Friday, April 17, 2020

Mereduksi Ketakutan Karena COVID-19

Mereduksi Ketakutan Karena COVID-19 (Sumber : dokumen pribadi)




         Pandemi Virus Corona atau COVID-19 membuat ketakutan setiap orang. Takut akan masa depan, yang diprediksi belum pasti. Mengapa, banyak kalangan yang masih bimbang, kapan Pandemi Virus Corona akan berakhir. Karena, berbagai pihak yang memprediksi bahwa Pandemi Virus Corona akan berakhir bulan Mei, Juni, Agustus atau akhir tahun 2020. Semua berbau ketidakpastian. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah anda perlu Mereduksi Ketakutan karena keadaan yang seperti ini.

          Mengapa anda perlu mereduksi (mengurasi) rasa takut? Anda harus percaya bahwa Pemerintah akan berbuat yang terbaik buat masyarakat. Serta, bukan hanya anda saja yang mengalami dampak dari Pandemi Virus Corona ini. Ketika anda mengeluh bahwa hari ini usaha konvensional anda masih stagnan, di luar sana masih ada orang yang belum makan. Ketika anda belum makan enak hari ini, mungkin di sana masih ada yang benar-benar belum tersentuh nasi. Kata orang Jawa, manusia masih menganggap serba 'sawang sinawang". Di mana, melihat orang lain selalu lebih beruntung dari sisi anda sendiri. 

        Saya melihat banyak postingan di media sosial yang menyatakan bahwa hidup semakin tidak pasti. Karena, tempat dia bekerja sudah tidak beroperasi. Banyak orang yang mulai terjangkit rasa ketakutan. Karena, apakah gajinya bisa diterima menjelang Hari Raya Lebaran  Atau, gaji ke-13 bisa cair gak? 

       Bahkan, masih banyak tempat usaha yang tidak mengindahkan kebijakan pemerintah sesuai kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Mereka tetap buka dengan alasan takut jika kantor tidak beroperasi. Makanya, kantor tetap buka agar karyawan tetap bekerja, biaya operasional kantor tetap ada. Yang berujung agar tetap menangguk keuntungan usaha.

         Hal yang lumrah jika masyarakat dihantui rasa ketakutan. Karena, denyut nadi kehidupan mereka harus tetap berjalan. Dapur harus tetap ngebul. Banyak yang takut, besok mau makan apa. Padahal, ketika masih bekerja, sebelum dampak Pandemi Virus Corona. Dengan percaya diri, mereka mengatakan bahwa besok kita makan di mana. Rasa percaya diri akan kehidupannya perlahan memudar karena rasa takut. Benar apa yang dikatakan Presiden RI Jokowi bahwa hal yang paling membahayakan bukanlah COVID-19 tetapi rasa takut dan panik.

        Rasa takut perlahan menghilangkan akal kita. Banyak yang takut jika tidak kebagian stock sembako. Makanya, mereka melakukan Panic Buying. belanja besar-besaran, mumpung ada budget untuk berbelanja. Mereka tidak memahami bahwa orang lain juga sangat membutuhkan hal yang sama. Juga, banyak orang yang memborong masker dalam jumlah yang besar. Bahkan, mendadak jadi mafia masker, dengan belanja fantastis dan menimbunnya. Menunggu waktu yang tepat, dan menjualnya kembali agar mendapatkan keuntungan yang berlimpah ruah. 

         Banyak orang yang takut tidak mampu mendapatkan rejeki dengan menunda mudik. Mereka takut tidak makan, jika berdiam diri di rumah, demi kebijakan Pqemerintah. Agar, penyebaran Virus Corona terhenti. Mereka memaksa pulang ke kampung atau mudik karena jaminan di kampung bisa hidup yang lebih baik. Padahahal, sebelum Pandemi Virus Corona, mereka percaya diri bahwa hidup di kota menghilangkan rasa takut. Karena, begitu mudahnya mencari rejeki. 

          Ya, rasa takut membuat segala sesuatunya menjadi jungkir balik. Oleh sebab itu, hal yang paling diperhatikan saat Pandemi Virus Corona adalah sebisa mungkin mereduksi (mengurang) rasa takut. Percayalah, Pemerintah tidak akan tinggal diam melihat kondisi masyarakat. Karena, Pemerintah pun sudah menyiapkan beberapa dapur umum untuk antisipasi PSBB. Pemerintah telah menggelontorkan dana triliunan untuk Percepatan Penanganan COVID-19. 

        Saat bekerja di rumah, banyak orang yang percaya diri mengurangi rasa ketakutan mereka. Mereka mulai beralih profesi. Banyak orang yang berusaha dengan berjualan barang secara online. Dari usaha kuliner, masker hingga Hand Sanitizer. Banyak orang yang aktif mengadakan kelas secara online. Dari yang gratis hingga harga yang bersahabat. 

          Masyarakat juga mulai berinteraksi melalui dunia maya dengan berbagai aplikasi. Jadi, meski jauh fisiknya tapi dekat hubungannya. Dengan berkomunikasi, maka setiap orang bisa berbagi dan menerima informasi atau ilmu. Mereka saling memberikan motivasi. Oleh sebab itu, rasa takut perlahan hilang. Karena, bukan hanya anda yang mengalami, tetapi semua orang mengalaminya.

         Jadi, setiap orang boleh mengeluh atau menangisi keadaan. Jujur, saya juga takut akan kondisi sekarang ini. Takut apa yang akan terjadi dengan keluarga saya. Dari hal ekonomi hingga pendidikan anak. Namun, saya menyadari bahwa bukan hanya saya yang mengalami hal seperti ini. Inilah yang membuat saya semaksimal mungkin mereduksi ketakutan yang ada. 

          Tidak ada gunanya merenungi nasib, karena di luar sana, masih ada  orang yang bernasib lebih buruk daripada anda. Di sinilah, hal yang penting adalah meningkatkan rasa syukur. Allah SWT tidak akan memberikan cobaan kepada suatu kaum di luar batas kemampuannya. Jadi, jangan takut akan cobaan, jika anda ingin tetap hidup. 

           Di balik kesempitan, pasti ada kesempatan yang luar biasa.  
   

No comments:

Cara Ibu Terapkan Gizi Seimbang untuk Tumbuh kembang Si Buah Hati Saat Pandemi

  Nutrisi Gizi seimbang anak saat Pandemi di rumah saja (Sumber: shutterstock)     “You have to love your children unselfishly. That...