Tuesday, April 14, 2020

Membongkar 9 (Sembilan) Rahasia Bisnis Toko Kelontong Ala Madura

Toko kelontong madura yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari (Sumber: dokumen pribadi) 




       Madura bukan hanya dikenal dengan penghasil garam, kuliner sate, atau usaha rongsokan. Atau, gaya bahasa yang unik. Bagi saya, keunikan dari orang Madura adalah berbisnis. Sedangkan, bisnis yang jarang orang tahu, yaitu berbisnis toko kelontong di pulau Bali. Membongkar Rahasia Bisnis Toko Kelontong Ala Madura, secara tidak langsung, anda akan memahami kearifan lokal para perantau Madura.

       Saya salut dengan orang Madura yang sangat ulet dan rajin dalam mengelola usahanya. Khususnya di Bali, bisnis toko kelontong ala Madura ini menjadi fenomena unik. Sebagai pesaing ritel modern yang menjamur di mana-mana. Perantau Madura tidak takut dengan menjamurnya mini market. Karena, mereka mempunyai rahasia bisnis tersendiri. Dan, rahasia bisnis ini menjadi amunisi, ,agar usaha mereka tetap bertahan sekarang ini.

      Saya sering bertanya dengan para pelaku bisnis toko kelontong di berbagai tempat, di Bali. Bahwa, usaha toko kelontong ala Madura ini mayoritas berasal dari Kabupaten Sumenep. Dan, Raas menjadi salah satu daerah yang menghasilkan para pebisnis kelontong handal di Bali, seperti di Jimbaran. Meskipun, pada kenyataannya, beberapa daerah di Madura itu mengadu nasib membuka usaha toko kelontong. 

        Lantas, apa sih rahasia bisnis Toko Kelontong Ala Madura?. Setidaknya, ada 9 (sembilan) rahasia bisnis yang bisa anda pelajari. Siapa tahu, anda ingin mencobanya, bukan? 


Rencana Berbisnis

          Perantau Madura di Bali memang unik atau mempunyai ciri khas. Saya melihat ada 4 pekerjaan yang mendominasi dilakukan para perantau Madura, yaitu : Usaha jual beli barang rongsokan, usaha sate ayam dan kambing, serta usaha kelontomg. Dan, tambahan usaha yang digeliuti para perantau Madura ini adalah art shop (usaha asesoris) dan usaha kulit. Saya melihat usaha art shop dan kulit ini mendominasi di kawasan Kuta.

        Saya bertanya dengan beberapa orang Madura yang menggeluti usaha toko kelontong. Bahwa, ussaha tersebut direncanakan lebih awal, sejak mereka hendak merantau ke Bali. Dengan kata lain, mereka sudah menyediakan dana untuk memulai usaha di perantauan, khsusnya di Bali. Oleh sebab itu, "jarang" ada orang Madura yang asli dari pulau Madura menjadi pekerja serabutan di Bali. Biasanya, keturunan Madura yang berasal dari daerah tapal kuda Jawa Timur, seperti Jember, Situbondo dan lain-lain.

         Rencana untuk berbisnis itu menjadi nilai penting dalam merantau. Mereka sudah aman atau tidak bingung saat hidup di perantauan. Karena, sejak awal, rencana untuk membuka ussaha khususnya toko kelontong sudah mantap untuk dilakukan.

Berani Investasi

        Saya sempat mengobrol lama dengan salah satu perantau asal Madura, Mahmud (nama samaran). Dia membuka usahanya di kawasan Canggu Badung Bali. Mereka berani menginvestasikan modalnya kurang lebih 200 juta, untuk membuka 2 usaha toko kelontongnya, di Canggu dan di kawasan lain. Sementara, biaya sewa ruko yang berada di kawasan jalan raya utama tersebut sebesar 90 juta rupiah per tahun. Ukuran ruko 1 lantai tersebut kira-kira 5m x 7m. Ruko tersebut dibagi menjadi 2 bagian. Bagian belakang (lebih sempit dari bagian depan) digunakan sebagai tempat tidur.

      Biaya sewa sebesar 90 juta ternyata masih murah, dibandingkan dengan biaya sewa ruko temannya. Ukurannya tidak jauh berbeda, dan lokasoinya pun tidak jauh dengan ruko yang mereka sewa. Menurut Mahmud, biaya sewa sebesar itu tidak masalah. Terpenting, penghasilan yang diperoleh bisa dua atau tiga kali lipat.

        Dari besaran biaya sewa tersebut, saya menyadari bahwa para pernatau Madura itu benar-benar berani investasi untuk usahanya. Saya sendiri pernah bertanya dengan sebuah usaha jual ssayuran dan sejenisnya yang disewa orang Madura. Yang terletak tidak jauh dengan tempat tinggal saya. Luas ruangan tersebut lebih dari 2 kali luasan ruko yang disewa oleh Mahmud. Biaya sewa tersebut sebesar 30 juta rupiah setiap tahunnya.

       Saya berpikir bahwa harga sewa tersebut sungguh "wow". Tetapi, setelah dihitung-hitung, jika usaha jual ssayuran tersebut ingin untung, maka usaha tersebut harus menghasilkan minimal 500 ribu setiap harinya. Padahal, saya lihat, usaha sayuran tersebut ramai dikunjungi para pembeli. Toko sayuran tersebut buka dari pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam, saat Pandemi Virus Corona ini.

        Makanya, besaran biaya investasi, khususnya biaya sewa tempat usaha menjadi hal yang lumrah bagi para perantau Madura. Khususnya, saat memulai usaha toko kelontong. Berapapun besaran biaya sewa per tahun, yang penting bisa menguntungkan, maka mereka berani membayarnya. Begitulah kira-kira prinsip berbisnis mereka.        

Kebersihan Terjaga

      Jika anda memasuki usaha toko kelontong Madura, maka hal pertama yang anda lihat adalah kebersihan. Perantau Madura ini sangat menjaga kebersihan saat menjalankan usaha toko kelontong. Saya sering melihat tulisan di rak etalase kaca "Tolong. Sepatu dan sandal dilepas". Bahkan, jika habis hujan turun, maka mereka pasti memasang beberapa kardus yang dibuat sebagai alas kaki, agar tidak mengotori lantai tempat usaha.

      Cara penataan barang dagangan juga terlihat asik. Seringkali, saya melihat beberapa gondola untuk menaruh barang dagangan. Tidak kalah dengan rak dagangan seperti di beberapa mini market. Barang dagangan yang berukuran besar, mereka pasang di bagian depan, seperti minuman galon dan tabung gas melon. Bahkan, tidak segan-segan mereka keluar uang lebih untuk membuat kerangkeng besi untuk menyimpan tabung gas melon.

       Seringkali, saking membludaknya barang dagangan yang berupa barang sachet. Maka, gantungan barang dagangan tersebut menghalangi penglihatan. Saya benar-benar salut karena mereka menata barang dagangan agar terlihat rapi dan bersih. Ditata sesuai dengan jenis barang dagangan, bila perlu dikasih harga. Khusus, barang dagangan rokok akan mempunyai tempat khusus di rak kaca. Dan, biassanya terletak di bagian paling depan, sangat mencolok bagi para pembeli.

Menjual Pertamini

       Usaha Pertamini menjadi ciri khas usaha toko kelontong ala Madura. Bahkan, jika tidak ada usaha Pertamini tersebut, maka ciri khas toko kelontong Madura menjadi hilang. Mengapa harus menjual usaha Pertamini? Mereka menganggap bahwa jual BBM Pertamini seperti Premium, Pertalite dan Pertamax sangat laku. Bahkan, jika ramai bisa belanja dua kali ke SPBU dalam sehatri.

       Usaha Pertamini menjadi penolong omset usaha. Baik usaha lagi ramai atau sepi, maka jualan Pertamini ini akan menambah omset harian. Jika usaha ramai, berarti hasil penjualan Pertamini ini akan menambah omset. Tetapi, jika usaha lagi stagnan, maka hasil penjualan Pertamini bissa menjaga keuntungan atau omset.

        Silahkan anda perhatikan saat perantau Madura tersebut melayani pembeli BBM. Mereka benar-benar menyenangkan pelanggan. Saat mengisi BBM, ia baru akan beringsut, setelah alat pengisi BBM tersebut benar-benar tidak mengeluarkan tetesan BBM lagi. Kadangkala, saat mengisis BBM untuk sepeda motor, saya harus menunggu agar tetesan dari alat pengisi BBM tersebut benar-benar bersih (tidak keluar tetesan BBM lagi). 

Ilmu Perkalian

        Usaha toko kelontong ini mayoritas menjual barang yang harganya di bawah harga 50 ribu. Dari jualan permen hingga jualan air minum galon. Biasanya, banyak orang yang membuka usaha dengan nilai nominal besar. Seperti usaha penjualan properti, otomotif atau lainnya yang sejenis. Perantau Madura ini justru menjalankan bisnis yang banyak orang bilang "bisnis receh". Namun, dengan menggunakan "ilmu perkalian" maka usaha mereka seringkali terlihat parlente.

      Saya beberapa kali melihat usaha toko kelontong Madura, yang mempunyai tunggaangannya mengagumkan. Di kawasan dekat dengan jalan Teuku Umar Denpasar, saya melihat perantau Madura itu menunggangi sepeda motor besar (500 CC). Di salah satu usaha kelontong Madura yang tidak jauh dari jalan Sidakarya, saya terpesona dengan tunggangannya, yaitu Mobil Kijang Innova terbaru. Saya sempat bertanya tentang tunggangan yang berada di depan usahanya, "bu, mobil kijang itu punya ibu ya?". "Alhamdulillah mas, dikasih Gusti Allah" jawabnya santai dan pelan.

       Saya jadi teringat (kalau tidak salah) motivator Tung Desem Waringin yang menyatakan bahwa bisnis apapun, jika ingin sukses harus memahami Ilmu Kali. Berapapun nilai barang, jika dikali satu juta, maka nilainya akan mengagumkan. Ya, Ilmu Kali itu yang sepertinya dipegang oleh perantau Madura yang menjalankan usaha toko kelontong.  

Stok Opname

       Merantau ke kota besar tentu menimbulkan kangen kampung halaman. Jadi, keinginan mudik bisa terjadi pada siapa pun. Termasuk, para perantau Madura ini. Seperti layaknya bisnis besar, maka hal yang menarik dari usaha toko kelontong ala Madura ini adalah proses Stock Opname atau pengecekan jumlah barang yang dijual.

       Mereka harus mendata semua barang yang hendak ditinggalkan, ketika pulang kampung atau mudik. Mereka sangat menghargai berapa nilai barang yang ia bisniskan. Oleh sebab itu, meskipun pengecekan jumlah barang masih sebatas manual, seperti dicatat dalam sebuah kertas dengan pulpen. Tetapi, dengan catatan tersebut, maka mereka akan memahami berapa nilai barang yang ditinggalkan.

         Saya beberpa kali mengamati, saat mereka sedang melakukan stiock opname. Ketika saya hendak membeli sesuatu di toko mereka. Pengecekan jumlah barrang tersebut juga berperan besar mencegah kerugian fatal. Karena, jumlah barang yang mereka data akan beralih ke orang lain yang menjalankan bisnis tersebut. Serta, diketahui oleh pemilik utama dengan pengganti selanjutnya. 

Kejujuran

       Ketika pemilik utama (pertama) pulang kampung atau mudik, maka pihak selanjutnya akan menggantikan peran bisnisnya. Mereka akan berperan layaknya pemilik utama (pertama). Hal yang perlu diperhatikan saat pemilik pertama melakukan peralihan tugas adalah Faktor Kejujuran. Ya, kejujuran adalah faktor utama, karena ini masalah uang.

         Untuk mencari orang yang jujur, hal pertama yang dilakukan oleh pemilik utama adalah mereka harus menjalani usaha toko kelontongnya sendiri kurang lebih 1 tahun. Mereka akan memahmi betul berapa nilai keuntungan yang bisa dia peroleh dalam kondisi normal, baik keuntungan harian maupun bulanan. Dengan menjalankan usaha selama minimal setahun tersebut, maka pemilik utama akan mempunyai "patokan" keuntungan atau omset per harinya. Jika, penggantinya mendapatkan omset harian jauh dari patokan tersebut, maka kemungkinan besar pengganti mempunyai karakter berbohong.

        Tahap kedua untuk mencari orang yang bisa dipegang kejujurannya adalah pengganti biasanya dilakukan oleh suami-istri. Yang masih punya hunbungan dekat. Seperti sepupu, adik, kakak atau ipar. Jika, hubungan dekat tersebut tidak ada, maka mereka akan memfilter pengganti yang sudah diketahui rekam jejaknya.

          Mengapa harus suami-istri penggantinya? Sebenarnya, tidak mutlak. Tetapi, dengan suami-istri, maka jalannya bisnis kemungkinan besar akan berjalan normal. Karena, akan ada pembagian tugas khusus di sini. Sang suami biasaanya akan bertugas belanja barang apapun, termasuk belanja BBM untuk pengisian Pertamini. Sedangkan, sang istri akan standby di tokonya saja.

      Bagaimana jika penggantinya tidak suami-istri? Tidaklah masalah jika penggantinya kedua-duanya laki-laki. Jarang atau hampir tidak ada, jika penggantinya semuanya wanita. Sangat riskan sekali. Dengan demikian, pengganti keduanya laki-laki bisa dilakukan asal keduanya bisa dipercaya alias jujur.

        Menuruit Mahmud, jika penggantinya keduanya laki-laki, maka ada kelemahannya. Yaitu, ada peluang untuk berbohong tentang omset harian. Bahkan, jika keduanya laki-laki maka berpeluang "timbulnya saling iri". Sebagai contoh, yang satu hanya belanja atau yang satu hanya jaga toko. Akhirnya, mereka ribut masalah pembagian tugas menjalankan usaha toko kelontong.
  
Bagi Hasil

        Saat pemilik utama memberikan kepercayaan kepada penggantinya. Maka, hal penting dalam menjaga keuntungan kedua belah pihak adalah Sistem Bagi Hasil. Menurut Mahmud, pengganti mesti menyetor sebesar 10 persen dari omset setiap harinya ke pemilik utama. Tentu, selama proses penggantian tersebut, sang pengganti akan berbelanja barang yang menurutnya laris.

        Setelah sang pengganti ingin menyerahkan usahanya ke pemilik utama kembali. Maka, hal yang dilakukan sama yaitu melakukan Stock Opname atau pengecekan jumlah barang. Nilai omset yang terkumpul selama proses penggantian akan dikurangi dulu dengan nilai biaya belanja barang sang pengganti, Kemudian, dikurangi dengan biaya sewa selama penggunaan. Dan, terakhir, omset yang tersisa tersebut, akan dibagi menjadi dua 50:50 (untuk pemilik utama dan pengganti).


Buka 24 Jam

        Bagi anda yang tinggal di Bali atau anda yang baru datang ke Bali, maka tiada toko yang bisa buka 24 jam, selain Toko Kelontong ala Madura. Jan bukanya bersaing dengan Mini Market yang sudah menjamur di berbagai tempat di Indonesia. Tentu, ada alasan, mengapa mereka mau membuka usaha 24 jam. Alasan utama adalah agar memperoleh keuntungan sebanyak mungkin. Dengan membuka waktu yang lama, maka akan memperoleh omset yang jauh lebih besar. Dibandingkan dengan toko yang buka hanya 8 jam.

       Masalah pembeli yang kontinuitas (terjaga konsistennya) juga menjadi alaasan mereka buka 24 jam. Bali menjadi daerah yang selalu ramai, meski hari berganti malam. Anda bisa lihat di berbagai mini market, banyak orang atau anak muda yang nongkrong, bukan? Nah, Toko Kelontomg ini memanfaatkan kesempatan para pembeli yang mayoritas sering belanja rokok secara eceran atau bungkusan. Meskipun, barang lain juga banyak yang dibeli.

      Semua memahami bahwa membuka usaha 24 jam mempunyai risiko dari tindakan kejahatan. Tetapi, jujur, saya belum pernah mendengar tindakan kejahatan yang menimpa usaha Toko Kelontong Madura. Kebanyakan, (maaf) kejahatan justru menimpa di usaha mini market. Menurut saya, mereka memahami bahwa membuka usaha 24 jam sangatlah berisiko, Tetapi, cara itulah yang harus dilakukan untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak.

        Oleh sebab itu, untuk berjaga-jaga dari tindakan kejahatan tangan jahil, para perantau Madura ini mempersenjatai diri mereka dengan (maaf) senjata tajam, seperti celurit. Anda tahu sendiri bahwa celurit adalah senjata khas Madura. Bahkan, senjata celurit ini menjadi kearifan lokal (peninggalan nenek moyang) yang tertap terjaga hingga kini.

       Saya sendiri sering melihat senjata celurit tersebut, tergantung di salah satu tembok toko kelontomgnya. Pemandangan inilah yang "mungkin" membuat "nyali ciut" bagi orang yang hendak berbuat kejahatan. Ditambah lagi, solidaritas orang Madura yang sangat kental menjadi amunisi mereka dalam menjalankan usaha. Jika, yang satu tersakiti, maka yang lain akan membantunya.

        Itulah rahasia para perantau dalam berbisnis Toko Kelontong Ala madura, yang bisa anda pelajari. Semoga, menjadi informasi dan pelajaran berharga. Terpenting, kunci penting dalam merantau adalah keseriusan dalam menjalankan pekerjaan atau usaha apapun.

2 comments:

Unknown said...

Di Jakarta saya juga banyak menjumpai bisnis toko kelontong yang dikelola orang Madura ini mas. Saya sangat kagum dengan cara mereka menata barang dagangan. Begitu rapi, meski dengan space ruang yang terbatas. Semua barang tertata apik. Begitu saya masuk ke sebuah toko kelontong tebakan saya jarang salah ketika saya melihat gaya pentaan barang dagangannya. Wow wong Madura ini yang jual. Bersih dan rapi. Dan benar ternyata.

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@Inug Dongeng : Benar mas. Inilah lebih dari cara berbisnis dia. Meski usahanya bisa tergolong kecil, tetapi dia mengelolanya dengan baik. Salam mas sudah mampir di blog saya. Mari jaga kesehatan bareng-bareng.

Cara Ibu Terapkan Gizi Seimbang untuk Tumbuh kembang Si Buah Hati Saat Pandemi

  Nutrisi Gizi seimbang anak saat Pandemi di rumah saja (Sumber: shutterstock)     “You have to love your children unselfishly. That...