Friday, November 20, 2020

Demi Konten Video, Jelajah 130 km Bali Utara

  

Salah satu kondisi di Kawasan Kubu Karangasem Bali. Hujan mulai jarang turun. Dan, tumbuhan yang bertahan didominasi oleh pohon palem (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Kemarin (19 November 2020), saya tergelitik untuk menjelajah Bali Utara kembali. Rasa ingin itu mendadak muncul. Dan, mengajak “mantan pacar” untuk meluncur ke Bali Utara. Tepatnya di Kawasan Tianyar Kubu Karangasem Bali.

 

 

Niat pertama “sih” hanya sekedar untuk jalan-jalan. Namun, pada perjalanannya, justru mempunyai keinginan untuk membuat konten video yang unik.

Pukul 9 pagi, kami meluncur ke Tianyar dari Denpasar. Perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih 3,5 jam. Kami harus melewati Kota Karangasem, Culik dan Tianyar. Jarak perjalanan kurang lebih 130 km. Sama jaraknya antara Denpasar hingga Gilimanuk.

Perjalanan antara Abang hingga Tianyar memberikan pesona yang berbeda. Karena, kondisi cuaca sedang berkurang curah hujannya. Dan, kondisi Kawasan tersebut mulai botak. Karena, rumpur-rumput yang tinggi mulai berguguran. Yang ada hanyalah pohon palem yang menjulang tinggi.

Sungai-sungai pun mulai mongering. Tak ada air setetes pun. Yang terlihat hanyalah sungai kering yang berbatu dengan latar belakang Gunung Agung yang berawan. 

 

Kondisi sungai yang kering berlatar belakang Gunung Agung di Kawasan Kubu Karangasem (Sumber: dokumen pribadi)

 

Sepanjang perjalanan, kami melihat perbukitan yang gundul dan dipenuhi dengan bebatuan besar. Rasa panas pun menyengat, karena aura hijau telah menghilang. Bahkan, sepanjang perjalanan juga harus berjuang dengan debu-debu jalanan yang ganas.

 

Pantai Tianyar

 

Sebenarnya, kami hendak singgah untuk meihat kondisi terkini dari kawasan Munti Gunung yang pernah saya tulis di blog ini. Namun, karena kami sudah memutuskan untuk membuat konten yang mengandung unsur air. Maka, kami melupakan masalah Munti Gunung.

Kami pun berbelok di kawasan pantai Tianyar yang dipenuhi dengan gundukan pasir untuk berbagai proyek. Tidak jauh dari gundukan pair tersebut, terdapat banyak perahu nelayan yang tertambat.

 

Tiduran santai di salah satu perahu di Pantai Tianyar Kubu Karangasem (Sumber: dokumen pribadi)

 

Jujur, pantainya sangat bersih. Mengapa? Karena, pantai Tianyar Kubu Karangasem justru dipenuhi dengan bebatuan kecil. Airnya sangat bening. Dalam hati, saya ingin mandi dan bermain dengan air pantai tersebut. Namun, “mantan pacar” mengingatkan bahwa nanti mandi bilasnya di mana?

Akhirnya, di Pantai Tianyar inilah, saya memulai membuat konten yang mengandung unsur air atau pantai bertema ‘Jumper Three Beaches” (Pelompat 3 pantai).

Yang menarik di Pantai Tianyar ini adalah banyaknya Jambu Mete atau Jambu Monyet yang telah matang. Dan, buahnya yang merah berjatuhan. Sangat menggoda saya untuk mencicipinya. Namun, sekali lagi “mantan pacar” mencegahnya.

 

“Pa, jangan dimakan, gatel nanti” cegahnya.

“Masa sih? Emang mama pernah nyoba?” tanyaku penasaran.

“Pernah. Dulu” jawabnya enteng.   

 

Kami pun mengambil beberapa jepretan konten di Pantai Tianyar ini. Percaya atau tidak, lokasi ini menjadi lokasi napak tilas atau balas dendam sang “mantan pacar”. Karena, kurang lebih setahun yang lalu (sebelum Pandemi), kami berniat istirahat di sini. Sambil menikmati indahnya pantai.

Dan, menikmati kuliner yang kami bawa dari rumah. Namun, karena kuliner yang kami bawa tumpah berserakan, maka acara santai pun “bubar jalan”. Kami tidak jadi menikmati keindahan pantai yang kami rencanakan sebelumnya.

Habis dari Pantai Tianyar, kami pun meluncur arah pulang ke kawasan Pantai Tulamben. Yang arahnya kurang lebih 15 km. Seperti biasa, perjalanan makin ganas karena debu jalanan. Dan, sinar matahari yang makin menyengat.

 

Pantai Tulamben

 

Perlu diketahui bahwa Tulamben menjadi kawasan favorit atau destinasi wisata idaman untuk menyelam di Bali. Kondisi kawasan Tulamben tidak seperti biasanya. Di mana, kita bisa melihat wisatawan lokal atau mancanegara yang lalu-lalang hendak menyelam.

Namun, sepanjang perjalanan, kami melihat hanyalah jejeran usaha menyelam yang tutup. Hanya beberapa yang terpaksa buka. Tidak dapat dipungkiri, Pandemi memang berdampak signifikan terhadap usaha menyelam.

Kami pun berbelok di jalan kecil yang menuju ke pantai. Jaraknya kurang lebih 200 meter. Dan, berhenti persis berbatasan dengan pantai. Pantai Tulamben berpasir hitam. Namun, yang menarik adalah spot pantai yang dipenuhi dengan bebatuan besar.

Jadi teringat dengan pantai yang ada dalam Film Laskar Pelangi. Hanya besaran bebatuan di sini lebih kecil. Dan, bisa menjadi spot yang sangat menarik di media sosial.

Di Pantai Tulamben inilah, saya membuat konten video kedua untuk tema Jumper Three Beaches. Pantai yang indah dan seperti di Pantai Tianyar. Di penuhi dengan bebatuan kecil. Jujur, di Pantai Tulamben ini, nyali saya untuk mandi pantai semakin besar. Tetapi, niat besar tersebut menjadi urung, jika memikirkan mandi  bilasnya di mana?

Akhirnya, kami pun membuat jepretan foto sepuasnya. Andai saja lokasi Pantai Tulamben dekat dengan tenpat tinggal saya di Denpasar. Maka, tak akan bosan mandi pantai di sini. Swear kewer-kewer.

 

Mencoba terbang di atas batu besar di kawasan Pantai Tulamben Karangasem (Sumber: dokumen pribadi)

 

Dari Pantai Tulamben, kami pun memutuskan untuk meluncur arah pulang kembali. Saya memutuskan untuk membuat konten video terakhir di Pantai Candidasa. Namun, karena kondisi tidak memungkinkan, maka niat berhenti di Pantai Candidasa Karangasem pun dibatalkan.

 

Pantai Pura Dalem

 

Kami pun meluncur arah pulang. Belum ada keputusan yang tepat untuk membuat video ketiga bertema Jumper Three Beaches. Setelah menempuh kurang lebih 90 km, tepatnya sebelum kota Klungkung. Kami tergelitik untuk membelokkan sepeda motor di Pantai Pura Dalem.

Perjalanan untuk sampai ke Pantai kurang lebih 500 meter. Ternyata, keputusan saya tidak salah. Jalan ke pantai dipenuhi dengan tumbuhan hijau di kanan kirinya. Banyak orang yang melakukan jogging. Sepertinya, jalan ke Pantai Pura Dalem menjadi tempat favorit untuk lari-lari.

Kawasan parkir yang luas membuat kami leluassa untuk memarkir sepeda motornya. Kami pun harus melewati samping Pura Dalem untuk sampai ke pantai. Ternyata, kondisi pantainya ramai banget. Banyak masyarakat yang nongkrong sambil menunggu “sunset” tenggelam.

 

Menjelang sunset tenggelam di Kawasan Pantai Pura Dalem Klungkung (Sumber: dokumen pribadi)

 

Dan, saya membuat konten video ketiga persis sunset mau tenggelam. Sebenarnya, saya mau berlama-lama di Pantai Pura Dalem. Namun, saya harus melanjutkan perjalanan pulang. Waktu hampir menjelang maghrib. Kami pun masih menempuh perjalanan kurang lebih 50 km untuk sampai di tempat tinggal.

Itulah pengalaman “nekad” yang meski saya lakukan untuk membuat konten video yang saya posting di Instagram @casmudi.vb Pantai itu benar-benar diambil dalam radius ratusan kilometer. Andai saja kita bisa menjadi tokoh kayak film The Jumper. Asik ya. Hepi traveling, dan jelajah Bali. Jangan lupa jaga kesehatan ya. 

 


Konten Video Jumper Three Beaches (Sumber : dokumen pribadi)

No comments:

7 Rahasia Kecantikan Wanita Bali yang Membuat Hati Para Pria Meleleh

  Rahasia cantik wanita Bali                 Apa sih daya tarik Bali selain destinasi wisata?   Sebuah pertanyaan sederhana yang m...