Tuesday, May 18, 2021

Bukti Kearifan Lokal, Anjing Selalu Hadir di Restoran Ayam Goreng Khas Bali

 

Kehadiran anjing di salah satu restoran ayam goreng khas Bali menjadi sebuah kearifan lokal (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Beberapa tahun belakangan, muncul restoran berbasis ayam goreng bertebaran di Bali. Restoran yang menyajikan menu ala restoran yang sudah melegenda KFC atau McDonald. Dan, menu ayam goreng telah menjadi ikon beberapa restoran ayam goreng dengan harga yang ramah di kantong. Ada ungkapan banyak orang, rasa gak jauh beda dengan KFC atau McD. Tetapi, harga serasa di kaki lima.

          Banyak restoran yang menyajikan menu ayam goreng dengan harga terjangkau seperti JFC, ACK dan lain-lain. Ciri khas restoran-restoran tersebut mayoritas didesain terbuka. Atau, tanpa penutup dinding kaca. Jadi, pengunjung atau umum bisa melihat dengan jelas kondisi dalam dari restoran tersebut.

 

ANJING DI BAWAH MEJA ANDA

 

          Ketika, menikmati menu ayam goreng tersebut. Setiap orang pasti menginginkan suasana yang aman dan nyaman. Tanpa ada gangguan orang lain atau hewan. Apalagi, jika anda sedang asik menikmati ayam goreng kesukaan di KFC atau McD.

          Tetiba, datang seekor anjing yang tidak terawat mendekati tempat anda menikmati ayam goreng. Saya yakin, anda pasti merasa jijik atau hilang selera makan. Bahkan, anda bia komplain ke pihak restoran KFC atau McD. Karena, anda pasti berpikir bahwa kebersihan restoran menjadi “dipertanyakan”.

          Suasana tersebut akan berbeda, ketika anda sedang menikmati menu ayam goreng khas restoran ayam goreng Bali. Karena, kondisi restoran yang terbuka. Maka, kehadiran anjing karena pengaruh bau menu ayam goreng tidak bisa dipungkiri.

          Kapan pun, anda harus menerima kehadiran anjing. Anjing tersebut bisa menunggu di luar restoran. Tetapi, jika anda memberi sinyal untuk tidak mengusirnya. Maka, anjing tersebut berani mendekati “persis” di bawah meja anda.

          Percaya atau tidak, setiap saya menikmati menu ayam goreng di restoran ayam goreng khas Bali. Kehadiran anjing tidak bisa saya tolak. Saya sudah mencoba restoran ayam goreng khas Bali, di beberapa tempat di pulau Bali. Dari Denpasar, Ubud, Gianyar hingga Seririt Singaraja Bali. Kehadiran anjing selalu ada.

          Baru-baru ini, saya mampir istirahat di sebuah restoran ayam goreng di kawasan banjar Asem Seririt Singaraja Bali. Saat saya baru duduk, saya tidak melihat kehadiran anjing. Namun, ketika sedang asik-asiknya menikmati ayam goreng.

          Seekor anjing mendekati meja tempat kami berdua menikmati ayam goreng. Anjing terebut berdiri santai, bahkan sempat “ndoprok” (duduk santuy) menunggu belas kasihan kami. Jujur, istri saya merasa hilang selera makan. Tetapi, saya katakan sama istri saya. Agar, menikmati makan saja.

          Tidak perlu dihiraukan kedatangan anjing tersebut. Karena, kami tidak bisa menolak atau mengusir kedatangan anjing tersebut. Ketika, kami usir, malah akan datang anjing tersebut kembali bersama teman lainnya.

          Apa yang kami lakukan? Saya terbiasa untuk berbagi rejeki buat anjing yang datang ke meja saya. Saya memberi sebagian daging ayam tersebut. Kami tahu bahwa anjing sangat suka dengan makanan daging. Percaya atau tidak, kami menikmati ayam goreng dengan ditemani pemandangan kedipan mata dan jilatan liur anjing.     

 

   

Seekor anjing nongki cantik di bawah meja, tempat kami menikmati menu ayam goreng (Sumber: dokumen pribadi)

 

KEARIFAN LOKAL

 

          Saya katakan pada istri bahwa kehadiran anjing inilah yang menjadi sebuah Kearifan Lokal (Local Wisdom). Anjing tidak berani memasuki kawasan KFC atau McD, karena restoran tersebut rerata dibatasi dengan dinding kaca. Bukan itu saja, pegawai restoran atau para pengunjung biasanya tidak segan-segan untuk mengusirnya. Karena, takut merusak suasana makan.

          Menarik, kehadiran anjing justru menjadi keuntungan buat restoran itu sendiri. Maksudnya? Perhatikan baik-baik kejadian yang saya lihat dan alami. Sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang turun dari mobil. Saya kira mereka barusan dari halal bihalal Hari Raya Lebaran.

          Mungkin, karena lapar, maka mereka mampir di restoran tempat kami menikmati ayam goreng. Menu yang sangat terjangkau. Di mana, nasi, ayam goreng (dada atau paha) dan es teh, jika makan di tempat hanya Rp14.500 per porsi. Bonus, bisa nongki cantik dan gratis nge-charge smartphone.

          Keluarga tersebut makan bersama dengan memakai 2 meja. Saya lihat, anjing yang tadi menunggu di bawah meja kami, berpindah ke bawah meja keluarga tersebut. Anjing paham banget, karena dia sudah mendapat rejeki dari kami.

          Karena, belum kenyang maka anjing tersebut “ndoprok” kembali di bawah meja keluarga tersebut. Andai saja anjing tersebut bisa bicara layaknya manusia. Maka, anjing akan berkata, ”bro, bagi dong ayam gorengnya. Dikit nggak papa kok”. 

          Namun, ketika anjing tersebut tidak merasa diperhatikan, maka dia sabar untuk menunggu rejeki selanjutnya. Saya pikir, ketika keluarga tersebut selesai dan pergi dengan mobilnya. Anjing tersebut juga pergi dari meja bekas pakai tersebut. Ternyata, tidak!

          Anjing tersebut dengan sabar menunggu tindakan dari pegawai restoran. Apa yang terjadi? Anda pasti tahu bahwa sisa-sisa tulang ayam akan makin membusuk jika didiamkan. Tentu, akan membuat bau di sekitarnya. Maka, sang pegawai pun mengumpulkan sisa-sisa makanan yang berupa tulang ayam tersebut.


   

Anjing menunggu dengan sabar menanti rejeki dan belas kasihan pegawai restoran ayam goreng khas Bali (Sumber: dokumen pribadi)

 

          Selanjutnya, sisa-sisa makanan tersebut dia taruh di depan restoran. Otomatis, anjing akan berpindah ke tempat makanan tersebut. Saya melihat anjing sangat menikmati sajian sisa-sisa makanan yang ada. Sepertinya, setelah sisa-sisa makanan tersebut habis, mampu membuat perutnya kenyang. Dan, anjing tersebut pergi dari restoran ayam goreng khas Bali.

          Jadi, keuntungan buat restoran dengan kehadiran anjing adalah meminimalisasi sampah sisa-sisa makanan yang bisa membuat bau menyengat. Bukan itu saja, kehadiran anjing juga mencegah datangnya tikus yang datang secara tiba-tiba.

          Kita tahu bahwa populasi anjing di Bali memang luar biasa. Ke manapun kita melangkah di wilayah Bali. Maka, kita tidak bisa menghindar dari hadirnya anjing. Baik yang dipiara secara serius maupun yang liar. Dengan kata lain, anjing sudah menjadi bagian dari kondisi Bali. Atau, anjing sudah menjadi bagian dari kearifan lokal.

          Maka, jika anda menikmati menu ayam goreng di restoran selain KFC atau McD, maka anda tidak perlu kaget atas kehadiran anjing milik warga. Anjing terebut hadir karena mereka butuh makan. Jika anda merasa tidak nyaman, maka yang anda lakukan bisa meminta ijin kepada pegawai restoran untuk mengusirnya.

          Uniknya, jika diusir sama pegawainya kok anjing itu tidak berani masuk ke area makan. Dia hanya nongkrong di luar restoran. Sambil mengamati kita yang sedang menikmati menu ayam goreng.

          Namun, jika anda mau berbagi rejeki maka berilah mereka sebagian menu anda. Anjing tidak akan ngembek kok, saat anda memberikan tulang-tulang ayam. Dia akan lahap menikmatinya.

          Itulah keunikan restoran ayam goreng khas Bali. Anda bersiap diri, jika meja anda didatangi tamu tidak diundang. Ibarat Jailangkung, datang tidak diundang pulang berharap bagian ayam. Yah, minimal tulang ayamnya sudah bisa membuat anjing tersebut bahagia. Semoga anda bisa memahami kearifan lokal di Bali. 

No comments:

JNE Deklarasikan Hari Bahagia Bersama Sejak Tanggal 7 September 2021

  Talkshow tentang Hari Bahagia Bersama (Sumber: JNE)                     “Berbagi, Memberi dan Menyantuni”               Tiga kata muja...