Tuesday, April 7, 2020

Driver Ojol, Sosok yang Kuat dan Tangguh

Driver Ojol pekerja informal yang terkena imbas dari kebijakan PSBB (Sumber : @casmudi.vb/Instagram)



"Apa sih hebatnya driver Ojol?". 

         Pertanyaan itu terlintas dalam pikiran saya, ketika Pemprov DKI Jakarta akan memberlakukan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) ta1ggal 10 April 2020 mendatang. Pekerja informal seperti Driver Ojol adalah contoh nyata yang akan langsung terkena imbas dari kebijakan tersebut. Meskipun, masih banyak para pekerja informal lainnya yang bekerja di luar rumah, akan terkena imbas kebijakan PSBB.

Objek Konten

          Driver Ojol selalu menjadi pembahasan menarik. Jujur, mereka adalah salah satu sosok yang kuat dan tangguh. Anda pasti tahu bahwa sejak driver Ojol muncul di negeri ini, keberadaan mereka dimusuhi oleh tukang ojek konvensional yang biasa ngumpul di pangkalan. Tukang Ojek pangkalan beranggapan bahwa driver Ojol bisa merebut rejeki (penumpang). Bahkan, kasus kekerasan terhadap driver Ojol sering kali terjadi. Apakah driver Ojol berhenti bekerja? Tidak, karena menjadi driver Ojol menjadi ladang atau mata pencahariannya.

           Driver Ojol juga menjadi objek pemberiataan di media sosial atau media online. Ketika, oknum driver Ojol yang tidak bertanggung jawab melakukan tindakan kejahatan. Seperti perampokan atau pelecehan seksual terhadap penumpangnya. Serta, driver Ojol menjadi bulan-bulanan penumpang yang "tidak manusiawi" dengan memberikan Bintang 1. Ketika, pelayanan driver Ojol dirasa tidak menyenangkan. Jangan kaget, jika para driver Ojol hanya berharap penghargaan dari penumpang untuk memberikan bintang lima (5) di apliaksi. 

        Bagi mereka, penumpang yang memberikan bintang lima, membuat mereka merasa dihargai kinerjanya. Kita merasakan bahwa mereka juga manusia. Mereka berusaha untuk bekerja sebaik mungkin melayani penumpangnya. Bahkan, mereka akan tersenyum dan mendoakan kita berkali-kali jika penumpang memberikan bayaran lebih. Saya sendiri sudah terbiasa memberikan bayaran lebih, meski nilainya tidak seberapa buat driver Ojol. Dan, tanpa disangka doa mereka pun muncul seketika, "Terima kasih mas, semoga rejekinya bertambah". Pernahkah kalian tahu bahwa jika doa mereka dikabulkan oleh Sang Pemilik Langit dan Bumi? Percayalah, doa dari orang yang berhati baik akan menjadi berkah anda. 

          Yang menarik, driver Ojol juga menjadi objek prank atau social experiment. Yang dilakukan oleh para content creator atau Youtuber tanah air. Para Youtuber menganggap bahwa kinerja driver Ojol bisa menjadi bahan konten mereka. Dari konten prank yang biasa sampai yang di luar nalar. Demi konten, mereka menghalalkan driver Ojol untuk menjadi bahan tertawaan di kanal Youtube mereka.

          Alih-alih ingin mendapatkan viewers yang melambung tinggi. Juga, menginginkan penghasilan dari Youtube yang gila-gilaan, para Youtuber menjadikan driver Ojol bahan prank hingga mereka menangis bak anak kecil. Karena, pesanan makanan para pengguna aplikasi Ojol mendadak di cancel seketika. Kondisi tersebut justru menjadi bahan perundungan (bullying) para netizen. Tindakan prank tersebut tidak pantas menjadi bahan candaan.

       Setelah driver Ojol menangis dan meratapi kinerja mereka, para Youtuber dengan candaannya menyatakan bahwa kejadian tersebut hanyalah prank atau sekedar hiburan saja. Setelah itu, sebagai penghargaan bagi mereka telah masuk dalam konten Youtubenya, driver Ojol diberi sejumlah uang yang tidak sepadan dengan "goncangan batin mereka". Sementara, para conten creator atau Youtuber dengan senang hati mendapatkan pundi-pundi dari nestapanya driver Ojol. Kata orang Jawa, tindakan Youtuber benar-benar "mbelgedez!"  

Social Experiment dan BLT

         Bahkan, di saat Pandemi Corona ini, driver Ojol masih menjadi bahan social Experiment. Saya memahami bahwa membantu driver Ojol adalah perbuatan mulia. Dibadningkan dengan konten prank di Youtube, maka konten social experiment lebih soft. Mengapa? mereka tidak merasa tersakiti. Justru, para Youtuber sangat peduli dengan memberikan empati kepada driver Ojol yang bekerja di luar rumah dan riskan dengan paparan COVID-19. Sementara, orang-orang dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH), agar penyebaran COVID-19 tidak menyebar lebih luas.

          Namun, dengan konten social experiment yang melibatkan driver Ojol akan menarik banyak viewers di Youtube. Dengan berlandaskan rasa empati, maka tontonan tersebit akan menarik banyak orang yang sedang tinggal di  rumah. Muaranya, Youtuber yang memiliki video tersebut akan menangguk untung besar, bukan? Itulah sebabnya, konten social experiment terlihat lebih soft. 

         Saya melihat sebuah channel Youtube, di mana driver Ojol menerima pesanan beberapa kotak pizza dengan nilai 1 juta rupiah. Sang Youtuber sudah mempersiapkan uang kurang lebih 2,3 juta yang diletakan di sebuah tempat di depan rumahnya. Dan, tempat khusus tersebut sengaja dirancang untuk menaruh tempat pesanan pizzanya.

           Sang pemesan (Yotuber)  dari lantai 2 memantau pergerakan driver Ojol dengan meneleponnya langsung. Kemudian, mereka berkomunikasi tentang kinerja driver Ojol tersebut selama pandemi COVID-19. Akhir cerita, pesanan pizza tersebut diberi untuk sang driver Ojol. Juga, uang pemesanan dan kelebihannya sebesar 1,3 juta dimasukan dalam sebuah amplop. Dengan tingkah yang kaget, sang driver Ojol mengucapkan terima kasih yang sebesar-besaranya kepada Youtuber. Dan, mendoakannya agar Youtuber tersebut diberikan rejeki yang berlimpah. 

       Bahkan, sang driver Ojol tak segan-segan melakukan sujud syukur atas rejeki yang telah diperolehnya. Itulah cuplikan dari sebuah kemasan empati para creator content atau Youtuber tanpa memberikan rasa sakit atau merendahkan kinerja driver Ojol. Meskipun, pada akhirnya driver Ojol tidak merasa bahwa dirinya menjadi objek pada konten sang Youtuber. Yang mampu mendulang banyak uang. Kinerja sosial media memang dahsyat, bukan?

          Bahkan, teman saya sesama blogger di Jabodetabek telah menunjukan rasa empati kepada driver Ojol dengan memesan sejumlah makanan. Ketika, sang driver Ojol hendak mengirim ke alamat si pemesan, maka teman saya mengkonfirmasi sang driver Ojol agar pesanannya tidak perlu diantar ke alamat tujuan. Tetapi, makanan tersebut buat sang driver Ojol saja. 

         Ini merupakan bukti empati sederhana bahwa driver Ojol menjadi sosok yang menarik untuk dibahas. Saya memahami benar bahwa mereka tidak membutuhkan belas kasihan dari orang lain. Namun, di saat kita memberikan empati sebagai penghargaan atas kinerjanya, maka mereka pun tidak menolak untuk menerimanya. Orang bilang, "rejeki jangan ditolak".

         Sebenarnya, banyak sosok lain yang membutuhkan empati, Namun, driver Ojol adalah sosok yang mendapatkan perlakukan yang lengkap. Dari tindakan kekerasan hingga empati yang mampu membuat mata kita berkaca-kaca. Pernahkan anda mendengar, bagaimana jujurnya sang driver Ojol yang bersusah payah untuk memberikan uang kembalian kepada sang penumpangnya yang telah pergi jauh. Meski, uang kembalian tersebut tidak sebanding dengan susah payah sang driver Ojol. Sungguh, mereka tulus untuk melakukan pekerjaannya, tidak perlu dikasihani. Karena, mereka memahami bahwa mereka harus mandiri untuk menjalani hidup mereka. 

Senyum dan Berbagi Kebahagiaan

          Pengalaman saya ketika di Surabaya, saya memesan sebuah taksi online. Lokasi penjemputan sudah saya informasi berkali-kali. Namun, satu jam lebih saya menunggu dengan sabar untuk sang driver taksi online tersebut. Sebagai manusia biasa, saya marah. Namun, saya berusaha menunjukan senyum manis, ketika sang driver minta maaf berkali-kali. Apalagi, ketika driver taksi online ini menjadi mata pencaharian utama. 

          Dia bercerita tentang kesulitan hidupnya. Saya berkata dalam hati, "kesulitan hidupmu pak tak seberapa beban hidup yang saya jalani". Akhir perjalanan, saya berusaha untuk membayar lebih, dia berusaha untuk mengembalikannya. "Gak papa pak, buat tambahan beli BBM" kata saya. Dia pun ternyum lebar, dan mendoakan saya semoga banyak rejeki. Saya tidak mau memarahi sang driver atau memberikan bintang satu di aplikasi, meski pelayanannya begitu mengecewakan. Tetapi, saya berusaha untuk berbagi kebahagiaan. Jika anda tidak bisa memberikan sedekah, maka berikanlah senyum anda. Tentu, akan membahagiakan orang lain. 

           Itulah sebabnya, bahwa driver Ojol menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Meskipun, banyak perlakukan negatif padanya, mereka telap menjalani profesi mereka. Terlebih lagi, ketika virus Corona menghantui mereka, mengantar penumpang dan barang tetap dilakukan. Mereka pun sudah terbiasa diusir pejabat berwenang (Satpol PP, Dishub atau Kepolisian). Ketika, mereka istirahat bergerombol. Karena, kondisi tersebut bissa menjadi penyebaran Virus Corona lebih luas.

            Kini, setelah kebijakan sudah diketok palu oleh Pemprov DKI Jakarta dengan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).. Maka, driver Ojol dihantui penghasilan yang akan berkurang drastis. Driver Ojol hanya diperbolehkan untuk mengantar barang saja. Itulah sebabnya, para driver Ojol melalui asosiasinya menuntut kepada pemerintah untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar 100 ribu rupiah setiap harinya. Besaran itu merupakan 50% dari penghasilan normal yang biasa diperoleh para driver Ojol. Bagamana respon pemerintah? Kita tunggu realisasinya.


No comments:

Mengawal Pariwisata Bali Bangkit dengan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholders berfoto bersama (Sumber: Forkom Antar Media Bali Bangkit) Dampak Pandemi Covid-19 sungguh luar bia...