Saturday, May 30, 2020

Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona


Lebaran Ketupat di Masa Pandemi Virus Corona (Sumber: dokumen pribadi)





Meskipun, kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, umat Islam tak bisa melewatkan Lebaran Ketupat. Orang Jawa biasa menyebutnya Badanan Kupat atau Riyoyo Kupat. Lebaran Ketupat ini berlangsung seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.

 

Silaturahmi di Lebaran Ketupat

 

Lebaran Ketupat merupakan tradisi dari kearifan lokal bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Lebaran Ketupat menjadi ajang untuk silaturahmi bersama saudara atau tetangga terdekat. Namun, karena kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Maka, perayaan Lebaran Ketupat berlangsung di rumah masingt-masing.

 

Biasanya, pagi ketika Lebaran Ketupat, warga secara bersamaan berkumpul di masjid atau Mushola. Mereka membawa ketupat yang telah matang. Dicampur dengan lauk-pauk sesuai selera masing-masing. Ketika, jumlah warga sudah berkumpul semua. Maka, sang ustad setempat akan memanjatkan doa keselamatan. Serta, doa agar dipanjangkan umurnya bisa bertemu bulan Ramadan tahun depan.

 

Ketika, acara selamatan perayaan Lebaran Ketupat selesai. Maka, warga akan membawa ketupat yang sudah matang tersebut secara random. Mereka bebas mengambil ketupat yang mana saja. Dengan kata lain, mereka seperti bertukar ketupat. Hal ini menandakan bahwa keikhlasan setiap orang. Agar, diampuni dosa yang telah diperbuatnya.

 

Lebaran Ketupat memberikan arti penting yaitu upaya agar dimaafkan segala kesalahan dan dosa sesama manusia. Saat Lebaran Ketupat, setiap orang benar-benar lepas dari segala dosa. Serta, kembali ke fitrah (kesucian) seperti bayi yang baru lahir.

 

Lebaran Ketupat di Rumah Saja

 

Namun, saat Pandemi Virus Corona, acara kumpul-kumpul di masjid atau mushola ditiadakan. Kini, berdoa demi keselamatan dan dipanjangkan umurnya. Agar, bisa bertemu di bulan Ramadan tahun depan, hanya bisa dilakukan di rumah saja. Menjelang malam Lebaran Ketupat, acara masak ketupat dimulai. Agar, pagi-pagi bisa dinikmati sekeluarga. Dan, berdoa demi keselamatan dunia dan akhirat.

 

Percayalah, meskipun kondisi sedang Pandemi Virus Corona. Tetapi, tidak mengurangi nilai ibadah untuk merayakan Lebaran Ketupat. Sebuah tradisi yang memberikan banyak arti.

 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya biasa merangkai ketupat sendiri. Sambil mengisi waktu luang. Namun, kini, untuk menghemat waktu, maka membeli ketupat yang sudah jadi di pasar adalah pilihan yang baik. Juga, membantu orang lain untuk menjemput rejeki.

 

Menarik, yang membuat ketupat jadi, justru bukanlah orang Muslim. Tetapi, banyak masyarakat Hindu Bali yang menjual ketupat yang siap di masak tersebut. Masyarakat Hindu Bali sangat memahami perayaan Lebaran Ketupat. Sepertinya, mereka sudah paham bahwa besok adalah perayaan Lebaran Ketupat bagi umat Islam.

 

Bahkan, saya melihat di sepanjang jalan yang dekat dengan pasar badung Denpasar. Di mana, tidak sedikit ibu-ibu atau nenek-nenek yang dengan lincah tangannya membuat ketupat. Dan, ketupat tersebut untuk dijual. Ini menjadi pemandangan menarik.

 

Lebaran Ketupat yang dirayakan oleh umat Islam justru telah dipahami oleh penganut agama lain. Hal ini menjadi bukti bahwa Lebaran Ketupat telah menjadi tradisi puluhan tahun silam. Bahkan, saat kondisi Pandemi Virus Corona, maka umat Islam tidak menyurutkan perayaan Lebaran Ketupat. Serta, penganut agama lain pun tidak lupa perayaan Lebaran Ketupat yang dirayakan umat Islam.

 

“Pokoknya besok harus masak ketupat pah. Buat merayakan Lebaran Ketupat” kalimat istri yang mengingatkan saya akan peristiwa Lebaran Ketupat.

“Memang harus?” jawab saya pura-pura tidak tahu.

“Ya harus pah. Kan, biar dosanya lebur semua. Di Ngawi (Jawa Timur) kan tiap tahun pasti merayakan Lebaran Ketupat” kata istri meyakinkan.

“Ya udah kalau begitu” jawab saya dengan enteng.      

 

Ketika keluarga besar di Ngawi Jawa Timur akan merayakan Lebaran Ketupat. Maka, saya pun mesti merayakan meskipun ada di perantauan. Ketika, tidak bisa mudik Lebaran tahun ini.

 

Tahun 2020 memang sungguh berbeda. Bukan hanya larangan mudik dan Lebaran yang dirayakan di rumah saja. Lebaran Ketupat pun dirayakan dari rumah masing-masing. Bukan hanya meningkatkan jiwa relejius. Tetapi, sebisa mungkin mempertahankan kearifan lokal.

 

Lebaran Ketupat tidak seperti memasak ketupat layaknya penjual Ketupat tahu, yang dilakukan setiap hari. Tetapi, Lebaran Ketupat mempunyai makna bahwa setiap orang akan melakukan ketupat. Yang dalam Bahasa Jawa berarti “kupat”. Kupat itu kepanjangan dari “ngaku lepat atau mengaku kesalahan”.

 

Jadi, saat umat Islam merayakan Ketupat Lebaran, maka sejatinya umat Islam sedang mengakui segala kesalahan yang telah dilakukannya. Dan, memohon maaf lahir dan batin. Agar, dihapuskan segala dosa dan kesalahannya. Selanjutnya, akan kembali ke fitrah (kesucian).

 

Selamat merayakan Lebaran Ketupat bagi brosis semuanya.

 

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H

Minal Aidin Wal Faidzin.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Nyuwun Agunging Pangapunten sedaya kelepatan.   



No comments:

Mengawal Pariwisata Bali Bangkit dengan Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19

Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholders berfoto bersama (Sumber: Forkom Antar Media Bali Bangkit) Dampak Pandemi Covid-19 sungguh luar bia...