Wednesday, October 24, 2018

Saatnya Sampah Menebar Berkah



“Advokasi Peran Masyarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan Melalui Pelatihan Daur Ulang Sampah” diselenggarakan di Aston Hotel jalan Wanasegara Kuta Bali (Sumber: dokumen pribadi)


Masalah lingkungan selalu menarik untuk dibahas. Bukan hanya di meja makan, warung kuliner atau tempat hangout. Tetapi, isu lingkungan bisa merambah meja kepala kantor di balik tembok gedung birokrasi atau pemerintahan.  
Salah satu isu lingkungan yang menjadi “headline” para pemegang kebijakan adalah keberadaan volume sampah yang semakin menggunung dan penanganannya agar bermartabat bagi kehidupan manusia.

Advokasi
Indonesia Woman Information Technology Awareness atau IWITA adalah sebuah lembaga atau organisasi yang peduli akan isu-isu yang berhubungan dengan masalah rumah tangga seiring dengan berkembangnya teknologi informasi. Bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPPA) memberikan pencerahan atau sosialisasi tentang pengelolaan sampah.
Acara tersebut dihelat di Aston Hotel jalan raya Wanasegara Kuta Bali pada tanggal 15 Oktober 2018 lalu dengan membawa tema “Advokasi Peran Masyarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan Melalui Pelatihan Daur Ulang Sampah”.
Sampah telah menjadi masalah besar bagi kehidupan manusia. Semakin hari, volumenya justru semakin bertambah. Oleh sebab itu, perlunya kesadaran setiap individu atau organisai untuk mengatasi masalah sampah. Hal yang paling “urgent” adalah perlunya usaha 5R yaitu: Reduce, Reuse, Recycle, Replace dan Replant
Setiap individu berusaha untuk melakukan “Reduce” dengan  pengurangan jumlah sampah. Sebisa mungkin, sampah yang ada bisa dilakukan “Reuse” atau dapat digunakan kembali.
Bukan hanya masyarakat, tetapi Pemerintah juga berperan penting dan bertanggungjawab terhadap masalah sampah dalam hal:
1.      Melakukan pemilahan;
2.      Melakukan pengumpulan;
3.      Melakukan Pengangkutan;
4.      Melakukan pengolahan.

Menebar Berkah
Hal yang paling menarik dibahas dalam acara IWITA adalah perlunya pengelolaan sampah agar mampu menebar berkah bagi sesama. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah perlunya pengembangan Bank Sampah di kalangan masyarakat.
Bank sampah sendiri merupakan bentuk swadaya masyarakat untuk mengurangi volume sampah dari sumbernya. Upaya memilih dan memanfaatkan kembali sampah yang masih mempunyai nilai ekonomis. Di sisi lain, masalah sampah menjadi agenda utama setiap kabupaten/kota yang perlu ditangani secara serius. Salah satunya Pemerintah Kota Denpasar.
Menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Denpasar yang diwakili oleh Bapak Ida Bagus Wira Wibawa menyatakan bahwa jumlah sampah yang ada di Kota Denpasar sebanyak 900 ton setiap harinya. Sampah tersebut terdiri dari sampah Organik sebanyak 70% dan sampah Anorganik sebanyak 30%.
Pemerintah Kota Denpasar telah melakukan berbagai cara untuk menangani masalah volume sampah. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi volume sampah di Kota Denpasar di antaranya: 1) pembentukan bank sampah yang ada di masyarakat; 2) melakukan sosialisasi kepada masyarakat perlunya pengolahan sampah dengan baik; 3) pembinaan tentang pengolahan sampah yang bermanfaat dan bernilai ekonomis  ; 4) dan lain-lain.     
Hingga kini, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Denpasar berada di daerah Suwung. Sementara, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung Denpasar mempunyai luas lahan sebesar 32 hektar. Pemerintah Kota Denpasar berencana menggunakan lahan seluas 20 hektar akan dibuat menjadi hutan kota. Dan, sisanya sebesar 12 hektar akan dibuat pembangkit listrik dan bekerja sama dengan PLN.       
Menarik, di acara tersebut menghadirkan narasumber  dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Menurut Bapak Temi Kentra Putra dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyatakan bahwa jumlah sampah di DKI Jakarta sebanyak 7.000 ton setiap harinya.


Bapak Temi Kentra Putra dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memberikan paparan tentang pengelolaan sampah (Sumber: dokumen pribadi)


Sekarang ini, ada sekitar 2.050 bank sampah yang ada di Kota Jakarta pada tahun 2018. Bahkan, bank sampah diusahakan di setiap RW. Seiring dengan berkembangnya teknologi Informasi maka Pemerintah DKI Jakarta menerapkan E-Bank sampah berbasis android. Oleh sebab itu, para pelaku bank sampah perlu memanfaatkan kemajuan TIK untuk meningkatkan produk kualitas pengolahan sampah.

Setiap kalangan khususnya Pemerintah berharap agar keberadaan dan operasional Bank Sampah bisa berjalan secara berkelanjutan. Oleh sebab itu perlu adanya usaha tambahan yang bisa menopang jalannya bank sampah tersebut. Dengan kata lain, agar Bank Sampah bisa tetap eksis, maka hal menarik dengan melakukan tindakan “Komposting” (pembuatan sampah).
Peran Pemerintah juga diperlukan agar dalam pembuatan kompos  mampu dijual kepada masyarakat untuk menyuburkan tanaman. Dan, hasil penjualan komposnya bisa menghidupi anggota dari bank sampah tersebut.
Oleh sebab itu, Pemerintah perlu melakukan tindakan untuk mempertemukan dengan bank sampah dengan “Buyer” (Pembeli). Serta, Pemerintah juga melakukan evaluasi jalannya bank sampah agar bisa berjalan lebih baik di masa mendatang.
Perlu diketahui bahwa banyak terobosan yang brilian unttuk mengatasi masalah sampah. Bapak Temi sendiri menyatakan bahwa gagasan yang baik untuk mengurangi volume sampah bisa dilakukan dengan skema “B to B” (Business to Business).  Hal ini dimaksudkan dengan adanya kesepakatan bisnis beberapa perusahaan swasta untuk mengolah sampah agar sampah yang diangkut ke TPA hanyalah residu.
Bukan itu saja, perlunya pengembangan teknologi Sanitary Landfill yang  berguna menimbulkan energi listrik (waste to energy). Tambah lagi, pemanfaatan dengan pengerahan “Magote” untuk mengurangi kandungan sampah.
Dan, teknologi lain yang bisa dicoba untuk pengolahan sampah agar menebar berkah adalah dengan teknologi ITF (Intermediate Terminate Facility) yang dapat menghasilkan panas. Yang selanjutnya bisa menjadi energi listrik.
Masyarakat berharap dengan kehadiran sampah tidak mengganggu kehidupan. Khususnya, menimbulkan isu sensitif terhadap lingkungan. Tetapi, kehadiran sampah hendaknya mampu menebar berkah bagi kehidupan manusia.
Tentunya, perlu usaha dalam pengelolaan sampah secara baik dan bermartabat. Dan, kehadiran bank sampah merupakan wujud kepedulian masyarakat terhadap kehadiran sampah dalam kehidupan.  





No comments:

Menuju Indonesia Maju dengan Teknologi Transportasi Light Rail Transit (LRT) Jabodebek

Proses lifting car atau pengangkatan rangkaian kereta pertama ( trainset )  LRT Jabodebek  di Stasiun Harjamukti, tanggal 13 Oktobe...