Thursday, February 4, 2021

Jalan-jalan ke Candi Banyunibo

 

Kondisi Komplek Candi Banyunibo yang sejuk di pagi hari, karena dikelilingi perbukitan (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

Ada ungkapan yang selalu diingat banyak orang. Bahwa, Yogyakarta selalu memberikan kenangan indah. Tak bisa ke lain hati. Karena, bukan hanya sambutan masyarakat yang ramah dan “njawani”. Yogyakarta juga menyimpan berbagai kenangan indah berupa destinasi wisata menarik. Ya, banyak destinasi wisata menarik yang harus anda kunjungi saat menyambangi Yogyakarta.  

Apalagi, jika anda hobi traveling? Tidak salah lagi, anda mesti jalan-jalan ke Yogyakarta. Kota yang menyimpan banyak cerita indah. Juga, menyimpan segudang tempat wisata yang mengagumkan. Kali ini, saya akan mengajak anda jalan-jalan di tempat wisata yang kondisi udaranya sejuk. Sebuah tempat wisata peninggalan tempo dulu. Yup, saya akan mengajak anda berkunjung ke tempat wisata Kompek Candi Banyunibo.

 

Reruntuhan Candi Banyunibo

 

Yogyakarta dikenal dengan kawasan yang menyimpan banyak peninggalan sejarah berupa candi. Namun, Candi Banyunibo sangat menarik untuk dikunjungi. Karena, Candi Banyunibo merupakan peninggalan agama Budha yang terjaga hingga kini. Perlu diketahui bahwa Candi Banyunibo merupakan komplek candi yang terletak di Dusun Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Ketika saya berkunjung ke Candi Banyunibo, saya merasakan udara pagi yang sangat segar. Mentari baru muncul dari balik bukit. Memang, Candi Banyunibo dengan candi lainnya di Kabupaten Sleman sungguh berbeda. Karena, Candi Banyunibo dikelilingi oleh perbukitan yang ada di sebelah utara, timur dan selatannya.

Seperti candi-candi lainnya. Candi Banyunibo dahulunya berupa reruntuhan yang tiada bentuk. Itulah sebabnya, Candi Banyunibo bisa ditemukan kembali dalam keadaan runtuh pada tahun 1940 lalu. Pemerintah Indonesia mengadakan penelitian secara serius untuk mempelajari reruntuhan candi tersebut hingga tahun 1942. Setelah menemukan bentuk aslinya, maka diadakan pemugaran candi hingga tahun 1978.

Unik sekali, sekilas, jika anda melihat Candi Banyunibo dari luar komplek, postur tubuh candi berbentuk tambun. Dan, komplek Candi Banyunibo berada di sebelah timur sebuah sungai. Terdapat Candi induk Banyunibo yang menghadap ke barat.

Saya melihat bentuk candi yang masih utuh di bagian tengah. Dan, beberapa candi dalam kondisi runtuh di bagian kanan dan belakangnya. Ternyata, komplek Candi Banyunibo terdiri dari satu bangunan candi induk yang utuh dan 6 buah candi perwara yang runtuh. Yang terdiri dari 3 buah candi perwara di bagian selatan dan 3 buah candi perwara di bagian timur.

 

Salah satu dari 6 Candi Perwara di bagian utara candi induk yang telah runtuh (Sumber: dokumen pribadi)

 

Arsitektur Candi Banyunibo sungguh mengesankan. Candi Banyunibo yang mempunyai ukuran 15,325 m x 14,24 m dengan tinggi 14,25 m dan tinggi candi adalah 2,5 m membuat saya terpesona. Apalagi, masyarakat tempo dulu sangat memperhatikan dampak dari hujan. Hal ini terlihat dari masing-masing sudut candi terdapat Jaladwara. Yang berfungsi sebagai saluran air hujan.

 

Terpesona Bagian Luar Candi

 

Yuk, kita perhatikan kondisi bagian luar Candi Banyunibo. Bagian kaki Candi Banyunibo pada masing-masing sisinya dibagi menjadi beberapa bidang (panel) yang berupa hiasan yang berupa tumbuh-tumbuhan yang keluar  dari pot-pot bunga yang berbentuk seperti sandaran lampu duduk, pinggan, buah wortel dan siput yang dianggap sebagai lambang kehidupan atau kesuburan. Nah, di atas kaki candi terdapat selasar tanpa pagar langkan yang berfungsi sebagai jalan untuk mengelilingi candi.


 

Saya mengabadikan kenangan di pintu masuk candi induk (bagian tangga). Ini merupakan traveling yang menyenangkan, karena saya ingin berkunjung kembali ke sini (Sumber: dokumen pribadi)

 

Spot instagrammable yang membuat saya tertarik untuk mengamati lebih jeli adalah keberadaan kedua relief yang menggambarkan Hariti, Dewi kesuburan dalam agama Budha. Dan, Vaisravana (suaminya). Sementara, di sisi dalam dan luar juga terdapat relief tokoh Kuwera.

Merangkak ke bagian atap candi, saya seperti melihat atap bangunan Belanda tempo dulu. Jika anda mengamati atap Candi Banyunibo bagian bawah, maka anda akan melihat bagian yang berbentuk daun berbentuk bunga Padma (ghanta). Di mana, di bagian di atasnya diletakan puncak atap yang berbentuk stupa. Di bagian ini, ciri khas candi yang berlatarbelakang peninggalan agama Budha sangat kental sekali. Seperti stupa yang sering anda lihat di Candi Borobudur. Stupa di bagian teratas Candi Banyunibo terdiri dari Prasadha, Harmika dan Yasti.

Lantas, apa yang bisa anda amati di bagian dinding penampil? Saya memperhatikan secara seksama karya luar biasa di bagian dinding penampil sebelah selatan. Saya memperhatikan sebuah relief seorang wanita yang dikerumuni anak-anak. Ternyata, relief tokoh wanita tersebut adalah Dewi Hariti. Sedangkan, relief di dinding sebelah utara justru menggambarkan seorang pria dalam posisi duduk.

Perlu diketahui bahwa relief tokoh wanita tersebut menggambar anak-anak yang sedang memanjat sebatang pohon. Dan, Dewi Hariti sedang dikerumuni anak-anak. Sebagai informasi bahwa Dewi Hariti dalam kepercayaan agama Budha dianggap sebagai manifestasi Dewi Kesuburan. Namun, ada juga yang menganggap sebagai Dewi Ibu dan Dewi Kekayaan. Anda akan melihat tampilan Dewi yang umumnya digambarkan sebagai figur dewi, dengan alat genetial yang menonjol dan selalu disertai oleh anak-anak pengikutnya.  

 

Cahaya dan Udara Dalam Candi

 

Setelah mengamati bagian luar candi, saya tergelitik untuk masuk bagian dalam candi. Meskipun, tidak ada penerangan lampu. Tentu, anda bisa menggunakan lampu yang ada di smartphone. Atau, menggunakan senter kecil, jika sudah dipersiapkan dari rumah. Hanya sinar mentari dan udara pagi yang teraa segar menerobos masuk melalui beberapa lubang jendela. Hanya ada satu tangga untuk masuk ke bagian dalam candi. Menarik, di bagian kiri dan kanan tangga terdapat  pahatan tokoh-tokoh yang belum dapat diketahui identitasnya.

Selanjutnya, di bagian ambang pintu masuk terdapat hiasan Kamalakara. Sedangkan, pada bagian ujung pipi tangga terdapat hiasan Makara yang berakhir dengan relief seekor singa. Apakah relief ini menandakan ketangguhan masyarakat tempo dulu? Entahlah.

Ketika saya masuk ke bagian dalam candi, saya melihat keberadaan bilik yang berukuran 6,875 m x 4,5 m.  Dan, di bagian dinding candi terdapat jendela-jendela yang di atas dengan pilaster.  Berfungsi baik untuk masuknya cahaya atau udara.

Dari balik jendela candi tersebut, saya melihat rombongan wisatawan dari Tasikmalaya Jawa Barat. Saya pun terkesima dan mendekati rombongan tersebut. Mereka menggunakan 5 mobil jip atap terbuka ala jip Road Race. Ternyata, jip tersebut adalah milik warga lokal yang disewakan sebesar Rp300 ribu per jip untuk sekali Tour Adventure (petualangan wisata). Tour Adeventure tersebut akan mengunjungi beberapa tempat wisata sesuai keinginan wisatawan.

Sementara, setiap jip bisa diisi kurang lebih 5 orang. Tidak sedikit ibu-ibu yang berhijab sungguh gembira dan penuh gelak tawa. Ketika, jip tersebut membelah jalanan yang di samping kanan dan kirinya pepohonan dan persawahan. Mereka ada yang duduk maupun yang berdiri sambil menikmati pemandangan selama perjalanan wissata.

Jadi, tips menarik buat kalian, jika anda melakukan wisata secara rombongan. Maka, menggunakan jip sewaan akan memberikan kenangan yang tak terlupakan. Anda bisa patungan bersama teman-teman untuk menyewa jip tersebut. Dan, anda siap-siap menguji adrenalin, ketika jip membelah jalan yang berlumpur. Sambil menikmati udara Yogyakarta Istimewa yang masih segar. Selamat happy traveling dan menikmati keindahan Indonesia.  


No comments:

YUK, KENALI RISIKO, DAMPAK DAN PENANGANAN KESEHATAN PADA KELAHIRAN PREMATUR

  Perlunya pemahaman lebih mendalam pada kelahiran prematur (Sumber: shutterstock /diolah)               Perlu diketahui bahwa setiap ta...