Friday, April 10, 2020

Suara Gamelan di Malam Jumat


Saya berdiri di depan Gerbang SMA N 1 Kodya Tegal (Sumber: dokumen pribadi)




        "Kapan anda mempunyai kisah yang paling indah?". Sebuah pertanyaan yang  selalu ingin dijawab secara berebutan. Kisah waktu SMA, bukan? Apalagi, bagi generasi 90an. Ups, jadi ketahuan umurnya. Orang bilang kisah indah di masa SMA akan terkenang seumur hidup. Dari nembak cewek secara malu-malu, hingga kirim surat cinta yang tiada terbalas hingga kini. Kasihan banget ya? 

       Bagi yang punya kisah indah masa SMA, maka akan terkenang hingga sekarang. Tetapi, bagaimana jika yang terkenang kisah horornya. Seperti, alunan Suara Gamelan samping kamar, khususnya malam Jumat. Ihh, serammmm! 

Mandiri Sejak SMA

         Bersyukur, bagi kalian yang waktu sekolah SMA tinggal bareng orang tua. Setidaknya, kalian gak repot mikirin masalah makan dan bayar kos. Selama saya sekolah SMA, tiga kali saya berpindah kos, untuk mencari biaya kos termurah. Maklum, saya tidak bersekolah di Brebes, di mana saya tinggal. Namun, saya sekolah di Kota Tegal. Perjalanan dengan angkutan umum, dari rumah saya ke sekolah kurang lebih 1 jam 20 menit. Jadi, untuk menghemat waktu, agar tidak keteteran, saya mesti kos.

        Banyak saudara menyarankan, agar saya sekolah di Brebes saja. Toh, masih banyak sekolah favorit yang bisa dijalani. Namun, saat itu, SMA 1 Kodya Tegal menjadi favorit hingga Brebes, sejak saya masih SMP. Karena, saya sekolah di Tegal, maka risiko kos harus saya jalani. Namun, tidak seperti anak pada umumnya. Di mana, begitu mudahnya diberi uang untuk bekal selama sekolah. Tanpa sepengetahuan teman-teman sekolah, yang kebanyakan orang kaya. Saya justru mesti pulang ke Brebes 2-3 minggu sekali. Menjadi kuli serabutan untuk membayar sekolah, hingga lulus. 

           Saya masih teringat pesan Bapak yang menyentuh hati. Dan, membuat saya selalu menangis, jika mengingatnya. "Saya hanya bisa kasih kamu uang 200 ribu, ke sananya kamu tanggung biaya sendiri. Jika mau mengirit biaya hidup, hari minggu pulang saja, biar bisa kerja kuli serabutan". Makjleb! Antara lanjut sekolah atau tidak, namun nait sudah bulat. 

         Demi menghemat ongkos biaya hidup dan mendapatkan pahala, saya terbiasa puasa senin-kamis hingga lulus. Menginjak kelas tiga, saya beruntung sekali. Saya dipercaya untuk menjadi "pengurus Mushola SMA". Tugas saya adalah menjaga kebersihan Mushola dan hal-hal lain yang dianggap penting. Sebagai jasanya, saya mendapatkan uang sebesar 10 ribu tiap bulannya. Uang sebesar itu bisa untuk membayar uang kos. Sebagai informasi bahwa saat itu harga makanan dengan lauk "orek tempe" harganya sebesar 500 rupiah. Bukan itu saja, saya diberi kesempatan untuk tinggal di asrama guru sekolah secara gratis. Jadi, uang gaji saya gunakan untuk hidup dan membayar keperluan sekolah.

       Asrama sekolah berada di seberang komplek utama SMA 1 Kodya Tegal, terpisah oleh jalan raya (jalan Menteri Supeno). Kurang lebih ada 5 ksmar yang menghadap ke arah jalan raya. Sedang, persis di depan deretan kamar asrama tersebut, terdapat perpustakaan sekolah. Saya dikasih kesempatan untuk tinggal di kamar paling barat. Sebelah timur kamar saya adalah gudang, yang berisi banyak atribut sekolah. Namun, yang paling mencolok adalah beberapa set gamelan. Hingga kini, saya tidak tahu kenapa gamelan tersebut tidak dipakai lagi.

          Tiga kamar sebelah gudang adalah kamar yang ditempati oleh guru-guru yang masih mengajar saya di kelas, saat itu. Depan kamar-kamar asrama dibuat rindang karena ditumbuhi dengan bunga-bunga. Setiap pagi, saya berusaha untuk menyiram tanaman tersebut dari ujung ke ujung. Sebagai balas jasa, kerapkali saya diberi makanan oleh guru saya. Katanya, "cas, nih nasi buat sarapan sebelum sekolah ya?". Dan, saya pun menjawabnya penuh lemah lembut, "matur nuwun ibu". 

          Saya baru tahu bahwa kamar saya sering digunakan sebagai tempat menyimpan atau penitipan kebutuhan anak-anak pramuka. Jadi, bulan-bulan awal tahun baru dan pramuka, teman-teman dengan percaya diri menitipkan semua kebutuhan barangnya di kamar saya. Bahkan, tidak sedikit yang ikut belajar bersama hingga malam hari dan ikut menginap. Saya senang sekali, karena jadi punya banyak teman untuk menghibur diri. 

        Namun, heran banget di saat malam Jumat, teman-teman jarang ada yang mau nginap. Alasannya macam-macam. Maklum, sebagai anak jurusan Fisika, maka begadang untuk mengerjakan tugas bukan hal yang baru. Menarik, persis di samping kamar saya adalah halaman kosong seluas seperempat lapangan futsal. Yang dibatasi oleh tembok tinggi, yang di sebelahnya adalah kolam renang umum. Dan, di pojok tembok, tumbuh beberapa pohon pisang yang makin meninggi. Seringkali, rumput-rumput tinggi menghalangi pesona pohon pisang tersebut.

Suara Gamelan Malam Jumat

           Perlu diketahui bahwa asrama yang saya tempati adalah bangunan model Belanda. Meja belajar dipasang membujur searah dengan dinding sebelah barat. Di dinding terdapat jendela besar dari kayu yang terbuka dari dua sisi. Dan dikunci dengan slot kunci bentuk L. Ketika malam hari, dan hendak membuka jendela tersebut, maka saya bisa melihat dengan jelas kegelapan tumbuhan pisang. Yang jaraknya kurang lebih 15 meter di depan saya. Gelap tanpa penerangan sama sekali ketika malam hari.

           Suatu hari, di malam Jumat sehabis Maghrib, saya kedatangan kakak kelas yang barusan lulus. Dan, saya sudah mengenalnya/ Mungkin, sekedar mampir atau napak tilas, karena sebelum saya, dialah yang pernah tinggal di kamar yang saya tempati. Juga, yang ikut serta mengurusi Mushola. Kita ngobrol santai, tanpa terasa celetukan muncul. "Cas, hati-hati  dan gak usah kaget ya. Ini kan malam Jumat. Dulu, saya sering mendengar bunyi gamelan kamar sebelah. Bahkan, di pohon pisang itu sering melihat penampakan Genderuwo". "Masa sih mas?" jawab saya. "Gak ding, gak ada apa-apa kok. Cuma guyon saja" katanya. Ketika, melihat saya agak ketakutan, dia menghentikan guyonannya. Habis itu, dia pun pulang setelah sholat isya.

          Setelah mendengar informasi tersebut, saya agak takut. Tetapi, mau tidur ke mana lagi. Tidak ada tempat lain yang mesti saya tumpangi. Saya pun lantas menutup jendela kamar, yang pandangannya mengarah ke rimbunnya pohon pisang. Selanjutnya, ke Mushola dulu untuk menjalankan tugasnya. Sholat Isya, mengatur dan membersihkan Mushola yang dirasa kotor dan mengganggu pandangan mata, menjadi kegiatan rutin di malam hari. 

         Sebenarnya, saya hendak tidur di Mushola, tetapi saya mesti mengerjakan tugas sekolah yang masih menumpuk. Saya pun memaksa begadang hingga pukul 11 malam. Seperti biasa, lampu kamat pun saya matikan. Saya berusaha untuk melupakan informasi dari kakak kelas saya tadi. Dan, akhirnya, tanpa terasa saya tertidur pulas.

           Saya terbiasa bangun malam untuk mengerjakan sholat malam (Tahajud). Karena, berharap saya bisa lulus sekolah dengan lancar. Meski, saya harus berjuang sendiri. Tanpa terasa, sekitar pukul 01.30 saya terbangun. Bukan hanya hendak sholat malam. Tetapi, sedari sore saya hanya buka puasa Senin-kamis dengan kue yang dikasih kakak kelas. Jadi pas bangun malam hari, perut terasa keroncongan. Untungnya, saya sudah beli mie rebus untuk jaga-jaga, jika malam hari kelaparan. 

         Namun, yang membuat saya ketakutan adalah benar apa yang dikatakan kakak kelas. Saya mendengar sayup-sayup bunyi gamelan di samping kamar saya. Dengan perasaan takut dan kamar masih gelap, saya mencoba menempelkan telinga ke dinding yang berbatasan dengan kamar gudang sebelah. Suaranya sungguh jelas, seperti musik gamelan yang sedang mengiringi sebuah tarian. Karena, rasa takut yang teramat sangat, maka niat untuk sholat malam dan masak mie rebus gagal total. Dengan doa-doa untuk mengusir gangguan setan, saya pun pergi tidur di dipan yang hanya beralaskan tikar pandan yang mulai rombeng.

        Setelah mendapatkan pengalaman seperti itu setiap malam, apalagi saat malam Jumat. Maka, setiap malam Jumat saya memaksakan diri tidur di Mushola sekolah. Bukannya takut, tetapi gak kuat alunan suara mistisnya gamelan samping kamar.

          Bulan September 2016 lalu, saya menyempatkan diri mampir ke sekolah. Bukan hanya bertemu dengan teman sekelas dulu yang sekarang mengabdi di SMA. Tetapi, saya sempat napak tilas ke Mushola dan bekas kamar yang saya tempati dulu. Kini, sudah terlihat cerah dan tidak menimbulkan aira mistis. Itulah kisah seram di masa SMA.  

2 comments:

Tanti Amelia said...

masya Allah...

kisah hidupnya mas Casmudi ini mengagumkan. Salut dengan ketabahan dan keberaniannya

dengan bekal shalat tahajud dan puasa Senin Kamis, insya Allah satu aaat berbuah rejeki yang banyaaaaakkkk amiiin

CASMUDI, BERBAGI MESKIPUN MASIH KURANG said...

@Tanti Amelia : Insya Allah mbak, manusia hanya berencana, tetapi Allah SWT jualah yang menentukan Tetap sehat dan kuat di tengah wabah COVID-19 ini. Salam.

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi) Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak...