Saturday, April 4, 2020

Menyambut Bulan Ramadhan 2020 di Tengah Wabah Virus Corona

Menyambut Bulan Ramadhan 2020 di Tengah Wabah Virus Corona (Sumber : NU Online/diolah)





        Kurang lebih 20 hari lagi, umat Islam akan menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan, yaitu bulan Ramadhan. Sungguh, Ramadhan 2020 nanti akan sangat jauh berbeda. Karena, dipastikan, bulan Ramadhan akan dirayakan oleh umat Islam di tengah wabah Virus Corona. Apalagi, melihat tren pasien yang positif Corona sesuai laporan resmi dari pemerintah yang terus bertambah. Per tanggal 4 April 2020 saja, jumlah pasien positif Corona sebanyak 1.986 orang, Pasien sembuh sebanyak 134 orang dan pasien yang meninggal sebanyak 181 orang. Sedangkan, persentase kematian sebesar 9,1%.

Ramadhan yang Prihatin

      Melihat kondisi tersebut, semua kalangan memprediksi bahwa Bulan Ramadhan 2020 bisa dikatakan sebagai bulan Ramadhan yang diselimuti keprihatinan. Tentu, sebagai umat Islam, kedatangan bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Bulan yang di dalamnya penuh dengan pahala dan ampunan, merupakan mimpi setiap umat Islam untuk menyambutnya dengan suka cita.

       Namun, beberapa minggu ini, penyebaran Virus Corona yang kian masif membuat kerumunan orang sangatlah dilarang. Termasuk, kerumunan pada saat sholat berjamaah. Oleh sebab itu, sesuai dengan anjuran Pemerintah, maka sholat berjamaah ditiadakan. Masyarakat dianjurkan untuk Work From Home (WFH), Stay At Home (SAH) dan beribadah di rumah saja. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Bahkan, berbagai tempat di Indonesia disemprot oleh cairan Disinfektan agar steril.

        Masjid-masjid di seluruh Indonesia, bahkan di dunia kini tampak sepi. Tiada aktifitas sama sekali. Tiada lagi suara orang mengaji dan adzan yang berkumandang dari menara masjid. Masyarakat mulai memanfaakan jam atau "mbah google" untuk melihat waktu sholat. Benar-benar suasana yang sungguh berbeda 360 derajat dari biasanya.

        Bagaimana dengan bulan Ramadhan? Tentu, bulan Ramadhan kali ini sepi dari orang mengaji atau tadarus Al Qur'an. Sholat Tarawih yang menjadi ciri khas dari malam bulan Ramadhan pun dipastikan tidak akan terlihat di Ramadhan 2020 ini. Dan, umat islam dianjurkan dengan memperbanyak amalan kebaikan di bulan Ramadhan dari rumah saja. 

      Apakah dengan tiadanya sholat tarawih di masjid-masjid akan mengurangi keutamaan bulan Ramadhan? Jawabannya TIDAK. Bulan Ramadhan akan tetap menjadi bulan yang istimewa, meski umat Islam sholat tarawih dan fardhu dari rumah. Karena, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

         Kegiatan-kegiatan yang menyemarakan bulan Ramadhan pun akan sangat ketat dipantau. Seperti, pembagian atau penjualan takjil Ramadhan. Anda pasti tahu bahwa kegiatan tersebut berpotensi besar mendatangkan kerumunan massa. Yang mampu menyebarkan Virus Corona semakin luas. Sekarang saja, warung atau minimarket  mendapatkan pembatasan jam buka. Tidak boleh buka hingga malam hari. Bahkan, warung makan atau restoran siap saji "dilarang" memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk makan di tempat. Namun, pelanggan "wajib" membawanya pulang (take away).  Jika warung atau restoran melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, maka hukumannya bisa pidana. 

        Kini, pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Oleh sebab itu, kegiatan apapun yang berpotensi mendatangkan kerumunan massa akan ditindak tegas. Hal ini dilakukan demi kebaikan bersama. Karena, kesehatan masyarakat adalah yang utama. Oleh sebab itu, kegiatan bulan Ramadhan yang berpotensi mendatangkan banyak orang, tentu akan ditiadakan. Dampaknya, bulan suci Ramadhan 2020 akan lengang. Namun, umat Islam bisa menciptakan kegembiraan di rumah, baik buka puasa maupun santap sahur. 

      Percayalah, meskipun bulan Ramadhan akan sepi dari berbagai macam kegiatan keagamaan di Masjid. Aktifitas memakmurkan masjid akan ditiadakan. Tetapi, keindahan, keberkahan, rahmat dan ampunan akan selalu datang dari Allah Yang Maha Rahmat. Kesucian akan tetap ada di hati masing-masing orang. Inilah saatnya manusia akan berusaha introspeksi diri, dari segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Allah yang memberikan wabah Virus Corona, dan Allah Yang Maha Kuasa yang akan mencabutnya.

Tunda Mudik

         Hal lain yang menarik saat bulan Ramadhan adalah ritual Mudik atau pulang kampung. Ritual yang sangat didambakan setiap umat Islam untuk bertemu dengan keluarga, orang tua, handai tolan dan tetangga yang dicintainya. Mudik menjadi kegiatan akhir dari perjalanan panjang para perantau di berbagai kota, baik di Indonesia maupun di dunia. Mudik menjadi ritual untuk melepas kangen dan memohon maaf kepada orang tua. Karena, sejatinya manusia ingin kembali fitri (suci). Oleh sebab itu, apapun dilakukan demi bisa mudik ke kampung halaman.

     Tetapi, saat pandemi COVID-19 menjangkit seluruh dunia. Maka, Pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan. Keppres dan PP telah dikeluarkan, yang mengatur tentang Darurat Kesehatan Masyarakat dan Pembatasn Sosial Skala Besar. Physical Distancing atau Jaga Jarak benar-benar diatur ketat. Masyarakat perlu menjaga jarak satu dengan yang lainnya. Termasuk, saat-saat genting di mana kerumunan massa akan terjadi ketika mudik.

      Mudik yang merupakan aktifitas migrasi (perpindahan) orang dari satu kota ke kota lain berpotensi besar menyebarkan Virus Corona lebih luas. Bahkan, aktifitas mudik berpotensi menciptakan pasien-pasien yang posistif terpapar Virus Corona. Itulah sebabnya, mudik tahun 2020 ini sangat dilarang. Apalagi, banyak masyarakat yang telah melakukan mudik dini dikarenakan di kota tidak bisa bekerja lagi.

        Setiap orang berhak untuk mudik. Namun, larangan untuk mudik justru bertujuan sangat baik. Yaitu, untuk mencegah penyebaran Virus Corona yang lebih luas. Juga, bertujuan agar pandemi COVID-19 cepat berakhir. Tentu, agar masyarakat bisa bekerja, seperti sedia kala. Namun, kepatuhan masyarakat akan anjuran pemerintah sangatlah diharapkan.

        Dengan adanya larangan mudik, maka bulan Ramadhan kali ini sungguh sepi, jika masyarakat mematuhinya. Kita tidak akan lagi mendengar kemacetan di Pantura (Pantai Utara Jawa) atau pelabuhan penyeberangan. Tidak ada lagi kecelakaan lalu lintas, karena kelalaian sopir, ngebut atau mengantuk. Bahkan, siaran langsung (live) dari berbagai media elektronik atau televisi dari jalur mudik tidak ada atau berkurang drastis. Dipastikan, bulan Ramadhan 2020 akan sepi dan lengang. 

         Meskipun, bulan Ramadhan 2020 akan terasa sepi, tetapi semaraknya akan tetap terlihat. Di balik keprihatinan yang luar biasa, karena pandemi COVID-19, umat Islam akan tetap tersenyum, semangat dan ikhlas dalam melakukan puasa bulan Ramadhan. Serta, menatap keindahan Idul Fitri. 

        Umat Islam boleh menangis atau meneteskan air mata karena semarak bulan Ramadhan 2020 akan tiada sementara. Umat Islam yang baik akan terus tersenyum dan ikhlas bahwa wabah Virus Corona akan tetap menjadi rahmat. Karena, Allah yang memberikan musibah, niscaya Allah jugalah yang akan mencabutnya. Hilangkan rasa duka cita, karena beberapa minggu lagi bulan suci Ramadhan akan datang. Mari sambut dengan suka cita. 



 Ramadhan 2020 yang diselimuti dengan keprihatian karena pandemi Virus Corona (Sumber : dokumen pribadi/YouTube)   



Marhaban Yaa Ramadhan .


No comments:

5 Hal Penting dari Tabrakan Viral CBR 1000RR SP Versus Daihatsu Ayla

  Kasus viral Daihatsu Ayla menyeruduk CBR 1000RR SP (Sumber: detik.com)       Mobil LCGC atau Low Cost Green Car (mobil murah rama...