Tuesday, October 29, 2019

Menuju Indonesia Maju dengan Teknologi Transportasi Light Rail Transit (LRT) Jabodebek


Proses lifting car atau pengangkatan rangkaian kereta pertama (trainsetLRT Jabodebek di Stasiun Harjamukti, tanggal 13 Oktober 2019 (Sumber: lrtjabodebek.com) ⁣⁣⁣⁣

Apa yang menarik dari pengumuman Presiden Jokowi tentang Kabinet Indonesia Maju?


Salah satu hal yang perlu dicatat adalah bertahannya Budi Karya Sumadi sebagai orang nomor satu di Departemen Perhubungan RI kembali dalam jajaran Kabinet Indonesia Maju tahun 2019-2024. Tentu, Presiden Jokowi mempunyai alasan yang kuat, mengapa Budi Karya Sumadi tetap bertahan pada posisi Menteri Perhubungn RI. Karena, gebrakannya dalam penerapan  teknologi transportasi Light Rail Transit (LRT) Jabodebek.
 Apalagi, jika mencermati  pernyataan dari Presiden Jokowi, di mana semua menteri wajib fokus pada delivered ketimbang sent. Orientasi “Hasil” sangat menentukan dibandingkan dengan “proses”. Mungkin, hal itulah yang menjadi alasan dari Presiden Jokowi mempertahankan Budi Karya Sumadi, tetap menjadi Menteri Perhubungan. Publik pun mengamini keputusan Presiden Jokowi tersebut. Namun, bagi Presiden Jokowi sendiri bahwa sebuah keputusan yang terbaik sebagai implementasi dari hak prerogatif Presdien.

Transportasi Publik Idaman

Keberhasilan Budi Karya Sumadi sebagai Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja yaitu mengembangkan teknologi maju di bidang transportasi darat. Pembangunan proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek menjadi bukti sebagai proyek prestigious menerapkan teknologi tinggi. Dan, menjadi harapan besar dalam pengembangan teknologi di bidang perkeretaapian.
Seperti halnya transportasi publik berupa MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta, pembangunan LRT Jabodebek dibangun untuk mengurangi kemacetan lalul lintas. Karena, padatnya kendaraan yang masuk kota Jakarta dari kota-kota satelit di sekitarnya. Bahkan, dengan dibangunnya LRT Jabodebek bisa meminimalisir kemacetan di tol Jakarta – Cikampek (Japek) dan Jagorawi.
Sebagai informasi, estimasi kerugian yang diakibatkan tingkat kemacetan yang tinggi di kawasan Jabodetabek sebesar 65 triliun. Kerugian tersebut  terbagi atas: 1) akibat tambahan bahan bakar yang terbuang sebesar 28,1 triliun; dan 2) akibat tambahan waktu perjalanan sebesar 36,9 triliun.
Oleh sebab itu, selain MRT Jakarta, maka LRT Jabodebek menjadi solusi untuk mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas yang kian masif. Menurut Wikipedia menyatakan bahwa Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek merupakan sistem angkutan cepat dengan kereta api ringan atau Light Rail Transit (LRT) yang dibangun di Jakarta, dan terhubung dengan kota-kota di sekitarnya seperti Bekasi dan Bogor. Tarif yang akan dikenakan untuk setiap penumpang sebesar Rp 12.000,-. Tarif tersebut merupakan tarif subsid dari tarif komersial sebenarnya sebesar Rp 25.000,-.
Dasar pembangunan LRT Jabodebek yaitu penandatanganan dua (2) Peraturan Presiden (Perpres) Joko Widodo pada tanggal 2 September 2015. Adapun, Peraturan Presiden (Perpres) tersebut adalah: 1) Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi; dan 2) Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 99 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Perkeretaapian Umum di Wilayah Provinsi Daerah Ibu kota Jakarta. Pembanguan LRT Jabodebek dimulai sejak ground breaking oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 9 September 2015.
Invetasi yang digelontorkan untuk pembangunan LRT Jabodebek mencapai Rp29,9 triliun. Sebagian besar investasi tersebut ditanggung oleh PT KAI (Persero) dengan nilai Rp25,7 triliun dan Rp4,2 triliun sisanya ditanggung oleh kontraktor PT. Adhi Karya (Persero). Investasi untuk pembangunan LRT Jabodebek tahap I (kesatu) mencapai Rp2,745 triliun yang terbagi atas 51 persen atau Rp1,4 triliun dibiayai oleh Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2015. Sisanya,  Rp1,345 triliun dari dana publik dari hasil penjualan saham right issue kuartal pertama 2015.
LRT Jabodebek diyakini akan menjadi transportasi publik yang nyaman. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan bahwa pembangunan LRT Jabodebek merupakan salah satu program prioritas nasional. Oleh sebab itu, LRT Jabodebek menjawab tuntutan masyarakat akan transportasi umum yang aman, nyaman dan memiliki ketepatan waktu yang tinggi.
LRT Jabodebek akan dioperasikan dalam 6 (enam) rute, yaitu: 1) Cawang – Harjamukti; 2) Cawang – Kuningan – Dukuh Atas; 3) Cawang – Jatimulya; 4) Dukuh Atas – Palmerah Senayan; 5) Harjamukti – Bogor; dan 6) Palmerah – Grogol/Bogor. Track tidak menggunakan sepur narrow gauge 1.067 mm seperti yang ada di Jawa dan Sumatra, Tetapi, sepur standar 1.435 mm untuk memudahkan dalam pemilihan dan pembelian sarana.
Bagaimana kapasitas LRT Jabodebek untuk melayani 3 (tiga) lintasan? Perlu diketahui bahwa kapasitas yang ada di LRT Jabodebek adalah: 1) Kapasitas kereta pada kondisi normal sebanyak 740 penumpang (per kereta mampu menampung 118 penumpang), sedang saat kondisi sesak bisa menampung 1.308 penumpang (per kereta mampu menampung 208 penumpang); dan 2) Kapasitas penumpang terdiri dari 174 tempat duduk dan untuk penumpang berdiri sebanyak 566 penumpang.
            LRT Jabodebek mempunyai panjang lintasan 82,9 km dan melewati 18 stasiun. Stasiun LRT Jabodebek untuk lintasan Cawang - Harjamukti, yaitu: 1) Stasiun LRT Harjamukti; 2) Stasiun LRT Ciracas; 3) Stasiun LRT Taman Mini Indonesia Indah; dan 4) Stasiun LRT Kampung Rambutan. Lintasan Cawang - Jatimulya, yaitu: 1) Stasiun LRT Jati Mulya; 2) Stasiun LRT Bekasi Barat; 3) Stasiun LRT Cikunir-2; 4) Stasiun LRT Cikunir-1; dan 5) Stasiun LRT Jati Bening Baru. Untuk lintasan Cawang - Dukuh Atas, yaitu: 1) Stasiun LRT Cawang; 2) Stasiun LRT Cikoko; 3) Stasiun LRT Ciliwung; 4) Stasiun LRT Pancoran; 5) Stasiun LRT Kuningan; 6) Stasiun LRT Rasuna Said; 7) Stasiun LRT Setia Budi; 8) Stasiun LRT Dukuh Atas. Lokasi Depo LRT Jabodebek berada di Jati Mulya.


Jalur LRT Jabodebek (Sumber: Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2015)


Sedangkan, panjang lintasan tahap I pembangunan LRT Jabodebek dengan 3 lintasan layanan yaitu 44,43 km. Tahap 1 ini mencakup : 1) lintasan Cawang-Cibubur; 2) Cawang Dukuh Atas; dan 3) Cawang-Bekasi Timur. Sudah ada 5 trainset (rangkaian kereta) LRT Jabodebek yang akan melayani 3 (tiga) lintas layanan tersebut. Secara keseluruhan akan ada 31 rangkaian kereta yang melayani ketiga lintas layanan tersebut.


Tiga lintasan layanan LRT Jabodebek Tahap I sepanjang 44,43 km (Sumber: lrtcity.com/diolah)


Teknologi Tinggi

Sebuah kebanggaan untuk bangsa karena LRT Jabodebek  merupakan produk dalam negeri. Gerbang kereta untuk LRT Jabodebek diproduksi oleh PT INKA (Persero) Madiun Jawa Timur. Untuk memenuhi kebutuhan LRT Jabodebek,  maka kereta  LRT Jabodebek dikirim dari PT INKA (Persero) Madiun ke Depo sementara LRT Jabodebek. Depo terletak di Stasiun Harjamukti Cibubur Jakarta Timur. Pengiriman sebanyak 6 buah kereta melalui jalur darat dengan mobil angkut atau Multi-Axle Truck yang memakan waktu 4 hari. Perlu diketahui bahwa Multi-Axle  Truck disesuaikan dari tinggi, lebar dan berat beban kereta LRT Jabodebek, agar bisa berjalan di beberapa kondisi jalan yang akan dilalui.
               LRT Jabodebek merupakan transportasi darat yang dibuat dengan teknologi tinggi. Ada 6 hal yang menunjukan bahwa LRT Jabodebek menjadi teknologi masa depan, yaitu: 1) Desain khusus (varian desain tampilan kereta  dibuat berdasarkan kearifan lokal); 2) Konten lokal (penelitian. proses desain, teknologi, teknik & produksi diselesaikan di Indonesia); 3) Kepemimpinan biaya atau DKBP (Desain, Kualitas, Biaya & Pengiriman); 4) Stok industri bergulir secara nasional (Diproduksi oleh PT INKA Madiun, Stok Bergulir secara nasional di Asia Tenggara); 5) Branding nasional (LRT adalah Transportasi Modern di Indonesia); dan 6) Teknologi canggih (Ringan, Kuat, Khas & Modular, Bodi mobil sebagai komponen konten lokal utama menggunakan ekstrusi alumunium 6061).


Kecanggihan dari LRT Jabodebek (Sumber: kompas.com/diolah)


Kecanggihan dari LRT Jabodebek yang bisa menjadi langkah awal kemajuan perkeretaapian Indonesia terletak pada sistem pengoperasian. LRT Jobodebek dioperasikan dengan sistem driver less atau tanpa masinis. Dan, setiap rangkaian LRT Jabodebek bisa melaju dengan kecepatan maksimal 100 km per jam.
Senada dengan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bahwa LRT Jabodebek nantinya bakal beroperasi tanpa menggunakan masinis (driver less). LRT Jabodebek lebih canggih dari MRT buatan Jepang. Karena, LRT Jabodebek dioperasikan menggunakan teknologi tingkat otomasi Grade of Atomation (GoA). Serta, ada 4 hal yang bisa menjadi kelebihan dari LRT Jabodebek, yatiu: 1) Cepat dan aman; 2) Efisien dan ramah limgkungan; 3) Ringan dan nyaman; dan 4) Modern dan transportasi era baru.


Kelebihan dari LRT Jabodebek (Sumber: Brosur ITS/diolah)


Bagaimana dengan kondisi interior LRT Jabodebek? Tampilan desain interior memberi kesan eksklusif. Model tempat duduk (seat) penumpang yang terlihat elegan. Desain interior yang modern dan nyaman membuat para penumpang betah melakukan perjalanan dengan LRT Jabodebek.
 

Interior dari LRT Jabodebek (Sumber: Brosur ITS/diolah)


Tekad Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan untuk membangun LRT Jabodebek menjadi harapan besar masyarakat. Meski, banyak tantangan yang menghadang dalam pembangunan LRT Jabodebek tersebut. Setidaknya, ada 6 tantangan dalam pembangunan LRT Jabodebek adalah: 1) Adanya tiga fase engineering yaitu fase basic engineering design & detail engineering design, frase procurement dan fase kontruksi yang dikerjakan secara paralel dalam waktu 3 tahun; 2) Memerlukan koordinasi dengan proyek lain yang bersinggungan, seperti kereta api cepat dan Japek Elevated; 3) Analisa batas-batas ketinggian (clearance); 4) waktu kerja yang terbatas, hanya 6 jam; 5) ketersediaan lahan; dan 6) percepatan penyelesaian pembiayaan (financial closed).
Mengatasi tantangan pembangunan LRT Jabodebek bertujuan untuk meminimalisir kemacetan lalu lintas. Oleh sebab itu, hal yang dilakukan adalah melakukan terobosan dalam pemilihan lahan. Pembangunan LRT Jabodebek di area jalan tol menjadi pilihan terbaik.  Alasan pemilihan lokasi LRT Jabodebek di area jalan tol adalah: 1) sejalan dengan tujuan pembangunan LRT Jabodebek yakni untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, maka pemilihan lokasi jalan tol dapat meminimalisir kepadatan di jalan besar atau jalan protokol; dan 2) pembangunan LRT Jabodebek yang dilakukan di jalan tol mampu mengurangi volume kepadatan kendaraan pribadi secara signifikan.
Bukan hanya di area jalan tol, pembangunan LRT Jabodebek juga didesain melayang (elevated). Dibangun melayang dengan ketinggian antara 9-12 meter di atas permukaan tanah. Alasan utama LRT Jabodebek dibuat melayang yaitu: 1) dapat menghemat biaya dan waktu pengerjaan; 2) Banyaknya flyover dan JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) yang dilewati sepanjang perlintasan; 3) meminimalisir pembebasan lahan; dan 4) mencegah kecelakaan lalu lintas karena menghindari perlintasan sebidang. 
Salah satu track LRT Jabodebek melewati sungai Ciliwung. Oleh sebab itu, teknologi long span (bentang panjang) diterapkan agar pembangunan dapat berjalan tanpa menganggu aktivitas jalur di bawahnya. Maka dari itu, teknologi tinggi lainnya dari pembangunan LRT Jabodebek yang tidak kalah hebat adalah penerapan teknologi Long Span (bentang panjang). Teknologi Long Span menggunakan Vertikal Tendon, Tendon yang dipasang dari bawah ke atas. Tendon sendiri merupakan elemen baja seperti kawat baja, kabel batang, kawat untai atau suatu bundel dari elemen-elemen tersebut.
Dalam teknologi Long Span juga menggunakan U-Box Girder yang merupakan kombinasi dari U-Shaped dan Box Girder berbentuk langsing dan tipis. Jenis Girder tersebut bisa mengurangi polusi udara saat LRT Jabodebek dioperasikan. Teknologi long span (bentang panjang) yang ada dalam pembangunan LRT Jabodebek diklaim merupakan long span terpanjang di Asia.


Salah satu teknologi Long Span yang melewati sungai Ciliwung (Sumber: LRT Jabodebk)


Beberapa teknologi pemasangan long span (bentang panjang) yang digunakan dalam pembangunan LRT Jabodebek di antaranya: 1) Long Span JORR dengan menggunakan U-Box Girder sepanjang 90 m; 2) Long Span Kali Bekaasi dengan menggunakan U-Box Girder sepanjang 54-90-54 (m); dan 3) Long Span Cililitan dan Cikoko dengan menggunakan Box Girder sepanjang 54-90-54 (m).
Kombinasi teknologi long span dan U-Box Girder membuat pembangunan LRT Jabodebek sebagai teknologi transportasi masa depan. Bahkan, penerapan teknologi U Shaped Girder merupakan teknologi pertama kali digunakan di Indonesia pada pembangunan LRT Jabodebek. Adapun, alasan LRT Jabodebek menggunakan U Shaped Girder adalah: 1) mengurangi tinggi pier; 2) mengurangi tinggi struktur stasiun sehingga tidak memerlukan ruang yang terlalu banyak; dan 3) mengurangi ukuran pondasi yang besar, sehingga struktur kolom LRT Jabodebek lebih ramping. Anda bisa melihat infografis berikut ini:  


Teknologi U Shapd Girder (Sumber: LRT Jabodebek)


Bagaimana progres pembangunan LRT Jabodebek? Sesuai data dari PT Adhi Karya (Persero), selaku kontraktor, progres pembangunan baru mencapai 65,77 persen. Rinciannya, progres LRT Jabodebek lintas Cawang-Cibubur (Cawang - Taman Mini - Kampung Rambutan - Ciracas - Kampung Rambutan) mencapai 90 persen. Untuk lintas Cawang-Dukuh Atas (Cawang - Ciliwung - Cikoko - Kuningan - Rasuna Said - Karet Kuningan - Setiabudi - Dukuh Atas)  mencapai 55,91 persen. Sedangkan, lintas layanan Cawang - Bekasi Timur (Cawang - Halim - Jati Bening Baru - Cikunir - Cikunir 2 - Bekasi Barat – Jatimulya) mencapai 53,84 persen.
Sebagai informasi, satu rangkaian gerbong LRT Jabodebek telah diangkat dan diparkir di Depo Stasiun Harjamukti. Sebelum dioperasikan secara resmi maka perlu adanya tes dan uji coba terlebih dahulu. LRT Jabodebek harus melalui berbagai tes dan uji coba. Trek, kereta, prasarana, komunikasi dan lain-lain harus melewati tes dan uji coba. Sehingga, saat  beroperasi akan minim terhadap kendala.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan bahwa tes dan uji coba LRT Jabodebek akan dilakukan bertahap. Pemerintah mempunyai waktu 2 tahun untuk melakukan uji coba sebelum beroperasi secara komersial pada November 2021 mendatang. Hal ini berdasarkan pada pengalaman operasional MRT Jakarta dan LRT Palembang. Waktu uji coba yang panjang diperlukan agar operasional LRT Jabodebek bisa optimal.

"Jadi kalau sekarang ini kita akan mencoba dari Cibubur sampai ke Cawang," (Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan RI, di kantor Kemenko Kemaritiman tanggal 7 Oktober 2019)

Akhirnya, harapan besar bangsa Indonesia dengan adanya kemajuan teknologi LRT Jabodebek. Hal ini akan menjadi awal perkembangan teknologi perkeretaapian. Dan, menjadi modal besar menatap masa depan Indonesia Maju. Di mana, bangsa Indonesia mengidam-idamkan kemajuan transportasi yang modern, aman dan nyaman. Agar, bisa bersaing atau lebih maju dibandingkan bangsa-bangsa di dunia.
Beroperasinya LRT Jabodebek pada November 2021 mendatang, bukan keberhasilan Menteri Perhubungan atau Presiden Joko Widodo saja. Tetapi,  keberhasilan dari seluruh rakyat Indonesia. Seperti, dalam cuitan Presiden Joko Widodo di media sosial Twitter menjelang pelantikannya sebagai Presiden RI 2019-2024 tanggal 20 Oktober 2019 lalu, “Kerja Bersama, untuk Indonesia Maju”. 



Sumber tulisan:

No comments:

Menuju Indonesia Maju dengan Teknologi Transportasi Light Rail Transit (LRT) Jabodebek

Proses lifting car atau pengangkatan rangkaian kereta pertama ( trainset )  LRT Jabodebek  di Stasiun Harjamukti, tanggal 13 Oktobe...