Sunday, April 12, 2020

Genderuwo di Kantor Biru Semarang

Angkernya membuat bulu kuduk merinding (ilustrasi/liputan6.com)





        "Cas, tolong cariin kantor di Semarang ya. Tetapi, budgetnya sekian" sambil menulis angka di sebuah kertas. Pada artikel kali ini, saya bekerja sama dengan teman saya yang lain. Masih dalam usaha distribusi. Saya meluncur dari Magelang ke Semarang bersama dengan anak buah teman saya. Sebenarnya , saya agak "wegah" (malas) mencarikan kantor di Semarang. Karena, saya sudah pernah membuka kantor di Semarang. Jadi, ingin suasana baru. Namun, karena keputusan teman saya, saya ikutin saja. Toh, nanti kantor Semarang akan saya kelola dengan baik. Meski, dihantui penampakan Genderuwo di Kantor Biru Semarang.

        Dari ujung Simpang Lima, saya selalu menghampiri rumah atau kantor yang terlihat kosong. Atau, yang tertulis "dikontrakan". Namun, tidak juga menemukannya. Sementara, hari mulai menjelang senja. Tidak jauh dari Terminal Mangkang, saya menemukan sebuah rumah atau gedung berwarna putih dan mempunyai 2 lantai. Saya bertanya dengan pemilik warung yang berada di seberang rumah tersebut. Dan, benar bahwa rumah itu sudah hampir tiga tahun kosong. Ibu tersebut terlihat heran, karena saya bertanya tentang rumah tersebut. "Hubungi saja rumah yang ada di timur mas, naik ke atas. dia yang dikasih tanggung jawab untuk rumah itu" saran dia.

Kantor Biru Semarang

         Tahun 2006 lalu, sebuah gedung lantai 2 dengan biaya sewa sekitar 7 juta per tahun benar-benar murah. Sungguh sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Cocok untuk kantor distribusi, bahkan bisa balik modal cepat. Sebenarnya, saya ingin mencari kontrakan baru lagi, tapi sepertinya tidak mungkin. Karena, hari sudah menjelang senja. Dan, harga sewa rumah tersebut sangat ramah di kantong. Di bawah budget yang disarankan teman saya. Tentu, kantoir tersebut akan disetujui teman saya. 

         Saya pun pulang ke Magelang senja hari. Saya harus berkendara sepeda motor diguyur hujan deras, sejak dari Semarang hingga Magelang. Teman saya pun setuju dengan pencarian rumah di Semarang. Gimana gak senang, wong harganya seperti lagi promo. Dia pun nyeletuk, "jangan-jangan rumahnya horor Cas" tanyanya sambil ngakak. "Halah, yang penting kan penjualan meningkat tajam. Lagian, sampeyan kasih budget kecil banget. Waktunya juga sudah gak ada lagi. Penginnya sih nyari lagi" jawab saya. Dia memang sudah percaya sama saya.

          Keesopkan harinya, saya bersama teman saya meluncur bareng ke Semarang untuk melihat kondisi rumah. Dan, membayar langsung biaya sewa. "Wah, kayaknya horor nih Cas. Kata ibu warung seberang, sudah hampir 2 tahun gak dipakai" katanya saat mengecek kondisi rumah hingga ke lantai kedua. "Masa sih?" jawab saya. "Loh, kamu malah gak tahu ya" tanya dia memastikan. "Ibu warungnya saja gak ngomong sama saya" jawab saya santai. "Gak papa, malah biasanya yang horor itu yang bisa membuat penjualan meningkat" katanya, serasa menuju mobil sedan berwarna hijau. 

          "Kita makan dulu. Habis itu, kita ke Magelang, dan besoknya kita bawa beberapa anak untuk mengecat tembok bagian depan kantor. Kita cat warna biru saja" kata teman saya, saat memasuki sebuah rumah makan sederhana. Yang letaknya tidak jauh dari rumah buat kantor nanti. Selama perjalanan ke Magelang, saya dan teman saya banyak berbicara tentang kondisi rumah untuk kantor tersebut. Bersyukur banget dapat harga segitu, kata teman saya. 

          Keesokan harinya, kantor tersebut, benar-benar dicat dengan warna biru. Terlihat aura ceria. Kesan angker yang terlihat saat pertama kali ketemu, kini hilang. Apalagi, kurang lebih 20 anak (karyawan) hadir setiap hari di kantor ini. Sebagian besar, tim tidur di beberapa kamar di lantai 2 yang begitu luas. Suasana kantor menjadi hidup.

          Namun, saat malam hari, suasana di sekitar kantor begitu mencekam. Karena, di sekeliling kantor tanpa penerangan lampu, terlihat sangat gelap. Perlu diketahui bahwa di sebelah kiri kantor terdapat lapangan kosong, bekas beberapa rumah yang dirobohkan. Sedangkan, bagian belakang kantor terdapat tanah kosong yang masih ditumbuhi semak-semak yang tinggi. Tidak jauh dari situ, terdapat pemukiman warga yang tanahnya agak tinggi.

          Semarak di dalam kantor sangat kontra dengan situasi di sekelilingnya, yang benar-benar sepi. Setelah beberapa kali mampir ngopi dan makan di warung seberang kantor, maka saya mengetahui kondisi kantor sebelumnya. "Kok njenenengan wani yo mas, ngontrak umah iku" (kok sampeyan berani ya mas mengontrak rumah itu) tanya ibu warung. "Wonten nopo toh bu" (ada apa sih bu) jawab saya yang membutuhkan jawaban secepatnya. 

          "Sedurunge sampeyan, mas-mas sing tinggal teng ngriku jarene kerep diganggu" (Sebelum anda, mas-mas yang pernah tinggal di situ seringkali diganggu) katanya, menatap saya dengan tajam. ''Nyuwun sewu bu, emange penunggune iku opo toh?"  (maaf bu, emangnya penunggunya itu apa sih) tanya saya dengan serius. "Nyuwun sewu mas. tapi sampun sanjang nggih sareng konco liyane. Mesakno konco sampeyan, mengko wedi kabeh. Jarene mas-mas mbiyen iku genderuwo"  (Minta maaf mas tapi, jangan bilang sama teman lainnya. Kasihan, nanti teman kamu takut semua. Kata mas-mas dulu itu Genderuwo) katanya sambil melayani pesanan saya. Semprul, kenapa dulu, ibu gak ngomong seperti itu. Sekarang, sudah terlanjur dijadikan kantor, mau bilang apa lagi. 

Genderuwo

            Satu bulan berlalu, suasana kantor berjalan normal. Namun, ada tim yang sempat ngomong saat istirahat di sore hari. "Asem, mbengi aku diganggu karo wong ireng duwur nang kamar pojok nduwur" (Asem, semalam saya diganggu sama orang hitam tinggi di kamar pojok atas (lantai 2)) katanya yang terlihat serius. Saya tidak meresponnya, tapi mendengarkan informasinya dengan seksama. "Kamar sebelah mana?" tanya saya penuh selidik. "Kamar paling belakang pak" jawabnya kembali. Dalam hati, saya hanya berkata, "masa sih ada penunggunya".

          Suatu hari, ketika hari minggu, anak-anak pulang kampung. Saya seorang diri di kantor itu. Meskipun, hati saya takut, tetapi rasa penasaran membuat saya "uji nyali". Saya teringat seorang tim yang guyon berkata, "pak, sekali-kali sampeyan mencoba tidur di kamar pojok atas. Percaya gak, ada cewek cantik yang nggangguin nanti". 

        Malam minggu itu, benar-benar saya sendiri. Saya berusaha untuk menghibur diri dengan menyetel lagu-lagu pop melalui DVD di lantai 2. Lampu lantai atas saya matikan. Dengan tujuan untuk menghemat pengeluaran listrik. Jadi, suasana lantai 2 terlihat temaram dengan pancaran sinar dari TV yang menampilkan lagu-lagu pop melalui DVD. Sepertinya, suara pop lagu tersebut membuat saya melupakan hal-hal misteri. Sebagai informasi, pintu kamar pojok dalam keadaan tertutup sedari tadi. 

           Tanpa terasa, saya tertidur dalam keadaan TV menyala. Kurang lebih pukul 3 malam, saya terbangun. Dan, kaget karena TV masih dalam keadaan menyala. Antara sadar dan tidak, saya pun berniat untuk mematikan TV tersebut melalui remote control. Tapi, belum kesampaian, saya merasa dingin karena efek keramik lantai. Saya berusaha untuk mencari alas tidur. Dan, saya teringat bahwa alas tidur yang enak dan empuk tersebut ada di kamar pojok. 

           Dengan langkah gontai, antara ngantuk dan tidak, saya berusaha membuka pintu kamar pojok untuk mengambil alas tidur. Betapa kagetnya saya, pemandangan di depan saya hampir membuat jantung saya copot. Saya melihat penampakan orang yang tinggi dan hitam bersandar di pojok tembok. Wajahnya yang tertutup rambut terlihat menakutkan, saat terkena cahaya yang samar-samar dari TV. Tanpa basa-basi, saya berteriak, "La haula wala kuwwata illa billah". Dan, berlari ke lantai bawah dengan nafas ngos-ngosan. Berharap untuk mengurangi rasa takut, maka pintu depan kantor saya buka. Agar, terganggu oleh suara kendaraan yang melintas tiada henti di jalan raya. Juga, bagian depan kantor terlihat terang karena lampu membuat rasa takut saya perlahan hilang.

          Saya berusaha duduk di luar kantor hingga subuh. Saya berpikir bahwa gangguan makhluk halus akan hilang seketika saat terdengar suara adzan. Kejadian tersebut tidak pernah saya sampaikan sama siapapun. Saya malu, jika orang lain mendengar apa yang saya alami. Namun, kejadian apa yang saya alami, justru beberapa kali dialami oleh anak-anak, baik cowok maupun cewek. Sejak pengalaman saya itu, saya tak berani keluyuran di kamar pojok saat malam hari. 

         Penampakan mengerikan bukan hanya di kamar lantai 2 tersebut. Tetapi, terjadi di samping kantor sebelah kiri (barat) yang terlihat gelap gulita setiap malam. Bahkan, penampakan cewek yang sedang duduk membelakangi sering terjadi di sini. Yang bikin geregetan, gangguan Genderuwo itu muncul saat kantor dalam keadaan sepi atau malam hari. Tetapi, saat banyak anak, maka gangguan tersebut seperti hilang sendiri. 

          Sejatinya, makhlus halus takut sama manusia. Tetapi, saat penampakannya mengerikan, maka sebagai manusia biasa, hanya punya satu kunci, langkah seribu. Dasar Genderuowo tak tahu diri. Bikin saya ketakutan!

No comments:

Mengawal Pariwisata Bali Bangkit dengan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholders berfoto bersama (Sumber: Forkom Antar Media Bali Bangkit) Dampak Pandemi Covid-19 sungguh luar bia...