika belanja ke pasar, saya akan mencari penjual yang humanis. Penjual merasa kehilangan, ketika saya tidak berbelanja lagi. Penjual sangat bahagia atas kehadiran pembeli dengan keberagaman karakter.

Festival Pasar Rakyat (FPR) menjadi ajang terbaik, agar pembeli dan pedagang berpikir lebih modern dan realistis. Pelaku pasar perlu adaptif dengan perkembangan jaman. Mereka harus memahami bahwa keberagaman akan selalu ada di Pasar Rakyat. Dari berbagai suku dan budaya yang berbeda.

Salah satu FPR adalah FPR yang diselenggarakan di Pasar Badung Denpasar, Bali. FPR yang diadakan tanggal 9-10 November 2019 lalu. Acara tersebut menjadi ajang promosi Pasar Badung ke masyarakat luas. Bukan hanya bagi masyarakat Bali saja. Tetapi, masyarakat dari berbagai daerah bisa datang ke Pasar Badung.

Selain berbelanja, pengunjung bisa menikmati kearifan lokal yang menarik. Seperti, penampilan budaya dari berbagai daerah. Pasar Badung bergaya khas Bali dan modern. Tema FPR yaitu “Harmony in Diversity” menunjukan bahwa Pasar Rakyat menciptakan keberagaman budaya yang harmonis.

Apalagi, Pasar Badung dirancang dengan konsep Catuspatha Kota Denpasar (simpang empat bagaikan perempatan agung). Memiliki nilai dan makna sakral dalam tradisi Bali. Sedangkan, Catuspatha sendiri memiliki empat unsur, yaitu: 1) puri/keraton sebagai pusat pemerintah, 2) pasar tradisional sebagai pusat perekonomian, 3) wantilan sebagai pusat budaya, dan 4) ruang publik.

 

Pasar Badung tampak depan (Sumber: dokumen pribadi)

 

Bersih dan Digitalisasi 

Pembeli tidak akan betah, ketika berkunjung ke pasar kumuh dan jorok. Bau pesing dan aroma jelek lainnya yang menyengat hidung. Pasar yang tidak memperhatikan kondisi sampah. Sampah basah dan kering dibiarkan berserakan di tanah. Ketika saya “memaksa diri” belanja ke pasar yang penuh sampah. Saya sering bergumam, “Andai saja Pasar Rakyat bersihnya seperti mall”.

Tetapi, Pasar Badung menjadi salah satu contoh Pasar Rakyat yang tampil lebih modern. Juga, kondisi Pasar Badung terlihat bersih. Bau tanah basah bercampur sampah karena air hujan tidak ada. Kondisi udara lebih adem, meski tanpa pendingin ruangan (AC). Karena, sirkulasi udara yang ada di sekeliling pasar.

Saya seringkali berpikir, “Mengapa sangat susah para pedagang mengumpulkan sampahnya di tempat sampah dagangannya?”. Mereka lebih mementingkan untung dalam berdagang. Namun, sampah tidak menjadi perhatian utama. Agar, sampah terkumpul dan kondisi pasar lebih bersih.

Menurut saya, karakater inilah yang perlu direformasi segera. Jangan sampai pedagang pasar berpikir, “mengapa saya harus mengurusi sampah. Saya sudah bayar retribusi. Biarkan petugas yang membersihkan sampah”. Perlu diketahui bahwa Pasar Rakyat hendaknya mewujudkan kondisi Sejahtera, Sehat dan Bersih. Bukan hanya membuat sejahtera pelaku pasar dan keuntungan pembeli. Tetapi, Pasar Rakyat wajib menjaga kondisi kesehatan orang-orang yang ada di lingkungan pasar.  

 

Salah satu sudut Pasar Kumbasari Denpasar yang penuh sampah berserakan (Sumber: dokumen pribadi)

 

Ketika Pandemi Covid-19 melanda, maka Pasar Rakyat mengalami kondisi yang tidak normal. Pasar Rakyat harus menerapkan protokol kesehatan. Di mana, semua orang yang berada di lingkungan pasar harus menerapkan prinsip 3M (Menjaga Jarak, Mencuci Tangan dan Memakai Masker). Bahkan, jika pasar menciptakan cluster Covid-19 baru, maka akan ditutup sementara.

Namun, Pandemi Covid-19 memberi pelajaran berharga. Pelaku pasar belajar untuk adaptif teknologi melalui program edukasi, pelatihan dan pendampingan. Pelaku pasar diajak untuk melakukan reformasi teknologi, melangkah ke digitalisasi. Bukan hanya menjual produk secara konvensional. Tetapi, belajar bagaimana menjual secara online. Jadi, meskipun Pandemi Covid-19 melanda, mereka masih tetap berbisnis. Bahkan, mampu Bangkit Bersama Sahabat lainnya yang bernasib sama.  

Cara pembayaran dalam transaksi jual beli pun mengalami perubahan. Di Pasar Badung, para pembeli bisa membayar barang belanjaan dengan aplikasi Financial Technology (Fintech) atau e-money. Makin praktis dan mudah. Ada pepatah bijak, kalau ada yang mudah, mengapa pilih yang sulit.     



3 comments:

MENJADI HAMBA TUHAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN said...

Kalau pasar rakyat bersih bikin betah berbelanja.

syaifuddin said...

Keren acaranya. Saya termasuk yg suka blusukan ke pasar. Menurut saya pasar itu swbuah pertemuan budaya. Apalagi di Bali pasarnya keren-keren. Bakal betah nongkrong di pasar

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@syaifuddin : Benar bang. Bahkan, Pasar Banyusari Singaraja direhab besar-besaran kayak mall Mangga Dua.

PLTS ATAP MEKARSARI SEBAGAI BUKTI KEPEDULIAN DANONE-AQUA DALAM PENCIPTAAN ENERGI BARU TERBARUKAN

    PLTS Atap Mekarsari Sukabumi Jawa Barat (Sumber: Danone AQUA)               Kebutuhan akan Energi Baru Terbarukan (EBT) menjadi ...