Monday, December 30, 2019

Ekowisata Subak Sembung, Menjaga Budaya dan Alam Melalui Tri Hita Karana



Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung yang terletak di Kelurahan Peguyangan Kecamatan Denpasar Utara Kota Denpasar - Bali (Sumber: dokumen pribadi)




Langit Kota Denpasar berubah drastis dari terang ke temaram. Mendung mencoba menggelayut setia mengikuti di atas kepala saya. Untungnya, kondisi tersebut membuat adem perjalanan dengan roda dua sejauh 8 km. Saya pun telah mempersiapkan diri jas hujan. Jika, sewaktu-waktu air terjun turun dari langit. Faktanya, saya sungguh beruntung. Hingga di lokasi yang dituju yaitu Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung, hujan masih berbaik hati. Sepertinya, Tuhan meridhoi apa yang akan saya lakukan di sore hari itu.

Budaya dan Alam

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kedatangan saya di Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung disambut dengan ritual ngaben (kremasi adat Bali). Ratusan pelayat dengan memakai pakaian adat Bali memenuhi hampir kawasan setra (makam) tempat jenazah akan dikremasi. Sebagai informasi, setra tersebut berada persis di depan pintu masuk kawasan Ekowisata Subak Sembung. Ekowisata Subak Sembung sendiri berada di Kelurahan Peguyangan Kecamatan Denpasar Utara Kota Denpasar - Bali.  


Pintu masuk Ekowisata Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Menyusuri jalan setapak yang sudah dipaving serasa memberikan pengalaman baru. Berjalan dengan ditemani aliran air sungai yang konsiten di sebelah kirinya. Serta, pemandangan alam berupa lansekap lahan pertanian di kiri dan kanan merupakan pengalaman pertama di Kota Denpasar.
Kesan pertama yang dapat saya peroleh adalah sehat. Kenyamanan kondisi Ekowisata Subak Sembung untuk melakukan aktifitas olahraga. Apalagi, bertahannya lahan terbuka hijau yang berada di Subak Sembung membuat udara tetap bersih. Kondisi inilah yang membuat masyarakat memanfaatkan Subak Sembung menjadi Jogging Track (jalur untuk lari) baik pagi maupun sore.
Bukan hanya sehat yang diperoleh, tetapi pemandangan alam membuat banyak inspirasi. Banyak pengunjung yang melakukan aksi selfie atau wefie di lokasi tersebut. Jujur, suasana di sekitarnya benar-benar  mendukung dan instagrammable. Bukan hanya itu, keberadaan Ekowisata Subak Sembung bisa menjadi pendidikan (edukasi) bagi pengunjung. Bahwa, kelestarian budaya dan alam sesuai dengan konsep Tri Hita Karana harus terjaga kelestariannya.


Ekowisata Subak Sembung menjadi tempat yang asik untuk Jogging Track dan aksi selfie atau wefie (Sumber: dokumen pribadi)


Menikmati pesona Ekowisata Subak Sembung terasa ada yang kurang. Ya, tanpa informasi mendalam dari pihak yang berkompeten. Bapak Wayan Suwirya Dinata selaku pengelola Ekowisata Subak Sembung dan Bapak Made Darayasa selaku Pekaseh (pengelola) Subak Sembung. Jujur, tidak mudah untuk mendapatkan informasi mendalam dari kedua narasumber tersebut.


Menikmati aliran sungai yang tetap deras dan pemandangan alam yang  memberikan banyak inspirasi (Sumber: dokumen pribadi)

 
Duet Inspirasi

Selama menapaki jalan setapak dan menikmati pesona alam di sekitar Ekowisata Subak Sembung, saya bertanya dengan orang-orang yang saya temui. Beberapa orang memberi saran agar saya menemuinya di rumah. Timbul dalam pikiran saya bahwa kedua sosok tersebut tidak mungkin bergelut dengan lahan pertanian.
Namun, kenyataan merubah 360 derajat. Setelah bertanya dengan 4 orang laki-laki yang sedang menikmati kudapan di pinggir jalan setapak, saya harus disarankan untuk menemui Bapak Made Darayasa yang sedang asik mengurus tanaman cabenya. Sebelumnya, saya harus menuruni jalan setapak menurun, berbelok ke kanan, kemudian berbelok kiri. Jarak yang saya tempuh kurang lebih 300 meter.      
Saya menyapa Bapak Made Darayasa ketika sedang asik “bermain cantik” dengan tanaman cabenya. Kedatangan saya menggangu waktu bermainnya. Namun, maksud baik saya mendapatkan penerimaan yang sangat ramah. Bahkan, membuat kami berdua bak teman yang lama baru bertemu. Bapak Made Darayasa memberikan rekomendasi untuk mendapatkan informasi tentang Ekowisata Subak Sembung kepada pengelola, Bapak Wayan Suwirya Dinata. Yang lebih mengagetkan lagi bahwa yang bersangkutan sedang berada di kebunnya yang jaraknya kurang lebih 75 meter. Dan, orang yang kami tuju sedang asik memanen bayam di kebun miliknya.
Kami bertiga duduk santai di sebuah gubuk sawah. Gubuk sederhana yang di belakangnya berdiri tegak kincir angin. Yang setiap saat berbunyi bak suara traktor saat membajak sawah, begitu konsisten dan indah. Tidak sungkan-sungkan, kami bertiga duduk berjejer di gubuk itu yang terbuat dari kayu. Sambil menikmati indahnya bentangan sawah dengan aneka rupa tanaman.


Saya duduk diapit oleh 2 narasumber, sebelah kiri (pakai kaos berwarna biru dan kuning) Bapak Wayan Suwirya Dinata selaku pengelola Ekowisata Subak Sembung. Dan, sebelah kanan adalah Pekaseh (pengelola) Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Dari gubuk sederhana itu, banyak hal menarik tentang keberadaan Ekowisata Subak Sembung.  Ternyata, Ekowisata Subak Sembung dirangkul oleh Astra sekitar tahun 2014 atau sejak berdirinya ekowisata tersebut. Berdasarkan konsep pengembangan yang mengintegrasikan 4 pilar program yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan & Kewirausahaan, maka Astra tertarik untuk menggandeng Ekowisata Subak Sembung tersebut.
Namun, hal terpenting yang harus dipahami adalah filosofi Tri Hita Karana. Sesuai dengan ajaran agama Hindu bahwa Tri Hita Karana mengharuskan adanya keseimbangan hubungan, yaitu 1) Manusia dengan Manusia; 2) Manusia dengan Alam; dan 3) Manusia dengan Tuhan (Sanghyang Widi Wasa), Tuhan Yang Maha Esa. Ekowisata Subak Sembung diharapkan bisa menjaga budaya dan alam sesuai dengan filosofi Tri Hita Karana tersebut.
Perlu diketahui bahwa setiap subak di Bali terdapat Balai Subak. Tempat yang berfungsi untuk bermusyawarah dan mengambil kebijakan untuk eksistensi subak. Hubungan Manusia dan Manusia menjadi modal besar untuk menjaga budaya dan alam. Dan, di samping balai Subak Sembung terdapat pura. Hal ini memberikan bukti bahwa salah satu dari filosofi Tri Hita Karana, yaitu hubungan Manusia dan Tuhan tetap terjaga. Bahkan, di beberapa titik jalan setapak yang saya lalui, saya melihat beberapa pelinggih (tempat persembahyangan) agama Hindu.


Balai subak dan pelinggih di Ekowisata Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Dalam hal Pendidikan, Bapak Suwirya Dinata berharap besar agar anak-anak dari petani yang berada di kawasan Subak Sembung bisa mendapatkan beasiswa Pendidikan dari Astra. Usulan tersebut pernah diutarakan dari pengurus Subak Sembung sekitar bulan November 2019 lalu. Yang menarik, dari pihak Astra  merespon bahwa usulan tersebut merupakan usulan yang bagus dan akan ditindaklanjuti.
Juga, Ekowisata Subak Sembung memberikan kesadaran kita untuk hidup bersih. Perintah untuk membuang sampah pada tempatnya demi lingkungan yang bersih dan asri terus digelorakan. Di sepanjang jalan setapak telah disediakan tong sampah.


Menjaga kebersihan adalah mutlak (Sumber: dokumen pribadi)


Itulah sebabnya, ada beberapa larangan agar terjaga keseimbangan alam yang ada di Kawasan Ekowisata Subak Sembung, seperti: 
1.    Membawa sepeda motor ke areal Subak Sembung, kecuali petani Subak Sembung.
2.    Membawa binatang piaraan ke areal Subak Sembung.
3.    Berburu/menembak satwa di areal Subak Sembung.
4.    Meracuni/menyetrum ikan sepanjang aliran sungai Subak Sembung.
5.    Membuang sampah di areal Subak Sembung.


Larangan yang ada di Ekowisata Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Menurut pak Suwirya Dinata, keberadaan Ekowisata Subak Sembung mempunyai nilai penting seperti 1) pusat resapan air terbesar di Kota Denpasar; 2) sebagai penghijauan; dan 3) belajar mengenal lingkungan dari TK sampai Mahasiswa. Lingkungan tetap hijau merupakan harapan bersama.
Begitu pentingnya Ekowisata Subak Sembung, Pemerintah Kota Denpasar sangat antusias merespon keberadaan Subak Sembung. Banyak bantuan yang telah diberikan untuk membuat Subak Sembung. Agar tetap menjadi ekowisata yang menjaga budaya dan alam melalui filosofi Tri Hita Karana. Bantuan yang diberikan untuk memberdayakan Subak Sembung seperti: pembuatan jalan atau paving, pemberian bibit gratis, pupuk gratis, dan lain-lain.



Jalan setapak yang telah dipaving (Sumber: dokumen pribadi)


Bapak Wayan Suwirya Dinata berharap besar kepada Pemerintah Kota Denpasar agar keberadaan Ekowisata Subak Sembung tetap dilestarikan dengan baik. Kondisi jalan Subak Sembung yang mengalami kerusakan karena usia dan alam diharapkan bisa diperbaiki kembali. Juga, hal yang penting lain yang mendapatkan perhatian serius adalah masalah sampah kiriman yang berasal dari kawasan hulu.
Sampah kiriman tersebut bisa merusak kondisi Ekowisata Subak Sembung yang selalu konsisten menjaga budaya dan alam. Pihak Ekowisata Subak Sembung sendiri sudah beberapa kali mensosialisasikan masalah sampah kiriman. Tentu, hal ini perlu sosialisasi berkelanjutan yang melibatkan semua pihak. Di antaranya, pihak Pemerintah Kota Denpasar, Pemerintah Daerah lain, pihak banjar baik di Kawasan Subak Sembung maupun kawasan hulu, pekraman (warga) baik di Kawasan Subak Sembung dan Kawasan hulu dan pihak lain yang terkait. Salah satu jalan yang bisa dilakukan adalah pihak kelurahan memberdayakan swakelola sampah.
Bapak Made Darayasa selaku Pekaseh (pengurus) Subak Sembung sejak bulan Mei 2019. Pekaseh menyatakan bahwa keberadaan Subak Sembung mampu mempertahankan jiwa gotong royong. Petani sebagai anggota dari Subak Sembung bersama-sama menjaga kuantitas air demi keseimbangan alam. Dengan tujuan agar bisa memberdayakan lahan pertanian. Dengan kata lain, tanaman bisa tumbuh subur tanpa kekurangan air. Serta, hasil panen yang melimpah ruah.
Dengan luasan Subak Sembung 102 hektar dan anggota Subak lebih dari 200 petani mampu menciptakan jiwa wirausaha. Tentu, hal yang utama adalah menjaga kondisi lahan pertanian. Mayoritas, petani di kawasan Subak Sembung mengolah lahan pertanian dengan berbagai tanaman atau sayuran seperti bawang merah, cabe, kangkung, nanas, bayam dan lain-lain.
Tentu, dengan hasil panen yang melimpah dan menguntungkan, mereka akan terus memberdayakan lahan pertanian. Lagi, membuat beberapa terpal untuk beternak lele dan pelihara bebek menjadi pilihan yang terbaik. Di sisi lain, banyak petani yang membuka warung untuk keperluan masyarakat atau pengunjung Ekowisata Subak Sembung.

Harapan Baik

Perlu diketahui bahwa Kota Denpasar mempunyai 41 subak, 9 di antaranya berada di Denpasar Utara. Luasan subak 652 hektar pada tahun 2018, tetapi pada tahun 2019 menyusut sebesar 74,29 hektar menjadi 577,71 hektar. Info menarik ini saya peroleh juga dari Pekaseh yang prihatin dengan kondisi Ekowisata Subak Sembung.
Subak Sembung sendiri merupakan subak terluas di Denpasar Utara. Menurut Pekaseh, luasan Subak Sembung mengalami penyusutan, dari 115 hektar akhir tahun 2014 menjadi 102 hektar pada akhir tahun 2019. Dengan demikian, selama 5 tahun Subak Sembung berkurang 13 hektar. Jika dirata-ratakan, maka per tahun berkurang 2,6 hektar. Andaikata, digunakan untuk membangun rumah ukuran tipe 60, maka telah terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi kurang lebih 433 rumah per tahunnya. Atau, setiap bulan muncul kekira 22 rumah yang telah merubah alih fungsi lahan. 
Menurut Pekaseh, berubahnya alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi kawasan perumahan berpotensi besar mengecilnya luasan Subak Sembung. Benar apa yang dikatakan oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar Bapak I Gede Ambara Putra. Seperti yang dilansir oleh salah satu media online Bali.

"Hasil digitasi dan survei lapangan lahan pertanian (sawah) yang akurat dilakukan oleh tim di empat wilayah kecamatan Kota Denpasar mencapai 1.939,4 hektar. Menyusutnya lahan pertanian dari tahun 2018 luasnya 2.170 hektar menjadi 1.939,4 hektar disebabkan alih fungsi lahan pertanian di Kota Denpasar tak terbendung” (Kepala Distan Kota Denpasar, I Gede Ambara Putra)

Bapak Wayan Suwirya Dinata dan Bapak Made Darayasa berharap besar ada Peraturan Daerah (Perda) yang benar-benar jelas dan tegas terhadap eksistensi subak. Dengan kata lain, peraturan tersebut secara transparan menjelaskan tentang lahan-lahan yang termasuk kawasan hijau dan kawasan yang bisa dibangun menjadi kawasan perumahan.
Bahkan, menurut Pak Wayan Suwirya Dinata, untuk menjaga eksistensi Subak Sembung, maka bagi penduduk asli bisa membuat bangunan di kawasan Subak Sembung tanpa mengubah alih fungsi lahan. Tetapi, larangan membuat bangunan ditujukan bagi pendatang atau pembeli lahan yang hendak membangun di kawasan Subak Sembung.
Selama menyusuri jalanan setapak Ekowisata Subak Sembung, maka faktor air adalah penting untuk menjaga budaya dan alam. Kuantitas air yang berkecukupan menjadi berkah bagi Ekowisata Subak Sembung. Sumber mata air yang berasal dari Blumbungan, Tanah Putih, Mambal Badung mampu memberdayakan petani melalui manfaat lahan pertanian khususnya bagi masyarakat Kelurahan Peguyangan.
Sesuai dengan harapan Astra bahwa perlunya kolaborasi masyarakat dan perusahaan untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra. Kampung Berseri Astra Ekowisata Subak Sembung mampu mewujudkan harapan besar tersebut.


Harapan besar Astra yang mampu diwujudkan Ekowisata Subak Sembung (Sumber: dokumen pribadi)


Kebersamaan dengan dua narasumber yang masih merasa orang baru dalam mengelola Ekowisata Subak Sembung harus berakhir. Sosok  Pak Wayan Suwirya Dinata dan Bapak Made Darayasa sungguh menjadi pelajaran berharga. Menjelang saya pamit, mereka berharap besar agar pihak Astra bisa membantu apa yang dibutuhkan untuk ketahanan Ekowisata Subak Sembung. 
        Juga, perlunya koordinasi yang baik jika ingin melakukan program apapun untuk Ekowisata Subak Sembung. Dukungan material jika dibutuhkan untuk perbaikan fasilitas Subak Sembung sangatlah diharapkan. Karena, kerjasama itu meski terjalin terus baik sekarang dan nanti.

Thursday, December 26, 2019

SDM Unggul yang Produktif Sebagai Modal Lompatan Tinggi Hadapi Era Digital dan Bonus Demografi



Melompat lebih tinggi menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Bonus Demografi dengan SDM Unggul yang Produktif (Sumber: pixabay.com/diolah)



“Apa yang bisa anda pelajari dari sayembara desain Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru?”


Pertanyaan yang semestinya dijawab oleh seluruh rakyat Indonesia. Sebuah ajang bergengsi yang mencari desain Ibukota RI terbaik di tanah Borneo. Dan, desain yang berjudul “Nagara Rimba Nusa” dinyatakan sebagai pemenang pertama. Hal menarik adalah desain yang menggabungkan konsep keharmonisan segala aspek antara keseimbangan alam, modernisasi dan keberlanjutan (sustainability) menjadi nilai penting.
Sayembara tersebut juga menunjukan kepada bangsa Indonesia bahwa SDM Unggul yang Produktif sungguh luar biasa. Para peserta (arsitek) sayembara telah berpikir jauh untuk masa depan bangsa di era digital. Dukungan mereka merupakan modal besar bangsa. Ya, kolaborasi Pemerintah dengan masyarakat atau stakeholder lain sangatlah penting.
Apalagi, dalam hal ekonomi, maka dukungan stakeholder macam Kadin (Kamar Dagang Indonesia) sangat dibutuhkan. Sebagai informasi, Kadin Indonesia telah menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) pada akhir November 2019 di Nusa Dua Bali. Kadin Indonesia sendiri telah memberikan kontribusi besar sebagai Mitra Pemerintah Membangun Indonesia. Khususnya, dalam rangka menciptakan iklim perdagangan dan industri agar berkembang secara signifikan.




Kompetensi SDM Era Digital

Era digital dengan teknologi internetnya tidak bisa dihindari, tapi harus dihadapi. Perkembangan era digital banyak memberikan perubahan. Hal terpenting, era digital menciptakan era Revolusi Industri 4.0. Di mana, kemajuan teknologi yang tidak terbendung menciptakan jaman baru, jaman yang menuju ke tahap era modern. Adapun, jaman baru yang tercipta dari kemajuan teknologi seperti:
1.    Internet of Things,
2.    Keamanan Cyber,
3.    Augmented Reality (AR/teknologi dimana seseorang mengalaminya melalui video dan audio 3D),
4.    Cloud Computing (Komputasi Awan),
5.    Integrasi Sistem,
6.    Simulasi,
7.    Additive Manufacturing (proses manufaktur dengan cara menambahkan ribuan lapisan kecil yang dikombinasikan untuk menghasilkan barang jadi atau finished products),
8.    Robot atau Autonomous, dan
9.    Big Data.

Teknologi internet menjadi sebuah kebutuhan wajib. Dunia terasa dekat dan tanpa sekat (borderless). Semua informasi dari belahan bumi manapun bisa diakses dengan sentuhan jari (touchscreen). Piranti robot mulai dilibatkan untuk menggantikan pekerjaan manusia. Bahkan, semua data apapun tidak lagi disimpan secara konvensional. Namun, disimpan dengan menggunakan teknologi awan (Cloud of Technology). Sebuah kemajuan teknologi yang merubah peradaban manusia.
Bisnis berbasis online pun menjadi tren. Bahkan, kehadiran era digital membuat segala urusan semakin mudah. Sama halnya, apa yang dikatakan oleh Menteri Perindustrian era Kabinet Bersatu Jilid I Airlangga Hartarto. Saat menjadi narasumber di acara Creative Industries Movement di Denpasar Bali awal tahun 2019 lalu. Beliau menyatakan bahwa perkembangan era Revolusi Industri 4.0 membuat serba mudah, seperti yang dilakukan para pebisnis online. Anda bisa melihat video selengkapnya berikut ini.  


MENTERI PERINDUSTRIAN AIRLANGGA HARTARTO & REVOLUSI INDUSTRI 4.0 BIKIN SERBA MUDAH (Sumber: dokumen pribadi/YouTube)


Yang menjadi perhatian dunia khususnya Indonesia adalah berkurangnya lapangan kerja manusia. Karena, tergantikan dengan teknologi robot. Apalagi, merujuk dari laporan McKinsey & Company yang dirilis bulan September 2019 lalu berjudul “Automation and the future of work in Indonesia” menyatakan bahwa setidaknya akan ada 23 juta pekerjaan di Indonesia yang tergantikan robot pada tahun 2030 mendatang. Namun, meskipun banyak pekerjaan yang tergantikan, akan ada sekitar 27-46 juta pekerjaan baru.
Menghadapi era digital maka Pemerintah harus melansir kebijakan yang mampu menciptakan iklim yang cocok. Dengan kata lain, kebijakan tersebut mampu melibatkan semua kalangan  agar mampu mengimbangi akselerasi era digital. Setidaknya, ada 10 kebijakan nasional yang bisa dilakukan Pemerintah untuk mengisi era digital, yaitu:
1.    Perbaikan alur material,
2.    Mendessain ulang zona induztri,
3.    Mengakomodasi standar sustainability,
4.    Membudayakan UMKM,
5.    Membangun infrastruktur digital,
6.    Menarik investasi asing,
7.    Meningkatkan kualitas SDM,
8.    Membentuk ekosistem inovasi,
9.    Menerapkan insentif investasi teknologi, dan
10. Mengoptimisasi aturan dan kebijakan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa era digital melahirkan era Revolusi Industri 4.0. Era Revolusi Industri 4.0 memberikan keniscayaan bahwa Indonesia harus menciptakan kemajuan di bidang industri. Khususnya, industri yang berhubungan dunia digital. Perlu diketahui bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri masih memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II tahun 2019 dengan capaian 19,52 persen year on year (yoy).
Perlu menjadi perhatian bersama adalah kompetensi SDM Indonesia yang belum customize (spesifik). Saya pribadi percaya bahwa SDM Indonesia bisa diandalkan. Bahkan, telah banyak menorehkan prestasi di tingkat internasional dalam berbagai bidang. Namun, prestasi mentereng tersebut “belum” sejalan dengan penguasaan era Revolusi Industri 4.0.
Itulah sebabnya, di berbagai kalangan seperti akademisi mulai digalakkan penciptaan robot agar bisa bertanding di tingkat global. Saya pribadi telah menyaksikan bagaimana anak bangsa seperti mahasiswa Universitas (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) dan lain-lain menciptakan teknolgi berbasis digital. Seperti, ajang Ritech 2019 di Lapangan Renon Denpasar Bali pada bulan November 2019 lalu. Benar-benar prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia.


GOKIL!! INI BUKTI ORANG INDONESIA PINTAR-PINTAR I FT. JELAJAH RITECH 2019 BALI (Sumber: dokumen pribadi/YouTube)


Tentu, kolaborasi Pemerintah dan stakeholder lain perlu ditingkatkan. Sosialiasi yang mengangkat tema teknologi digital mulai rajin digelar baik oleh Pemerintah maupun pihak swasta. Di acara DTIK Festival November 2019 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Denpasar menjadi ajang yang menarik perhatian banyak kalangan. Adanya stand yang menampilkan keterampilan membuat robot oleh anak-anak SD menjadi pemandangan yang berbeda. Pemahaman tentang teknologi robot sejak dini menjadi sebuah keniscayaan.


Salah satu Stand di DTIK Festival Denpasar awal November 2019 yang menampilkan ketangkasan membuat robot bagi anak-anak (Sumber: dokumen pribadi)


Bangsa Indonesia harus gerak cepat dalam mengembangkan teknologi digital. Hal ini bertujuan agar kompetensi SDM bisa bersaing di tingkat global. Tentu, SDM Unggul yang mampu menopang perkembangan era Revolusi Industri 4.0 harus diwujudkan. Lantas, kompetensi apa yang dibutuhkan untuk mengimbangi perkembangan Revolusi Industri 4.0.? SDM yang mampu menguasai beberapa hal seperti: 1) coding (pengkodean), 2) programming mekatronika atau otomasi, 2) data otomasi analysis dan statistics, 4) Artificial Intelligence (AI), serta 5) Soft Skill Flexibility.
Penguasaan ilmu yang berhubungan dengan teknologi digital menjadi tolok ukur kompetensi yang mampu menopang era Revolusi Industri 4.0. Tentu, hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM Unggul yang Produktif. Selanjutnya, untuk menciptakan SDM Unggul tentu harus melewati proses SDM yang berkualitas. Kita tahu bahwa pembangunan kualitas SDM menjadi prioritas utama era pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam pembangunan kualitas SDM antara lain: 1) sistem pendidikan yang baik dan bermutu (sistem pendidikan yang efektif dan efisien, berorientasikan pada penguasaan iptek, serta merata di seluruh pelosok tanah air); 2) penguatan peran agama dalam kehidupan sosial bermasyarakat dalam rangka memperkokoh jati diri dan kepribadian bangsa (character building); dan 3) pengadaan diklat, kompetensi, pembinaan dan lain-lain. SDM berkualitas sesuai tuntutan (kebutuhan) pasar merupakan faktor keunggulan suatu bangsa dalam menghadapi persaingan global.
Di sisi lain, untuk mengimbangi perkembangan SDM Unggul tersebut, Pemerintah tidak tinggal diam. Justru, Pemerintah berharap besar agar SDM Unggul yang Produktif cepat diciptakan menuju Indonesia Maju. Melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  telah menggulirkan berbagai program yang tepat, seperti: 1) pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri, 2) Diklat sistem 3in1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja), 3) pengembangan pendidikan dual system di unit pendidikan Kemenperin, 4) pembagunan politeknik atau akademi komunitas di kawasan industri, 5) mencetak SDM industri 4.0.

Antisipasi Bonus Demografi

"Bonus demografi, angkatan kerja kita besar sekali, ditambah lagi dengan angka harapan hidup, yang kalau mereka tidak difasilitasi mereka akan menganggur, muncullah demo, tidak percaya pemerintah. Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM sangat dibutuhkan dalam menghadapi peluang dan tantangan bonus demografi". (Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D)

Statement (pernyataan) dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D mengingatkan kembali pada kita bahwa bangsa Indonesia akan menghadapi momen emas dan bersejarah, yaitu Bonus Demografi pada rentang tahun 2030-2040. Bonus Demografi menunjukan bahwa  jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif. Dengan demikian, jumlah penduduk usia tidak produktif akan menjadi beban bagi jumlah penduduk usia produktif.   Pemerintah perlu memfasilitasi masyarakat yang berada pada rentang tahun tersebut.


Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D (Sumber: akuratnews.com)


Bonus Demografi memberikan peluang dan tantangan bagi bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, khususnya masyarakat usia produktif perlu difasilitasi dengan baik. Fasilitas berupa keahlian sesuai dengan perkembangan era digital. Dan, SDM Unggul yang Produktif menjadi “harga mati”. Sekali gagal menghadapi Bonus Demografi, maka masa depan bangsa Indonesia menjadi taruhannya. Oleh sebab itu, menciptakan SDM Unggul menjadi prioritas bangsa Indonesia agar bisa melewati Bonus Demografi tersebut. Serta, mampu bersaing di kancah global.   
Kita mesti bersyukur karena prioritas program kerja Presiden Joko Widodo Jilid II adalah mendorong pembangunan SDM. Seperti yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) di 2020. Apalagi, jika melihat lima (5) aspek penting prioritas, pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin benar-benar bertujuan menciptakan kesejahteraan rakyat. Adapun, 5 prioritas Program Kerja Jokowi-Ma;ruf Amin, yaitu: 1) Perioritas pada Pembangunan Sumber (SDM); 2) Pembangunan infrastuktur yang menjangkau sentra-sentra ekonomi dan distribusi untuk lapangan kerja baru; 3) Penyederhanaan kendala regulasi, diantaranya dengan membuat UU tentang Cipta Lapangan Kerja yang akan menjadi omnibus law; 4) Pemangkasan birokrasi dengan meningkatkan kompetensi kerja dan penguatan fungsi kerja dengan memangkas eselonering; dan 5)  Transformasi ekonomi dari ketergantungan sumber daya alam ke manufaktur dan industri.


Presiden Joko Widodo saat memberikan pidato pertamanya setelah resmi dilantik sebagai Presiden periode 2019 - 2024, di Gedung MPR DPR RI tanggal 20 Oktober 2019 (Sumber: Sekretariat Negara RI)


Menghadapi Bonus Demografi, Pemerintah sangat perhatian pada penciptaan lapangan kerja. Dampak dari berkurangnya lapangan kerja di era digital, maka penciptaan lapangan kerja padat karya sangat dibutuhkan masyarakat. Tanpa, mengurangi keterampilan SDM untuk lapangan pekerjaan di ranah digital. Presiden Jokowi di era Kabinet Kerja Jilid I mengklaim mampu menciptakan lebih dari 10 juta lapangan kerja baru. Tentu, peluang lapangan kerja tersebut akan bertambah di era Kabinet Kerja Jikid II seiring dengan meningkatnya SDM Unggul yang Produktif.
Pemerintah juga perlu memperhatikan masalah pengangguran dan usia kerja Indonesia. Tanggal 5 November 2019 lalu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memaparkan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2019 di Jakarta. BPS mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2019 berjumlah 7,05 juta orang, meningkat dari Agustus 2018 berjumlah 7 juta orang. Pada Agustus 2019 menyatakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 10,42 persen (menurun dibandingkan  Agustus 2018 sebesar 11,24 persen). Selanjutnya, SMA dengan persentase 7,92 persen, Diploma I/II/III 5,99 persen, Universitas 5,67 persen, SMP 4,75 persen, dan SD 2,41 persen.
Sedangkan, penduduk usia kerja di Indonesia sebesar 197,91 juta orang tahun 2019. Angka itu bertambah dibanding periode sebelumnya sebesar 194,78 juta orang. Sebagai informasi, bulan Agustus 2019, angkatan kerja didominasi laki-laki sebesar 83,13 persen, sedangkan perempuan sekitar 51,89 persen.
Kondisi pengangguran dan usia kerja Indonesia tersebut bisa menjadi perhatian Pemerintah menghadapi Bonus Demografi. Penciptaan SDM Unggul yang Produktif menjadi Pekerjaan Rumah (PR). Seiring dengan meningkatnya SDM Unggul yang Produktif, Pemerintah juga berusaha mengurangi pengangguran. Sedangkan, usia kerja Indonesia dibekali dengan keterampilan yang cocok dengan perkembangan teknologi digital.
Dengan adanya program vokasi sekolah maka lulusan sekolah mampu mencetak banyak wirausahawan. Karena, meningkatnya jiwa “pembuka lapangan kerja” akan lebih baik dari jiwa “pencari lapangan kerja”. Dan, Indonesia mempunyai peluang besar tersebut. Karena, hanya dengan lompatan yang tinggi maka derasnya teknologi digital dan Bonus Demografi mampu dilalui dengan baik. SDM Unggul yang Produktif adalah modal besar untuk menghadapinya. Layaknya sentilan jemari Thanos saat mengalahkan “The Avengers”. Mari, melompat lebih tinggi!


Sumber tulisan:
BPS: Pengangguran Meningkat, Lulusan SMKMendominasi
Hadapi Bonus Demografi, Mendagri Sebut DiperlukanSDM yang Unggul
Langkah Strategis Menuju Pembangunan SDMIndonesia Unggul
Membangun SDMWujudkan Indonesia Unggul
Miliki Bonus Demografi, Begini CaraPemerintah Ciptakan SDM Unggul
SDM Unggul Menjadi Prioritas Utama Jokowi
Urgensi SDM diEra Revolusi Industri 4.0

Waspadalah! Penipuan Berkedok Rekrutmen Kerja yang Mengatasnamakan PT. Aneka Gas Industri, Tbk.

Waspadalah! Penipuan berkedok rekrutmen kerja yang mengatasnamakan PT. Aneka Gas Industri, Tbk. (Sumber: shutterstock/diolah)     Aksi...