Friday, April 24, 2020

Sejatinya, Mudik dan Pulang Kampung Berbeda

Sejatinya Mudik dan Pulang Kampung Berbeda (Sumber: dokumen pribadi)






"Kalau itu bukan mudik. Itu namanya Pulang Kampung. Karena, bekerja di Jabodetabek. Di sini mereka sudah tidak punya pekerjaan ya mereka pulang karena anak dan istri ada di kampung" (Presiden Jokowi. Istana Merdeka 22 April 2020)).


            Pernyataan Presiden Jokowi di atas sontak menjadi trending di media sosial. Perbedaan arti dari Mudik dan Pulang Kampung menjadi bahan pembiacaraan panas. Padahal, masalah yang remeh temeh. Namun, ketika masalah yang remeh temeh tersebut keluar dari orang nomor satu, maka selalu menjadi menarik. Bahkan, menjadi pro dan kontra para warganet (netizen).


Jokowi Diuji Pandemi


           Pernyataan perbedaan kata "Mudik" dan "Pulang Kampung" berawal dari acara yang digandrungi banyak pemirsa yaitu Mata Najwa. Ya, acara yang dibawakan oleh Host Spektakuler Najwa Shihab, selalu menjadi menarik untuk disimak. 

         Banyak kalangan menganggap bahwa acara Mata Najwa menjadi proses "pengulitan" para politisi. Pertanyaan yang selau menjebak dari sang Host. Bahkan, pertanyaan yang selalu mencecar. Untuk mencari titik lemah dari narasumber akan selalu dilancarkan. Bagi para politisi, sekali keseleo lidah, maka akan menjadi bulan-bulanan warganet.

               Dengan kata lain, acara Mata Najwa akan menjadi kuburan para politisi. Maka, ketika hadir di acara tersebut, bersiap-siaplah untuk menjaga konsistensi pendapat, tidak emosian dan smart. Maka, akan meladeni pertanyaan Najwa Shihab dengan santai. Namun, jika jawaban dari narasumber masih terkesan "ambigu", maka sang host akan terus mencecar pertanyaan selanjutnya. Hingga pertanyaan tersebut dijawab dengan jelas dan gamblang. 

              Hal itulah yang menimpa pada orang nomor satu Indonesia, Presiden Jokowi. Acara Mata Najwa yang tayang pada tanggal 22 April 2020 lalu. Di sebuah stasiun swasta naasional. Di mana, Najwa Shihab membahas tentang tema yang benar-benar menggigit dan nendang. "Jokowi Diuji Pandemi" menghadirkan narasumber utama dan tunggal, Presiden Jokowi. Sedangkan, acara Mata Najwa Shihab tersebut mengulas tentang wawancara eksklusif dirinya dengan Presiden Jokowi. Di mana wawancara dilakukan di Istana Merdeka pada tanggal 21 April 2020.

            Seperti biasanya, di awal wawancara, Najwa Shihab selalu memberikan pertanyaan yang membuat narasumber dijebak dalam jawaban. Pertanyaan tentang kondisi ego sektoral yang semestinya satu bahasa dari pusat ke daerah. Namun, kebijakan pemerintah dari atas ke bawah seperti tidak satu jalan. Kasus Ojol yang tidak boleh narik penumpang menurut peraturan Kemenkes. Tetapi, diperbolehkan untuk narik penumpang menurut peraturan Kemenhub. 

             Pertanyaan menggigit lainnya adalah masalah operasional KRL (Kereta Rel Listrik). Di mana, yang diusulkan secara kompak oleh kepala daerah di Jabodebek untuk dihentikan. Namun, KRL tersebut meski tetap berjalan, menurut Kemenhub. Alasan permintaan para Kepala Daerah adalah kondisi KRL tanpa terkontrol. Karena, bisa melanggar protokol kesehatan saat Pandemi Virus Corona, yaitu Physical Distancing. Berjejalnya penumpang menjadi alasan banyak kepala daerah.

              Pertanyaan tentang operasional KRL dijawab Presiden Jokowi dengan santai. Bahwa, perlu adanya lkebijakan yang mementingkan masalah rakyat. Jika KRL dihentikan, bagaimana nasib rakyat kecil yang masih mengandalkan transportasi KRL. Presiden Jokowi meyakinkan bahwa jika para kepala daerah benar-benar siap menjamin bantalan untuk jaminan sosial, maka operasional KRL siap dihentikan. Presiden Jokowi menjawab dengan santai dan gamblang. Meski, jawaban tersebut, menurut saya "berbeda" pandangan dengan permintaan para kepala daerah Jabodebek.


Mudik dan Pulang Kampung


              Pertanyaan selanjutnya yang "nendang" banget adalah masalah mudik. Menurut saya, pertanyaan dari Najwa Shihab tersebut membuat perubahan gesture dari Presiden Jokowi. Mengapa? Saya melihat posisi duduk sang Presiden berubah. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Presiden Jokowi mesti membenarkan posisi duduk terlebih dahulu. Saya merasakan bahwa pertanyaan tersebut sangat serius di mata Presiden Jokowi. Makanya, beliau harus membenarkan posisi duduk terlebih dahulu, agar beliau merasa nyaman saat menjawabnya. 

            Menurut Najwa Shihab bahwa larangan mudik dianggap sebagai kebijakan yang terlambat. Karena, banyak perantau di kota-kota besar Jabodetabek yang "curi start" untuk mudik lebih awal. Pernyataan yang diungkpkan oleh Najwa Shihab adalah:
  
"Data dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) hampir 1 juta atau sekitar 900.000 orang yang sudah mudik. Kalau Pemerintah baru akan melarang apa tidak terlambat karena sebaran sudah terjadi". 

              Mendengar dari pernyataan Najwa Shihab, Presiden Jokowi dengan penuh keyakinan merespon bahwa tindakan tersebut bukanlah Mudik. Tetapi, sebagai aktifitas Pulang Kampung

"Kalau mudik itu di hari Lebarannya. Ya beda. Untuk merayakan Idul Fitri". 

             Pernyataan Presiden Jokowi pun disangkal oleh sang host. Najwa Shihab menyatakan bahwa Mudik dan Pulang Kampung adalah aktifitas yang sama. Kedua aktifitas tersebut hanyalah Perbedaan waktu. 

           Pernyataan perbedaan arti dari Mudik dan Pulang Kampung inilah yang kemudian ramai menjadi perbincangan warganet. Dan, menjadi trending topik di media sosial. Kita memahami bahwa arti dari mudik dan pulang kampung menurut Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) yang di-update pada bulan Oktober 2019 mempunyai arti yang sama. 

            Namun, arti "mudik" mempunyai dua arti seperti yang tertulis di KBBI tersebut. Di mana, salah satu arti dari mudik tersebut memberikan keterangan bahwa arti mudik bisa sama dengan pulang kampung karena ungkapan yang sering muncul dalam masyarakat. 

          Dengan demikian, Presiden Jokowi tidak salah jika menyatakan bahwa arti mudik dan pulang kampung berbeda. Pernyataan tentang perbedaaan arti mudik dan pulang kampung juga diperkuat oleh ahli bahasa dan Guru Besar Linguistik dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat (detik.com, 23/4/2020). 

         Menurut pendapat saya, arti mudik berarti menuju udik (me-udik) atau menuju ke kampung halaman. Di mana, waktu yang dibutuhkan saat di tempat yang dituju (kampung halaman), bukanlah membutuhkan waktu yang lama. Dengan kata lain, orang yang menuju ke kampung halaman hanyalah sementara. Atau, mereka hanya singgah untuk sementara waktu. Dan, akan kembali lagi ke tempat awal (tempat perantauan).

         Dan, ungkapan mudik ini justru diungkapkan banyak orang saat menjelang Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri. Mereka yang melakukan aktifitas Mudik tidaklah selamanya tinggal di kampung halaman. Tetapi, tinggal beberapa waktu untuk merayakan Lebaran. Dan, kemudian mereka kembali lagi ke kota untuk mencari nafkah. 

              Sedangkan, kata Pulang Kampung mempunyai arti pulang ke kampung halaman. Setelah mereka tinggal dalam waktu yang tidak di ditentukan di tempat perantauan. Pulang Kampung menunjukan aktifitas menuju ke kampung halaman untuk jangka waktu yang lama dan tetap. 

            Dengan kata lain, mereka tidak ada keinginan lagi untuk kembali ke tempat perantauan. Karena, di kampung halaman, mereka sudah mempunyai tujuan yang jelas. Di mana, tujuan tersebut hendak di lakukan untuk aktifitas selanjutnya. Sebagai contoh, setelah ia kuliah selama 7 tahun meraih gelar Sarjana dan Masternya di Jakarta, dia pulang kampung ke Solo Jawa Tengah. Berarti, mereka pulang ke kampung halamannya. Dan, tidak ada keinginan lagi untuk kuliah sarjana dan masternya kembali di Jakarta. 

            Dari penjelasan di atas, sejatinya arti Mudik dan Pulang Kampung sangatlah berbeda. Namun, tujuan dari kedua aktifitas tersebut adalah sama yaitu sama-sama menuju kampung halaman. Itulah sebabnya, masyarakat kita "sudah terbiasa" mengungkapkan arti Mudik dan Pulang Kampung sebagai aktifitas yang sama sejak puluhan tahun lamanya. Sama-sama menuju ke kampung halaman. 

             Jadi, tidak perlu kaget dan nyinyir jika Presiden Jokowi menjelaskan perbedaan arti dari Mudik dan Pulang kampung. Meskipun, akhirnya menjadi "blunder". Sepertinya, pernyataan Presiden Jokowi menyalahi anggapan masyarakat yang sudah mengakar selama berpuluh-puluh tahun. 

            Presiden Jokowi menyatakan Mudik dan Pulang Kampung berbeda karena adanya perbedaan alasan dan waktu yang terjadi dari mudik dan Pulang Kampung. Itulah sebabnya, Presiden Jokowi menyatakan bahwa orang curi start ke kampung halaman dinyatakan sebagai pulang kampung. Karena, ada alasan yang kuat di kota yaitu sudah tidak ada pekerjaan lagi. Secara otomatis, mereka yang ke kampung halaman tidak akan ke kota lagi. Karena, harapan bekerja di kota sudah tipis, bahkan tidak ada sama sekali karena PHK. 

             Sedangkan, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa mereka yang ke kampung halaman menjelang Lebaran sebagai mudik. Karena, altifitas tersebut dilakukan untuk memenuhi ritual tahunan dengan memohon maaf kepada keluarga besarnya di kampung halaman. Serta, waktu yang dibutuhkan di kampung halaman hanyalah sementara. Karena, setelah kemeriahan Lebaran usai, mereka akan kembali lagi ke kota untuk mencari nafkah kembali. 

            Jadi, menurut saya, Mudik dan Pulang Kampung adalah hal yang sama dalam prosesnya. Yaitu, aktifitas menuju ke kampung halaman dengan berbagai jenis transportasi. Namun, Mudik dan Pulang Kampung juga akan mempunyai arti yang berbeda,. Jika, dilihat dari alasan kuat yang mendasari saat di perantauan, durasi waktu di kampung halaman dan waktu untuk melakukan aktifitas perjalanan ke kampung halaman. 

             Semoga mencerahkan, dan jangan nyinyir lagi ya.


No comments:

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi) Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak...