Sunday, April 10, 2022

Meraih Sehat Kini dan Nanti Bersama Imunisasi Lengkap

Keluarga Indonesia SehatImunisasi lengkap, Indonesia Sehat (Sumber: Shutterstock/diolah)


 

Dulu loyang, sekarang besi,

Dulu sayang, sekarang benci,

Obat dibuang, rusak kondisi,

Sehat disayang, jaga imunisasi.

 

          Sebuah pantun singkat yang membawa pemahaman kita tentang pentingnya imunisasi. Kita menyadari bahwa imunisasi berawal dari kesadaran dan pemahaman yang baik pihak keluarga. Itulah sebabnya, Kementerian Kesehatan RI membuat program tentang imunisasi, dengan mengusung pesan yang baik, “Imunisasi Lengkap, Indonesia Sehat”.

          Merujuk pada Visi Indonesia Sehat 2025 untuk mewujudkan lingkungan serta perilaku hidup sehat. Masyarakat lebih mudah dalam memperoleh pelayanan kesehatan bermutu. Sehingga, derajat kesehatan masyarakat meningkat. Oleh karena itu, rumah sakit merupakan institusi yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

          Pemerintah berharap besar agar terciptanya Keluarga Sehat Indonesia. Sesuai Program Indonesia Sehat, maka diharapkan terjadinya peningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat. Melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.

          Keluarga sehat adalah keluarga yang setiap individunya berada dalam kondisi yang sejahtera, baik dari segi fisik maupun mental, sehingga dapat hidup normal secara sosial dan ekonomi di tengah masyarakat lainnya. Setidaknya, ada lima (5) aspek yang perlu diperhatikan untuk mencapai keluarga sehat. Yaitu, 1) kesehatan ibu dan anak; 2) kondisi penyakit menular dan tidak menular; 3) lingkungan rumah dan sekitarnya; 4) kesehatan jiwa; serta 5) gaya hidup.


Aspek keluarga sehat

Aspek untuk mewujudkan keluarga sehat (Sumber: alodokter.com)

 

          Dari 5 aspek tersebut, maka Kementerian Kesehatan RI menetapkan 12 indikator keluarga sehat. yaitu:

1.     Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB).

2.     Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.

3.     Bayi mendapat Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

4.     Bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.

5.     Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan.

6.     Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar.

7.     Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur.

8.     Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan.

9.     Anggota keluarga tidak ada yang merokok.

10.             Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

11.             Keluarga mempunyai akses sarana air bersih.

12.             Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat.

 

Mengenal Imunisasi

          Salah satu indikator keluarga sehat adalah bayi mendapat Imunisasi Dasar Lengkap (IDL). Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Sehingga, suatu saat terkena penyakit tertentu, tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan (Kemenkes, 2017).

          Tentu, pemberian imunisasi akan menimbulkan efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Ada beberapa jenis vaksin yang direkomendasikan dalam program imunisasi wajib. Berikut jenis-jenis imunisasi dan KIPI yang ditimbulkan:


 

Jenis imunisasi
Jenis imunisasi dan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) (Sumber: alodokter.com)

 

 

          Tetapi, percayalah, imunisasi menjadi cara untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Sehingga, tubuh kebal terhadap serangan kuman penyakit, baik bakteri, virus, jamur, parasit, dan lainnya. Dengan kata lain, imunisasi menjadi cara melindungi bayi atau anak, dari berbagai risiko penyakit pada masa yang akan datang.

          Jika, bayi tidak diimunisasi maka akan menyebabkan beberapa risiko sebagai berikut:

1.    Berisiko mengalami komplikasi penyakit.

2.    Tubuh tidak mengenali virus penyakit yang masuk sehingga tidak bisa melawannya.

3.    Sistem kekebalan tubuh tidak kuat.

4.    Membahayakan anak lain.



Bayi tanpa imunisasi

Risiko yang terjadi, jika bayi tidak mendapatkan imunisasi (Sumber: alodokter.com/diolah) 

 

          Menurut laporan WHO, sekitar 1,5 juta anak mengalami kematian tiap tahunnya, karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada tahun 2018, kurang lebih 20 juta anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Bahkan, ada anak yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.

          Imunisasi telah terbukti dapat mencegah dan mengurangi kejadian sakit, cacat, dan kematian akibat PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi), yang diperkirakan 2-3 juta kematian tiap tahunnya.

 

Imunisasi bayi dan anakPemberian imunisasi pada bayi dan anak (Sumber: Mediaindonesia.com 27/07/2020 & alodokter.com)

 

          Dr. Prima Yosephine, MKM (Plt. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI) menyatakan bahwa beberapa alasan perlunya imunisasi adalah:

1.    2-3 juta kematian setiap tahun dapat dicegah dengan imunisasi.

2.    Imunisasi dapat mencegah lebih dari 26 penyakit.

3.    Membantu membatasi atau mengurangi terjadinya resistensi antibiotik, karena dapat mencegah penyakit pada tahap awal.

4.    Meningkatkan cakupan imunisasi secara global, dapat bertambah untuk menyelamatkan 1,5 juta orang setiap tahunnya. 

 

          Indonesia termasuk salah satu negara, dengan jumlah anak yang tidak mendapatkan Imunisasi Lengkap cukup banyak. Kondisi tersebut mengakibatkan munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), seperti difteri, campak, dan polio.

          Menurut Prof. DR. Dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) selaku Ketua Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota IDAI, kematian yang terjadi akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (P3DI) menunjukan tahun 2013 sebesar 4,9 juta dan tahun 2018 sebesar 2,1 juta kematian.

          Oleh sebab itu, perhatian utama terhadap kesehatan anak merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDG). Yaitu, mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah. Dengan cara menurunkan angka kematian neonatal hingga 12 per 1.000 kelahiran hidup, dan angka kematian balita 25 per 1.000 kelahiran hidup.

          Maka, untuk mencegah kematian bayi dan balita tersebut, imunisasi menjadi perlindungan dari berbagai penyakit yang berbahaya, atau berisiko menyebabkan kematian. Sesuai dengan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (Pusdatin) 2014, program imunisasi juga menyasar pada ibu hamil.

          Program imunisasi ibu hamil dilaksanakan dalam rangka komitmen Indonesia untuk melaksanakan Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE). Yaitu, program eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil. Dikatakan tereliminasi, jika terdapat kurang dari satu kasus neonatal per 1.000 kelahiran hidup di setiap kabupaten/kota.

          Adapun, manfaat yang bisa diperoleh dari imunisasi adalah:

1.    Potensi spesifik individu. Setiap orang yang mendapatkan imunisasi akan membentuk antibodi spesifik terhadap penyakit tertentu.

2.    Membentuk kekebalan kelompok (Herd Immunity). Apabila cakupan imunisasi tinggi dan merata dapat membentuk kekebalan kelompok dan melindungi kelompok masyarakat yang rentan.

3.    Proteksi lintas kelompok. Pemberian imunisasi pada kelompok usia tertentu (anak) dapat membatasi penularan kepada kelompok usia dewasa (orang tua).

            Lanjut, untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity), maka cakupan imunisasi rutin harus tinggi. Kurang lebih mencapai minimal 95% secara merata di seluruh wilayah, sampai unit terkecil yaitu tingkat desa/kelurahan. Cakupan imunisasi yang tinggi dan merata dapat mencegah penularan suatu penyakit, yang sebenarnya dapat kita cegah dengan imunisasi.

          Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Berikut, jenis-jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah, dan bisa diperoleh secara gratis di Puskesmas atau Posyandu:

 

Imunisasi wajib dan gratis

Imunisasi yang diwajibkan pemerintah dan gratis (Sumber: Kementerian Kesehatan RI)

 

          Hal yang perlu diperhatikan adalah pemberian imunisasi adalah harus sesuai dengan jadwal yang dianjurkan pemerintah. Hal ini bertujuan agar bayi atau anak bisa mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

          Perlu diketahui, bayi atau anak yang telah mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL), jika sudah mendapatkan 1) Imunisasi Dasar (bayi usia 0-11 bulan); 2) Imunisasi Lanjutan (anak usia 18-24 bulan); dan 3) Imunisasi Lanjutan saat SD atau Madrasah Ibtidaiyah. Untuk selengkapnya, bisa lihat gambar berikut:

 

Anak dengan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL)

Jadwal Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) (Sumber: alodokter.com/diolah)

 

Cakupan Imunisasi

          Dalam Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia tahun 2019, hasil penelitian Wulansari & Mardiati Nadjib (2019) menyatakan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi lengkap seperti gambar berikut.  


Faktor penghambat Imunisasi Lengkap

Faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi lengkap (Sumber: Wulansari & Mardiati Nadjib, 2019)

 

          Dari gambar di atas, ada faktor yang menarik, yaitu faktor akses internet.  menunjukan bahwa  kemudahan akses internet berpengaruh terhadap pengetahuan, dukungan sosial, perilaku kesehatan, peningkatan klinis dan keyakinan tentang kemampuan individu dalam melakukan imunisasi. Informasi positif yang diperoleh dari sebuah web atau media sosial ikut menyumbang pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk melakukan imunisasi bagi bayi atau anaknya.

          Adapun, faktor lainnya yang mendominasi untuk melakukan imunisasi adalah: 1) kelompok umur usia muda; 2) status perkawinan yang masih utuh; 3) pendidikan tinggi; 4) keluarga yang masih bekerja; dan 5) wilayah kota.  

          Tidak dipungkiri bahwa pelaksanaan imunisasi untuk mencapai cakupan yang tinggi dan merata mempunyai tantangan dan hambatan. Tantangan, seperti: masih kurangnya pemahaman tentang manfaat imunisasi, dan kerugian ekonomi akibat kecacatan atau kematian yang timbul. Jika, anak yang berada di lingkungan sekitar tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

          Tetapi, Kemenkes RI tetap melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata. Adapun, langkah-langkah yang dilakukan pemerintah bisa lihat di gambar berikut.


 

Tantangan Imunisasi Lengkap

Tantangan imunisasi dan langkah-langkah pemerintah untuk meningkatkan cakupan imunisasi (Sumber: Kemdikbud RI, 24/04/2019)

 

          Hingga tahun 2018, Pemerintah telah memberikan imunisasi lengkap sebanyak 3,99 juta (92,04%), 70 juta anak <15 tahun terlindungi dari Polio, 35,3 juta anak di Pulau Jawa dan 23,4 juta anak di luar Pulau Jawa terlindungi dari Campak dan Rubella.

          Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) mencapai 57,9%, imunisasi tidak lengkap sebesar 32,9% dan tidak diimunisasi sebesar 9,2% (Kemenkes 2018).

          Sayang, cakupan imunisasi mengalami hambatan dengan datangnya Pandemi Covid-19. Berdasarkan survei cepat yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI dan UNICEF di bulan April 2020, menunjukan hasil 84% layanan fasilitas kesehatan terganggu, dan 76% takut terjangkit Covid-19 saat kunjungan imunisasi.

          Akibatnya, cakupan imunisasi dasar pada anak menurun selama pandemi Covid-19 pada 2020, dibandingkan setahun sebelumnya. Di Indonesia, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) turun dari 93,7 persen menjadi 82,6 persen di Indonesia (11,1 persen atau jauh lebih besar daripada rata-rata dunia yang sebesar 3 persen).

          Bahkan, sejak awal kasus Covid-19 merebak pada bulan Maret 2020, cakupan imunisasi rutin untuk anak seperti campak, rubella, dan difteri semakin menurun. Misalnya, tingkat cakupan imunisasi difteri, pertusis dan tetanus (DPT3), serta campak dan rubella (MR1) berkurang lebih dari 35% pada bulan Mei 2020, dibandingkan bulan Mei 2019.

 

Imunisasi saat pandemi Covid-19 di Salatiga Jawa Tengah

Petugas kesehatan menyuntikan vaksin kepada siswa saat kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di SD Negeri 5 Salatiga, Jawa Tengah, Rabu 26 Agustus 2020 (Sumber: Antara, 26/08/2020)

 

          Provinsi Banten mendekati target cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) sebesar 78,8%. Sementara, daerah lain yang cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di atas 60%, antara lain: Sulawesi Selatan, Bengkulu, Sumatera Utara, Bali, Gorontalo, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Timur dan Jambi. Pemerintah terus mendorong Dinas Kesehatan di pemerintah daerah untuk mengejar target cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) mencapai 79,1%.

          Berikut, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) Indonesia tahun 2019-2020.

 

Imunisasi Lengkap Indonesia tahun 2019-2020

Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) Indonesia tahun 2019-2020 (Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2021)

 

          Dengan cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) yang tinggi dan merata, maka Indonesia mampu mencegah sebaran kasus dan frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang berpeluang menyebabkan kematian. Seperti, sebaran kasus dan frekuensi KLB Campak di Indonesia dari tahun 2015-2017 yang menunjukan hasil sebagai berikut: 2015 (frekuensi KLB 282, kasus saat KLB 2.246 dan jumlah provinsi 27); 2016 (frekuensi KLB 351, kasus saat KLB 5.502 dan jumlah provinsi 29); dan 2017 (frekuensi KLB 349, kasus saat KLB 3.143 dan jumlah provinsi 30).

Strategi Imunisasi

          Sebagai informasi, Pekan Imunisasi Dunia (PID) merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan pada minggu ke-4 bulan April setiap tahunnya. PID menunjukan nilai penting dan manfaat imunisasi, untuk kesehatan anak-anak dan masyarakat dunia. Bertujuan untuk mengatasi kesenjangan cakupan imunisasi melalui peningkatan investasi program, dan menyampaikan bahwa imunisasi rutin lengkap merupakan dasar untuk kesehatan yang kuat.

          Anda bisa menyaksikan tayangan webinar online yang membahas tentang imunisasi, dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia (PID) di video berikut:

 

Webinar Pekan Imunisasi Dunia 2021: Bersatu Sehatkan Negeri (Sumber: Kementerian Kesehatan RI/Youtube)

 

          Kegiatan PID dilaksanakan lebih dari 180 negara anggota WHO yang fokus pada tindakan kolektif. Untuk menjamin setiap orang terlindungi dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

          Tindakan kolektif tersebut melibatkan semua sektor (LSM, perguruan tinggi dan organisasi profesi, tokoh agama dan tokoh masyarakat, jurnalis/media, masyarakat, dan dunia usaha). Mereka menggerakan semua sumber daya, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Masalah arti penting dan manfaat imunisasi rutin lengkap untuk mencegah KLB.

          Harus diakui, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) Indonesia masih harus mengejar target 95%. Agar, pencapaian IDL tinggi dan merata bisa diwujudkan, maka diperlukan strategi penguatan imunisasi, yang dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1.    Pelaksanaan defaulter tracking atau pelacakan bayi dan baduta yang belum lengkap status imunisasinya.

2.    Melakukan pelaksanaan imunisasi kejar untuk melengkapi status imunisasi pada anak yang belum lengkap atau belum mendapatkan imunisasi sama sekali.

3.    Melakukan peningkatan kompetensi petugas secara berjenjang, baik melalui peningkatan kapasitas secara langsung dan on the job training, maupun melalui virtual training.

4.    Meningkatkan kualitas pelayanan imunisasi melalui pelaksanaan supervisi suportif

5.    Peningkatan kesadaran dan keinginan masyarakat untuk imunisasi atau penerimaan masyarakat terhadap vaksin melalui pendekatan Human Centered Design.

6.    Penguatan jejaring Public Privat Mix atau kerjasama layanan kesehatan pemerintah dengan swasta.

7.    Vaccine Supplay Chain yang cukup dan tepat waktu.

          Bagaimana dengan pelaksanaan imunisasi Pemerintah Daerah? Sebagai contoh, program imunisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bali. Sesuai data dari Kemenkes RI bulan Oktober 2021, Bali mempunyai cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di atas 60%.

          Menarik, pelaksanaan imunisasi di Bali bukan hanya dilaksanakan di fasilitas kesehatan. Tetapi, tiap banjar giat melakukan imunisasi atas dukungan Kepala Banjar dan masyarakat setempat. Selain rumah warga, wantilan (aula) banjar menjadi tempat yang khas pelaksanaan imunisasi. Ibu-ibu muda yang sedang hamil dan membawa bayi atau anak menjadi pemandangan yang sering tampak di banjar-banjar. 

          Saat pandemi Covid-19, imunisasi di Bali tetap dilakukan. Sebagai contoh, imunisasi yang menyasar 12.483 siswa anak kelas 1 SD tanggal 14 September 2021 lalu. Pemberian imunisasi Campak dan  Rubella di sekolah-sekolah Kota Denpasar, dalam rangka Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).


 

Imunisasi kepada anak SD di Kota Denpasar saat Pandemi Covid-19Pemberian imunisasi Rubella pada seorang siswa SD di kawasan Sesetan Denpasar (Sumber: Tribunbali, 14/09/2021)

 

          Juga, tidak kalah menarik adalah pelaksanaan imunisasi JE di Bali yang berjalan sukses. Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak yang disebabkan oleh virus Japanese Encefalitis, termasuk Family Flavivirus.

          Pelaksanaan vaksinasi JE di Bali pada bulan April 2018 lalu, merupakan kampanye imunisasi JE khusus di Bali, karena merupakan daerah endemis JE. Laporan Kemenkes RI menyatakan bahwa cakupan program imunisasi tersebut mencapai 100% dengan sasaran seluruh bayi usia 10 bulan.

          Kesuksesan pelaksanaan imunisasi di Bali tentu didukung oleh kolaboratif lintas sektor, yaitu pemerintah daerah, semua perangkat pemerintah daerah yang ada, dan stakeholder yang terlibat hingga ke tingkat banjar.

          Bali sebagai destinasi wisata dunia akan menjadi sorotan dunia. Maka, pelaksanaan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) menjadi prioritas utama. Apalagi, berita hoax tentang kasus kematian yang disebabkan oleh Japanese Encephalitis (JE) pernah menjadi berita media Australia. 

              Yuk, ciptakan kondisi sehat kini dan nanti, bersama kita imunisasi. 

No comments:

Inagurasi Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi di Jawa Tengah

  Boiler Biomassa Industri Pertama Berbahan Sekam Padi yang ada di PT. PT Sarihusada Generasi Mahardhika, Klaten, Jawa Tengah (Sumber: Danon...