Thursday, April 9, 2020

Suara Misteri di Air Terjun Tukad Bangkung

Air Terjun Tukad Bangkung yang terlihat masih alami (Sumber : dokumen pribadi)



          Tanggal 15 Maret 2020 lalu, saya berniat untuk eksplore Air Terjun Nungnung di Kawasan Desa Plaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung Bali. Namun, karena masih pukul 9 pagi, maka saya dan mantan pacar (istri) berniat untuk mampir sebentar di Jembatan Tukad Bangkung. Jembatan yang diklaim tertinggi di Asia Tenggara. Sebelum sampai di Jembatan Tukad Bangkung, saya sempat melihat plang (papan nama) di jalan sebelah kanan yang bertuliskan "Tukad Bangkung Waterfall" atau Air Terjun Tukad Bangkung

            Dalam telinga saya pun sepertinya ada suara misteri yang membisiki, "gak usah ke Air Terjun Nungnung, mampir aja ke Air Terjun Tukad Bangkung dulu. Siapa tahu, di situ pemandangannya lebih menarik". Benar juga, setelah saya mengeksplorasi Jembatan Tukad Bangkung, saya nekad mendatangi destinasi wissata yang bukan dalam rencana tersebut. 

Turunan Tajam  

            Akses menuju Air Terjun Tukad Bangkung kurang lebih 1,5 km dari jalan besar. Sedangkan, jarak dari Jembatan Tukad Bangkung kurang lebih 2 km. Dari jalan utama, saya harus menuruni jalanan yang kemiringannya membutuhkan kehati-hatian. Meskipun, jalannya sudah diplester, tetapi track jalan yang menurun dan berkelok sangat menakutkan bagi para pesepeda motor amatir. 

            Saya melihat jam di Smartphone menunjukan pukul 11.10. Beruntung sekali, saat itu cuaca cerah. Jadi, perjalanan kali ini membuat saya gembira. Sungguh, saya berpikir bahwa Air Terjun Tukad Bangkung sudah dibuka secara umum. Saya sempat bertanya kepada seorang bapak yang sempat melintas di depan saya. Saya berani untuk menghentikannya, karena dia mengendarai motor searah dengan perjalanan saya. "Pak, pak, ampura air terjunnya sebelah mana ya?" Bapak itu tidak langsung menjawabnya. Ia memperhatikan saya terlebih dahulu. Dalam kondisi agak kebingungan, sang bapak pun menjawabnya, "sebelah sana mas, turun aja terus nanti ketemu air terjunnya". 

         Tanpa berprasangka buruk sedikit pun, saya pun melanjutkan perjalanan. Namun, beberapa menit kemudian, jalan benar-benar menukik tajam. Nyali saya ciut, karena rem sepeda motor takut blong. Saya bisa meluncur bebas jatuh ke jurang. Oleh sebab itu, saya menyuruh istri saya turun. Agar, beban tidak mempercepat laju sepeda motor. Di saat itu. istri saya justru menyarankan agar saya membatalkan perjalanan ini. Namun, saya menyakinkan istri bahwa saya mampu mengendalikan laju sepeda motor.

          Kurang lebih 5 menit, akhirnya saya sampai di sebuah tempat parkir yang dilapisi paving. Di sebelah kiri terdapat balebengong (tempat istirahat). Saya memprediksi bahwa balebengong tersebut digunakan sebagai tempat petugas menarik karcis. Namun, yang bikin kaget, tidak ada seorang pun di sini. Sepeda motor pun tidak ada. Jelas-jelas tidak ada kehidupan di sini. Dalam hati, melihat kondisi ini, saya mau balik kanan pulang. Namun, saya mantapkan hati karena sudah terlanjur datang. Saya menanti di balebengong tersebut sambil menunggu istri saya sampai yang berjalan dari atas.

           Ketika istri sudah sampai di balebengong, saya agak senang karena tidak ada penarikan karcis alias gratis. Tetapi, agak bingung mencari jalan turun menuju air terjun. Saya melihat beberapa papan kecil yang bertuliskan nama-nama pejabat setempat seperti Bendesa adat, Kapilsek, Perbekel dan lain-lain. 

         Saya berkata pada istri bahwa sepertinya baru beberapa hari lalu, renovasi Air Terjun Tukad Bangkung ini diresmikan. Namun, tidak terlihat sanggah (tempat menaruh sesajian) atau canang (tempat sesajian yang terbuat dari daun kelapa), seperti layaknya Umat Hindu habis bersembahyang. Ya, di tempat usaha yang baru diresmikan, biasaanya akan terlihat bekas sesajian yang ada di sekitar itu. "Berarti Air Terjun ini belum diadakan melaspas (peresmian tempat usaha secara keagamaan Hindu Bali)" 

Suara Misteri

           Waktu menunjukan pukul 11.35. Meskipun, cuaca sangat panas, tetapi terasa teduh karena jalan menurun menuju Air Terjun Tukad Bangkung diselimuti dengan pepohonan. Turunan menuju Air Terjun Tukad Bangkung benar-benar menguji nyali dan tenaga. Jika ditarik garis lurus, maka perjalanan kurang lebih 300 meter. Namun, jalan menurun dan berkelok membuat kaki terasa nyeri. Baru, seperempat perjalanan perjalanan, istri saya terlihat tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Karena, kaki sebelah kiri agak nyeri. Jalannya pun agak pengkang. 

           Sepertinya dia ingin mengajak saya balik kanan untuk pulang saja. Namun, saya berusaha untuk menemaninya. Saat dia merasa nyeri kaki, maka perjalanan kami hentikan sementara. Saya mencoba untuk memberi semangat karena "sudah terlanjur mau sampai ke tujuan". Jalan yang kami lalui sepertinya belum selesai. Jadi, masih ada pagar pembatas yang terlihat baru diplester (belum kering). Juga, jalanan masih banyak tanah yang menutupi lintasan. Kami mesti hati-hati. Apalagi, ada beberapa pohon yang tumbang menutupi jalan.

           Setengah perjalanan, kami merasa heboh. Karena, kami mendengar teriakan, jeritan, kecipak air Terjun. Ini adalah pengalaman yang sering saya alami saat mengunjungi beberapa air terjun. Hal ini memberi tanda bahwa pengunjung Air Terjun Tukad Bangkung benar-benar ramai. Saya berpikir dalam hati, "gila, belum dibuka secara resmi saja, pengunjungnya sudah ramai. Apalagi, kalau sudah resmi, pasti membludak. Oh, mungkin karena tidak ditarik karcis alias gratis"

        Saya pun positif saja bahwa orang-orang tersebut tidak ada yang menggunakan kendaraan bermotor. Atau, mungkin warga sekitar yang sedang bergembira menikmati destinasi baru ini. Atau, mungkin ada akses jalan lain, selain jalan yang saya lalui. Saya benar-benar tidak berpikir buruk sama sekali. Apalagi, saya tidak terdengar kalimat negatif yang keluar dari mulut istri saya.

           Sesampainya di akhir perjalanan atau jalan yang diplester, saya melihat kondisi sekitar Air Terjun Tukad Bangkung yang benar-benar sepi. Masih diselimuti pohon semak-semak. Dekat situ, ada balebengong yang digunakan untuk istirahat para pengunjung. Saya melihat beberapa dedaunan dan batang bambu yang dibiarkan mengotori sekitar air terjun.

             Jujur, hati saya langsung berkata, "Ya Allah, lah suara ramai-ramai orang tua dan anak-anak yang main air tuh pada ke mana?". Sebenarnya, saya mau mengatakan hal ini pada istri. Tetapi, istri juga terlihat biasa-biasa saja. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan. Apakah, sama apa yang sedang saya pikirkan. Dalam kondisi tubuh merinding, saya beranikan diri karena gesture istri saya tidak menunjukan rasa takut.

             Jika, kita benar-benar mengutarakan rasa takut bersama-sama, maka tenaga kami sudah habis untuk perjalanan turun. Tak bisa bayangkan, jika tenaga yang belum pulih kami gunakan untuk naik kembali. Oleh sebab itu, saya berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Lupakan suara misteri yang tiba-tiba hilang. Saat itu, waktu sedang menunjukan pukul 12. 00an. Saya pun nekad nyebur ke air terjun karena ingin memulihkan tenaga kembali. Apalagi, melihat beningnya air terjun yang turun dari tebing sungai membuat raa takut saya mendadak sirna.  



Derasnya Air Terjun Tukad Bangkung membuat saya terjun berenang (Sumber : dokumen pribadi)


            Di sekitar air terjun pun, saya tidak melihat sesajian atau canang yang biasa terlihat di beberapa air terjun yang saya kunjungi. Ketika saya berendam, saya melihat di sekeliling air terjun benar-benar sepi. Saya merasa bahwa saya dan istri sedang berada di jurang Tukad Bangkung yang paling bawah. Meski agak merinding, saya berusaha untuk puas-puasin mengeksplorasi Air Terjun Tukad Bangkung. Serta, berharap ada orang lain terlihat atau datang ke kawasan Air terjun, agar rasa takut sedikit berkurang.

             Untuk melihat secara lengkap perjalanan saya, anda bisa melihat video eksplorasi Air Terjun Tukad Bangkung di video berikut.  




Air Terjun Tukad Bangkung yang masih perawan di Bali Utara (Sumber : Casmudi Vlog/YouTube)


             Dalam kondisi ngos-ngosan saat menaiki jalan pulang, saya masih teringat jelas bahwa suara misteri itu muncul kembali saat saya melewati separuh perjalanan pulang. Kok bisa?. Rencana untuk mampir ke Air Terjun Nungnung seketika buyar. Bukan hanya karena kecapaian yang teramat sangat. Dan, badan bermandikan keringat. Tetapi, takut suara misteri itu muncul kembali. Menariknya, kejadian di Air Terjun Tukad Bangkung terbawa hingga mimpi. Subhanlallah! 

No comments:

Mengawal Pariwisata Bali Bangkit dengan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholders berfoto bersama (Sumber: Forkom Antar Media Bali Bangkit) Dampak Pandemi Covid-19 sungguh luar bia...