Tuesday, May 18, 2021

Candi Buddha Kalibukbuk, Satu-satunya Candi Beraliran Buddha di Bali

 

Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

 

          Hari kedua Hari Raya Lebaran 2021 diisi dengan jalan-jalan kembali. Kekira pukul 07.00 WITA, saya berangkat ke Singaraja Bali Utara. Jarak tempuh dari Kota Denpasar kurang lebih 95 km.

          Saya beristirahat sebentar di kawasan Sembung Badung. Karena, harus mengisi perut dahulu, tidak sempat sarapan pagi. Maklum, waktu bulan Ramadan sudah lewat.

          Tujuan petualangan kali ini adalah satu-satunya candi yang beraliran agama Buddha di Bali. Candi tersebut menjadi cagar budaya, sering disebut dengan CANDI BUDDHA KALIBUKBUK. Candi tersebut terletak di kawasan Desa Kalibukbuk Lovina Singaraja Bali.

          Jika anda bergerak dari arah Singaraja. Maka, ketika bertemu perlimaan Lovina, anda bergerak sesuai arah rambu-rambu ke KAYU PUTIH. Dari perlimaan tersebut, kurang lebih 200 meter, anda akan melihat plang petunjuk candi (sebelah kiri jalan).     

          Syukur, kondisi jalan raya agak sedikit lengang, karena masih suasana libur Hari Raya Lebaran. Banyak toko atau rumah makan milik perantau dari Jawa yang terlihat tutup. Mungkin, mereka menyempatkan mudik. Atau, sementara rehat dulu, karena masih suasana libur Hari Raya Lebaran.

 

DOMINASI BATU BATA

 

          Sampai di Candi Buddha Kalibukbuk kurang lebih pukul 09.30 WITA. Saya merasakan udara masih terasa segar. Apalagi, di sekeliling saya, masih banyak pepohonan tinggi yang menghijau.

 

 

Saya berada di depan plang atau penunjuk objek wisata  (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Ketika memasuki ruang parkir yang luasnya hampir separo lapangan bola. Saya melihat dua mobil dari 2 merek terkenal parkir di bawah pohon ketapang. Saya tidak melihat gelagat pengunjung sama sekali. Saya berpikir, apakah mobil tersebut milik pengunjung. Atau, milik warga yang parkir di halaman parkir tersebut.



Tempat parkir kendaraan yang luas (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Ketika pikiran saya sedang beradu argumen, ternyata dari dalam komplek Candi Buddha Kalibukbuk muncul 6 orang pengunjung. Mereka masih dalam satu hubungan keluarga. Dan, mereka datang lebih dulu dari saya. Berkeliling melihat pesona Candi Buddha Kalibukbuk.

 

“Juru kuncinya tidak ada pak. Jadi, cuma bisa lihat-lihat dari luar pagar saja”.

 

          Kalimat yang saya terima dari seorang. Saya memprdiki bahwa dia adalah kepala keluarga. Di lihat dari penampilannya. Di belakang mengikuti bapak tersebut adalah istri dan anak-anaknya. Mereka mengungkapkan pengalaman berkeliling destinasi wisata tersebut. 

          Saya menjawabnya dengan senyuman. Dan, mereka menanyakan asal dan maksud kedatangan saya. Mereka kaget, ketika saya berasal dari Denpasar. Bagi mereka, jarak Denpasar ke Candi Buddha Kalibukbuk bukanlah jarak yang dekat. Jarak 95 km adalah jarak pulang kampung atau mudik.

          Namun, bagi saya, jarak segitu ibarat jalan-jalan biasa. Kata orang Betawi, “jarak segitu mah mainan gua tiap hari tong!”. Serius pakai banget!

          Sungguh, saya sudah terbiasa menempuh ratusan kilometer dalam satu hari dengan sepeda motor. Bukan untuk mudik atau acara keluarga. Tetapi, mencari konten untuk Youtube, blog dan media sosial lainnya. Saya pernah menempuh hingga 500 km dalam satu hari. Badan terasa habis nyangkul. Gokil!

          Kembali ke masalah Candi Buddha Kalibukbuk. Di halaman parkir nan luas tersebut menjadi unik. Karena, ada 2 pohon kelapa yang hampir sama tingginya. Kedua pohon kelapa tersebut berada di kanan dan kiri jalan masuk. Jarak pintu masuk tempat parkir ke komplek Candi Buddha Kalibukbuk kurang lebih 17 meter. Suasana masih terlihat rindang karena banyaknya pohon Ketapang.    


 

Dua buah pohon kelapa di jalan masuk ke areal situs Candi Buddha Kalibukbuk  (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Sementara, pintu masuk komplek Candi Buddha Kalibukbuk ke pintu masuk situs candi kurang lebih 10 meter. Sebelah kanan jalan ke pintu situs Candi Buddha Kalibukbuk, anda akan disambut dengan keberadaan Patung Buddha yang sedang duduk bersila. Dan, berselimutkan kain berwarna kuning.

          Patung Buddha duduk di atas batu dengan motif bunga Teratai. Di bagian depan patung terdapat semacam batu berlubang. Bentuknya seperti landasan antan. Mungkin, berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji. Sedangkan, patung Buddha tersebut berada persis di bawah pohon rindang layaknya pohon Beringin. Sungguh adem dan teduh.  

 

 

Patung Buddha sedang duduk bersila di bagian depan situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Di bagian depan pintu masuk situs candi sebelah kiri, anda akan melihat pelinggih atau persembahyangan khas agama Hindu. Dari sini, saya melihat seperti proses akulturasi budaya. Atau, peninggalan agama Buddha yang tetap mengedepankan kearifan lokal ala agama Hindu Bali.  


 

Pelinggih khas agama Hindu yang berada di bagian depan situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Yang menarik dari Candi Buddha Kalibukbuk adalah dominasi warna merah muda atau warna batu bata. Saya tidak bisa memasuki kawasan situs candi. Karena, pintu gerbang situs candi dalam kondisi terkunci. Dikarenakan, juru kunci tidak berada di lokasi.  

          Saya menghitung secara iseng pakai langkah kaki orang dewasa. Kira-kira situs Candi Buddha Kalibukbuk tersebut mempunyai panjang 20 meter dan lebar 15 meter.  Dominasi warna merah muda atau batu bata sangat kontras dengan letak candi tersebut. Di mana, Candi Buddha Kalibukbuk terletak kurang lebih 500 meter dari pantai Lovina.

          Untuk membangun candi dengan material batu pegunungan yang tahan terhadap alam tidaklah mungkin. Oleh sebab itu, penganut Buddha pada masa itu, mencari solusi material bangunan dari tanah liat. Maka, tanah yang dibakar atau batu bata menjadi material pilihan.  


 

Pintu masuk Candi Buddha Kalibukbuk yang didominasi warna batu bata (Sumber: dokumen pribadi)

 

SEJARAH PENEMUAN SITUS CANDI BUDDHA

 

          Menurut sejarah yang ada di areal candi menyatakan bahwa Candi Buddha Kalibukbuk pertama kali diketahui pada tahun 1991. Yaitu, dengan adanya penemuan stupika dan tablet tanah liat oleh penduduk yang berada di belakang Hotel Angsoka.

          Temuan sejenis juga ditemukan di kebun kelapa milik Anak Agung Ngurah Sentanu pada tahun 1994. Hal ini yang menyebabkan Balai Arkeologi Bali melakukan penelitian di situs ini sejak tahun 1994 hingga tahun 2002.

          Pantas saja, jika situs Candi Buddha Kalibukbuk dikelilingi oleh kebun kopi dan pohon kelapa di bagian utara dan timurnya. Sedangkan, di bagian selatan hanya lapangan rumput yang tertata rapi. Dan, areal pemukiman penduduk.  

          Perlu diketahui bahwa situs Candi Buddha Kalibukbuk mempunyai 3 buah tinggalan berupa bangunan stupa.  Ketiga bangunan stupa ini ditemukan pada kedalaman 1,3 meter di bawah permukaan tanah. Bangunan stupa ini berupa sebuah candi perwara.

          Saat ditemukan, struktur bangunan candi induk berbentuk segi delapan. Temuan lainnya adalah berupa profil sisi genta perbingkaian, relief Bodhisatva, relief makhluk Ghana, batu ande dan sebuah komponen bagian catra atau payung lengkap dengan yasti atau tongkatnya.

          Temuan-temuan lain dari hasil ekskavasi pada tubuh candi seperti kotak peripih yang berisi stupika tanah liat. Tablet tanah liat dengan ye-te mantra dan miniatur stupa pada salah satu candi perwara. Hal ini memperkuat data bahwa struktur tersebut merupakan candi Buddha.


 

Saya berfoto di sisi timur situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Candi induk berbentuk segi delapan sisi-sisi bidang berukuran tidak sama. Sehingga, bangunan ini tampak tidak simetris. Pada saat ditemukan hanya bagian kaki dan sebagian badan candi, dibuat dengan susunan batu bata sebanyak 17 lapis.

          Yang menarik dari candi induk adalah keberadaan 4 buah stupa kecil yang berada di 4 penjuru mata angin. Stupa kecil tersebut terletak di bagian atas bangunan candi induk. Dan, seperti mengelilingi stupa induk.


 

Candi induk di situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi) 

 

          Candi Perwara juga disebut sebagai candi yang berbentuk segi empat dan tidak terdapat ruang dan pintu masuk seperti pada candi induk. Pada candi perwara di bagian barat daya terdapat sumuran dengan kedalaman 60 cm, tempat ditemukan stupika sebanyak 100 buah.


 

Salah satu Candi Perwara di situs Candi Buddha Kalibukbuk (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi Bali, selanjutnya dilakukan kegiatan pelestarian dan konservasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali berupa pemugaran pada tahun 2002. Dan, selesai pada tahun 2009.

          Pemugaran pada situs Candi Buddha Kalibukbuk hanya dapat dilakukan pada bagian kaki saja, yaitu sebanyak 17 lapis batu bata. Sedangkan, perkiraan bentuk bagian atasnya adalah berdasarkan studi perbandingan stupa dan stupika yang ditemukan di Kabupaten Gianyar dan motif stupa yang ditemukan di dalam candi.   

          Dengan keberadaan Candi Buddha Kalibukbuk, maka memberikan pemahaman bahwa agama Buddha pernah ada di pulau Dewata sejak dulu. Meskipun, agama Hindu mendominasi di pulau Seribu Pura ini.

          Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bangunan Candi Buddha Kalibukbuk ditemukan di Bali Utara? Apakah agama Buddha tersebut dibawa oleh para pedagang China jaman dulu. Kita tahu bahwa agama Buddha menjadi agama yang dianut masyarakat China. Karena, kepercayaan kepada Buddha Gautama.

          Atau, mungkin agama Buddha dibawa oleh para pendatang kerajaan dari Jawa. Kita tahu bahwa agama Buddha mencapai masa kejayaannya saat Dinasti atau Wanga Syailendra. Di mana, wangsa Syailendra adalah wangsa  terkenal yang menguasai Kerajaan Sriwijaya dan Jawa Kuno (Medang) sekitar abad ke-8.

          Yang jelas, kita mesti bangga bahwa Indonesia menunjukan jiwa Bhinneka Tunggal Ika sejak dulu. Sekarang, kita meski menjaga keutuhan NKRI. Nah, jika anda ingin tahu lebih lengkap tentang kondisi Candi Buddha Kalibukbuk. Anda bisa menonton video perjalanan saya di Candi Buddha Kalibukbuk berikut ini.

 

 

Candi Buddha Kalibukbuk, satu-satunya candi beraliran Buddha di Bali (Sumber: dokumen pribadi/Youtube)


No comments:

JNE Deklarasikan Hari Bahagia Bersama Sejak Tanggal 7 September 2021

  Talkshow tentang Hari Bahagia Bersama (Sumber: JNE)                     “Berbagi, Memberi dan Menyantuni”               Tiga kata muja...