Wednesday, May 9, 2018

Meraih Cerita Indah Peradaban Islam di Andalusia for Adinda Azzahra Tour


Abdurrahman Ad-Dakhil berjuluk Rajawali dari Quraisy, memerintah Andalusia selama 32 tahun dan meninggal pada 172 H dalam usia 61 tahun (Sumber: Republika.co.id)



Sepakbola merupakan olahraga yang digemari hampir seluruh penghuni bumi. Betapa hebatnya sI kulit bundar menjadi rebutan 20 orang dalam sebuah kawasan persegi panjang. Sebuah kawassan yang mampu mengaduk-aduk dan menguras emosi milyaran pasang mata masyarakat dunia saat Piala Dunia. Dan, dari sinilah lahir para pemain-pemain sepakbola  kelas dunia yang siap dikontrak hingga triliunan rupiah per musimnya. Bukan  itu saja, distribusi uang yang fantastis akan mengalir deras ke para pemain klub sepakbola kelas dunia.
Dari sekian banyak liga sepakbola dunia, saya selalu terkesima dengan para pemain yang merumput di Liga Spanyol. Saya ngefans berat sama klub Barcelona. Tetapi, saya selalu dibuat melongo ketika menyaksikan  tim lawan jagoan saya beradu bola. Tak bisa dipungkiri lagi, para pemain kelas dunia banyak merumput di klub-klub papan atas seperti Barcelona, Real Madrid, Atletico Madrid, Valencia, Sevilla, Granada, Malaga, Cordova dan lain-lain.
Mengapa saya begitu kagum pada klub-klub sepakbola Liga Spanyol, khususnya Barcelona? Yang jelas, bukan karena para pemain yang ganteng-ganteng. Tetapi, ada hal lain yang lebih spesifik. Ya, sejarah Andalusia! Saya selalu membayangkan jika para pemain tersebut  adalah para pemain kelas dunia yang terlahir dari kawasan yang “dulu” melahirkan peradaban Islam termasyhur di benua Eropa. Andalusia memberikan pemahaman bahwa Islam pernah menguasai sebuah wilayah di benua Eropa selama kurang lebih 8 abad lamanya. Sebuah rentang waktu lama yang banyak meninggalkan kenangan mendalam tentang peradaban Islam.
Peradaban Islam yang melegenda itulah yang menyebabkan banyak traveler mencoba untuk menelusuri jejak peradaban Islam tempo dulu. Bukan itu saja, dengan menggeliatnya wisata halal maka banyak Tour & Travel yang menawarkan paket perjalanan menarik dan relegius untuk meraih cerita indah tentang peradaban Islam di Andalusia. Salah satu perusahaan Tour & Travel yang siap mendampingi para wisatawan untuk bernostalgia menikmati jejak peradaban Andalusia adalah Adinda Azzahra Tour

Cerita Indah Kejayaan Islam
Sejak SD, saya selalu merinding setiap diceritakan oleh Guru, Kyai atau Ustad tentang betapa hebatnya peradaban Islam tempo dulu di Andalusia yang menguasai wilayah Spanyol dan sebagian Portugal. 
“Nak, anda tahu nggak dulu di Eropa dikuasai peradaban Islam” kata sang Guru.
“Kapan pak?” Tanya sang murid penasaran.
“Dulu, nak!” jawab sang Guru.
“Kapan pak?” tanya sang murid lagi.
“Duluuu banget nakkkk!” jawab sang Guru meyakinkan.
Sayang, generasi milenial belum menyadari bahwa betapa hebatnya di balik sejarah perjalanan panjang Andalusia. Di mana, wilayah yang mayoritas penduduknya beragama non Muslim justru merupakan kawasan yang mengalami pesatnya peradaban Islam. Mengagumkan, Andalusia telah menyuguhkan “kenangan indah” peradaban Islam yang tetap diingat masyarakat Muslim dunia. Andalusia merupakan negeri yang indah dan eksotis, tunduk dalam pemerintahan Islam sejak tahun 92 H/711 M hingga tahun 797 H/1492 M. Bukan itu saja, kekhilafahan Islam dan dinasti-dinasti kaum muslimin, berhasil mengubah wilayah di daratan Eropa itu menjadi simbol kegemilangan peradaban dan kekuatan kaum muslimin.
Menurut sejarah, Agama Islam masuk ke Spanyol pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Dulu, Spanyol dikenal dengan nama Iberia atau Asbania. Lalu, disebut Andalusia ketika negeri itu dikuasai bangsa Vandal. Dari kekuasaan Vandal, orang Arab menyebutnya dengan nama Andalusia. Spanyol ditaklukan pasukan Islam pada masa khalifah Al-Walid Bin Abdul Malik, di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad dan Musa Ibn Nushair. Pada tahun 756 M, Cordova menjadi ibukota dan pusat pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol, setelah bani Umayyah yang ada di Damaskus jatuh ke tangan Bani Abbas tahun 750 M.
Ada 3 (tiga) pahlawan Islam yang sangat berjasa dalam proses penguasaan Islam di Spanyol, yaitu: 1) Tharif Ibn Malik sebagai orang pertama yang sukses menyebrangi selat antara Maroko dan benua Eropa; 2) Thariq Ibn Ziyad sebagai penakluk Spanyol karena mengalahkan Raja Roderick dalam pertempuran di wilayah Bakkah tepatnya 19 Juli 711 M; dan 3) Musa Ibn Nushair yang berhasil menyeberangi beberapa selat Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida ditaklukkan dari penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela.
Kini, peradaban Islam di tanah Andalusia telah meninggalkan berbagai kenangan atau bukti yang menjadi warisan dunia dan tujuan wisata yang mengagumkan. Bangunan-bangunan model Moor dengan nilai estetika yang tinggi menjadi “pengingat” bahwa peradaban Islam telah merubah pola pikir bangsa Eropa saat itu. Lantas, timbul pertanyaan yang menggugah alam pikir kita yaitu apa yang menjadi penyebab kehancuran peradaban Islam yang sangat digdaya?.
Salah satu penyebab jatuhnya peradaban Islam di Andalusia adalah ketika Kerajaan Granada yang dipimpin oleh Abu Abdillah Muhammad Ash-Shagir dari Bani Al-Ahmar, berhasil ditaklukkan oleh aliansi kerajaan Kristen di Andalusia. Kerajaan Granada (Istana Al-Hambra) jatuh ke tangan kerajaan Kristen pada tahun 1492 M yang diiringi dengan linangan air mata sang raja. Sang ibu, Aisyah Al-Hurrah, yang berdiri di samping anaknya berusaha menenangkan hati anaknya.

“Kini kau menangis seperti seorang perempuan, padahal kau tak pernah melakukan perlawanan sebagaimana seorang lelaki sejati…”

Menurut sejawaran Mesir Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya berjudul “Qishah Al-Andalus” (Kisah Andalusia) menyatakan bahwa kejatuhan kerajaan Granada tentu dilatarbelakangi beberapa faktor penting, seperti: 1) Gaya hidup yang mewah dan glamour dari para pemimpin Islam; 2) Sibuk dengan urusan dunia dan meninggalkan semangat jihad; dan 3) Merebaknya berbagai kemaksiatan dan kemungkaran yang dibiarkan.

“Waspada dirimu dari kemewahan, kerena sesungguhnya para hamba Allah bukanlah orang-orang yang mewah.” (HR. Ahmad) 


Selain faktor penyebab kejatuhan kerajaan Islam di Andalusia, ada hal menarik yang jarang diketahui banyak orang, yaitu Ziryab. Ziryab merupakan tokoh penting yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebab jatuhnya peradaban Islam Andalusia. Ziryab dianggap sebagai biang kerok yang mampu melenakan umat. Ziryab adalah seorang penyanyi Baghdad yang berguru pada Ibrahim Al-Maushili (guru besar musik). Karena Ziryab lebih terkenal dibandingkan gurunya maka sang Guru iri padanya. Akhirnya, sang guru membuat sebuah rencana dan tekanan kepada Ziryab agar pergi dari Baghdad karena takut mengungguli ketenarannya. Singkat cerita, Ziryab pun berangkat dari Baghdad menuju Andalusia, berbekal alat musik dan pengetahuan hikayat serta syair-syair puitis.
Kedatangan Ziryab diterima baik oleh masyarakat Andalusia dan  menghadap Khalifah, menyanyikan lagu-lagu terbaiknya, mendatangi pertemuan masyarakat dan bersyair dengan kelihaiannya. Ziryab mulai memasuki babak baru, yaitu mengajarkan not-not nada kepada generasi muda muslimin, hingga menjauhkan mereka dari pelajaran Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama. Bahkan, Ziryab juga mengajarkan seni mode, pakaian musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur. Bahkan, ada model pakaian khusus untuk setiap momen yang bersifat khusus maupun umum.
Dampak dari Ziryab adalah memalingkan majelis-majelis ilmu yang diisi para Ulama. Bahkan, pengaruh Ziryab dengan lagu-lagunya menyebar di seantero Andalusia, lalu menjadi gelombang besar hingga Aljazair, Maroko dan Tunisia. Itulah sebabnya, saat ini masyarakat di sana lebih mengenal Ziryab daripada Khalifah Abdurrahman Ad-Dakhil yang mendirikan Bani Umayah dan memerintah Andalusia selama 32 tahun atau Abdurrahman Al-Ausath yang mencintai ilmu pengetahuan.


Ziryab dan alat musiknya (Sumber:  Archive.thedailystar.ne)


Peradaban Memukau Dunia
Mengapa Andalusia begitu memukau dunia? Karena, Andalusia telah menghasilkan peradaban Islam yang luar biasa, toleransi beragama, puisi, musik, ilmuwan terpelajar dan sarjana seperti Averroës, perpustakaan besar (perpustakaan utama di Cordoba sendiri memiliki 400.000 buku), pemandian umum, dan arsitektur indah (seperti kompleks istana di Al-Hambra dan Masjid Agung Cordoba).
Andalusia sangat terkenal dengan arsitektur Moor-nya. Monumen-monumen yang  terkenal dan terletak di Andalusia yang masih dapat ditemui antara lain Istana Al-Hamra di Granada, Mezquita di Cordoba, menara Torre del Orro dan Giralda di Sevilla serta Reales Alcazares di Sevilla. Selain itu, terdapat pula sisa-sisa penggalian arkeologis seperti Medina Azzahara yang berlokasi dekat Córdoba dan Italica, Sevilla.
            Yang unik, Cordoba dinyatakan oleh UNESCO sebagai salah satu kandidat untuk pusat kebudayaan Eropa pada tahun 2016. Padahal, tidak seperti Granada, Cordoba terasa lebih Spanyol, nuansa Islam di sana tidak begitu kental. Di antara beberapa bangunan peninggalan Islam di Spanyol, yang paling menyentuh adalah Masjid Agung Cordoba (Grand Mosque), yang dibangun pada abad ke-8 oleh Emir Abdul Rahman. Saat ini, Masjid Agung Cordoba menjadi daya darik utama sebagai warisan kejayaan Islam masa lalu.
Bangunan yang menarik peninggalan kejayaan Islam di Andalusia adalah Masjid-Katedral Cordoba. Bangunan tersebut pada awalnya sebuah gereja yang dibangun oleh kaum Visigoth. Saat Muslim menguasai Andalusia tahun 711 M, bangunan gereja tersebut dibagi menjadi 2 bagian, separuh sebagai gereja dan separuhnya lagi sebagai masjid. Pada tahun 784 M, Khalifah Abd al-Rahman I membeli separuh bagian gereja tersebut dari kaum Kristen dan dibangunlah sebuah masjid besar Cordoba.


Mosque–Cathedral of Cordoba atau Masjid-Katedral Kordoba
(Sumber: Spain.Photos.com/Thinkstock)


Tempat lain yang menarik sebagai bukti jejak peninggalan Islam di Andalusia adalah Al-Hamra yang merupakan kompleks istana Kerajaan Moor yang terletak di atas sebuah bukit di Granada. Perlu diketahui bahwa nama Al-Hamra diambil dari Bahasa Arab "al-hamra" yang mempunyai arti "yang berwarna merah". Itulah sebabnya, seluruh kompleks bangunan Al- Hamra berwarna kemerah-merahan. Bangunan Al-Hamra pertama kali dibangun pada tahun 889 M hanya sebagai benteng pertahanan kecil. Pada pertengahan abad ke-11, benteng tersebut diruntuhkan, kemudian dibangun kembali sebagai istana kerajaan oleh Emir (pemimpin) Granada pada saat itu.


Istana Al-Hamra di kota Granada Spanyol (Sumber: yokosoeropa.com)


Melangkah ke daerah Sevilla, jejak peradaban Islam bisa anda temukan pada salah satu bangunan menarik seperti Alcazar of Seville (Reales Alcázares de Sevilla). Sebagi informasi, Alcazar of Seville merupakan istana kerajaan yang dibangun oleh para raja Muslim Moor di Seville. Alcazar berasal dari Bahasa Arab “al-qasr” yang berarti “istana; kastil; benteng”., Bangunan tersebut dikenal sebagai bangunan yang berarsitektur terindah di Spanyol. Bahkan, bangunan tersebut masih digunakan sebagai istana dan tempat tinggal resmi keluarga Kerajaan Seville hingga kini. Apalagi, bangunan tersebut merupakan istana kerajaan tertua yang masih digunakan di wilayah Eropa.


Alcazar of Seville (Sumber: catatantraveling.com)


Peradaban Islam Andalusia juga meninggalkan model arsitektur rumah atau kawasan perkampungan yang unik. Tersebutlah kawasan Albayzin (Albaicin) merupakan salah satu distrik di Granada yang dipenuhi oleh arsitektur rumah-rumah penduduk dengan lorong-lorong kecil yang merupakan ciri khas pemukiman bangsa Moor seperti pemukiman Old Town Medina di Marrakesh, Maroko. Albayzin dimasukkan ke dalam UNESCO sebagai World Heritage Site pada tahun 1994 karena eksistensinya yang berdekatan dengan Al-Hamra.



Albayzin (Albayzín) (Sumber: catatantraveling.com)


Menapaki jejak peradaban Islam di Andalusia bagai terlempar ke masa silam di mana Islam menjadi bahan studi banding bagi negara-negara Eropa. Delapan abad bukan waktu yang singkat. Islam telah menorehkan sejarah yang gemilang yang bisa kita lihat bukti-buktinya hingga kini. Jadi, saat guru, Kyai atau ustad mengatakan kepada muridnya bahwa dulu di Andalusia telah mengibarkan kejayaan Islam di benua Eropa maka semestinya generasi sekarang bisa meraih cerita indah tersebut dengan menelesuri jejak peradaban yang tetap ada hingga sekarang.
Jadi, saat saya melihat Lionel Messi atau Christiano Ronaldo mengocek si kulit bundar di lapangan rumput yang hijau Camp Nou atau Santiago Bernabeu maka saya seperti melihat mereka sedang bermain cantik di antara para pejuang Islam di bawah pimpinan Khalifah Abdurrahman Ad-Dakhil. Andaikata waktu bisa dibalik, maka saya seperti merasakan para kyai atau ustad sedang mengajarkan ilmu Hadits, Tauhid dan sebagainya. Sayang, waktu tetaplah bergerak ke masa depan. Kini, kaum muslim dunia hanya bisa meraih cerita indah dengan menikmati jejak peradaban Islam Andalusia yang tetap terjaga hingga kini. Wassalam.

Jika anda ingin melakukan pendaftaran paket tour ke seluruh negara, khususnya Benua Eropa, bisa hubungi langsung ke:


Kantor Pusat
Adinda Azzahra Tour & Travel
Jalan Selat Bali No. 5 Blok E 11 Kavling AL
Duren Sawit, Jakarta Timur – Indonesia.
021-8660 5394  0818 753 826
0812 9563 6373 / 0813 8512 7171
Follow Sosial Media (Sosmed)




Referensi:


1 comment:

Tegar Santosa said...

makasih informasinya.. baca juga artikel menarik seputar muslim travel. diantaranya beberapa masjid dengan kecanggihan yang luar biasa.. http://teziger.blogspot.com/2018/05/5-masjid-termegah-dan-tercanggih-di-dunia.html

Signify Resmikan Philips Home Lighting Store Baru di Bali

Pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Rami Hajjar  (Presiden Direktur Signify) pada peresmian Philips Home  Lighting Store Bali (Sum...