Wednesday, March 3, 2021

Belanja Pakaian Bekas Impor Murah Ala Pasar Kodok

 

Salah satu sudut Pasar Kodok Kota Tabanan Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

“Pengin belanja pakaian murah? Ke Pasar Kodok aja”

 

Kalimat yang sering diungkapkan orang sebagai sindiran atau buat guyonan. Pertama kali, saya mendengarnya agak lucu juga. Karena, dari namanya terdengar aneh. Seakan-akan, pasar tersebut menjual daging kodok atau katak. Padahal, aslinya pasar tersebut adalah pasar pakaian bekas, Yang lokasinya terletak di kota Tabanan Bali.

Lantas, mengapa dinamakan Pasar Kodok? Jujur, saya belum memahami alasannya. Namun, saya mempunyai persepsi sendiri. Dinamakan Pasar Kodok karena para pengunjung sambil berjongkok. Saat memilih pakaian bekas yang diinginkan sesuai selera.

Dikarenakan, barang dagangan rerata digelar ala lapak dagangan di pasar. Akhirnya, penyebutan Pasar Kodok melekat di masyarakat hingga sekarang. Kenyataannya, pakaian bekas yang dijual justru mengalami pergeseran. Bukan lagi digelar, tetapi digantung dengan menggunakan hanger.

Apakah, penyebutannya menjadi Pasar Berdiri? Tentu, tidak. Karena, nama Pasar Kodok sudah melekat kuat di masyarakat Kota Tabanan Bali dan sekitarnya. Bahkan, image Pasar Kodok dikenal sebagai pasar pakaian bekas terbesar di Kota Tabanan.

Sejatinya, Pasar Kodok ini tidak berbeda dengan Pasar Senggol. Yang rame buka pada sore hingga malam hari di tempat lain. Namun, Pasar Kodok ini buka sejak pagi hari. Uniknya, Pasar Kodok bisa menjadi destinasi wisata fashion. Karena, banyak desain pakaian yang terlihat di sini.  

Saya beberapa kali menyambangi Pasar Kodok. Bermaksud ingin melihat situasi yang ada. Pasar Kodok itu terlihat luas, kira-kira 5 hektar luasnya. Berada di antara perkampungan penduduk. Menarik, dari gaya logat bahasa yang muncul, pedagangnya rerata pendatang dari Jawa Timur. Dan, logat Bahasa Madura sangat mendominasi di kawasan ini.

Banyak jenis pakaian bekas yang ada di Pasar Kodok. Dari kemeja hingga jaket tebal. Semuanya menarik perhatian pembeli, dengan harga yang terjangkau. Sangat pas bagi pengunjung yang ingin tampil menawan, tetapi kondisi kantong ngepres. Saya sendiri melihat kemeja warna putih banyak digantung di beberapa lapak. Terlihat bersih, tetapi warnanya agak sedikit buram. Namanya juga pakaian bekas.

Pasar Kodok menjadi oase bagi masyarakat yang membutuhkan pakaian dengan budget yang minim. Tetapi, jika anda beruntung, ada saja jenis pakaian yang bagus, seperti tampilan pakaian bermerek. Maka, pengunjung mesti pintar-pintar memilih dan memilah. Karena, kualitas pakaian bekas tidak sama dengan pakaian baru jebolan langsung dari pabrik.

 

Tips buat anda saat membeli pakaian bekas adalah merendam pakaian di air panas atau mendidih terlebih dahulu. Buat apa? Perlu anda ketahui bahwa pakaian bekas impor sangat riskan terhadap kesehatan tubuh. Pakaian impor mengandung banyak bakteri atau virus berbahaya.

 

Menurut Direktur Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan, Widodo di laman investor.id (05/02/2015) menyatakan, "Jika dilihat dari kasat mata, sesungguhnya pakaian impor bekas tersebut sudah tidak layak pakai. Kandungan mikroba tertinggi dari satu sampel memiliki nilai total sebesar 216.000 koloni per gram dan kapang sebesar 36.000 koloni per gram".

Meskipun, pakaian bekas impor sangat berbahaya bagi tubuh, tetapi masyarakat sering mengabaikan realitas yang ada. Hal ini dikarenakan “mungkin” kurangnya sosialisasi bahaya pakaian bekas impor. Atau, kebutuhan mendesak akan pakaian dan harganya ramah di kantong.

Masyarakat masih tidak peduli, dengan masalah dampak kesehatan dari pakaian bekas impor. Apalagi, kasus kesehatan karena dampak dari pakaian bekas impor, belum pernah diekspos media secara kontinuitas. Maka, masyarakat beranggapan “ketika kasus kesehatan karena pakaian bekas impor belum muncul di permukaan, maka pakaian bekas impor aman-aman saja dipakai”.

Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat. Karena, sosialisasi tentang bahaya pakaian bekas impor belum dilakukan secara massal, di berbagai media. Ada anggapan yang beredar di masyarakat Indonesia, jika gak viral maka gak diurus.

Apalagi, keberadaan pasar pakaian bekas impor juga aman-aman saja. Di beberapa tempat, justru muncul kawasan pasar pakaian bekas baru. Seperti yang terlihat di kawasan jalan Malioboro Kota Denpasar Bali. Dari satu penjual pakaian bekas impor, kini kawasan tersebut mulai banyak lapak yang menjual pakaian bekas impor.

Bahkan, saat malam hari, lampu lapak dagangan terlihat terang benderang. Banyak pembeli yang berdatangan. Untuk memilih pakaian bekas impor, sesuai selera dan anggaran di kantong.

Hal ini menunjukan bahwa masalah harga masih menjadi alasan kuat masyarakat. Apalagi, kondisi Pandemi Covid-19 membuat masyarakat mesti berhemat. Mencari alternatif lain yang bisa menekan pengeluaran. Tanpa peduli tentang dampak kesehatan tubuh yang ada.

 

“Halah, selama ini aman-aman saja kok. Kalau ada yang murah, ngapain pilih yang mahal”

 

Mungkin, kalimat yang ingin diungkapkan bagi pembeli. Saat, ditanya alasan membeli pakaian bekas impor. Jadi, di artikel ini, saya pribadi memberikan pandangan bahwa dampak kesehatan dari pakaian bekas impor sungguh luar biasa. Memang, dampaknya gak langsung terjadi kayak karma spontan.

Namun, saya juga tidak bisa melarang, bagi anda yang mau membeli pakaian bekas impor. Karena, saya bukanlah ahli kesehatan atau pejabat pemegang kebijakan. Yang berani mengatur-ngatur masyarakat.

Saya hanyalah orang biasa yang ingin berbagi pandangan. Bahwa, ada Pasar Kodok di kota Tabanan yang ramai dikunjungi, dan bisa menjadi destinasi wisata. Itu saja kok! Terima kasih atas kunjungannya di blog saya ya. 





No comments:

Anak Indigo, Anugerah atau Musibah?

  Anak Indigo (Sumber: shutterstock)       “Mama, itu banyak anak kecil plontos lagi lari-lari kayak tuyul”   Kalimat yang diuca...