Saturday, November 11, 2017

Secangkir Kopi Kapal Api dan Cerita Indah Indonesia




Secangkir Kopi Kapal Api dan Semangat untuk Indonesia
(Sumber: dokumen pribadi)





Gugusan pulau-pulau Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke memberikan pesona alam yang luar biasa. Keindahan lansekap Indonesia yang mempesona bagai zamrud khatulistiwa. Kandungan sumber daya alam juga memberikan kemakmuran bagi masyarakat. Tidak salah jika penyanyi legendaris Koes Plus memberikan kesan Indonesia “Tanam kayu dan batu jadi tanaman” dalam lagunya.
Tak terkecuali berbagai jenis kopi khas Indonesia dari Kopi Gayo Aceh hingga kopi Papua. Setiap kopi memberikan ciri dan aromanya masing-masing. Dan, kopi yang dikemas dalam bungkus yang beranekaragam beredar di Indonesia. Salah satu kopi kebanggaan Indonesia yang beredar adalah Kopi Kapal Api.  Kopi Kapal Api memberikan aroma yang khas karena dibuat dari biji kopi pilihan yang menghasilkan kopi yang harum dan enak.  Itulah sebabnya Kopi Kapal Api memberikan kepuasan karena rasa kopinya Jelas Lebih Enak.
Minum secangkir kopi sembari menikmati keindahan alam adalah pengalaman yang tak terlupakan. Kopi Kapal Api yang dipetik dari biji kopi pilihan alam Indonesia selalu menyisakan cerita indah betapa kaya dan suburnya tanah air Indonesia. Saat anda melihat perkebunan kopi di dataran tinggi dan diselimuti dengan udara yang sejuk menimbulkan kebanggaan kopi dan keindahan alam Indonesia tak terpisahkan.

Indahnya Indonesia
Dua minggu yang lalu, menikmati secangkir kopi memberikan inspirasi untuk mengabadikan keindahan alam Indonesia dalam jepretan lensa dan tulisan. Saya melakukan perjalanan darat dari Ngawi Jawa Timur menuju Denpasar Bali yang jaraknya kurang lebih 700 km. Sambil menyelam minum air, kata pepatah. Melakukan perjalanan darat yang melelahkan diisi dengan menikmati keindahan alam pulau Jawa dan Bali pada tempat-tempat tertentu.
            Sehabis sholat ashar, saya menyempatkan diri menikmati secangkir Kopi Kapal Api untuk memberikan efek kenyang karena kandungan sedikit gula yang ditambahkan pada kopi tersebut. Bukan hanya itu, efek minum kopi menurut sugesti orang mampu mencegah rasa kantuk. Karena perjalanan dari Ngawi hingga Probolinggo Jawa Timur menghabiskan waktu di malam hari maka tidak ada spot keindahan alam yang bisa diabadikan.  Waktu sore hari hingga menjelang pagi diisi dengan konsentrasi mengendarai sepeda motor. Dan, perjalanan berhenti atau istirahat setiap rasa kantuk menyerang dan waktu sholat wajib tiba.
            Saat surya mulai bangkit dari peraduannya, perjalanan terhenti karena keindahan Pantai Blitok di Kabupaten Situbondo. Pantai yang berdekatan dengan jalan raya memberikan sensasinya saat pantulan sinar mentari menghiasi air laut. Pantulan itu mengenai perahu cadik nelayan yang terparkir di pinggir pantai. Hiasan gugusan bukit yang berada di sebelah jalan raya terpantul indah di air laut yang bening.


Pantai Blitok Situbondo Jawa Timur (Sumber: dokumen pribadi)


Tidak jauh dari saya berdiri, muncul pelan-pelan perahu nelayan siap melepaskan sauh. Kurang lebih 20 awak perahu siap-siap menurunkan hasil tangkapan dan pulang ke rumah masing-masing. Tentunya, sang istri dan anak tercinta sedang menunggunya di rumah dan bangga atas rejeki ikan tangkapannya. Menarik, sebelum buru-buru pulang ke rumahnya, mereka menyempatkan diri menikmati secangkir kopi Kapal Api sembari meluapkan kepenatan dan gelak tawa di antara cangkir-cangkir yang beradu dengan mulut dan kepulan asap rokok.



Nelayan di Pantai Blitok Situbondo Jawa Timur (Sumber: dokumen pribadi)



Saya kagum kerja keras mereka. Saya mencoba menyapanya. “Hasil tangkapannya lumayan banyak pak” tanya saya untuk menghilangkan rasa lelah pada raut wajahnya. “Iya mas, lumayan buat lauk di rumah” jawabnya sambil menunjukan ikan tangkapan. Saya memahami betapa gembira bercampur lelah pada wajah mereka. Teringat, saat saya menjadi nelayan di Teluk Banten Jawa Barat hingga Pantai Lampung. Ketika jaring panjang mulai diturunkan (setting) dan perahu bergerak membentuk huruf U maka tidak lama akan mendulang tangkapan ikan.
Di tengah-tengah jaring berbentuk U, harus ada orang yang nyebur ke laut. Dia bergerak seperti bebek dan tangannya lincah menepuk-nepuk air laut agar ikan Tuna bergerak ke  jaring. Lantas, pekerjaan semakin berat saat hauling (menarik jaring tangkapan) dengan tangan-tangan terampil awak kapal yang membutuhkan tenaga prima. Sesekali, mereka harus menangkap ikan yang hendak meloloskan diri. Inilah pengalaman indah menikmati hasil alam Indonesia.
            Perjalanan darat menuju Bali berlanjut kembali. Selama perjalanan tiada hentinya menikmati alam sekitar. Tidak sampai satu jam perjalanan, saya memutuskan untuk berhenti kembali karena keindahan bukit atau pegunungan di kawasan Melanding Situbondo untuk diabadikan dalam jepretan lensa. Para petani mulai bergerak lincah ke sawah-sawah garapannya.  Jalan kecil yang ditumbuhi rerumputan di bagian pinggir dan sedikit berbelok menjadi spot untuk diabadikan. Berlatar belakang gugusan bukit atau pegunungan indah dan sawah-sawah yang ditanami tumbuhan bawang merah menjadi kenangan indah bahwa “saya pernah mengabadikan indahnya Indonesia di sini!”.



Keindahan alam di Melanding Situbondo Jawa Timur
(Sumber: dokumen pribadi)


Sebenarnya, saya mau istirahat sejam untuk menikmati hembusan angin pegunungan di bawah pohon kersen yang berada di pinggir jalan desa. Sesekali menikmati buah kersen yang mulai memerah dan manis penambah gizi. Saya juga berusaha menikmati adukan kopi di warung yang tidak jauh dari saya berdiri. Tapi, hati saya mengatakan, “buruan bro, mumpung masih pagi agar sampai di Ketapang Banyuwangi sebelum waktu Dhuhur”. Akhirnya, waktu menikmati adukan kopi Kapal Api terpaksa ditunda dahulu.
Kurang lebih 2,5 jam, saya sampai di perbatasan Situbondo-Banyuwangi setelah melewati Taman Nasional Baluran yang berjuluk “African of Java”. Lintasan sepanjang 22 km dipenuhi pohon jati di kanan dan kiri jalan. Deretan  pohon jati yang berbaris rapi itu tidak terkesan horor saat saya melewatinya di malam hari yang gelap tanpa Lampu Penerangan Jalan (LPJ). Keluar dari hutan nasional tersebut, tunggangan bergerak lincah menembus pekatnya debu jalanan. Tidak terasa, pandangan mata tertuju pada papan nama di sebelah kiri “Rumah Apung Bangsring dan Pantai Mutiara Pulau Tabuhan”. Dan, sepeda motor bergerak ke kiri menembus jalanan selebar 2 meter yang masih dihuni dengan aspal yang mengelupas disertai bebatuan. Kurang lebih 1,5 km, pemandangan pantai yang indah menghipnotis saya. Pemandangan Rumah apung di tengah laut menjadi wisata menarik. Saya ingin rasanya terbang dan singgah di pulau Tabuhan yang eksotis di tengah Selat Bali. Tetapi, panasnya mentari memberi tanda bahwa saya harus buru-buru ke Pelabuhan Ketapang.  


Rumah Apung Bangsring Banyuwangi Jawa Timur
(Sumber: dokumen pribadi)


Sebelum antri memasuki kapal penyeberangan, saya menyempatkan diri untuk menikmati secangkir Kopi Kapal Api di warung yang berada tidqk jauh dari pelabuhan tersebut.  Rasa kembung dan gerah selama perjalanan sepertinya menghinggapi tubuh. Tetapi, efek hangatnya Kopi Kapal Api membuat badan menjadi berkeringat. Lantas, rasa “sendawa” muncul secara tiba-tiba. Gorengan tempe yang ada menjadi pengganjal perut untuk menemani secangkir kopi yang mulai habis.
Kini, badan mulai segar kembali dan perjalanan pun dilanjutkan. Untung, antrian kendaraan tidak begitu padat. Jadi, setelah tiket penyeberangan di tangan, langsung meluncur ke dalam geladak kapal. Birunya air laut karena pantulan langit dan jembatan penyebarangan masuk kapal penyeberangan menjadi pemandangan indah dalam jepretan kamera. Berbagai nama kapal feri berlabuh, pindah haluan, dan bergerak pelan untuk membawa penumpang menuju Pelabuhan Gilimanuk Bali. Dan, kapal feri yang saya tumpangi pelan tapi pasti mulai menembus ombak Selat Bali.



Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Jawa Timur  (Sumber: dokumen pribadi)


Pesona Bali
Perjalanan di pulau Bali selalu memberikan cerita indah. Keindahan alam, panjangnya pantai dan indahnya sawah yang mulai dipenuhi padi berwarna keemasan selalu menarik untuk diabdaikan. Tetapi, perjalanan benar-benar berhenti saat mendekati perbatasan Kota Negara Kabupaten Jembrana bagian timur.  Saya terpesona dengan pura besar dekat kantor dinas Bupati Jembrana berpagar indah dengan hiasan patung 5 wanita cantik penari Bali yang gemulai seakan-akan ingin menyambut kedatangan saya. Objek yang indah pun masuk dalam jepretan lensa kamera.



Patung wanita penari Bali (Sumber: dokumen pribadi)


Panas matahari mulai menyengat dan membakar tubuh. Saya bergerak cepat menuju Denpasar. Jalan berkelok-kelok, naik dan turun serta harus beradu dengan para monster jalanan, truk besar atau tronton membuat saya harus mengambil langkah hati-hati. Tidak sampai satu setengah jam, perjalanan  berhenti kembali karena pemandangan indah Pantai Yeh Leh dipenuhi bebatuan besar dan kecil.  Pantai ini berlokasi di perbatasan Kabupaten Jembrana dan kabupaten Tabanan. Riak gelombang bergerak konstan menerjang bebatuan. Sesekali air laut pun muncrat ke atas setelah beradu dengan bebatuan.


Pantai Yeh Leh yang diselimuti bebatuan (Sumber: dokumen pribadi)


Selanjutnya, saya memutuskan melanjutkan perjalanan kembali hingga Denpasar. Kurang lebih pukul 16.30 WITA tiba di tempat tinggal untuk mencari sesuap rejeki di pulau Dewata. Rasa capai dan pegal tubuh perlahan hilang setelah mandi sore hari. Tidak lupa, secangkir kopi Kopi Kapal Api hangat menemani saya. Semangat untuk mencintai keindahan Indonesia yang dieja dalam baris-baris kata yang bermakna.    


  

Menikmati Kopi Kapal Api setelah melakukan perjalanan jauh
(Sumber: dokumen pribadi)


Secangkir Kopi Kapal Api memberikan inspirasi untuk mengisahkan perjalanan indah pulau Jawa dan Bali. Ketukan tuts dalam piranti yang dilipat mulai bekerja yang ditandai gerakan layar monitor dengan susunan bait-bait kata yang dirangkai menjadi cerita indah Indonesia. Dan, sruputan Kopi Kapal Api setia menemani hingga cerita indah siap dibagikan dalam blog pribadi.   Membuat cerita indah dalam goresan pena digital makin asik ditemani aroma khas kopi dari biji pilihan yang memberikan rasa Jelas Lebih Enak. Karena Kopi Kapal Api, cerita indah Indonesia layak untuk disajikan agar Semangat untuk Indonesia tidak hilang meski ditelan  waktu.    
  


Setiap kata dirangkai indah untuk menjadi cerita indah Indonesia
dan Kopi Kapal Api memberikan Semangat untuk Indonesia

(Sumber: dokumen pribadi) 


8 comments:

Annisa Rizki Sakih said...

Subhanallah pemandangannya indah sekali ya pak. Memang dengan secangkir kopi yang mantap, penat di perjalanan bisa hilang seketika.

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

Alhamdulillah mbak. Itulah indahnya Indonesia.Dan, kopi selalu memberikan inspirasi. Salam hangat.

Hamid Anwar said...

Mantep sekali ceritanya pak. Pake motor ya

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@Hamid Anwar : Benar mas. Motornya masih di dealer, belum tak ambil. He He He Salam hangat.

Nurul Rahmawati said...

Kopi kapal Api memang favorit bangettt
--bukanbocahbiasa(dot)com--

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@Nurul Rahmawati: Benar mbak. Bisa mencegah gagal fokus.

Ali Muakhir said...

Mantab ya Mas

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@Ali Muakhir: Bener mas. Kopinya maknyus. Perjalanannya menguras tenaga. Salam hangat.

Cerita Asyik di Kapal Ferry, Antara Jaket Pelampung, Musik Osing dan Selat Bali

Kapal Ferry di jalur penyberangan Selat Bali  (Sumber: dokumen pribadi) Pulau Bali selalu menawan bagi siapa saja baik wisata...