Saturday, April 4, 2020

Rumah Angker Ubung

Rumah Angker (Ilustrasi/propertyinside.id)






        Setelah mengalami kebangkrutan usaha distribusi di Jawa Timur, akhirnya saya nekad merantau ke Bali. Saya masih ingat, akhir Pebruari 2009 sebagai langkah awal membuat usaha. Dengan modal nekad, saya mencari sebuah rumah yang bisa disewa secara bulanan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mungkin sudah menjadi jodoh dan rejeki, setelah berkeliling mencari rumah yang cocok. Akhirnya, saya menemukan tipe rumah yang pantas untuk kantor distribusi. Rumah berpagar hijau model sliding (geser) yang di bagian depan kiri terdapat sebuah pura. Rumah dekat dengan terminal Ubung Kota Denpasar. Harga murah dan bisa dibayar bulanan menjadi anugerah. Namun, tiada sangka bahwa rumah tersebut mengundang banyak kejadian aneh, benar-benar rumah angker.


Mendulang Rejeki

      Saya jadi teringat teman saya yang mengatakan bahwa jika ingin mendapatkan keuntungan penjualan yang baik, carilah rumah yang biaya sewanya rumah. Meski rumah tersebut angker. Nanti, kalau banyak orang juga minggir sendiri. Kalimat itu ada benarnya, karena biaya sewa sangat murah. Rumah dengan ruang tamu yang luas, 2 kamar tidur yang besar. 
        
        Di bagian belakang terdapat halaman yang berukuran kurang lebih seperempat dari lapangan futsal. Di bagian atasnya tanpa penutup atau genting. Di sebelahnya terdapat dapur dan satu kamar mandi yang luasnya tidak mengecewakan. Depan kamar mandi terdapat tempat untuk mencuci. Yang terletak persis di bawah tangga naik yang terbuat dari beton. Tangga tersebut menuju lantai dua yang digunakan sebagai tempat santai dan menjemur pakaian. Sama halnya dengan halaman belakang, tentu tempat menjemur pakaian tersebut juga tanpa atap.

        Benar, apa yang dikatakan oleh teman saya bahwa rumah yang digunakan untuk kantor penjualan ini benar-benar membawa rejeki. Beberapa anak buah atau tim penjualan tinggal di kamar yang disulap seperti asrama. Dan, yang lainnya tinggal di kost masing-masing. Kondisi kantor baik-baik saja tanpa gangguan atau gosip hal-hal yang di luar logika. 

         Namun, setelah 2 bulan berjalan, sepertinya anak buah yang tinggal di kantor mengalami hal-hal ganjil. Tetapi, mereka takut mengatakannya kepada saya. Persis, di sebuah malam Jumat, saya menyempatkan untuk bertanya kepada anak buah laki-laki yang tubuhnya agak gemuk. "Loh, kamu mau tidur di mana? Gak tidur di kantor?" tanya saya. "Gak beh, saya mau tidur di kos-kosan aja" jawab dia agak takut dan malu-malu. "Kan, tidur di kantor bisa menghemat uang kamu" tanya saya kembali. "Anu eh beh, saya takut, merinding atas kejadian malam kemarin" jawabnya agak gugup. "Kejadian apa? tanya saya penasaran. "Kalau malam pas jam 12 ke atas ada kejadian aneh, banyak anak kecil berlarian di halaman belakang. Dan, saya lihat cewek duduk" jawabnya dengan mantap. "Masa sih. Saya gak lihat apa-apa kok" jawab saya dengan penuh percaya diri. 

      Satu hari setelah kejadian angker diutarakan ke saya, semua anak buah yang tinggal di kantor memilih untuk kos sendiri. Akhirnya, saya tinggal di kantor sendirian. Karena waktu itu, istri dan anak saya belum pindah atau ngikut saya ke Bali. Jujur, saya tidak percaya, tetapi karena hampir semua anak buah mengalaminya. Maka, saya dengan terpaksa mempercayainya. Tanpa sepengetahuan anak buah saya, setiap malam Jumat, saya mencari penginapan sekitar kantor buat tidur. Sedang, hari-hari biasa, saya berusaha untuk main ke luar kantor, setelah ngantuk berat baru pulang ke kantor agar bissa langsung tidur dan tidak banyak berpikir yang tidak-tidak.

     Di suatu sore, ketika waktu pembayaran sewa rumah, saya berkesempatan untuk menggali informasi tentang kondisi rumah tersebut. Sungguh mengagetkan bahwa dengan santainya sang pemilik rumah mengiyakan bahwa rumah itu memang angker karena lama tidak dihuni. "Depan kamar mandi tuh penghuninya anak-anak kecil mas. Cucu saya pernah kencing sembarangan di situ, akhirnya gak bisa kencing beberapa hari. Saya carikan orang pintar untuk disembahyangi dan dikasih banten agar cucu saya sembuh" jawab bapak tuan rumah. 

       Dalam hati saya agak takut, namun hanya rumah itulah yang bisa disewa bulanan dan murah. Beberapa hari kemudian, salah satu dari anak buah memberikan informasi lebih menakutkan pada saya. "Beh, semalam ketika saya ketiduran di sini, malam-malam saya diintip lewat kaca oleh seorang cewek dari halaman belakang". Saya berusaha untuk tetap cool, pura-pura tidak takut apa yang dia alami. Meskipun, dalam hati saya berkata, "wah, apa rumah ini benar-benar angker?". 

Lukisan Ganesha

         Beberapa bulan kemudian, usaha saya mengalami kebangkrutan. Anak buah saya mulai tidak hadir dan penjualan pun nihil. Sementara, barang-barang yang ada masih menumpuk di gudang. Untuk menghabiskan barang di gudang, akhirnya saya bertahan di kantor dan menjualnya sendiri. Sebuah perjuangan yang tidak pernah disangka sebelumnya.

      Tahun ajaran baru, istri dan anak saya pindah ke Bali. Karena, anak saya hendak melanjutkan SD di Bali. Masalah angkernya rumah itu, saya tidak mau mengatakannya ke istri saya. Agar tidak menjadi pikiran atau hal yang menakutkan. Namun, angkernya rumah tersebut pun terungkap. Ketika kakak ipar dan istrinya ikut tinggal di rumah angker ini. Kakak ipar bekerja di sebuah proyek hotel. Dengan alasan untuk menghemat pengeluaran dan dekat dengan saudara, maka mau tinggal bersama saya. 

         Saya merasa senang karena kondisi rumah banyak penghuni. Rasa horor yang pernah saya alami berangsur hilang. Namun, ternyata ketakutan akan rumah angker tersebut justru timbul kembali. Ketika saya bermain laptop di tempat jemuran pada malam hari, saya melihat sosok kuntilanak terbang peris di atas tembok pembatas rumah. Semula saya tidak percaya, namun setelah saya amati dengan jelas membuat bulu kuduk merinding. Dengan langkah cepat, saya pun turun tangga dan masuk kamar. 

       Ketika siang hari, saya mencoba untuk mengecek kondisi sebelah tembok tersebut. Ternyata, masih berupa tanah kosong yang banyak semak-semak. Dan, persis berbatasan dengan tembok belakang rumah yang saya sewa adalah berupa rumpun bambu yang lebat. Orang bilang bahwa rumpun bambu memang menjadi hunian yang cocok makhlus halus, khsususnya kuntilanak dan wewe gombel. 

       Bukan itu saja, suatu hari, istri dari kakak ipar saya sempat memberikan informasi menarik kepada suaminya dan istri saya. Setelah pukul 12 malam, ia melihat wanita berambut panjang yang berjalan hilir mudik di halaman belakang. Dan, mengintipnya lewat kaca. Bahkan, saya sendiri pernah melihat gerombolan anak kecil di tempat pencucian depan kamar mandiri. Kenapa saya tetap bertahan di rumah angker ini? Alasannya, karena biaya sewa yang murah dan bisa bulanan. Jujur, mencari rumah dengan biaya sewa murah dan bulanan di Kota Denpasar, bagai mencari jarum dalam jerami. 

         Setahun, setelah anak saya sekolah di Kota Denpasar, saya sempat diberi sebuah lukisan Ganesha dari Art Shop di kawasan Pantai Kuta. Lukisan yang berukuran kurang lebih 1m x 60cm itu menarik perhatian bapak tuan rumah. "Mas, lukisannya dijual nggak?" rayunya. "Nggak kok Kak (Bali: kakek), buat hiasan dinding saja" jawab saya dengan mantap. "Kalau mau dijual, saya mau beli, karena lukisan Ganesha menurut keprcayaan orang di sini mengandung kekuatan (baca: mistis)" katanya menambahkan. "Masa sih Kak" jawab saya sedikit tidak percaya.

        Perlu diketahui bahwa lukisan Ganesha tersebut dipasang persis di tembok yang menghadap ke pintu tempat kami tidur. Jadi, saat pintu kamar terbuka maka lukisan Ganesha tersebut terlihat jelas. Beberapa bulan kemudian, anak saya terserang demam tinggi. Suhu badan di atas 38 derajat. Saya dan istri berusaha untuk membuat kompres dan memberi minuman penurun suhu badan. Nah, saat anak saya mengalami demam tinggi, hal yang menakutkan terjadi. Dia mendadak menangis keras sambil menunjuk-nunjuk lukisan Ganesha. "Pa, pa, itu ada orang besar berdiri, itu orangnya, itu orangnya" katanya menakutkan. Antara percaya dan tidak, saya menuju lukisan tersebut, melepasnya dan membalikannya agar tidak terlihat. Seketika itu juga, tangis anak saya mereda. 

          Keesokan harinya, saya mendatangi bapak tuan rumah. Bermaksud untuk memberikan lukisan yang pernah mau dibelinya. Saya tidak mengharapkan dia membeli lukisan tersebut, tetapi memberikannya secara gratis. Dan, bercerita tentang apa yang anak saya alami. "Ya, memang di kamar tamu itu ada penunggunya" jawabnya yang membuat saya makin kaget. Tetapi, sekali lagi saya tidak mau beranjak dari rumah tersebut. Alasannya, seperti yang saya katakan di atas.

         Akhirnya, saya pun terpaksa pindah dari rumah angker itu. Bukan karena takut hal-hal yang di luar nalar. Tetapi, karena rumah itu mau diperbaiki kembali oleh sang pemiliknya. Selamat tinggal rumah angker. Bagaimanapun juga, dari rumah inilah banyak merenda kenangan indah. 

        Setelah saya pindah ke tempat lain, ternyata rumah ini sudah beberapa kali dihuni atau disewa oleh orang yang berbeda. Namun, tidak ada yang bertahan lama, seperti apa yang saya alami. Saya jadi ingat dengan perkataan seorang ibu yang tinggal tidak jauh dari rumah angker itu, "Masnya kok kuat ya tinggal di rumah itu" tanyanya. Jawab saya singkat dengan kelakar, "Dipaksain aja bu, mungkin setannya udah takut sama saya he he he".  

4 comments:

Tanti Amelia said...

hahaha saya tuh ke blog ini gara gara baca di kelas Blogger kejadian kejadian mas Casmudi
ternyata emang bener ya cerita kek gini banyak peminatnyaa

Putu Adi Susanta said...

Saya tinggal di Ubung mas Cas, jangan2 di sebelah rumah saya nih lokasinya..

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@Tanti Amelia : Terima kasih mbak sudah mampir. Memang, cerita horor ini selalu membuat kita kepo ya. Salam

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@Putu Adi Susanta : tinggal sebelah mana bli?

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi) Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak...