Sunday, April 19, 2020

Rumah Ngawi yang Makin Angker dengan Penampakan Makhluk Astral

Rumah Ngawi yang makin angker dengan penampakan makhluk astral (Sumber: dokumen pribadi)




           Sudah lama, saya ingin pulang kampung ke Ngawi. Tahun 2020 berencana untuk pulang kampung Hari Raya Lebaran. Tapi, karena Pandemi Virus Corona, maka rencana itu buyar. Saya berencana ingin mengembangkan dan berkontribusi tentang dunia blogging di kampung halaman. Namun, karena urusan kuliah anak belum selesai, maka saya harus sabar berada di pulau Dewata. Sejak merantau ke Bali, Rumah Ngawi serasa tidak terurus. Hanya adik ipar yang "dirayu" untuk tinggal di situ. 

Ditinggal Merantau ke Bali

           Setelah saya tinggal merantau ke Bali sejak tahun 2009, secara otomatis aura Rumah Ngawi tampak angker. Banyak penampakan makhluk astral yang terjadi di sana. Bulan Januari 2020 lalu, saya sempat mampir ke Rumah Ngawi, setelah eksplorasi Yogyakarta untuk konten Youtube dan Blog. Lagian, mumpung naik pesawat gratis, maka kesempatan itu saya manfaatkan sebaik-baiknya. 

           Sebelum bertolak ke Bali, saya sempat mampir di Rumah Ngawi selama 1 minggu. Rumah yang terasa luas itu memang terasa berat diurus. Oleh sebab itu, adik ipar hanya mengurus seadanya saja. Dua anaknya yang masih kelas 1 SMP dan 4 SD tidak bisa diandalkan, untuk mengurus rumah, Akhirnya, kondisi rumah tidak tertata dengan baik. 

               Rumah itu sejatinya peninggalan mertua, yang harus kami urus sebaik mungkin. Ada 5 kamar tidur yang membuat siapapun, khususnya ibu rumah tangga merasa berat untuk mengurusnya. Waktu saya belum merantau ke Bali, saya menempati kamar paling belakang. Rumah kami pernah dipakai untuk kos anak-anak sekolah, polisi dan guru. Hingga anak sekolah yang kos di situ sudah menjadi dokter. Yang polisi sudah bertugas menjadi intel polisi. Dan, yang guru belum diketahui informasinya. Tapi, dapat kabar bahwa dia berpeluang menjadi wakil kepala sekolah.

            Sungguh ramai suasana rumah Ngawi yang saya tempati. Rumah tidak terasa sepi. Aura mistis belum terasa. Namun, setelah saya mencari sesuap nasi ke Bali, saya merasakan aura rumah menjadi angker. Bahkan, 2 kamar paling belakang sudah tidak ditempati lagi. Sebelah kamar belakang, ada gudang yang benar-benar gelap gulita ketika malam hari. 

          Bahkan, kamar belakang dan gudang, terdapat ruang tamu di bagian tengah-tengahnya. Seperti layaknya rumah, maka bagian belakang tersebut terdapat pintu sendiri. Namun, hingga saya menulis artikel ini, kamar belakang dan gudang secara otomatis belum bisa diakses. Karena, kunci pintunya patah, belum diganti. Anda bisa bayangkan bahwa kedua ruangan itu gelap gulita hingga lebih dari 1 tahun lamanya.

          Kamar yang ada di bagian depan kamar saya dan gudang juga kosong. Sudah bertahun-tahun tidak ditempati. Sejak, keluarga kami memutuskan tidak dipakai lagi untuk menerima kos. Di depan kamar tersebut terdapat tempat mencuci yang lumayan luas. Agak ke depan, terdapat toilet dan dapur, yang sering diakses oleh adik ipar dan anak-anaknya. Ke depan lagi, ada tempat sholat dan kamar kosong tanpa pintu. Yang unik, kamar kosong ini juga jarang diakses. Ruang sholat pun jarang, hanya dipakai, jika saya pas pulang kampung ke Ngawi.

             Agak ke depan lagi terdapat ruangan utama, yang luasnya hampir seperempat lapangan futsal.  Ada toilet di area ini. Dan, di sini menjadi tempat untuk berkumpul, saat Hari Raya Lebaran. Di sini juga, menjadi tempat untuk mengurusi segala acara penting, seperti selamatan. Di tempat ini terdapat ruang makan, yang tempatnya di dekat jendela. 

        Sementara, di luar jendela tersebut terdapat tempat menjemur pakaian. Yang tempatnya memanjang, dari teras hingga ruang mencuci. Jika masuk dari depan, maka untuk masuk ke area jemuran harus melewati pintu. Uniknya, tempat jemuran tersebut tanpa atap atau genteng. Dan, sebelahnya hanya dibatas oleh tembok setinggi kurang lebih 3 meter. 

          Ke bagian depan lagi, ada ruang tamu. Di samping ruang tamu, terdapat 3 (tiga) kamar tidur. Namun, yang terpakai hanya 1 kamar tidur, yaitu kamar tidur paling belakang. Sedangkan, 2 kamar tidur lainnya dibiarkan kosong. Karena, anak-anak dari adik ipar lebih memilih tidur di ruang tamu dengan menggelar springbed. Sebelah kanan raung tamu terdapat pintu yang terhubung oleh garasi. 

         Dulu, garasi ini buat parkir mobil kakak ipar. Kemudian, beralih menjadi ruang usaha segala jenis plastik. Namun, karena usaha plastik mengalami kebangkrutan, maka ruang garasi ini dibiarkan kosong. Hanya untuk menyimpan sepeda motor dan bahan-bahan plastik yang tidak sempat terjual.

          Di teras yang tidak terlalu besar, menjadi tempat istimewa. Ketika. kami "ngumpul" membicarakan hal-hal ringan. Dan, sayalah yang paling rajin "nyantai" duduk di kursi kayu jati ini. Sambil ngeteh dan ngemil yang ditaruh di atas meja jati. Sambil duduk di teras, saya menikmati berbagai macam bunga. Juga, saya bisa melihat mangga tetangga yang rimbun. Jika, malam menjelang, maka terasa aura mistisnya. Itulah sebabnya, setiap menjelang maghrib, keluarga kami menutup pintu karena takut ada hal-hal yang di luar logika manusia. Senjakala!

          Sebelah rumah Ngawi, ada rumah tetangga yang berjualan "sego letok" dan "tepo tehu" khas Ngawi, yang rasanya "endez" banget. Saya pernah membuat konten tentang kuliner tepo tahu, di akun Youtube saya, Casmudi Vlog

          Rumah tetangga saya yang familiar dipanggil "Mak Sih" ini masih giat mencari nafkah. Anak-anaknya sudah besar-besar dan berkeluarga. Konon, belakang rumah Mak Sih ini, ada sumur tua yang sudah ditimbun tanah. Rumah Mak Sih masih kelihatan rumah lama, belum ada pemugaran sama sekali. Jadi, terlihat klasik.

Penampakan Makhluk Astral

           Perlu diketahui bahwa Rumah Ngawi ini bak diselimuti aura mistis. Kenapa? separuh dari bagian rumah dikelilingi oleh tanah kosong. Bahkan, bagian belakang ini, pemandangan yang terlihat adalah tanaman pisang, pohon kluwih, asem dan jati. Yang luasnya, hampir separuh dari lapangan bola. Tidak jauh dari Rumah Ngawi juga terdapat makam umum. Tidak bisa membayangkan, kalau malam hari. Bahkan, pohon asem yang berada tidak jauh dari batas belakang rumah, saya pernah mengalami kejadian mistis. 

         Saya tidak tahu bahwa pohon itu dikenal "wingit" (angker) menurut orang Jawa. Sekitar pukul 4 pagi, saya pulang kampung dari Jakarta sambil membawa koper. Saya percaya diri saja, lewat pohon asem itu. Antara percaya atau tidak, saya melihat penampakan genderuwo. Karena rasa takut, saya memaksa untuk berjalan cepat "ngos-ngosan" dan memejamkan mata. Sambil membaca ayat Kursi berkali-kali. Saya melewati belakng rumah, karena di situ ada pintu kedua yang tembus langsung ke tempat pencucian. 

             Kembali ke masalah Rumah Ngawi, 4 tahun pertama saya merantau ke Bali, saya sering pulang 3-6 bulan sekali. Setelah itu, setahun sekali, saya pulang. Kecuali, jika ada kepentingan mendadak, seperti pernikahan keluarga. Sejak 4 tahun pertama saya merantau, saya merasa ada hal yang ganjil ketika saya berada di rumah Ngawi. 

          Ruang tidur saya yang berada di bagian paling belakang, secara otomatis jarang diakses. Pintu kamar ditutup selama berbulan-bulan. Tentu, makhluk astral akan betah tinggal di situ. Apalagi, gudang yang penuh barang. Kondisi lembab dan gelap menjadi tempat yang nyaman untuk tempat tinggal makhluk halus. Saya beberapa kali melihat penampakan genderuwo di gudang. Bahkan, di tempat pencucian, berkali-kali melihat penampakan wanita berambut panjang.

          Pengalaman melihat penampakan tersebut saya simpan. Tidak mau saya kasih tahu ke saudara, terutama adik ipar yang masih tinggal di situ. Lagian, kalau saya pulang, saya tidak pernah mendengar keluhan adik ipar tentang makhluk astral tersebut. Yang saya tahu, kalau sudah pukul 9 malam, adik ipar dan anak-anaknya memaksa untuk tidur. 

              Ternyata, penampakan atau gangguan makhluk halus juga sering dialami oleh adik ipar saya. Tapi, adik ipar saya benar-benar cuek dan pemberani. Ketika dia mengakses dapur dan tempat pencucian, dia sering mendengar suara-suara yang di luar logika. Dia hanya bilang dan kencang, "rasah glotakan, aku ra ganggu awakmu. Urip ning dunyone dewe-dewe. rasah ngganggu" (Tidak usah membuat suara gaduh, aku tidak mengganggu anda. Hidup di dunianya masing-masing. Tidak usah mengganggu). 

             Yang menarik, anak pertama dari adik ipar saya, tidak pernah ngomong ke saya, ketika saya pulang. Dia tidak mau berkeluh-kesah masalah gangguan makhluk astral yang pernah dia alami. Sebagai informasi, anak pertama adik ipar yang masih duduk di kelas 1 SMP ini mempunyai kemampuan seperti anak indigo. Jadi, bisa melihat penampakan makhluk astral. 

Pengalaman Mistis Keponakan

           Dua hari yang lalu, saya iseng-iseng ngomong anak pertama adik ipar saya itu. Melalui WA istri saya, dia dimintai tolong untuk merekam setiap sudut rumah Ngawi. Gayung pun bersambut. Anak itu yang biasanya susah untuk dimintai tolong, ternyata mau juga. Dengan alasan, video tersebut untuk dijadikan konten YouTube. Dan, akan dicek, apakah rumah Ngawi ada penghuninya. 

           Kurang lebih 10 video terkirim ke WA istri saya. Yang merekam setiap sudut rumah. Hanya, kamar saya paling belakng dan gudang, yang menurut ia tidak mau merekamnya. Tanpa dipaksa, selama mengirim video kondisi rumah "one by one" tersebut, anak itu justru merekam beberapa kali tentang pengalaman penampakan yang pernah ia alami sebelumnya. 

          Pertama, ia pernah melihat penampakan kuntilanak di pintu, dekat dengan garasi. Ini benar-benar merinding. Bahkan, saat malam hari, dia melihat penampakan yang sama di depan rumah atau teras. Penampakan tersebut sepertinya berlanjut. Ia melihat lagi penampakan yang hampir sama di jendela kamar ruang  tidur yang kosong. Ruang tidur yang berada di bagian tengah (nomor dua dari depan). 

            Kedua, kebiasaan dia kalau mau mandi selalu ditemani ibunya. Karena, dia merasa bahwa kondisi bagian belakng rumah memberikan aura mistis. Dia sempat melihat kondisi dapur, karena pintu kamar mandinya sengaja tidak dikunci. Hanya dibuka sedikit  Dia melihat dengan jelas seorang anak kecil, yang tingginya hampir sama dengan adiknya. Berjalan melintas di sekitar ruang dapur. Anak kecil ini berbaju putih sambil memeluk boneka. 

            Dia mengira adiknya. Setelah mandi, dengan rasa penasaran, ia bertanya langsung kepada ibunya, "ma, tadi adik ke belakang ya?". Ibunya pun hanya menjawab ringan tetapi serius, "loh, adiknya, dari tadi di depan kok". Dia pun kaget dengan kejadian tersebut. Sebenarnya, kondisi rumah yang mempunyai aura mistis ini tidaklah menakutkan. Jika, bapaknya ada di tempat. Karena, bapaknya bekerja di Malang, yang pulangnya kalau lagi "ingin" saja. Saya tidak bisa menceritakan alasan bapaknya tidak tinggal di Rumah Ngawi. Karena, itu sudah ranah privasi orang. Maaf banget!

             Banyak orng beranggapan bahwa sebuah ruangan, rumah atau gedung tidak ditempati selama sebulan saja, sudah memberikan aura mistis. Apalagi, kalau tidak ditempati manusia selama bertahun-tahun. Maka, makhluk astral yang akan menggantikan posisi manusia. Dan, Rumah Ngawi menjadi contoh bahwa setiap tempat harus ada penghuninya. Hal ini bertujuan untuk menghindari aura mistis dan gangguan makhluk astral.

        Juga, yang perlu diperhatikan adalah anda perlu rajin beribadah dan mengaji (bagi yang beragama Islam), Jika, hal tersebut dilakukan, maka makhluk astral akan perlahan pergi atau menghindar. Karena, makhluk astral sejatinya tidak akan bisa mengganggu manusia yang kuat iman dan rajin beribadah. Itulah sebabnya, sering saya lakukan hal tersebut. Ketika, saya menyempatkan pulang ke Ngawi. Meski, rumah tersebut memberikan aura yang mistis dan angker. Tetapi, saya mencoba untuk beribadah (sholat) di tempat tersebut. Insya Allah, makhluk astral tersebut akan pergi jauh secara perlahan.  


No comments:

Cara Ibu Terapkan Gizi Seimbang untuk Tumbuh kembang Si Buah Hati Saat Pandemi

  Nutrisi Gizi seimbang anak saat Pandemi di rumah saja (Sumber: shutterstock)     “You have to love your children unselfishly. That...