Wednesday, April 15, 2020

Diajak Mampir Sang Nenek Penghuni Kuburan Saat Senjakala

ilustrasi : AlaMisteri.com





         Sebenarnya kejadian mistis ini sudah terjadi cukup lama, tahun 2001 lalu. Saat saya bersama teman saya membuka kantor distribusi di Yogyakarta. Kejadian diajak mampir oleh seorang nenek penghuni kuburan membuat bulu kuduk merinding. Tetapi, saya merasa geli sendiri. Kok bisa, waktu itu saya hanya manut saja. Saya tidak berpikir apapun, karena saya mempunyai tujuan sendiri.

      Suatu hari, seorang laki-laki, anak buah saya tidak hadir di kantor selama dua hari. Sebagai pemimpin yang peduli atas nasib anak buah, maka saya berniat untuk menjenguk dia. Yang dikabarkan sakit. Saya juga lupa, mengapa saya harus menjenguk dia menjelang maghrib. Saya berangkat kurang lebih pukul 5 sore, dari kantor di Yogyakarta. Saya harus naik angkuran umum arah Srandakan Bantul. 

       Karena, saya belum tahu pasti rumahnya, maka saya turun di sebuah jalan besar sesuai feeling. Sayangnya, ternyata saya turun masih jauh dari jalan yang direkomendasikan. Agar tidak jauh dari rumah anak buah saya itu. Saya pun bertanya ke beberapa warga arah rumah anak buah saya itu. Sayang, rumah yang dituju ternyata masih jauh. Namun, ada jalan pintas yang bisa saya lewati, yaitu dengan melewati perkebunan tembakau. Ketinggian pohon tembakau saat itu hampir setinggi dada orang dewasa.

        Hari sebentar lagi maghrib, karena saat itu suasana sudah senjakala. Sungguh, saya tidak berpikir apapun, rasa takut pun tidak ada. Karena, tujuan saya adalah menjenguk anak buah saya. Saya harus berjalan melewati perkebunan tembakau kurang lebih 1,5 km, untuk sampai ke perkampungan, tempat tinggal anak buah saya.

         Saya harus melewati pematang kebun tembakau itu. Orang-orang yang melihat saya pun heran. "Mas, bade teng pundi" (Mas, mau kemana?". Saya pun menjawabnya dengan santai dan ringan, "bade mbesuk konco kulo pak, teng desa sebelah niku". "Ra wedi toh, sakniki bade sendakala. katah sing aneh-aneh" (gak takut toh. Sekarang ini mau senjakala, banyak yang aneh-aneh) kata seorang Bapak mengingatkan. "Insya Allah mboten wonten nopo-nopo pak" (Insya Allah tidak ada apa-apa pak) jawab saya dengan percaya diri. "Nggih monggo kersanipun sampeyan" (Silahkan sudah menjadi kehendak anda).

        Benar, saya pun tidak berpikir negatif apa yang akan terjadi. Saya hanya berpikir bahwa saya harus sampai di desa sebelah. Sekitar 500 meter perjalanan saya lalui, saya melihat seperti ada perkampungan kecil. Namun, yang membuat heran saya, lampu di perkampungan tersebut belum ada yang nyala. Saya tidak berpikiran apa-apa. Sementara, adzan maghrib mulai berkumandang dari berbagai masjid. 

       Perkampungan tersebut semakin dekat, kira-kiira ada 5 rumah yang mempunyai style Jawa (Joglo).. Namun, rumah Joglo tersebut terlihat klasik. Ketika saya sedang asik berjalan, saya melihat seorang nenek yang agak bongkok sedang menyapu halaman. Jarak nenek tua dengan saya itu kurang lebih 10 meter. Jadi, saya bisa melihat wajah dia. Rambutnya yang putih, panjang dan kusut. Sepertinya, rambut tersebut tidak terurus. Wajah nenk itu diliputi keriput, tetapi ia masih semangat menyapu dengan sapu lidi.

         Melihat saya berjalan sendiri, sang nenek tersebut menyapa dengan senyum dan lemah lembut. "Le, bade pundi? Kok, sendakala mlampah piyambak mawon" (nak, mau ke mana? Kok, senjakala jalan sendiri saja) tanya  sang nenek tersebut. Jujur, saya tidak berpikir apa-apa saat itu. Saya pikir, menyapu halaman adalah hal yang biasa, meskipun dilakukan saat senjakala.

        "Loh, simbah kok piyambak mawon. Putronipun pundi?" (Loh, nenek kok sendirian saja. anak-anaknya mana?) tanya saya dengan percaya diri kepada sang nenek. "Putro kulo teng griyo, monngo mampir ngeteh utowo ngopi rihin" (Anak-anak saya lagi di dalam rumah. Mari mampir dulu, minum teh atau minum kopi) ajaknya pada saya. Saya melihat rumah sang nenek terlihat klasik, meskipun agak kecil seperti rumah tipe 36. 

       Rumah tersebut terlihat samar-samar, karena tidak ada lampu penerangan. Tetapi, saya melihat seperti beberapa patok kayu seperti penanda nisan di kuburan. Saya juga sempat bertanya masalah lampu pada sang nenek, "mbah, kok ketingalipun peteng, Punopo  mati lampu nggih" (mbah, kok kelihatannya gelap. Apa, mati lampu ya). Nenek itu hanya menjawab lirih, "nggih le. sampun lami, griyo kulo lan tonggo mati lampu" (ya nak. sudah lama rumah saya dan tetangga mati lampu). 

          Saya hanya tertegun. Antara merasa kasihan dan kagum. Ia mau hidup jauh dari perkampungan yang banyak orang, tanpa penerangan lampu. Sungguh, saya tidak berpikir apaun saat itu. Sambil mengehentikan aktifitas menyapu, nenek itu mengajak saya kembali untuk mampir di rumahnya, "Monggo le, ayo mampir rihin, ngeteh opo ngopi" (ayo nak, mampir dulu ngeteh atau ngopi). Ajakan tersebut diucapkan berkali-kali. Bahkan, sang nenek hendak mendekati saya, untuk menarik tangan saya. Saya tidak melihat kondisi kaki dia, karena tertutup oleh kain kebaya.

        Karena, saya teringat tujuan saya untuk menjenguk teman saya. Dan, hari sudah maghrib, maka ajakan nenek untuk mampir di rumahnya saya tolak dengan halus. "Nyuwun sewu mbah, kulo tasih keperluan liyonipun, nggih mbesuk konco kulo teng desa punika" (minta maaf mbah, saya masih mempunyai keperluan lain. Menjenguk teman saya di desa itu) jawab saya mantap, sambil menunjuk desa yang saya tuju. 

        Anehnya, tatapan nenek itu justru semakin tajam melihatnya. Tanpa rasa takut sedikit pun saya pamit dan menjauhi dia. Ketika perjalanan baru sekitar 20 meter, saya sempat menengoknya. Saya tidak melihatnya kembali, karena di sekitar itu, yang terlihat hanyalah kebun tembakau seperti pemandangan lainnya.

        Tanpa berpikir panjang, saya pun lari ketakutan sambil membaca doa-doa. Subhanallah! Selama pelarian tersebut, pikiran saya kalang kabut. Andai saja, saya mau mengikuti ajakan nenek itu untuk mampir ke rumahnya, saya tidak tahu apa yang etrjadi. Tetapi, saya bersyukur karena saya terlepas dari rayuan makhluk astral. Siapapun percaya, khususnya orang Jawa bahwa senjakala merupakan waktu yang baik bagi maklhuk astral melakukan penampakan untuk mengganggu manusia. 

        Pelajaran terbaik, di manapun anda berada, maka bacalah doa-doa atau mengingat Allah SWT, agar gangguan dari makhluk halus tidak bisa menimpa diri anda. Semoga artikel ini bermanfaat buat anda. Terima kasih.              

No comments:

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi) Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak...