Sunday, June 17, 2018

Sawah, Sungai dan Kuburan, Tempat Bermain Waktu Kecil di Bulan Ramadhan


Masa kecil sungguh menyenangkan (Sumber: loop.co.id)



Hidup di kampung halaman, Brebes Jawa Tengah benar-benar menyenangkan. Apalagi, kehidupan masa kecil saat bulan Ramadhan. Jika bulan Ramadhan datang maka minggu pertama adalah masa libur sekolah.  Sebagai anak kecil, maka menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita adalah hal wajar.
Bukan, karena pahala yang berlipat ganda. Bukan karena memahami benar malam Lailatul  Qodar  sebagai malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Tetapi, masa yang bebas dari pelajaran sekolah.
Tetapi, ciri khas libur 1 minggu di awal bulan Ramadhan adalah masa yang selalu menggembirakan. Karena, saya akan lebih bebas pergi ke sawah, jalan-jalan ke sungai yang jaraknya hanya 1,5 km dari rumah dan pergi ke pesarean atau kuburan untuk mencari asam yang setengah matang. Dalam bahasa anak kecil waktu itu disebut sebagai Asam “mladaki”.

“Nguli” Panen Padi
Keluarga saya bukanlah orang kaya atau juragan  yang mempunyai berhektar-hektar sawah. Bapak saya hanyalah seorang petani dan mandor berhektar-hektar sawah milik tetangga satu gang yang letak sawahnya terletak kurang lebih 25 km dari kampung halaman. Bapak selalu bekerja keras untuk membuat rumah baru yang lebih layak.
Ya, rumah keluarga saya hanyalah rumah berdinding bambu yang dicat pakai batu kapur warna putih. Ketika dimakan usia maka cat kapur tersebut semakin lama akan mengelupas. Dan, makin lama timbul lubang sehingga saya bisa melihat ke luar rumah dari lubang-lubang dinding tersebut. Begitu sebaliknya.
Setelah pensiun menjadi mandor, Bapak berusaha untuk menyewa tanah  sebagai tempat kesibukan keluarga. Tapi, entah nasib yang selalu sial maka saat keluarga mempunyai  sawah sendiri justru kerugian yang selalu didapat. Karena Banjirlah, dimakan werenglah, harga gak cocoklah dan sebagainya.
Maka, menjadi buruh panen padi (derep) menjadi kegiatan rutin saat bulan Ramdhan. Karena, biasanya bulan Ramadhan adalah saat panen raya. Dan, saya menghabisi masa kecil dengan membantu orang tua memanen padi milik orang lain alias menjadi kuli panen padi.
Sebenarnya, orang tua tidak memaksakan saya untuk membantu mereka. Tetapi, rasa kepedulian seorang anak Sekolah Dasar (SD) justru lebih besar daripada hanya berpangku tangan di rumah. Tidak tega rasanya melihat orang tua berpanas-panasan di sawah mencari nafkah buat anak.    
            Sengatan sinar matahari di sawah, merontokkan padi yang telah dipotong pada sebatang kayu yang didesain sebagai alat perontok, mengemas dan mengangkatnya ke rumah sang juragan yang jaraknya kurang lebih 5 km membuat badan benar-benar capai “tujuh turunan”.
Harus melewati pematang sawah atau galengan seperti jalan kerbau. Uniknya, saya tak ada pikiran sama sekali untuk membatalkan puasa. Salah satu cara terbaik untuk mempertahankan puasa adalah menenggelamkan badan di air sawah. Dan, badan menjadi segar kembali.


Membantu orang tua memanen padi 
(Sumber: sumampir.penadesa.or.id)


            Bagaimana dengan upah padi? Jaman kecil dulu berlaku sistem 5 bagian. Maksudnya, 1 bagian buat kuli panen padi dan 5 bagian bagi sang juragan pemilik sawah. Jadi kalau ingin mendapatkan padi basah satu karung maka perlu mendapatkan padi basah sebanyak 6 karung. Luasan sawah yang dipanen kurang lebih 400m2.
            Dan, masa kecil yang tidak pernah saya lupakan hingga kini adalah berbuka puasa dengan timun suri berbalut gula dan es batu. Rasa lelah sehabis panen padi milik orang lain langsung hilang seketika. Bukan itu saja, melihat ruang tamu yang dipenuhi dengan padi basah sebagai hasil jerih payah “nguli” panen padi menjadi sebuah kebanggaan dan bekal untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran).

Mencari Ikan 
Libur minggu pertama di bulan Ramadhan juga menjadi kesempatan terbaik buat hangout khas anak desa. Bukan nongkrong di warung makan seperti sekarang atau jalan-jalan ke mall gaya anak Jaman Now. Yang membuat heran saya hingga sekarang adalah teman sepermainan yang berasal dari satu gang yang memanjang dari arah barat ke timur yang  panjangnya kurang lebih 1 km.
Di pertengahan gang desa tersebut terbelah sungai kecil atau selokan. Nah, masa kecil saya justru dihabiskan dengan teman-teman satu gang yang letaknya di sebelah timur selokan tadi. Sementara saya tinggal di sebelah barat selokan tersebut.
Ada kesan waktu kecil bahwa anak-anak yang terletak di sebelah barat selokan, jangkauan mainnya hanya sekitar satu gang saja. Bisa dibilang kurang gaul atau banyak dikekang orang tuanya karena mayoritas orang berkecukupan meskipun keluarga saya termasuk keluarga biasa. Dan, sepertinya pesan para orang tua ke anaknya, “Tong, ari dolanan aja mana-mana ya” (Nak, kalo bermain jangan ke mana-mana ya) benar-benar dipatuhi anak-anak gang barat selokan waktu itu.
Lain dengan anak-anak timur selokan yang terkesan anak “petualang”, mereka jangkauan mainnya hingga ke gang sebelahnya. Bahkan, hingga ke sungai dekat kuburan yang letaknya urang lebih 1,5 km dari batas kampung.
Nah, karena jiwa saya suka “ngebolang” maka saya berusaha untuk merapat ke anak-anak timur selokan yang notabene teman sekolah SD. Dari pergaulan inilah, jangkauan main masa kecil sungguh luar biasa.
Kami suka berpetualang mencari penghasilan khas anak kecil. Ya, suka menjelajah setiap sudut sungai  untuk mencari ikan. Cara mencari ikannya pun lebih ekstrem, bukan pakai pancing tapi langsung menangkap dengan tangan. Oarang desa lebih mengenal sebagai “gogoh”.


Mencari ikan dengan tangan yang di kampong saya 
dikenal dengan nama “gogoh” (Sumber: video.com)


Jika sungai timur desa dalam keadaan agak surut, maka saya dan teman-teman melakukan “gogoh” dari arah selatan ke utara sungai sejauh kurang lebih 1km. Pengalaman “kepatil” tangannya oleh sirip ikan bukanlah hal yang aneh.
Saya pernah mengalami tangan membiru karena kepatil sejenis ikan lele. Orang desa lebih mengenal dengan nama ikan Sembilang. Sakitnya membuat meringis kesakitan hingga pulang ke rumah. Jadi, saya hanya menjadi penonton teman-teman yang sedang mencari ikan.
Bahkan saya pernah mengalami untuk mencari ikan ke sungai yang jaraknya lebih ke timur dari kampung. Jaraknya kurang lebih 5 km. Saya dan teman-teman bukan hanya mencari ikan tetapi mencari kerang sungai yang dikenal dengan nama “Cecelewek”. Saya harus pulang ke rumah menjelang Maghrib.
Sebenarnya orang tua mau memarahi saya, tetapi karena bawaan saya berupa ikan dan cecelewek hampir satu kantong kresek maka saya menerima pujian dari orang tua. “Dih, bocah ka pinter nemen ya ari luruh iwak” (Wah, anak kok pinter banget ya kalau mencari ikan).  
Saya tidak menyalahkan orang tua karena waktu kecil tentang mitos siluman sungai, genderuwo, wewe gombel (kalong wewe) dan kuntilanak masih sangat kuat dalam masyarakat. Orang tua mengkhawatirkan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan berhubungan dengan makhluk astral tersebut. Dan, sudah banyak kejadian yang “dipercaya” berhubungan dengan makhluk-makhluk tersebut. Wallahu a’lam bissawab.

Asam “Mladaki”
Sungai di timur kampung saya membelah dari selatan ke utara. Dan, di sebelah barat sungai tersebut terdapat pemakaman atau kuburan desa yang luasnya kurang lebih 2 hektar. Dan, di seberang pemakaman tersebut (timur sungai) terdapat pesarean atau lebih dikenal sebagai tempat semedi atau menenangkan diri.
Di bagian utara pesarean seluas kurang lebih 2.500m2 terdapat dua makam. Saya sendiri tidak mengenal nama makam tersebut. Namun, menurut orang-orang desa bahwa makam tersebut adalah makam keramat. Namun, bagi saya dan teman-teman, tempat ini tidak memberikan aura seram atau angker saat siang hari. Kalau malam justru memberikan kesan angker yang luar biasa.
Uniknya, pesarean tersebut justru menjadi tempat hangout atau bermain bagi anak-anak desa. Saya sering belajar untuk persiapan Lomba Cerdas Cermat SD tentang P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) di sini. Kebertulan, saya adalah wakil SD hingga Lomba Cerdas Cermat P4 dan GBHN tingkat Kecamatan. Karena, saya sering main di pesarean maka sering buat guyonan bahwa tim Cerdas Cermat kami sebagai “Anak Pesarean”.
Di pesarean yang luas ini juga, saya sering menghabiskan waktu sore hari untuk latihan senam lantai. Waktu kecil, kelihaian jungkir balik ala pesenam lantai di ajang Olimpiade menjadi sebuah prestige.  Karena, tidak ada sasana untuk belajar senam lantai dan tidak ada guru private yang mau mengajari. Maka, belajar senam lantai beralaskan tanah pesarean menjadi  proses pembelajaran senam lantai secara otodidak.
Di bagian tenggara dan barat  pesarean terdapat pohon asam besar yang dikenal sebagai pohon asam yang berbuah besaar-besar. Ketika musim buah tiba, maka pemandangan buah asam akan menjadi hal yang menakjubkan. Saat orang tua tidak ada panenan padi milik orang lain maka saya dan teman-teman sering mengadu nyali untuk mendapatkan asam setengah matang yang dikenal dengan nama “asam mladaki”.
Asam ini bukanlah asam matang yang tampak kecoklatan, tetapi asam yang tampak kuning layu. Cara ntuk mengetahui bahwa asam tersebut asam “mladaki” adalah dengan menggoreskan kuku pada kulit asam. Jika, kulit asam berwarna coklat tua maka asam siap-siap dieksekusi. Sebagai informasi bahwa pohon asam tersebut bisa dipanen oleh siapa saja, Jadi, tidak ada larangan dari siapapun termasuk juru kunci makam.
Saat bulan Ramadhan paling seru berburu asam “mladaki” bersama teman-teman. Perlu nyali yang tinggi karena saya harus memanjat pohon asam hingga ketinggian 50 meter. Dan, perlu kelihaian kuku jempol untuk “kerok” kulit asam, apakah berwarna coklat tua atau tidak. Karena, hanya kulit yang coklat tua yang bisa saya dan teman-teman ambil.
Rasa asam “mladaki” memang bikin sensasi. Bukan sekedar rasa asam tetapi bercampur dengan rasa pulen. Kadangkala, saya dan teman-yeman berlomba untuk mendapatkan asam “mladaki” terpanjang. Sebuah tantangan yang tidak perlu membutuhkan hadiah. Dianggap sebagai anak hebat jka mampu memanjat pohon asam tertinggi dan paling ujung hingga ranting dahan melengkung ke bawah.


Menggoreskan atau kerok kuku di kulit asam untuk 
mengetahui asam setengah matang atau “mladaki” 
(Sumber: pertanianku.com)


Ya, saat itu saya dan teman-teman tidak punya rasa takut sedikitpun. Semakin tinggi memanjat pohon maka sensasi “anak pesarean” semakin hebat. Dan, saya pernah merasakan hal itu. Ini dibuktikan saat saya dan teman-teman berantem dengan anak-anak gang tetangga karena dilecehkan nama orang tuanya.
Saya juga pernah berbuka puasa hanya dengan makan asam “mladaki”   karena ngiler banget. Saya tidak mau makan kolak timun suri dan pisang. Tetapi, asam “mladaki” menjadi menu utama. Saking ketagihan, perut saya merasa mulas hingga malam hari dan merasa demam.
Saat demam, mitos orang desa kala itu masih dikaitkan dengan hal gaib. Kata Bapak, “Kyeh, paling-paling kesambet sing  tunggu pesarean”  (Ini mungkin kena pengaruh dari makhluk gaib penunggu pesarean). Saya pun terdiam saat diobati sambil berharap kesembuhan dan bisa melakukan puasa keesokan harinya.

Hingga sekarang kalau ingat puasa masa kecil jadi tertawa sendiri. Berasa aneh dan lucu. Yang bikin nggak percaya, “kok bisa seberani itu yah”. Berbeda dengan anak-anak Jaman Now kan? 




Artikel ini juga tayang di Kompasiana

No comments:

Lima (5) Pose Foto Keren di Pantai yang Bikin Baper

Saatnya membuat pose foto keren kalian di pantai (Sumber: dokumen pribadi) Traveling atau jalan-jalan selalu memberi k...